0% found this document useful (0 votes)
53 views9 pages

JURNAL

This document discusses a study that examined the effects of using different media in cooperative learning on students' physics learning outcomes. Specifically, it compared using KOKAMI media versus domino media in a "make a match type" cooperative learning model. The study found that students who used KOKAMI media scored higher on tests of affective, psychomotor, and cognitive domains compared to those using domino media. The study concluded that KOKAMI media is more effective for improving physics learning outcomes when used in a cooperative learning context.

Uploaded by

yani mail
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as DOCX, PDF, TXT or read online on Scribd
0% found this document useful (0 votes)
53 views9 pages

JURNAL

This document discusses a study that examined the effects of using different media in cooperative learning on students' physics learning outcomes. Specifically, it compared using KOKAMI media versus domino media in a "make a match type" cooperative learning model. The study found that students who used KOKAMI media scored higher on tests of affective, psychomotor, and cognitive domains compared to those using domino media. The study concluded that KOKAMI media is more effective for improving physics learning outcomes when used in a cooperative learning context.

Uploaded by

yani mail
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as DOCX, PDF, TXT or read online on Scribd

Implementation of Cooperative Learning Model Make a Match Type

with KOKAMI Media To Improve Students Physics Learning Outcomes XI


IPA Class in SMA Negeri 1 East Kupang

(Hardiyani Mail, I Wayan Sukarjita, Yusniati H. Muh. Yusuf)


ABSTRACT
This research is experiment research with Pretest-postest control design, executed in SMA
Negeri 1 East Kupang on April 2015/2016 year of teaching. The aim of this research are: 1) to
determine whether there are differences students physics learning outcomes between students
taught using cooperative learning model make a match type with KOKAMI media with students
taught using cooperative learning model make a match type with media domino, 2) to determine
whether learning outcomes physics who are taught by cooperative learning model make a match
type with KOKAMI media higher than students taught by using cooperative learning model make a
match type with media domino.
The population in this research is all students of grade XI SMA N 1 East Kupang while
sample in this research taken by using sampling purposive technic with taken two class, that is XI
IPA1 as control class involve 31 students and XI IPA2 as experiment class involve 29 students. The
instrument of this research are student observation sheet and physics students learning outcomes
test in the form of multiple choice.
Results of analysis using t-test with significance level α = 0,05 concluded that 1) there is a
difference learning outcomes between students who taught using cooperative learning model tipe
make a match type with KOKAMI media with students taught using cooperative learning model tipe
make a match type with media domino, that is tcount for affective, psychomotor, and cognitive each
domain that is 7,047; 2,734 ;6,930 > ttable= 2,003, 2) physic students learning outcomes who are
taught by cooperative learning model make a match type with KOKAMI media higher than students
taught by using cooperative learning model make a match type with media domino, that is tcount for
affective, psychomotor, and cognitive each domain that is 7,047; 2,734 ;6,930 > ttable= 1,672.

Keywords: Cooperative Learning Model Make a match type Type, KOKAMI Media, Learning
Outcomes.

ABSTRAK
(Hardiyani Mail, I Wayan Sukarjita, Yusniati H. Muh. Yusuf)

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan desain penelitian Pretest-postest


control design yang dilaksanakan di SMA Negeri 1 Kupang Timur pada bulan April tahun ajaran
2015/2016. Tujuan penelitian ini adalah: 1) Untuk mengetahui perbedaan hasil belajar fisika antara
siswa yang diajar melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe make a match dengan
media KOKAMI dengan siswa yang diajar melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe
make a match dengan media domino, 2) Untuk mengetahui hasil belajar fisika antara siswa yang
diajar melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe make a match dengan media
KOKAMI lebih tinggi dibanding dengan siswa yang diajar melalui penerapan model pembelajaran
kooperatif tipe make a match dengan media domino.
Populasi penelitian ini adalah semua siswa kelas XI IPA SMA N 1 Kupang Timur sedangkan
sampel dalam penelitian ini diambil menggunakan teknik sampling purposive dengan mengambil
dua kelas, yaitu kelas XI IPA1 sebagai kelas kontrol yang melibatkan 31 orang siswa dan XI IPA2
sebagai eksperimen yang melibatkan 29 orang siswa. Instrumen penelitian ini berupa lembar
observasi siswa dan soal tes hasil belajar fisika siswa dengan bentuk soal pilihan ganda.
1
2

Hasil analisis menggunakan uji-t dengan taraf signifikan α = 0,05 disimpulkan bahwa 1)
terdapat perbedaan pencapaian hasil belajar antara siswa yang diajar dengan menggunakan model
pembelajaran kooperatif tipe make a match dengan media KOKAMI dengan siswa yang diajar
dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe make a match dengan media domino
dimana 𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 untuk ranah afektif, psikomotor dan kognitif masing-masing 7,047;2,734 ;6,930 >
𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 = 2,003, 2) Hasil belajar fisika siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe make a match dengan media KOKAMI lebih tinggi dibanding siswa yang diajar
dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe make a match dengan media domino
dimana 𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 untuk ranah afektif, psikomotor dan kognitif masing-masing 7,047;2,734 ;6,930 >
𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 = 1,672

Kata Kunci : Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match, Media KOKAMI, Hasil
Belajar.

PENDAHULUAN mengembangkan ilmu dan teknologi.


Pendidikan di sekolah pada dasarnya Mengingat begitu pentingnya peranan ilmu
merupakan kegiatan belajar mengajar, yaitu fisika, sudah semestinya ilmu ini dipahami
adanya interaksi antara siswa dan guru, dengan baik oleh siswa. Oleh sebab itu
dimana siswa menerima pelajaran yang pembelajaran fisika di kelas harus
diajarkan oleh guru. Guru mengajar dengan menumbuhkan suasana sedemikian rupa
menstimulus, membimbing siswa, dan sehingga siswa aktif bertanya,
mengarahkan siswa mempelajari bahan mempertanyakan dan mengemukakan
pelajaran sesuai tujuan yang ingin dicapai. gagasan. Belajar memang merupakan proses
Pada tingkat Sekolah Menengah Atas aktif dan siswa dalam membangun
(SMA), fisika dipandang penting untuk pengetahuannya; bukan proses pasif yang
diajarkan sebagai mata pelajaran tersendiri hanya menerima pengetahuan dari guru.
dengan beberapa pertimbangan. Pertama, Suatu realita yang dijumpai sehari-hari
selain memberikan bekal ilmu kepada siswa, di kelas, khususnya di SMA Negeri 1 Kupang
mata pelajaran fisika dimaksudkan sebagai Timur kegiatan pembelajaran yang
wahana untuk menumbuhkan kemampuan dilaksanakan masih menggunakan model
berpikir yang berguna untuk memecahkan pembelajaran konvensional. Pembelajaran
masalah di dalam kehidupan sehari-hari. yang dimaksud adalah pembelajaran berbasis
Kedua, mata pelajaran fisika perlu diajarkan ceramah dan tidak ada variasi dalam kegiatan
untuk tujuan yang lebih khusus yaitu pembelajaran sehingga menimbulkan
membekali siswa pengetahuan, pemahaman, kebosanan dalam belajar.
dan sejumlah kemampuan yang Berdasarkan hasil observasi pada saat
dipersyaratkan untuk memasuki jenjang Program Pengalaman Lapangan (PPL), masih
pendidikan yang lebih tinggi serta banyak siswa mengaku bahwa mereka kurang
3

tertarik untuk belajar fisika karena bagi dari hasil diskusi dan tanya jawab dalam
mereka fisika sulit dan membosankan dengan kelompoknya. Dari hal tersebut, maka
banyak rumus yang harus dipelajari dan tidak penggunaan pembelajaran kooperatif akan
adanya variasi dalam pembelajaran membuat mendukung dan mengarah kepada tercapainya
siswa semakin kesulitan dalam belajar dan tujuan pembelajaran.
materi yang dipelajari kurang dipahami Menurut Zainal Aqib (2013) seperti
sehingga saat pembelajaran dengan yang dikutip Safitri (2015), model make a
pendekatan saintifik diterapkan, siswa pasif match (mencari pasangan) diperkenalkan oleh
dan hanya terus mengharapkan guru Lorna Curran, pada tahun 1994. Salah satu
menjelaskan seluruh materi tanpa berusaha keunggulan metode ini adalah “siswa mencari
belajar dan menemukan sendiri. Bahkan siswa pasangan sambil belajar mengenai suatu
tidak termotivasi untuk bertanya pada saat konsep atau topik dalam suasana yang
menemukan kesulitan dalam pembelajaran, menyenangkan. Penerapan metode
hal ini menunjukkan bahwa siswa tidak pembelajaran make a match ini dimulai
mempunyai kemauan untuk belajar. Motivasi dengan membagi siswa menjadi kelompok
siswa yang rendah ini diprediksi sebagai pertanyaan, kelompok jawaban, dan ada
indikator yang membuat hasil belajar siswa kelompok siswa yang bertugas menilai”.
menjadi rendah. Trinovia dalam Muthiah (2015)
Alternatif yang dapat dilakukan oleh menjelaskan bahwa model pembelajaran
guru untuk mengatasi masalah dalam kooperatif tipe make a match merupakan
pembelajaran fisika di atas, salah satunya model pembelajaran yang menyenangkan juga
dengan memberikan inovasi dalam melibatkan siswa secara aktif untuk
pembelajaran berupa strategi yang mampu mengingat kembali apa yang telah mereka
melibatkan siswa secara aktif, dapat pelajari dan menguji pengetahuan serta
memotivasi siswa, sebagai mediator, kemampuan siswa dengan cara mencari
menciptakan suasana belajar mengajar yang pasangan kartu yang merupakan jawaban atau
baik, komunikatif, dan menyenangkan soal sambil belajar mengenai suatu konsep
sehingga mampu menggali kompetensi yang atau topik dalam suasana yang
dimiliki oleh siswa untuk mencapai hasil menyenangkan. Model pembelajaran
belajar yang optimal. Pembelajaran kooperatif kooperatif tipe make a match dalam kegiatan
dapat menjadi alternatif strategi pembelajaran pembelajaran dapat diterapkan dengan
yang dapat diterapkan. Pembelajaran menggunakan suatu media pembelajaran.
kooperatif menjadikan siswa tidak hanya Anitah (2009) dalam Irmawati (2013)
memperoleh pengetahuan dari dirinya sendiri, menyatakan bahwa media pembelajaran dapat
akan tetapi juga pengetahuan yang diperoleh diartikan sebagai suatu yang mengantarkan
4

pesan pembelajaran antara pemberi pesan bahwa pembelajaran aktif menggunakan


daan penerima pesan. Selain itu, menurut metode make a match dapat meningkatkan
Hamalik dalam Pramawidyaka (2015) pemahaman konsep siswa. Hasmu (2014)
pemakaian media pembelajaran dalam proses juga menyatakan bahwa remediasi
belajar mengajar dapat membangkitkan menggunakan model pembelajaran make a
keinginan dan minat yang baru, match berpengaruh dalam mengatasi
membangkitkan motivasi dan rangsangan miskonsepsi siswa. Sopia (2015) berdasarkan
kegiatan pembelajaran, dan bahkan membawa hasil penelitiannya menyatakan hasil belajar
pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. kognitif siswa dengan menerapkan model
Media pembelajaran yang dapat dipakai pembelajaran kooperatif tipe make a match
dalam penerapan pembelajaran kooperatif tipe signifikan tuntas
make a match adalah media KOKAMI (kotak
METODOLOGI PENELITIAN
kartu misterius). KOKAMI merupakan jenis
media visual yang dikombinasikan dengan Penelitian ini merupakan penelitian

permainan bahasa (lihat Kadir dalam eksperimen dengan desain penelitian “Pretest-

Suryadi:2013:376). Permainan ini mempunyai postest Control Group Design” yang

kelebihan yaitu menanamkan pengetahuan melibatkan dua kelas pada siswa kelas XI IPA

kepada siswa dengan menarik dan SMA Negeri 1 Kupang Timur. Instrumen

merangsang minat dan perhatian siswa. penelitian berupa perangkat pembelajaran,

Peranan guru di kelas adalah sebagai yaitu silabus, Rencana Pelaksanaan

instruktor sekaligus fasilitator menyiapkan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa

sebuah kotak yang didalamnya berisi (LKS), media pembelajaran, dan instrumen

masalah-masalah terkait materi yang akan evaluasi berupa soal-soal tes hasil belajar

dipelajari. siswa pada aspek kognitif, dan lembar

Beberapa penelitian yang telah observasi siswa untuk hasil belajar ranah

dilakukan sebelumnya membuktikan bahwa afektif dan psikomotorik.

dengan menerapkan model pembelajaran Prosedur penelitian dimulai dengan


kooperatif tipe make a match membuat siswa tahap persiapan yaitu membuat perangkat
lebih aktif di kelas dan dapat meningkatkan pembelajaran (Silabus, RPP, LKS) media
hasil belajar siswa. Astika (2011) pembelajaran, menyusun soal-soal tes hasil
membuktikan bahwa model pembelajaran belajar siswa pada aspek kognitif.
kooperatif tipe make a match efektif
Tahap pelaksanaan yaitu memberikan
meningkatkan hasil belajar siswa bila
perlakuan pada kelas eksperimen dengan
dibandingkan dengan model pembelajaran
menerapkan model pembelajaran kooperatif
konvensional. Khasanah (2011) menyatakan
5

tipe make a match dengan media KOKAMI menerapkan model pembelajaran kooperatif
dan pada kelas kontrol dengan menerapkan tipe make a match dengan media domino pada
model pembelajaran kooperatif tipe make a pokok bahasan getaran harmonis sederhana.
match dengan media domino. Uji hipotesis pertama dilakukan untuk
mengetahui adanya perbedaaan hasil belajar
Pada tahap akhir perlakuan dilakukan
baik ranah kognitif, afektif dan psikomotorik
pengumpulan data hasil belajar fisika pada
pada kelas eksperimen dengan kelas kontrol.
aspek kognitif dan kemudian dianalisis.
Setelah data nilai hasil belajar pada ranah
Analisis data menggunakan uji t-student kognitif dianalisis, diperoleh 𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 = 6,930
(Sudjana: 2005:239).
dan 𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 = 2,003 dengan taraf signifikan (α)
X1  X 2 = 0,05 dan derajat kebebasan (dk) = 58. Oleh
t
n1  n 2 karena 𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 > 𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 maka dapat
S gabungan
n1 .n 2
disimpulkan bahwa Ho ditolak atau H1

HASIL DAN PEMBAHASAN diterima. Hal ini berarti ada perbedaan


pencapaian hasil belajar pada ranah kognitif
Uji kemampuan awal sampel digunakan
antara siswa yang diajar dengan
uji kesamaan dua rata-rata (uji-t) dengan uji
menggunakan model pembelajaran kooperatif
dua pihak. Berdasarkan hasil analisis nilai
tipe make a match dengan media KOKAMI
pretest yang digunakan untuk menguji
dengan siswa yang diajar menggunakan
kemampuan awal sampel, pada kelas
pembelajaran kooperatif tipe make a match
eksperimen diperoleh nilai rata-rata 𝑋̅1 =34,
dengan media domino. Pada hasil belajar
293. Nilai ini berada pada interval 23 – 43
ranah afektif diperoleh 𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 = 7,047 dan
dengan simpangan baku (𝑆1) sebesar 6,287.
pada ranah psikomotorik diperoleh 𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 =
Sedangkan untuk kelas kontrol diperoleh nilai
2,734. Oleh karena 𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 > 𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 yang
rata-rata 𝑋̅2 =32,484. Nilai ini berada pada
berarti ada perbedaan hasil belajar pada ranah
interval 20 – 47 dengan simpangan baku (𝑆2 )
afektif dan ranah psikomotorik antara siswa
sebesar 6,995. Berdasarkan hasil analisis
yang diajar dengan menggunakan model
diperoleh 2 ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 = 1,061 < 2 𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 =
pembelajaran kooperatif tipe make a match
2,003 dengan taraf signifikan (α) = 0,05 dan
dengan media KOKAMI dengan siswa yang
derajat kebebasan (dk) = 58 (Lampiran 15).
diajar menggunakan pembelajaran kooperatif
Hal ini berarti tidak terdapat perbedaan
tipe make a match dengan media domino.
kemampuan awal antara siswa yang diajar
Uji hipotesis kedua dilakukan untuk
dengan menerapkan model pembelajaran
mengetahui apakah hasil belajar siswa pada
kooperatif tipe make a match dengan media
kelas eksperimen yang diajar dengan
KOKAMI dan siswa yang diajar dengan
6

menggunakan model pembelajaran kooperatif lebih tinggi dari kelas yang diajar dengan
tipe make a match dengan media KOKAMI model pembelajaran kooperatif tipe make a
lebih tinggi dibanding dengan siswa pada match dengan media domino. Ditemukan
kelas kontrol yang diajar dengan fakta saat perlakuan tentang kelebihan model
menggunakan model pembelajaran kooperatif pembelajaran kooperatif tipe make a match
tipe make a match dengan media domino. dengan media KOKAMI yaitu permainan
Berdasarkan hasil analisis data hasil KOKAMI mengandung unsur persaingan
belajar pada ranah kognitif, diperoleh (kompetisi). Dengan adanya persaingan
𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 = 6,930 > 𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 = 1,672 dengan tersebut dapat menjadikan motivasi yang baik
taraf signifikan (α) = 0,05 dan derajat serta menarik minat siswa untuk belajar.
kebebasan (dk) = 58, maka Ho ditolak atau H1 Selain itu, permainan KOKAMI dapat
diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan membuat siswa merasa senang dan lebih
bahwa hasil belajar fisika siswa pada ranah bersemangat, serta tidak cepat merasa bosan.
kognitif yang diajar menggunakan model Dengan demikian, kegiatan belajar mengajar
pembelajaran kooperatif tipe make a match dapat berjalan dengan lancar dan tidak
dengan media KOKAMI lebih tinggi menjenuhkan.
dibanding dengan siswa yang diajar Berdasarkan hasil analisis dan
menggunakan model pembelajaran kooperatif pembahasan sebagaimana uraian di atas maka
tipe make a match dengan media domino. dapat dikatakan bahwa penerapan model
Pada hasil belajar ranah afektif diperoleh pembelajaran kooperatif tipe make a match
𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 = 7,047 dan pada ranah psikomotorik dengan media KOKAMI dapat meningkatkan

diperoleh 𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 = 2,734. Oleh karena hasil belajar fisika siswa baik itu pada ranah

𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 > 𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 yang berarti hasil belajar kognitif, afektif, maupun psikomotorik.

fisika siswa pada ranah afektif dan ranah


SIMPULAN
psikomotorik siswa yang diajar dengan
Berdasarkan hasil analisis data dan
menggunakan model pembelajaran kooperatif
pembahasan hasil penelitian maka dapat
tipe make a match dengan media KOKAMI
disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil
lebih tinggi dibanding dengan siswa yang
belajar fisika siswa antara siswa yang diajar
diajar menggunakan pembelajaran kooperatif
menggunakan model pembelajaran kooperatif
tipe make a match dengan media domino.
tipe make a match dengan media KOKAMI
Berdasarkan hasil yang diperoleh
dan siswa yang diajar menggunakan model
terlihat bahwa hasil belajar di kelas yang
pembelajaran kooperatif tipe make a match
diajar dengan model pembelajaran kooperatif
dengan media domino serta hasil belajar
tipe make a match dengan media KOKAMI
fisika siswa yang diajar menggunakan model
7

pembelajaran kooperatif tipe make a match model pembelajaran kooperatif tipe make a
dengan media KOKAMI lebih tinggi match dengan media domino.
dibanding siswa yang diajar menggunakan

DAFTAR PUSTAKA
Agib, Zainal. 2013. Model-model, Media, dan Strategi Pembelajaran Kontekstual (Inovatif).
Bandung: Yrama Widya
Astika, Nurlia. 2011. Efektivtas Pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match Terhadap Hasil
Belajar Siswa. Skripsi. IKIP PGRI. Semarang
Arsyad, Ashar. 2014. Media Pembelajaran Edisi Revisi. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
Hasmu, Yuliarti. 2014. Remediasi Miskonsepsi Siswa pada Materi Hukum Newton Menggunakan
Model Pembelajaran Make a Match di SMP. Skripsi. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
UNTAN
Irmawati, Susi. 2013. Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT)
Berbasis Kartu Domino Terhadap Pemahaman Konsep Hitung Campuran. Skripsi. Universitas
Sebelas Maret. Surakarta
Jihad, Asep & Haris, Abdul. 2008. Evaluasi Pembelajaran. Jakarta: Multi Pressindo.
Khasanah, Uswatun. 2011. Pengaruh Pembelajaran Make a Match dan Index Card Match Terhadap
Pemahaman Siswa Kelas X SMA Institut Indonesia Semarang Tahun Ajaran 2010/2011.
Skripsi. IKIP PGRI. Semarang
Muthiah, Deby Ryan. 2015. Perbedaan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa yang Diajar
Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Index Card Match dengan Make a Match
pada Materi Alat Indera di Kelas XI IPA SMA Negeri 21 Medan Tahun Pelajaran 2014/2015.
Skripsi. Universitas Negeri Medan. Medan
Nutriana, Anggerina. 2004. Ma, Belajar Yuk!. Jakarta: Kawan Pustaka.
Paisah, Neneng. 2013. Penerapan Media Kotak dan Kartu Misterius (KOKAMI) untuk Peningkatan
Keterampilan Berpikir Kritis pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 25 Purworejo. Radiasi
3(1):28-32
Pramawidyaka, Patrisius. 2015. Penggunaan Kartu Domino Kimia Pada Materi Koloid Terhadap
Motivasi dan Hasil Belajar di SMA. Skripsi. Universitas Tanjungpura. Pontianak
Purwanto, Ngalim. 2008. Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya
Rasulyah, Anggita. 2011. Penerapan Pembelajaran Berbasis Masalah dengan Media Kotak Kartu
Misterius (KOKAMI) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Pokok Bahasan
Operasi Hitung Bilangan Pecahan Kelas V SDN Mumbulsari 01 Jember. Skripsi. Universitas
Jember. Jember
Rusiana, Yuli. 2014. Penggunaan Media KOKAMI Pada Mata Pelajaran IPA Untuk Meningkatkan
Hasil Belajar Siswa Kelas VA SDN Darunggan 01 Kecamatan Tanggul Kabupaten Jember.
Pancaran 3(4):183-192
8

Sadiman,A. S., Raharjo., Anung H., dan Rahardjito. 2007. Media Pendidikan: Pengertian,
Pengembangan, dan Pemanfaatannya. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Rusman. 2012. Model-model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru Edisi Kedua.
Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
Rohani, Ahmad. 2014. Media Instruksional Edukatif. Jakarta: Rineka Cipta
Safitri, Indri. 2015. Pengaruh Model Pembelajaran Make a Match Terhadap Hasil Belajar Kognitif
Fisika Siswa di SMK Negeri 1 Bangun Purba Kabupaten Rokan Hulu. Skripsi. Universitas
Pasir Pengaraian
Shoimin, Aris. 2014. 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013. Yogyakarta. AR-
RAZZ Media
Slameto. 2013. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Bina Aksara
Sudjana, 2005. Metoda Statistika. Bandung: Tarsito
Sugiono. 2012. Metode Penelitian. Bandung: Alfabeta
Suhana, C. 2014. Konsep Strategi Pembelajaran. Bandung: PT Tefika Aditama
Suharsimi, Arikunto. 2013. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta
Supardi. 2013. Aplikasi Statistika dalam Penelitian. Jakarta : PT. Prima Ufuk Semesta.
Suprijono. Agus. 2014. Cooperatif Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar
Suryadi. 2013. Pengaruh Pembelajaran Berbasis Masalah Berbantuan Media KOKAMI terhadap
Prestasi belajar Fisika Ditinjau dari Kemampuan Pemecahan Masalah. Jurnal Pendidikan
Sains 1(4):375-381.
Sopia, Pika. 2015. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match pada
Pembelajaran Fisika Siswa Kelas X SMA Negeri 5 Lubuk Linggau Tahun Pelajaran
2015/2016. Jurnal Pendidikan Fisika :1-15
Syah, Muhibbin. 2013. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya
Utami, Respati Syam. 2014. Pengembangan Media Permainan Kotak dan Kartu Misterius
(KOKAMI) pada Materi Tekanan untuk SMP Kelas VIII. Skripsi. Universitas Sebelas Maret.
Surakarta
Wahyuni, Sri. 2013. Efektifitas Media Permainan KOKAMI (Kotak dan Kartu Misterius) dalam
Pembelajaran Kemampuan Berbicara Bahasa Prancis Kelas XII SMA N 1 Sanden. Skripsi.
Universitas Negeri Yogyakarta
Yaseu, Igeul Nurul Miaga. 2015. Pengaruh Penggunaan Media KOKAMI (Kotak Kartu Misterius)
Terhadap Pemahaman Konsep IPA Siswa. Skripsi. Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah. Jakarta
9

You might also like