Thalita, Fitriyani, Nuryani, Penerapan Model Pembelajaran TGT untuk Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa
Kelas IV 147
JURNAL PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Departemen
Pedagogik Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Pendidikan
Indonesia
Gd. FIP B Lantai 5. Jln. Dr. Setiabudhi No. 229 Kota Bandung 40154. e-mail:
jpgsd@[Link] website:[Link]
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TGT UNTUK
MENINGKATKAN KEAKTIFAN BELAJAR SISWA KELAS IV
Almira Rachma Thalita1, Andin Dyas Fitriyani2, Pupun Nuryani3
Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Departemen Pedagogik
Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Pendidikan Indonesia
e-mail: bebebalmira@[Link]; andhindyas@[Link]; pupunnuryani@[Link];
Abstract : The reseach background by the lower activity study from student. The focus
of the reseach is the model cooperative learning type TGT to improve the activity of
student learning class IV elementary school. Main aim of the study is to give description
of cooperative learning model TGT type to improve the activity of student learning after
being used the type in learning process that includes : (1) class presentation; (2)teams ;
(3)games; (4)tournament; (5) team recognition. The reseach that is conducted by the
writer uses class act method that adopt to Kemmis and Taggart model. The reseach
conducted in two cycles, that involving 35 students. Data collection using observation,
field note, and documentation. Based on observation analysis and field note from every
cycle shows positivedevelopment toward the student. The result of the reseach finds out
that there’s increase in activity of student learning, it can be seen in the activity from
student by asking question, make discussion, solving problem and making assignment.
The reseach shows taht using cooperative learning model TGT type can increase the
activity of study learning class IV elementary school.
Keywords : cooperative model, TGT type, student learning activity
PENDAHULUAN keharusan. Sanjaya (2012)
Proses pembelajaran pada setiap mengungkapkan bahwa pembelajaran
satuan pendidikan dasar dan menengah didesain untuk membelajarkan siswa,
harus interaktif, inspiratif, menyenangkan, artinya proses pembelajaran itu harus
menantang, dan memotivasi peserta didik berpusat pada siswa. Maka dari itu,
untuk berpartisipasi aktif serta pembelajaran lebih berorientasi pada
memberikan ruang yang cukup bagi kegiatan siswa untuk memperoleh hasil
prakarsa, kreativitas dan kemandirian belajar berupa perpaduan antara aspek
sesuai dengan bakat, minat, dan kognitif, afektif, dan psikomotor.
perkembangan fisik serta psikologis Mulyasa (2014) mengungkapkan
peserta didik (Permendiknas RI No. 41, pembelajaran dikatakan berhasil dan
2007, hlm. 6). Permen tersebut berkualitas apabila setidak-tidaknya
menunjukkan bahwa peran aktif siswa sebagian besar peserta didik terlibat
dalam pembelajaran merupakan suatu secara aktif, baik fisik, mental maupun
sosial dalam proses pembelajaran, di
JPGSD, Volume.4 [Link], Agustus 2019, hlm 147-156
148 Thalita, Fitriyani, Nuryani, Penerapan Model Pembelajaran TGT untuk Meningkatkan Keaktifan Belajar
Siswa Kelas IV
samping menunjukan kegairahan belajar sebagian siswa tidak dapat
tinggi, semangat belajar besar, dan rasa mengungkapkan pendapatnya sendiri; 3)
percaya pada diri sendiri. Berdasarkan hal ketika guru menjelaskan, siswa tidak
tersebut, upaya guru untuk memiliki rasa ingin bertanya; relatif
mengembangkan keaktifan belajar siswa menelan mentah-mentah apa yang guru
sangat penting, sebab keaktifan siswa sampaikan, 4) siswa yang berkemampuan
menjadi penentu bagi keberhasilan akademis rendah cenderung pasif selama
pembelajaran yang dilaksanakan. pembelajaran.
Sudjana (2012) menyatakan Masalah diatas disebabkan karena
bahwa semakin tinggi kegiatan belajar model pembelajaran yang digunakan
siswa, semakin tinggi pula peluang selama ini belum sesuai dengan
berhasilnya pengajaran. karakterisitik siswa sekolah dasar
Sardiman (2001) menyatakan khususnya siswa di kelas yang peneliti
bahwa keaktifan belajar siswa sendiri observasi yang senang bermain, senang
adalah kegiatan yang bersifat fisik merasakan atau melakukan sesuatu secara
maupun mental, yaitu berbuat dan langsung, senang berkelompok, dan
berfikir sebagai suatu rangkaian yang senang hal yang ada unsur kompetisi .
tidak dapat dipisahkan. Aktifitas fisik Untuk belajar berkelompok
yang berupa siswa giat aktif dengan sendirisebenarnya sudah dilakukan
anggota badan, membuat sesuatu, namun hal ini belum optimal dikarenakan
bermain maupun bekerja. Siswa yang kurang adanya pembelajaran yang
memiliki aktifitas psikis (kejiwaan) jika menantang hal ini menyebabkan ketika
daya jiwanya bekerja sebanyak– belajar dalam kelompok anak-anak yang
banyaknya atau banyak berfungsi akademis tinggi yang mendominasi
dalam rangka pembelajaran. pengerjaan tugas dan sisanya hanya
Siswa dikatan aktif dalam melihat dan ada juga yang mengobrol.
pembelajaran menurut Suryosubroto Agar dapat meningkatkan
(2009, hlm. 71) bila terdapat ciri-ciri keaktifan belajar siswa, diperlukan
sebagai berikut (1) siswa berbuat sesuatu pemilihan dan penerapan model
untuk memahami materi pelajaran; (2) pembelajaran yang tepat, yang
pengetahuan dipelajari, dialami dan disesuaikan dengan tujuan dan
ditemukan oleh siswa; (3) mencobakan karakteristik mata pelajaran serta kondisi
sendiri konsep-konsep; (4) siswa siswa.
mengkomunikasikan hasil pikirannya. Untuk mengatasi masalah
Dapat disimpulkan keaktifan siswa dalam keaktifan belajar agar tidak berkelanjutan
pembelajaran tergolong rendah jika siswa maka peneliti mngajukan solusi dengan
tidak bertanya, aktivitas siswa terbatas menerapkan model pembelajaran
pada mendengarkan, mencatat, siswa kooperatif. Model pembelajaran
hadir di kelas dengan persiapan belajar kooperatif yaitu suatu pembelajaran yang
yang tidak memadai, ribut jika diberi mengajak siswa untuk belajar secara
latihan, dan siswa hanya diam ketika berkelompok. Sesuai yang dikemukakan
ditanya sudah mengerti atau belum. oleh Slavin (2010, hlm.4) menyatakan
Temuan yang ditemukan di bahwa pembelajaran kooperatif merujuk
lapangan di salah satu kelas di sekolah pada kegiatan belajar siswa dalam
dasar di Bandung diantaranya : 1) siswa kelompok untuk bekerja sama
belum dapat aktif mengerjakan tugas mempelajari materi pelajara. Dalam
kelompoknya, dalam kelompok hanya proses pembelajaran kooperatif,
ada 1-2 orang yang mengerjakan diharapkan siswa saling mengungkapkan
tugasnya dan sisanya mengobrol; 2) pendapat antar anggota kelompok agar
JPGSD, Volume.4 [Link], Agustus 2019, hlm 147-156
Thalita, Fitriyani, Nuryani, Penerapan Model Pembelajaran TGT untuk Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa
Kelas IV 149
materi dikuasai oleh siswa hingga siswa memastikan bahwa semua anggota tim
benar-benar memahami materi yang benar-benar belajar.
dipelajari. 3) Games
Diantara banyak tipe model Games terdiri dari pertanyaan-
pembelajaran kooperatif, peneliti tertarik pertanyaan yang dirancang untuk menguji
menerpakan model pembelajaran pengetahuan yang diperoleh siswa dari
kooperatif tipe Teams Games penyajian kelas dan belajar kelompok.
Tournament (TGT). Slavin (2015) 4) Turnamen
menyatakan bahwa TGT merupakan Turnamen dilakukan setiap satu
prosedur pembelajaran yang memberikan satuan materi pelajaran telah selesai
kesempatan kepada kelompok untuk dilaksanakan. Siswa melakukan
berkompetisi dengan kelompok lain permainan akademik yaitu dengan cara
sehingga siswa bergairah belajar. Berkat berkompetisi dengan anggota tim yang
adanya games dan turnamen yang memiliki
menjadi karakteristik TGT membuat 5) Rekognisi Tim
siswa antusias selama proses Tim yang menunjukan kinerja
pembelajaran karena siswa ingin paling baik akan mendapat penghargaan.
membuktikan bahwa dirinya pintar dan Seperti layaknya lomba, tim yang paling
menjadi yang terbaik. Selain itu, banyak mengumpulkan poin/ skor akan
Multyaningsih (2014, hlm.244) mendapat predikat juara umum,
menyatakan bahwa model pembelajaran kemudian juara berikutnya berurutan
TGT memberikan peluang kepada siswa sesuai dengan jumlah poin / skor yang
untuk belajar lebih rileks disamping berhasil diraihnya.
menumbuhkan tanggungjawab, Kelebihan dari model
kerjasama, persaingan sehat, dan pembelajaran kooperatif tipe TGT ini
keterlibatan belajar. menurut Shoimin (2014, hlm.207-208)
Ada beberapa langkah dalam yaitu 1) tidak hanya membuat siswa yang
penggunaan model pembelajaran TGT cerdas lebih menonjol dalam
yang perlu diperhatikan. Langkah- pembelajaran, tapi siswa yang
langkah penggunaan model pembelajaran berkemampuan akademis lebih rendah
TGT. Menurut Slavin (2015, hlm.170) juga ikut aktif dan mempunyai peranan
langkah-langkah yang termasuk siklus penting dalam kelompoknya; 2)
reguler TGT adalah sebagai berikut : menumbuhkan rasa kebersamaan dan rasa
1) Penyajian kelas saling menghargai sesama anggota
Digunakan guru untuk kelompoknya; 3) membuat siswa lebih
menyampaikan materi pelajaran melalui bersemangat dalam mengikuti
pengajaran langsung atau diskusi yang pembelajaran, karena guru menjanjikan
dipimpin oleh guru. Presentasi kelas juga sebuah penghargaan kelompok; dan 5)
dimanfaatkan guru untuk menyampaikan membuat siswa lebih senang dlam
teknik pembelajaran yang akan mengikuti pembelajaran karena ada
digunakan, sehingga siswa dapat kegiatan permainan dan turnamen.
melaksanakan setiap kegiatan dalam Berdasarkan keunggulan yang dimiliki
langkah-langkah TGT dengan baik. model pembelajaran kooperatif tipe TGT,
2) Kelompok (team) maka metode ini dapat dijadikan sebagai
Tim atau kelompok terdiri dari 4 salah satu alternatif tindakan untuk
sampai 5 orang siswa yang anggotanya meningkatkan keaktifan belajar siswa.
heterogen dilihat dari kemampuan Peneliti tertarik untuk melaksanakan
akademik siswa, jenis kelamin, dan etnis. penelitian tindakan kelas dengan judul
Fungsi utama dari tim ini yaitu “Penerapan Model Pembelajaran
JPGSD, Volume.4 [Link], Agustus 2019, hlm 147-156
150 Thalita, Fitriyani, Nuryani, Penerapan Model Pembelajaran TGT untuk Meningkatkan Keaktifan Belajar
Siswa Kelas IV
Kooperatif Tipe Team Games Tabel 1. Kategori Penentu Keaktifan
Tournament (TGT) Untuk Meningkatkan Siswa
Keaktifan Belajar Siswa Kelas IV Rentang
Sekolah Dasar”
Kategori Presentase
No.
METODE Keaktifan Keaktifan Siswa
Penelitian ini menggunakan metode
(%)
Penelitian Tindakan Kelas (PTK), karena
permasalahan dalam penelitian ini 1 Sangat Aktif 80≤x≥100
bertujuan untuk meningkatkan keaktifan
belajar siswa dengan menggunakan 2 Aktif 60≤x<80
model pembelajaran kooperatif Teams 3 Cukup Aktif 40≤x<60
Games Tournament (TGT) . Dengan
berbentuk siklus yang mengacu pada 4 Kurang Aktif 20≤x<40
model spiral yang dikembangkan oleh 5 Sangat 0≤x<20
Kemmis dan Mc. Taggart. (dalam
Wiraatmadja, 2012. Hlm.66) terdapat Kurang Aktif
empat tahapan yang digunakan yaitu :
perencanaan (planning), pelaksanaan HASIL DAN PEMBAHASAN
tindakan (acting), Pengamatan Berdasarkan pelaksanaan tindakan pada
(observing), refleksi (reflecting). Dalam siklus I dan siklus II, penerapan model
tahapannya dilaksanakan dengan jangka pembelajaran kooperatif tipe TGT dapat
waktu bersamaan, setelah suatu siklus dijabarkan sebagai berikut.
selesai dilaksanakan dan direfleksi maka 1) Penyajian Kelas
siklus kedua akan dilaksanakan sesuai Pada langkah ini, guru sudah
dengan tahapan yang digunakan. menggunakan metode dan media
Partisipan pada penelitian ini adalah pembelajaran yang bervariasi dalam
siswa kelas IV dengan jumlah siswa menyampaikan pembelajaran seperti
sebanyak 36 orang yang terdiri dari 20 penggunaan proyektor untuk memutar
orang siswa perempuan dan 16 orang video berita. Indikator keaktifan belajar
siswa laki-laki. Penelitian Tindakan siswa yang muncul pada kegiatan ini
Kelas (PTK) ini dilaksanakan di salah yaitu bertanya kepada guru. Pada siklus I
satu sekolah dasar Kota Bandung, Jawa beberapa siswa sudah berusaha untuk
Barat. Penelitian ini dilakukan sebanyak menjawab pertanyaan dan
2 siklus. Instrumen penelitian yang mengemukakan pendapatnya ketika guru
digunakan berupa RPP, LKL, lembar melaksanakan tanya jawab dan diskusi
observasi dan catatan lapangan. Teknik kelas. Namun ada juga siswa yang masih
pengumpulan data berupa teknik nontes. belum memperhatikan guru, siswa masih
Teknik nontes dilakukan melalui lembar asyik melakukan kegiatan lain seperti
observasi, catatan lapangan dan bermain alat tulis.
dokumentasi. Prosedur penelitian ini Hal ini dikarenakan materi yang
menggunakan analisis data kualitatif dan disajikan guru tidak membangkitkan rasa
analisis data kuantitatif. Untuk melihat ingin tahu siswa, sehingga siswa merasa
tingkatan keaktifan belajar siswa, berikut tidak tertarik untuk belajar. Sehingga
merupakan tabel pengkategorian pada siklus II guru memberikan perhatian
keaktifan belajar siswa yang diadaptasi dan motivasi lebih kepada siswa.
dari Guttman (dalam Sugiyono, 2016,
hlm. 139) sebagai berikut.
JPGSD, Volume.4 [Link], Agustus 2019, hlm 147-156
Thalita, Fitriyani, Nuryani, Penerapan Model Pembelajaran TGT untuk Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa
Kelas IV 151
Kemudian siswa yang memiliki sama. Pengerjaan LKK yang lamban oleh
kemampuan akademis rendah tidak beberapa tim. Hal ini disebabkan karena
terlibat dalam pemebelajaran seperti batasan waktu yang diberikan guru belum
mengemukakan pendapat dan perndapat. tegas. Sehingga pada siklus II guru
Hal ini dikarenakan siswa merasa malu memberikan skor tambahan kepada tim
dan tidak terbiasa untuk mengemukakan yang menyelesaikan LKK secara tepat
pendapat maupun bertanya. Sehingga waktu, diharapkan dengan pemberian
pada siklus II, guru langsung menunjuk skor tambahan siswa tidak membuang-
siswa tersebut agar mencoba untuk buang waktu pada saat belajar dalam tim.
mengemukakan pendapat, menjawab, dan Pada siklus II terjadi perubahan,
bertanya dengan tujuan agar siswa yang setiap tim menjadi lebih kerjasama dan
malu untuk mengemukakan pendapatnya siswa yang di kategori akademis tinggi
dan mengajukan pertanyaan memiliki tidak mendominasi lagi. Mereka menjadi
kesempatan yang sama dengan siswa saling berbagi tugas, dan membantu
yang sudah terbiasa mengemukakan teman satu timnya ketika merasa
pendapat dan mengajukan pertanyaan . kesulitan dalam mengerjakan LKK. Hal
Hal ini berkaitan dengan peran guru ini dikarenakan sebelum melakukan
sebagai motivator dan fasilitator dalam belajar dalam tim guru mengingatkan dan
pembelajaran kooperatif yaitu agar siswa menekankan ulang kepada siswa untuk
dapat belajar dalam suasana yang saling bekerja sama demi keberhasilan
menyenangkan, gembira, penuh bersama dan membagi peran siswa dalam
semangat, tidak cemas, serta berani tim. Agar siswa lebih mengingatnya guru
mengemukakan pendapat secara terbuka memberikan peraturan yang
(E. Mulyasa dalam Asmani, 2016). ditanyangkan dengan proyektor. Selain
2) Belajar dalam Tim itu waktu untuk mengerjakan LKK juga
Pada langkah ini, tim sudah tidak terlalu ngaret dari waktu yang telah
dibentuk dari siswa yang mempunyai ditentukan, hal ini dikarenakan guru
akademis tinggi, sedang, dan rendah memberikan poin tambahan untuk tim
sebagaimana yang menjadi salah satu ciri yang berhasil menegerjakan tepat waktu.
dari pembelajaran kooperatif (Arends Dari 7 tim yang ada, 4 tim berhasil
dalam Trianto, 2010, hlm.65). Setiap tim mengerjakan tepat waktu. Guru dirasa
juga berusaha mengerjakan Lembar Kerja masih perlu mengembangkan
Kelompok (LKK) yang diberikan oleh keterampilan dasar mengajar (Wardhani,
guru, dan berdiskusi untuk 2011) yang dibutuhkan pada langkah ini,
mempersiapkan games dan turnamen. khusunya keterampilan membimbing
Pada siklus I belum semua siswa terlihat kelompok kecil dan mengembangkan
bekerja sama dalam tim. Hal ini peran sebagai organisator dalam
dikarenakan siswa yang mempunyai pembelajaran kooperatif (Asmani, 2016,
akademis tinggi mendominasi saat hlm. 108).
pengerjaan LKK sehingga siswa yang 1) Games
mempunyai akademis rendah dan siswa Pada langkah ini, guru telah
yang pemalu hanya diam saja tidak menyiapkan permainan yang melibatkan
terlibat mengerjakan. Sehingga pada tim-tim siswa. Guru juga memberikan
siklus II, guru membuat peraturan pada aturan dalam permainan agar permainan
saat belajar dalam tim dan berlangsung dengan kondusif. Pada siklus
menayangkannya dengan proyektor agar I, beberpa siswa tampak kurang antusias
siswa selalu mengingatnya dan guru pun dalam mengikuti permainan hal ini
memberikan pengertian kepada setiap disebabkan karena games hanya terpaku
kelompok mengapa mereka harus bekerja pada lembar games seperti mengerjakan
JPGSD, Volume.4 [Link], Agustus 2019, hlm 147-156
152 Thalita, Fitriyani, Nuryani, Penerapan Model Pembelajaran TGT untuk Meningkatkan Keaktifan Belajar
Siswa Kelas IV
soal. Pada siklus II, guru mengemas tim nya untuk memberikan semangat agar
permainan dengan lebih menarik dan siswa tersebut percaya diri. Dengan
menantang bagi siswa tetapi tetap sesuai perlakuan tersebut, siswa yang
dengan karakteristik siswa hal ini yang sebelumnya tidak mau mencoba untuk
menyebabkan antusias dan semangat menjawab soal turnamen menjadi ikut
siswa untuk menerapkan apa yang telah ambil bagian untuk memberikan yang
diperolehnya meningkat. Hal ini sesuai terbaik kepada tim nya.
dengan keterampilan yang harus dimiliki 3) Rekognisi Tim
oleh guru dalam hal keterampilan Pada langkah ini, guru
mengelola kelas dan memberikan variasi memberikan penghargaan (reward) bagi
(Kunandar, 2007). Namun pada saat siswa yang mencapai skor berdarkan
kegiatan games pada siklus IImembuat kriteria tertentu. Selain memberikan
kelas menjadi kurang kondusif, hal ini penghargaan pada tim yang juara di
disebabkan siswa terlalu bersemangat siklus I guru juga memberikan motivasi
pada saat melakukan permainan di sesi kepada seluruh siswa bahwa kerjasama
rebutan. disaat belajar dalam tim sangat penting,
2) Turnamen saling berbagi kepada teman yang belum
Pada langkah ini, guru memahami materi. Diharapkan dengan
menyiapakan turnamen dan siswa pemberian motivasi ini indikator
bertanding sesuai kategori kemampuan keaktifan siswa akan lebih baik
akademis. Siswa menikmati suasana kedepannya. Pada siklus II ada tambahan
turnamen karena mereka berkompetensi perngharagaan bagi tim yang lain yang
dengan teman yang kemampuan tidak mendapat juara, berupa pemberian
akademisnya setara (Huda, 2016, hlm. predikat kepada tim dengan memberikan
117). Kegiatan turnamen pada saat siklus piagam penghargaan dan makanan ringan
I tidak cukup kondusif dan beberapa membuat siswa menjadi lebih
siswa masih belum memahami prosedur menghargai teman satu timnya. Siswa
turnamen. Hal ini dikarenakan guru terlihat bahagia ketika mendapat sebuah
memberitahu peraturan dan prosedur predikat meskipun tim nya bukan tim
turnamen yang hanya diucapkan secara yang juara. Hal ini sejalan dengan
lisan. Sehingga pada siklus II, guru pendapat Asmani (2016, hlm. 73), bahwa
memperlihatkan peraturan dan prosedur guru perlu memberikan penghargaan
turnamen menggunakan proyektoragar kepada tim yang berhasil sehingga tim
siswa lebih mengingatnya dengan lainnya akan menjadikan tim yang
demikian pada turnamen di siklus II berhasil sebagai model dalam
siswa lebih kondusif. Selain itu siswa pembelajaran.
yang di kategori akademis rendah Berikut ini disajikan
jawaban yang diberikan masih belum perbandingan ketercapaian persentase
sesuai yang diharapkan. Hal ini kelima indikator keaktifan siswa pada
disebabkan siswa yang tingkat akademis siklus I.
nya masih rendah masih belum
Perbandingan Persentase Per
memahami secara menyeluruh mengenai
Indikator
materi. Sehingga guru perlu meminta
80% 69% 65% 63% 62%
agar setiap tim berdiskusi ulang 59%
mengenai apa yang telah dipelajari hari 60%
40%
ini dan memberi bantuan kepada
temannya yang masih belum memahami
materi pada saaat kegiatan belajar dalam Gambar 1. Perbandingan Persentase
tim, selain itu guru meminta teman satu per Indikator
JPGSD, Volume.4 [Link], Agustus 2019, hlm 147-156
Thalita, Fitriyani, Nuryani, Penerapan Model Pembelajaran TGT untuk Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa
Kelas IV 153
Dari grafik pada gambar diatas,
indikator mengajukan pertanyaan
Perbandingan Capaian Per Indikator
menunjukan capaian yang kurang
maksimal dibandingkan empat indikator 100%
yang lainnya yaitu melaksanakan tugas, 90% 86% 84% 86% 86%
83%
terlibat dalam pemecahan masalah, dan
melaksanakan diskusi. Hal tersebut 80%
69%
menunjukan bahwa siswa kurang antusias 70% 65% 63% 62%
dalam aktivitas bertanya baik kepada 59%
60%
guru atau temannya pada saat penyajian
kelas dan belajar dalam tim. 50%
Berikut ini disajikan Siklus I
40%
perbandingan ketercapaian persentase Siklus II
kelima indikator keaktifan siswa pada 30%
siklus II. 20%
Perbandingan Persentase Per 10%
Indikator
0%
87%
86% 86% 86%
86%
86%
85% Gambar 3. Perbandingan Capaian Per
85% Indikator Siklus I dan Siklus II
84%
84%
Berdasarkan grafik pada gambar
84%
83% 4.15 , terlihat perbandingan capaian rata-
83% rata keaktifan siswa pada siklus I dan
83% siklus II. Pada pelaksanaan siklus II, dari
82% kelima indikator yang diukur yaitu
melaksanakan tugas, pemecahan masalah,
82%
bertanya, melaksanakan diskusi, dan
menerapkan apa yang telah diperolehnya
dalam mengerjakan tugas, kelimanya
telah mengalami peningkatan capaian
Gambar 2. Perbandingan Persentase menjadi lebih baik dibandingkan pada
Per Indikator siklus I. Pada indikator 1 keaktifan
belajar siswa 1 yaitu melaksanakan tugas
Dari grafik pada gambar diatas, terjadi peningkatan pencapaian sebesar
indikator mengajukan pertanyaan 17% hal ini disebabkan pemberian
menunjukan capaian yang kurang motivasi kepada siswa selama
maksimal dibandingkan empat indikator pembelajaran untuk selalu terlibat selama
yang lainnya yaitu melaksanakan tugas, proses pembelajaran ditambah dengan
terlibat dalam pemecahan masalah, beberapa aturan yang ditayangkan pada
melaksanakan diskusi, dan menerapkan saat kegiatan pembelajaran. Dengan
apa yang telah diperoleh dalam pemberian motivasi ini terlihat bahwa
menyelesaikan tugas. siswa lebih sadar untuk mengerjakan
secara sungguh-sungguh jika
mengerjakan tugas
JPGSD, Volume.4 [Link], Agustus 2019, hlm 147-156
154 Thalita, Fitriyani, Nuryani, Penerapan Model Pembelajaran TGT untuk Meningkatkan Keaktifan Belajar
Siswa Kelas IV
Ada juga dengan pemberian poin Tabel 2.
tambahan untuk tim yang mengerjakan Kategori Capaian Keaktifan Siswa
LKK tepat waktu, hal itu membuat Siklus I dan Siklus II
sungguh-sunggu pada saat pengerjaan No Kategori Jumlah Jumlah
LKK dan tidak membuang-buang waktu. Keaktifan Siswa Siswa
Indikator keaktifan belajar siswa 2 yaitu (Siklus (Siklus
pemecahan masalah meningkat sebesar I) II)
19% hal ini disebabkan pemberian 1 Sangat Aktif 12 24
motivasi kepada siswa selama 2 Aktif 11 10
pembelajaran untuk selalu terlibat, untuk 3 Cukup Aktif 8 1
bekerja sama saat mengisi LKK, hal-hal 4 Kurang 4 -
seperti itu yang selalu guru ingatkan Aktif
kepada siswa. Dengan pemberian 5 Sangat - -
motivasi ini terlihat bahwa siswa lebih Kurang
sadar untuk membagi tugas saat belajar Aktif
dalam tim. Indikator keaktifan belajar
siswa 3 yaitu bertanya meningkat sebesar Tabel 4.7 diatas menyajikan
24% hal ini disebabkan guru memberikan perbandingan kategori capaian keaktifan
kesempatan yang besar khususnya kepada siswa pada siklus I dan siklus II. Jumlah
siswa yang tidak biasa bertanya baik siswa dengan kategori sangat aktif
kepada guru maupun kepada temannya bertambah jumlahnya sebanyak 12 orang,
indikator bertanya kepada guru dan dari awalnya 12 orang menjadi 24 orang.
temannya meningkat. Indikator keaktifan Jumlah siswa dengan kategori aktif
belajar siswa 4 yaitu melaksanakan berkurang sebanyak satu orang, dari
diskusi meningkat sebesar 23% hal ini awalnya 11 orang menjadi 10 orang.
dikarenakan guru selalu membimbing Jumlah siswa dengan kategori cukup aktif
siswa pada saat belajar dalam tim berkurang jumlahnya sebanyak 7 orang,
mobilitas guru dilakukan secara dari awalnya 8 orang menjadi 1 orang.
menyeluruh kepada semua tim disamping Dan siswa dengan kategori kurang aktif
siswa sudah sadar bahwa diskusi dalam dan sangat kurang aktif pada siklus II
tim itu penting demi keberhasilan tim nya tidak ada. hal ini menunjukan bahwa
pada saat kegiatan games dan turnamen terdapat peningkatan kategori keaktifan
dari refleksi siklus I. Indikator keaktifan siswa dengan menerapkan model
belajar 5 yaitu menerapkan apa yang pembelajaran kooperatif tipe Teams
telah dipelajarinya meningkat sebesar Games Tournament (TGT)
24% hal ini dikarenakan pada saat
turnamen siswa yang masih belum mau Siklus I Siklus II
mencoba menjawab sudah ikut terlibat
untuk mencoba menjawab soal turnamen
berkat dukungan teman satu timnya dan 100%
pemberian motivasi guru agar setiap tim
berusaha menjadi yang terbaik serta 50%
pengemasan games menjadi lebih
menarikjuga membuat indikator 0%
menerapkan apa yang telah diperoleh Axis Title
siswa dalam mengerejakan tugas
meningkat, karena hal ini menciptaakn Gambar 4. Grafik Capaian Rata-rata
daya saing kepada setiap siswanya. Keaktifan Siswa Siklus I dan Siklus
JPGSD, Volume.4 [Link], Agustus 2019, hlm 147-156
Thalita, Fitriyani, Nuryani, Penerapan Model Pembelajaran TGT untuk Meningkatkan Keaktifan Belajar... 155
Berdasarkan grafik pada gambar pembelajaran Teams Games Tournament
4.16 , terlihat perbandingan capaian rata- (TGT).
rata keaktifan siswa pada siklus I dan
siklus II. Pada pelaksanaan siklus II, rata- DAFTAR RUJUKAN
rata capaian keaktifan siswa sebesar 63%. Asmani, J.M. (2016). Tipe Efektif
Sedangkan pada pelaksanaan siklus II Cooperative Learning. Yogyakarta:
rata-rata capaian keaktifan siswa Diva Press. Huda, M. (2016).
meningkat sebesar 22% dari siklus I Cooperative Learning Metode,
menjadi 85%. Dengan demikian, dapat Teknik, Struktur dan Model
disimpulkan bahwa dengan menerapkan Penerapan. Yogyakarta: Pustaka
model pembelajaran kooperatif tipe Pelajar.
Teams Games Tournament (TGT) Kunandar. (2007). Guru Profesional :
keaktifan siswa meningkat. Hal ini Implementasi Kurikulum Tingkat
dikarenakan model pembelajaran TGT Satuan Pendidikan (KTSP) dan
sesuai dengan karakteristik siswa yang Sukses dalam Sertifikasi Guru.
senang bermain, senang akan adanya Jakarta: Rajagrafindo Persada
tantangan, dan senang belajar di dalam Multyaningsih, Endang. (2014). Metode
kelompok. Model pembelajaran ini juga Penelitian Terapan Bidang
dapat mendorong siswa untuk melakukan Pendidikan. Bandung : Alfabeta
kegiatan-kegiatan baik yang bersifat fisik Mulyasa, E. (2014). Pengembangan dan
seperti mengamati, menulis, membaca Impelementasi Kurikulum 2013.
maupun mental seperti memecahkan Bandung: PT Remaja Rosdakarya
masalah, menganalisis, dan mengambil Peraturan Menteri Pendidikan Nasional
keputusan. Sehingga penerapan model Nomor 41 Tahun 2007 tentang
pembelajaran ini dapat meningkatkan Standar Proses untuk Satuan
aktivitas dan keaktifan siswa di Sekolah Pendidikan Dasar dan Menengah.
Dasar. Sanjaya, Wina. (2012). Strategi
Pembelajaran Berorientasi
SIMPULAN Standar Proses Pendidikan.
Melalui penggunaaan model Jakarta: Kencana Prenada Media
pembelajaram kooperatif tipe TGT, dapat Group Sardiman, A.M. (2001).
disimpulkan bahwa keaktifan siswa kelas Interaksi dan Motivasi Belajar
IV sekolah dasar dapmenjadi meningkat. Mengajar. Jakarta :
Hal ini dibuktikan dengan peningkatan Raja Grafindo Persada.
pada setiap indikator penelitian keaktifan Slavin, R.E. (2010). Cooperative
siswa baik di siklus I dan II. Keberhasilan Learning Teori, Riset dan Praktik.
penelitian ini juga dapat dilihat dari Bandung: Nusa Media
pencapain akhir kriteria keaktifan siswa Slavin, R.E. (2015). Cooperative
yaitu pada siklus II. Pada siklus ini Learning Teori, Riset dan Praktik.
mayoritas siswa mendapat predikat Bandung: Nusa Media
kriteria sangat aktif. Hanya sebagian kecil Sudjana, Nana.(2012). Penilaian Hasil
siswa yang mendapat predikat kriteria Proses Belajar Mengajar.
aktif ataupun predikat cukup aktif pada Bandung: PT Remaja
siklus ini. Maka dari itu, hal ini Rosdakarya..
menunjukan bahwa keaktifan siswa di Sugiyono. (2016). Metode Penelitian
kelas IV sekolah dasar ini dapat Pendidikan. Bandung : Alfabeta.
ditingkatkan dengan pembelajaraan Suryosubroto. (2009). Proses Belajar
dengan menggunakan penerapan model Mengajar di Sekolah. Jakarta :
[Link] Cipta.
JPGSD, Volume.4 [Link], Agustus 2019, hlm 147-156
156 Thalita, Fitriyani, Nuryani, Penerapan Model Pembelajaran TGT untuk Meningkatkan Keaktifan Belajar
Siswa Kelas IV
Trianto. (2010). Mendesain Model
Pembelajaran Inovatif-Progresif.
JPGSD, Volume.4 [Link], Agustus 2019, hlm 147-156