Identifying Traffic Accident Hotspots in Palembang
Identifying Traffic Accident Hotspots in Palembang
Abstract
Palembang is the capital of South Sumatra with a high population growth rate. As one of the major cities in Indonesia,
the development of infrastructure has more quickly, including the construction of roads and bridges that will be used to
serve land traffic facilities that have an important role for supporting the national economy growth.
And in time, ownership of vehicle also continues to increase which causes increase the volume of vehicles. This has an
impact related to road infrastructure including traffic accidents and road congestion.
The research question is why traffic accidents are increasing every year and what causes of the accidents ? Then,
identify road segments prone to traffic accidents and determine accident-prone locations on Kol. H. Burlian.
The results of the analysis showed that the dominant factor causing the accident on the road segment Kol. H. Burlian is
80% of road users, identified that has more Hazard of Acccident Areas over a period of 5 (five) years is in 2012. The
location of accident prone points is in the segment / sta of 5 + 000. The number of accidents based on AEK values
obtained 61.78 with the result of weighting 91.
Handling system for reduce the level of traffic accidents in accident-prone areas recommend to develop road facilities
such as speed limiter traffic signs and directional signs.
Abstrak
Palembang merupakan ibu kota Sumatera Selatan dengan tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi. Sebagai salah
satu kota besar di Indonesia pembangunan infrastruktur (prasarana) cukup pesat diantaranya pembangunan jalan dan
jembatan yang akan digunakan untuk melayani sarana lalu lintas darat yang mempunyai peranan penting dalam
mendukung perkembangan dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Seiring dengan hal tersebut, kepemilikan [Link] terus bertambah yang menyebabkan volume kendaraan
semakin meningkat. Hal ini membawa dampak yang berhubungan dengan infrastruktur jalan antara lain kecelakaan
lalu lintas dan kemacetan jalan.
Permasalahannya mengapa setiap tahun kecelakaan lalu lintas semakin meningkat dan apa penyebab terjadinya
kecelakaan. Kemudian melakukan identifikasi segmen jalan rawan kecelakaan lalu lintas dan menentukan lokasi-
lokasi rawan kecelakaan pada ruas jalan Kol . H. Burlian.
Dari hasil analisis menunjukkan bahwa faktor penyebab kecelakaan yang dominan pada ruas jalan Kol. H. Burlian
adalah pengguna jalan sebanyak 80% , yang teridentifikasi Daerah Rawan Kecelakaan selama kurun waktu 5 (lima)
tahun adalah pada tahun 2012 dan lokasi titik rawan kecelakaan terletak pada segmen/sta 5 + 000 dengan angka
kecelakaan berdasarkan nilai AEK diperoleh 61,78 dengan hasil pembobotan 91.
Penanganan dalam mengurangi tingkat kecelakaan lalu lintas pada daerah rawan kecelakaan direkomendasikan
dengan pembuatan fasilitas jalan raya berupa rambu batasan kecepatan, rambu penunjuk arah.
28
JURNAL TEKNO GLOBAL VOLUME 7 NO 1 JULI 2018 ISSN PRINT : 2089-6018
ISSN ONLINE : 2502-2024
A. Pengertian Kecelakaan Lalu Lintas 2. Berdasarkan kelas korban kecelakaan, maka korban
Kecelakaan lalu lintas adalah suatu peristiwa di jalan kecelakaan diklasifikasikan menjadi:
yang tidak diduga dan tidak disengaja melibatkan a. Korban luka ringan
kendaraan dengan atau tanpa pengguna jalan lain yang Adalah kelecakaan yang mengakibatkan korban
mengalami luka-luka yang tidak membahayakan jiwa
29
JURNAL TEKNO GLOBAL VOLUME 7 NO 1 JULI 2018 ISSN PRINT : 2089-6018
ISSN ONLINE : 2502-2024
dan tidak memerlukan pertolongan lebih lanjut dari Adalah jenis tabrakan dimana kendraan yang tengah
rumah sakit. melaju mengalami kecelakaan sendiri atau tunggal.
b. Korban luka berat g. Tabrakan beruntun
Adalah kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan Adalah jenis tabrakan dimana kendaraan yang tengah
korban mengalami luka-luka yang dapat melaju menabrak mengakibatkan terjadinya
membahayakan jiwa dan memerlukan kecelakaan yang melibatkan lebih dari dua kendaraan
pertolongan/perawatan lebih lanjut di rumah sakit. secara beruntun.
c. Korban meninggal dunia h. Menabrak obyek tetap
Adalah kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan Adalah jenis tabrakan dimana kendaraan yang tengah
korban jiwa/meninggal dunia. melaju menabrak obyek tetap dijalan.
30
JURNAL TEKNO GLOBAL VOLUME 7 NO 1 JULI 2018 ISSN PRINT : 2089-6018
ISSN ONLINE : 2502-2024
3. Wilayah Rawan Kecelakaan (Hazardous Area) 6) Ketidakpatuhan pengemudi terhadap peraturan lalu
Luas wilayah rawan kecelakaan (hazardous area) lintas. Kurangnya pengetahuan atau ketidakdisiplinan
biasanya ditetapkan berkisar 5 km2. Kriteria dipakai seorang pengemudi dapat menyebabkan terjadinya
dalam penentuan wilayah rawan kecelakaan adalah kecelakaan, seperti tidak mematuhi APILL, tidak
sebagai berikut : menggunakan sabuk pengaman/helm berstandar
1) Jumlah kecelakaan per km2 per tahun dengan nasional, menggunakan ponsel saat sedang
mengabaikan variasi panjang jalan dan variasi mengemudi, tidak menjaga jarak aman dengan
volume lalu lintas. kendaraan lain, melawan arus lalu lintas, tidak
2) Jumlah kecelakaan per penduduk dengan menyalakan lampu kendaraan pada malam hari, dan
mengabaikan variasi panjang jalan dan variasi lain-lain.
volume kecelakaan.
3) Jumlah kecelakaan per kilometer jalan dengan 2. Pejalan Kaki
mengabaikan volume lalu lintas. Oglesby, Hicks (1990) menyebutkan kecelakaan
4) Jumlah kecelakaan per kendaraan yang dimiliki oleh perkotaan yang melibatkan perilaku pejalan kaki dapat
penduduk di daerah tersebut (hal ini memasukkan berupa 35% pejalan kaki terlempar ke jalan dari
faktor volume lalu lintas secara kasar). persimpangan, 17% terlempar keluar pada
persimpangan, 7% tertabrak kendaraan yang membelok,
F. Faktor-faktor Penyebab Kecelakaan 5% menabrak kendaraan, dan 4% ditabrak ketika berada
Faktor-faktor penyebab kecelakaan diklasifikasikan di luar jalan. Adapun faktor kecelakaan yang
dengan unsur-unsur sistem transportasi itu sendiri. ditimbulkan oleh pejalan kaki, antara lain :
Hobbs (1995) terjadinya suatu kecelakaan tidak 1) Pejalan kaki menyeberang tidak pada tempatnya,
ditimbulkan oleh satu sebab tetapi oleh kombinasi seperti zebra cross atau jembatan penyeberangan
berbagai efek dari sejumlah kelemahan atau gangguan melainkan di badan jalan.
yang berkaitan dengan pemakai, kendaraannya dan tata 2) Pejalan kaki menggunakan ponsel saat menyeberang
letak [Link] lingkungan juga penting, misalnya tanpa memperhatikan keadaan sekitar.
permukaan jalan, dan juga jelas bahwa cuaca dan waktu 3) Pejalan kaki > 2 orang berjalan dengan berbanjar
juga berpengaruh. (berderet ke samping).
4) Pejalan kaki menyeberang secara mendadak, tidak
G. Pengguna Jalan sesuai rambu atau tidak melihat situasi [Link]
Yang termasuk kelompok pengguna jalan yaitu tidak berjalan di atas trotoar melainkan di sisi bahu
pengemudi dan pejalan kaki. jalan.
1. Pengemudi
Hobbs (1995), tugas utama pengendara (pengemudi) 3. Kendaraan
adalah menjalankan kendaraannya sesuai dengan Penyebab terjadinya kecelakaan lalu lintas
geometrik dan arus lalu lintas. Faktor kecelakaan yang berdasarkan faktor kendaraan, khususnya kendaraan
diakibatkan pengemudi, antara lain : bermotor yaitu tidak terpenuhinya persyaratan teknis dan
1) Belum memiliki izin mengemudi karena berusia kelaikan jalan suatu jalan.
muda. Usia muda berpengaruh terhadap pengalaman a. Rem blong.
dan kematangan emosional contohnya menggunakan Bila suatu kendaraan berhenti secara mendadak,
kendaraan dengan kecepatan tinggi akibat sikap setiap objek, bila tidak terikat kuat maka akan
pamer. cenderung terus bergerak mengikuti gerakan semula
2) Pengemudi mengalami kelelahan. Kelelahan dapat sesuai dengan kecepatan awalnya maka kemampuan
diakibatkan oleh kurangnya waktu tidur, postur tubuh kendaraan untuk berhenti dengan cepat (dalam
yang tidak tepat saat mengemudi, ketidakmampuan keadaan darurat) dan dapat dikendalikan dengan baik
mata dalam menyesuaikan cahaya, dan sebagainya. merupakan persyaratan yang penting bagi sistem
Kelelahan tersebut menyebabkan seorang pengemudi pengereman dan faktor utama dalam keselamatan
mengalami penurunan konsentrasi. lalu lintas sehingga apabila rem mengalami keadaan
3) Mengkonsumsi alkohol dan obat. Alkohol dan obat- blong/tidak berfungsi tentu akan menyebabkan
obat tertentu dapat mempengaruhi pengemudi untuk kecelakaan.
menilai jarak aman kendaraan, dapat mempengaruhi b. Ban.
keseimbangan fisik, membuat pengemudi sulit Faktor yang mempengaruhi kecelakaan berdasarkan
mengontrol kecepatan kendaraan, sulit mengontrol ban seperti ban meletus secara mendadak, mengganti
situasi jalan, serta membuat pengemudi menjadi ukuran ban kendaraan yang kecil sehingga
berhalusinasi. menyebabkan ketidakseimbangan kendaraan, atau
4) Sakit. Rasa sakit dapat mengganggu tingkat emosi mengganti ukuran ban kendaraan yang terlalu besar
dan fisik sehingga menurunkan tingkat kinerja yang menyebabkan kendaraan terasa berat/sulit saat
seorang pengemudi. akan berbelok.
5) Postur. Posisi pengemudi di dalam kendaraan harus c. Alat kemudi tidak berjalan baik.
mempertimbangkan kejelasan pengemudi melihat
keadaan disekitarnya.
31
JURNAL TEKNO GLOBAL VOLUME 7 NO 1 JULI 2018 ISSN PRINT : 2089-6018
ISSN ONLINE : 2502-2024
32
JURNAL TEKNO GLOBAL VOLUME 7 NO 1 JULI 2018 ISSN PRINT : 2089-6018
ISSN ONLINE : 2502-2024
2012 64 11 30 18 5 74,200
33
JURNAL TEKNO GLOBAL VOLUME 7 NO 1 JULI 2018 ISSN PRINT : 2089-6018
ISSN ONLINE : 2502-2024
2015 43 5 16 18 4 108,500
2016 14 3 4 5 2 7,700
34
JURNAL TEKNO GLOBAL VOLUME 7 NO 1 JULI 2018 ISSN PRINT : 2089-6018
ISSN ONLINE : 2502-2024
Gambar. 3. Analisa Black Spot tahun 2012 Gambar. 4. Analisa Black Spot tahun 2013
Hasil analisa tabel. 7 dan Gambar. 3 dinyatakan batas Hasil analisa pada Tabel 8 dan Gambar 4 didapatkan
ekstrem dengan nilai 11,06 (sebelas koma nol enam) batas ekstrem dengan nilai 8,45 (delapan koma empat
dengan menggunakan metode Frekuensi (MD,LB) lima) untuk metode Frekuensi (MD,LB) sehingga
sehingga diperoleh 1 (satu) segmen jalan yang mendapatkan 1 (satu) penggal jalan yang merupakan
merupakan black spot yaitu Sta 5+000 dengan nilai black spot yaitu Sta 5+000 dengan nilai hasil
hasil pembobotan 15 (lima belas). Sedangkan untuk pembobotan 9 (sembilan). Untuk metode INDII-Aus
metode INDII-Aus Aid didapatkan batas ekstrem dengan Aid didapatkan batas ekstrem dengan nilai 26,47 (dua
nilai 32,85 (tiga puluh dua koma delapan lima) puluh enam koma empat tujuh) yang menghasilkan 1
ditemukan 1 (satu) penggal jalan black spot yaitu pada (satu) penggal jalan black spot yaitu pada Sta 5+000
Sta 5+000dengan nilai hasil pembobotan 48 (empat dengan nilai hasil pembobotan 31 (tiga puluh satu).
puluh delapan). Kemudian menggunakan metode AEK Sedangkan metode AEK didapatkan batas ekstem
didapat batas ekstrem dengan nilai 61,78 (enam puluh dengan nilai 57,5 (lima puluh tujuh koma lima) yang
satu koma tujuh delapan) diperoleh 1 (satu) penggal menghasilkan 2 (dua) penggal jalan black spot yaitu
jalan black spot yaitu pada Sta 5+000 dengan nilai hasil pada Sta 1+000 dengan nilai hasil pembobotan 59 (lima
pembobotan 91 (sembilan puluh satu). puluh sembilan) dan 5+000 dengan nilai hasil
pembobotan 76 (tujuh puluh enam).
Tabel 8 Analisa Black Spot Tahun 2013
Tabel 9 Analisa Black Spot Tahun 2014
Korban Metode
Korban Metode
Jalan/ Freku
INDII- Ket Jalan/ Frek
Sta ensi INDII- Ket
MD LB LR K Aus AEK Sta uensi
(MD, MD LB LR K Aus AEK
Aid (MD,
LB) Aid
LB)
1+000 2 4 7 2 6 25 59
1+000 3 1 1 1 4 13 43
2+000 2 6 2 2 8 26 50 2+000 0 4 3 0 4 15 21
3+000 1 0 3 0 1 6 15
3+000 1 2 2 0 3 11 24
4+000 1 1 1 0 2 7 18
4+000 2 2 4 1 4 16 43 BLACK
5+000 1 5 4 0 6 22 39
SPOT
Black
5+000 4 5 4 1 9 31 76 Mean 3,4 12,6 27,2
spot
35
JURNAL TEKNO GLOBAL VOLUME 7 NO 1 JULI 2018 ISSN PRINT : 2089-6018
ISSN ONLINE : 2502-2024
Gambar. 5. Analisa Black Spot tahun 2014 Gambar. 6. Analisa Black Spot tahun 2015
Hasil analisa pada tabel 9 dan Gambar 5 didapatkan Hasil analisa pada Tabel 10 dan Gambar 6
batas ekstrem dengan nilai 5,24 (lima koma dua empat) didapatkan batas ekstrem dengan nilai 6 (enam) untuk
untuk metode Frekuensi (MD,LB) sehingga metode Frekuensi (MD,LB) sehingga mendapatkan 1
mendapatkan 1 (satu) penggal jalan yang merupakan (satu) penggal jalan yang merupakan black spot yaitu Sta
black spot yaitu Sta 5+000 dengan nilai hasil 5+000 dengan nilai hasil pembobotan 7 (tujuh). Untuk
pembobotan 6 (enam). Untuk metode INDII-Aus Aid metode INDII-Aus Aid didapatkan batas ekstrem dengan
didapatkan batas ekstrem dengan nilai 16,15 (enam belas nilai 20,22 (dua puluh koma dua dua ) yang
koma satu lima) yang menghasilkan 1 (satu) penggal menghasilkan 1 (satu) penggal jalan black spot yaitu
jalan black spot yaitu pada Sta 5+000 dengan nilai hasil pada Sta 5+000 dengan nilai hasil pembobotan 29 (dua
pembobotan 22 (dua puluh dua). Sedangkan metode puluh sembilan). Sedangkan metode AEK didapatkan
AEK didapatkan batas ekstem dengan nilai 34,21 (tiga batas ekstem dengan nilai 38,96 (tiga delapan koma
puluh empat koma dua satu) yang menghasilkan 2 (dua) sembilan enam) yang menghasilkan 2 (dua) penggal
penggal jalan black spot yaitu pada Sta 1+000 dengan jalan black spot yaitu pada Sta 2+000 dengan nilai hasil
nilai hasil pembobotan 43 (empat puluh tiga) dan Sta pembobotan 42 (empat puluh dua) dan Sta 5+000 dengan
5+000 dengan nilai hasil pembobotan 39 (tiga puluh nilai hasil pembobotan 64 (enam puluh empat).
sembilan).
Tabel 11. Analisa Black Spot Tahun 2016
Tabel 10 Analisa Black Spot tahun 2015 Korban Metode
Korban Metode Jalan/ Frek
INDII- Ket
Sta uensi
Jalan/ Frek MD LB LR K Aus AEK
INDII- Ket (MD,
Sta uensi Aid
MD LB LR K Aus AEK LB)
(MD,
Aid
LB) 1+000 1 1 0 0 2 6 15
1+000 0 3 4 1 3 13 22 2+000 0 1 1 1 1 4 7
BLACK
2+000 2 4 2 0 5 20 42 3+000 0 0 1 1 0 1 4
SPOT
3+000 1 3 1 1 4 13 25 4+000 1 0 1 0 1 4 15
4+000 0 1 3 1 1 6 13 BLACK
5+000 1 2 2 0 3 11 24
SPOT
BLACK
5+000 2 5 8 1 7 29 64 Mean 1,4 5,2 13
SPOT
Mean 4 16,2 33,2 SD 1,18 2,28 3,61
36
JURNAL TEKNO GLOBAL VOLUME 7 NO 1 JULI 2018 ISSN PRINT : 2089-6018
ISSN ONLINE : 2502-2024
Memposisikan rambu
sesuai standar agar
dapat digunakan secara
efektif
2 Tidak Ada rambu Pemasangan rambu
persimpangan peringatan
persimpangan
3. Garis Marka putus- Pengecatan ulang
putus dan terhapus marka
4. Melanggar Rambu Perlunya pengawasan
dan tindak penegakkan
hokum
5 Kelengkapan Pembuatan Rambu
Fasilitas Jalan batasan Kecepatan..
3. Kesimpulan
Gambar 7. Analisa Black Spot tahun 2016 Dari hasil analisa dan pembahasan dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut :
Hasil analisa pada Tabel 11 dan Gambar 7 1. Karateristik kecelakaan pada Ruas Jalan Kol. H.
didapatkan batas ekstrem dengan nilai 2,58 (dua koma Burlian, berdasarkan jumlah dan fatalitas kecelakaan
lima delapan) untuk metode Frekuensi (MD,LB) didominasi Luka Berat (LB) yaitu 42 %, kendaraan
sehingga mendapatkan 1 (satu) penggal jalan yang yang terlibat kecelakaan didominasi Sepeda Motor
merupakan black spot yaitu Sta 5+000 dengan nilai hasil yaitu 58 %.
pembobotan 3 (tiga). Untuk metode INDII-Aus Aid 2. Daerah rawan kecelakaan (black spot) terdapat pada
didapatkan batas ekstrem dengan nilai 7,48 (tujuh koma segmen/sta. 5 + 000 dengan nilai Angka Ekivalen
empat delapan) yang menghasilkan 1 (satu) penggal Kecelakaan (AEK) 61,78
jalan black spot yaitu pada Sta 5+000 dengan nilai hasil 3. Usulan penanganan untuk meningkatkan keselamatan
pembobotan 11 (sebelas). Sedangkan metode AEK pada daerah rawan kecelakaan adalah dengan
didapatkan batas ekstem dengan nilai 16,61 (enam belas pembuatan fasilitas rambu batasan kecepatan, rambu
koma enam satu) yang menghasilkan 1 (satu) penggal penunjuk arah, pemeliharaan marka, penempatan
jalan black spot yaitu pada Sta 5+000 dengan nilai hasil rambu lalu lintas.
pembobotan 24 (dua puluh empat).
Hasil analisa data kecelakaan lalu lintas didapatkan Daftar Pustaka
lokasi titik rawan kecelakaan (black spot), dimana titik
tersebut mendominasi terjadinya kecelakaan selama Polresta Palembang, 2017, Pedoman Penentuan dan
kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir atau dengan Pengkajian Black Spot.
pengertian lain bahwa lokasi tersebut rawan kecelakaan Polresta palembang, 2016 “Buku Register
dengan intensitas kejadian yang berulang. Sehingga Kejahatan/pelanggaran”..
dapat ditarik kesimpulan bahwa Sta 5+000 merupakan Polresta palembang, 2015 “Buku Register
lokasi black spot di Ruas Jalan Kol. H. Burlian, dari Kejahatan/pelanggaran”.
simpang Jalan Kela Gading ke Simpang Bandara Lama Polresta palembang, 2014 “Buku Register
(arah Jalan Sudirman ke Jalan Lintas Sumatera) dengan Kejahatan/pelanggaran”.
angka kecelakaan berdasarkan nilai Angka Ekivalen Polresta palembang, 2013 “Buku Register
Kecelakaan (AEK) sebesar 61,78 dengan hasil Kejahatan/pelanggaran”.
pembobotan 91. Polresta palembang, 2012 “Buku Register
Kejahatan/pelanggaran”.
D. Usulan Penanganan Lokasi Titik Rawan Kecelakaan Mulyono, A.T., Berlin, K., Gunawan, H.E.,2009,
Usulan penanganan lokasi titik rawan kecelakaan “Penyusunan Model Audit Defisiensi Keselamatan
(black spot) untuk mengurangi tingkat kerawanan Infrastruktur Jalan untuk mengurangi Potensi
kecelakaan pada ruas jalan Kol. H. Burlian seperti pada Terjadinya Kecelakaan berkendaraan” LPPM
tabel adalah 12 UGM, Yogyakarta.
Anonim, 2009. “Undang-Undang Republik Indonesia
Tabel 12. Usulan Penanganan Lokasi Titik Rawan Nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan
Kecelakaan Angkutan Jalan.
Satiagraha, Aldian.,2009 “Analisis Karakteristik
No. Permasalahan Usulan Penanganan
Kecelakaan Lalu Lintas Segmen Jalan Jember –
1. Penempatan Merapikan pepohonan Sumberbaru (Km. 7 – Km. 38). Jember.
Rambu Lalu Lintas agar tidak menutupi
rambu
37
JURNAL TEKNO GLOBAL VOLUME 7 NO 1 JULI 2018 ISSN PRINT : 2089-6018
ISSN ONLINE : 2502-2024
38