Makalah
Makalah
MUSTOFA BISRI:
KAJIAN HERMENEUTIK (THE POETRY ANTHOLOGY OF
TADARUS BY A. MUSTOFA BISRI: HERMENEUTICS ANALYSIS)
Dewi Susilawati
MTsN Astambul, Jl. Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary Sungai Tuan
Kec. Astambul Kab. Banjar
Abstract
The Poetry Anthology of Tadarus by A. Mustofa Bisri: Hermeneutics Analysis. Analyzing a poem
is an attempt to capture the meaning of the poem. Meaning of a poem is the meaning that arises by
the language which is based on the structure of literature according to the convention, the meaning of
which is not merely the meaning of the language, but contains an additional meaning, based on the
conventions of literature is concerned.symbols and interpretations are concepts that have a plurality of
meanings embodied in symbols or words as an expression of the form of the language. In order to reveal
the meanings contained in the Anthology of Poetry Tadarus A. Mustofa Bisri’s works, it is necessary to
do a study. From the research conducted it is concluded that of the first poem of the property implies the
trust of Allah and not to cause neglect to worship God. In the second poem contained meanings about the
nature of arrogance is not only attached to the figure of the Antichrist, but can also exist in every person.
In the third poem, contained meaning for mutual counsel and advise our brothers wished for when
making a mistake or oversight. In the fourth poem that contained the meaning of mutual forgiveness
is not only limited to verbal or speech, but also must be accompanied by action. In the fifth and sixth
poems contained meaning that this life is temporary, so do not indulge lust for life not necessarily bring
happiness.
Key words: poetry, hermeneutics, metaphor, symbol
Antologi Puisi Tadarus karya A. Mustofa Bisri: Kajian Hermeneutik. Menganalisis puisi merupakan
upaya untuk menangkap makna puisi. Arti dari sebuah puisi adalah makna yang muncul dengan
bahasa yang didasarkan pada struktur sastra menurut Konvensi, artinya tidak hanya arti bahasa, tetapi
mengandung makna tambahan, berdasarkan Konvensi Sastra yang bersangkutan simbol dan interpretasi
adalah konsep yang memiliki pluralitas makna yang terkandung dalam simbol atau kata-kata sebagai
ekspresi bentuk bahasa. Untuk mengungkapkan makna yang terkandung dalam karya-karya antologi
dari puisi Tadarus A. Mustofa Bisri’s, hal ini diperlukan untuk melakukan studi. Dari penelitian yang
dilakukan itu disimpulkan bahwa pertama puisi properti menyiratkan kepercayaan Allah dan tidak
menyebabkan pengabaian untuk beribadah kepada Tuhan. Dalam puisi yang terkandung makna kedua
tentang sifat kesombongan tidak hanya terikat pada sosok Antikristus, tetapi juga bisa ada dalam setiap
orang. Dalam puisi ketiga, terkandung makna untuk saling konseling dan menyarankan saudara-
saudara kita berharap untuk ketika membuat kesalahan atau pengawasan. Dalam keempat puisi yang
terkandung makna saling pengampunan adalah tidak hanya terbatas pada verbal atau pidato, tetapi
juga harus disertai dengan tindakan. Kelima dan keenam puisi terkandung berarti bahwa hidup ini
275
sementara, sehingga tidak memanjakan diri nafsu untuk hidup tidak membawa kebahagiaan.
Kata-kata kunci: puisi, hermeneutik, metafora, simbol
PENDAHULUAN
Puisi tidak hanya diartikan sebagai sebuah hasil dari daya imajinasi seorang penulis atau
pengarangnya, namun juga diyakini bahwa dalam puisi ada latar belakang persoalan realitas sosial
masyarakat yang melatarbelakangi lahirnya imajinasi tersebut yang diolah dengan kejeniusan
seorang pengarang sehingga lahir sebuah karya sastra, termasuk puisi. Seorang penikmat puisi,
apabila melakukan pengamatan yang cermat terhadap puisi yang dibacanya, dia akan menemukan
realitas sosial didalamnya. Oleh karena itu, sebuah karya sastra termasuk puisi bisa dikatakan
sangat terkait dengan kondisi dan fakta yang terjadi di sekitarnya sebagai sebuah refleksi kehidupan
masyarakat pada waktu dan tempat tertentu. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa puisi bukan
hanya produk sastra imajinatif saja, namun juga ada nilai-nilai tertentu yang diembannya untuk
dapat disampaikan kepada para penikmatnya secara khusus dan kepada masyarakat pada umumnya.
Oleh karena itu, sebuah puisi sebagimana diungkapkan oleh Teeuw (1984:11) bahwa sebuah karya
sastra tidak lahir dari sebuah kekosongan nilai atau budaya, namun terikat dengan paham, pikiran
atau pandangan masyarakat pada zamannya. Salah satu nilai yang mengisi dalam puisi tersebut
adalah nilai-nilai agama atau (religi). Dari sekian banyak sastrawan yang membuat puisi religi, salah
satunya adalah A. Mustofa Bisri yang salah satu judul antologi puisinya adalah Tadarus.
Untuk mengapresiasi kumpulan puisi dalam Tadarus, tidak cukup dengan membaca untaian
bait-baitnya saja, namun harus pula dilakukan pengkajian makna yang terkandung di dalamnya.
Hal ini disebabkan pertama, puisi adalah rangkaian kata-kata yang penuh makna. Puisi merupakan
sebuah rahasia batin yang diungkapkan dengan bahasa-bahasa implisit, namun memerlukan waktu
yang panjang untuk memahaminya. Perlu perenungan mendalam dan keseringan membaca puisi
tersebut, jika kita ingin mengetahui isi sebuah puisi (Rafiek, 2012: 3). Kedua, kata-kata yang ditulis
dalam bait-bait antologi puisi Tadarus sederhana, namun membacanya bagaikan bersampan-sampan
di sungai yang berkelok-kelok (Bisri, 1993: iii-iv). Ini menunjukkan bahwa memahami puisi-puisi A.
Mustofa Bisri tidaklah mudah dan sederhana, namun memerlukan kajian yang mendalam, dan salah
satu cara memahami puisi tersebut adalah dengan pendekatan hermeneutik, terutama hermeneutik
Paul Ricouer.
Dalam konteks pemahaman makna bahasa menurut Ricouer, tugas utama hermeneutika adalah
mencari dinamika internal yang mengatur struktural kerja di dalam sebuah teks, di lain pihak mencari
daya yang dimiliki kerja teks itu untuk memproyeksikan diri ke luar dan memungkinkan “makna”
teks itu muncul ke permukaan. Apa yang diucapkan menurut Ricouer mempunyai makna lebih
dari satu bila kita hubungkan dengan konteks yang berbeda (Kaelan, 2009: 308). Setiap interpertasi
menurut Ricouer adalah suatu usaha untuk membongkar makna-makna yang masih terselubung
atau sebuah usaha untuk membuka lipatan-lipatan dari tingkatan-tingkatan makna yang terkandung
dalam makna kesusastraan. Kata-kata adalah simbol-simbol juga, karena menggambarkan makna
lain yang sifatnya tidak langsung. Dengan demikian simbol-simbol dan interpertasi merupakan
konsep-konsep yang mempunyai pluralitas makna yang terkandung di dalam simbol-simbol atau
kata-kata sebagai ungkapan yang berupa bahasa (Kaelan, 2009: 306). Dalam rangka mengungkap
makna-makna yang terkandung di dalam puisi Tadarus Antologi Puisi A. Mustofa Bisri, maka sangat
276
perlu untuk dilakukan sebuah penelitan dengan judul Antologi Puisi Tadarus Karya A. Mustofa Bisri:
Kajian Hermeneutik.
Kata”hermeneutik” berasal dari bahasa Yunani yaitu hermeneuein yang berarti “menafsirkan”,
dan kata bendanya hermeneia yang berarti “penafsiran” atau “interpretasi”, dan kata hermeneutes
yang berarti interpreter (penafsir). Dalam sejarahnya, istilah ini dikaitkan dengan nama dewa
Hermes, yaitu seorang utusan yang bertugas menyampaikan pesan-pesan Dewa Jupiter kepada umat
manusia. Tugasnya menerjemahkan pesan-pesan dari dewa ke dalam bahasa yang dapat dimengerti
oleh manusia. Fungsinya sangat penting karena dapat dimengerti atau tidaknya pesan Dewa kepada
umat manusia, tergantung dari pesan yang dibawa oleh Hermes itu sendiri. (Sumaryono, 1999:23-
24).
Palmer (2005:15) mendefiniskan hermeneutika sebagai proses mengubah sesuatu atau situasi
ketidaktahuan menjadi mengerti. Sebagai metode penafsiran, “hermeneutika” tidak saja berurusan
dengan teks yang dihadapi secara tertutup, melainkan penafsiran teks tersebut membuka diri
terhadap teks-teks yang melingkupinya (Wachid, B.S., 2006: 212). Dengan kata lain, sebagai sebuah
metode penafsiran, hermeneutika memperhatikan tiga hal sebagai komponen pokok dalam upaya
penafsiran, yaitu teks, konteks, kemudian melakukan upaya kontekstualisasi. (Wachid,B.S., 2006:
212).
Dalam pembicaraan tentang hermeneutika, Paul Ricouer merupakan salah satu tokoh modern
yang dapat dikedepankan, terutama dalam konteks interpretasi teks atau dalam upaya memahami
makna sebuah teks dan bahasa. Paul Ricour merupakan seorang filosof yang dilahirkan pada tahun
1913 di Prancis. Sebagaimana para ahli filsafat lainnya, Ricour juga mempelajari pemikiran filsafat
para ahli sebelumnya sehingga pada akhirnya ia mengembangkan dan menaruh minat pada filsafat
bahasa terutama dalam hubungannya dengan hermeneutika (Kaelan, 2009: 302-303). Melalui bukunya
yang berjudul De’I’interpretation Paul Ricouer mengatakan bahwa hermeneutika merupakan teori
mengenai aturan-aturan penafsiran, yaitu penafsiran terhadap teks tertentu, atau tanda atau simbol
yang dianggap sebagai teks. Menurutnya tugas utama dari hermeneutika adalah di satu pihak
mencari dimika internal yang mengatur struktur kerja di dalam sebuah teks, di lain pihak mencari
daya yang dimiliki kerja teks itu untuk memproyeksikan diri ke luar dan memungkinkan halnya
teks itu ke permukaan (Sumaryono, 1999: 105).
Pemikiran hermeneutika Ricouer terutama dalam pemaknaan bahasa tertuang dalam
pemahamannya bahwa bahasa pada hakikatnya merupakan suatu sistem simbol yang terdiri atas
unsur-unsur kata. Maka sebuah kata juga merupakan sebuah simbol, sebab keduanya bersama-sama
hadir dalam bentuk yang lain. Sebuah kata tidak membawa maknanya sendiri-sendiri secara langsung
bagi penutur maupun pendengarnya. Pada kenyataannya orang yang berbicara membentuk suatu
pola-pola makna secara tidak sadar dalam kata-kata yang diucapkannya (Kaelan, 2009:306-307).
Menurut Ricouer (dalam Rafiek, 2012: 12) simbol adalah ungkapan yang mengandung makna
ganda. Di dalamnya terdapat makna lapis pertama yang disebut makna referensial atau denotatif.
Makna lapis pertama ini harus dirujukkan pada makna lapis kedua, yaitu makna konotatif dan
sugestif yang ada pada lapis pertama. Namun sebagai teori sastra yang berkaitan dengan penafsiran
sebagai telaah untuk memahami karya sastra, penafsiran tidak harus diarahkan pada fenomena
makna ganda simbol tetapi juga harus memandang simbol sebagai sesuatu yang kaya akan makna.
Menurut Ricoeur terdapat tiga langkah pemahaman yaitu pertama, berlangsung dari
277
penghayatan simbol-simbol ke gagasan tentang “berpikir dari” simbol-simbol yang dalam hal ini
adalah bahasa. Kedua, pemberian makna oleh simbol-simbol serta penggalian yang cermat atas makna.
Ketiga, berpikir dengan menggunakan simbol-simbol sebagai titik tolaknya. Ketiga langkah tersebut
sangat erat berhubungan dengan pemahaman bahasa yaitu semantik, refleksif dan eksistensial atau
ontologis. Langkah semantik merupakan pemahaman yang didasarkan kepada ilmu bahasa murni,
berkaitan dengan struktur kalimat-kalimat, kata-kata serta makna yang terkandung di dalamnya.
Pemahaman refleksif adalah pemahaman pada tingkat yang lebih tinggi, yaitu yang lebih mendekati
tingkat ontologis. Pemahaman ontologis adalah pemahaman pada tingkatan ‘being” atau hakikat
keberadaan makna itu sendiri (Kaelan, 2009: 311).
Berdasarkan pendapat Ricouer tersebut di atas, bahasa memiliki peranan sentral dalam
hermeneutika terutama dalam proses memahami. Bahasa merupakan suatu sisem simbol yang
melukiskan suatu realitas kehidupan, kenyatan, serta peristiwa pada suatu saat tertentu. Dengan
demikian, proses pemahaman dalam hermeneutika berupaya untuk menembus bahasa untuk
menemukan hakikat makna yang terkandung didalamnya dan pada akhirnya sampai pada tingkatan
ontologis, yaitu hakikat “ada” yang terkandung dalam makna tersebut. (Kaelan, 2009: 311).
Dalam konteks ini, Ricouer membedakan antara simbol univocal dan equivocal. Simbol
univokal adalah tanda atau simbol dengan satu makna yang ditandai, seperti simbol-simbol dalam
logika simbol. Sementara simbol equivocal adalah fokus sebenarnya dari hermeneutika. Karena
hermeneutika harus terkait dengan teks simbolik yang memiliki multi makna, ia dapat membentuk
kesatuan semantik yang memiliki makna permukaan yang betul-betul koheren dan sekaligus
mempunyai signifikansi lebih dalam. Hermeneutika dalah sistem di mana signifikansi mendalam
diketahui di bawah kandungan yang nampak (Palmer, 2005: 48).
Terkait dengan pemahaman, Paul Ricouer menegaskan bahwa pemahaman merupakan
cara berada atau cara ‘menjadi’, dan bukan cara mengetahui atau cara memperoleh pengetahuan
ini. Paul Ricoeur menurut Wachid, B.S. (2006: 218) hanya ingin menyentakkan kesadaran kita
bahwa hermeneutik adalah sebuah metode yang sejajar dengan metode di dalam sains. Ia tidak
berkehendak memperlakukan metode hermeneutika ini dengan kaku dan terstruktur sebagaimana
terdapat di dalam ilmu ilmiah lainnya. Sebab pemahaman adalah salah satu aspek ‘proyeksi Dasein’
(proyeksi manusia seutuhya) dan keterbukaannya terhadap “being.” Dengan begitu, pertanyaan
tentang kebenaran bukan lagi menjadi pertanyaan tentang metode, melainkan pertanyaan tentang
pengejawantahan “being” untuk “being”, yang eksistensinya terkandung di dalam pemahaman
terhadap “being”. Hal itu disebabkan kita memahami manusia dari segala aspek yang dimilikinya,
manusia seutuhnya, manusia sebagai “Dasein”: sejarahnya, cara hidupnya, cita-citanya, gaya
penampilan, keburukannya, serta segala sesuatu yang membuatnya menjadi “khas”. Oleh sebab itu,
kita memahami manusia sebagaimana ia “menjadi” (Wachid, B.S., 2006: 219).
Simbol merupakan hal yang dominan dalam penafsiran kata atau bahasa. Menurut Paul
Ricouer sebagaimana yang dikutip oleh Sumaryono (1999: 106) menegaskan bahwa setiap kata
adalah sebuah simbol. Kata-kata penuh dengan makna, dan intense yang tersembunyi. Tidak hanya
kata-kata di dalam karya sastra, kata-kata di dalam bahasa keseharian juga merupakan simbol-
simbol sebab menggambarkan makna lain yang sifatnya tidak langsung, terkadang ada yang berupa
bahasa kiasan, yang semuanya itu hanya dapat dimengerti melalui simbol-simbol itu. Karenanya,
simbol dan interpretasi merupakan konsep yang mempunyai pluralitas makna yang terkandung di
278
dalam simbol atau kata-kata di dalam bahasa. Setiap interpretasi adalah upaya untuk membongkar
makna yang terselubung. Dalam konteks karya sastra, setiap interpretasi ialah usaha membuka
lipatan makna yang terkandung di dalam karya sastra. Oleh sebab itu, “Hermeneutika bertujuan
menghilangkan misteri yang terdapat dalam sebuah simbol dengan cara membuka selubung daya-
daya yang belum diketahui dan tersembunyi di dalam simbol-simbol tersebut”. Dengan begitu,
“Hermeneutik membuka makna yang sesungguhnya sehingga dapat mengurangi keanekaan makna
dari simbol-simbol,” kata Paul Ricoeur (dalam Wachid, B.S., 2006: 216).
Dalam konteks pemahaman teks terhadap karya sastra khususnya puisi, Paul Ricouer
sebagaimana dikutip oleh Hadi. W.M menegaskan bahwa setiap teks berbeda komponen dan struktur
bahasa atau semantiknya, oleh karena itu dalam memahami teks diperlukan proses hermeneutik yang
berbeda pula. Apalagi yang dihadapi adalah teks sastra, hermeneutik harus mampu membedakan
antara bahasa puitik yang bersifat simbolik dan metaforik, dengan bahasa diskursif non-sastra yang
tidak simbolik (dalam Wachid, B.S., 2006: 219).
Perlakuan pemaknaan teks sastra berbeda dengan teks selainnya itu diakibatkan bahasa
sastra memiliki kekhasan, yang ciri utamanya dapat dikenali sebagai berikut, yaitu pertama, bahasa
sastra dan uraian falsafah bersifat simbolik, puitik, dan konseptual. Di dalamnya berpadu makna
dan kesadaran. Kita tidak dapat memberi makna referensial terhadap karya sastra dan falsafah
sebagaimana dilakukan terhadap teks yang menggunakan bahasa penuturan biasa. Bahasa sastra
menyampaikan makna secara simbolik melalui citraan-citraan dan metafora yang diserap oleh indra,
sedangkan bahasa bukan sastra berusaha menjauhkan bahasa atau kata-kata dari dunia makna yang
luas. Kedua, dalam bahasa sastra pasangan rasa dan kesadaran menghasilkan objek estetik yang
terikat pada dirinya. Penandaan harus dilakukan, dan tanda harus diselami maknanya, tidak dapat
dibaca secara sekilas lintas. Tanda dalam bahasa simbolik sastra mesti dipahami sebagai sesuatu
yang mempunyai peran konotatif, metaforikal, dan sugestif. Ketiga, bahasa sastra berpeluang
menerbitkan pengalaman fiktional dan pada hakikatnya lebih kuat dalam menggambarkan ekspresi
kehidupan (Wachid, B.S., 2006: 219-220). Penelitian ini dilakukan dengan tujuan dapat diketahui
apa religiusitas yang terdapat dalam antologi puisi Tadarus karya A. Mustofa Bisri, dan makna yang
terkandung dalam antologi Tadarus puisi karya A. Mustofa Bisri.
METODE
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan
atau kajian hermeneutik. Metode deskriptif diartikan sebagai metode yang menggambarkan atau
melukiskan keadaan objek atau subjek penelitian berdasarkan fakta-fakta yang terlihat sebagaimana
adanya (Nazir, 1988: 63). Adapun pendekatan yang digunakan adalah pendekatan hermeneutik.
Pendekatan ini digunakan untuk memberikan pemaknaan dan mengetahui makna yang terkandung
di dalam puisi-puisi A. Mustofa Bisri dalam tadarus Antologi Puisi secara totalitas.
Sumber data dalam penelitian ini adalah Tadarus Antologi Puisi A. Mustofa Bisri. Sumber
data dalam penelitian ini adalah puisi-puisi yang terdapat dalam antologi tersebut. Namun karena
banyaknya puisi yang terdapat dalam antologi tersebut, akan dipilih beberapa puisi yang dianggap
relevan dan cocok untuk dilakukan kajian dan penelitian. Dari hasil pemilihan tersebut, ada tiga
puisi pada bagian pertama dan tiga puisi pada bagian kedua sehingga semuanya berjumlah enam
buah puisi.
279
Teknik dalam pengumpulan data ini menggunakan teknik dokumentasi, yaitu menggunakan
bukti-bukti dan keterangan yang diperoleh dari buku yang datanya berupa data primer dan
sekunder. Dalam penelitian ini, data primernya adalah buku Tadarus Antologi Puisi karya A. Mustofa
Bisri, dan data sekundernya adalah berupa dokumentasi data-data pustaka atau berbagai tulisan
lain yang memiliki kaitan dengan masalah penelitian untuk dipilah dan dipilih berdasarkan data
untuk mempermudah dalam menganalisisnya. Untuk mengumpulkan data tersebut maka dibuat
instrument berupa tabel sebagai berikut:
Untuk menganalisis data, penulis menggunakan teknik analisis deskriptif, karena teknik ini
sangat mendukung tercapainya tujuan penelitian ini.
280
sebuah proses konsentrasi penuh dengan melibatkan jiwa dan fisik dalam melaknasakan sholatnya.
Namun dalam bait keempat terdapat apa yang disebut dengan word metaphor atau metafora kata,
karena adanya ketegangan makna. Menghadap arah kiblat sudah jelas menunjukkan bahwa adanya
aktivitas ibadah yang dilakukan oleh seseorang baik berupa sholat, mengaji Alquran maupun
selesai wudhu dan berdoa atau aktivitas ibadah lainnya. Namun dalam kalimat berikutnya ada
kalimat yang mempertanyakan “entah apa”. Ini seakan-akan “aku-lirik” tidak tahu apa aktivitas
yang dilakukan dengan menghadap kiblat. Pemaknaan dalam bait ini mengibaratkan “kiblat”
yang bukan arah menunjukkan posisi ka’bah di Kota Makkah sebagai kiblat yang menunjukkan
arah ka’bah. Dalam hal ini kiblat dimaknai sebagai titik fokus di mana orang-orang sedang asyik
memandang sesuatu yang memancarkan pesona. Sama dengan makna kiblat sesungguhnya, kaum
muslimin mengarahkan wajah dan badannya kea rah Kota Makkah ketika sedang beribadah dengan
khusyuk. Masih dalam bait pertama, pada baris kedelapan dan kesembilan terjadi lagi metafora kata
yang tulisannya adalah //…tak ada seorang pun sudi meminjamkan//sebelah telinga saja, sekejap
saja//. Telinga yang dimiliki manusia pada umunya secara fisik terdiri dari satu pasang yaitu kanan
dan kiri. Namun dalam bait tersebut, disebutkan satu telinga. Telinga sebagai organ fisik tidak
bisa dipisahkan dari tubuh tanpa memotongnya. Di sini terjadi pemaknaan lain yang maksudnya
adalah mau untuk mendengarkan apa yang telah didengar orang lain. Walaupun telinga yang dia
miliki tidak mau mendengarkan suara yang dia dengar, namun paling tidak dia mau mendengarkan
apa yang didengarkan oleh orang lain. Dalam bait kedua terutama baris ketiga dan keempat yang
berbunyi //bagai wali-wali Allah yang dalam keadaan fana//, //ketika mengeja isyarat-isyarat-
Nya// terdapat apa yang disebut metafora pernyataan atau metafora statement karena komposisinya
sudah memenuhi sebagai preposisi, yaitu minimal dibangun atas unsur subjek sebagai identifikasi
tunggal “bagai wali-wali Allah ” dan unsur prediksi-umum sebagai prediksi “dalam keadaan fana”,
sedangkan “ketika mengeja isyarat-syarat-Nya” sebagai unsur penjelas. Pemaknaan dalam bait ini
mengibaratkan wali-wali Allah yang bukan wali sesungguhnya sebagai wali yang asyik dengan
keadaan mereka. Wali dalam bait ini diinterpretasikan sebagai orang yang mabuk dengan apa yang
dilihat, didengarnya, bahkan dibacanya. Penyebutan wali yang bukan sesungguhnya dikaitkan
dengan kata fana yang dalam literatur tasawuf dipahami sebagai suatu sikap menghilangan sifat-sifat
kemanusia dan mengisi diri dengan sifat Allah. Dalam puisi tersebut wali yang bukan sesungguhnya
justru memalingkan diri dari ingat kepada Allah. Dalam bait ketiga, terdapat metafora kata yang
terletak pada baris ketiga yang berbunyi //terhayati sampai ke sungsum-sungsum mereka//. Dalam
hal ini terjadi perluasan makna, yaitu bagian dalam setiap tubuh. Dalam bait kelima baris pertama,
terapat juga metafora kata terutama pada kata “guru” yang bunyi lengkapnya sebagai berikut //
Tuhan, aku yang mendatangkan guru privat itu//. Guru adalah sebuah jabatan profesi yang luhur
dan mulia memberikan pelajaran dan nilai-nilai mulia kepada anak didiknya. Namun dalam bait-
bait sebelumnya, ternyata “guru” tersebut juga mengajarkan apa yang semestinya tidak boleh untuk
diajarkan kepada anak didik. Begitu pula tidak ada “guru” yang bisa mengajarkan semua hal. Setiap
“guru” mempunyai spesifikasinya sendiri. Dari hal ini, kata “guru” dimaknai lain, yaitu sebuah
benda yang hanya berfungsi untuk menyampaikan apa yang dikehendaki oleh orang yang berada
di belakangnya, tanpa ada penolakan atau memilah mana yang baik dan buruk. “Guru” mempunyai
keinginan, kemampuan untuk melakukan spesifikasi materi yang diajarkan sesuai dengan sifat
manusia yang mempunyai ikhtiar. Sedangkan sebuah benda hanya bisa menyampaikan apa yang
281
dikehendaki oleh pemilik benda tersebut.
Puisi yang berjudul “pesona” memberikan simbol tentang benda mati yang menjadi harta
manusia. Penyebutan benda mati dalam puisi tersebut muncul dua kali yaitu pada bait keenam
dan ketujuh. Benda mati dalam puisi “Pesona” mempresentasikan sesuatu yang memberikan
pengaruh luar biasa terhadap kehidupan manusia. Alur kehidupan manusia di dunia ini seakan-
akan tergantung terhadap efek yang ditimbulkan oleh benda mati tersebut. Dalam Islam memiliki
benda atau harta bukanlah sesuatu yang dilarang atau diharamkan. Kecintaan manusia terhadap
harta benda merupakan fitrah. Sebagaimana firman Allah dalam surat Ali Imron ayat 14 yang
artinya bahwa “dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini,
yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-
binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat
kembali yang baik (surga)”(Zuhaili, dkk., 2009: 52). Untuk itulah Manusia dengan segala daya dan
upaya berusaha untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya harta untuk memenuhi kebutuhannya.
Bahkan sudah menjadi sifat manusia yang senantiasa kurang dalam masalah harta. Sekalipun ia
sudah mendapatkan emas satu gunung, ia akan berusaha mendapatkan dua, tiga dan seterusnya.
Namun demikian, harta merupakan salah satu amanah yang harus dijaga serta dijalankan
dengan sebaik-baiknya. Allah dengan sangat tegas menjelaskan dalam Alquran agar kita jangan
mengkhianati amanah yang telah diberikan oleh Allah dan RasulNya. Sebagaimana firman Allah
dalam Surah Al-Anfal ayat 27 yang artinya bahwa ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
mengkhianati Allah dan Rasul dan janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan
kepadamu, sedang kamu mengetahui” (Zuhaili, dkk, 2009: 181). Dalam Surat At-Taghobun ayat 15
Allah berfirman yang artinya bahwa ”Sesungguhnya hartamu dan anakmu adalah cobaan, dan di sisi
Allah lah pahala yang besar” (Zuhaili, dkk., 2009: 558). Harta merupakan ujian besar yang diberikan
Allah kepada manusia. Islam tidak melarang seorang mendapatkan harta sebanyak-banyaknya.
Bahkan banyak ayat Alquran yang menyeru kepada manusia agar bertebaran di muka bumi untuk
mencari karunia Allah SWT. Namun demikian, jangan sampai harta yang kita kumpulkan justru
menjadikan kita lupa akan Allah, bahkan enggan menunaikan kewajiban yang diperintahkanNya
kepada kita. Harta benda yang dimiliki jangan sampai menjadikan kita lalai dalam melaksanakan
apa yang menjadi kewajiban kita sebagai hamba Allah. Harta benda yang dimiliki semestinya
menjadi sarana untuk mencapai kebahagian akhirat. Demikianlah masalah harta dalam Islam bisa
membawa pemiliknya kepada kepasrahan kepada Allah, dan juga bisa membawa malapetaka bagi
yang memilikinya. Ketika orang masih tidak punya apa-apa, perintah-perintah Allah baik yang
wajib dan sunah dilakukan dengan baik. Bahkan waktunya dihabiskan untuk usaha dan berdo’a
kepada Allah agar diberikan karunia yang banyak. Namun setelah Allah mengubah mereka menjadi
orang yang diberikan karunia yang melimpah, mereka lupa dengan amalan-amalan yang sudah
biasa dilakukan saat sebelum kaya. Jika kita tidak berhati-hati dalam menjaga dan memanfaatkan
harta yang kita miliki, akan menjadi malapetaka bagi diri kita besok pada hari kiamat.
Puisi berjudul “Dajjal”.
Dalam untai bait-bait puisi berjudul Dajjal terdapat beberapa metafora, yaitu pada bait pertama
yang bunyinya //bermata satu berlisan ganda//. Mata satu diartikan sebagai mata Tuhan yang
dapat melihat semuanya, namun mempunyai lisan ganda. Arti lisan ganda menunjukkan bahwa
282
yang memiliki adalah seorang pendusta atau pembohong, karena menyampaikan dua hal yang
kontradiktif. Dalam baris ini terdapat metafora kata yaitu terjadinya ketegangan, hakikat Tuhan
tidak akan melakukan sebuah kobohongan besar, namun di sini terjadi ketegangan tersebut bahwa
seseorang yang dianggap tuhan ternyata adalah seorang pembohong atau pendusta, karena kata-
kata yang diucapkannya tidak bisa dijadikan sebagai pegangan atau mendua. Ini seperti sifat orang
munafik yang salah satu cirinya adalah apabila berbicara, maka pembicaraannya tersebut adalah
sebuah kebohongan. Dalam baris berikutnya yang berbunyi //bertelinga satu bertangan sejuta//.
Dalam baris ini terdapat metafora kata yaitu “bertangan sejuta”. Manusia atau makhluk hidup pada
umunya tidak ada yang memiliki tangan sebanyak satu juta atau lebih. Secaara normal, tangan yang
dimiliki minimal dua. Di sini diperlukan perluasan makna yaitu Dajjal memiliki anak buah atau
pengikut yang banyak. Tangan merupakan organ tubuh yang menunjukkan kepada arti kekuasaan
atau kemampuan. Artinya bahwa Dajjal memiliki kemampuan dan kekuasaan dengan dibantu dan
diikuti oleh para pengikutnya. Sedangkan “sejuta” diartikan sejuta. Di sini juga diperlukan perluasan
makna ke makna banyak, tidak terbatas sejuta. Ini sesuai dengan informasi bahwa di akhir zaman
nanti akan banyak yang menjadi pengikut Dajjal, terutama dari orang-orang yang tidak beriman
dengan Allah dan para Rasul-Nya. Oleh karena itu, cengkraman kekuasaan Dajjal semakin meluas
dan menimbulkan keresahan, karena dibantu oleh antek-anteknya yang tersebar di mana-mana. Pada
bait ketiga yang berbunyi //Hahahoa menggenggam sorga// //Hoahaha menimang neraka//.
Dalam bait ini bisa dikatakan terdapat metafora pernyataan yaitu berupa baris pertama dan kedua.
Sorga merupakan sebuah tempat yang penuh kesenangan, kebahagian dan kebebasan, dan begitu
pula sebaliknya. Sorga dan neraka dimaknai bukan merujuk kepada sebuah tempat, namun merujuk
kepada sebuah sifat atau keadaan. Sorga yang digenggam oleh Dajjal adalah sebuah keadaan yang
menyenangkan, membahagiakan, dan kebebasan yang dia tawarkan. Sebaliknya begitu pula dengan
neraka.
Pada bait ketujuh yang berbunyi //Hoahaha hahahoa// //Mengibarkan panji kemanusiaan//
//Dan merobek-robeknya//. Dalam bait ini, kata panji merupakan metafora dari kata nilai. Nilai-
nilai kemanusian dibalut dengan paham humanisme yang mengajarkan kebebasan pribadi tanpa
batas atau bisa dikatakan bahwa humanisme yang diajarkan adalah paham humanisme atheistik,
yaitu paham humanis yang meninggalkan norma agama. Nilai kemanusian yang didengungkan dan
dikibarkan oleh Dajjal bagaikan sebuah keindahan oase di tengah padang pasir. Terasa begitu indah
dan menyejukkan bagi kehidupan umat manusia. Padahal nilai-nilai tersebut justru menghancurkan
nilai-nilai kemanusian yang hakiki, karena nilai humanis yang dikibarkannya justru dilanggar dan
tidak dilaksanaknnya. Dalam bait kesepuluh yang berbunyi // Hoahaha hahahoa// //Menyerukan
pembaruan// //Dan menyurutkannya//. Dalam bait ini terdapat metafora pernyataan (metafora
statement) pada baris kedua kata yang memiliki metafora yaitu berupa kata “menyurutkannya”. Kata
tersebut berasal dari kata “surut” yang menunjukkan kepada suatu keadaan di mana sungai atau
air berkurang kuantitasnya atau volumenya. Berkurangnya debit air ditunjukkkan dengan semakin
dangkalnya volume air yang dikandung. Kata tersebut dikaitkan dengan kata ganti “nya” yang
merujuk kepada kata peradaban. Dalam hal ini, air dan peradaban adalah dua hal yang berbeda. Air
merupakan bagian dari alam yang dianugerahkan oleh Allah sebagai sumber kehidupan manusia yang
bersifat cair. Sedangkan peradaban adalah sebuah kondisi, di mana manusia mengalami kemajuan
hidup dengan indikator yang beragam seperti sosial, budaya, dan keagamaan serta yang lainnya.
283
Oleh karena itu, maju dan surut sebuah peradaban sangat tergantung dengan indikator-indikator
tersebut. Kata menyurutkan menunjukkan kepada suatu keadaan peradaban yang semakin mundur
merupakan sebuah metafora. Dalam hal ini diperlukan perluasan makna yaitu, berupa makna
“berkurang” atau “hilang” karena peradaban yang merupakan sebuah tatanan nilai dan norma yang
mendorong masyarakat untuk maju menunjukkan kepada suatu keadaan bukan fisik seperti air.
Dalam bait kesebelas yang berbunyi //Beritamu hahahoa deritaku// Guritamu hoahaha gulitaku//
terdapat metafora pernyataan pada kalimat “beritamu hahahoa adalah deritaku”. Berita merupakan
informasi yang tidak menyebabkan adanya sebuah penderitaan fisik, mental, iman, dan lain-lain.
Oleh Karena itu, berita dimaknai dengan makna yang lain yaitu perbuatan, karena perbuatan lah
yang bisa melahirkan adanya sebuah penderitaan. Kemudian dalam baris berikutnya juga terdapat
metafora pernyaataan berupa “guritamu adalah gulitaku”. Di sini “aku lirik” menyebutkan kata
gurita, yaitu seekor hewan laut yang besar dengan memiliki tangan yang banyak dan menangkap
mangsanya dengan cara mencengkram atau menggenggam, dan kata tersebut diartikan dengan
makna “pengaruh”. Dengan demikian kata “pengaruh” merupakan sebuah perluasaan makna dari
kata “gurita”. Dalam bait ketiga belas yang berbunyi // Pengaruhmu hahahoa pembunuhku// //
Pelurumu hoahaha peluruhku//. Terdapat metafora dalam kata “peluru” yang dimaknai dengan
slogan atau paham.
Dajjal merupakan simbol dari suatu bangsa atau seseorang yang mempunyai kekuasaan
dan memaksakan propaganda-propoganda kebaikan serta peradaban yang bersifat semu dan ilusi
yang justru menjadi sebuah kebaikan dan kebahagian bagi para pengikutnya. Sosok Dajjal bisa
merupakan sebuah bentuk tirani, arogansi yang dengan alasan tatanan kehidupan lebih baik yang
justru akan membawa umat manusia kepada sebuah kehidupan yang buruk. Sosok Dajjal merupakan
simbol bagi sebuah kejahatan yang besar, kejahatan kemanusiaan dan kejahatan terhadap sebuah
peradaban yang baik bagi kehidupan umat manusia. Dalam Islam, Dajjal merupakan simbol dari
sebuah kejahatan dan ujian yang sangat besar bagi kaum muslimin. Walupun dalam beberapa hadits
menyebutkan tentang sosok Dajjal secara fisik, namun kata Dajjal bisa saja diartikan dengan makna
yang lain seperti misalkan memaknakan kepada sebuah sifat. Pemaknaan yang kontekstual seperti
itu melahirkan tafsiran yang variatif tentang sosok Dajjal baik secara fisik maupun non fisik. Salah
satu sifat yang bisa dilekatkan dengan sosok Dajjal adalah sebuah sifat arogansi. Arogansi dalam
Kamus Bahasa Indonesia diartikan sebagai sebuah kesombongan, keangkuhan. (Badan Pembinaan
dan Pengembangan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2011: 28). Sikap arogan
dapat menutup mata hati dalam menerima yang benar. Kesombongan menjadikan manusia ingkar
terhadap kebenaran –walau berasal dari Penciptanya sekalipun--, hingga Allah mengunci mati hati
mereka. Manusia diperintahkan untuk melakukan segala sesuatu sebaik mungkin, berbuat yang
terbaik. Sudah sepantasnya bila seorang muslim selalu ingin berbuat lebih baik daripada yang
dilakukan orang lain karena Islam memang mengajarkan demikian (fastabiqul khairat). Berbuat lebih
baik atau bahkan menjadi yang terbaik tidaklah sama dengan merasa lebih baik atau merasa paling
baik. Keduanya sangatlah berlawanan. Idealnya, adalah bisa menjadi yang terbaik tanpa merasa
lebih daripada yang lain. Ketika perasaan “lebih” telah hinggap dalam diri manusia, tak dapat
dipungkiri benih-benih keangkuhan mulai mengembang. Perasaan “lebih” ini dapat menghinggapi
siapapun, tanpa kecuali. Anak, orang tua, dosen, karyawan, pejabat, atau siapapun itu, semuanya
rentan terjangkit virus “merasa lebih” ini. Sikap seperti inilah yang tergambarkan dalam sosok Dajjal
284
dan ditafsirkan kepada siapa saja yang mempunyai sikap seperti itu.
Puisi berjudul Dzikir
Dalam puisi berjudul Dzikir ini, terdapat beberapa metafora kata di antaranya, yaitu pada bait
ketiga yang bunyinya adalah // bersama burung-burung dalam sangkar//. “Bersama”, menunjukkan
bahwa “aku lirik” akan berbuat dengan “burung-burung dalam sangkar”. Burung-burung dimaknai
dengan manusia atau orang, sedangkan “sangkar” dimaknai dengan “terbelenggunya sebuah
kebebasan”. Dengan demikian, setiap kata dalam kalimat tersebut mengandung metafora yang
apabila dimaknai menjadi bahwa “aku lirik” bersama siapa saja yang terbelenggu kebebasan dan
geraknya, akan tetap menyuarakan dengan suara yang keras. Dalam hal ini burung dan manusia
adalah sama-sama makhluk hidup yang mampu mengeluarkan suara keras, walaupun gerak
geriknya terbatas. Begitu pula dalam baris berikutnya terdapat metafora yaitu kalimat //bersama
rumput-rumput yang terinjak// //aku terus berdzikir khafi, tidak, tidak, tidak//. Rumput adalah
jenis tumbuhan yang tumbuh di jalan dan sering diinjak oleh manusia, namun tidak pernah ada
suara yang terdengar. Dalam konteks ini, rumput dimaknai sebagai manusia lemah yang tidak
mempunyai kekuatan dan keberanian untuk melawan, sehingga hanya menghasilkan keluhan yang
tidak terdengar, dan penolakan yang sunyi. Dalam bait kelima yang berbunyi //Biar sepi mengirim
senyap// //Biar nafsu mengirim syahwat// //Biar lena mengirim lelap// //Biar angkara
mengirim laknat// merupakan untaian baris puisi yang mengandung metafora dengan pemaknaan
//biar sepi mengirim senyap//walaupun “aku lirik” dikucilkan dalam pergaulan sosial dan
pergaulan kelas elit di masyarakat.//biar nafsu mengirim syahwat// walaupun diriku diiming-
imingi kemewahan berupa harta, tahta dan wanita yang dapat menggiring diriku untuk memenuhi
hasyarat nafsuku// walaupun “aku lirik” dibungkam untuk tak dapat lagi berbicara.//biar angkara
mengirim laknat// walaupun dikirimkan kepada “aku lirik” sebuah ancaman dan tuduhan maker
atau fitnah yang keji, “aku lirik” akan tetap istiqomah dalam menyuarakan kebenaran. Bait-bait
di atas masih menegaskan bahwa walaupun ancaman, intimidasi, ataupun terror yang diarahkan
kepada “aku lirik” akan tetap konsisten melakukan kritik dan nasehat ketika terjadi kemungkaran,
baik yang dilakukan oleh pejabat, maupun orang lain. Dalam bait-bait sebelumnya “aku lirik”dicoba
dibujuk dengan kekerasan untuk menghentikan kritik terhadap orang lain. Dalam bait berikutnya
bujukan dan rayuan menjadi alternatif cara meluruhkan perjuangan “aku lirik” untuk menghentikan
kemungkaran yang ada di masyarakat. “Aku lirik” sadar bahwa dalam kehidupan ini, kekejian yang
dilakukan para penguasa dan aparatnya nampak secara kasat mata. Kemungkaran yang timbul
di tengah-tengah masyarakat begitu gamblang terpapar di depan kehidupan dan dibiarkan oleh
penguasa. Apabila tidak dilakukan kritikan dan nasehat, tentunya akan terjadi pembiaran terhadap
kezhaliman dan kemungkaran tersebut. Oleh karena itu, harus ada upaya untuk mengingatkan, dan
memeberikan peringatan atau nasehat tersebut harus tetap diberikan walaupun di bawah ancaman,
intimidasi dan teror serta bujuk rayu yang dapat melemahkan sikap dan perjuangan tersebut. Dalam
bait ketujuh, untaian baris puisinya masih terdapat metafora kata yaitu //bersama dedaunan yang
tercampak//bersama orang-orang yang terpinggirkan karena mempunyai garis perjuangan yang
sama.//aku berdzikir siap pak siap pak siap pak// dalam baris ini “siap pak siap pak siap pak”
merupakan metafora dari dzkir dzahri, yaitu dzikir yang dilakukan dengan suara yang terdengar.
Maksudnya bahwa “aku lirik” akan terus memberikan kritik dan nasehat dengan keras baik berupa
285
perbuatan, perkataan ataupun dengan dialog sebagaiamana yang terdapat dalam Alquran Surat
An-Nah ayat 125 yang artinya bahwa ajaklah mereka ke jalan Tuhamu dengan hikmah, nasehat
dan dialog yang baik (Zuhaili, dkk., 2009: 282). //bersama bebatuan yang terlempar// dengan
para orang yang terzhalimi.// Aku berdzikir akhfa munkar munkar munkar// aku mengingatkan
dengan dzikir yang diam. Dzikir “aku lirik” hanya dilakukan dengan doa, karena tidak mempunyai
kekuatan dan kekuasaan untuk menghentikan sebuah kemaksiatan. Dzikir akhfa atau dzikir khafi
dalam literatur Islam diartikan dzikir dengan hati, maksudnya adalah bertafakur merenungi ke
Mahabenaran dan ke Mahabesaran Allah. Mengingat dan mengenang kebijaksanaan, keutamaan,
dan banyaknya nikmat Allah yang telah di anugerahkan kepadanya. Ia selalu mengingat Allah di
setiap waktu dan keadaan dibiarkan berlalu begitu saja, kecuali di isi dan digunakannya untuk
bertafakur (memikirkan) tentang penciptaan langit dan bumi. Memikirkan keajaiban-keajaiban yang
ada di dalamnya yang menggambarkan kesempurnaan Allah dan kekuasaan Allah SWT. (Tim Tashih
Departemen Agama, Al-Qur’an dan tafsirnya, 1987: 105). Dengan demikian, dzikir akhfa dilakukan
karena ada perasaan khawatir akan kekejaman pelaku kemungkaran dan kuatnya kemungkaran
tersebut yang tidak dapat diubah seorang diri atau bersama orang-orang yang lemah. Bagi kita
yang benci terhadap kezhaliman, kemungkaran, dan kejahatan yang semakin merebak, namun
tidak mampu untuk melakukan pengubahan terhadap kemungkaran tersebut, maka solusinya bisa
dengan berdoa kepada Allah dengan harapan semoga Allah dapat memberikan hidayah kepada
para pelakunya.
Dzikir merupakan simbol dari kritikan, nasehat kepada orang yang menyimpang dari jalan
Allah. Dalam hal ini “aku lirik” memahami betul bahwa kehidupan ini selalu tidak berjalan lurus,
bisa saja berada di jalan yang menyimpang. Kadar keimanan seseorang dalam kehiduan ini bisa
saja berada pada level yang stabil namun pada kondisi yang lain bisa saja berada pada level labil.
Dalam kondisi seperti itulah diperlukan adanya nasihat dan saling mengingatkan untuk kembali
kepada jalan yang benar, yaitu jalan yang diridhoi oleh Allah SWT. Seorang pemimpin semestinya
sebagai pemimpin harus bisa membuat rakyatnya hidup dalam kesejahteraan, rasa aman, dan
damai. Ketika pemimpin tersebut melakukan kesalahan dengan membuat kebijakan yang justru
menzhalimi rakyatnya, membawa rakyatnya kepada kehidupan bernegara yang buruk, kedamian
dan keamanan tidak tercipta, maka sepatutnyalah pemimpin tersebut diberikan nasehat dan krtikan
untuk kembali kepada jalan Allah. Begitu pula rakyat yang melakukan kesalahan dan kemungkaran
sehingga menciptakan rasa ketidakmanan sosial, maka sepatutnya pemimpin dan rakyat yang lain
memberikan teguran, nasehat untuk kembali kepada jalan Allah yang benar. Dzikir dalam bentuk
krtik dan nasehat bukan dimaksudkan sebagai sebuah bentuk perbuatan makar atau pembangkangan
namun harus disikapi sebagai sebuah masukan kontruktif dalam membangun sebuah negara yang
baik dengan rakyat yang hidup dalam suasana sejahtera, aman dan damai.
Dalam Islam, Dzikir mempunyai beberapa faedah antara lain pertama, dapat sebagai sarana
untuk memberikan ketenangan dalam kehidupan. Ini terjadi karena yang dihadapi manusia tidak
selamanya sesuai dengan apa yang direncanakan, sehingga apabila terjadi hal yang demikian,
manusia tidak harus putus asa, karena menyadari bahwa manusia hanya sekadar merencanakan
dan berusaha sedangkan yang menentukan hasil akhirnya hanyalah Allah SWT. Kedua, dapat
berfungsi sebagai media untuk mempertebal keimanan, pengabdian, kejujuran dan kematangan
cita-cita dalam hidup. Karena iman seseorang dalam hidup kadang berkurang (rapuh) maka dzikir
286
merupakan manifestasi rasa keimanan seseorang kepada Tuhannya. Membawa sikap pengabdian
yang luhur dan dengan dzikir pula seseorang dapat meningkatkan ketabahan dan kesabaran, baik
tabah secara aktif (menjalankan ketaatan) dan tabah dalam arti yang pasif. Ketiga, dapat sebagai
sarana pengendalian diri, yaitu pengendalian hawa nafsu yang sering menjadi mesin penggerak
kejahatan serta dengan berdzikir kepada Allah, akan mempertebal iman, dengan iman yang semakin
tebal seseorang diharapkan mampu mengendalikan hawa nafsunya, sehingga niscaya hidupnya
akan jauh lebih tenang. Di samping itu juga dapat berfungsi sebagai tolak balak, energi akhlak
dan lain sebagainya. Dengan fungsi dzikir yang dapat berefek positif bagi diri pengucapnya, pada
akhirnya dzikir juga akan berefek positf kepada upaya pembangunan sosial.
Puisi berjudul Selamat Idul Fitri
Puisi dengan judul “Selamat Idul Fitri” di atas mengandung arti tentang harapan kehidupan
yang lebih baik. Dalam bait-bait puisi ini penulis seakan ingin menyampaikan bahwa kesucian diri
yang sudah dicapai selama Ramadhan menjadi momentum untuk menjadi orang yang lebih baik
dalam interaksi manusia dengan apa dan siapa saja yang berada di sekitarnya. Memperlakukan
apa yang ada di sekelilingnya sebagai makhluk Allah dan memenuhi amanat yang diberikan
Allah sebagai khalifah Allah di muka bumi. Dalam bait pertama yang berbunyi //Selamat
idul fitri, bumi// //Maafkanlah kami// //Selama ini// //Tidak semena-mena// //Kami
memerkosamu//. Dalam bait ini terdapat metafora kata pada “memerkosamu”. Perkosaan adalah
tindakan asusila yang umumnya dilakukan oleh seorang laki-laki atau lebih kepada seorang
perempuan secara paksa. Dengan demikian, perkosaan tidak mungkin dilakukan terhadap bumi
yang bukan seorang manusia. Di sini diperlukan adanya perluasan makna dari kata “perkosa”
yang dikaitkan dengan konteks bumi beserta isinya yaitu usaha eksploitasi bumi dan mengeruk
segala isinya tanpa menghiraukan keadaan bumi itu sendiri. Bait ketiga berbunyi //Selamat idul
fitri, mentari// //Maafkanlah kami// //Tidak bosan-bosan// //Kami mengaburkanmu//
.Empat baris dari bait ketiga ini menggambarkan tentang keadaan matahari yang semakin tidak
terang cahayanya. Mentari atau matahari dengan sinarnya yang terang merupakan harapan bagi
kehidupan makhluk hidup di bumi. Oleh karena itu, semakin redupnya sinar matahari dapat
diartikan sebagai semakin redupnya harapan hidup manusia. Matahari yang diciptakan oleh
Allah dan diposisikan pada tempatnya menjadi sentral bagi peredaran tata surya termasuk bumi.
Dengan demikian, apabila terjadi pergeseran posisi matahari dan sinar matahri yang semakin redup,
kehidupan manusia di muka bumi akan terancam punah. Dalam bait ini terdapat metafora kata
pada “mentari” yang dimaknai sebagai sebuah harapan hidup. Mentari dengan sinarnya merupakan
harapan hidup masyarakat di bumi. Manusia membutuhkan sinarnya sebagai sumber energi. Oleh
karena itu, kaburnya sinar mentari sama saja dengan mengaburkan harapan hidup masyarakat. Bait
kelima berbunyi //Selamat idul fitri, burung-burung// // Maafkanlah kami// //Selama ini//
//Tidak putus-putus// // Kami membrangusmu//.Kata “burung” merupakan metafora dari
sebuah kebebasan yang merupakan anugerah Allah yang diberikan kepada semua makhluk hidup,
termasuk manusia. Tidak dibenarkan tindakan yang dapat mencegah kebebasan seseorang, namun
juga tidak dibenarkan kebebasan yang tanpa arah. Islam sangat menghargai kebebasan seseorang
termasuk dalam menjalankan ajaran agamanya. Islam tidak membenarkan seorang muslim dengan
alasan dakwah untuk menghalangi bahkan mencegah seseorang melaksanakan keyakinan agama
287
yang dianutnya. Dalam puisi “Selamat Idul Fitri” di atas, ada terdapat beberapa kata yang menjadi
simbol yaitu bumi, langit, mentari, laut, burung, tumbuhan, pemimpin dan rakyat. Semuanya itu
merupakan benda dan makhluk yang berada di planet bumi, di mana manusia bertempat tinggal
beserta para makhluk hidup lainnya. Dan menjadi simbol bagi adanya sebuah hubungan yang tak
terpisahkan. Bumi, langit, mentari, dan laut merupakan simbolisasi dari sumber kehidupan manusia,
di mana mereka sangat menggantungkan hidup pada anugerah Allah yang diberikan lewat sumber
daya alam yang dikandung oleh bumi, langit, mentari dan laut. Kehidupan manusia akan terganggu
bahkan terasa sulit apabila bumi, langit, mentari dan laut tidak memberikan sumber daya alam
yang dikandung. Bumi tempat manusia bertempat tinggal, mencari makan dengan memanfaatkan
tanah yang dikandungnya, mengeluarkan perutnya berupa barang tambang dan-lain-lain. Langit
memberikan keteduhan dari panasnya sinar matahari. Mentari memberikan panasnya untuk menjadi
energi kehidupan makhluk hidup di bumi dan laut atau perairan menjadi tempat bagi makhluk
hidup untuk menghilangkan dahaga, mengeluarkan ikan yang dikandungnya, dan lain-lain. Oleh
karena itu, sangat penting untuk menjaga kelestarian dan keseimbangannya sehingga pada akhirnya
dapat menjaga kelangsungan manusia itu sendiri.
Ketika menyebutkan bumi, langit, mentari dan laut, “aku lirik “menambahkan lagi permintaan
maaf kepada burung, tumbuhan, pemimpin dan rakyat. Burung dan tumbuhan merupakan sebuah
simbol ketergantungan manusia dalam kehidupannya dengan makhluk lainnya di muka bumi.
Semuanya untuk menyempurnakan indahnya kehidupan manusia yang dianugerahkan oleh Allah.
Rakyat dan pemimpin merupakan sebuah simbol bagi adanya hubungan atau interaksi sosial
yang erat dan bersifat simbiosis. Ini merupakan gambaran bahwa manusia tidak bisa akan hidup
sendiri, dia memerlukan bantuan orang lain dalam menapaki kehidupan di bumi, terutama dalam
kedudukan manusia sebagai khalifah, yaitu makhluk yang ditugskan oleh Allah untuk menjadi
pengelola bumi.
Dalam konteks di atas, maka permintaan maaf tidak hanya bisa disebutkan dengan lisan saja,
namun harus diiringi dengan bukti nyata berupa menjaga ekosistem alam di mana bumi, langit,
mentar, laut, burung, dan tumbuhan saling terkait dalam menjalankan dan mempertahankan
kelestraian bumi. Caranya dengan tidak mengeksploitasi secara berlebihan. Begitu pula dengan
sesama manusia, harus saling mengingatkan, memberikan nasehat terutama dalam konteks
pengelolaan bumi beserta isinya.
Menyebut bumi, langit, mentari laut, burung, tumbuhan, pemimpin dan rakyat, maka yang
dibicarakan adalah tentang alam semesta terutama hubungannya dengan manusia. Pada hakekatnya
segala sesuatu yang tercipta, benda hidup maupun mati, nyata ataupun tidak, semuanya adalah
milik Allah semata yang pada akhirnya semuanya akan kembali kepada-Nya. Manusia dalam
kehidupannya di dunia dibekali oleh Allah dengan potensi dasar. Potensi dasar itu dapat nampak
dan dilihat dalam jiwa, raga, tubuh, dan ruh. Dari potensi dasar manusia berupa akal yang bisa
melahirkan daya berfikir dan daya nalar, akhirnya manusia dapat menundukkan, menguasai, dan
memanfaatkan alam. Dengan akal itu pula manusia dapat mengamati, meneliti, menganalisis gejala-
gejala alam yang timbul, dan menguasai rahasia-rahasianya. Sehingga pada puncak penelitian dan
penemuannya itu, akan menemukan wujud dan keagungan Allah sebagai penciptanya. Dengan
demikian, tujuan alam diciptakan adalah bukan untuk dirusak, dicemari, dan dihancurkan. Akan
tetapi adalah untuk difungsikan semaksimal mungkin dalam kehidupan. Tujuan alam diciptakan
288
juga bukan untuk disembah, dikultuskan, dan dimintai pertolongan. Akan tetapi adalah untuk
dikelola, dibudidayakan, dan dimanfaatkan dalam kehidupan. Pada akhirnya alam diciptakan hanya
sebagai fasilitas semata bagi manusia untuk mengenal dan lebih mendekatkan diri pada Allah.
Puisi berjudul Matahari
//Jika terbit di sini// //Aku tak peduli akan tenggelam di mana//. Puisi ini mengisyaratkan
bahwa harta kekayaan ataupun apa saja yang diperoleh oleh seorang muslim, dari mana asalnya
selama halal dan dibenarkan oleh syarak tidaklah begitu penting dan menjadi tujuan utama dalam
hidup ini. “aku lirik” menyatakan bahwa harta kekayaan yang memberikan kehidupan yang lebih
baik, bisa saja hilang kapan dan di mana saja apabila Sang Pemilik Hakiki menghendaki, dan “aku
lirik” tidak perduli semua itu, karena baginya apa yang didapatkan selama di dunia adalah bekal
bagi sebuah tujuan hidup yang lebih abadi. Ketidakpedulian “aku lirik” bukan dimaksudkan bahwa
kehidupan dunia dengan gelimangan harta kekayaan tidak menjadi sebuah tujuan hidup, karena
baris pertama puisi tersebut dimulai dengan “jika” yang mengandung makna sebuah harapan.
Namun baris kedua memperjelas bahwa semua itu tidaklah menjadi tujuan utama, karena sifatnya
yang tidak kekal. Ada tujuan utama yang lebih penting, yaitu kehidupan akherat. Karena sudah
menjadi hukum alam (sunnatullah) bahwa matahari terbit di sebelah Timur dan tenggelam di sebelah
Barat. Apabila disebutkan bahwa “tidak perduli tenggelam di mana” mengisyaratkan bahwa bisa
saja tidak berlaku hukum alam itu, dan itu artinya akhir dari kehidupan dunia ini. Simbol matahari
muncul di dalam judul puisi di atas. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa ketika matahari terbit,
maka menimbulkan harapan bagi umat manusia untuk memulai aktivitas kerjanya dengan hasil
yang lebih baik dari apa yang dia peroleh sebelumnya. Maka pada hari itu, dimulailah kegiatan
dengan semangat baru dan harapan baru.
Namun “aku lirik” sadar bahwa dalam kehidupan ini, pada akhirnya semua akan hilang. Apa
yang diharapakan dan didapatkan pada akhirnya juga akan tenggelam. Dalam dua baris puisi yang
pendek di atas matahari sebagai harapan memberikan pelajaran bahwa harapan keinginan yang
ingin didapatkan, walaupun dapat direngkuh, namun pada saatnya juga akan lenyap sebagaimana
matahari yang timbul namun pada saatnya juga tenggelam. Oleh karena itu, matahari sebagaimana
yang lainnya juga di dunia ini tidak akan bersifat kekal. Kita boleh saja mengharapakan sebuah
kejayaan, kekayaan, kewibawaan, tahta, dan lain-lain. Namun pada saatnya juga akan tenggelam
yang tidak kita ketahui, kapan dan di mana, yang ada hanya kepastian bahwa akan hilang seiring
berlalunya waktu. Kesadaran seperti itu akan membawa kepada sebuah keyakinan bahwa kehidupan
akhirat lah yang menjadi tujuan akhir dari hidup ini.
Dalam pandangan Islam matahari adalah suatu benda langit ciptaan(makhluk)Allah, dan
matahari sendiri merupakan benda langit yang dari dirinya sendiri memiliki kekuatan memancarkan
sinar panas yanga sangat berguna bagi kehidupan biologis semua makhluk hidup yang ada di bumi,
dan tanpa panas sinar matahari akan membeku dan gelap gulta, sehingga semua makhluk hidup
tidak mungkin dapat meneruskan kehidupannya.
Konsep matahari judul puisi di atas diartikan sebagai harapan dan tujuan bagi setiap manusia
dan mengartikan matahari sebagai pancaran sinarnya yang berupa ajaran agama Islam sebagai
mana yang termuat dalam Alquran surat Al–Anfal 24 yang artinya bahwa ”Wahai orang-orang yang
beriman ! penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kalian kepada sesuatu
289
yang memberi kehidupaan kepada kalian” (Zuhaili, dkk., 2009:180).
Dalam kehidupan manusia, ”matahari” hakikatnya sebagai sumber kehidupan bagi seluruh
makhluk hidup, karena tanpa adanya matahari manusia tidak bisa menjalani kehidupan. Allah
menciptakan matahari sebagai pusat tata surya kita, sebagai penerang di siang hari. Penerang
dalam kehidupan kita yang akan menjadikan hari-hari kita cerah. Pemaknaan ”matahari” sebagai
”harapan” terjadi karena melihat kedudukannya yang mempunyai gambaran sebagai ”percik-
percik” yang memberi sinar cerah akan masa depan kita manusia dalam hidup. Namun demikian,
kita juga harus sadar bahwa sebagaimana makhluk Allah yang lainnya, juga pasti akan tenggelam
dan lenyap, karena tidak bersifat kekal. Oleh karen itu manusia harus sdar bahwa kehidupan akhirat
adalah tujuan utama dari harapan yang ingin diraih di dalam kehidupan dunia ini dan harapan
itulah yang semestinya harus selalu dikejar oleh manusia selama manusia hidup di dunia ini.
Puisi berjudul Laut
Puisi yang berjudul ”laut” ini menggambarkan tentang kehidupan ”aku lirik” sebagaimana
manusia pada umumnya yang mempunyai hasrat, nafsu dan keinginan yang besar akan kenikmatan
hidup dunia. Namun ”aku lirik” sadar bahwa sebagai manusia yang mempunyai keterbatasan, untuk
apa semuanya itu diinginkan atau untuk apa semuanya itu didapatkan. Apabila semua kekayaan
dan harta dunia diinginkan, ”aku lirik” sadar apakah dia mempunyai kemampuan untuk itu. Atau
apabila dia mampu memperoleh semuanya, untuk apa semuanya itu. Apakah semuanya mampu
menjamin kebahagian hidupnya di dunia ini, ataukah justur sebaliknya.
//Laut,// // aku ingin meminum habis airmu//. Baris pertama dan kedua dalam puisi di
atas dimulai dengan kalimat sapaan orang kedua (laut) menggambarkan betapa besarnya hasrat,
keinginan ”aku lirik” untuk meminum habis air yang dikandung oleh laut. Dari baris pertama dan
kedua ini, ”aku lirik” menggambarkan besarnya hasrat keinginan dan nafsunya untuk mengesploitasi
laut, bukan hanya meminum airnya saja, namun juga segala apa yang dikandung oleh laut. Meminum
seluruh air laut bukan untuk melepaskan dahaga, namun lebih cenderung memuaskan hasrat dan
nafsu yang dimilki oleh ”aku lirik”, dan seakan-akan ingin menunjukkan bahwa dia mempunyai
kemampuan untuk itu. Dalam konteks ini, ”aku lirik” menyiratkan makna bahwa manusia itu
cenderung selalu menurutkan nafsu dan keinginannya dalam memenuhi kehidupannya. Apa saja
yang ada di dunia ini ingin selalu dimilikinya. Dalam bait ini tidak ada metafora, karena makna
kata-katanya tidak mengalami perluasan makna. //Tapi untuk apa?//. Dalam baris ketiga ini lahir
kalimat pertanyaan untuk apa?. Baris ini memiliki hubungan makna dengan kalimat di atasnya
bahwa walaupun manusia mempunyai kemampuan untuk meminum air laut, tapi pertanyaannya
untuk apa air yang begitu luas hanya untuk diminum. Kalimat ini mengisyaratkan makna bahwa
walaupun manusia mampu memenuhi hasrat dan nafsunya, lalu untuk apa semuanya itu. Apakah
ada kebahagian yang didapatkan?. Apakah ada kemulian yang didapatkan?. Apakah ada kejayaan
yang didapatkan secara abadi. Dengan memimun habis air laut, dahaga nafsu dan keinginan
terpenuhi, lalu apakah setalah itu menimbulkan kepuasan hakiki. Jawabannya adalah tidak. Karena
manusia tidak pernah mempunyai rasa puas terhadap apa yang sudah dia miliki. Ketika sudah habis
meminum air laut, maka manusia akan mencari air dari sumber yang lain. Begitu pula ketika manusia
sudah memiliki kekayaan berupa rumah yang mewah misalkan, cenderung untuk menambah apa
yang sudah dimilki. Dalam konteks ini ”aku lirik” mempertanyakan untuk apa pemenuhan nafsu,
290
untuk apa pemenuhan keinginan duniawi yang begitu kuat, apakah semuanya bisa menjadi teman,
atau menjamin keselamatan hidup di dunia ini?. Jawabnnya belum tentu, karena tergantung dengan
motivasi atau niat orang tersebut. Kalau begitu untuk apa semuanya.?
Dalam puisi di atas, Laut merupakan sebuah simbol kemakmuran bagi manusia. Manusia
sangat tergantung kehidupannya kepada air. Dari laut manusia bisa memperoleh jenis ikan baik untuk
dikonsumsi ataukah untuk sekedar pajangan. Dari laut manusia bisa memberdayakan ikan, rumput
laut, mutiara dan lain-lain sebagai sumber kehidupannya. Dari laut, manusia juga bisa memperoleh
sumber energi, baik dari gelombang yang dihasilkannya ataukah dari sumber tambangnya. Oleh
karena itu, laut sering dijadikan oleh manusia sebagai sebuah lambang atau simbol kemakmuran.
Laut merupakan anugerah Allah yang besar kepada manusia. Dalam Alquran banyak ayat yang
menyebutkkan betapa Allah SWT menjadikan laut untuk menunjang kehidupan manusia di muka
bumi. Di antara ayat-ayat tersebut di antaranya dalam Surat An-Nahl ayat 14 disebutkan bahawa
Allah yang menundukan lautan agar manusia dapat memakan daripadanya daging yang segar
(ikan), dan manusia dapat mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang dipakai oleh manusia dan
juga manusia mampu untuk membuat kapal yang dapat berlayar di lautan sehingga bisa dijadikan
sarana mencari mencari keuntungan dari karunia-Nya, dan supaya manusia bisa bersyukur (Zuhaili,
dkk., 2009:269).
Kesimpulan
Sesuai dengan hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan pertama,
dari judul puisi “pesona” gambaran religiusitas yang terkandung berisi tentang keyakinan dan
pengamalan agama. Ini terlihat dari ungkapan penulis dengan menyebutkan kata Tuhan. Pengamalan
terlihat pada baris-baris yang menyatakan bahwa benda yang telah didatangkan tersebut dengan
pesonanya telah mampu memalingkan ketaatan untuk beribadah kepada Allah. Dalam puisi yang
kedua berjudul “Dajjal” terdapat gambaran religiusitas tentang keyakinan dan pengetahuan agama.
Keyakinan terdapat dalam keyakinan akan sosok Dajjal sebagai aktor akhir zaman. Sedangkan
pengetahuan agama terdapat dalam makna Dajjal sebagai sebuah sifat bukan sosok fisik. Dalam
puisi yang ketiga berjudul “dzikir” Gambaran religiusitas yang dapat diidentifikasikan adalah
dimensi tentang praktik agama, dan dimensi pengetahuan agama dan dimensi pengamalan atau
konsekuensi. Dalam dimensi tentang praktik agama, dzikir dengan makna dzikrullah merupakan
anjuran agama. Dimensi pengetahuan terdapat pada makna dzikir sebagai upaya saling nasehat
menasehati kepada sesama muslim. Dimensi pengamalan atau konsekuensi terdapat pada
konsistensi untuk selalu berdzikir baik dalam bentuk dzikir yang pertama maupun dzikir dalam
bentuk yang kedua. Dalam puisi yang keempat berjudul “Selamat Idul Fitri” terdapat dua gambaran
religiusitas, yaitu dimensi pengetahuan agama dan dimensi pengamalan atau konsekuensi. Dalam
dimensi pengetahuan agama terdapat pada makna selamat idul fitri yang merupakan ungkapan
permohonan maaf atas segala kesalahan, karena saling memaafkan dalam ajaran agama Islam
sangat dianjurkan. Dimensi pengamalan terdapat pada makna bahwa permintaan maaf tidak hanya
kepada sesama manusia, namun juga kepada seluruh alam atas kegiatan yang selama ini melakukan
pengrusakan. Dalam puisi yang kelima berjudul “matahari” terdapat gambaran religiusitas tentang
291
pengamalan atau konsekuensi terhadap keyakinan akan kehidupan dunia yang tidak abadi, dan
kehidupan yang abadi adalah kehidupan akhirat. Pada judul puisi yang keenam “Laut” terdapat
gambaran religiusitas tentang pengamalan atau konsekuensi karena menyadari bahwa manusa
yang mempunyai hawa nafsu selalu ingin mendapatkan lebih, padahal apa yang didapatkan belum
tentu berguna bagi kehidupannya di dunia atau pun di akhirat.
Kedua, adapun makna yang terkandung dalam puisi pertama adalah bahwa benda
mati atau harta merupakan amanah Allah yang dititipkan kepada manusia untuk nantinya
dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Oleh karena itu, jangan sampai memilikinya membuat
lalai untuk taat kepada Allah. Dalam puisi yang kedua, makna yang terkandung adalah bahwa
sifat arogansi merupakan sebuah sifat yang jelek, yang tidak hanya milik Dajjal saja, namun juga
bisa dimiliki oleh manusia dan bangsa. Dalam puisi yang ketiga terkandung makna bahwa dalam
kehidupan harus saling nasehat menasehati dan ingat mengingatkan ketika ada kesalahan atau
kemungkaran yang dilakukan. Dalam puisi yang keempat terkandung makna bahwa mengakui
kesalahan dan meminta maaf tidak hanya sebatas lisan, namun juga harus diiringi dengan tindakan
nyata. Dalam puisi yang kelima dan keenam terkandung makna bahwa hidup ini bersifat sementara
dan oleh karena itu jangan menurutkan hawa nafsu karena belum tentu hal tersebut dapat membawa
kebahagiaan hidup.
Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, kegiatan penulisan dan pengkajian terhadap sastra-sastra
religius harus tetap digalakkan untuk dapat mengungkap nilai-nilai yang terdapat di dalamnya.
DAFTAR RUJUKAN
Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2011.
Kamus Bahasa Indonesis untuk Pelajar. Jakarta: Kementerian Pendidikan Nasional.
Bisri, A. Mustofa. 1993. Tadarus Antologi Puisi A. Mustofa Bisri. Yogyakarta: Prima Pustaka.
Palmer, Richard. E. 2005. Hermeneutika, Teori Baru Mengenal Interpretasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Kaelan. 2009. Filsafat Bahasa Semiotika dan Hermeneutika. Yogyakarta: Paradigma.
Nazir, Moh. 1988. Metode Penelitian, Jakarta: Ghalia Indonesia.
Rafiek, M. 2012. Menyelami Rahasia Kata-Kata, Kajian dan Apresiasi Puisi Indonesia. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Rafiek, M. 2012. Teori Sastra Kajian Teori dan Praktik. Bandung: Refika Aditama.
Sumaryono, E. 1999. Hermeneutik Sebuah Metode Filsafat. Yogyakarta: Kanisius.
Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra Pengantar Teori Sastra. Jakarta Pusat: Pustaka Jaya.
Tim Tashih. 1987. Al-Qur’an dan Tafsirnya. Jakarta: Departemen Agama.
Wachid B.S., Abdul. “Hermeneutika Sebagai Sistem Interpretasi Paul Ricouer dalam Memahami
Teks-Teks Seni”, dalam Jurnal Imaji, Vol IV No. 2 Agustus 2006.
Zuhaili, Wahbah, Wahbi Sulaiman, Muhammaad Adnan Salim, Muhammad Bassam Rusydi Zein.
2009. Alquran Seven in One. Jakarta Timur: Almahira
292