0% found this document useful (0 votes)
181 views16 pages

Cassava Starch Bioplastic: Water Absorption & Biodegradability

This document summarizes a study on the water absorption characteristics and biodegradability of cassava starch-based bioplastics with the addition of polyvinyl alcohol (PVOH). Bioplastics were produced by mixing cassava starch, glycerol, zinc oxide filler, and 7% PVOH into water with continuous heating and stirring. The results showed that bioplastics with zinc oxide filler had good water absorption but lower biodegradability. The addition of PVOH increased the biodegradability of bioplastics with zinc oxide filler. Bioplastics with zinc oxide filler and 7% PVOH showed good water absorption of 73.47% and the highest biodegradability of 73.
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd
0% found this document useful (0 votes)
181 views16 pages

Cassava Starch Bioplastic: Water Absorption & Biodegradability

This document summarizes a study on the water absorption characteristics and biodegradability of cassava starch-based bioplastics with the addition of polyvinyl alcohol (PVOH). Bioplastics were produced by mixing cassava starch, glycerol, zinc oxide filler, and 7% PVOH into water with continuous heating and stirring. The results showed that bioplastics with zinc oxide filler had good water absorption but lower biodegradability. The addition of PVOH increased the biodegradability of bioplastics with zinc oxide filler. Bioplastics with zinc oxide filler and 7% PVOH showed good water absorption of 73.47% and the highest biodegradability of 73.
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd

Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST) 2022 P-ISSN: 1979-911X

Yogyakarta, 12 November 2022 E-ISSN: 2541-528X

KARAKTERISTIK DAYA SERAP AIR DAN BIODEGRADABILITAS PADA BIOPLASTIK


BERBASIS PATI SINGKONG DENGAN PENAMBAHAN POLYVINYL ALCOHOL

Thofanda Muharam 1, Desti Fitriani 2, Devia Fataya Miftahul Jannah 3 , Muhammad Zidan Al Ghifari 4,
Rony Pasonang Sihombing 5
1,2,3
Politeknik Negeri Bandung
e-mail : 1thofanda123@[Link], [Link].tki21@[Link], [Link].anki21@[Link],
4
Zidanalgh17@[Link], [Link]@[Link]

ABSTRACT
The increasing of conventional plastics has become a major concern because it is the largest supplier of waste
problems. In addition, conventional plastics also produce petroleum which is a non-renewable material.
Bioplastics are substitutes for conventional plastics with renewable materials and easily decomposed by
microorganisms into water and carbon dioxide. Starch-based bioplastics have weaknesses such as low
mechanical characteristics compared to conventional plastics, but these problems can be overcome by adding
fillers such as ZnO, plasticizers, and additives such as PVOH to improve the characteristics of bioplastics. This
type of bioplastic is made by mixing cassava starch with 15% w/w, glycerol, ZnO filler, and PVOH BP-05 with a
concentration of 7% w/w into water with continuous heating and stirring. The results showed that bioplastics
with ZnO filler had good water absorption but had lower biodegradability. The addition of PVOH increases the
biodegradability of bioplastics with ZnO filler. Bioplastic with the addition of ZnO filler and PVOH BP-05 with
a concentration of 7% w/w resulted in good water absorption with a water absorption value of 73.47%, while
biodegradability produced the best value with a value of 73.03%. Decomposition of bioplastics in general will
decompose for six months compared to conventional plastics which can decompose for hundreds of years.
Therefore, bioplastics can be a major highlight in replacing conventional plastics.

Keywords :Bioplastics, Cassava starch, Biodegradable, Good water absorption

INTISARI
Penggunaan plastik konvensional yang semakin meningkat telah menjadi perhatian utama karena menjadi
pemasok terbesar masalah sampah. Selain itu, plastik konvensional juga diproduksi dari minyak bumi yang
merupakan bahan tidak terbarukan. Bioplastik menjadi substitusi plastik konvensional dengan bahan yang
terbarukan dan mudah terurai oleh mikroorganisme menjadi air dan karbondioksida. Bioplastik berbasis pati
memiliki kelemahan seperti rendahnya karakteristik mekanik dibandingkan dengan plastik konvensional, tetapi
masalah tersebut dapat diatasi dengan melakukan penambahan filler seperti ZnO, plasticizer, serta bahan aditif
seperti PVOH untuk memperbaiki karakteristik dari bioplastik. Bioplastik jenis ini dibuat dengan mencampurkan
pati singkong dengan 15% b/b, gliserol, filler ZnO, dan PVOH BP-05 konsentrasi 7% b/b ke dalam air dengan
pemanasan dan pengadukan kontinyu. Hasil penelitian menunjukkan bioplastik dengan filler ZnO memiliki daya
serap air yang baik namun sifat biodegradabilitasnya lebih rendah. Penambahan PVOH meningkatkan
biodegradabilitas bioplastik dengan filler ZnO. Bioplastik dengan penambahan filler ZnO dan PVOH BP-05
konsentrasi 7% b/b menghasilkan daya serap air dengan nilai daya serap air 73,47%, sedangkan biodegradabilitas
menghasilkan nilai sebesar 73,03% bioplastik yang terurai oleh bakteri. Penguraian pada bioplastik pada umumnya
A-1
Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST) 2022 P-ISSN: 1979-911X
Yogyakarta, 12 November 2022 E-ISSN: 2541-528X

akan terurai selama enam bulan dibandingkan dengan plastik konvensional yang dapat terurai selama ratusan tahun.
Oleh karena itu bioplastik dapat menjadi sorotan utama dalam menggantikan plastik konvensional.
Kata-kata kunci :Bioplastik, Pati singkong, Biodegradabilitas, Daya serap air

1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Plastik merupakan polimer sintetik yang berbahan dasar minyak bumi yang memiliki ikatan yang kompleks,
sehingga sulitnya terdegradasi secara biologis oleh mikroba dan bakteri dialam tanah. Karena sulitnya plastik
sintetik untuk mengurai sehingga menyebabkan penumpukan sampah plastik sintetik pada lingkungan yang
mengakibatkan lingkungan menjadi tercemar. Pencemaran yang terjadi oleh penumpukan sampah sintetik cukup
serius, seperti pencemaran udara, kerusakan ekosistem tanah dan air. Masyarakat sering mengatasi sampah plastik
sintetik dengan cara membakar plastik tersebut namun asap yang ditimbulkan dari sampah sintetik yang dibakar
akan menghasilkan asap yang bersifat karsinigenik yang dapat memicu terjadinya kanker.
Penggunaan plastik konvensional yang semakin meningkat merupakan salah satu hal yang menjadi
perhatian dunia. Hal tersebut disebabkan oleh karakteristik dari plastik konvensional yang sulit untuk diuraikan
sehingga penumpukan sampah plastik dapat menimbulkan berbagai permasalahan di lingkungan. Berdasarkan
Badan Pusat Statistik (BPS) dan data Asosiasi Industri Plastik Indonesia (Inaplas), Indonesia tercatat dapat
menghasilkan 64 Juta ton sampah per tahun. Dari jumlah besaran tersebut, 5 persen atau sekitar 3,2 juta ton di
antaranya adalah sampah plastik konvensional. Selain itu, plastik konvensional juga diproduksi dari minyak bumi
yang merupakan bahan tidak terbarukan. Sebanyak 4% minyak bumi yang dihasilkan digunakan sebagai bahan
baku pembuatan plastik (British Plastic Federation 2019). Kebutuhan dan permintaan konsumen terhadap plastik
akan terus meningkat sehingga pada tahun 2050 diperkirakan konsumsi minyak bumi untuk bahan baku produksi
plastik akan meningkat menjadi 20% (Lebreton & Andrady, 2019). Produksi plastik berbahan dasar minyak bumi
dapat berhenti di masa depan jika cadangan minyak bumi habis.
Salah satu cara mengatasi masalah tersebut yaitu dengan mengganti plastik berbahan dasar minyak bumi
dengan bahan lain yang memiliki karakteristik serupa tetapi terbuat dari bahan yang terbarukan dan memiliki sifat
biodegradable sehingga dapat terurai secara alami dengan waktu yang relatif lebih cepat. Alternatif yang bisa
dijadikan solusi dan memenuhi kriteria tersebut adalah bioplastik.
Bioplastik merupakan plastik yang terbuat dari sumber biologis atau bahan alam yang dapat diperbaharui,
memiliki sifat kedap udara dan kedap air serta mudah didegradasi oleh mikroorganisme ketika dibuang ke
lingkungan (Temitope & Stephen, 2018). Bioplastik atau plastik biodegradable diproduksi dari bahan nabati yang
merupakan produk pertanian yang bersifat ramah lingkungan. Di Indonesia, produk pertanian berlimpah ruah
sehingga tidak sulit mendapatkan bahan dasar untuk produksi bioplastik. Pati dapat diperoleh dari tumbuhan
seperti singkong yang merupakan salah satu komoditas utama pertanian Indonesia. Pati merupakan salah satu
polimer alami dari ekstraksi tanaman yang dapat digunakan untuk memproduksi material biodegradable karena
sifatnya yang ramah lingkungan, mudah terdegradasi, ketersediaan yang besar dan terjangkau (Yihu Song, 2008;
Gonzarrez, 2010; Sandra Domenek, 2004).
1.2 Tujuan Khusus Riset

A-2
Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST) 2022 P-ISSN: 1979-911X
Yogyakarta, 12 November 2022 E-ISSN: 2541-528X

1. Mempelajari karakteristik bioplastik dengan penambahan filler ZnO dan konsentrasi Polyvinyl Alcohol.
2. Mengetahui nilai biodegradabilitas dan daya serap air berdasarkan analisa pengujian.
3. Memberi informasi dan referensi bagi penelitian selanjutnya mengenai pengaruh jenis Polyvinyl Alcohol BP-
05 konsentrasi 7% terhadap daya serap air dan biodegrabilitas bioplastik.

1.3 Tinjauan Pustaka


1.3.1 Bioplastik
Bioplastik merupakan plastik yang terbuat dari sumber biologis atau bahan alam yang dapat diperbaharui,
memiliki sifat kedap udara dan kedap air serta mudah didegradasi oleh mikroorganisme ketika dibuang ke
lingkungan (Temitope & Stephen, 2018). Bioplastik berbasis pati merupakan komposit dengan dua komponen
utama yaitu matriks dan filler. Pati terplastisasi akan berperan sebagai matriks yang berfungsi sebagai tempat dan
pelindung bagi filler. Matriks juga berfungsi untuk mendistribusikan beban dan gaya ke seluruh filler secara
merata. Sementara itu, filler merupakan komponen yang lebih kuat akan mengisi matriks dan memperkuatnya.
Bioplastik merupakan pelastik yang dapat digunakan seperti layaknya plastik konvensional namun
perbedaannya ada beberapa aspek seperti pada tabel [Link]
tabel 1.3.1. 1 Perbandingan antera plastik konvensional dan plastik biodegradable pada beberapa aspek

Aspek Plastik konvensional Plastik biodegradable


Sebagian besar dibuat dari bahan yang Dibuat dari bahan yang dapat
Bahan baku
tidak dapat diperbaharui (minyak bumi) diperbaharui (bahan nabari)
Sudah ada produsen yang
mengembangkan, namun masih
Teknologi Sudah mapan
banyak yang dalam tahap
penelitian
Sudah banyak dikenal dan digunakan Belum banyak dikenal
Sosial
masyarakat masyarakat
Ekonomi Harga lebih murah Harga sedikit lebih mahal
Ramah lingkungan (dapat
Tidak ramah lingkungan (perlu ratusan terdegradasi oleh alam dalam
Lingkungan tahun untuk dapat terdegradasi oleh alam) waktu yang singkat (sekitar 3-6
menghasilkan emisi karbon yang tinggi bulan) emisi karbon yang lebih
rendah
(sumber: jurnal litbang,2017)
Bioplastik perlu memiliki beberapa karakteristik agar bisa bersaing dan menggantikan plastik konvensional
secara kesuluruhan. Karakteristik tersebut diantaranya adalah ketahanan terhadap air, biodegradabilitas, kuat tarik,
dan elongasi. Karakteristik bioplastik yang akan diujikan dalam penelitian ini adalah:
[Link] Biodegradabilitas

A-3
Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST) 2022 P-ISSN: 1979-911X
Yogyakarta, 12 November 2022 E-ISSN: 2541-528X

Biodegradabilitas merupakan suatu proses alami yang dapat menguraikan suatu bahan kimia organik
dilingkungan menjadi senyawa yang lebih sederhana, teremineralisasi dan didistribusikan kembali melalui
siklus unsur seperti karbon, nitrogen, dan belerang.
Bahan dasar untuk membuat bioplastik berasal dari pati dan selulosa. Pati merupakan polimer yang
banyak terdapat pada tumbuhan. Terutama pada kentang, jagung, beras, dan singkong. Dari semua tamanan
berikut, pati dapat didapatkan dalam bentuk serbuk atau butiran. Pati banyak digunakan sebagai bahan baku
dalam produksi film karena kenaikan dan penurunan ketersediaan resin pembentukan film konvensional.
Dalam plastik biodegradabilitas, plastik dapat diuraikan oleh bakteri dalam waktu yang singkat oleh bakteri
atau oleh alam itu sendiri
Biodegradabilitas menunjukan kemampuan bioplastic untuk bisa terdegradasi ketika terkena paparan
mikroorganisme . pengujan biodegradabilitas dilakukan menggunakan EM4. Bioplastik akan mengalami
setelah direndam oleh EM4 selama 7 hari (Rony P, dkk), dan dapat dihitung jumlah bioplastic yang
terdegradasi dengan persamaan berikut:
𝑊0 − 𝑊1
%𝑇𝑒𝑟𝑑𝑒𝑔𝑟𝑎𝑑𝑎𝑠𝑖 = × 100%
𝑊1

W0 adalah berat awal


W1 adalah berat akhir

[Link] Daya serap air


Daya serap air merupakan suatu pengujian untuk mengetahui kemampuan bahan yang di uji dalam
menyerap air. Bioplastic dengan daya serap air yang tinggi akan memiliki ketahanan yang lebih rendah.
Bioplastic yang telah direndam oleh air selama waktu tertentu dapat ditentukan daya serap bioplastik dengan
persamaan berikut:
𝑊1 − 𝑊0
𝐷𝑎𝑦𝑎 𝑆𝑒𝑟𝑎𝑝 𝐴𝑖𝑟 (%) = × 100%
𝑊0

W1 adalah berat akhir


W0 adalah berat awal

Besar kecilnya daya serap air dapat ditentukan dari banyaknya gliserol sebagai plasticizer dimana
gliserol mudah larut dalam air sehingga semakin banyak air yang ditambahkan maka akan semakin banyak
air yang akan diserap oleh gliserol dan akan mengakibatkan ketahanan pada bioplastik akan semakin rendah.

1.3.2 Singkong

Singkong (Manihot esculenta) merupakan jenis tumbuhan umbi-umbian yang menyimpan cadangan
makanan berbentuk pati dalam umbinya. Pati merupakan polimer monosakarida biodegradable hasil produksi
tumbuhan berpembuluh sebagai cadangan makanan yang tersusun atas dua komponen utama yaitu amilum dan
amilopektin. Setiap butiran pati terbentuk oleh dua jenis padatan yaitu padatan amorf dan padatan kristalin dan
tersusun secara bergantian dalam bentuk cincin. Kadar pati dalam singkong terdapat didalam tabel [Link]
tabel 1.3.2. 2 komponen zat yang terkandung dalam 100 gram singkong
A-4
Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST) 2022 P-ISSN: 1979-911X
Yogyakarta, 12 November 2022 E-ISSN: 2541-528X

Komponen Kimia Kadar

Protein 1,2 gr

Phospohor 40 mg

Kalori 146 kal

Vitamin C 33 mg

Karbohidrat 34 gr

Besi 0,7 mg

Air 62,5 gr

Vitamin B1 0,06 mg

(sumber: BPTTG Puslitbag Fisika Terapan-LIPI, 1990)


Pati perlu digelatinisasi untuk bisa dijadikan sebagai bioplastik. Proses gelatinisasi pati berlangsung bantuan
plasticizer gliserol dan energi panas. Pati tergelatinisasi akan berperan sebagai matriks dari komposit bioplastik
yang akan dibuat dalam penelitian ini. Kekentalan suatu gelatinisasi dapat diatur dari suhu operasi yang
dipertahankan, gelatin.

1.3.3 Plasticizer

Plasticizer merupakan bahan yang ditambahkan kedalam campuran bioplastik berbasis pati dan berperan
dalam mempengaruhi karakteristik plastik yang dihasilkan (Farida Unggul Situmorang et al. 2019). Salah satu
bahan yang biasa digunakan sebagai plasticizer dalam pembuatan bioplastik adalah gliserol. Gliserol merupakan
komponen utama dari lemak dan minyak dengan rumus kimia C 3H8O3. Senyawa ini merupakan senyawa polar
yang netral, tidak berwarna, berwujud cairan kental (viscous) dan mudah larut didalam air. Penambahan gliserol
pada campuran bioplastik dapat menurunkan kekuatan intermolekuler dan meningkatkan fleksibilitas serta
ekstensibilitas film sehingga menghasilkan bioplastik dengan kualitas mekanik yang baik (Tavares et al., 2019).
Sehingga panambahan gliserol harus diatur agar mendapatkan komposisi yang baik dengan karakteristik bioplastik
yang memiliki kualitas mekanik yang baik dan memiliki daya serat air yang tidak terlalu banyak.

1.3.4 Filler

Filler merupakan material yang ditambahkan kedalam suatu bahan untuk meningkatkan kekuatan kekuatan
mekanik pada pati sehingga didapatkan karakteristik terbaik (Nur Indah Sari et al.2022). Filler biasanya bersifat
inert dan berbentuk serbuk dengan ukuran yang beragam, mulai dari 10 nm hingga ukuran makroskopik sesuai
dengan aplikasi dan penggunaannya. Salah satu jenis filler yang dapat digunakan dalam bioplastik adalah ZnO.

ZnO (zink oksida) atau seng oksida merupakan senyawa anorganik berwujud serbuk putih yang bersifat hidrofobik
(tidak larut dalam air). ZnO memiliki pengaplikasian yang luas di industri karena memiliki harga yang murah,
tidak beracun, antibakteri, struktur kimia yang stabil, dan ketersediaan di alam cukup melimpah. Dalam pembuatan
bioplastik, ZnO sering ditambahkan sebagai filler (zat pengisi) pada bahan campuran berbasis pati karena dapat
memperbaiki sifat mekanik bioplastik. Penambahan ZnO dapat meningkatkan kuat tarik sehingga bioplastik
sehingga kekuatan tariknya relatif lebih baik dibandingkan bioplastik tanpa ZnO (Sinambela & Maulida, 2018).
A-5
Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST) 2022 P-ISSN: 1979-911X
Yogyakarta, 12 November 2022 E-ISSN: 2541-528X

1.3.5 Polyvinyl Alcohol

Polyvinyl Alcohol merupakan salah satu bahan polimer yang banyak digunakan untuk pembuatan bioplastik
yang memiliki keunggulan antara lain tidak mudah teroksidasi, kekuatan tarik tinggi, kemampuan tinggi dalam
pembentukan bioplastik serta kelarutan dalam air yang baik (Tian et al. 2017). Polivinil alkohol adalah salah satu
dari beberapa polimer sintetik yang memiliki warna putih seperti serbuk, rasa hambar, tembus cahaya, tidak berbau
dan larut dalam air. Polivinil alkohol salah satu polimer yang mempunyai sifat hidrofobik dan sebagai perekat.
Polivinil alkohol memiliki sifat tidak berwarna, padatan termoplastik yang tidak larut pada Sebagian besar pelarut
organik dan minyak namun dapat larut didalam air. Karakteristik polivinil alkohol memiliki densitas 1,18-1,31
kg/m3, titik leleh 120-140 oC, titik didih 228 oC dan temperature penguraian dalam air 80 oC (shaftel,2000).
Jenis-jenis dari polivinil alkohol ada banyak salah satunya seperti polivinil alkohol BP-05, BP-17, dan BP-
24. Semakin tinggi angka BPnya maka akan semakin panjang rantai karbonnya sehingga mengakibatkan sifat dari
polivinil alkohol semakin tinggi rantai karbon maka akan semakin tinggi viskositasinya sehingga akan semakin
mengental dan menjadi padat. Hal yang menyebabkan PVOH banyak digunakan sebagai bahan kemasan alternatif
yang menjanjikan karena sifatnya yang sangat baik dalam pembentukan kemasan, tahan terhadap minyak dan
lemak, memiliki kekuatan tarik dan fleksibilitas tinggi (Maryam et al., 2019).
1.3.5 Pati
Pati merupakan karbohidrat yang terkandung dalam tanaman terutama tanaman berklorofil. Pati merupakan
cadangan makanan yang terdapat pada biji, batang dan pada bagian umbi tanaman. Pati telah lama digunakan
sebagai bahan makanan maupun bahan tambahan dalam sediaan farmasi (ben,2007). Secara alamiah pati
merupakan campuran dari amilosa dan amilopektin. Komposisi amilosa dan amilopektin berbeda-beda pada tiap
tumbuhan. Adanya perbedaan kadar amilosa dan amilopektin menyebabkan sifat pati dari berbagai tumbuhan
berbeda-beda. Amilosa memberikan sifat keras (pera) dan memberikan warna biru tua pada tes iodin, sedangkan
amilopektin menyebabkan sifat lengket dan tidak menimbilkan reaksi pada tes iodin. Amilosa terdiri dari D-
glukosa yang Sebagian besar mempunyai ikatan α-1,4glikosidik dan Sebagian lagi ikatan α-1,6 glikosidik. Adanya
ikatan α-1,6 glikosidik menyebabkan molekul amilopektin memiliki cabang dan Sebagian lagi ikatan α-1,6
glikosidik. Adanya ikatan α-1,6 glikosidik menyebabkan molekul amilopektin memiliki cabang (wahyu,2009)
gambar 1.3.2. 1 struktur amilosa dan amilopektin

A-6
Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST) 2022 P-ISSN: 1979-911X
Yogyakarta, 12 November 2022 E-ISSN: 2541-528X

Pati singkong mengandung amilopektin yang mengakibatkan pasta yang terbentuk menjadi bening dan kecil
kemungkinan untuk terjadi retrogradasi (Friedman, dalam Chan,1983). Menurut Murphy (2000) dalam Phillips
dan Williams (2000), ukuran granula pati singkong 4-35 μm, berbentuk oval, kerucut dengan bagian atas terpotong
dan seperti kettledrum. Suhu gelatinisasi pada 62 – 73oC, sedangkan suhu pembentukan pasta pada 63oC. Bentuk
granulapati singkong dapat dilihat pada Gambar [Link]
gambar 1.3.2. 2 granula pati pada singkong

1.3.6 Gliserol

Gliserol adalah komponen utama dari semua lemak dan minyak dalam bentuk ester yang disebut gliserida.
Molekul trigliserida terdiri dari satu molekul gliserol yang dikombinasikan dengan tiga molekul asam lemak.
Plasticizer didefinisikan sebagai zat non volatif, bertitik didih tinggi, yang pada saat ditambahkan pada material
lain mengubah sifat fisik dari material tersebut. Plasticizer bahan yang tidak mudah menguap, dapat merubah
struktur dimensi objek, menurunkan ikatan rantai antar protein dan mengisi ruang-ruang yang kosong pada produk
(banker,1968 dan toshida dan antunes, 2003 dalam murni, dkk 2013). Pelapisan edible film harus memiliki
elastisitas dan fleksibilitas yang baik, daya kerapuhan rendah, ketangguhan tinggi, untuk mencegah retak selama
penanganan dan penyimpanan. Oleh karena itu, plasticizer dengan berat molekul kecil (nonvolatil) biasanya
ditambahkan kedalam pembentukan film hidrokoloid sebagai solusi untuk memodifikasi fleksibilitas edible film
tersebut seperti pati, pektin, gel dan protein. Plasticizer berfungsi untuk emningkatkan elastisitas dengan
mengurangi derajat ikatan hydrogen dan meningkatkan jarak antar molekul dari polimer. Syarat plasticizer yang
digunakan sebagai zat pelembut adalah stabil (inert), yaitu tidak terdegradasi oleh panas dan cahaya, tidak merubah
warna polimer dan tidak menyebabkan korosi. Salah satu jenis plasticizer yang banyak digunakan selama ini
adalah gliserol. Gliserol cikup efektif digunakan untuk meningkatkan sifat plastic film karena memiliki berat
molekul yang kecil (huri dan fitri, 2014).
Gliserol adalah alkohol terhidrik. Nama lain gliserol adalah gliserin atau 1,2,3-propanetriol. Sifat gliserol
tidak berwarna, tidak berbau, rasanya manis, bentuknya liquid sirup, melelh pada suhu 17,8 oC, mendidih pada
suhu 290 oC dan larut dalam air dan etanol. Gliserol bersifar higroskopis, seperti menyerap air dari udara, sifat ini
yang membuat gliserol digunakan sebagai pelembab pada kosmetik. Gliserol terdapat dalam bentuk ester
(gliserida) pada semua hewan, lemak nabati dan minyak (ningsih, 2015). Gliserol termasuk jenis plasticizer yang
bersifak hidrofilik, menambah sifat polat dan mudah larut dalam air (huri dan nisa, 2015)

A-7
Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST) 2022 P-ISSN: 1979-911X
Yogyakarta, 12 November 2022 E-ISSN: 2541-528X

Pemanfaatan gliserol sebagai plasticizer telah benyak digunakan oleh para peneliti, menurut coniwanti (2014)
penambahan gliserol pada edible film sangat berpengaruh terhadap bahan baku yang digunakan seperti pati.
Dibandungkan dari pelarut seperti sorbitol, gliserol lebih menguntungkan karena mudah tercampur dalam larutan
film dan terlarut dalam air Ihidrofilik). Sedangkan sorbitol sulit bercampur dan mudah mengkristal pada suhu
ruang. Keleihan lainnya pada gliserol adalah bahan organic dengan berat molekul rendah sehingga pada
penambahan bahan baku dapat menurunkan kekakuan dari polimer sekaligus meningkatkan fleksibilitas pada
edible film

2. METODE PENELITIAN
2.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Penelitian karakteristik daya serap air dan biodegradabilitas pada Bioplastik berbasis pati singkong dengan
penambahan Polyvinyl Alcohol dilakukan pada rentang bulan September – Oktober 2022. Seluruh Proses
dilakukan di Laboratorium Satuan Proses, Teknik Kimia, Politeknik Negeri Bandung. Bioplastik berbasis pati
merupakan komposit dengan dua komponen utama yaitu matriks dan filler. Pati terplastisasi akan berperan sebagai
matriks yang berfungsi sebagai tempat dan pelindung bagi filler. Setelah bioplastik didapatkan maka dilakukan uji
biodegradabilitas dan daya serap airnya agar bisa bersaing dengan plastik konvensional.

2.2 Metode Pengumpulan Data


Metode pengumpulan data pada penelitian karakteristik daya serap air dan biodegradabilitas pada Bioplastik
berbasis pati singkong dengan penambahan Polyvinyl Alcohol berdasarkan pada hasil penelitian, jurnal, dan buku
ilmiah.

2.3 Variabel Riset


Variabel bebas Variabel terikat Variabel terkontrol

• Jenis Polyvinyl Karakteristik Bioplastik • Filler ZnO

Alkohol (PVOH) • Biodegradabilitas • Jumlah pati 15

• Konsentrasi • Daya serap air gr

Polyvinyl Alkohol • Jumlah gliserol

(PVOH) 3,75 gr

• Suhu operasi

80oC

• Kecepatan putar

650 rpm

2.4 Prosedur Kerja


2.4.1 Persiapan Alat dan Bahan

A-8
Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST) 2022 P-ISSN: 1979-911X
Yogyakarta, 12 November 2022 E-ISSN: 2541-528X

Bahan yang digunakan pada penelitian ini di antaranya pati singkong (Manihot esculenta), seng oksida (ZnO),
gliserol, polyvinyl alkohol (PVOH) BP-05 konsentrasi 7%, dan aquades. Peralatan yang digunakan di antaranya
peralatan gelas, hot plate, dan motor pengaduk Haocheng HM-100S.

2.4.2 Pembuatan Pati dari Singkong

Bahan baku penelitian ini adalah pati singkong yang direaksikan dengan penambahan filler ZnO, gliserol, dan
Polyvinyl Alkohol untuk mendapatkan plastik yang biodegradable dan ramah lingkungan. Setelah pati singkong
didapatkan dari proses pengeringan, kemudian dilakukan perhitungan %yield.

2.4.3 Pembuatan Bioplastik

Bioplastik berbasis pati memiliki kelemahan seperti rendahnya karakteristik mekanik dibandingkan dengan

plastik konvensional, tetapi masalah tersebut dapat diatasi dengan melakukan penambahan filler seperti ZnO,

plasticizer, serta bahan aditif seperti PVOH untuk memperbaiki karakteristik dari bioplastik seperti

biodegradabilitas dan daya serap air. Penambahan plasticizer berfungsi untuk meningkatkan fleksibilitas dan

membuat bioplastik menjadi tidak rapuh dengan cara mengurangi interaksi antar rantai polimer dalam bioplastik.

Salah satu bahan yang dapat dijadikan sebagai plasticizer adalah gliserol.

Penambahan filler jenis ZnO berfungsi untuk menguatkan dan mengeraskan material penyusun bioplastik

berdasarkan prinsip adhesi, yaitu gaya tarik-menarik antara molekul-molekul dari jenis bahan yang berbeda. ZnO

memiliki karakteristik mekanik dan sifat barrier yang baik serta memiliki sifat antibakterial (A. H. D. Abdullah,

2020 : 1259–1267).
A-9
Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST) 2022 P-ISSN: 1979-911X
Yogyakarta, 12 November 2022 E-ISSN: 2541-528X

Kualitas bioplastik juga dapat ditingkatkan dengan penambahan aditif lainnya seperti polyvinyl alkohol.

Penambahan PVOH dapat memperbaiki kekuatan mekanik serta meningkatkan fleksibilitas dari bioplastik (K.

Majdzadeh-Ardakani dan B. Nazari, 2010 : 1557–1563). Penelitian kami dilakukan untuk menentukan

karakteristik bioplastik dengan penambahan PVOH BP-05 konsentrasi 7% dan menentukan pengaruh keberadaan

filler ZnO. Karakteristik yang akan ditentukan di antaranya adalah daya serap air dan biodegradabilitas.

2.4.4 Uji Biodegradabilitas

Biodegradabiltas menunjukkan kemampuan bioplastik untuk bisa terdegradasi (teroksidasi senyawa

organik atau terurai) ketika terkena paparan mikroorganisme. Pengujian biodegradabilitas dilakukan menggunakan

Effective Microorganism 4 (EM4) karena mengandung mikroorganisme hidup yang berguna bagi proses

penguraian dan persediaan unsur hara dalam tanah. Sampel berukuran 5 cm x 5 cm ditimbang berat awalnya

kemudian direndam dalam 35 ml larutan EM4 selama 7 hari dan diamati perubahan berat setiap harinya. Berat

akhir kemudian ditimbang setelah perendaman selesai. Pengujian tersebut menghasilkan data berupa berat awal

dan berat akhir yang dapat diolah menjadi biodegradabilitas bioplastik dengan persamaan berikut:

𝑊0 − 𝑊1
%𝑇𝑒𝑟𝑑𝑒𝑔𝑟𝑎𝑑𝑎𝑠𝑖 = × 100%
𝑊1

2.4.5 Uji Daya Serap Air


Daya serap air menggambarkan aspek ketahanan air pada bioplastik. Bioplastik dengan daya serap air yang

tinggi memiliki ketahanan air yang rendah. Penentuan daya serap air dilakukan dengan standar ASTM D570.

Sampel berukuran 60 mm x 60 mm ditimbang berat awalnya dan direndam dalam aquadest selama 2 jam. Sampel

yang telah direndam dikeringkan dengan lap kering dan langsung ditimbang berat akhirnya. Berat awal dan akhir

sampel kemudian digunakan untuk menentukan daya serap air bioplastik dengan persamaan berikut:

𝑊1 − 𝑊0
𝐷𝑎𝑦𝑎 𝑆𝑒𝑟𝑎𝑝 𝐴𝑖𝑟 (%) = × 100%
𝑊0

3. HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1 Pembuatan Pati
Berdasarkan hasil proses ekstraksi dari singkong dengan metoda pelarutan dan pengeringan menggunakan

oven, didapat enam kali hasil dengan kondisi operasi yang sama diperoleh jumlah pati yang beragam, hasil pati

yang diperoleh dapat disajikan didalam tabel 4.2 kemudian didapatkan perolehan yield (%b/b) pati

Tabel 3.1.1 Perolehan hasil pati dari 100 gram singkong

Run Waktu pemanasan Massa sebelum Massa sesudah Yield (%b/b)

(menit) proses (gr) proses (gr)

A-10
Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST) 2022 P-ISSN: 1979-911X
Yogyakarta, 12 November 2022 E-ISSN: 2541-528X

1 30 99,9033 25,0434 25,07

2 30 100,6534 19,6808 19,55

3 30 101,2276 28,8863 28,54

4 30 101,5859 21,4597 21,12

5 30 100,2908 24,0214 23,95

6 30 99,4176 21,2903 21,42

Berdasarkan tabel diatas, dapat dibuat grafik hubungan yield (%b/b) pada setiap RUN yang ditunjukan

pada gambar 3.1 dibawah ini

Gambar 3.1 Hubungan persen Yield tiap Run

Pati yang telah dibuat siap untuk dijadikan bahan baku dalam pembuatan bioplastik.

3.2 Pembuatan Bioplastik

Percobaan pertama dilakukan pada PVOH BP-05 konsentrasi 7% b/b, hasil yang didapatkan pada

percobaan pertama adalah terdapat bintik putih pada bioplastik. Hal tersebut dikarenakan saat pelarutan pati tidak

larut seluruhnya sehingga terdapat serbuk pati didalam dan dipermukaan bioplastik.

Berdasarkan hasil percobaan pertama, percobaan kedua dilakukan dengan penyaringan terlebih dahulu

sebelum hasil pelarutan dituangkan ke cetakan. Pada percobaan yang kedua didapatkan hasil yang lebih merata

dari sebelumnya. Tidak terdapat bintik putih pati yang tidak larut pada bioplastik. Namun, terlihat ada

mikroorganisme jamur didalam bioplastik yang dihasilkan walaupun bioplastik belum kering sepenuhnya. Hal

tersebut dapat dilihat dari adanya bintik hijau dalam bioplastik.

Percobaan ketiga dilakukan lagi atas dasar hasil dari percobaan sebelumnya. Digunakan disinfektan untuk

membersihkan semua alat dan cetakan yang digunakan. Hasil yang didapatkan adalah masih terdapat
A-11
Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST) 2022 P-ISSN: 1979-911X
Yogyakarta, 12 November 2022 E-ISSN: 2541-528X

mikroorganisme jamur dalam bioplastik tersebut. Hal ini disebabkan jumlah hasil reaksi bioplastik yang

dituangkan terlalu banyak sehingga proses pengeringannya lebih lama dan memberikan waktu untuk

mikroorganisme untuk tumbuh dan berkembang. Oleh karena itu pada percobaan keempat penuangan bioplastik

dikurangi dari 100 gram menjadi 75 gram dan didapatkan bioplastik tanpa adanya mikroorganisme. Berdasarkan

pengamatan secara visual, sampel dengan filler ZnO memiliki permukaan yang lebih halus dan dengan

penambahan PVOH BP-05 konsentrasi 7% memiliki gelembung-gelembung kecil pada permukaannya. Terdapat

sedikit gelembung pada sampel dengan filler ZnO.

3.3 Uji Biodegradabilitas

Dari hasil bioplastik yang didapatkan yaitu PVA BP-05 dengan konsentrasi 7% dilakukan pengujian

biodegradabilitas. Di bawah ini merupakan data tabel 3.3.1 yang menunjukkan perkembangan pengujian

biodegradabilitas.

Tabel 3.3.1 Data pengujian biodegradabilitas

Uji Biodegradabilitas

24
KODE subject awal 2 jam 4 jam 6 jam 2 hari 4 hari
jam

bioplastik 1,82 1,71 1,42 1,15 0,76 0,61 0,49

BP-05 tempat +
52,15 52,15 52,15 52,15 52,15 52,15 52,15
7% bakteri

total 53,98 53,86 53,58 53,30 52,91 52,77 52,65

gambar 3.3 grafik berat terhadap waktu


A-12
Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST) 2022 P-ISSN: 1979-911X
Yogyakarta, 12 November 2022 E-ISSN: 2541-528X

Gambar 3.3 menunjukkan penurunan dari pengujian biodegradabilitas dengan penambahan PVOH pada

sampel dengan hasil berat yang semakin berkurang. Fenomena tersebut diakibatkan oleh penambahan PVOH yang

menimbulkan gelembung pada sampel. Gelembung tersebut dalam jangka panjang dapat ditembus oleh

mikroorganisme sehingga proses biodegradasi tidak hanya terjadi pada permukaaan sampel saja melainkan dari

bagian dalam pula. Selain itu, PVOH juga merupakan bahan organik sehingga bisa dijadikan sumber nutrisi oleh

mikroorganisme pengurai.

1,82 − 0,49
%Terdegradasi = x100% = 73,03%
1,82

Berdasarkan hasil data pengujian, nilai biodegradabilitas dapat ditinjau dari semakin tinggi yang dapat

terurai maka yield nya akan semakin baik. Hasil yield bioplastik dengan variasi konsentrasi PVOH BP-05 7% yang

diharapkan pada pengujian biodegradabilitas sebesar 73,03% dan nilai tersebut dikategorikan baik dilihat dari

pengurangan berat yang signifikan.

3.4 Uji Daya Serap Air

Dari hasil bioplastik yang didapatkan yaitu PVA BP-05 dengan konsentrasi 7% dilakukan pengujian daya

serap air. Dibawah ini merupakan data tabel 4.5 yang menunjukkan perkembangan pengujian daya serap air.

Tabel 3.4.1 Data pengujian daya serap air

uji daya serap air

Kode subject awal akhir

BP-05 7% bioplastik 1,9681 7,42

gelas kimia 45,0303 52,4465

total 46,9984 59,8665

7,42 − 1,9681
%Daya serap air = x100% = 73,47%
7,42

Hasil yield yang didapatkan pada pengujian daya serap air konsentrasi PVOH BP-05 7% sebesar 73,47%

dan nilai tersebut dikategorikan belum baik karena tidak tahan terhadap air.

Filler yang digunakan yaitu ZnO bersifat hidrofobik. Semakin banyak jumlah filler hidrofobik yang ada

dalam komposit membuat komposit menjadi semakin hidrofobik pula sehingga daya serap airnya akan semakin

menurun. Filler ZnO bekerja dengan cara berikatan dengan gugus hidroksil yang berada pada rantai polimer pati.

Pati tersusun atas amilum dan amilopektin yang strukturnya ditunjukkan pada Gambar 5.
A-13
Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST) 2022 P-ISSN: 1979-911X
Yogyakarta, 12 November 2022 E-ISSN: 2541-528X

gambar 3.4 struktur pati

Berdasarkan Gambar 3.4 di atas, komponen penyusun rantai polimer pati memiliki gugus hidroksil yang

dapat berinteraksi dengan air sehingga ketahanan airnya rendah. Filler ZnO akan berikatan dengan gugus tersebut

sehingga mengurangi keberadaan gugus hidroksil. Kondisi tersebut membuat bioplastik menjadi lebih tahan

terhadap air.

Penambahan PVOH meningkatkan ketahanan air pada sampel dengan filler ZnO karena PVOH bersifat

hidrofobik . Pada umumnya, penambahan PVOH dapat menurunkan daya serap dari suatu komposit. Hal tersebut

terjadi karena pada dasarnya sifat suatu komposit merupakan campuran sifat dari bahan-bahan penyusunnya (H.

Judawisastra, 2017).

4. KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa pati yang didapatkan dari 100 gr singkong dinyatakan

baik karena rata-rata yield yang didapatkan melebihi nilai 50% yang mengacu pada penelitian-penelitian

sebelumnya. Nilai biodegradabilitas dapat ditinjau dari semakin tinggi yang dapat terurai maka yield nya akan

semakin baik. Hasil yield bioplastik pada pengujian biodegradabilitas sebesar 73,03% dan nilai tersebut

dikategorikan baik dilihat dari pengurangan berat yang signifikan. Uji daya serap diukur untuk menguji ketahanan

bioplastik terhadap air kandungan air yang diserap oleh bioplastik sedikit maka yield nya akan kecil. Hasil yield

yang didapatkan pada pengujian daya serap air sebesar 73,47% dan nilai tersebut dikategorikan belum baik karena

tidak tahan terhadap air. Dapat ditarik kesimpulan bahwa bioplastik dengan PVOH BP-05 konsentrasi 7% terurai

dengan baik namun ketahanan terhadap airnya belum sempurna. Dari penelitian yang sudah dilakukan bahwa

untuk kompisi yang didalam PVOH BP-05 memiliki tingkat biodegradasi yang baik tetapi ketahanan bioplastik

terhadap air sangat rendah.

A-14
Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST) 2022 P-ISSN: 1979-911X
Yogyakarta, 12 November 2022 E-ISSN: 2541-528X

UCAPAN TERIMA KASIH


Puji dan syukur kami panjatkan kepada tuhan yang Maha Esa, atas nikmatnya kami dapat menyelesaikan karya
tulis ini. Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari pihak, sulit untuk menyelesaikan karya ini.
Oleh sebab itu kami mengucapkan terimakasih kepada:
1. DIPA Politeknik Negeri Bandung yang turut serta membantu dalam penelitian ini secara finansial
2. Rony Pasonang Sihombing S.T., M. Eng selaku dosen pembimbing
3. Dr. Shoerya Shoerlarta, LRSC. MT. selaku Ketua Jurusan Teknik Kimia Politeknik Negeri Bandung
4. Seluruh sataf administrasi dan pranata Laboratorium Pendidikan Jurusan Teknik Kimia Politeknik Negeri
Bandung
5. Keluarga juga krabat yang mendukung kami
Penulis menyadari bahwa karya tulis ini masih terdapat kekurangan, dan didaharpkan kritik juga saran yang
membengun untuk menyempurnakan karya ini. Akhir kata, penulis ucapkan terimakasih semoga karya ini dapat
bermanfaat bagi semua pihak yang membaca

DAFTAR PUSTAKA
A. H. D. Abdullah et al., “Harnessing the Excellent Mechanical, Barrier and Antimicrobial Properties of Zinc
Oxide (ZnO) to Improve the Performance of Starch-based Bioplastic,” Polymer-Plastics Technology and
Materials, vol. 59, no. 12, pp. 1259–1267, Aug. 2020, doi: 10.1080/25740881.2020.1738466.
K. Majdzadeh-Ardakani and B. Nazari, “Improving the mechanical properties of thermoplastic starch/poly(vinyl
alcohol)/clay nanocomposites,” Composites Science and Technology, vol. 70, no. 10, pp. 1557–1563, Sep.
2010, doi: 10.1016/[Link].2010.05.022.
Melani, Ani., dkk. “Bioplastik Pati Umbi Talas Melalui Proses Melt Intercalation (Kajian Pengaruh Jenis Filler,
Konsentrasi Filler Dan Jenis Plasticiezer)”, Distilasi, Vol. 2, No. 2, Hal. 53-67, Sept. 2017.
Sihombing, P. Rony, dkk. “Pengaruh Konsentrasi Kaolin dan ZnO dengan Penambahan PVOH Terhadap
Karakteristik Bioplastik Berbasis Pati”, Prosiding The 13th Industrial Research Workshop and National
Seminar, pp. 801-806, July. 2022.
T. M. Tamer et al., “Development of Polyvinyl Alcohol/Kaolin Sponges Stimulated by Marjoram as Hemostatic,
Antibacterial, and Antioxidant Dressings for Wound Healing Promotion,” International Journal of
Molecular Sciences, vol. 22, no. 23, p. 13050, Dec. 2021, doi: 10.3390/ijms222313050.
Chandra, R., dkk. “Biodegradable Polymers” Department of polymer technology and applied chemistry, vol. 23.
1273-1335.
Ruri, S. Rindri. “Pemanfaatan Protein Ampas Tahu Sebagai Bahan Dasar Pembuatan Bioplastik (plastic
biodegradable)” diunggah tahun 2021.
Devi, Ni Luh Putu Ardhanaresvari, dkk. “Pengaruh Komposisi Kitosan, Pati Biji Alpukat serta Penambahan
Gliserol Terhadap Kemampuan Biodegradasi Bioplastik” Universitas Pembangunan Nasional “Veteran”.
Ramadhani, M. Yusuf, dkk. “Pengaruh Konsentrasi Larutan Kitosan Sebagai Couting Agent terhadap Daya Serap

A-15
Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST) 2022 P-ISSN: 1979-911X
Yogyakarta, 12 November 2022 E-ISSN: 2541-528X

Air Pada Bioplastik Dari Pati Singkong dan Gluten” Politeknik Negeri Malang.
Rozzana, dkk. “Pengaruh Massa Pati terhadap Tensil Strength, Elongasi dan Daya Serap Terhadap Air pada
Pembuatan Bioplaastik dari Pati Sagu dan Gliserol” Universitas Syiah Kuala, Vol.3 No.1.
Nuriyah, Lailatin, dkk. “Karakteristik Kuat Tarik dan Elongasi Bioplastik Berbahan Pati Ubi Jalar Cilembu
dengan Variasi Jenis Pemlastis” Natural B, vol. 4, No. 4, Oktober 2018.
Intandiana, Sinda, dkk. “Pengaruh Karakteristik Bioplastik Pati Singkong dan Selulosa Mikrokristalin terhadap
Sifat Mekanik dan Hidrofobisitas” Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, vol. 4, No. 2, 2019 2502-4787
Nur, R. Atifah, dkk. “Karakteristik Bioplastik dari Pati Biji Durian dan Pati Singkong yang Menggunakan Bahan
Pengisi MCC (Microcrystalline Cellulose) dari Kulit Kakao” Fakultas Pertanian Vol. 25, No. 1, April
2020 2614-6045
Sabella, Amelia. “karakteristik Bioplastik dari Rumput Laut (euchema cottonii) dan Pati Singkong dengan
Penambahan Pati dari Limbah Biji Durian” Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Vol. 4
Issue 2, Oktober 2019 2502-5643
Darni, yuni, dkk. “Studi Pembuatan dan Karakteristik Sifat Mekanik dan Hidrofobisitas Bioplastik dari Pati
Sorgum” Fakultas Teknik vol.7, No. 4, 1412-5064

A-16

You might also like