Cassava Starch Bioplastic: Water Absorption & Biodegradability
Cassava Starch Bioplastic: Water Absorption & Biodegradability
Thofanda Muharam 1, Desti Fitriani 2, Devia Fataya Miftahul Jannah 3 , Muhammad Zidan Al Ghifari 4,
Rony Pasonang Sihombing 5
1,2,3
Politeknik Negeri Bandung
e-mail : 1thofanda123@[Link], [Link].tki21@[Link], [Link].anki21@[Link],
4
Zidanalgh17@[Link], [Link]@[Link]
ABSTRACT
The increasing of conventional plastics has become a major concern because it is the largest supplier of waste
problems. In addition, conventional plastics also produce petroleum which is a non-renewable material.
Bioplastics are substitutes for conventional plastics with renewable materials and easily decomposed by
microorganisms into water and carbon dioxide. Starch-based bioplastics have weaknesses such as low
mechanical characteristics compared to conventional plastics, but these problems can be overcome by adding
fillers such as ZnO, plasticizers, and additives such as PVOH to improve the characteristics of bioplastics. This
type of bioplastic is made by mixing cassava starch with 15% w/w, glycerol, ZnO filler, and PVOH BP-05 with a
concentration of 7% w/w into water with continuous heating and stirring. The results showed that bioplastics
with ZnO filler had good water absorption but had lower biodegradability. The addition of PVOH increases the
biodegradability of bioplastics with ZnO filler. Bioplastic with the addition of ZnO filler and PVOH BP-05 with
a concentration of 7% w/w resulted in good water absorption with a water absorption value of 73.47%, while
biodegradability produced the best value with a value of 73.03%. Decomposition of bioplastics in general will
decompose for six months compared to conventional plastics which can decompose for hundreds of years.
Therefore, bioplastics can be a major highlight in replacing conventional plastics.
INTISARI
Penggunaan plastik konvensional yang semakin meningkat telah menjadi perhatian utama karena menjadi
pemasok terbesar masalah sampah. Selain itu, plastik konvensional juga diproduksi dari minyak bumi yang
merupakan bahan tidak terbarukan. Bioplastik menjadi substitusi plastik konvensional dengan bahan yang
terbarukan dan mudah terurai oleh mikroorganisme menjadi air dan karbondioksida. Bioplastik berbasis pati
memiliki kelemahan seperti rendahnya karakteristik mekanik dibandingkan dengan plastik konvensional, tetapi
masalah tersebut dapat diatasi dengan melakukan penambahan filler seperti ZnO, plasticizer, serta bahan aditif
seperti PVOH untuk memperbaiki karakteristik dari bioplastik. Bioplastik jenis ini dibuat dengan mencampurkan
pati singkong dengan 15% b/b, gliserol, filler ZnO, dan PVOH BP-05 konsentrasi 7% b/b ke dalam air dengan
pemanasan dan pengadukan kontinyu. Hasil penelitian menunjukkan bioplastik dengan filler ZnO memiliki daya
serap air yang baik namun sifat biodegradabilitasnya lebih rendah. Penambahan PVOH meningkatkan
biodegradabilitas bioplastik dengan filler ZnO. Bioplastik dengan penambahan filler ZnO dan PVOH BP-05
konsentrasi 7% b/b menghasilkan daya serap air dengan nilai daya serap air 73,47%, sedangkan biodegradabilitas
menghasilkan nilai sebesar 73,03% bioplastik yang terurai oleh bakteri. Penguraian pada bioplastik pada umumnya
A-1
Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST) 2022 P-ISSN: 1979-911X
Yogyakarta, 12 November 2022 E-ISSN: 2541-528X
akan terurai selama enam bulan dibandingkan dengan plastik konvensional yang dapat terurai selama ratusan tahun.
Oleh karena itu bioplastik dapat menjadi sorotan utama dalam menggantikan plastik konvensional.
Kata-kata kunci :Bioplastik, Pati singkong, Biodegradabilitas, Daya serap air
1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Plastik merupakan polimer sintetik yang berbahan dasar minyak bumi yang memiliki ikatan yang kompleks,
sehingga sulitnya terdegradasi secara biologis oleh mikroba dan bakteri dialam tanah. Karena sulitnya plastik
sintetik untuk mengurai sehingga menyebabkan penumpukan sampah plastik sintetik pada lingkungan yang
mengakibatkan lingkungan menjadi tercemar. Pencemaran yang terjadi oleh penumpukan sampah sintetik cukup
serius, seperti pencemaran udara, kerusakan ekosistem tanah dan air. Masyarakat sering mengatasi sampah plastik
sintetik dengan cara membakar plastik tersebut namun asap yang ditimbulkan dari sampah sintetik yang dibakar
akan menghasilkan asap yang bersifat karsinigenik yang dapat memicu terjadinya kanker.
Penggunaan plastik konvensional yang semakin meningkat merupakan salah satu hal yang menjadi
perhatian dunia. Hal tersebut disebabkan oleh karakteristik dari plastik konvensional yang sulit untuk diuraikan
sehingga penumpukan sampah plastik dapat menimbulkan berbagai permasalahan di lingkungan. Berdasarkan
Badan Pusat Statistik (BPS) dan data Asosiasi Industri Plastik Indonesia (Inaplas), Indonesia tercatat dapat
menghasilkan 64 Juta ton sampah per tahun. Dari jumlah besaran tersebut, 5 persen atau sekitar 3,2 juta ton di
antaranya adalah sampah plastik konvensional. Selain itu, plastik konvensional juga diproduksi dari minyak bumi
yang merupakan bahan tidak terbarukan. Sebanyak 4% minyak bumi yang dihasilkan digunakan sebagai bahan
baku pembuatan plastik (British Plastic Federation 2019). Kebutuhan dan permintaan konsumen terhadap plastik
akan terus meningkat sehingga pada tahun 2050 diperkirakan konsumsi minyak bumi untuk bahan baku produksi
plastik akan meningkat menjadi 20% (Lebreton & Andrady, 2019). Produksi plastik berbahan dasar minyak bumi
dapat berhenti di masa depan jika cadangan minyak bumi habis.
Salah satu cara mengatasi masalah tersebut yaitu dengan mengganti plastik berbahan dasar minyak bumi
dengan bahan lain yang memiliki karakteristik serupa tetapi terbuat dari bahan yang terbarukan dan memiliki sifat
biodegradable sehingga dapat terurai secara alami dengan waktu yang relatif lebih cepat. Alternatif yang bisa
dijadikan solusi dan memenuhi kriteria tersebut adalah bioplastik.
Bioplastik merupakan plastik yang terbuat dari sumber biologis atau bahan alam yang dapat diperbaharui,
memiliki sifat kedap udara dan kedap air serta mudah didegradasi oleh mikroorganisme ketika dibuang ke
lingkungan (Temitope & Stephen, 2018). Bioplastik atau plastik biodegradable diproduksi dari bahan nabati yang
merupakan produk pertanian yang bersifat ramah lingkungan. Di Indonesia, produk pertanian berlimpah ruah
sehingga tidak sulit mendapatkan bahan dasar untuk produksi bioplastik. Pati dapat diperoleh dari tumbuhan
seperti singkong yang merupakan salah satu komoditas utama pertanian Indonesia. Pati merupakan salah satu
polimer alami dari ekstraksi tanaman yang dapat digunakan untuk memproduksi material biodegradable karena
sifatnya yang ramah lingkungan, mudah terdegradasi, ketersediaan yang besar dan terjangkau (Yihu Song, 2008;
Gonzarrez, 2010; Sandra Domenek, 2004).
1.2 Tujuan Khusus Riset
A-2
Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST) 2022 P-ISSN: 1979-911X
Yogyakarta, 12 November 2022 E-ISSN: 2541-528X
1. Mempelajari karakteristik bioplastik dengan penambahan filler ZnO dan konsentrasi Polyvinyl Alcohol.
2. Mengetahui nilai biodegradabilitas dan daya serap air berdasarkan analisa pengujian.
3. Memberi informasi dan referensi bagi penelitian selanjutnya mengenai pengaruh jenis Polyvinyl Alcohol BP-
05 konsentrasi 7% terhadap daya serap air dan biodegrabilitas bioplastik.
A-3
Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST) 2022 P-ISSN: 1979-911X
Yogyakarta, 12 November 2022 E-ISSN: 2541-528X
Biodegradabilitas merupakan suatu proses alami yang dapat menguraikan suatu bahan kimia organik
dilingkungan menjadi senyawa yang lebih sederhana, teremineralisasi dan didistribusikan kembali melalui
siklus unsur seperti karbon, nitrogen, dan belerang.
Bahan dasar untuk membuat bioplastik berasal dari pati dan selulosa. Pati merupakan polimer yang
banyak terdapat pada tumbuhan. Terutama pada kentang, jagung, beras, dan singkong. Dari semua tamanan
berikut, pati dapat didapatkan dalam bentuk serbuk atau butiran. Pati banyak digunakan sebagai bahan baku
dalam produksi film karena kenaikan dan penurunan ketersediaan resin pembentukan film konvensional.
Dalam plastik biodegradabilitas, plastik dapat diuraikan oleh bakteri dalam waktu yang singkat oleh bakteri
atau oleh alam itu sendiri
Biodegradabilitas menunjukan kemampuan bioplastic untuk bisa terdegradasi ketika terkena paparan
mikroorganisme . pengujan biodegradabilitas dilakukan menggunakan EM4. Bioplastik akan mengalami
setelah direndam oleh EM4 selama 7 hari (Rony P, dkk), dan dapat dihitung jumlah bioplastic yang
terdegradasi dengan persamaan berikut:
𝑊0 − 𝑊1
%𝑇𝑒𝑟𝑑𝑒𝑔𝑟𝑎𝑑𝑎𝑠𝑖 = × 100%
𝑊1
Besar kecilnya daya serap air dapat ditentukan dari banyaknya gliserol sebagai plasticizer dimana
gliserol mudah larut dalam air sehingga semakin banyak air yang ditambahkan maka akan semakin banyak
air yang akan diserap oleh gliserol dan akan mengakibatkan ketahanan pada bioplastik akan semakin rendah.
1.3.2 Singkong
Singkong (Manihot esculenta) merupakan jenis tumbuhan umbi-umbian yang menyimpan cadangan
makanan berbentuk pati dalam umbinya. Pati merupakan polimer monosakarida biodegradable hasil produksi
tumbuhan berpembuluh sebagai cadangan makanan yang tersusun atas dua komponen utama yaitu amilum dan
amilopektin. Setiap butiran pati terbentuk oleh dua jenis padatan yaitu padatan amorf dan padatan kristalin dan
tersusun secara bergantian dalam bentuk cincin. Kadar pati dalam singkong terdapat didalam tabel [Link]
tabel 1.3.2. 2 komponen zat yang terkandung dalam 100 gram singkong
A-4
Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST) 2022 P-ISSN: 1979-911X
Yogyakarta, 12 November 2022 E-ISSN: 2541-528X
Protein 1,2 gr
Phospohor 40 mg
Vitamin C 33 mg
Karbohidrat 34 gr
Besi 0,7 mg
Air 62,5 gr
Vitamin B1 0,06 mg
1.3.3 Plasticizer
Plasticizer merupakan bahan yang ditambahkan kedalam campuran bioplastik berbasis pati dan berperan
dalam mempengaruhi karakteristik plastik yang dihasilkan (Farida Unggul Situmorang et al. 2019). Salah satu
bahan yang biasa digunakan sebagai plasticizer dalam pembuatan bioplastik adalah gliserol. Gliserol merupakan
komponen utama dari lemak dan minyak dengan rumus kimia C 3H8O3. Senyawa ini merupakan senyawa polar
yang netral, tidak berwarna, berwujud cairan kental (viscous) dan mudah larut didalam air. Penambahan gliserol
pada campuran bioplastik dapat menurunkan kekuatan intermolekuler dan meningkatkan fleksibilitas serta
ekstensibilitas film sehingga menghasilkan bioplastik dengan kualitas mekanik yang baik (Tavares et al., 2019).
Sehingga panambahan gliserol harus diatur agar mendapatkan komposisi yang baik dengan karakteristik bioplastik
yang memiliki kualitas mekanik yang baik dan memiliki daya serat air yang tidak terlalu banyak.
1.3.4 Filler
Filler merupakan material yang ditambahkan kedalam suatu bahan untuk meningkatkan kekuatan kekuatan
mekanik pada pati sehingga didapatkan karakteristik terbaik (Nur Indah Sari et al.2022). Filler biasanya bersifat
inert dan berbentuk serbuk dengan ukuran yang beragam, mulai dari 10 nm hingga ukuran makroskopik sesuai
dengan aplikasi dan penggunaannya. Salah satu jenis filler yang dapat digunakan dalam bioplastik adalah ZnO.
ZnO (zink oksida) atau seng oksida merupakan senyawa anorganik berwujud serbuk putih yang bersifat hidrofobik
(tidak larut dalam air). ZnO memiliki pengaplikasian yang luas di industri karena memiliki harga yang murah,
tidak beracun, antibakteri, struktur kimia yang stabil, dan ketersediaan di alam cukup melimpah. Dalam pembuatan
bioplastik, ZnO sering ditambahkan sebagai filler (zat pengisi) pada bahan campuran berbasis pati karena dapat
memperbaiki sifat mekanik bioplastik. Penambahan ZnO dapat meningkatkan kuat tarik sehingga bioplastik
sehingga kekuatan tariknya relatif lebih baik dibandingkan bioplastik tanpa ZnO (Sinambela & Maulida, 2018).
A-5
Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST) 2022 P-ISSN: 1979-911X
Yogyakarta, 12 November 2022 E-ISSN: 2541-528X
Polyvinyl Alcohol merupakan salah satu bahan polimer yang banyak digunakan untuk pembuatan bioplastik
yang memiliki keunggulan antara lain tidak mudah teroksidasi, kekuatan tarik tinggi, kemampuan tinggi dalam
pembentukan bioplastik serta kelarutan dalam air yang baik (Tian et al. 2017). Polivinil alkohol adalah salah satu
dari beberapa polimer sintetik yang memiliki warna putih seperti serbuk, rasa hambar, tembus cahaya, tidak berbau
dan larut dalam air. Polivinil alkohol salah satu polimer yang mempunyai sifat hidrofobik dan sebagai perekat.
Polivinil alkohol memiliki sifat tidak berwarna, padatan termoplastik yang tidak larut pada Sebagian besar pelarut
organik dan minyak namun dapat larut didalam air. Karakteristik polivinil alkohol memiliki densitas 1,18-1,31
kg/m3, titik leleh 120-140 oC, titik didih 228 oC dan temperature penguraian dalam air 80 oC (shaftel,2000).
Jenis-jenis dari polivinil alkohol ada banyak salah satunya seperti polivinil alkohol BP-05, BP-17, dan BP-
24. Semakin tinggi angka BPnya maka akan semakin panjang rantai karbonnya sehingga mengakibatkan sifat dari
polivinil alkohol semakin tinggi rantai karbon maka akan semakin tinggi viskositasinya sehingga akan semakin
mengental dan menjadi padat. Hal yang menyebabkan PVOH banyak digunakan sebagai bahan kemasan alternatif
yang menjanjikan karena sifatnya yang sangat baik dalam pembentukan kemasan, tahan terhadap minyak dan
lemak, memiliki kekuatan tarik dan fleksibilitas tinggi (Maryam et al., 2019).
1.3.5 Pati
Pati merupakan karbohidrat yang terkandung dalam tanaman terutama tanaman berklorofil. Pati merupakan
cadangan makanan yang terdapat pada biji, batang dan pada bagian umbi tanaman. Pati telah lama digunakan
sebagai bahan makanan maupun bahan tambahan dalam sediaan farmasi (ben,2007). Secara alamiah pati
merupakan campuran dari amilosa dan amilopektin. Komposisi amilosa dan amilopektin berbeda-beda pada tiap
tumbuhan. Adanya perbedaan kadar amilosa dan amilopektin menyebabkan sifat pati dari berbagai tumbuhan
berbeda-beda. Amilosa memberikan sifat keras (pera) dan memberikan warna biru tua pada tes iodin, sedangkan
amilopektin menyebabkan sifat lengket dan tidak menimbilkan reaksi pada tes iodin. Amilosa terdiri dari D-
glukosa yang Sebagian besar mempunyai ikatan α-1,4glikosidik dan Sebagian lagi ikatan α-1,6 glikosidik. Adanya
ikatan α-1,6 glikosidik menyebabkan molekul amilopektin memiliki cabang dan Sebagian lagi ikatan α-1,6
glikosidik. Adanya ikatan α-1,6 glikosidik menyebabkan molekul amilopektin memiliki cabang (wahyu,2009)
gambar 1.3.2. 1 struktur amilosa dan amilopektin
A-6
Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST) 2022 P-ISSN: 1979-911X
Yogyakarta, 12 November 2022 E-ISSN: 2541-528X
Pati singkong mengandung amilopektin yang mengakibatkan pasta yang terbentuk menjadi bening dan kecil
kemungkinan untuk terjadi retrogradasi (Friedman, dalam Chan,1983). Menurut Murphy (2000) dalam Phillips
dan Williams (2000), ukuran granula pati singkong 4-35 μm, berbentuk oval, kerucut dengan bagian atas terpotong
dan seperti kettledrum. Suhu gelatinisasi pada 62 – 73oC, sedangkan suhu pembentukan pasta pada 63oC. Bentuk
granulapati singkong dapat dilihat pada Gambar [Link]
gambar 1.3.2. 2 granula pati pada singkong
1.3.6 Gliserol
Gliserol adalah komponen utama dari semua lemak dan minyak dalam bentuk ester yang disebut gliserida.
Molekul trigliserida terdiri dari satu molekul gliserol yang dikombinasikan dengan tiga molekul asam lemak.
Plasticizer didefinisikan sebagai zat non volatif, bertitik didih tinggi, yang pada saat ditambahkan pada material
lain mengubah sifat fisik dari material tersebut. Plasticizer bahan yang tidak mudah menguap, dapat merubah
struktur dimensi objek, menurunkan ikatan rantai antar protein dan mengisi ruang-ruang yang kosong pada produk
(banker,1968 dan toshida dan antunes, 2003 dalam murni, dkk 2013). Pelapisan edible film harus memiliki
elastisitas dan fleksibilitas yang baik, daya kerapuhan rendah, ketangguhan tinggi, untuk mencegah retak selama
penanganan dan penyimpanan. Oleh karena itu, plasticizer dengan berat molekul kecil (nonvolatil) biasanya
ditambahkan kedalam pembentukan film hidrokoloid sebagai solusi untuk memodifikasi fleksibilitas edible film
tersebut seperti pati, pektin, gel dan protein. Plasticizer berfungsi untuk emningkatkan elastisitas dengan
mengurangi derajat ikatan hydrogen dan meningkatkan jarak antar molekul dari polimer. Syarat plasticizer yang
digunakan sebagai zat pelembut adalah stabil (inert), yaitu tidak terdegradasi oleh panas dan cahaya, tidak merubah
warna polimer dan tidak menyebabkan korosi. Salah satu jenis plasticizer yang banyak digunakan selama ini
adalah gliserol. Gliserol cikup efektif digunakan untuk meningkatkan sifat plastic film karena memiliki berat
molekul yang kecil (huri dan fitri, 2014).
Gliserol adalah alkohol terhidrik. Nama lain gliserol adalah gliserin atau 1,2,3-propanetriol. Sifat gliserol
tidak berwarna, tidak berbau, rasanya manis, bentuknya liquid sirup, melelh pada suhu 17,8 oC, mendidih pada
suhu 290 oC dan larut dalam air dan etanol. Gliserol bersifar higroskopis, seperti menyerap air dari udara, sifat ini
yang membuat gliserol digunakan sebagai pelembab pada kosmetik. Gliserol terdapat dalam bentuk ester
(gliserida) pada semua hewan, lemak nabati dan minyak (ningsih, 2015). Gliserol termasuk jenis plasticizer yang
bersifak hidrofilik, menambah sifat polat dan mudah larut dalam air (huri dan nisa, 2015)
A-7
Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST) 2022 P-ISSN: 1979-911X
Yogyakarta, 12 November 2022 E-ISSN: 2541-528X
Pemanfaatan gliserol sebagai plasticizer telah benyak digunakan oleh para peneliti, menurut coniwanti (2014)
penambahan gliserol pada edible film sangat berpengaruh terhadap bahan baku yang digunakan seperti pati.
Dibandungkan dari pelarut seperti sorbitol, gliserol lebih menguntungkan karena mudah tercampur dalam larutan
film dan terlarut dalam air Ihidrofilik). Sedangkan sorbitol sulit bercampur dan mudah mengkristal pada suhu
ruang. Keleihan lainnya pada gliserol adalah bahan organic dengan berat molekul rendah sehingga pada
penambahan bahan baku dapat menurunkan kekakuan dari polimer sekaligus meningkatkan fleksibilitas pada
edible film
2. METODE PENELITIAN
2.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Penelitian karakteristik daya serap air dan biodegradabilitas pada Bioplastik berbasis pati singkong dengan
penambahan Polyvinyl Alcohol dilakukan pada rentang bulan September – Oktober 2022. Seluruh Proses
dilakukan di Laboratorium Satuan Proses, Teknik Kimia, Politeknik Negeri Bandung. Bioplastik berbasis pati
merupakan komposit dengan dua komponen utama yaitu matriks dan filler. Pati terplastisasi akan berperan sebagai
matriks yang berfungsi sebagai tempat dan pelindung bagi filler. Setelah bioplastik didapatkan maka dilakukan uji
biodegradabilitas dan daya serap airnya agar bisa bersaing dengan plastik konvensional.
(PVOH) 3,75 gr
• Suhu operasi
80oC
• Kecepatan putar
650 rpm
A-8
Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST) 2022 P-ISSN: 1979-911X
Yogyakarta, 12 November 2022 E-ISSN: 2541-528X
Bahan yang digunakan pada penelitian ini di antaranya pati singkong (Manihot esculenta), seng oksida (ZnO),
gliserol, polyvinyl alkohol (PVOH) BP-05 konsentrasi 7%, dan aquades. Peralatan yang digunakan di antaranya
peralatan gelas, hot plate, dan motor pengaduk Haocheng HM-100S.
Bahan baku penelitian ini adalah pati singkong yang direaksikan dengan penambahan filler ZnO, gliserol, dan
Polyvinyl Alkohol untuk mendapatkan plastik yang biodegradable dan ramah lingkungan. Setelah pati singkong
didapatkan dari proses pengeringan, kemudian dilakukan perhitungan %yield.
Bioplastik berbasis pati memiliki kelemahan seperti rendahnya karakteristik mekanik dibandingkan dengan
plastik konvensional, tetapi masalah tersebut dapat diatasi dengan melakukan penambahan filler seperti ZnO,
plasticizer, serta bahan aditif seperti PVOH untuk memperbaiki karakteristik dari bioplastik seperti
biodegradabilitas dan daya serap air. Penambahan plasticizer berfungsi untuk meningkatkan fleksibilitas dan
membuat bioplastik menjadi tidak rapuh dengan cara mengurangi interaksi antar rantai polimer dalam bioplastik.
Salah satu bahan yang dapat dijadikan sebagai plasticizer adalah gliserol.
Penambahan filler jenis ZnO berfungsi untuk menguatkan dan mengeraskan material penyusun bioplastik
berdasarkan prinsip adhesi, yaitu gaya tarik-menarik antara molekul-molekul dari jenis bahan yang berbeda. ZnO
memiliki karakteristik mekanik dan sifat barrier yang baik serta memiliki sifat antibakterial (A. H. D. Abdullah,
2020 : 1259–1267).
A-9
Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST) 2022 P-ISSN: 1979-911X
Yogyakarta, 12 November 2022 E-ISSN: 2541-528X
Kualitas bioplastik juga dapat ditingkatkan dengan penambahan aditif lainnya seperti polyvinyl alkohol.
Penambahan PVOH dapat memperbaiki kekuatan mekanik serta meningkatkan fleksibilitas dari bioplastik (K.
Majdzadeh-Ardakani dan B. Nazari, 2010 : 1557–1563). Penelitian kami dilakukan untuk menentukan
karakteristik bioplastik dengan penambahan PVOH BP-05 konsentrasi 7% dan menentukan pengaruh keberadaan
filler ZnO. Karakteristik yang akan ditentukan di antaranya adalah daya serap air dan biodegradabilitas.
organik atau terurai) ketika terkena paparan mikroorganisme. Pengujian biodegradabilitas dilakukan menggunakan
Effective Microorganism 4 (EM4) karena mengandung mikroorganisme hidup yang berguna bagi proses
penguraian dan persediaan unsur hara dalam tanah. Sampel berukuran 5 cm x 5 cm ditimbang berat awalnya
kemudian direndam dalam 35 ml larutan EM4 selama 7 hari dan diamati perubahan berat setiap harinya. Berat
akhir kemudian ditimbang setelah perendaman selesai. Pengujian tersebut menghasilkan data berupa berat awal
dan berat akhir yang dapat diolah menjadi biodegradabilitas bioplastik dengan persamaan berikut:
𝑊0 − 𝑊1
%𝑇𝑒𝑟𝑑𝑒𝑔𝑟𝑎𝑑𝑎𝑠𝑖 = × 100%
𝑊1
tinggi memiliki ketahanan air yang rendah. Penentuan daya serap air dilakukan dengan standar ASTM D570.
Sampel berukuran 60 mm x 60 mm ditimbang berat awalnya dan direndam dalam aquadest selama 2 jam. Sampel
yang telah direndam dikeringkan dengan lap kering dan langsung ditimbang berat akhirnya. Berat awal dan akhir
sampel kemudian digunakan untuk menentukan daya serap air bioplastik dengan persamaan berikut:
𝑊1 − 𝑊0
𝐷𝑎𝑦𝑎 𝑆𝑒𝑟𝑎𝑝 𝐴𝑖𝑟 (%) = × 100%
𝑊0
oven, didapat enam kali hasil dengan kondisi operasi yang sama diperoleh jumlah pati yang beragam, hasil pati
yang diperoleh dapat disajikan didalam tabel 4.2 kemudian didapatkan perolehan yield (%b/b) pati
A-10
Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST) 2022 P-ISSN: 1979-911X
Yogyakarta, 12 November 2022 E-ISSN: 2541-528X
Berdasarkan tabel diatas, dapat dibuat grafik hubungan yield (%b/b) pada setiap RUN yang ditunjukan
Pati yang telah dibuat siap untuk dijadikan bahan baku dalam pembuatan bioplastik.
Percobaan pertama dilakukan pada PVOH BP-05 konsentrasi 7% b/b, hasil yang didapatkan pada
percobaan pertama adalah terdapat bintik putih pada bioplastik. Hal tersebut dikarenakan saat pelarutan pati tidak
larut seluruhnya sehingga terdapat serbuk pati didalam dan dipermukaan bioplastik.
Berdasarkan hasil percobaan pertama, percobaan kedua dilakukan dengan penyaringan terlebih dahulu
sebelum hasil pelarutan dituangkan ke cetakan. Pada percobaan yang kedua didapatkan hasil yang lebih merata
dari sebelumnya. Tidak terdapat bintik putih pati yang tidak larut pada bioplastik. Namun, terlihat ada
mikroorganisme jamur didalam bioplastik yang dihasilkan walaupun bioplastik belum kering sepenuhnya. Hal
Percobaan ketiga dilakukan lagi atas dasar hasil dari percobaan sebelumnya. Digunakan disinfektan untuk
membersihkan semua alat dan cetakan yang digunakan. Hasil yang didapatkan adalah masih terdapat
A-11
Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST) 2022 P-ISSN: 1979-911X
Yogyakarta, 12 November 2022 E-ISSN: 2541-528X
mikroorganisme jamur dalam bioplastik tersebut. Hal ini disebabkan jumlah hasil reaksi bioplastik yang
dituangkan terlalu banyak sehingga proses pengeringannya lebih lama dan memberikan waktu untuk
mikroorganisme untuk tumbuh dan berkembang. Oleh karena itu pada percobaan keempat penuangan bioplastik
dikurangi dari 100 gram menjadi 75 gram dan didapatkan bioplastik tanpa adanya mikroorganisme. Berdasarkan
pengamatan secara visual, sampel dengan filler ZnO memiliki permukaan yang lebih halus dan dengan
penambahan PVOH BP-05 konsentrasi 7% memiliki gelembung-gelembung kecil pada permukaannya. Terdapat
Dari hasil bioplastik yang didapatkan yaitu PVA BP-05 dengan konsentrasi 7% dilakukan pengujian
biodegradabilitas. Di bawah ini merupakan data tabel 3.3.1 yang menunjukkan perkembangan pengujian
biodegradabilitas.
Uji Biodegradabilitas
24
KODE subject awal 2 jam 4 jam 6 jam 2 hari 4 hari
jam
BP-05 tempat +
52,15 52,15 52,15 52,15 52,15 52,15 52,15
7% bakteri
Gambar 3.3 menunjukkan penurunan dari pengujian biodegradabilitas dengan penambahan PVOH pada
sampel dengan hasil berat yang semakin berkurang. Fenomena tersebut diakibatkan oleh penambahan PVOH yang
menimbulkan gelembung pada sampel. Gelembung tersebut dalam jangka panjang dapat ditembus oleh
mikroorganisme sehingga proses biodegradasi tidak hanya terjadi pada permukaaan sampel saja melainkan dari
bagian dalam pula. Selain itu, PVOH juga merupakan bahan organik sehingga bisa dijadikan sumber nutrisi oleh
mikroorganisme pengurai.
1,82 − 0,49
%Terdegradasi = x100% = 73,03%
1,82
Berdasarkan hasil data pengujian, nilai biodegradabilitas dapat ditinjau dari semakin tinggi yang dapat
terurai maka yield nya akan semakin baik. Hasil yield bioplastik dengan variasi konsentrasi PVOH BP-05 7% yang
diharapkan pada pengujian biodegradabilitas sebesar 73,03% dan nilai tersebut dikategorikan baik dilihat dari
Dari hasil bioplastik yang didapatkan yaitu PVA BP-05 dengan konsentrasi 7% dilakukan pengujian daya
serap air. Dibawah ini merupakan data tabel 4.5 yang menunjukkan perkembangan pengujian daya serap air.
7,42 − 1,9681
%Daya serap air = x100% = 73,47%
7,42
Hasil yield yang didapatkan pada pengujian daya serap air konsentrasi PVOH BP-05 7% sebesar 73,47%
dan nilai tersebut dikategorikan belum baik karena tidak tahan terhadap air.
Filler yang digunakan yaitu ZnO bersifat hidrofobik. Semakin banyak jumlah filler hidrofobik yang ada
dalam komposit membuat komposit menjadi semakin hidrofobik pula sehingga daya serap airnya akan semakin
menurun. Filler ZnO bekerja dengan cara berikatan dengan gugus hidroksil yang berada pada rantai polimer pati.
Pati tersusun atas amilum dan amilopektin yang strukturnya ditunjukkan pada Gambar 5.
A-13
Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST) 2022 P-ISSN: 1979-911X
Yogyakarta, 12 November 2022 E-ISSN: 2541-528X
Berdasarkan Gambar 3.4 di atas, komponen penyusun rantai polimer pati memiliki gugus hidroksil yang
dapat berinteraksi dengan air sehingga ketahanan airnya rendah. Filler ZnO akan berikatan dengan gugus tersebut
sehingga mengurangi keberadaan gugus hidroksil. Kondisi tersebut membuat bioplastik menjadi lebih tahan
terhadap air.
Penambahan PVOH meningkatkan ketahanan air pada sampel dengan filler ZnO karena PVOH bersifat
hidrofobik . Pada umumnya, penambahan PVOH dapat menurunkan daya serap dari suatu komposit. Hal tersebut
terjadi karena pada dasarnya sifat suatu komposit merupakan campuran sifat dari bahan-bahan penyusunnya (H.
Judawisastra, 2017).
4. KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa pati yang didapatkan dari 100 gr singkong dinyatakan
baik karena rata-rata yield yang didapatkan melebihi nilai 50% yang mengacu pada penelitian-penelitian
sebelumnya. Nilai biodegradabilitas dapat ditinjau dari semakin tinggi yang dapat terurai maka yield nya akan
semakin baik. Hasil yield bioplastik pada pengujian biodegradabilitas sebesar 73,03% dan nilai tersebut
dikategorikan baik dilihat dari pengurangan berat yang signifikan. Uji daya serap diukur untuk menguji ketahanan
bioplastik terhadap air kandungan air yang diserap oleh bioplastik sedikit maka yield nya akan kecil. Hasil yield
yang didapatkan pada pengujian daya serap air sebesar 73,47% dan nilai tersebut dikategorikan belum baik karena
tidak tahan terhadap air. Dapat ditarik kesimpulan bahwa bioplastik dengan PVOH BP-05 konsentrasi 7% terurai
dengan baik namun ketahanan terhadap airnya belum sempurna. Dari penelitian yang sudah dilakukan bahwa
untuk kompisi yang didalam PVOH BP-05 memiliki tingkat biodegradasi yang baik tetapi ketahanan bioplastik
A-14
Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST) 2022 P-ISSN: 1979-911X
Yogyakarta, 12 November 2022 E-ISSN: 2541-528X
DAFTAR PUSTAKA
A. H. D. Abdullah et al., “Harnessing the Excellent Mechanical, Barrier and Antimicrobial Properties of Zinc
Oxide (ZnO) to Improve the Performance of Starch-based Bioplastic,” Polymer-Plastics Technology and
Materials, vol. 59, no. 12, pp. 1259–1267, Aug. 2020, doi: 10.1080/25740881.2020.1738466.
K. Majdzadeh-Ardakani and B. Nazari, “Improving the mechanical properties of thermoplastic starch/poly(vinyl
alcohol)/clay nanocomposites,” Composites Science and Technology, vol. 70, no. 10, pp. 1557–1563, Sep.
2010, doi: 10.1016/[Link].2010.05.022.
Melani, Ani., dkk. “Bioplastik Pati Umbi Talas Melalui Proses Melt Intercalation (Kajian Pengaruh Jenis Filler,
Konsentrasi Filler Dan Jenis Plasticiezer)”, Distilasi, Vol. 2, No. 2, Hal. 53-67, Sept. 2017.
Sihombing, P. Rony, dkk. “Pengaruh Konsentrasi Kaolin dan ZnO dengan Penambahan PVOH Terhadap
Karakteristik Bioplastik Berbasis Pati”, Prosiding The 13th Industrial Research Workshop and National
Seminar, pp. 801-806, July. 2022.
T. M. Tamer et al., “Development of Polyvinyl Alcohol/Kaolin Sponges Stimulated by Marjoram as Hemostatic,
Antibacterial, and Antioxidant Dressings for Wound Healing Promotion,” International Journal of
Molecular Sciences, vol. 22, no. 23, p. 13050, Dec. 2021, doi: 10.3390/ijms222313050.
Chandra, R., dkk. “Biodegradable Polymers” Department of polymer technology and applied chemistry, vol. 23.
1273-1335.
Ruri, S. Rindri. “Pemanfaatan Protein Ampas Tahu Sebagai Bahan Dasar Pembuatan Bioplastik (plastic
biodegradable)” diunggah tahun 2021.
Devi, Ni Luh Putu Ardhanaresvari, dkk. “Pengaruh Komposisi Kitosan, Pati Biji Alpukat serta Penambahan
Gliserol Terhadap Kemampuan Biodegradasi Bioplastik” Universitas Pembangunan Nasional “Veteran”.
Ramadhani, M. Yusuf, dkk. “Pengaruh Konsentrasi Larutan Kitosan Sebagai Couting Agent terhadap Daya Serap
A-15
Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST) 2022 P-ISSN: 1979-911X
Yogyakarta, 12 November 2022 E-ISSN: 2541-528X
Air Pada Bioplastik Dari Pati Singkong dan Gluten” Politeknik Negeri Malang.
Rozzana, dkk. “Pengaruh Massa Pati terhadap Tensil Strength, Elongasi dan Daya Serap Terhadap Air pada
Pembuatan Bioplaastik dari Pati Sagu dan Gliserol” Universitas Syiah Kuala, Vol.3 No.1.
Nuriyah, Lailatin, dkk. “Karakteristik Kuat Tarik dan Elongasi Bioplastik Berbahan Pati Ubi Jalar Cilembu
dengan Variasi Jenis Pemlastis” Natural B, vol. 4, No. 4, Oktober 2018.
Intandiana, Sinda, dkk. “Pengaruh Karakteristik Bioplastik Pati Singkong dan Selulosa Mikrokristalin terhadap
Sifat Mekanik dan Hidrofobisitas” Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, vol. 4, No. 2, 2019 2502-4787
Nur, R. Atifah, dkk. “Karakteristik Bioplastik dari Pati Biji Durian dan Pati Singkong yang Menggunakan Bahan
Pengisi MCC (Microcrystalline Cellulose) dari Kulit Kakao” Fakultas Pertanian Vol. 25, No. 1, April
2020 2614-6045
Sabella, Amelia. “karakteristik Bioplastik dari Rumput Laut (euchema cottonii) dan Pati Singkong dengan
Penambahan Pati dari Limbah Biji Durian” Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Vol. 4
Issue 2, Oktober 2019 2502-5643
Darni, yuni, dkk. “Studi Pembuatan dan Karakteristik Sifat Mekanik dan Hidrofobisitas Bioplastik dari Pati
Sorgum” Fakultas Teknik vol.7, No. 4, 1412-5064
A-16