E-ISSN: 2798-4907
Volume 3, Nomor 2 (April 2023), 248-257
Penghulu-penghulu keraton bidang agama, hukum,
dan pendidikan di Kasunanan dan Mangkunegaran
tahun 1936-1947
Fariska Dwi Purbaningrum 1*, Latif Kusairi 2.
1Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta, Jl. Pandawa, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah
57168, fariskadwi99@[Link]
2 Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta, Jl. Pandawa, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah
57168, latifkusairi2018@[Link]
*1Corresponding email: fariskadwi99@[Link]
Abstract
This study aims to analyze the role of the penghulu both of the Keraton Kasunanan and
Kadipaten Mangkunegaran in the late 19th and early 20th centuries. Especially, the political
and cultural backround of the Surakarta Penghulu Conference was held in 1936 which took
place at the Mangkunegran pavilion. The method of the research uses historical
methodology, consists of heuristics, verification, interpretation and historiography. Various
sources in the form of archives, newspapers, magazines, books, journals, articles, and the
web used in this research. The results of this study explain the early history of the formation
of the princes of the Kasunanan palace and the Managkunegaran palace, the prince of the
palace is a position that has been inherited by the Demak kingdom for the following Islamic
kingdoms, namely Mataram, Pajang, Kasunanan to Mangkunegaran. The bureaucratic
structure is still maintained with the existence of the abdi daelm penghulu in it. The
penghulu carries out his duties assisted by several staff including modin, kayim, muezzin,
chief khakim, khatib, etc. The prince has duties in various fields, namely in the religious field
which includes preaching, management of the Great Mosque, in the legal field of the prince
becoming qodi to settle NTCR cases (Marriage, Divorce, Divorce and Reconciliation), as well
as resolving marital disputes, in the field of education for the prince to establish schools.
Penghulu also holds a meeting every year to discuss programs that are advancing.
Keywords
penghulu; konferensi; Surakarta.
Abstrak
Penelitian bertujuan untuk menganalisis peran penghulu Keraton Kasunanan dan
Kadipaten Mangkunegaran yang pada abad akhir ke-19 dan awal abad ke-20 bagi agama
Islam di wilayah kekuasaannya. Penelitian ini juga bertujuan membahas latar belakang
dilakukannya konferensi penghulu Surakarta pada tahun 1936 yang bertempat di
pendopo Mangkunegran. Penelitian ini menggunakan metode sejarah, terdiri dari 4
tahapan penelitian: heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Berbagai sumber yang
digunakan berupa arsip, koran, majalah, buku, jurnal, artikel, dan web yang terkait
dengan penelitian ini. Hasil dari penelitian ini menjelaskan tentang sejarah awal
terbentuknya penghulu keraton Kasunanan dan keraton Managkunegaran, penghulu
keraton merupakan jabatan yang telah diwariskan oleh kerajaan demak untuk kerajaan
Islam berikutnya yaitu Mataram, Pajang, Kasunanan sampai dengan Mangkunegaran.
Struktus birokrasi masih dipertahankan dengan adanya abdi daelm penghulu di
Fariska Dwi Purbaningrum, Penghulu-penghulu… 249
Historiography: Journal of Indonesian History and Education
Volume 3, Nomor 2 (April 2023), 249-261
dalamnya. Penghulu menjalankan tugas dibantu oleh beberapa staf diantaranya ada
modin, kayim, muadzin, penghulu khakim, khatib, dll. Penghulu bertugas dalam berbagai
bidang yaitu di bidang keagamaan yang meliputi dakwah, kepengurusan masjid Agung,
dalam bidang hukum penghulu menjadi qodi untuk menyelesaikan perkara NTCR (Nikah,
Talak, Cerai dan Rujuk), serta menyelesaikan persengketaan mawaris, bidang pendidikan
para penghulu mendirikan sekolahan. Penghulu juga mengadakan pertemuan pada setiap
tahunya dengan membahas program-program yang bersifat memajukan.
Kata kunci
penghulu; konferensi; Surakarta.
*Received: February 6th, 2023 *Accepted: April 29th, 2023
*Revised: April 5th, 2023 *Published: April 30th, 2023
PENDAHULUAN
Surakarta merupakan kota yang terletak di Jawa bagian tengah, pada era
pendudukan Kolonial disebut dengan Vorstenlanden yang berati tanah raja-raja. Di
bawah dipimpin seorang residen, wilayah Surakarta kemudian disebut dengan
karesidenan. Surakarta merupakan pusat kerajaan Jawa yang meneruskan trah
Mataram Islam. Karena alasan inilah, masyarakat juga menyebut Surakarta sebagai
pusat peradaban agama Islam yang ada di Jawa (Bakri, 2015).
Pada periode yang lebih tua, di Pulau Jawa berdiri dan berkembang beberapa
Kerajaan Islam yang berpengaruh dalam penyebaran dan peradaban Islam, di
antaranya Kerajaan Demak (1575-1546), Kerajaan Banten (1550-1757), Kerajaan
Pajang (1568-1587), serta Mataram Islam (1575-1757). Pada tahun 1755 terjadi
peristiwa Palihan Negari, atau pembagian wilayah kerajaan. Penanda peristiwa ini
adalah Perjanjian Giyanti, berisi pembagian wilayah kerajaan Mataram Islam menjadi
dua kerajaan yaitu Kasunanan Surakarta yang dipimpin oleh Pakubuwono III dan
Kasultanan Yogyakarta yang dipimpin oleh Pangeran Mangkubumi dengan gelar
Hamengkubuwono I. Setelah terpecah menjadi dua bagian, Kasunanan Surakarta harus
membagi wilayahnya dengan Raden Mas Said (bergelar Adipati Arya Mangkunegara I).
Raden Mas Said yang telah berjasa mengakhiri perlawanan pada kekuasaan Kasunanan,
lewat perjajian Salatiga (1757) mendapatkan wilayah dari Kasunanan Surakarata yang
kemudian bernama Kadipaten Mangkunegaran (Bakri, 2015).
Kedua kekuasaan politik di Surakarta tersebut, secara formal merupakan
kerajaan yang mendasarkan pada aturan Islam. Di antara tolok ukurnya adalah adanya
jabatan penghulu dan abdi dalem ngulama dalam struktur birokrasi yang ada pada
sistem pemerintahan kedua Keraton, berlakunya peradilan menurut syariat Islam, gelar
Khalifatullah Syaidin Panatagama bagi pimpinan politiknya, serta digelarnya
peringatan-peringatan hari besar Islam seperti grebeg, Isra Mi’raj, dan sebagainya
(Supariadi, 2017). Santri dan ulama yang ditempatkan dalam bidang keagamaan
kemudian mendapat julukan Abdi Dalem Pamethakan atau golongan Putihan yang
ditempatkan di lembaga adminitrasi yang disebut dengan Reh Pengulon. Lembaga ini
Fariska Dwi Purbaningrum, Penghulu-penghulu… 250
Historiography: Journal of Indonesian History and Education
Volume 3, Nomor 2 (April 2023), 249-261
dipimpin oleh seorang Penghulu Ageng atau dalam tradisi Kasunanan Surakarta disebut
dengan dengan Penghulu Tafsir Anom (Ismail, 1997).
Penghulu adalah jabatan keagamaan yang sangat berpengaruh dalam
penyebaran agama Islam maupun dalam pelaksanaan ajaran agama Islam serta dalam
hukum agama Islam yang ditaati oleh masyarakatnya(Hisyam, 2005). Jabatan penghulu
di wilayah eks-Mataram Islam telah berlangsung cukup lama. Hal ini dapat sesuai
dengan laporan orang-orang Eropa yang berkunjung ke Nusantara masih menjumpai
apa yang disebut dengan opper-priester dan chieft priest. Priester atau Prieset memiliki
arti orang yang menjabat sebagai ulama pejabat, di mana orang Sunda menyebutnya
dengan Pangulu, di Jawa disebut dengan Pengulu, orang Madura memanggilnya
pangulon, sementara di lingkungan Melayu dikenal dengan penghulu (Ismail, 1997).
Pada tahun 1936, Penghulu Keraton Kasunanan dan Mangkunegaran berperan
serta dalam pertemuan atau perkumpulan penghulu se-Jawa Madura. Peristiwa ini
dilatarbelakangi oleh adanya tekanan dari Pemerintah Kolonial Belanda perihal
perubahan peran penghulu. Pihak kolonial berupaya menghapus salah satu tugas
penghulu yakni penangan hak waris yang sejak tahun 1935 hingga pemgambilalihan
wewenang ini diputuskan pada tahun 1937. Bagaimana peran penghulu di kedua
kerajaan tersebut sebelum camput tangan dan penyeragaman hukum dari pihak
kolonial? Sejauh mana sikap para penghulu menyikapi keinginan pemerintah Kolonial?
Pertanyaan-pertanyaan penelitian ini, akan melengkapi gambaran strategis kedua
kekuasaan Surakarta tersebut dalam sejarah formalisasi dan deformalisasi hukum
Islam di wilayah Nusantara, khususnya Jawa di paruh pertama abad ke-20.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode yang terdiri dari 4 tahapan penelitian yang
pertama yaitu heuristik, Kritik, interpretasi yang terakhir yaitu historiografi yaitu
penulisan sejarah. Dalam penulisan ini penulis memnggunakan berbagai sumber yang
didapatkan dari perpustakaan yang berupa arsip, koran, majalah, buku, jurnal, artikel,
dan web yang berhubungan dengan penelitian ini.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Sejarah Awal Kemunculan Penghulu Di Keraton Kasunanan Dan Kadipaten
Mangkunegaran
Penghulu merupakan jabatan yang berperan dalam bidang keagamaan dan
syariat Islam. Kata penghulu berasal dari bahasa jawa Panghulu yang berati sesirah
(kepala). Penghulu memiliki sebutan atau panggilan yang berbeda-beda misalnya di
Jawa Barat penghulu dipanggil dengan nama pangulu, Jawa dan Madura dijuluki sebagai
pangoloh, sedangkan di Melayu penghulu dijuluki sebagai penghulu, yang berasal dari
kata “hulu” yang berati kepala, yang memiliki arti sebagai orang yang dihormati, atau
orang yang mengepalai (Saputra, 2018). bahkan di Daerah Sumba Timur dan Sumba
Selatan Penghulu disebut sebagai wali Tanah yang berarti orang yang memegang
Fariska Dwi Purbaningrum, Penghulu-penghulu… 251
Historiography: Journal of Indonesian History and Education
Volume 3, Nomor 2 (April 2023), 249-261
kekuasaan tertingi dalam penghulu (Haar & Pusponoto, 1979). Secara historis,
kemunculan penghulu sudah ada sejak berabad-abad lamanya, yaitu pada abad ke-15
ketika Masjid Agung Demak mulai beroprasi ditunjuklah seorang imam yang diberi
tugas mengimami sholat lima waktu, dakwah, serta mengurusi masjid, dan dari sinilah
seorang imam masjid agung demak dikenal masyarakat dengan sebutan penghulu.
Secara umum, tugas penghulu pada masa Kerajaan Demak cukup banyak di
antaranya sebagai penasehat spiritual kerajaan, memastikan syariat Islam dijalankan
dengan baik oleh masyarakat, menjadi pengadil dalam urusan pengadilan NTCR (nikah,
talak, cerai, rujuk), pembagian warisan serta menjadi penegah dalam urusan wasiat.
Maka tidak heran jika penghulu di Kerajaan Demak memiliki hubungan yang sangat baik
dengan raja dan diberi kebebasan untuk mengatur segala urusan di masyarakat
maupun di kerajaan yang berhubungan dengan proses penyebaran agama Islam
maupun syariat Islam.
Struktur penghulu di kerajaan Islam terus dipertahankan hingga ke Kerajaan
Mataram Islam. Hingga era Kadipaten Mangkunegaran penghulu terus masuk ke dalam
struktur birokrasi. Misalnya di Kasunanan Surakarta dan Kadipaten Mangkunegaran
dijumpai lembaga yang disebut dengan Kepengulon yang anggotanya terdiri dari abdi
dalem Pamethakan atau Yogiswara, yang diketuai oleh Penghulu Ageng dan dalam
tradisi kasunanan disebut dengan Tafsir Anom (Fauzia, 2003).
Pada masa pemerintahan Gubernur Herman Willem Daendels (1762-1818)
masih mempertahankan struktur jabatan penghulu yang berperan dalam bidang
keagamaan terutama menyangkut dengan hukum agama Islam. Pengakuan dari pihak
kolonial ini membuktikan bahwa keberadaan ulama sebagai penghulu natagama sangat
diperlukan untuk menarik simpatisan muslim untuk tunduk kepada pihak kolonial.
Namun pihak kolonial mengenal nama penghulu dengan nama yang berbeda yaitu
dengan nama opper priester dan chiefs priest. Priester dan priest sendiri memiliki arti
sebagai pejabat agama Islam. Pada awal abad 19 ketika itu Deandeles berada di Jawa
(1808-1811), terdapat surat kabar yang menyebutkan adanya “penghulu” atau “priet”,
dan mengatakan:
In every chief town there is a high priest, who with the assistance of several inferior
priests, holds an ecclesiastical court , and superintends the priests who are appointed in
the subordinate districts and villages .
(Di setiap kota kepala ada seorang imam besar, yang dengan bantuan beberapa
imam yang lebih rendah, memegang pengadilan gerejawi, dan mengawasi imam-imam
yang diangkat di distrik-distrik dan desa-desa bawahan) (Raffles, 1978).
Pada tahun 1808 Deandeles juga mengungkapkan bahwa para bupati menjadi
pengawas untuk memperhatikan keadaan umat Islam agar tetap aman dalam
menjalankan tradisi yang sudah berjalan sebelumnya. Selain itu, hal ini agar para
penghulu dapat menjalankan tugasnya yaitu: menikahkan, memutuskan perceraian dan
pembagian pusaka. Pembagian tugas penghulu ini dimuat dalam Staatsblad 1820 No 22
ayat 13 yang menyatakan bahwa bupati harus mengawasi semua permaalahan agama
Fariska Dwi Purbaningrum, Penghulu-penghulu… 252
Historiography: Journal of Indonesian History and Education
Volume 3, Nomor 2 (April 2023), 249-261
Islam dan harus mengusahakan agar para penghulu bebas dalam melaksanakan
tugasnya menurut adat kebiasan orang Jawa baik dalam perkara perkawinan,
pembagian warisan dan lain sebagainya (Idi, 2019). Pada tahun 1882 Belanda
membentuk lembaga penghulu (Priesterrad) dan lembaga ini merupakan bagian dari
pengadilan landraad, serta Reh Pengulon yang semula dipegang oleh raja kemudian
masuk kedalam Priesterrad (Joebagjo, 2015).
Pada saat menjalankan tugasnya penghulu di Keraton Kasunanan Surakarta
dibantu oleh beberapa orang. Para pembantu penghulu ini masuk dalam struktur
jabatan penghulu, sebagaimana ilustrasi berikut:
Tabel 1. Struktur Birokrasi Penghulu Keraton Kasunanan Surakarta
Tingkat Pusat
Penghulu Ageng
Tingkat Kabupaten
Penghulu Kepala
Tingkat Kawedanan
Penghulu Naib
Wakil Anjung
Penghulu
Tingkat Kecamatan
Penghulu Naib
Tingkat Desa
Modin, Kayim, Labe,
Amil
Sumber: Data diolah dari Kabupaten Malang Dalam Angka 2018
Keterangan:
1) Tingkat Pusat : Penghulu Ageng
2) Tingkat Kabupaten : Penghulu Kepala/Hoofd penghulu/Hooge
Priester/Penghulu Landraad/Khalifah
3) Wakilnya : Anjung Penghulu/ Anjung Khalifah
4) Tingkat Kawedanan : Penghulu/ Naib dan wakilnya adalah Anjung
Penghulu.
5) Tingkat Kecamatan : Penghulu/ Naib
Fariska Dwi Purbaningrum, Penghulu-penghulu… 253
Historiography: Journal of Indonesian History and Education
Volume 3, Nomor 2 (April 2023), 249-261
6) Tingkat Desa : Modin/ Kaum/ Kayim/ Labe/ Amil (Fadhilah,
2011)
Tabel 2. Struktur Birokrasi Penghulu Keraton Mangkunegaran
Penghulu
Muadzin Khotib Penghulu Chatin\Chatin Penghulu
Kakim ah Naib
Sumber: (Fatatik & Muhiba, n.d.)
Di sisi lain, tugas penghulu Keraton Mangkunegaran di antaranya sebagai
berikut:
1. Penghulu menjadi pemimpin kemudian di bawah penghulu kakim, penghulu
naib, khotib, muadzin, serta penghulu chatin dan chatinah.
2. Penghulu kakim memiliki peran menjadi ketua pengadilan di pengadilan
perdata dalem, dan menikahkan, talak, rapak, dan wasiat, dilanjutkan dengan
penghulu naib yang memiliki tugas yang hampir sama dengan penghulu kakim
tetapi tidak mengurusi masalah peradilan dan tidak ikut membuat keputusan.
3. Muadzin adalah jabatan awal untuk menjadi penghulu dan bertugas untuk
mengumandakan adzan.
4. Modin, penghulu yang bertugas di dalam masjid baik sebagai imam, serta
sebagai pengisi ceramah dalam masjid,
5. Abdi dalem Chatin, penghulu ini bertugas mengkhitan anak laki-laki.
6. Abdi dalem Chatinah bertugas untuk mensunati anak perempuan.
Pada tahun 1937 Belanda mengeluarkan undang-undang atau Staatsblad 1937
No. 116 yang berisi tentang penghapusan salah satu tugas dari penghulu yaitu
mencabut penyelesaian hukum warisan yang tidak lagi diselesaikan di pengadilan
agama. Hal ini dikarenakan pengadilan agama tidak ada sangkut pautnya dengan
hukum warisan dan penyelesaian pengadialan yang menyangkut hukum waris
diselesaikan di pengadilan tinggi negeri. Dikeluarkanya Staatsblad 1937 no 116 juga
bertujuan untuk melengkapi Staatsblad yang di buat pada tahun 1882 No. 152 (Ahmad,
2015), yang semula memuat tugas dan wewenang dalam mengadili perkara
perkawinan, perceraian, talak, rujuk, dan pembagian harta warisan namun dengan
adanya Staatsblad 1937 perkara mengadili masalah hak waris dihapuskan.
Pada mulanya, syarat untuk menjabat sebagai penghulu di Kasunanan Surakarta
dan Mangkunegaran cukup dengan penunjukan oleh penguasa terhadap ulama yang
mereka anggap cakap dalam menjalakan tugas dalam bidang keagamaan dan hukum.
Fariska Dwi Purbaningrum, Penghulu-penghulu… 254
Historiography: Journal of Indonesian History and Education
Volume 3, Nomor 2 (April 2023), 249-261
Pada tahun 1905 saat didirikan sekolahan penghulu, di masing-masing proses
pengangkatan penghulu mulai memiliki syarat yaitu sebagai berikut:
1. beragama muslim
2. sehat jasmani rohani
3. tidak berurusan dengan hukum
4. tidak memakai candu
5. bisa membaca dan menulis bahasa arab
6. menguasai kitab-kitab fikih dan kitab yang telah ditentukan.
Proses pengangkatan jabatan yang ada dibawah penghulu pada mulanya dengan
penunjukan oleh bupati. Hal ini kemudian mengalami perubahan, dari penunjukan oleh
bupati kemudian persetujuan residen, hingga naik ke gubernur jendral, dan disahkan di
Raad van Justisia. Pada tahun 1894 terbentuk lembaga kantoor voor indsche yang
dipimpin oleh C. Snouck Hurgonje (1857-1956). Para periode ini, ditambahkan proses
beberapa persyaratan pengangkatan penghulu yakni harus menyertakan biodata
pribadi, pendidikan, dan silsilah keluarga baik dari pihak pria maupun wanita. Pada
tahun 1930-1947 persyaratan pengangkatan penghulu mengalami penambahan
persyaratan, yaitu diwajibkan untuk menempuh pendidikan penghulu dan dinyatakan
lulus, menempuh ujian penghulu dengan tim penguji terdiri dari penghulu landraad
dan ulama lainya. Materi ujian penghulu pada saat itu terdiri dari membaca dan menulis
huruf al qur’an, pengetahuan tentang kitab-kitab fikih, bahasa latin, dan pelajaran Islam
terutama menyangkut hukum munahakat atau perkawinan (Ismail, 1997).
a. Peran Penghulu Di Bidang Keagamaan
Keraton Kasunanan dan Keraton Mangkunegaran membagi para Abdi dalem
menjadi beberapa kelompok di antaranya abdi dalem yang di bawah pimpinan Bupati
Nayaka, yang disebut dengan abdi dalem kepatihan, abdi dalem kadipaten serta abdi
dalem pengulon. Abdi dalem kepatihan yang dipimpin oleh Bupati Nayaka bertugas
mengurusi pemerintahan seluruh kerajaan dan dengan dibantu oleh abdi dalem
kadipaten yang mengurusi hal-hal yang berhubungan dengan keluarga kerajaan para
kerabat kerajaan. Untuk abdi dalem pengulon bertugas dalam bidang rohaniah. Para raja
biasanya menujuk para kiai, ulama dan para guru agama Islam untuk dijadikan guru dan
penasehat dalam mengajarkan Islam di lingkungan keraton (Suratman, 2000).
Penghulu dalam struktur birokrasi Keraton memiliki peranan yang cukup
penting dalam bidang keagamaan dan hukum syariat Islam dengan diketuai atau
dikepalai oleh penghulu ageng dan dalam tradisi Kasunanan Surakarta disebut dengan
Tafsir Anom. Seorang penghulu adalah kepanjangan tangan dan lidah dari raja yang
menjabat pada saat itu, dengan diberi gelar Sayidin Panatagama. Ia menjadi panutan
dalam segala hal yang berkaitan dengan syariat agama Islam, yang patut ditiru dan
diteladani di masyarakat agar terciptanya masyarakat yang bermoral dan beretika
(Suratman, 2000).
Penghulu di Keraton Kasunanan dan Mangkunegran dalam menjalankan
tuagasnya sebagai imam masjid agung dibantu oleh kurang lebih 40 orang dengan
Fariska Dwi Purbaningrum, Penghulu-penghulu… 255
Historiography: Journal of Indonesian History and Education
Volume 3, Nomor 2 (April 2023), 249-261
jabatan dan tugas masing-massing. Jabatan itu meliputi imam, khatib, muadzin, marbot,
juru tulis, syuhud (saksi) dan juru kunci. Sebagai imam masjid, penghulu bertugas
memimpin atau mengimami shalat lima waktu dan shalat Jumat. Selain bertangung
jawab mengimami, penghulu masjid juga bertanggung jawab dalam mengurusi
keuangan masjid yang didapat dari biaya perkawinan, zakat, wakaf, dan sedekah infak
dari para jamaah umat Islam. Selain dua peran tersebut penghulu juga berperan dalam
peringatan upacara yang diselengarakan Keraton seperti grebeg Maulud, Grebeg
Syawal, Grebeg Besar (Ismail, 1997).
Kegiatan keagamaan menunjukkan peran serta penghulu di antaranya adalah
diselengarakanya shalat hajat pada tanggal 11 April 1939, di mana kesepakatan telah
diambil sebelumnya oleh para katib yogiswara. Pada masa penghulu Tafsir Anom V
(1933) juga diadakan pengajian yang diadakan di mushala pengulon. Pengajian ini
mengodopsi sistem pembagian kelas dengan mempelajari Al-Quran dari membaca,
menulis huruf hijaiyah serta mempelajari huruf pegon.
Kedekatan para penghulu dengan bidang keagamaan dibuktikan pula dengan
adanya tempat tinggal khusus yang untuk mereka yang berada di sebelah utara masjid
agung tepatnya di kampung Kauman. Kompleks ini bersebrangan dengan masjid agung
di sebelah barat alun-alun. Smeentara di sekitaran masjid agung, yakni di wilayah
Kauman dibangun tempat tinggal untuk para agamawan (kiai, penghulu, dan ulama).
Tata letak seperti ini bertujuan agar para agamawan memiliki kedekatan dengan masjid
agung yang dijadikan sebagai pusat dakwah penyebaran agama Islam. Selain itu, agar
para penghulu juga memiliki keterdekatan dengan keluarga raja yang bertindak sebagai
pemimpin pemerintahan.
b. Peran Penghulu Di Bidang Pendidikan
Selain di bidang keagamaan penghulu juga berperan dalam bidang pendidikan.
Hal ini dibuktikan dengan dibangun sekolahan mambaul ulum atas prakarsa penghulu
Tafsir AnomV dan patih dalem Kangjeng Ario Sosrodiningrat. Usulan itu kemudian di
setujui oleh Pakubuwana X dan memberi dukungan penuh terhadapa sekolah mambaul
ulum. Pendirian sekolah yang berbasis agama Islam ini dilatarbelakangi dengan adanya
pengaruh orang eropa yang memasukan budaya barat serta adanya sekolah yang
didirikan oleh zending dengan memiliki misi untuk melakukan kristenisasi di kalangan
masyarakat Keraton dan sekitarnya. Pendirian sekolah zeanding tersebut membuat
sunan resah dan merasa terusik (Kuntowijoyo, 2004).
Pada 23 Juli 1905 didirikan mambaul ulum (sumber ilmu pengetahuan) yang
terletak di pawastren masjid agung Surakarta. Mambaul ulum merupakan sekolah
berbasis Islam dengan mengadopsi pembelajaran modern dan pendidikan pesantren,
sehingga lazim disebut dengan madrasah (Mulyanto, 2021). Tenaga pengajar Madrasah
Mambaul Ulum sendiri adalah tenaga alim ulama, katib, naib, serta paradikan, yang
menguasai agama Islam. Madrasah mambaul ulum pada mulanya memiliki 11 kelas,
yang terbagi atas 6 kelas tingkat dasar (ibtidaiyah), 3 tingkat kelas menengah
(tsanawiyah) dan 2 tingkat atas (aliyah). Semua sekolahan ini terletak dalam satu
Fariska Dwi Purbaningrum, Penghulu-penghulu… 256
Historiography: Journal of Indonesian History and Education
Volume 3, Nomor 2 (April 2023), 249-261
gedung. Pada 20 Februari 1915 Madrasah Mambaul Ulum ini diresmikan oleh pihak
Keraton Kasunanan.
Keraton Mangkunegaran juga mendirikan madrasah penghulu yang bertujuan
untuk menyebarkan agama Islam dengan memasukan unsur Islam dalam kurikulumnya
sekaligus untuk mendapatkan calon bakal penghulu yang ahli di bidang agama Islam.
Rencana pembangunan madrasah penghulu yang ada di lingkungan Keraton
Mangkunegaran telah diputuskan dan disahkan dalam pertemuan Pangreh Ageng
lengkap (Pleno Hoofdbastuurs vergadering) yang merupakan bagian dari Perkumpulan
Penghulu Dan Pegawainya (P.P.D.P.). Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 25
Desember 1939 (Arsip Madrash Penghulu, Reksopustaka Mangkunegaran, No. 4729).
Madrasah penghulu terbagi menjadi dua yaitu:
1. Perangan Hoeparanta (Voorbereidende-Afdeeling),
2. Perangan Krida Reh Were (Vak-Afdeeling).
Perangan Hoeparanta masih terbagi menjadi dua yaitu:
a) Perangan Heoperanta A.
b) Perangan Hoeperanta B.
Proses pembelajaran di madrasah penghulu ditempuh selama sembilan tahun
yang terdiri dari 5 tahun untuk sekolah Perangan Hoeperanta dan yang 4 tahun untuk
menempuh sekolah Perangan Krida Reh Wara (Arsip Madrash Penghulu, Reksopustaka
Mangkunegaran, No. 4729).
c. Peran Penghulu Dalam Bidang Hukum
Pada bidang hukum, penghulu memiliki tugas-tugas yang berkaitan dengan
hukum agama Islam, termasuk hukum keluarga, wali hakim, hukum waris, dan
sebagainya. Tugas utama seorang penghulu adalah menjadi kepala pegadilan. Dalam
tradisi Yogyakarta dan Surakarta disebut dengan Pengadilan Surambi, sedangkan di
Cirebon disebut dengan Pengadilan Penghulu (Hazmirullah et al., 2019). Sistem
pengadilan di Karesidenan Surakarta yang pada abad ke-18 dikuasai oleh Keraton
Kasunanan Surakarta dan Kadipaten Mangkunegaran, mendapat sorotan yang cukup
tajam dari pemerintahan Hindia- Belanda karena merupakan bagian terpenting dalam
tatanan suatu Negara serta alat untuk mengatur masyarakat (Sugiarto, 2017). Pada
tahun 1882 pemerintah Belanda melahirkan keputusan raja yang dimuat dalam
Staatsblad no. 152 yang memutuskan keberadaan Pengadilan Surambi sebagai badan
peradilan yang terikat dengan sistem kenegaraan. Pemerintah Kolonial Belanda
menyebutnya dengan preisterraacf, yang memiliki tugas menangani perkara-perkara
pernikahan, segala jenis perceraian, mahar, nafkah, keabsahan anak, perwalian,
kewarisan, hibah, waqaf, shadaqoh, dan baitul mal, yang bersangkutan dengan syariat
agama Islam (Tsamrotul, 2021). Pada tahun 1931 Belanda mengeluarkan Staatsblads
1931 no 53, staatblaad ini membahas tentang penghapusan salah satu tugas penghulu
dalam Pengadilan Surambi, namun peraturan ini belum sempat terlaksana karena
keterbatasan dana dari pemerintahan kolonial dan adanya reaksi penolakan di
mayarakat. Peraturan ini baru terlaksana pada tahun 1937 dengan dibuatnya peraturan
Fariska Dwi Purbaningrum, Penghulu-penghulu… 257
Historiography: Journal of Indonesian History and Education
Volume 3, Nomor 2 (April 2023), 249-261
yang dimuat dalam Staatblaad 1937 no. 116 yang memuat tentang penghapusan salah
satu tugas penghulu. Beberapa pasal dalam aturan ini menghilangkan beberapa tugas
Pengadilan Surambi yang pada awalnya dimuat di Staatsblad 1882 no. 56. Pasal
staatblaad tersebut berisi tentang:
Memberi jalan keluar untuk suami istri (beragama Islam) yang sedang beselisih
paham dan membutuhkan orang ketiga untuk mediasi, menyelesaikan perkara NTCR
(Nikah, Talak, Cerai, Rujuk), memberi putusan percearaian, menyatakan syarat untuk
melakukan talak sudah terpenuhi, dan perkara tentang keperluan kehidupan suami istri
yang wajib dipenuhi suami.
Awal Terbentuknya Perkumpulan Penghulu Dan Pegawainya (P.P.D.P)
Pada abad ke-19, pengaruh yang kuat juga datang dari pihak Belanda yang ikut
mencampuri urusan hukum di masyarakat Bumiputera dan berdampak kepada kondisi
sosial keagamaan Keraton Surakarta. Puncaknya adalah ketika Belanda mengeluarkan
Staatblad 1935 yang berisi mengenai pengurangan tugas penghulu dalam bidang
mawaris, namun pada tahun 1935 staatblad belum bisa terlaksana dan diterapkan
karena terkendala dengan dana yang belum memadai (Zuhria, 2016).
Pada tanggal 19 Februari tahun 1937 pemerintah Belanda mulai
memberlakukan staatblads 1937 nomor 116 yang berisi tentang pencabutan hak waris
dan penerbitan akta cerai. Hal ini menandai beralihnya tugas dari penghulu ke
pengadilan landraad, yakni diberikannya wewenang dan tugas untuk menerbitkan akta
cerai dan mengadili perkara warisan. Pertengahan tahun 1937, pemerintah kolonial
Belanda juga mencabut salah satu tugas penghulu, yaitu mengenai pengadilan mawaris
di pengadilan agama. Hal ini dikarenakan pihak pemerintah kolonial Belanda
menganggap permasalahan mengenai hukum warisan tidak terrmasuk dalam hukum
adat agama Islam. Pihak pemerintah kolonial beralasan bahwa penghulu tidak ada
sangkut pautnya dengan peradilan mengenai hukum warisan. Pencabutan hak waris ini
diabadikan dengan adanya staatblad 1937 nomor 116 (Notosusanto, n.d.). Penerapan
staatblad ini bertujuan untuk penyeragaman hukum di Keraton Kasunanan dan Keraton
Mangkunegaran. Penyeragaman hukum ini berakibat penyempit tugas penghulu dalam
bidang peradilan dan dalam birokrasi Keraton. Pasalnya penghulu hanya bertugas
dalam sistem birokrasi yang ada dalam Keraton dan menjadi penasehat dalam
pengadilan perdata gede yang menjadi banding dalam pengadilan surambi.
Dikeluarkanya staatblad 1937 mengakibatkan ruang gerak penghulu menjadi
terbatas, maka pada tahun 1937 para penghulu se-Jawa dan Madura membentuk
Perkumpulan Penghulu Dan Pegawainya (PPDP) atas prakarsa Muhammad Adan
dengan memiliki tujuan utamanya yaitu menentang kebijakan pemerintah Belanda
dengan dikeluarkanya staatblad 1937 nomor 116. Selain itu perkumpulan penghulu
juga memiliki tujuan dan maksud sebagai berikut:
Fariska Dwi Purbaningrum, Penghulu-penghulu… 258
Historiography: Journal of Indonesian History and Education
Volume 3, Nomor 2 (April 2023), 249-261
1. “Memadjockan perasaan menanggoeng jawab dan kesetiaän anggauta -
anggautanja, baik didalam dan pada jabalan - mauepoen didalam dan pada ke
oelama annja masing – masing”.
2. Memperbalikan kepentingan kepentingan anggauta anggautanja dan
memperbaiki kedoedoekan mereka iloe, baik di dalam maoepoen di loear djabatan
".
3. Toeroel bekerja memadjoekan ketjintaän pada Agama Islamdan kehidoepan
menoeroet Agama Islam" (Arsip PPDP, yang ditemukan di Rekso Pustaka
Mangkunegaran).
Perkumpulan penghulu dan pegawainya melakukan musyawarah partama
kalinya pada tanggal 15 Mei 1937 sampai dengan 18 Mei 1937 yang dislenggarakan di
Pendopo Pangulon Surakarta dengan membahas agenda pokok:
Mengenai perubahan wewenang penghulu di pengadilan agama yang dikurangi
peranya dalam mengadili hak waris yang kemudian diganti oleh pihak Belanda dengan
membayar penghulu dengan kurun waktu tiga bulan sekali.
Pengangkatan penghulu Keraton Kasunanan Surakarta menjadi bagian dari
Belanda yaitu menjadi staf pengadilan laandraad dengan mendapatkan gaji setiap
bulanya dari pemerintahan Belanda (Arip PPDP, yang ditemukan di Rekso Pustaka
Mangkunegaran).
Perkumpulan Penghulu Kasunanan dan kadipaten Mangkunegaran
Penghulu baik di Mangkunegaraan maupun di Kasunanan saling melakukan
keordinasi untuk menentukan bagaimana sistem yang akan digunakan untuk
memajukan agama Islam agar dapat berkembang dengan pesat di wilayah Keraton
Surakarta. Perkumpulan penghulu antara penghulu Kasunanan dan penghulu
Mangkunegaran sering disebut dengan koferensi atau perkumpulan penghulu
Surakarta. Perkumpulan penghulu ini mulai dibentuk pada tahun 1935 oleh Penghulu
Tafsir Anon V dan Muhammad Rosidi, pembentukan konferensi ini dilatarbelakangi
karena adanya pembentukan staatblads Belanda yang bertujuan untuk mengurangi
peran penghulu dalam bidang mawaris, serta adanya hubungan keterdekatana antara
keraton Kasunanan dan Kadipaten Mangkunegaran, hal ini dikarena Mangkunegaran
masih merupakan bagian dari Kasunanan Surakarta (Wawancara, 2022) . Perkumpulan
penghulu ini berlangsung pada setiap tahunya dengan membahas berbagai tema
terutama menyangkut kemajuan agama islam.
KESIMPULAN
Surakarta merupakan kota yang memiliki dua Keraton yang berbasis islam. Raja
di Keraton Kasunanan Surakarta dan Kadipaten Mangkunegaran memiliki dua peran
yaitu sebagai tokoh politik yang berperan sebagai pemimpin dan raja yang memegang
kekuasaan dan raja yang berperan dibidang keagamaan yang kemudian raja diberi gelar
Khalifatullah Syaidin Panatagama. Peran dalam bidang keagamaan ini kemudian di
Fariska Dwi Purbaningrum, Penghulu-penghulu… 259
Historiography: Journal of Indonesian History and Education
Volume 3, Nomor 2 (April 2023), 249-261
tujuk seorang abdidalem pamethakan atau dalam tradisi Kasunanan Surakarta disebut
dengan penghulu Tafsir Anom. Peran penghulu di Keraton Kasunanan Surakarta dan
kedipaten Mangkunegaran memiliki kesamaan yaitu memiliki peran di dalam bidang
perikahan, pendidikan, pengadilan hukum pidana. harus menguasai kitab yang
berhubungan dengan hukum Nikah, Talak, Cerai dan Rujuk. Untuk menjalankan
tugasnya peenghulu keraton juga mendapat bantuan dari bahawahan penghulu di
antaranya ada katib, naib, modin, abdi dalem chatin, dan chatinah. Penghulu tidak
mendapat gaji, para penghulu hanya diberikan tanah lungguh yang kemudian para
penghulu kelola bersama masyarakat dengan hasil dibagi kepada masyarakat serta
digunakan untuk pembiayaan dakwah para penghulu untuk menuju daerah terpencil
yang ada di wilayah surakarta. Penghulu keraton kasunanan dan keraton
mangkunegaran saling megadakan pertemuan atau konferensi untuk membuat satu
kebijakan untuk mebuat maju kondisi islam di sekitaran keraton, perkumpulan ini terus
berjalan hingga menjelang kemerdekaan Indonesia dengan mebahas berbagai tema.
DAFTAR RUJUKAN
Arsip Madrash Penghulu, Reksopustaka Mangkunegaran, No.4729.
Arsip PPDP, yang ditemukan di Rekso Pustaka Mangkunegaran.
Ahmad, R. (2015). Peradilan Agama Di Indonesia. YUDISIA: Jurnal Pemikiran
Hukum Dan Hukum Islam, 6(2), 311–339.
Bakri, S. (2015). Gerakan Kolonialisme Islam Surakarta,1914-1942. Lkis Pelangi
Aksara.
Fadhilah, A. (2011). Struktur dan Pola Kepemimpinan Kyai Dalam Pesantren di
Jawa. Hunafa: Jurnal Studia Islamika , 8(1), 101–120.
Fatatik, & Muhiba, N. L. (n.d.). Peranan penghulu Mangkunegaran pada masa
pemerintahan Mangkunegaran VII tahun 1916-1944. Universitas Sebelas
Maret.
Fauzia, A. (2003). Antara Hitam dan Putih:Pengulu pada Masa Kolonial Belanda.
Studi Islamika, 10(2).
Haar, B. T., & Pusponoto, S. K. N. (1979). Asas-Asas Hukum Dan Sususnan Hukum
Adat. Pradnya Paramita.
Hazmirullah, TNMM., Dienaputra, R. D., & Sudjana, U. (2019). The Function And
Position Of Penghulu In Raffles’ Kitab Hukum Manuscript (1814). Jurnal Of
Indonesian Islam, 13(1).
Hisyam, M. (2005). Potret Penghulu Dalam Naskah Sebuah Pengalaman
Penelitian. Wacana , 7(2), 129–137.
Fariska Dwi Purbaningrum, Penghulu-penghulu… 260
Historiography: Journal of Indonesian History and Education
Volume 3, Nomor 2 (April 2023), 249-261
Idi, A. (2019). Politik Enisitas Hindia Belanda: Dilemma Dalam Pengelolaan
Keberagaman Entis Di Indonesia. Prenandamedia Group.
Ismail, Q. (1997). Kyai Penghulu Jawa Peranya Di Masa Kolonial. Gema Insani
Press.
Joebagjo, H. (2015). Politik Symbol Kasunanan. Sejarah Dan Budaya: Jurnal
Sejarah, Budaya, Dan Pengajarannya, 9(2), 179–192.
Kuntowijoyo. (2004). Raja Priyai, Dan Kawula Surakarta. Ombak.
Mulyanto, M. (2021). Peran Pakubuwana X Dalam Pengembangandakwah
IslamDi Surakarta Tahun 1893-1939. Mamba’ul’Ulum, 17(1), 24–36.
Notosusanto. (n.d.). Peradilan Agama Islamdi Jawa Dan Madura. Tp.
Raffles, T. S. (1978). The history of Java. Oxford University Press.
Saputra, M. (2018). Penghulu Wanita Menurut Penghulu Kantor Urusan Agama
Kota Yogyakarta. Al-Ahwal: Jurnal Hukum Keluarga Islam , 11(2), 199–208.
Sugiarto, S. (2017). Reorganitaion Of Judicature In Surakarta Resident 1847-
1874. Ilmu Sejarah-S1, 2(5).
Supariadi. (2017). Dinamika Kehidupan Relegius Era Kasunanan Surakartan.
Litbang Pres.
Suratman, D. (2000). Kehidupan Dunia Keraton Surakarta 1830-1839. Yayasan
Untuk Indonesia.
Tsamrotul, A. (2021). Buku Daras Peradilan Agama Di Indonesia. Liventurindo.
Muhtarom, wawancara pribadi, 25 Oktober 2022.
Zuhria, E. (2016). Peradilan Agama Indonesia : Sejarah Dan Konsep Dan Praktik
Dipengadilan Agama. Jakarta Setara Press.
Fariska Dwi Purbaningrum, Penghulu-penghulu… 261