0% found this document useful (0 votes)
37 views15 pages

Semiotik Teks Éling-éling Mangka Éling

This study analyzes the poem "Éling-éling Mangka Éling" by R.A Bratawijaya using Michael Riffaterre's semiotic approach. The study aims to describe heuristic readings, hermeneutic readings, matrices, models, variants, and hipograms in the poem. The results showed that the heuristic reading conveys compassion, the hermeneutic reading reveals regret, the matrix is compassion, the model is lust turned to regret, and the hipogram depicts the joy and sorrow of human life.

Uploaded by

penjagatower13
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd
0% found this document useful (0 votes)
37 views15 pages

Semiotik Teks Éling-éling Mangka Éling

This study analyzes the poem "Éling-éling Mangka Éling" by R.A Bratawijaya using Michael Riffaterre's semiotic approach. The study aims to describe heuristic readings, hermeneutic readings, matrices, models, variants, and hipograms in the poem. The results showed that the heuristic reading conveys compassion, the hermeneutic reading reveals regret, the matrix is compassion, the model is lust turned to regret, and the hipogram depicts the joy and sorrow of human life.

Uploaded by

penjagatower13
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd

ABSTRAK

INTERPRETASI TEKS ÉLING-ÉLING MANGKA ÉLING


(Analisis Semiotik Michael Riffaterre Mengenai Interpretasi Teks Éling-éling Mangka
Éling Pupuh Asmaradana Karya R.A Bratawijaya)

Oleh :

Imanuddin Ramdhani
41813023

This study aims to describe heuristic readings, hermeneutic readings, matrices, models,
variants, and hipograms in Asmarandana "Éling-éling Mangka Éling". This research is literature
research because of primary data and secondary data of books or related documents.
The approach in this research is semiotic approach. This research data is bait and row in
Asmarandana pupil of R.A Bratawijaya which analyzed by Semiotika Michael Rifaterre. Source
of data derived from the book GUGURITAN essay Ajip Rosidi. Data acquired by observation,
heuristic and hermeneutic readings. Data were analyzed by using qualitative descriptive analysis
technique.
The results showed (1) This heuristic reading tells about compassion to fellow human
beings and advises. (2) The result of hermeneutic reading shows the meaning contained in
Asmarandana pupil is about the image of a human who has a sense of regret. (3) The matrix in
this poem is compassion. The model in this poem is the lust that becomes a sense of regret. The
variant is found on the first stanza of the fourth line and the second line of the second line. (4)
Hipogram in this poem is the condition of a human being who has a sense of joy in the life of his
life.
Suggestions that can be reviewed is in conducting research with semiotic analysis devoted
to the community to be more thorough in reading a text. For the University to be divided. Semiotics
in Qualitative Research Methods. For further research to give more attention in his research.

Keywords: Interpretation, Text, Canto, Semiotik, Michael Riffaterre

I. Latar Belakang Masalah pendidikan, seperti di sekolah-sekolah, jenjang


Teks Éling-éling Mangka Éling dalam politik, seperti organisasi, komunitas dan juga
pupuh Asmarandana ini menggambarkan rasa jenjang kepercayaan penyebaran agama Islam.
asmara, kasih sayang (deudeuh asih) atau saling Nilai ajaran yang terkandung dalam teks Éling-
mencintai (nyaah) memiliki pesan kepada éling Mangka Éling disampaikan oleh orang tua
khalayak dan mempunyai nilai budaya yang kepada anaknya, pengajar kepada muridnya, dan
tinggi diantaranya bersifat ajaran-ajaran budi maupun ulama kepada umatnya. Besarnya
pekerti yang difungsikan sebagai jenjang manfaat pupuh berimplikasi pada
keberlangsungan pupuh yang masih berkembang akan mendapatkan tema puisi yang
sampai saat ini. Untuk melestarikan warisan dari sesungguhnya. Dalam penelitian ini, makna
nenek moyang dan memperkenalkan pupuh ini pupuh Asmarandana dilakukan dengan cara
diperlukan usaha yang harus dilakukan, yaitu mencari tanda-tanda penting yang terdapat dalam
dengan cara memepelajarinya agar mudah pupuh kemudian memaknainya. Untuk mencari
dipahami dan diingat dalam benak masyarakat. tanda-tanda tersebut tentu saja tidak bisa
Pupuh Asmarandana dikenal salah satu dilakukan dengan satu, dua atau tiga kali baca
bentuk karya sastra yang lahir dari perasaan serta saja, tetapi membutuhkan pembacaan secara
pemikiran atas pengalaman diri dan kondisi berkesinambungan. Dengan kata lain, peneliti
masyarakat yang terjadi pada saat itu, pupuh ini harus menelusuri kata-kata pada puisi untuk
terdapat suatu proses penyampaian pesan secara mencari tanda-tanda yang terdapat dalam pupuh
tidak langsung kepada masyrakat di setiap Asmarandana dan tanda-tanda tersebut diberi
baitnya. Terlepas dari beberapa kelebihan yang makna. Dengan demikian, dapat ditelusuri
terkandung dalam pengembangan diatas, tersirat tenunan-tenunan benang maknanya.
sebuah kekhawatiran yang timbul. Pupuh Telah kita pahami bahwa pupuh atau puisi
merupakan warisan yang sangat berharga, karena sunda merupakan media komunikasi massa yang
pupuh merupakan bagian dari kebudayaan dan terdapat unsur pengirim dan penerima pesan.
kesenian tradisi. Pesan yang disampaikan dalam teks pupuh
Pupuh ini terbentuk dari sistem norma tersebut berisi tentang makna dan nilai-nilai
bahasa yang umum dengan tujuan untuk bahkan pendapat yang dikemukakan oleh
mendapatkan efek puitis. Ketidaktahuan isi pengarang. Jenis komunikasi massa dalam teks
pupuh itu menjadi hambatan dalam tindak pupuh ini dapat diaertikan kepada sejumlah
pembacaan sebuah pupuh dan proses khalayak yang tersebar dan bersifat heterogen
komunikatif antara pembaca dengan teks. Makna melalui media cetak dan elektronik sehingga
nasehat yang terkandung dalam sastra sunda pesan yang sama dapat diterima secara serentak
seperti itu juga terdapat dalam teks pupuh dan sesaat akan menimbulkan perubahan pada
Asmarandana yang berjudul Éling-éling Mangka dinamika sosial yang terjadi. Dengan demikian,
Éling sehingga menimbulkan dimensi pemahaman tentang teks pupuh sebagai proses
interpretasi. komunikasi massa mengarah pada proses
Pupuh terdapat tanda-tanda yang secara penyampaian ide dan gagasan pencipta kepada
tidak langsung memiliki makna, yang jika digali
khalayak melalui media yang berupa karya 2. Kegunaan Praktis
sastra. Hasil penelitian ini diharapkan dapat
II. Maksud Penelitian memberikan pemahaman tentang kajian
semiotik secara menyeluruh mengenai
Adapun maksud dari penelitian ini
sebuah pemaknaan yang ada di dalam
adalah untuk mengetahui Interpretasi Teks
sebuah teks.
“Éling-éling Mangka Éling”.
V. Tinjauan Pustaka
III. Tujuan Penelitian
1. Definisi Komunikasi
1. Untuk mengetahui Bagaimana
Komunikasi pada hakikatnya adalah
Pembacaan Heurestik Dalam Teks
proses penyampaian pikiran atau
Éling-éling Mangka Éling.
perasaan oleh seseorang (komunikator)
2. Untuk mengetahui Bagaimana
kepada orang lain (komunikan). Pikiran
Pembacaan Hermeneutik Dalam
bisa berupa gagasan, informasi, opini,
Teks Éling-éling Mangka Éling.
dan lain-lain yang muncul dari
3. Untuk mengetahui Bagaimana
benaknya. Perasaan bisa berupa
Matriks, Model, dan Varian Dalam
keyakinan, kepastian, keragu-raguan,
Teks Éling-éling Mangka Éling.
kekhawatiran, kemarahan, keberanian,
4. Untuk mengetahui Bagaimana
kegairahan, dan sebagainya yang timbul
Hipogram Dalam Teks Éling-éling
dari dalam lubuk hati. Banyak
Mangka Éling.
definisidefinisi tentang komunikasi
IV. Kegunaan Penelitian
muncul dan berkembang dari masa ke
1. Kegunaan Teoritis
masa. Banyaknya definisi tersebut
Secara teoritis, penelitian ini, baik secara
setidaknya ada tiga kerangka
langsung maupun tidak langsung, dapat
pemahaman mengenai komunikasi,
dijadikan bahan kajian lebih lanjut
yakni Komunikasi sebagai tindakan satu
mengenai masalah-masalah yang
arah, komunikasi sebagai interaksi, dan
menyangkut bidang Ilmu Komunikasi
komunikasi sebagai transaksi.
pada tataran studi Semiotika, khususnya
2. Definisi Teks
dengan pendekatan semiotik Michael
Teks adalah segala bentuk Bahasa,
Riffaterre yang terdapat dalam sebuah
karya Pupuh Sunda. bukan hanya kata-kata yang tercetak
dilembar kertas, tetapi juga semua jenis
ekspresi komunikasi, ucapan, music, tertentu, memenuhi fungsi tertentu dan
gambar, efek suara, citra, dan terikat pada situasi-situasi pemroduksian
sebagainya. Dalam teori bahasa, apa dan penerimaan tertentu. Oleh sebab itu,
yang dinamakan teks tidak lebih dari terdapat kondisi-kondisi makna yang
himpunan huruf yang membentuk kata bersifat internal teks maupun eksternal
dan kalimat, yang dirangkai dengan teks yang akhirnya berhadapan dengan
sistem tanda yang yang disepakati oleh cara mendefinisikan dan menganalisis
masyarakat, sehingga sebuah teks ketika konteks ekstralinguistik (Stefan
dibaca bisa mengungkapkan makna Titscher, 2009: 34-35).
yang dikandungnya. Eriyanto dalam
3. Definisi Sastra
bukunya, Analisis Wacana,
Kata sastra dalam bahasa Indonesia
menyebutkan bahwa teks hampir sama
berasal dari kata Sansakerta; akar kata
dengan wacana, bedanya kalau teks
sas- dalam kata kerja turunan berarti
hanya bisa disampaikan dalam bentuk
‘mengarahkan, mengajar, memberi
tulisan saja, sedangkan wacana bisa
perunjuk atau instruksi. Akhiran –tra
disampaikan dalam bentuk lisan maupun
biasanya menunjuk alat, sarana. Maka
tertulis (Eriyanto, 2001: 3).
dari itu sastra dapat berarti ‘alat untuk
Salah satu definisi teks yang paling mengajar, buku petunjuk, buku
dikenal luas adalah pandangan de instruksi, kamasastra, buku petunjuk
Beaugrande dan Dressler yang mengenai seni dan cinta’. (Teeuw dalam
mengatakan bahwa teks adalah sebuah Alex Sobur, 2014 : 23)
peristiwa komunikatif yang harus
Tetapi penjelasan Van Luxemburg,
memenuhi beberapa syarat, yakni tujuh
Bal, Weststeijn dalam buku Tentang
kriteria teks yang akan dikaji pada
Sastra menyatakan bahwa setiap definisi
pembahasan selanjutnya. Menurut
sastra pada dasarnya terikat oleh waktu
definisi ini, tanda lalu lintas, artikel di
dan budaya, karena sastra merupakan
surat kabar, argument, dan novel
hasil kebudayaan.
semuanya merupakan teks yang
berhubungan dengan kaidah genre-genre
atau tipe teks tertentu semua genre yang
disebutkan memiliki ciri-ciri linguistik
4. Sastra Sebagai Sistem seni pertunjukan erat sekali
Komunikasi hubungannya dengan komunikasi,
Dalam perspektif komunikasi, salah karena pada hakikatnya kesenian adalah
satu ciri karya sastra yang sangat penting berkomunikasi. Artinya melalui medium
adalah fungsinya sebagai sistem seni, seniman sebagai pencipta maupun
komunikasi (Ratna, 2004:297 dalam penyaji, melalui media kesenian
Sobur, 2014:20). Pada dasarnya karya tersebut, dia mengungkapkan isi hati,
sastra dihadirkan untuk menyampaikan idea, gagasan, cipta dan karsa dalam
suatu pesan kepada orang lain sebagai karya yang dibuatnya atau
komunikasi, pandangan ini sekaligus direpertoarnya.
menolak kecenderungan tradisional
Pupuh sebagai sebuah teks terbuka
yang menyatakan bahwa karya sastra
untuk multitafsir. Sebagaimana puisi,
semata-mata untuk memenuhui
bait-bait dalam pupuh bisa menceritakan
kepuasan pribadi dalam hal ini
sebatas sebuah kisah secara, bisa juga
pengarang.
mengisahkan apa yang sesungguhnya
Komunikasi dalam sastra penting
tersembunyi di balik teks bersangkutan.
sekaligus rumit, komunikasi sastra
Dengan begitu, pupuh bisa mengandung
bukan sekedar menyangkut bahasa saja
makna tersurat atau pun tersirat melalui
melainkan, lebih dari pada bahasa yang
seloka-seloka tertentu, bergantung apa
sudah dimodifikasi secara artifisial.
yang ingin dihadirkan oleh si
Kualitas para tokoh, seperti tokoh
penciptanya.
utama, kedua, ketiga dan seterusnya,
narrator dengan variasi status peranan Pupuh dicipta untuk diapresiasi

dalam proses interaksi, jelas merupakan sebagai media seni dan komunikasi,

sistem komunikasi yang sangat pupuh bisa disampaikan dengan

komplek, sangat rumit yang tidak berbagai cara. Ia bisa ditulis sebagai

dijumpai pada praksis kehidupan sehari- wawacan atau puisi semata atau

hari. dinyanyikan sebagai rumpaka dengan

5. Teks Pupuh iringan petikan kecapi, gesekan rebab,

Seni tembang Sunda merupakan dan tiupan seruling.

salah satu bentuk dari seni pertunjukkan,


Secara garis besar, pupuh dapat Wawacan Siti Nungrum, dan
diterapkan dalam bentuk : Wawacan Gagak Lumayung.
Selain pada wawacan, pupuh dapat
a. Tembang Sunda
diterapkan pada guguritan. Bila
Tembang Sunda banyak
wawacan berisi pupuh yang
mempergunakan pola pupuh,
membentuk prosa, sementara
terutama dalam lagu yang termasuk
guguritan berisi pupuh yang sifatnya
ke dalam rumpun dedegungan dan
lebih puitik dan lebih pendek serta
rarancagan. Pupuh yang digunakan
berisi nasihat. Walau demikian, ada
biasanya Kinanti, Sinom,
pula guguritan yang lebih panjang
Asmarandana, dan Dangdanggula.
dari wawacan. Namun, tidak semua
b. Beluk
ke-17 pupuh digunakan untuk
Beluk adalah sebuah bentuk seni
guguritan atau wawacan dalam
vokal berirama bebas dengan pupub
bahasa Sunda. Dari kesemua pupuh,
sebagai sumber rumpaka, yang
hanya empat yang sering digunakan
banyak menggunakan nada-nada
oleh masyarakat Sunda dalam
tinggi. Penyajian beluk
penulisan guguritan atau wawacan,
diselenggarakan pada saat orang
yakni Kinanti, Sinom,
berkenduri, misalnya pada acara
Asmarandana, dan Dangdanggula.
selamatan bayi 40 hari.
d. Parancah
c. Wawacan
Parancah adalah mantra yang
Wawacan adalah sebuah lakon
dipergunakan untuk menolak bahaya
dalam pola pupuh yang disajikan
atau gangguan roh jahat. Dalam hal
dalam bentuk nyanyian dan mulai
ini, pupuh digumamkan atau
ditulis pada abad ke-18. Isi wawacan
diucapkan dalam hati, bukan
bisa berupa kisah wayang, pantun
dinyanyikan.
(yang sebelumnya beredar secara
VI. Desain Penelitian
lisan), fiksional, tokoh legendaris
Sunda, dan tokoh sejarah. Contoh Pendekatan yang digunakan dalam
wawacan di antaranya: Wawacan penelitian ini adalah pendekatan semiotik. Hal
Panji Wulung, Wawacan Sulanjana, itu dilakukan mengingat semiotik merupakan
suatu pendekatan yang menekankan pada
aspek penggalian makna terhadap tanda dalam berfungsi sebagai sarana untuk memahami
suatu karya sastra. Endraswara menyebutkan beberapa hal yang disebut sebagai
bahwa tanda sekecil apa pun dalam pandangan ungramatikal (ketidakgramatikalan teks).
semiotik tetap diperhatikan (2003: 64). Pembacaan ini juga disebut dengan
Pendekatan semiotik yang akan dipakai pembacaan semiotik pada tataran pertama.
adalah semiotik model Michael Riffaterre. Dalam pembacaan pada tataran ini, masih
banyak arti yang beraneka ragam, makna yang
Pendekatan semiotik model Riffaterre
tidak utuh, dan ketakgramatikalan. Untuk itu,
dipakai berdasarkan pertimbangan bahwa
pembacaan pada tataran ini masih perlu
semiotik Riffaterre lebih mengkhususkan
dilanjutkan ke pembacaan tahap kedua.
pada analisis puisi. Riffaterre dalam bukunya
Pembacaan tataran kedua yang dimaksud
Semiotics of Poetry (1978) mengemukakan
adalah pembacaan hermeneutik. Pada
empat hal pokok sebagai langkah
pembacaan ini, akan terlihat hal-hal yang
pemerolehan makna, yaitu pembacaan
semula tidak gramatikal menjadi himpunan
heuristik, pembacaan hermeneutik, penentuan
kata-kata yang ekuivalen (Riffaterre, 1978: 5–
matriks, model, dan varian, dan hipogram.
6).
Tidak semua konsep dan teori yang digunakan
Riffaterre di atas akan digunakan untuk VII. Teknik Analisa Data
memaknai Teks Pupuh Asmradana “Éling -
Penelitian ini menggunakan teknik
éling Mangka Éling” secara semiotik, tetapi
analisis data deskriptif kualitatif dengan
hanya dua langkah pertama, yaitu pembacaan
pendekatan analisis semiotik. Penelitian
heuristik dan hermeneutik.
kualitatif merupakan penelitian yang bersifat
Dalam teks pupuh ini adalah pembacaan interpretatif, dimana dilakukan kajian
heuristik dan pembacaan hermeneutik. deskriptif pada suatu data untuk dijelaskan
Pembacaan heuristik adalah pembacaan pada atau dimaknai (Denzin dan Lincoln dalam K.
taraf mimesis atau pembacaan yang Sentana, 2010:5). Deskriptif kualitatif
didasarkan konvensi bahasa. Karena bahasa merupakan metode penelitian yang
memiliki arti referensial, pembaca harus memaparkan hasil analisisnya dengan
memiliki kompetensi linguistik agar dapat menggunakan kata-kata sesuai dengan aspek
menangkap arti (meaning). Kompetensi yang dikaji (Moleong, 2008:11).
linguistik yang dimiliki oleh pembaca itu
Analisis semiotika yang digunakan seperti susunan bahas normatif,
adalah teori semiotika Riffaterre. Riffaterre diberitambahan kata sambung (dalam
merupakan salah satu tokoh semiotika kurung), kata-kata dikembalikan ke dalam
berkebangsaan Perancis. Menurut Riffaterre bentuk morfologisnya yang normatif.
hal yang perlu diperhatikan untuk menguak Pembacaan heuristik akan mempermudah
makna yang terkandung dalam teks pupuh, analisis tahap selanjutnya. Berikut ini adalah
yaitu : pembacaan heuristik pupuh Asmarandana
“Éling - éling Mangka Éling”.
1) Pembacaan Heuristik
2) Pembacaan Hermeneutik Bait Pertama Baris Ke Satu :
3) Matriks, Model, dan Varian Eling-éling mangka éling
4) Hipogram Sadar-sadar(lah), harus sadar
Bait Pertama Baris Ke Dua :
Data yang dianalisis adalah Pupuh
Rumingkang di bumi alam
Asmarandana Éling-éling Mangka Éling. Data
(Bahwa) hidup di alam dunia
tersebut bersifat kualitatif sehingga
Bait Pertama Baris Ketiga :
penjelasannya dijabarkan dalam bentuk
Darma wawayangan bae
deskriptif atau uraian. Deskriptif didapatkan
Berdrama (hanyalah) ibarat wayang
melalui analisis terhadap pupuh tersebut,
Bait Pertama Baris Keempat :
sehingga terbentuk pemahaman dan kejelasan.
Raga taya pangawasa
Langkah terakhir dalam penelitian ini adalah
Badan (yang) tidak punya kuasa
pengambilan kesimpulan. Simpulan diambil
Bait Pertama Baris Ke Lima :
setelah dilakukan pembahasan menyeluruh
Lamun kasasar lampah
mengenai aspek-aspek yang diteliti dalam
Kalau tersesat (dalam) melangkah
pupuh.
Bait Pertama Baris Ke Enam :
VIII. Hasil dan Pembahasan
Nafsu nu matak kaduhung
1. Pembacan Heurestik
Nafsu yang (akan) menjadi penyesalan
Dalam penelitian ini tahap pertama yang
Bait pertama Baris Ketujuh :
dilakukan adalah pembacaan pupuh secara
Badan anu katempuhan
heuristik atau menaturalkan teks pupuh agar
Diri (kitalah) yang akan menerima
lebih mudah dipahami. Untuk menjelaskan
akibatnya
arti bahasa perlu susana kalimat dibalik
Bait Kedua Baris Ke Satu : 2. Pembacaan Heurmenetik
Jisim nu ngarasa nyeri, Pembacaan Heurmenetik ini merupakan
Diri (yang) merasa sakit pembacaan tahap kedua dimana pada
Bait Kedua Baris Ke Dua : prosesnya, pembacaan dilakukan agar dapat
Raga nu ngarasa lara, menginterpretasikan tanda-tanda semiotik
Badan (yang) terasa merana yang ada dalam pupuh. Hasil dari
Bait Kedua Baris Ke Tiga : pembacaan heurmeuneutik adalah sebuah
Hate nu ngarasa cape, tafsiran pembaca terhadap sebuah karya
Hati (yang) merasa capek sastra. Adapun pembacaan heuristik dalam
Bait Kedua Baris Ke Empat : teks ini adalah:
Hareudang nyandang wiwirang,
Dari teks pupuh Asmarandana “Éling-
Gerah (karena) (harus) menanggung
éling Mangka Éling” di atas adalah
dosa yang memalukan
implikasi adanya hubungan pencipta dengan
Bait Kedua Baris Ke Lima :
suasana pada saat itu. Pada baris pertama
Purwa perbawa hawa,
kata “Éling-éling” atau “Sadar-sadarlah”
(Di)karenakan terbawa nafsu
memberikan sebuah pesan melalui sebuah
Bait Kedua Baris Ke Enam :
teks pupuh ini untuk segeralah menyadarkan
Ujub sumaah takabur,
diri, adanya rasa kasih sayang sesama umat
Ujub, sub’ah, takabur (dan) ria
manusia untuk mengingatkan bahwa hidup
Bait Kedua Baris Ke Tujuh :
ini hanyalah sementara.
Ria ku panggoda setan.
Ria karena (di) goda Syaithan Pada baris kedua, menggambarkan
bahwa manusia hidup di alam dunia ini
Pembacaan hereustik dalam teks di atas
hanyalah sementara. Manusia berlomba-
hanya menghasilkan arti bahasa saja karena
lomba mengejar, hingga kepayahan, dan
pembacaan teks “Éling - éling Mangka
hidupnya tersungkur hanya diarahkan untuk
Éling” berdasarkan konvensi kebahasaan,
mengejar kenikmatan dunia. Kenikmatan
belum sampai pada makna yang terkandung
yang diinginkan manusia dalam
didalamnya. Oleh karena itu, teks harus
kehidupannya itu hanyalah kenikmatan
dibaca secara hermeneutik yaitu pembacaan
yang semuanya hanyalah ilusi.
berdasarkan konvensi sastra agar diperoleh
makna yang lebih penuh.
Pada baris ketiga memberikan nasihat Pada baris ke tujuh, “diri kitalah yang
kepada pembaca bahwa hidup ini ibarat akan menerima akibatnya” merupakan
wayang, sebab semuanya sudah ada yang sebab akibat dari apa yang sudah diperbuat
mengatur. Kata “wayang” mengumpamakan dalam hidupnya. Dalam kalimat ini
manusia yang dimana takdir hidupnya telah seseorang yang salah mengambil keputusan
diatur oleh sang pencipta, begitupun sebuah maka akan menerima akibatnya.
wayang yang dituntun bergerak
Kalimat “diri merasa sakit”, “badan
menjalankan jalan cerita sesuai kehendak
terasa merana”, dan “hati merasa capek”
dalang.
pada bait kedua baris pertama, ke dua, dan
Pada baris ke empat dengan kalimat ke tiga. Menggambarkan sosok manusia
“badan tidak punya kuasa” sangat yang mengalami rasa penyesalan atas
menunjukan manusia merupakan makhluk tingkah lakunya ketika mengambil sebuah
ciptaan tuhan yang paling sempurna keputusan.
dibandingkan makhluk lainnya, namun tetap
Kalimat “gerah karena harus
dengan kesempurnaan nya itu seorang
menanggung dosa yang memalukan” dan
manusia tidak mempunyai kuasa lebih dari
“dikarenakan terbawa nafsu” dalam baris ke
kehendak sang penciptanya.
empat dan ke lima ini bahwa, penyair R.A
Pada baris kelima, kalimat “kalau Bratawijaya menegaskan sosok yang
tersesat dalam melangkah” menunjukan dimaksudkan mempunyai rasa kekesalan
adanya batasan dan aturan dalam hidup ini. atas perbuatan yang begitu memalukan
Sehingga khalifah di muka bumi tidak dikarenakan hawa nafsu yang begitu besar.
sepantasnya salah dalam menjalani hidup. Kata “gerah” disini menganalogikan
kekesalan yang timbul dalam diri seseorang
Pada baris ke enam, kalimat “nafsu yang
manusia (individu).
akan menjadi penyesalan” kata (nafsu) yang
berarti sebuah dorongan hati yang kuat Pada baris ke enam dan ke tujuh, “Ujub,
untuk berbuat apa yang menjadi kehendak sub’ah, takabur dan ria, Karena godaan
seseorang dalam mengambil keputusan, Syaithan”. Menggambarkan kesalahan
tanpa dipungkiri keputusan tersebut akan berdampak pada hati yang lelah akan dosa
berdampak rasa penyesalan. yang tak seharusnya dilakukan akibat nafsu
yang menggerutu, dan menjadikan
muculnya rasa kesombongan karena godaan memiliki kekuasaan yang besar selain sang
setan. pencipta.

3. Matriks, Model, dan Varian Varian II : “Hati yang merasa capek”


Baris-baris yang tersusun dalam sebuah varian ini menandakan bahwa seorang
puisi, pada dasarnya terdapat satu gagasan manusia merasa menyesal dan tidak berdaya
yang membangun terjadinya puisi tersebut. atas segala sesuatu hal yang dilakukan nya.
Matriks ini berupa satu kata, gabungan kata,
4. Hipogram
bagian kalimat atau kalimat sederhana
Menurut Teeuw (via Wiyatmi, 2006:97),
(Riffaterre, 1978: 25). Matriks merupakan
hipogram adalah karya sastra yang
merupakan kata kunci dari suatu pupuh.
melatarbelakangi munculnya suatu karya
Untuk memahami suatu pupuh haruslah
sastra. Hal ini menunjukan bahwa karya
dicari matriks atau kunci penafsiran sajak
sastra tidak akan lahir tanpa adanya karya
yang dikonkretasikan (Pradopo, 2010: 299).
sastra yang lain. Menurut Riffaterre karya
Adapun matriks dalam Teks “Éling - éling
sastra baru dapat dipahami apabila dikaitkan
Mangka Éling” karya R.A Bratawijaya ini
dengan karya sastra sebelumnya. Pada
adalah “Kasih Sayang”.
dasarnya, ada dua hipogram menurut
Selain matriks, terdapat model yang Riffaterre yaitu hipogram yang mengaitkan
merupakan kata atau kalimat yang mewakili karya sastra dengan karya sastra yang lain,
keseluruhan teks pupuh, model dalam teks dan hipogram yang dilatarbelakangi sejarah
“Éling - éling Mangka Éling” karya R.A dalam pembuatan karya sastra tersebut, atau
Bratawijaya ini adalah “nafsu yang akan disebut dengan hipogram aktual.
menjadi penyesalan”. Setiap baris
Adapun hipogram dalam teks pupuh
mendeskripsikan seorang manusia yang
Asmarandana “Éling - éling Mangka Éling”
salah melangkah dalam kehidupannya.
adalah hipogram aktual yang menjadi latar
Selanjutnya model tersebut penciptaan teks baru. Hipogram aktual
ditransformasikan lagi menjadi varian terwujud dalam teks-teks yang ada
berupa masalah-masalah yang ada dalam sebelumnya, baik berupa mitos, maupun
setiap bait. teks sastra yang lainnya.

Varian I : “Badan yang tidak punya kuasa”, Sebagai seorang penyair R.A
varian ini menandakan bahwa manusia tidak Bratawijaya memiliki hubungan emosional
dengan situasi dan kondisi saat itu. Ia alam semesta beserta seluruh isinya. Dalam
menuangkannya melalui bait-bait pupuh surat ini Allah ta’ala menjelaskan bahwa
yang penuh dengan makna karena karya seluruh manusia benar-benar berada dalam
sastra dipercaya mampu menyadarkan orang kerugian. Kerugian yang dimaksud dalam
lain dan memberi pemahaman secara ayat ini bisa bersifat mutlak, artinya seorang
lembut. Sebagai seorang muslim, ia juga merugi di dunia dan di akhirat, tidak
tentu memiliki latarbelakang tersendiri mendapatkan kenikmatan dan berhak untuk
dengan sudut pandang agama dalam dimasukkan ke dalam neraka. Bisa jadi ia
menasehati seseorang sehingga beliau hanya mengalami kerugian dari satu sisi
mengungkapkannya dalam bentuk pupuh. saja. Oleh karena itu, dalam surat ini Allah
mengeneralisir bahwa kerugian pasti akan
Teks “Éling - éling Mangka Éling”
dialami oleh manusia kecuali mereka yang
Karya R.A Bratawijaya merupakan refleksi
memiliki empat kriteria dalam surat
atau penghayatan seoarang penyair terhadap
tersebut.
makna yang terkandung dalam kitab suci.
Hal ini menunjukan adanya pengaruh antara 5. Interpretasi Teks “Éling-éling
kepercayaan (agama) yang dianut seorang Mangka Éling”
penyair dengan karya-karya yang Dari hasil analisis yang sudah diuraikan
diciptakannya. Kitab suci yang dapat dengan pendekatan Semiotik Michael
dipelajari dan dihayati oleh seorang penyair Riffaterre ini, peneliti dapat
itu dapat menjadi pijakan dalam berkarya menginterpretasikan Teks Pupuh
seperti terlihat dalam teks pupuh Asmarandana “Éling - éling Mangka Éling”
Asmarandana “Éling - éling Mangka dalam dua hal. Pertama teks “Éling - éling
Éling”. Teks ini berisi “rasa kasih sayang Mangka Éling” merupakan pupuh yang
atau nasihat” yang diekspresikan secara menyampaikan pesan tentang siklus
implisit, tetapi tertata utuh sehingga tetap kehidupan manusia. Siklus kehidupan dalam
terasa nilai-nilai kepuitisannya. pupuh ini terlihat jelas pada baris pertama
maupun akhirnya yang terdapat kata
Adapun dalil dalam islam agar kita benar
Rumingkang di bumi alam (Bahwa hidup di
dalam menasehati yaitu pada surah al-Ashr
alam dunia) dan Darma wawayangan bae
berfungsi menampilkan bukti kekuasaan
(Berdrama hanyalah ibarat wayang).
Allah yang telah menciptakan dan mengatur
Sedangkan hasil yang kedua, penulis
mendapatkan hasil interpretasi yang lebih 3. Matriks, Model, dan Varian dalam Teks
sempit yaitu badan tidak punya kuasa yang Éling-éling Mangka Éling menunjukan
membuat hatinya merasa capek. Hal ini bisa Matriks sebagai inti dari teks Éling-éling
dibuktikan saat peneliti melakukan Mangka Éling akan ditransformasikan
pencarian mengenai varian-varian dalam menjadi model dan lebih jauh lagi
teks “Éling - éling Mangka Éling”. menjadi varian. Adapun matriks pada
teks ini adalah “Kasih Sayang”, dan
IX. Kesimpulan
ditransformasi menjadi model yaitu
1. Hasil pembacaan Heurestik dalam Teks
“Nafsu yang akan menjadi penyesalan”,
Éling-éling Mangka Éling yang
hal ini berkaitan erat dengan tahap
dilakukan tiap kalimat/baris
terkahir yaitu hubungan intertekstual
menunjukan bahwa teks ini bercerita
yang merupakan faktor atau
tentang rasa kasih sayang dan nasihat
latarbelakang pembuatan teks.
kepada manusia di alam dunia.
4. Hipogram dalam Teks Éling-éling
2. Pembacan Heurmenetik dalam Teks
Mangka Éling yaitu hipogram aktual,
Éling-éling Mangka Éling menunjukan
karena hipogram aktual terwujud dalam
bahwa penyair mengharapkan segeralah
teks-teks yang ada sebelumnya, baik
bertaubat dan kembalilah kejalan yang
berupa mitos, maupun teks sastra yang
benar. Hidup di dunia ini jangan sampai
lainnya. Teks ini menunjukan adanya
tersesat dalam melangkah dan jangan
pengaruh antara kepercayaan (agama)
mengikuti keinginan hawa nafsu. Jika
yang dianut seorang penyair teks
perkara itu dilakukan dapat
tersebut menjadi latar penciptaan teks
mengakibatkan rasa penyesalasan dan
baru.
diri kitalah yang dapat menanggung
5. Hasil interpretasi penelitian dalam Teks
akibatnya. Dengan ini, penyair
Pupuh Asmarandana “Éling - éling
memberikan pesan lewat pupuh untuk
Mangka Éling” ada dua hal. Pertama
menyadarkan sosok manusia cepatlah
teks “Éling - éling Mangka Éling”
bersadar bahwa hidup di dunia ini hanya
merupakan pupuh yang menyampaikan
sementara dan sadarlah bahwa hidup ini
pesan tentang siklus kehidupan manusia.
ibarat seperti wayang sudah ada yang
Sedangkan hasil yang kedua, penulis
mengatur.
mendapatkan hasil interpretasi yang
lebih sempit yaitu badan tidak punya Pangjejer Kaset, 17 Lagu Pupuh. Bandung:
kuasa yang membuat hatinya merasa Pustaka Buana.
capek.
Pradopo, Rahmat Djoko. 2010. Pengkajian

X. Daftar Pustaka Puisi: Analisis Strata Norma dan

Sumber Buku Analisis Struktual dan Semiotik.


Yogyakarta: Gajah Mada University
Aminuddin. 2009. Pengantar Apresiasi Karya
Press.
Sastra. C.V. Sinar Baru Bandung.
Ratih, Rina. 2016. Teori dan Aplikasi
Ardianto, Elvinaro & Bambang Q-Anees.
Semiotik Michael Riffaterre.
2007. Filsafat Ilmu Komunikasi.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Bandung: Simbiosa Rekatamamedia.
Rosidi, Ajip. 2013. Mengenal Kesusastraan
Dedy N. Hidayat, 2003. Paradigma dan
Sunda. Bandung: Pustaka Jaya.
Metodologi Penelitian Sosial Empirik
Klasik. Jakarta: Departemen Ilmu Rosidi, Ajip. 2011. GUGURITAN. Bandung:

Komunikasi FISIP Universitas Kiblat Utama.

Indonesia. Sobur, Alex. 2008. Semiotika Komunikasi,

John W. Creswell. 2014. Penelitian Kualitatif Pengantar: Yasraf Amir Piliang.

dan Desain Riset, Memilih Diantara Bandung: Remaja Rosdakarya.

Lima Pendekatan (edisi ke- Sugiyono. 2015. Memahami Penelitian


3).Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Kualitatif.bandung: Alfabeta.

Moleong, Lexy J. 2010. Metode Penelitian Sumaryono, E. 1999. Hermeneutik: Sebuah


Kualitatif. Bandung: Rosdakarya. Metode Filsafat. Yogyakarta: Kanisius.

Mulyana, Deddy. 2008. Metodologi Waluyo, Herman J. 2000. Dasar-Dasar Teori


Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru Sastra. Bandung: Angkasa Bandung.
Ilmu Komunikasi Dan Ilmu Sosial
West, Richard & Lyn H. Turner. 2008.
Lainnya. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Pengantar Teori Komunikasi Analisis
Mulyana, Deddy. 2007. Ilmu Komunikasi Dan Aplikasi (Buku Satu). Jakarta.
Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Salemba Hunanika.
Rosdakarya.
Internet : Habibah, Ayu, Sri. 2015. IDEOLOGI
SOSIALISME MARXISME DAN
elib.unikom.ac.id
PERJUANGAN KELAS DALAM PUISI
http://pustaka.unpad.ac.id/wp-
“SOLIDARITÄTSLIED” KARYA
content/uploads/2009/10/naskah_dan_d
BERTOLT BRECHT: KAJIAN
oa_dalam_rumpaka_tembang_cianjuran
SEMIOTIK RIFFATERRE. Yogyakarta.
.pdf
Universitas Negri Yogyakarta. Fakultas
https://andirustandisunarya.wordpress.com/2 Bahasa dan Seni.
014/01/03/guguritan/

http://www.wacananusantara.org/pupuh-
sunda/

https://muslim.or.id/2535-tafsir-surat-al-ashr-
membebaskan-diri-dari-kerugian.html

Karya Ilmiah :

Arfan, Khusnul. 2013. ANALISIS


SEMIOTIKA RIFFATERRE DALAM
PUISI DAS THEATER, STÄTTE DER
TRÄUME KARYA BERTOLT BRECHT.
Yogyakarta. Universitas Negri
Yogyakarta. Fakultas Bahasa dan Seni.

Andanasari, Sarah. 2012. INTERPRETASI


PUISI “AKU” KARYA CHAIRIL
ANWAR (Studi Kualitatif dengan
Pendekatan Hermeneutika mengenai
Interpretasi Puisi “Aku” Karya Chairil
Anwar dalam Buku Aku Ini Binatang
Jalang) Bandung. UNIKOM. Fakultas
Ilmu Sosial Ilmu Politik.

You might also like