Educatioanl Journal: General and Specific Research e-ISSN: 2808-5418
Vol. 1 No. 1 Oktober 2021, page 93-99
PENDALAMAN MATERI STANDAR ISI DAN STANDAR PROSES
KURIKULUM PENDIDIKAN INDONESIA
Rudi Ilhami
STAI Rakha Amuntai, Kalimantan Selatan, Indonesia
Corresponding author email: ruditalenta5@[Link]
Syahrani
STAI Rakha Amuntai, Kalimantan Selatan, Indonesia
syahranias481@[Link]
ABSTRACT
Actually the content standard covers the minimum material scope and minimum competency level to
achieve minimum graduate competence at certain levels and types of education. The curriculum is a set of
educational plans and programs that are used as a reference by educational institutions that are adapted
to the level and needs of students and by taking into account local culture. Policy on implementing the
education unit level curriculum (KTSP), government decisions and regulations relating to the educational
institution or level/type of school concerned. In the education process, curriculum management needs to
be implemented so that curriculum planning, implementation, and evaluation run more effectively,
efficiently, and optimally in empowering various learning resources, learning experiences, and curriculum
components. (Sulfemi 2018: 4) Process standards are national education standards related to the
implementation of learning in an educational unit to achieve graduate competency standards. The
learning process in educational units is held interactively, inspiring, fun, challenging, motivating students
to participate actively, and providing sufficient space for initiative, creativity, and independence in
accordance with the talents, interests, and physical and psychological development of students.
Keywords: Content Standards, Process Standards, National Education Standards
ABSTRAK
Sebenarnya standar isi mencakup lingkup materi minimal dan tingkat kompetensi minimal
untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan program pendidikan yang digunakan
sebagai acuan oleh lembaga penyelenggara pendidikan yang disesuaikan dengan jenjang
dan kebutuhan peserta didik serta dengan memperhatikan budaya lokal. Kebijaksanaan
penerapan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), keputusan dan peraturan
pemerintah yang berhubungan dengan lembaga pendidikan atau jenjang/jenis sekolah
yang bersangkutan. Dalam proses pendidikan perlu dilaksanakan manajemen kurikulum
agar perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kurikulum berjalan lebih efektif, efisien, dan
optimal dalam memberdayakan berbagai sumber belajar, pengalaman belajar, maupun
komponen kurikulum. (Sulfemi 2018: 4) Standar proses adalah standar nasional
pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satu satuan
pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan. Proses pembelajaran pada
satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan,
menantang memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang
yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan
perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
93
Kata Kunci: Standar Isi, Standar Proses, Standar Nasional Pendidikan.
PENDAHULUAN
Dalam kegiatan pembelajaran terutama bagi pendidikan tentu dasar dibutuhkan dan
standar kegiatan menengah. Standar-standar tersebut digunakan sebagai penentu pelaksanaan
pembelajaran. Implementasi Undang Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional dijabarkan ke dalam sejumlah peraturan antara lain Peraturan Pemerintah
Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Guru memiliki peranan penting
dalam mengimplementasikan kurikulum, berhasil tidaknya kurikulum bergantung pada
aktivitas dan kreativitas guru dalam mengembangkan dan merealisasikan kurikulum. Guru juga
harus mampu melaksanakan proses pembelajaran seseuai dengan Peraturan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 65 Tahun 2013 tentang standar proses,
tetapi tidak semua standar yang ditetapkan oleh pemerintah dimiliki oleh setiap satuan
[Link] itu dibutuhkan sarana dan prasarana yang menunjang pembelajaran.
Standar dapat diartikan sebagai patokan atau bisa juga dikatakan sebagai kriteria
minimal. Sebuah standar seringkali mengacu pada pencapaian minimal. Standar isi pada
Standar Nasional Pendidikan mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk
mencapai kompeteni lulusan pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Standar isi tersebut
memuat kerangka dasar dan struktur kurikulum, beban belajar, kurikulum tingkat satuan
pendidikan, dan kalender pendidikan/akademik. standar proses adalah kriteria mengenai
pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan dasar dan satuan pendidikan dasar
menengah untuk mencapai kompetensi lulusan. Sekolah tanpa tenaga pendidik yang standar
(Yanti, H., & Syahrani, S. 2021) yang menguasai standar isi dan standar proses kurikulum
pendidikan di Indonesia tanpa menguasai teknologi pengajaran, rasanya pembinaan intensif
Syahrani, S., dkk., 2022) yang dilakukan oleh pendidik dalam rangka pengembangan skill anak
didiknya berpeluang tidak maksimal, (Rahmatullah, A. S., dkk., 2022) bahkan seharusnya
standar pendidik juga mengarah kepada penguasaan digital, sebab semua yang berbasis
internet terasa lebih hebat, (Syahrani, S. 2021) pembelajaran yang adaptif internet saat ini
dianggap sebagai instansi yang modern (Syahrani, S. 2022) dianggap lebih maju dari sisi sarana,
skill dan manajemennya (Syahrani, S. 2022) sebab instansi yang model begini (Alhairi, R. M., &
Syahrani, S. 2021) terlihat lebih siap menghadapi zaman (Syahrani, S. 2022) dan dianggap siap
bersaing dengan dunia luar, (Shaleha, Radhia, and Auladina Shalihah, 2021) karena sudah
terbiasa dan adaptif dengan teknologi informatika yang terus berkembang, (Syahrani, S. 2018)
terlebih dalam Alquran sebenarnya banyak ayat yang membicarakan hal ini, agar umat Islam
tidak tertinggal dalam berbagai aspek termasuk dalam hal pendidikan (Syahrani, S. 2019) tentu
banyak strategi yang harus dijalankan agar mampu menguasai teknologi terkini dalam hal
pengembangan tugas guru dan tugas siswa berbasis internet, (Chollisni, A., dkk., 2022)
bagaimanapun hebatnya sebuah sekolah, tanpa adaptasi dengan perkembangan zaman masih
terasa ada yang kurang, (Kurniawan, N. M., & Syahrani, S. 2021) apalagi saat ini sudah banyak
instansi pendidikan yang bermutu dan teknologinya juga maju memberikan tugas berbasis
internet seperti jurnal dan blog, (Fitri, A., & Syahrani, S. 2021) jika punya tenaga pendidik yang
standard dan pandai berselancar diinternet, tentu lebih mudah dalam promosi instansi
pendidikan tempatnya mengabdi, dengan begitu diharapkan jalannya suatu sekolah jadi lebih
94
ideal sesuai impian, meski masih banyak kelemahan dan harus senantiasa dibenahi tiap saat
agar perkembangannya terus ada (Yanti, D., & Syahrani, S. 2022) manajemen kesiswaan juga
jangan lengah untuk dikembangkan (Helda, H., & Syahrani, S. 2022) semua harus bersinergi
dalam memaksimalkan sistem informasi berbasis internet (Syarwani, M., & Syahrani, S. 2022)
pimpinannya harus mampu membangkitkan semangat dewan guru dan semua peserta didik
(Fatimah, H., & Syahrani, S. 2022) sehingga lembaga pendidikannya semakin dianggap
berkualitas (Hidayah, A., & Syahrani, S. 2022) karena semua aspek punya standar (Ariani, A.,
& Syahrani, S. 2021) dan selalu bergerak sesuai standar operasional prosedur (Sakdiah, H., &
Syahrani, S. 2022) sebagai bukti kesiapan menjalani era 5.0 (Ariani, D., & Syahrani, S. 2022).
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode kajian literatur, kajian literatur merupakan langkah
pertama dan penting dalam penyusunan sebuah rencana penelitian. Kajian literatur adalah satu
penelusuran dan penelitian kepustakaan dengan membaca berbagai buku, jurnal, dan terbitan-
terbitan lain yang berkaitan dengan topik penelitian, untuk menghasilkan satu tulisan
berkenaan dengan satu topik atau isu tertentu. metode ini juga merupakan metode yang bukan
hanya mengumpulkan teori yang juga merupakan metode yang terkait tetapi melakukan
analisis dari kajian teori yang dilakukan. Kajian dalam penelitian ini mengumpulkan berbagai
macam kajian literatur yang sesuai dengan bahan kajian yang ingin diteliti kemudian ditelaah
teori yang bersangkutan dan diambil kesimpulan dan temuan penelitian yang dilakukan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengertian Standar Isi Kurikulum
Standar isi mencakup lingkup materi minimal dan tingkat kompetensi minimal untuk
mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Kurikulum
merupakan seperangkat rencana dan program pendidikan yang digunakan sebagai acuan oleh
lembaga penyelenggara pendidikan yang disesuaikan dengan jenjang dan kebutuhan peserta
didik serta dengan memperhatikan budaya lokal.( Sulfemi, 2018 : 3) Kebijaksanaan penerapan
kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), keputusan dan peraturan pemerintah yang
berhubungan dengan lembaga pendidikan atau jenjang/jenis sekolah yang bersangkutan.
Dalam proses pendidikan perlu dilaksanakan manajemen kurikulum agar perencanaan,
pelaksanaan, dan evaluasi kurikulum berjalan lebih efektif, efisien, dan optimal dalam
memberdayakan berbagai sumber belajar, pengalaman belajar, maupun komponen kurikulum.
Sulfemi dan Wahyu bagja (2016 :33) Undang-undang No. 19 tahun 2005 tentang standar
asioanl pendidikan, undang-undang ini mengatur tentang ketentuan umum, lingkup, fungsi
dan tujuan, standar isi, standar proses, standar kompetensi kelulusan, standar pendidikan dan
tenaga kependidikan, standar sarana dan pransarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan,
standar penilaian, Badan Standar Nasioanl Pendidikan, evaluasi, akreditasi, sertifikasi,
penjamin mutu, ketentuan peraliahan, ketentuan penutup. Standar isi adalah ruang lingkup
materi minimal dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi minimal lulusan
pada jenjang kompetensi tamatan,kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan
silabus pembelajaran. Dalam peraturan pemerintah No. 19 tahun 2005 yang membahas
standar isi yang secara keseluruhan mencakup hal-hal sebagai berikut: kurikulum tingkat
95
satuan pendidikan yang akan dikembangkan oleh satuan pendidikan berdasarkan panduan
penyusunan kurikulum sebagai bagian tidak terpisahkan dari standar isi.
Kurikulum dalam bahasa yunani berasal dari kata Curir yang artinya pelajar dan Curere
yang artinya tempat berpacu. Curere dalam kamus websters jika menjadi kata benda berarti lari
cepat, pacuan, balapan, uber kereta, berkuda, perjalanan, suatu pengalaman tanpa henti, dan
lapangan perlombaan. Menurut Saylor, Alexander dan Lewis (1974) kurikulum merupakan
segala upaya sekolah untuk mempengaruhi siswa agar dapat belajar, baik dalam ruangan kelas
maupun diluar sekolah. Sementara itu, menurut Harold B. Alberty (1985) memandang
kurikulum seagai semua kegiatan yang diberikan kepada siswa dibawah tanggung jawab
sekolah. Kurikulum adalah sebauh seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi
dan bahan pelajaran serta bahan yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan
pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (Sulfemi, Wahyu Bagja. 2018: 3).
Peranan dan Fungsi Kurikulum
Peranan kurikulum sebagai program pendidikan yang telah direncanakan secara
sistematis, kurikulum mengembang peranan yang sangat penting bagi pendidikan menurut
Hamalik (2007: 11-12) menyatakan terdapat tiga peranan kurikulum, yaitu: 1) Peranan
Konservatif, 2) Peranan Kritis atau Evaluatif, 3) Peranan Kreatif,
Adapun fungsi manajemen kurikulum adalah: 1) Meningkatkan efisiensi pemanfaatan
sumber daya kurikulum, pemberdayaan sumber maupun komponen kurikulum dapat
ditingkatkan melalui pengelolaan yang terencana dan efektif, 2) Meningkatkan keadilan
(equity) dan kesempatan pada siswa untuk mencapai hasil yang maksimal, kemapuan yang
maksimal dapat dicapai peserta didik tidak hanya melalui kegiatan intrakurikuler, tetapi juga
perlu melalui kegiatan ekstra dan kokurikuler yang dikelola secara integritas dalam mencapai
tujuan kurikulum, 3) Meningkatkan relevansi dan efektivitas pembelajaran sesuai dengan
kebutuhan peserta didik maupun lingkungan sekitas peserta didik, kurikulum yang dikelola
sacar efektif dapat memberikan kesempatan dan hasil yang relevan dengan kebutuhan peserta
didik maupun lingkungan sekitar, 4) Meningkatkan efektivitas kinerja guru maupun aktivitas
dalam mencapai tujuan pembelajaran, pengelolaan kurikulum yang professional, efektif dan
terpadu dapat memberikan motivasi pada kinerja guru maupun aktivitas siswa dalam belajar.
5) Meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses belajar mengajar, proses pembelajaran salau
dipantau dalam rangka melihat konsistensi antara desain yang telah direncanakan dengan
pelakasanaan pembelajaran. Dengan demikian, ketidaksesuaian anatara desain dengan
implementasi dapat dihindarkan. Disamping itu, guru maupun siswa selalu termotivasi untuk
melakssanakan pembelajaran yang efektif dan efisien karena adanya dukungan kondisi positif
yang diciptakan dalam kegiatan pengeloaan kurikulum, 6) Meningkatkan partisifasi masyarakat
untuk membantu mengembangkan kurikulum, kurikulum yang dikelola secara professional
akan melibatkan masyarakat, khususnya dalam mengisi bahan ajar atau sumber belajar perlu
disesuaikan dengan cirri khas dan kebutuhan pembangunan daerah setempat.
Standar Proses Kurikulum Pendidikan
Standar proses adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan
pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan. Proses
96
pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif,
menyenangkan, menantang memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta
memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan
bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. (Perundang-undangan
Pendidikan, Sulfemi, Wahyu Bagja) [2016/70] . Berdasarkan Permendikbud Nomor 65 Tahun
2013. Standar Proses dijabarkan sebagai suatu kriteria mengenai pelaksanaan pembelajaran
pada satuan pendidikan untuk mencapai Standar Kompetensi Lulusan. Dari penyusunan
tersebut bahwa standar proses merupakan suatu tahapan proses pembelajaran yang
menjabarkan mengenai kriteria atau yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
diartikan sebagai suatu ukuran tertentu yang menjadi dasar penilaian atau penetapan sesuatu,
kaitannya dengan pelaksanaan pembelajaran guna mencapai kompetensi lulusan. Standar
proses merupakan sebuah pedoman atau tahapan langkah-langkah bagi para guru saat mereka
memberikan pembelajaran dalam kelas, dengan harapan proses pendidikan yang berlangsung
bisa efektif, efesien dan inofatif. Sehingga beberapa target atau kriteria mengenai kompetensi
lulusan dapat tercapai dengan sempurna. Oleh karena itu. Permendikbud nomor 65 tahun
2013 mengamanatkan bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan harus
diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menentang, memotivasi peserta
didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas,
dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta
didik.
Pada saat inilah keahlian guru sebagai ujung tombak suksesnya proses pendidikan
dituntut memiliki keahlian dan kreativitas yang tinggi sehingga mampu mengemas proses
pembelajaran sesuai dengan yang diamanatkan. Tentu apabila proses pembelajran mampu
menciptakan suasana sebagaimana beberapa tahapan di atas, maka kualitas pendidikan di
Indonesia akan mengalami kemajuan yang sangat pesat. Bahkan bukan tidak mungkin proses
pendidikan di Indonesia akan mampu menyaingi sistem pendidikan di beberapa negara maju
lainnya, maka dari itu pada proses penerapan atau taktis pelaksanaan pembelajaran setiap
satuan pendidikan dituntut untuk mampu melakukan perencanaan pembelajran dengan baik,
sehingga pelaksanaan proses pembelajaran dapat berjalan semaksimal mungkin, serta penilaian
proses pembelajaran bisa diarahkan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas ketercapaian
kompetensi lulusan. Standar proses memiliki tahapan untuk terlaksanakannya proses
pembelajaran yang efektif dan efisien yaitu: a) Perencanaan Proses Pembelajaran (sesuai
dengan Permendikbud No 81 Tahun 2013 tentang implementasi kurikulum, perencanaan
proses pembelajaran meliputi silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang memuat
Identitas mata pelajaran, Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, indikator pencapaian
kompetensi, penilaian hasil belajar, tujuan pembelajaran, dan sumber belajar), b) Pelaksanaan
proses pembelajaran, c) Penilaian proses pembelajaran, d) Pengawasan proses pembelajaran.
KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa Standar isi adalah ruang
lingkup materi minimal dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi minimal
lulusan pada jenjang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata
pelajaran, dan silabus pembelajaran. Standar proses adalah standar nasional pendidikan yang
97
berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai
standar kompetensi lulusan. Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan
secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang memotivasi peserta didik untuk
berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan
kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta
didik.
DAFTAR PUSTAKA
Alhairi, R. M., & Syahrani, S. (2021). Budaya Organisasi dan Dampaknya Terhadap Lembaga
Pendidikan. Adiba: Journal of Education, 1(1), 79-87.
Ariani, A., & Syahrani, S. (2021). Standarisasi Mutu Internal Penelitian Setelah Perguruan
Tinggi Melakukan Melaksanakan Pengabdian Masyarakat. Adiba: Journal of Education,
1(1), 97-106.
Ariani, D., & Syahrani, S. (2022). Manajemen Pesantren Dalam Persiapan Pembelajaran 5.0.
Cross-Border 5(1), 611-621
Chollisni, A., Syahrani, S., Dewi, S., Utama, A. S., & Anas, M. (2022). The concept of creative
economy development-strengthening post covid-19 pandemic in Indonesia: Strategy
and public policy management study. Linguistics and Culture Review, 6, 413-426.
Fatimah, H., & Syahrani, S. (2022). Leadership Strategies In Overcoming Educational
Problems. Indonesian Journal of Education (INJOE), 3(2), 282–290.
[Link]
Fitri, A., & Syahrani, S. (2021). Kajian Delapan Standar Nasional Penelitian yang Harus
Dicapai Perguruan Tinggi. Adiba: Journal of Education, 1(1), 69-78.
Hamalik, Oemar. (2013). Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum. Bandung : PT Remaja
Rosdakarya.
Hamalik. (2007). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara
Helda, H., & Syahrani, S. (2022). National Standards of Education in Contents Standards and
Education Process Standards in Indonesia. Indonesian Journal of Education (INJOE),
3(2), 257–269. [Link]
Hidayah, A., & Syahrani, S. (2022). Internal Quality Assurance System Of Education In
Financing Standards and Assessment Standards. Indonesian Journal of Education
(INJOE), 3(2), 291–300. [Link]
Kurniawan, N. M., & Syahrani, S. (2021). Pengadministrasian Pendidikan Dalam
Meningkatkan Kualitas Pengelolaan Lembaga Pendidikan. Adiba: Journal of Education,
1(1), 88-96.
Rahmatullah, A. S., Mulyasa, E., Syahrani, S., Pongpalilu, F., & Putri, R. E. (2022). Digital era
4.0: The contribution to education and student psychology. Linguistics and Culture Review,
6, 89-107.
Sakdiah, H., & Syahrani, S. (2022). Pengembangan Standar Isi dan Stadarr Proses Dalam
Pendidikan Guna Meningkatkan Mutu Pembelajaran di Sekolah. Cross-Border 5(1),
622-632
Shaleha, Radhia, and Auladina Shalihah. "Analisis Kesiapan Siswa Filial Dambung Raya
Dalam Mengikuti Analisis Nasional Berbasis Komputer di SMAN 1 Bintang Ara
Kabupaten Tabalong." Joel: Journal of Educational and Language Research 1, no. 3 (2021):
221-234.
STKIP Muhammadiyah Bogor Sulfemi, Wahyu Bagja. (2019). Manajemen Pendidikan Berbasis
Multi Budaya. Bogor : STKIP Muhammadiyah Bogor
98
Sulfemi, Wahyu Bagja dan Abdul Qodir. (2017). Hubungan Kurikulum 2013 Dengan Motivasi
Belajar Peserta Didik Di SMK Pelita Ciampea. Edutecno 17 (2), 1-8
Sulfemi, Wahyu Bagja. (2016). Perundang-undangan pedidikan. Bogor: Program Studi
Administrasi Pendidikan STKIP Muhammadiyah Bogor.
Sulfemi, Wahyu Bagja. (2018). Manajemen Kurikulum di Sekolah. Bogor : Visi Nusantara Maju
Sulfemi, Wahyu Bagja. (2018). Modul Manajemen Pendidikan Nonformal. Bogor: STKIP
Muhammadiyah Bogor
Sulfemi, Wahyu Bagja. (2019). Manajemen Sekolah. Bogor : Program Studi Administrasi
Pendidikan STKIP Muhammadiyah Bogor
Syahrani, S. (2018). Manajemen Kelas yang Humanis. Al-risalah, 14(1), 57-74.
Syahrani, S. (2019). Manajemen Pendidikan Dengan Literatur Qur’an. Darul Ulum: Jurnal Ilmiah
Keagamaan, Pendidikan dan Kemasyarakatan, 191-203.
Syahrani, S. (2021). Anwaha's Education Digitalization Mission. Indonesian Journal of Education
(INJOE), 1(1), 26-35.
Syahrani, S. (2022). Kesiapan Santri Dalam Mengikuti Analisis Nasional PKPPS Anwarul
Hasaniyyah (Anwaha) Kabupaten Tabalong. Adiba: Journal of Education, 2(1), 23-31.
Syahrani, S. (2022). Model Kelas Anwaha Manajemen Pembelajaran Tatap Muka Masa Covid
19. Al-Madrasah: Jurnal Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah, 6(1), 38-47.
Syahrani, S. (2022). Peran Wali Kelas Dalam Pembinaan Disiplin Belajar di Pondok Pesantren
Anwarul.,Hasaniyyah (Anwaha) Kabupaten Tabalong. AlQalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan
dan Kemasyarakatan, 16(1), 50-59.
Syahrani, S., Rahmisyari, R., Parwoto, P., Adiyono, A., Bhakti, R., & Hartono, S. (2022). The
Influence of Transformational Leadership and work Discipline on the Work
Performance of Education Service Employees. Multicultural Education, 8(1), 109-125.
Syarwani, M., & Syahrani, S. (2022). The Role of Information System Management For
Educational Institutions During Pandemic. Indonesian Journal of Education (INJOE),
3(2), 270–281. [Link]
Yanti, D., & Syahrani, S. (2022). Student Management STAI Rakha Amuntai Student Tasks
Based on Library Research and Public Field Research. Indonesian Journal of Education
(INJOE), 3(2), 252–256. [Link]
Yanti, H., & Syahrani, S. (2021). Standar Bagi Pendidik Dalam Standar Pendidikan nasional
Indonesia. Adiba: Journal of Education, 1(1), 61-68.
99