Roti Kehidupan: Khotbah Keluarga Tuhan
Roti Kehidupan: Khotbah Keluarga Tuhan
Kitab keluaran ditulis untuk memberikan laporan tentang tindakan-tindakan Allah yang bersejarah dan
bersifat menebus sehingga Israel dibebaskan dari Mesir, ditetapkan sebagai bangsa pilihan-Nya, dan diberi
pernyataan tertulis mengenai perjanjian-Nya dengan mereka. Kitab ini juga ditulis sebagai mata rantai yang teramat
penting dalam keseluruhan penyataan diri Allah yang bertahap-tahap yang mencapai puncaknya di dalam diri Yesus
Kristus dan dalam PB. Pasal 16-18 menggambarkan Israel di padang gurun menuju ke Gunung Sinai. Allah menuntun
umatNya yang tertebus dengan tiang awan dan tiang api dan menyediakan manna, burung puyuh serta air, sambil
melatih mereka untuk berjalan dengan iman dan ketaatan.
Tuhan selalu menyediakan kebutuhan umat-Nya, penyertaan Tuhan tidak pernah terbatas, hal ini dapat kita
saksikan melalui kisah bangsa Israel di tengah padang gurun, meskipun mereka bersungut-sungut dan meragukan-
Nya namun Tuhan tetap menyediakan yang mereka perlukan. Bangsa Israel bersungut-sungut kepada Musa dan
Harun karena mereka merasa kelaparan di padang gurun. Mereka mengingat masa lalu di Mesir, meskipun itu
adalah masa perbudakan, sebagai masa yang lebih baik karena mereka memiliki makanan. Hal ini menunjukkan
betapa mudahnya manusia melupakan penyertaan Tuhan dan meragukan kebaikanNya ketika menghadapi
kesulitan.
KETERANGAN NATS
1. JANGANLAH BESUNGUT-SUNGUT
Dalam teks khotbah ini kita dikatakan Bersungut-sungutlah … kepada Musa. Orang Israel bersungut-sungut
kepada Musa dan Allah untuk ketiga kalinya (bn. 12:10-12, 15:24). Kendati semua yang telah dilakukan Allah bagi
mereka, mereka cepat sekali hilang kepercayaan akan kebaikan, hikmat dan kehendak-Nya untuk kehidupan merkea
(lih. Juga 17:3; Bil. 14:2; 16:11,41). Pada saat muncul persoalan-persoalan yang serirus, daripada menuduh Allah
telah mengabaikan dan tidak setia, hendaknya kita menyerahkan diri kepada-Nya dan dengan rendah hati mohon
pertolongan dalam menyelesaikan persoalan tersebut, serta percaya bahwa Dia akan bertindak bagi kita.
Sungut-sungut adalah istilah atau kata yang diartikan sebagai sebuah tindakan mengeluh dan
mempersalahkan Tuhan atau orang lain atas suatu keadaan tertentu. Bersungut-sungut merupakan tindakan yang
berkaitan dengan perkataatn mulut, namun ada hubungan mendalam dengan apa yang terkandung dalam hati,
sebab perkataan yang keluar dari mulut berasal dari hati. Sungut-sungut termasuk dosa.
Bersungut-sungut adalah reaksi spontan yang timbul karena ketidakpuasan, kekecewaan, ataupun kekesalan yang
timbul akibat apa yang diterima tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Karena ketidakmampuan mengatasi
kekecewaan dan ketidakpuasan, maka timbullah reaksi ini biasanya dimiliki oleh pribadi yang kurang bersyukur atau
tidak pernah bersyukur. Karenanya sikap dan respon selalu negativf.
Dalam kehidupan ini, kita mungkin seringkali menghadapi sistuasi yang membuat kita merasa seperti di
padang gurun, penuh dengan ketidakpastian dan kehawatiran. Kita mungkin tergoda untuk bersungut-sungut dan
meragukan penyertaan Tuhan. Namun, kita dingatkan bahwa Tuhan setia dan akan selalu menyediakan kebutuhan
kiita. Kita harus belajar bergantung padaNya setiap hari, mempercayai janjinya dan taan pada perintahNya. Marilah
kita, belajar untuk mengandalkan Tuhan dalam segala keadaan. Daripada bersungut-sungut, marilah kita belajar
untuk bersyukur dan mempercayai bahwa Tuhan akan memenuhi setiap kebutuhan kita sesuai dengan waktu dan
caranya.
1
Dalam pasal 16 ini kita bida melihat mengenai sifat mereka. Ketika bangsa Israel berangkat dari Elim dan
tiba di padang gurun Sin, setelah satu sengah bulan berada dalam perjalanan. Kelaparan dan mungkin bekal mereka
habis, mulailah mereka bersungut-sungut dan berkata: “Ah, kalau kami mati tadinya di Mesir… (ay 3). Tuhan
mengasihi mereka dengan mengirimkan hujan roti dari langit. Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa:….
Memunguti tiap-tiap hari sebanyak yang perlu untuk sehari…(ay.4). Perhatikan bahwa dalam ayat ini meski Tuhan
mengabulkan permintaan mereka, namun ada sebuah pesan penting dari Tuhan agar mereka memungut
secukupnya saja. Tapi mereka merasa belum juga cukup. Dari kisah turunnya hujan roti ini kita dapat pesan agar
mereka mengambil secukupnya saja. Jika hari ini ada diantara kita yang merasa masih hidup dalam kekurangan,
ingatlah bahwa sesungguhnya Tuhan telah memberikan segala sesuatu di muka bumi ini secara cukup untuk kita
olah, manfaatkan dan maksimalkan. Kita harus belajar untuk hidup dengan rasa cukup. Dan ingatlah bahwa
“memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Sebaliknya apabila anda diberkati hari
ini dengan penghasilan yang besar bersyukurlah dan pergunakan untuk memberkati sesama. Membantu yang
kekurangan, menolong yang kelaparan, semua itu adalah tugas dan kewajiban kita sebagai orang percaya.
Hendaklah kita semua hidup dengan rasa cukup dan tidak dikuasi oleh sifat serakah. Dalam keadaan apapun
tetaplah besyukur dan ingatlah bahwa di atas segalanya Tuhan sendiri yang akan memelihara hidup kita.
Di Ayat 4 dikatakan Allah Menurunkan dari langit Hujan Roti. ‘Roti dari langit’ ini dinamakan “manna” (ay.15).
Manna menjadi makanan khusus yang secara ajaib dikirim dari Allah untuk memberi makan umat itu setelah keluar
dari Mesir. Itu merupakan sesuatu berwarna putih seperti embun beku, berbentuk serpihan tipis, dan rasanya
seperti kue madu (ay. 14,31, Bil 11:9). Persediaan manna berhenti ketika Israel memasuki tanah perjanjian dan
tersedia makanan lain (Yos 5:12). Allah menyedikan manna untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia
bukan hidup dari roti saja, tapi manusia hidup dari segala (perkataan yang diucapkan Tuhan (Ula 8:1; bnd AY 16).
Allah menyediakan manna hanya selama 6 hari, tapi pada hari ke-7 tidak maksudnya untuk mengajar Israel supaya
tunduk kepada perintah Tuhan. Yesus Kristus memakai Manna menjadi lambang dari Yesus Kristus yang sebagai “roti
yang benar dari sorga” (Yoh 6:32; bd. Why 2:17) memberi hidup kekal (Yoh 6:33, 51, 58). Hidup yang kekal bisa
diperoleh seseorang hanya karena kematian Yesus.
Pangan merupakan kebutuhan pokok kita. Setiap hari kita memerlukan makanan. Sehingga kita harus menyadari
bahwa seusungguhnya roti adalah tanda ketergantungan manusia pada Allah. Sebab segala sesuatunya adalah
berasal dari Tuhan. Namun Tuhan Yesus menyatakan pada kita bahwa ada yang lebih penting untuk kita miliki selain
dari roti yang mengenyangkan itu, yakni Roti Hidup. Makanan yang kita konsumsi sehari-hari tentunya membuat kita
kenyang, namun tidaklah bertahan lama, sebab setelahnya kita akan kembali lapar. Tidak demikian dengan roti
hidup, yang dapat mengenyangkan dan melegakan kita sampai selama-lamanya.
Yang mau kita cari bukanlah rotinya, tetapi sumber dari roti itu berasal. Permasalahannya adalah siapa yang menjadi
sumber hidup kita. Sehingga orang yang percaya kepada Yesus sebagai roti kehidupan tidak asal hidup, asal makan.
Tetapi memiliki visi yang jauh kedepan, bahwa kita akan bersama-sama dengan Sumber Kehidupan itu selamanya.
Maka motivasi hidup kita harus jelas, kita bekerja bukan hanya untuk sekedar memenuhi kebutuhan
sejengkal perut, namun Tuhan Yesus mengatakan: “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa,
melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal…” (Yoh. 6:27). Konsep kerja memenuhi
kebutuhan fisik, tetapi Tuhan mau kita bekerja atas dasar iman kepada Tuhan yang memberikan kebutuhan
kehidupan kita. Tujuan kehidupan yang sesungguhnya bukan mencari hidup yang akan binasa tetapi hidup yang
kekal.
Hidup manusia tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan fisik saja, sebagaimana yang kita ketahui bersama tidak ada
yang dapat mempertahankan kekekalan kehidupan secara daging, namun Yesus menyadarkan kita untuk
memperhatikan kehidupan jauh ke depan bahwa ada hidup yang abadi dan itu hanya dapat dimiliki oleh orang
percaya kepada Kristus. Demikianlah halnya dengan Roti Hidup yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus, bahwa orang-
orang yang mencariNya itu menyadari bahwa ada yang lebih utama dari sekedar mencai makanan untuk kebutuhan
fisik yakni makanan rohami. Roti hidup hanya diperoleh dengan percaya kepada Yesus yang turun dari sorga, yang
memberikan jalan kehidupan yang kekal kepada manusia. Karena itu, marilah kita beruang untuk mencari Roti Hidup
yang akan membawa kita kepada kehidupan yang kekal. Amin
2
Bahan Sermon Daerah
Minggu XI Dung Trinitas, 11 Agustus 2024
Jamita: Efesus 4:25-32 ; Epistel: Psalmen 34:1-8; SP: Rom 12:2
Ojahan: Ngolu Naimbaru Dibagasan Holong Ni Kristus
Songon dia do ngolu na imbaru i? Sada parjamita mandok, ia ngolu na imbaru tanda do di parange ni
sasahalak naung marhamubaon na jungkat dohot na tangkang gabe burju, parbada gabe paraleale, na losok gabe
ringgas; na sai gaor gabe hohom; pargabus gabe haposan. Asa uli situtu do ngolu na marhaimbaruon i, ala ndang
sipasidingon manang sihabiaran ibana. Tandi parange, pangalaho, hadirion ni jolma ala haimbaruon i. Alai adong
parasinganna tu ngolu na imbaru pinaandar ni Apostel Paulus di turpuk on. Haimbaruon i ndang sae holan di diri ni
sasahalak, ai ingkon marguna ala manghorhon na uli haimbaruon i nang tuangka donganna. Ido sialana di dok ngolu
na imbaru di bagasan Kristus. Lapatanna, Kristus do sibingkasi manang sibonsiri ni haimbaruon. Ndang ala ni
pambahenanna jolma i umbahen boi marngolu na imbaru alai Alani Kristus do naung marniula di parngoluonna.
Apala on ma na paimbarhon haimbaruon siala Kristus dohot haimbaruon siala hamubaon tinahi ni jolma. Borhat sian
pangantusion on ma taida na pinodahon ni apostel Paulus na mansai arga situtu hangoluhononta di partingkian
nuaeng di parsaoran siganup ari.
Dibuha Apostel Paulus jamitana marhite poda pangajarionna marrumang pareta dia napatut siulaon jala dia
sipasidingon, na diorai, na so jadi ulaon ni angka siihuthon Kristus. Parenta na ingkon siparangehonon ni angka ruas
ima (a) mambolongkon gabus; (b) manghatahon na sintong; (c) unang mardosa; (d) mangintopi rimas; (e) ndang
pasiat sibolis; (f) unang manangko; (g) sumarihon ngolu; (h) unang manghatahon na busuk; (h) padengganhon na
hurang; (i) unang mangarsahi Tondi Parbadia; (j) padao riting ni roha; (k) manghangoluhon habasaron. Molo
tarimpun sude sosososo ni apostel on taida ma dia do poda na pinagothon dohot pasingothon ruas ni huria asa olo
manadingkon pangalaho na buruk. Bangko na suhat tu parsaoran ni siihuthon Kristus ingkon ditanggali asa unang
hajolmaonna mangarajai dirina. Sian pangantusion i ma boi taida ngolu na imbaru dibagasan Kristus marhite.
Udut ni poda manghatahon na sintong disosoi do hita asa unang mardosa uju tarrimas Ndang dosa molo
tarrimas, alai olo do sasahalak mardosa molo so boi diantan rimasna ala tubu parbadaan. On do niigil ni apostel i,
molo tarrimas sae ma dibagasan sadari, unang jolo mintop mata ni ari asa mombun rimas. Asa unang marganjang
rimas, diotapi ma partingkianna holan sadari. Dalan manjagahon hata dohot panghataion do molo dibahen suhat-
suhat ni tingki tarrimas di ngolu parsaoran ni halak Kristen. Nasa ruas ni huria ingkon boi mangarajai diri huhut
mangotapi rimasna asa unang madabu tu bagasan dosa. Angkup ni dijujui do hita manganju hagaleon ni dongan. Sae
ma sadari tingki maminsang na marsala asa muba. Tarrimas ndada laho mambahen mago jala patubu hagaoron.
Parjolo, ndang manangko, ringgas mangula, burju mangurupi na hurangan. Andorang so imbaru jolma dibagasan
Kristus, sai adong do panangko di sada punguan. Masielatan do jolma ala dao holong. Sudena i ingkon tadingkonon
ni naung sada dohot Kristus. Ndang dihalomohon Debata panangko. Pingkiran na dialo apostel Paulus i ma poda na
3
mandok, ‘’ngolu ni panangko boi dipaias molo dung gabe ruas ni huria’. Ndang diloas ibana pingkiran i martumbur di
punguan ni halak Kristen. Beha ma boi tigor ngolu ni panangko, na pamora diri so pola mangula?
Paduahon, ndang ruar hata na busuk sian pamangan alai tau padenggahon na humurang asa dapot uli na umbegesa.
Beha ma une jala dengganna manghatai tu dongan? Ndang jadi hata na busuk ruar sian pamangan. Hata na busuk
martudutudu ma i tu hata barangsi, na mangaleai dohot paoruhon sangap. Suharna ima hata na padengganhon.
Hata na busuk do na patubu bada, na so jadi ruar sian pamangan ni halak Kristen.
Patoluhon, unang mangarsahi Tondi Parbadia ni Debata naung disahaphon tu hamu tu ari haluaon i. Na mangarsahi
Tondi Parbadia ni Debata do molo mangoloi manang padiat sibolis. Dung gabe siihuthon Kristus ruas ni huria nunga
tarsahap dut dirina Tondi Parbadia ni Debata (1:13c-24), ai tondi ido na manguluhon ngolu ni jolma i sahat tu ari
haluaon. Hape molo dipasiat sibolis gabe sesa ma sahap i sian dirina. Ido pangalaho na mangarsahi Tondi Parbadia ni
Debata. Sahalak jolma naung tardidi, ibana ma naung tarsahap tu haluaon ni Kristus. Asa unang mangarsahi Tondi
Parbadia ni Debata, ingkon holang ma jolma sian parange na buruk; unang manangko jala unang ruar hata na busuk
sian pamanganna, unang dipasiat sibolis.
Dia ma nuaeng na ingkon siparangehononta? Parjolo, Marparsaoran na denggan di tonga huria, lambok
manghatai; ndang margabus jala tarrimas. Paduahon, unang dipasiat sibolis, ditadinghon ma hajolmaon na buruk,
unang manangko, alai burju mangurupi na hurangan. Patoluhon, ingkon dao riting ni roha, muruk, rimas, hata
songgak-songgak, insak-insak dohot nasa hajahaton. Diparangehon ma habasaron asi ni roha dohot haradeon
manesa dosa. Amen
4
BAHAN SERMON DAERAH
Minggu 18 Agustus 2024
XII dung Trinitatis
“MANGAMBOLONGKON HAOTOON JALA MANGEAHI DALAN PANGANTUSION”
Evanelium: Poda 9:1-6 [Link]: Jeremia 24:7
I. Patujolo
Di buku Poda 9:1-6 on manaringoti taringot tu Hapistaran na paradehon sada pesta na mansai balga
situtu. Digokhon do nasa jolma (orang yang tidak berakal dan tidak berpengalaman). Gokhon i gabe
sada panoguon laho maninggalhon NEANG NI ROHA jala paihutihut dalan hapantason. Martujuan
asa diboan Hapistaran i angka jolma na hurang roha gabe bertanggung jawab,gabe marbisuk: adong
panimbangion, mamillit dohot mambuat sada haputusan tu dalan na dumenggan. Tontu saluhutna i
ingkon do dibagasan Jesus Kristus, ai Ibana sandiri do Hapistaran i. Molo saonari hita toho di
persimpangan laho manontuhon dalan sidalananta, hata ni Debata di tingki on paingothon hita asa
marbisuk laho mamillit dalan sidalananta.
II. Hatorangan
Diturpuk on digombarhon do Hapistaran/bisuk i songo sada ratu na sangap jala serep marroha, buas
mangalehon. Hata ni Debata i do Hapistaran i, na marhite Hapistaran i dipasaut Debata sangkapna na
denggan i tu jolma.
Laho mangantusi Evangelium on, ingkon taantusi do lapatan ni hata Hapistaran i;
1. Aha do Hapistaran i?
2. Aha do naniulahon jala napinarade ni Hapistaran i?
3. Jala aha do napinodahon ni Hapistaran i?
Tapamanat ma dihatorangan na,
1. Aha do Hapistaran i?
Molo tabereng di buku Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Hapistaran manang Hikmat i ma
kebijakan; kearifan. Molo tabereng sian Bibel na tarsurat di buku Ayub 28:28; Psalmen 111:10; Poda
1:7; Poda 9:10 mandok “biar mida Jahowa do” i do habisukon i. Jadi jolma na malo dang na gabe tontu
halak na bisuk i, ala ndang tontu halak na malo biar mida Jahowa. Jolma na manjalo jala pasahathon
ngoluna tu Kristus i do jolma na bisuk.
2. Aha do naniulahon jala na pinarade ni Hapistaran i?
Hapistaran/Bisuk paradehon sada pesta bolon di sada inganan na ung diparade mansai denggan. Di ayat
1-2 mandok songon dia do Hapistaran i paradehon saluhut hombar tu pesta i i ma pajongjongkon sada
bagas na martiang 7 na manggobarhon togu ni inganan i jala tongam ni inganan i jala i ma surgo i,
naung pinarade ni Hapistaran i jala laos tu si do hita dijou. Mamotong angka pinahan dohot angka
siinumon na ummuli naung rade. Pesta i uli jala sangap situtu di namangathon angka naung rade i.
Nunga di lehon Jesus daging dohot mudarNa na gabe manobus hita sian dosa i, dipadomu hita tu Ama i.
Laos disuru ma angka parhobasna manjou ganup jolma di saluhut inganan, na tobok dohot jolma na
hurangan roha jala na neng roha asa ro tu pesta i. Molo angka jolma na mandok na pistar/bisuk do
dirina (Joh. 9:41) dang bongot tu pesta i jala ndang dirohahon panjouon i, jala i do haotoon i na
mamboan tu haholomon. Dijou Jesus ido angka jolma na hurangan roha jala na olo patutoru dirina asa
dapotan bisuk (1 Kor. 3:18).
Jesus i do hapistaran/bisuk i na paradehon inganan dohot angka ragam ni sipanganon nang siinumon asa
dipangan jolma i asa mangolu nian. Ro ma hita unang be marsidalian, na paluahon hita do umbahen ro
Jesus i laho mamboan hita tu inganan na pinaradeNa i.
3. Aha do napinodahon ni Hapistaran i?
Di ayat 5 didok ro ma jala pangan ma, namarlapatan jalo ma angka nauli situtu na adong holan di Jesus
ja na dapot daion holan marhite biar mida Debata. Molo nunga taulahon hata ni Debata jala manghirim
hita di janji ni Kristus, jajangkon pangapulion ni Kristus i ma naung tapangan angka naung pinaradeNa
i. Naung dijuo do hita tu sada pesta na manghasagathon sude angka naung rade na pinarade ni Jesus tu
angka jolma na pogos jala na hurang roha i. Di ayat 6 didok “manadingkon neang ni roha/kebodohan”,
asa mangolu jolma i jala ihuthon ma dalah hapantason. Adong 2 poda di ayat on, na parjolo
“Manadinghon neang ni roha” dohot na paduahon “mangihuthon dalan hapantason”. On ma tuntutan di
panjouon i asa tabolongko/tatadinghon roha na so pantas i sian ngolunta.
5
Didok Hapistaran i do asa manadinghon neang ni roha/haotoon, i ma pangalaho na mandok dirina malo,
berpengalaman, tingkos di adopan ni Debata, jala na so olo ro tu pesta i, angka jolma sisongonon ma.
Jala hamagoan do jambarna. Disiala ni i do asa dijou Hapistara i jolma tu pesta i asa dipangan naung
rade i gabe marhapistaran jolma i gabe mangolu. Lapatanna ro ma hita tu Jesus i, rade do Ibana
manjakhon hita. Jolma na olo ro, i do dapot hapistaran di ngoluna. Ta radoti ma dirinta marhite hata ni
Debata dohot bisuk na sian Tuhan i. Amen
6
orang percaya tidak terelakkan jika kalah dalam pertempuran itu seperti yang terlihat dari penyataan ‘hari yang yang
jahat’ dalam ayat 13.
7
pengaruh Iblis serta dosa untuk membawa proses pengudusan dari rancangan keselamatan yang sudah kita terima
melalui karya penebusan Kristus kepada kehidupan yang berkenan kepada Allah dan memuliakan Allah. Amin.