0% found this document useful (0 votes)
35 views8 pages

Roti Kehidupan: Khotbah Keluarga Tuhan

Sermon resort A

Uploaded by

irnasilaban44
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as DOCX, PDF, TXT or read online on Scribd
0% found this document useful (0 votes)
35 views8 pages

Roti Kehidupan: Khotbah Keluarga Tuhan

Sermon resort A

Uploaded by

irnasilaban44
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as DOCX, PDF, TXT or read online on Scribd

Bahan Sermon Daerah XI Sumatera Timur III

Minggu, 04 Agustus 2024


Evangelium: Keluaran 16:2-8 ; Epistel: Yohanes 6: 24-35
Tema: “ALLAH MENURUNKAN ROTI KEHIDUPAN BAGI UMATNYA”
PENDAHULUAN

Kitab keluaran ditulis untuk memberikan laporan tentang tindakan-tindakan Allah yang bersejarah dan
bersifat menebus sehingga Israel dibebaskan dari Mesir, ditetapkan sebagai bangsa pilihan-Nya, dan diberi
pernyataan tertulis mengenai perjanjian-Nya dengan mereka. Kitab ini juga ditulis sebagai mata rantai yang teramat
penting dalam keseluruhan penyataan diri Allah yang bertahap-tahap yang mencapai puncaknya di dalam diri Yesus
Kristus dan dalam PB. Pasal 16-18 menggambarkan Israel di padang gurun menuju ke Gunung Sinai. Allah menuntun
umatNya yang tertebus dengan tiang awan dan tiang api dan menyediakan manna, burung puyuh serta air, sambil
melatih mereka untuk berjalan dengan iman dan ketaatan.

Tuhan selalu menyediakan kebutuhan umat-Nya, penyertaan Tuhan tidak pernah terbatas, hal ini dapat kita
saksikan melalui kisah bangsa Israel di tengah padang gurun, meskipun mereka bersungut-sungut dan meragukan-
Nya namun Tuhan tetap menyediakan yang mereka perlukan. Bangsa Israel bersungut-sungut kepada Musa dan
Harun karena mereka merasa kelaparan di padang gurun. Mereka mengingat masa lalu di Mesir, meskipun itu
adalah masa perbudakan, sebagai masa yang lebih baik karena mereka memiliki makanan. Hal ini menunjukkan
betapa mudahnya manusia melupakan penyertaan Tuhan dan meragukan kebaikanNya ketika menghadapi
kesulitan.

KETERANGAN NATS

1. JANGANLAH BESUNGUT-SUNGUT
Dalam teks khotbah ini kita dikatakan Bersungut-sungutlah … kepada Musa. Orang Israel bersungut-sungut
kepada Musa dan Allah untuk ketiga kalinya (bn. 12:10-12, 15:24). Kendati semua yang telah dilakukan Allah bagi
mereka, mereka cepat sekali hilang kepercayaan akan kebaikan, hikmat dan kehendak-Nya untuk kehidupan merkea
(lih. Juga 17:3; Bil. 14:2; 16:11,41). Pada saat muncul persoalan-persoalan yang serirus, daripada menuduh Allah
telah mengabaikan dan tidak setia, hendaknya kita menyerahkan diri kepada-Nya dan dengan rendah hati mohon
pertolongan dalam menyelesaikan persoalan tersebut, serta percaya bahwa Dia akan bertindak bagi kita.
Sungut-sungut adalah istilah atau kata yang diartikan sebagai sebuah tindakan mengeluh dan
mempersalahkan Tuhan atau orang lain atas suatu keadaan tertentu. Bersungut-sungut merupakan tindakan yang
berkaitan dengan perkataatn mulut, namun ada hubungan mendalam dengan apa yang terkandung dalam hati,
sebab perkataan yang keluar dari mulut berasal dari hati. Sungut-sungut termasuk dosa.
Bersungut-sungut adalah reaksi spontan yang timbul karena ketidakpuasan, kekecewaan, ataupun kekesalan yang
timbul akibat apa yang diterima tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Karena ketidakmampuan mengatasi
kekecewaan dan ketidakpuasan, maka timbullah reaksi ini biasanya dimiliki oleh pribadi yang kurang bersyukur atau
tidak pernah bersyukur. Karenanya sikap dan respon selalu negativf.
Dalam kehidupan ini, kita mungkin seringkali menghadapi sistuasi yang membuat kita merasa seperti di
padang gurun, penuh dengan ketidakpastian dan kehawatiran. Kita mungkin tergoda untuk bersungut-sungut dan
meragukan penyertaan Tuhan. Namun, kita dingatkan bahwa Tuhan setia dan akan selalu menyediakan kebutuhan
kiita. Kita harus belajar bergantung padaNya setiap hari, mempercayai janjinya dan taan pada perintahNya. Marilah
kita, belajar untuk mengandalkan Tuhan dalam segala keadaan. Daripada bersungut-sungut, marilah kita belajar
untuk bersyukur dan mempercayai bahwa Tuhan akan memenuhi setiap kebutuhan kita sesuai dengan waktu dan
caranya.

2. HIDUP DENGAN RASA CUKUP


Ada sebuah ungkapan mahatma Gandhi yang berbunyi: “earth provides enough to satisfy every man’s need,
but not every man’s greed” maknanya adalah penting agar kita bisa bersyukur dengan apa yang kita miliki karena
Tuhan telah menyediakan segalanya dengan baik dan cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh manusisa di bumi
ini. Betapa seringnya kita terus merasa tidak puas dengan apa yang kita miliki. Kita terus ingin lebih dan lebih lagi,
sering iri melihat apa yang dimiliki oleh orang lain, bahkan tidak sedikit yang berani menuduh Tuhan pilih kasih atau
tidak adil. Mudah bagi kita menginginkan lebih banyak tetapi sulit bagi kita untuk merasa cukup dan bersyukur
dengan apa yang kita miliki saat ini.
Bangsa Israel adalah bangsa keras kepala yang selalu sulit untuk bersyukur. Meski sudah berkali-kali mereka
menyaksikan langsung bagaimana penyertaan dan mujizat Tuhan turun atas mereka, tetapi mereka tetap aja
bersungut-sungut dan terus menuntut.

1
Dalam pasal 16 ini kita bida melihat mengenai sifat mereka. Ketika bangsa Israel berangkat dari Elim dan
tiba di padang gurun Sin, setelah satu sengah bulan berada dalam perjalanan. Kelaparan dan mungkin bekal mereka
habis, mulailah mereka bersungut-sungut dan berkata: “Ah, kalau kami mati tadinya di Mesir… (ay 3). Tuhan
mengasihi mereka dengan mengirimkan hujan roti dari langit. Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa:….
Memunguti tiap-tiap hari sebanyak yang perlu untuk sehari…(ay.4). Perhatikan bahwa dalam ayat ini meski Tuhan
mengabulkan permintaan mereka, namun ada sebuah pesan penting dari Tuhan agar mereka memungut
secukupnya saja. Tapi mereka merasa belum juga cukup. Dari kisah turunnya hujan roti ini kita dapat pesan agar
mereka mengambil secukupnya saja. Jika hari ini ada diantara kita yang merasa masih hidup dalam kekurangan,
ingatlah bahwa sesungguhnya Tuhan telah memberikan segala sesuatu di muka bumi ini secara cukup untuk kita
olah, manfaatkan dan maksimalkan. Kita harus belajar untuk hidup dengan rasa cukup. Dan ingatlah bahwa
“memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Sebaliknya apabila anda diberkati hari
ini dengan penghasilan yang besar bersyukurlah dan pergunakan untuk memberkati sesama. Membantu yang
kekurangan, menolong yang kelaparan, semua itu adalah tugas dan kewajiban kita sebagai orang percaya.
Hendaklah kita semua hidup dengan rasa cukup dan tidak dikuasi oleh sifat serakah. Dalam keadaan apapun
tetaplah besyukur dan ingatlah bahwa di atas segalanya Tuhan sendiri yang akan memelihara hidup kita.

3. ALLAH Menurunkan Roti Kehidupan Bagi UmatNya

Di Ayat 4 dikatakan Allah Menurunkan dari langit Hujan Roti. ‘Roti dari langit’ ini dinamakan “manna” (ay.15).
Manna menjadi makanan khusus yang secara ajaib dikirim dari Allah untuk memberi makan umat itu setelah keluar
dari Mesir. Itu merupakan sesuatu berwarna putih seperti embun beku, berbentuk serpihan tipis, dan rasanya
seperti kue madu (ay. 14,31, Bil 11:9). Persediaan manna berhenti ketika Israel memasuki tanah perjanjian dan
tersedia makanan lain (Yos 5:12). Allah menyedikan manna untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia
bukan hidup dari roti saja, tapi manusia hidup dari segala (perkataan yang diucapkan Tuhan (Ula 8:1; bnd AY 16).
Allah menyediakan manna hanya selama 6 hari, tapi pada hari ke-7 tidak maksudnya untuk mengajar Israel supaya
tunduk kepada perintah Tuhan. Yesus Kristus memakai Manna menjadi lambang dari Yesus Kristus yang sebagai “roti
yang benar dari sorga” (Yoh 6:32; bd. Why 2:17) memberi hidup kekal (Yoh 6:33, 51, 58). Hidup yang kekal bisa
diperoleh seseorang hanya karena kematian Yesus.

Pangan merupakan kebutuhan pokok kita. Setiap hari kita memerlukan makanan. Sehingga kita harus menyadari
bahwa seusungguhnya roti adalah tanda ketergantungan manusia pada Allah. Sebab segala sesuatunya adalah
berasal dari Tuhan. Namun Tuhan Yesus menyatakan pada kita bahwa ada yang lebih penting untuk kita miliki selain
dari roti yang mengenyangkan itu, yakni Roti Hidup. Makanan yang kita konsumsi sehari-hari tentunya membuat kita
kenyang, namun tidaklah bertahan lama, sebab setelahnya kita akan kembali lapar. Tidak demikian dengan roti
hidup, yang dapat mengenyangkan dan melegakan kita sampai selama-lamanya.

Yang mau kita cari bukanlah rotinya, tetapi sumber dari roti itu berasal. Permasalahannya adalah siapa yang menjadi
sumber hidup kita. Sehingga orang yang percaya kepada Yesus sebagai roti kehidupan tidak asal hidup, asal makan.
Tetapi memiliki visi yang jauh kedepan, bahwa kita akan bersama-sama dengan Sumber Kehidupan itu selamanya.

Maka motivasi hidup kita harus jelas, kita bekerja bukan hanya untuk sekedar memenuhi kebutuhan
sejengkal perut, namun Tuhan Yesus mengatakan: “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa,
melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal…” (Yoh. 6:27). Konsep kerja memenuhi
kebutuhan fisik, tetapi Tuhan mau kita bekerja atas dasar iman kepada Tuhan yang memberikan kebutuhan
kehidupan kita. Tujuan kehidupan yang sesungguhnya bukan mencari hidup yang akan binasa tetapi hidup yang
kekal.

Hidup manusia tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan fisik saja, sebagaimana yang kita ketahui bersama tidak ada
yang dapat mempertahankan kekekalan kehidupan secara daging, namun Yesus menyadarkan kita untuk
memperhatikan kehidupan jauh ke depan bahwa ada hidup yang abadi dan itu hanya dapat dimiliki oleh orang
percaya kepada Kristus. Demikianlah halnya dengan Roti Hidup yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus, bahwa orang-
orang yang mencariNya itu menyadari bahwa ada yang lebih utama dari sekedar mencai makanan untuk kebutuhan
fisik yakni makanan rohami. Roti hidup hanya diperoleh dengan percaya kepada Yesus yang turun dari sorga, yang
memberikan jalan kehidupan yang kekal kepada manusia. Karena itu, marilah kita beruang untuk mencari Roti Hidup
yang akan membawa kita kepada kehidupan yang kekal. Amin

2
Bahan Sermon Daerah
Minggu XI Dung Trinitas, 11 Agustus 2024
Jamita: Efesus 4:25-32 ; Epistel: Psalmen 34:1-8; SP: Rom 12:2
Ojahan: Ngolu Naimbaru Dibagasan Holong Ni Kristus

Songon dia do ngolu na imbaru i? Sada parjamita mandok, ia ngolu na imbaru tanda do di parange ni
sasahalak naung marhamubaon na jungkat dohot na tangkang gabe burju, parbada gabe paraleale, na losok gabe
ringgas; na sai gaor gabe hohom; pargabus gabe haposan. Asa uli situtu do ngolu na marhaimbaruon i, ala ndang
sipasidingon manang sihabiaran ibana. Tandi parange, pangalaho, hadirion ni jolma ala haimbaruon i. Alai adong
parasinganna tu ngolu na imbaru pinaandar ni Apostel Paulus di turpuk on. Haimbaruon i ndang sae holan di diri ni
sasahalak, ai ingkon marguna ala manghorhon na uli haimbaruon i nang tuangka donganna. Ido sialana di dok ngolu
na imbaru di bagasan Kristus. Lapatanna, Kristus do sibingkasi manang sibonsiri ni haimbaruon. Ndang ala ni
pambahenanna jolma i umbahen boi marngolu na imbaru alai Alani Kristus do naung marniula di parngoluonna.
Apala on ma na paimbarhon haimbaruon siala Kristus dohot haimbaruon siala hamubaon tinahi ni jolma. Borhat sian
pangantusion on ma taida na pinodahon ni apostel Paulus na mansai arga situtu hangoluhononta di partingkian
nuaeng di parsaoran siganup ari.

Dibuha Apostel Paulus jamitana marhite poda pangajarionna marrumang pareta dia napatut siulaon jala dia
sipasidingon, na diorai, na so jadi ulaon ni angka siihuthon Kristus. Parenta na ingkon siparangehonon ni angka ruas
ima (a) mambolongkon gabus; (b) manghatahon na sintong; (c) unang mardosa; (d) mangintopi rimas; (e) ndang
pasiat sibolis; (f) unang manangko; (g) sumarihon ngolu; (h) unang manghatahon na busuk; (h) padengganhon na
hurang; (i) unang mangarsahi Tondi Parbadia; (j) padao riting ni roha; (k) manghangoluhon habasaron. Molo
tarimpun sude sosososo ni apostel on taida ma dia do poda na pinagothon dohot pasingothon ruas ni huria asa olo
manadingkon pangalaho na buruk. Bangko na suhat tu parsaoran ni siihuthon Kristus ingkon ditanggali asa unang
hajolmaonna mangarajai dirina. Sian pangantusion i ma boi taida ngolu na imbaru dibagasan Kristus marhite.

1. Hata dohot panghataion maradophon dongan


Tandi do hadirion ni halak Kristen sian na so Kristen di ngolu siganup ari. Na mananggalhon jolma na buruk
jala sumolukhon na imbaru marparange na imbaru ma ibana di hata nang panghataion. Ndang diula gabus alai
manghatahon na sintong. Di horong ni jolma na buruk do sasahak molo nasai margabus alai angka naung imbaru
holan hata hasintongan do haruar sian pamanganna. Songon dia mangambolongkon gabus sian diri ni jolma? Dos do
pandohan di hata Gorik na dipangke apostel Paulus di ayat 22 (tanggali) dohot ayat 25 (bolongkon). Alai di Bibel
Toba ndang dos disurathon laho patuduhon parsitutuon, laho mangondolhon halobian ni na mangambolongkon.
Molo holan mananggali na boi do muse diulakhon mamangke alai molo dibolongkon nunga dao sian dirina.
Hataridaan ni jolma naung mangambolongkon gabus i ma manghatahon na sintong. Ala ditambai hatorangan ni ruas
do hita sama hita lam tangkas ma tarida handirion di parsaoran ni halak Kristen. Jala molo tapadomu tu Kol. 3:9 lam
mura ma taboto, gabus i do hadirion ni jolma na buruk na manegai parsaoran. Songon dia ma boi uli parsaoran molo
adong na so haposan ruasna? Aha ma tagamon na uli sian pargabus? Asa mangatahon na sintong i ma ruas naung
mangolu di bagasan barita na uli.

Udut ni poda manghatahon na sintong disosoi do hita asa unang mardosa uju tarrimas Ndang dosa molo
tarrimas, alai olo do sasahalak mardosa molo so boi diantan rimasna ala tubu parbadaan. On do niigil ni apostel i,
molo tarrimas sae ma dibagasan sadari, unang jolo mintop mata ni ari asa mombun rimas. Asa unang marganjang
rimas, diotapi ma partingkianna holan sadari. Dalan manjagahon hata dohot panghataion do molo dibahen suhat-
suhat ni tingki tarrimas di ngolu parsaoran ni halak Kristen. Nasa ruas ni huria ingkon boi mangarajai diri huhut
mangotapi rimasna asa unang madabu tu bagasan dosa. Angkup ni dijujui do hita manganju hagaleon ni dongan. Sae
ma sadari tingki maminsang na marsala asa muba. Tarrimas ndada laho mambahen mago jala patubu hagaoron.

2. Hamubaon: ndang pasiat sibolis


Jolma na imbaru ndang pasiat sibolis tu dirina. Ulaon ni sibolis mangela jolma mambahen na roa. Molo
sibolis mandok hatana lamot begeon jala mura siat tu pingkiran. Holan hasonangan do dipandok sibolis jala sipata
digintali jolma i asa sumurung sian donganna. Siala i do jotjot jolma dao sian Tuhan. Naung imbaru di bagasan
Kristus, uang be dioloi sibolis. Dia ma sipatupaon?

Parjolo, ndang manangko, ringgas mangula, burju mangurupi na hurangan. Andorang so imbaru jolma dibagasan
Kristus, sai adong do panangko di sada punguan. Masielatan do jolma ala dao holong. Sudena i ingkon tadingkonon
ni naung sada dohot Kristus. Ndang dihalomohon Debata panangko. Pingkiran na dialo apostel Paulus i ma poda na
3
mandok, ‘’ngolu ni panangko boi dipaias molo dung gabe ruas ni huria’. Ndang diloas ibana pingkiran i martumbur di
punguan ni halak Kristen. Beha ma boi tigor ngolu ni panangko, na pamora diri so pola mangula?

Paduahon, ndang ruar hata na busuk sian pamangan alai tau padenggahon na humurang asa dapot uli na umbegesa.
Beha ma une jala dengganna manghatai tu dongan? Ndang jadi hata na busuk ruar sian pamangan. Hata na busuk
martudutudu ma i tu hata barangsi, na mangaleai dohot paoruhon sangap. Suharna ima hata na padengganhon.
Hata na busuk do na patubu bada, na so jadi ruar sian pamangan ni halak Kristen.

Patoluhon, unang mangarsahi Tondi Parbadia ni Debata naung disahaphon tu hamu tu ari haluaon i. Na mangarsahi
Tondi Parbadia ni Debata do molo mangoloi manang padiat sibolis. Dung gabe siihuthon Kristus ruas ni huria nunga
tarsahap dut dirina Tondi Parbadia ni Debata (1:13c-24), ai tondi ido na manguluhon ngolu ni jolma i sahat tu ari
haluaon. Hape molo dipasiat sibolis gabe sesa ma sahap i sian dirina. Ido pangalaho na mangarsahi Tondi Parbadia ni
Debata. Sahalak jolma naung tardidi, ibana ma naung tarsahap tu haluaon ni Kristus. Asa unang mangarsahi Tondi
Parbadia ni Debata, ingkon holang ma jolma sian parange na buruk; unang manangko jala unang ruar hata na busuk
sian pamanganna, unang dipasiat sibolis.

3. Marhabengeton jala maniru pambahenan ni Kristus


Naung mangolu di bagasan Kristus, nunga jolma na imbaru. Dung mangolu na imbaru dibagasan Kristus
sasahalak naeng ma diparangehon haimbaruon marhite na rade padao diri sian riting ni roha, muruk, rimas,
songgaksonggak, insakinsak nang hajahaton. Sude hataridaan ni sipadaoon on i ma hata manang panghataion.
Dibagasan roha do solot i jala dung ndang buni gabe patar ma tarida lumobi di ngolu parsaoran hombar tu
pangajarion ni Jesus (Mat. 5:9-10). Naung marngolu na imbaru ingkon hangoluhononna habadiaon. Molo sude
padao diri sian nasa na pasorathon i, hasonangan manang hadameon ma masa di parasoran i. sada do dalan laho
padao diri sian i, ima basar ma hamu sama hamu, parasiroha, masisesaan dosa maniru pambahenan ni Kristus Jesus.
Ndang sian dirina be jolma i laho patupahon i, alai maniru pambahenan ni Debata dibagasan Kristus Jesus (2 Kor.
5:19).

Dia ma nuaeng na ingkon siparangehononta? Parjolo, Marparsaoran na denggan di tonga huria, lambok
manghatai; ndang margabus jala tarrimas. Paduahon, unang dipasiat sibolis, ditadinghon ma hajolmaon na buruk,
unang manangko, alai burju mangurupi na hurangan. Patoluhon, ingkon dao riting ni roha, muruk, rimas, hata
songgak-songgak, insak-insak dohot nasa hajahaton. Diparangehon ma habasaron asi ni roha dohot haradeon
manesa dosa. Amen

4
BAHAN SERMON DAERAH
Minggu 18 Agustus 2024
XII dung Trinitatis
“MANGAMBOLONGKON HAOTOON JALA MANGEAHI DALAN PANGANTUSION”
Evanelium: Poda 9:1-6 [Link]: Jeremia 24:7
I. Patujolo
Di buku Poda 9:1-6 on manaringoti taringot tu Hapistaran na paradehon sada pesta na mansai balga
situtu. Digokhon do nasa jolma (orang yang tidak berakal dan tidak berpengalaman). Gokhon i gabe
sada panoguon laho maninggalhon NEANG NI ROHA jala paihutihut dalan hapantason. Martujuan
asa diboan Hapistaran i angka jolma na hurang roha gabe bertanggung jawab,gabe marbisuk: adong
panimbangion, mamillit dohot mambuat sada haputusan tu dalan na dumenggan. Tontu saluhutna i
ingkon do dibagasan Jesus Kristus, ai Ibana sandiri do Hapistaran i. Molo saonari hita toho di
persimpangan laho manontuhon dalan sidalananta, hata ni Debata di tingki on paingothon hita asa
marbisuk laho mamillit dalan sidalananta.

II. Hatorangan
Diturpuk on digombarhon do Hapistaran/bisuk i songo sada ratu na sangap jala serep marroha, buas
mangalehon. Hata ni Debata i do Hapistaran i, na marhite Hapistaran i dipasaut Debata sangkapna na
denggan i tu jolma.
Laho mangantusi Evangelium on, ingkon taantusi do lapatan ni hata Hapistaran i;
1. Aha do Hapistaran i?
2. Aha do naniulahon jala napinarade ni Hapistaran i?
3. Jala aha do napinodahon ni Hapistaran i?
Tapamanat ma dihatorangan na,
1. Aha do Hapistaran i?
Molo tabereng di buku Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Hapistaran manang Hikmat i ma
kebijakan; kearifan. Molo tabereng sian Bibel na tarsurat di buku Ayub 28:28; Psalmen 111:10; Poda
1:7; Poda 9:10 mandok “biar mida Jahowa do” i do habisukon i. Jadi jolma na malo dang na gabe tontu
halak na bisuk i, ala ndang tontu halak na malo biar mida Jahowa. Jolma na manjalo jala pasahathon
ngoluna tu Kristus i do jolma na bisuk.
2. Aha do naniulahon jala na pinarade ni Hapistaran i?
Hapistaran/Bisuk paradehon sada pesta bolon di sada inganan na ung diparade mansai denggan. Di ayat
1-2 mandok songon dia do Hapistaran i paradehon saluhut hombar tu pesta i i ma pajongjongkon sada
bagas na martiang 7 na manggobarhon togu ni inganan i jala tongam ni inganan i jala i ma surgo i,
naung pinarade ni Hapistaran i jala laos tu si do hita dijou. Mamotong angka pinahan dohot angka
siinumon na ummuli naung rade. Pesta i uli jala sangap situtu di namangathon angka naung rade i.
Nunga di lehon Jesus daging dohot mudarNa na gabe manobus hita sian dosa i, dipadomu hita tu Ama i.
Laos disuru ma angka parhobasna manjou ganup jolma di saluhut inganan, na tobok dohot jolma na
hurangan roha jala na neng roha asa ro tu pesta i. Molo angka jolma na mandok na pistar/bisuk do
dirina (Joh. 9:41) dang bongot tu pesta i jala ndang dirohahon panjouon i, jala i do haotoon i na
mamboan tu haholomon. Dijou Jesus ido angka jolma na hurangan roha jala na olo patutoru dirina asa
dapotan bisuk (1 Kor. 3:18).
Jesus i do hapistaran/bisuk i na paradehon inganan dohot angka ragam ni sipanganon nang siinumon asa
dipangan jolma i asa mangolu nian. Ro ma hita unang be marsidalian, na paluahon hita do umbahen ro
Jesus i laho mamboan hita tu inganan na pinaradeNa i.
3. Aha do napinodahon ni Hapistaran i?
Di ayat 5 didok ro ma jala pangan ma, namarlapatan jalo ma angka nauli situtu na adong holan di Jesus
ja na dapot daion holan marhite biar mida Debata. Molo nunga taulahon hata ni Debata jala manghirim
hita di janji ni Kristus, jajangkon pangapulion ni Kristus i ma naung tapangan angka naung pinaradeNa
i. Naung dijuo do hita tu sada pesta na manghasagathon sude angka naung rade na pinarade ni Jesus tu
angka jolma na pogos jala na hurang roha i. Di ayat 6 didok “manadingkon neang ni roha/kebodohan”,
asa mangolu jolma i jala ihuthon ma dalah hapantason. Adong 2 poda di ayat on, na parjolo
“Manadinghon neang ni roha” dohot na paduahon “mangihuthon dalan hapantason”. On ma tuntutan di
panjouon i asa tabolongko/tatadinghon roha na so pantas i sian ngolunta.

5
Didok Hapistaran i do asa manadinghon neang ni roha/haotoon, i ma pangalaho na mandok dirina malo,
berpengalaman, tingkos di adopan ni Debata, jala na so olo ro tu pesta i, angka jolma sisongonon ma.
Jala hamagoan do jambarna. Disiala ni i do asa dijou Hapistara i jolma tu pesta i asa dipangan naung
rade i gabe marhapistaran jolma i gabe mangolu. Lapatanna ro ma hita tu Jesus i, rade do Ibana
manjakhon hita. Jolma na olo ro, i do dapot hapistaran di ngoluna. Ta radoti ma dirinta marhite hata ni
Debata dohot bisuk na sian Tuhan i. Amen

Ev: Efesus 6:10-20 Ep. Mazmur 34:16-23


Minggu, 25 Agutus 2024
TEMA: KUAT DI DALAM TUHAN
Perlawanan antara kekuatan baik dan kekuatan jahat sudah menjadi keyakinan dari berbagai agama kuno.
Peperangan itu dianggap dilakukan oleh dua kekuatan yang saling bersaing dan menghancurkan. Ada yang
berkeyakinan bahwa dari pertempuran tersebut, kebaikan akan keluar menjadi pemenang dan sebagian
berpendapat bahwa tidak ada kekuatan yang menang atau kalah. Peperangan terjadi terus-menerus demikian.
Banyak orang Kristen melihat peperangan rohani yang dialami orang Kristen terjadi demikian. Seolah-olah Allah dan
iblis menjadi dua pihak yang berseteru tanpa henti, saling menghancurkan dan bersaing. Ketika Paulus mengangkat
isu tentang peperangan rohani, dia memiliki pengertian yang sangat berbeda dengan pandangan di atas. Sebab
kemenangan ada di pihak Allah, Allah berotoritas atas iblis, dan Kristus sudah mematahkan sengat maut iblis.
Dalam kehidupan beriman orang percaya, peperangan rohani dianggap sederhana. Peperangan rohani seolah-olah
hanya sebagai peperangan antara Allah dan iblis, di mana orang Kristen hanya menikmati kemenangan Allah dengan
tanpa berperan apa-apa. Perlengkapan senjata Allah juga sering dipandang sebagai slogan kosong dan asesoris
hidup spiritual Kristen. Bahkan sebagai sekedar ayat emas indah tanpa hasrat menghidupinya dalam iman yang
sesungguhnya. Melalui nasehat Paulus, orang Kristen justru harus menyadarkan diri bahwa peperangan rohani telah
menjadi bagian dari panggilan dan konsekuensi karya Kristus yang sudah diterima setiap orang percaya.
Mengapa orang percaya berada dalam peperangan rohani? Pertanyaan ini harus di jawab dari tujuan Paulus
menuliskan surat Efesus yang dinyatakan dalam pasal 4:1. Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang
dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan
panggilan itu. Secara singkat, Paulus memberikan penjelasan tentang karya Kristus pada orang percaya (ps. 1-3) dan
disambung dengan nasehat tentang bagaimana orang percaya hidup dalam Kristus. Paulus menekakan supaya
kehidupan orang percaya memiliki kehidupan yang berpadanan dengan panggilan dari karya Kristus. Oleh karena itu
secara spesifik dalam ayat 10-20, Paulus menyatakan bahwa hidup berpadanan dengan panggilan tersebut salah
satunya dinyatakan dalam peperangan rohani yang wajib dijalani setiap orang percaya. Jadi peperangan rohani ini
berlaku bagi semua orang yang mengalami karya Kristus, peperangan ini sedang terjadi dan akan terus berlangsung
sampai kesudahan jaman di mana kuasa iblis secara total dihandurkan dalam penghukumannya oleh Allah.
Paulus membahas topik peperangan rohani pada ayat 10-20 dalam tiga pokok pikiran. Pertama, nasehat bagi orang
percaya untuk kuat di dalam Tuhan (ay.10-13). Kedua penjelasan tentang perlengkapan senjata Allah supaya setiap
orang percaya dapat berdiri tegap dalam peperangan melawan iblis (14-17). Dan ketiga membahas betapa
pentingnya berjaga-jaga dalam doa (18-20). Inti dari nasehat Paulus di sini adalah tentang kuat di dalam Tuhan saat
peperangan rohani berlangsung melawan tipu daya iblis dengan mengenakan senjata Allah.

Kuat di dalam Tuhan (10-13)


Hal menarik dari nasehat Paulus dalam ayat 10 adalah bentuk imperatif pasif dari istilah ‘endunamouste’ yang
seharusnya diterjemahkan ‘hendaklah kalian dikuatkan’. Ini menunjukan bahwa ada faktor eksternal yang membuat
orang percaya menjadi kuat yaitu Tuhan dengan segenap kuasa-Nya. Secara spesifik kuasa Allah tersebut disebutkan
dalam pasal 1:19-20 yaitu sebagai kuasa yang telah membangkitkan Yesus dari kematian dan menempatkan Yesus
pada posisi terhormat, duduk di sebelah kanan Allah. Oleh karena itu, dengan kuasa Allah yang sama, Paulus
menasehati dan mengingatkan jemaat supaya memahami dan mengalami kuasa Allah tersebut.
Selanjutnya Paulus menjelaskan dalam ayat 11 tentang bagaimana orang percaya kuat di dalam Tuhan, yaitu dengan
mengenakan perlengkapan senjata Allah. Gambaran ini diyakini dikutip Paulus dari Yesaya 11:4-5 dan 5:16-19 yang
menjelaskan bahwa Allah akan membela umat-Nya dengan mengenakan perlengkapan senjata perang-Nya. Konsep
tentang senjata Allah ini juga Paulus nyatakan dalam 1 Tesalonika 5:8 supaya orang percaya senantiasa sadar,
berbajuzirahkan iman dan kasih, dan berketopongkan pengharapan keselamatan.
Tujuan memakai senjata yang disediakan Allah adalah bertahan melawan siasat licik Iblis. Kata ‘bertahan’ ini
memiliki penekanan yang signifikan karena muncul dalam ayat 11, 13 dan 14 yang memakai akar kata sama untuk
menekankan nasehat supaya kuat di dalam Tuhan dengan berdiri teguh atau bertahan, khususnya dari serangan
secara konstan dan berakibat sangat buruk dari Iblis. Jadi berdiri teguh berarti bertahan sampai akhir dan menang.
Keseriusan alasan dari nasehat mengenakan senjata Allah tersebut karena musuh utama dalam peperangan rohani
ini adalah Iblis yang bukan terdiri dari darah dan daging (ay. 12). Mesekipun Paulus menjelaskan bahwa orang
percaya melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia, dan
melawan roh-roh jahat di udara; tetapi maksud utama Paulus adalah tetap merujuk pada realitas yang sama yaitu
Iblis dengan berbagai kekuatan, pengaruh, metode dan kelicikannya. Maka dari itu, dampak yang sangat buruk bagi

6
orang percaya tidak terelakkan jika kalah dalam pertempuran itu seperti yang terlihat dari penyataan ‘hari yang yang
jahat’ dalam ayat 13.

Berdiri tegap dan mengenakan perlengkapan senjata Allah (14-17)


Jika melihat kondisi musuh dan dampak serius dari peperangan rohani tersebut maka Paulus menjelaskan lebih
detail sekaligus disertai jaminan dari setiap senjata Allah untuk bisa berdiri tegap. Fase ‘berdirilah tegap’ dalam ayat
14 memiliki penekanan khusus karena ditulis dalam bentuk imperatif sebagai maksud utama Paulus berkaitan
dengan peperangan rohani melawan musuh dan diikuti dengan senjata-senjata Allah yang menjelaskan fase
‘berdirilah tegap’ tersebut.
Fase ‘berikatpinggangkan kebenaran’ secara harfiah di terjemahkan dengan ‘ikatlah pinggang kalian’ yang
sebenarnya merujuk pada kondisi bersiap sedia melakukan pekerjaan atau kegiatan bertenaga (bdk. Lukas. 12:35,
37; 17:8). Dalam konteks ini berperang. Sedangkan fase ‘kebenaran’ mungkin merujuk kepada kebenaran Allah
(4:24; 5:9) yang dinyatakan dalam Injil (1:13; 4:15, 21, 24) sebagai nasehat untuk hidup selalu menurut apa yang
benar seperti seorang prajurit yang siap berperang.
Berbaju zirah keadilan merujuk kepada penutup dada tentara Romawi untuk melindugi dari pukulan, pedang dan
anak panah. Konsep ini mirip dengan pernyataan dalam Yesaya 59:17 yang menggambarkan Tuhan akan datang
melepaskan umat-Nya dengan mengenakan baju zirah keadilan. Banyak ahli kemudian menghubungkan makna
keadilan dengan Roma 3:21-26 tentang kedaulatan Allah membebaskan umat-Nya melalui karya kematian Kristus.
Berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil, dimana ini sebagai gambaran umum tentang kesiapsediaan atau
keteguhan kesiapan melangkah dengan pasti memberitakan Injil damai sejahtera dari Allah tentang keselamatan.
Makna itu juga mirip dengan pernyataan dalam Yesaya 52:7. Kasut di sini merujuk kepada gambaran sepatu yang
melindungi kaki tentara Romawi.
Menggunakan perisai iman sebagai gambaran pelindung sebagian besar tubuh dari setiap serangan semua panah
api si jahat dengan iman. Perjanjian Lama sering memakai perisai sebagai gambaran perlindungan Tuhan atas umat-
Nya (Kej. 15:1; Maz. 5:13; 18:3,31,36; 28:7; Ams. 30:5 dst). Iman di sini bisa diartikan keyakinan, kepercayaan,
kesetiaan janji setia dan tanggung jawab orang percaya kepada Allah dan Kristus yang akan menjadi pelindung
dalam peperangan rohani melawan Iblis.
Terimalah ketopong keselamatan. Ketopong merujuk kepada penutup kepala prajurit Romawi yang memiliki bagian
leher untuk memberikan perlindungan kepala dan bagian pentingnya. Makna ketopong keselamatan ini dikaitkan
dengan keselamatan dari Allah sebagai anugerah yang banyak ditekankan dalam kitab Efesus, khususnya pasal 2:5-6
dan 8 atas apa yang telah Allah kerjakan bagi umat-Nya. Senjata terakhir adalah pedang Roh. Pedang Roh
diidentifikasikan dengan Firman Allah yang dalam tulisan Paulus sering disebut dengan Injil. Hal ini menekankan
pemberitaan aktual dari berita Injil yang diterima dari Roh Allah sehingga Firman itu menjadi seperti pedang dalam
peperangan melawan muslihat Iblis. Jadi semua perlengkapan senjata Allah di sini adalah perlengkapan senjata
untuk berjuang dan menang melawan Iblis yang diambil dari ilustrasi perlengkapan tentara Romawi. Jika melihat
kembali pada makna istilah ‘berjuang’ dalam ayat 12, maka kata Yunani secara harfia berarti pergulatan langsung
yang melibatkan tangan, kaki dan seluruh anggota badan yang juga berarti bergulat. Ini menunjukan pertempuran
jarak dekat, langsung dan konsisten dengan Iblis dalam peperangan rohani.
Berjaga-jaga dan berdoa (18-20)
Dalam perikop ini, Paulus menyatakan bahwa fokus kebutuhan dalam peperangan rohani di sini adalah berdoa
setiap waktu dan berjaga-jaga dengan ketekunan dan permohonan. Istilah ‘berdoalah setiap waktu dalam Roh’ sama
sekali bukan merujuk pada berdoa selalu dengan menggunakan bahasa Roh. Ini lebih berarti pada suatu konsistensi
tindakan berdoa dan memohon kepada Allah sesuai pimpinan atau pertolongan Roh Kudus. Sikap konsisten ini juga
nampak dalam pernyataan ‘berjaga-jaga di dalam doamu itu dengan permohonan yang tidak putus-putusnya’. Kata
secara harfia ‘berjaga-jaga’ berarti ‘tetap bangunlah’, dimana ini juga berarti waspada. Sedangkan makna istilah
‘permohonan yang tak putus-putusnya’ secara harfiah diterjemahkan ‘dalam setiap kegigihan dan permohonan’.
Kata ’tak putus-putus’ di sini berarti ‘tanpa menyerah atau berhenti’. Ini adalah kebutuhan penting dalam
melaksanakan peperangan rohani yaitu dengan berdoa senantiasa, sebab pertahanan terkuat bagi orang beriman
adalah doa.
Selanjutnya Paulus juga meminta setiap orang percaya mendoakan dia dan segenap orang percaya supaya dia
secara khusus dimampukan memberitakan rahasia Injil yang belum banyak diketahui orang dengan benar dan
dengan berani sebagai utusan Kristus. Dari sini nampak sangat jelas bahwa peperangan rohani juga berkaitan
dengan penjangkauan jiwa-jiwa melalui pemberitaan Injil sebagai wujut persaingan aktif memenangkan banyak jiwa
untuk Tuhan.
Aplikasi
Orang percaya perlu menyadarkan dirinya tentang panggilan untuk masuk dalam peperangan rohani melawan
segala macam pengaruh Iblis sebagai orang yang sudah menerima penebusan dan keselamatan dari Kristus. Di sini
setidaknya orang percaya harus hidup sebagaimana hidup sebagai umat Allah sejati dalam kekudusan dan
spiritualitas sejati. Proses ini berlangsung terus-menerus dan langsung. Oleh karena itu orang beriman
membutuhkan segala kelengkapan rohani dari Allah dan bersama Allah melawan serta mengalahkan Iblis. Jaminan
kemenangan sudah ada di dalam Allah, dan bersama anugerah Allah marilah kita memerangi segala macam

7
pengaruh Iblis serta dosa untuk membawa proses pengudusan dari rancangan keselamatan yang sudah kita terima
melalui karya penebusan Kristus kepada kehidupan yang berkenan kepada Allah dan memuliakan Allah. Amin.

You might also like