0% found this document useful (0 votes)
42 views11 pages

Hubungan Pengetahuan Ibu dan Perkembangan Anak

Baik

Uploaded by

ridhaangriani8
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd
0% found this document useful (0 votes)
42 views11 pages

Hubungan Pengetahuan Ibu dan Perkembangan Anak

Baik

Uploaded by

ridhaangriani8
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Anak adalah generasi penerus bangsa yang perlu dipersiapkan agar dapat

tumbuh dan berkembang seoptimal mungkin, oleh sebab itu perlu dilakukan

upaya kesehatan sejak dalam kandungan hingga anak memasuki lima tahun

pertama kehidupannya. Hal ini bertujuan untuk mempertahankan kelangsungan

hidupnya serta meningkatkan kualitas hidup anak agar mencapai tumbuh

kembang yang sempurna baik fisik, mental, emosional maupun sosial serta

memiliki kecerdasan sesuai dengan potensi genetiknya (Kemenkes RI, 2014).

Dalam ilmu keperawatan, anak dipandang sebagai makhluk unik yang

memiliki kebutuhan spesifik yang berbeda dengan orang dewasa. Bertumbuh

dan berkembang merupakan ciri khas yang dimilikinya. Dalam masa tumbuh

kembang anak memiliki rentang lambat dan rentang cepat, kedua rentang

tersebut hampir semua terjadi diseluruh proses yang dilalui anak dalam

bertumbuh dan berkembang (Suryani & Badi’ah, 2018).

Usia toddler merupakan periode kritis untuk perkembangan anak, apabila

pada masa tersebut anak tidak diberikan kebutuhan dasarnya maka anak tersebut

akan mengalami gangguan perkembangan. Kebutuhan dasar yang diperlukan

anak diantaranya adalah asah, asih, dan asuh. Kebutuhan asuh mencakup

kebutuhan fisik-biomedis yaitu pemenuhan kebutuhan nutrisi untuk beraktifitas

dan pertumbuhan sel-sel tubuh. Kebutuhan asih merupakan kebutuhan yang

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


2

mencakup psikologis seperti kebutuhan emosi dan kasih sayang, sedangkan

kebutuhan asah adalah kebutuhan akan stimulasi, yang disebut dengan stimulasi

ialah pemberian rangsangan terhadap anak, hal ini sangat berperan agar potensi

anak berkembang. Dengan mengasah kemampuan anak secara terus-menerus

dan terarah, maka kemampuan anak akan semakin meningkat dan berkembang.

Faktor keluarga berperan penting dalam mendukung perkembangan anak.

Keluarga dapat mendukung perkembangan anak dengan cara memberikan

stimulasi seperti mengajak anak untuk bermain, bersosialisasi dengan orang lain,

dan selalu terlibat dalam kegiatan anak. Oleh karena itu keluarga terutama ibu

bertanggungjawab untuk selalu mencukupi kebutuhan asah, asih, dan asuh pada

anak (Soetjiningsih & Ranuh, 2013).

Kemampuan perkembangan anak dapat dilihat dari empat komponen yaitu

perkembangan motorik halus, motorik kasar, bahasa serta kemandirian. Untuk

dapat mencapai perkembangan anak secara optimal bergantung pada potensi

biologiknya yang diperoleh melalui proses yang unik dan hasil akhir yang

berbeda-beda, serta didukung berbagai faktor yang saling berkaitan, diantaranya

faktor genetik, lingkungan bio-fisiko-psiko-sosial dan perilaku (Suryani &

Syamsiatun, 2016). Salah satu aspek yang penting pada proses perkembangan

adalah perkembangan motorik kasar atau kemampuan tubuh menggunakan otot-

otot besar dari seluruh anggota tubuh, hal ini dipengaruhi oleh kematangan anak

sebagai awal dari kecerdasannya sehingga anak dapat duduk, berjalan, dan lain

sebagainya (Ananditha, 2017).

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


3

Lebih dari dua puluh tahun diketahui masalah perkembangan merupakan

“new morbidity”. Diperkirakan bahwa 200 juta anak balita di negara berkembang

mengalami gangguan perkembangan karena kemiskinan, malnutrisi, tingkat

infeksi yang tinggi, kurangnya stimulasi dan edukasi serta ketidakstabilan di

rumah. Angka kejadian penyimpangan perkembangan pada anak di seluruh

dunia adalah 10-17%. Angka kejadian keterlambatan perkembangan di

Argentina 20%, Amerika 12-16%, Thailand 37,1% dan Indonesia 13-18%.

Sebanyak 0,25% anak usia 12-36 bulan di Asia mengalami penyimpangan

perkembangan dan 5% diantaranya berada di Indonesia (Saputri et al., 2020).

Sedangkan angka kejadian gangguan perkembangan motorik menurut UNICEF

adalah 27,5% atau 3 juta anak mengalami gangguan (Yunita et al., 2020).

Di Indonesia rata-rata anak dapat berjalan pada usia 14 bulan sedangkan di

negara tetangga seperti Amerika anak mulai berjalan rata-rata umur 12 bulan dan

anak-anak di Eropa antara 12 sampai 13 bulan (Hardika, 2018). Jumlah balita

pada tahun 2018 di Indonesia tercatat sebanyak 23.729.583 jiwa, hal ini

menjadikan balita sebagai penduduk terbanyak kedua di Indonesia oleh sebab itu

pertumbuhan dan perkembangan balita sangat penting untuk dipantau demi

tercapainya generasi masa depan bangsa yang cemerlang (Kemenkes RI, 2019).

Berdasarkan Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 pada

perkembangan anak usia 36-59 bulan didapatkan hasil indeks perkembangannya

adalah sebesar 88,3% yang mencakup aspek literasi sebesar 64,6%, aspek sosial

emosional sebesar 69,9%, aspek learning sebesar 95,2% dan aspek fisik sebesar

97,8% (Kemenkes RI, 2018).

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


4

Berdasarkan masalah perkembangan anak diatas, pemerintah telah

melakukan berbagai upaya dalam mendukung pelaksanaan Stimulasi Deteksi

dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) dan membuat metode deteksi

dini untuk mengetahui penyimpangan perkembangan anak dan skrining untuk

mengetahui penyakit potensial yang dapat mengakibatkan penyimpangan

perkembangan anak. Namun sampai saat ini cakupan SDIDTK masih terbatas

pada deteksi dini penyimpangan pertumbuhan sedangkan deteksi dini

penyimpangan perkembangan, penyimpangan emosional, dan stimulasi sesuai

usia anak belum dilaksanakan (Saputri et al., 2020). Berdasarkan data Dinas

Kesehatan Provinsi DIY menunjukkan bahwa cakupan DTKB Kota Yogyakarta

dengan jumlah balita 49.155 dengan realisasi 8.100 (32,5%), Kabupaten Bantul

jumlah balita 65.793 dengan realisasi 21.431 (32,6%), Kulon Progo jumlah balita

33.377 dengan realisasi 7,028 (21,5%), Gunung Kidul jumlah balita 40.240

dengan realisasi 6.726 (16,8%), Sleman jumlah balita 64.811 dengan realisasi

22.347 (31,7%). Bedasarkan data tersebut diketahui untuk cakupan DTKB setiap

kabupaten masih jauh dari target cakupan DTKB Provinsi DIY yaitu 65%

(Hayuningtyas, 2019).

Kurang optimalnya penerapan deteksi perkembangan anak tersebut

menyebabkan tidak terdeteksinya masalah perkembangan anak secara

menyeluruh serta faktor-faktor penyebab yang dapat mempengaruhi

perkembangannya seperti faktor pengetahuan ibu dan pemberian stimulasi. Pada

penelitian Khairani (2019) yang meneliti hubungan pengetahuan ibu tentang

stimulasi dengan perkembangan anak usia 4-5 tahun menunjukan bahwa terdapat

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


5

hubungan antara kedua variabel tersebut. Pengetahuan yang baik tentang

stimulasi akan membuat ibu menjadi sadar dan paham jika terjadi gangguan

perkembangan pada anaknya dan menunjukkan bahwa pengetahuan yang

dimiliki tersebut dapat membawa ibu untuk berpikir dan berusaha untuk

memberikan stimulasi supaya anaknya tidak mengalami penyimpangan

perkembangan (Khairani et al., 2019).

Pada penelitian yang dilakukan oleh Gerungan (2019) pada orang tua

dengan anak usia pra sekolah menunjukan tidak terdapat hubungan yang

signifikan pengetahuan orang tua tentang stimulasi dengan perkembangan

motorik halusnya. Dalam penelitian tersebut dikatakan bahwa pengetahuan

orang tua yang baik namun tidak diimbangi dengan perilaku pemberian stimulasi

yang sesuai menjadikan pengetahuan yang dimilikinya tidak bermanfaat

(Gerungan, 2019).

Kurangnya pengetahuan keluarga terutama ibu tentang stimulasi dan

pengaplikasian stimulasi perkembangan motorik kasar pada anak dapat

menyebabkan keterlambatan perkembangan motorik sehingga anak tidak

mendapatkan kesempatan untuk mempelajari keterampilan motoriknya dan

gagal berkembang secara optimal (Gerungan, 2019). Motorik kasar yang tidak

optimal akan membuat menurunnya kreatifitas anak dalam beradaptasi dan

kemandiriannya yang akan menyebabkan ketidakmampuan anak untuk

mengenali lingkungan dan mempersulit mereka untuk bisa di terima di

lingkungannya (Ananditha, 2017).

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


6

Berdasarkan hasil wawancara terhadap 15 Ibu di Desa Sumberharjo

mengatakan belum pernah menerima informasi terkait stimulasi perkembangan

anak dan didapatkan 11 dari 15 orang Ibu berpengetahuan baik dan 4 Ibu

berpengetahuan cukup berdasarkan hasil skoring kuesioner terkait pengetahuan

Ibu tentang stimulasi perkembangan anak. Sedangkan dari 15 anak usia toddler

terdapat 3 (20%) anak usia toddler dicurigai (suspect) mengalami keterlambatan

pada motorik kasarnya. Dari uraian diatas peneliti tertarik untuk melakukan

penelitian dengan judul hubungan pengetahuan Ibu tentang stimulasi dengan

perkembangan motorik kasar anak usia toddler di Desa Sumberharjo, Kecamatan

Prambanan, Kabupaten Sleman Yogyakarta.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas yang menjadi rumusan masalah penelitian

adalah “Adakah hubungan pengetahuan Ibu tentang stimulasi dengan

perkembangan motorik kasar anak usia toddler di Desa Sumberharjo, Kecamatan

Prambanan Kabupaten Sleman Yogyakarta?”

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum:

Mengetahui hubungan pengetahuan Ibu tentang stimulasi dengan

perkembangan motorik kasar anak usia toddler.

2. Tujuan Khusus:

a. Mengetahui pengetahuan Ibu tentang stimulasi di Desa Sumberharjo

Kecamatan Prambanan Kabupaten Sleman Yogyakarta.

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


7

b. Mengetahui perkembangan motorik kasar anak usia toddler di Desa

Sumberharjo Kecamatan Prambanan Kabupaten Sleman Yogyakarta.

D. Ruang Lingkup

Ruang lingkup penelitian ini pada keperawatan anak, untuk mengetahui

hubungan pengetahuan ibu tentang stimulasi dengan perkembangan motorik

kasar anak usia toddler di Desa Sumberharjo Kecamatan Prambanan Kabupaten

Sleman Yogyakarta.

E. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan dapat

memberikan masukan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan

penerapannya khususnya di bidang keperawatan anak.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Ibu yang mempunyai anak toddler di desa Sumberharjo

Diharapkan penelitian ini dapat menambah pengetahuan Ibu dan

kesadaran Ibu dalam memberikan stimulasi kepada anaknya.

b. Bagi Kader Posyandu di desa Sumberharjo

Sebagai gambaran dalam penyuluhan kepada Ibu maupun orang tua

anak terkait pentingnya stimulasi sebagai usaha pengoptimalan

perkembangan motorik kasar anak usia toddler.

c. Bagi Mahasiswa Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


8

Penelitian ini dapat menjadi bahan masukan penelitian selanjutnya

dan juga dapat menjadi bahan referensi materi dalam pembelajaran

terutama yang berkaitan dengan ilmu keperawatan anak.

F. Keaslian Penelitian

1. Khairani et al. (2019) meneliti tentang “Hubungan Pengetahuan Ibu Tentang

Stimulasi Dengan Perkembangan Anak Usia 4-5 tahun di PAUD Bina Ana

Prasa dan PAUD Islam Baiturrahim Kabupaten Rejang Lebong. Jenis

penelitian yang digunakan peneliti adalah Survey Analitik dengan desain

cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang

memiliki anak usia 4-5 tahun di PAUD Bina Ana Prasa dan PAUD Islam

Baiturrahim tahun ajaran 2018/2019 dengan sampel sebanyak 52 ibu melalui

teknik total sampling. Analisis data dilakukan dengan analisis univariat dan

bivariat dengan menggunakan uji Chi-Square (c2). Hasil penelitian diketahui

dari 52 ibu, terdapat 18 ibu (34,6%) berpengetahuan kurang dan 31 ibu

(59,6%) yang memiliki anak dengan perkembangan sesuai dengan tahap

perkembangan. Dari penelitian tersebut didapatkan adanya hubungan yang

signifikan antara pengetahuan ibu dengan perkembangan anak di PAUD Bina

Ana Prasa dan PAUD Islam Baiturrahim Kabupaten Rejang Lebong dengan

kategori hubungan kuat.

Persamaan dengan peneliti adalah menggunakan desain cross sectional,

alat pengumpul data untuk pengetahuan Ibu tentang stimulasi dengan

kuesioner. Perbedaan dengan peneliti adalah sampel yang diambil adalah Ibu

dengan anak usia toddler dengan cara purposive sampling, uji statistik

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


9

menggunakan Kendall Tau dan tempat penelitian berada di Desa

Sumberharjo, Kecamatan Prambanan Kabupaten Sleman Yogyakarta.

2. Gerungan (2019) meneliti tentang “Hubungan Pengetahuan Orang Tua

Tentang Stimulasi Dengan Perkembangan Motorik Halus Anak Pra Sekolah.

Penelitian ini menggunakan deskriptif korelasi dengan pendekatan cross

sectional, pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan purposive

sampling sebanyak 46 orang. Instrumen penelitian yang digunakan adalah

kuesioner dan untuk perkembangan anak dinilai menggunakan Kuesioner Pra

Skrining Perkembangan (KPSP). Uji statistik dalam penelitian ini adalah

Spearman rank. Hasil penelitian yaitu tidak terdapat hubungan signifikan

pengetahuan orang tua tentang stimulasi dengan perkembangan motorik halus

anak pra sekolah p value = 0,06 > 0,05.

Persamaan dengan peneliti adalah penelitian korelasi menggunakan

desain cross sectional, pengambilan sampel dengan cara purposive sampling,

alat pengumpul data dengan kuesioner. Perbedaan dengan peneliti adalah alat

pengumpul data untuk perkembangan anak menggunakan Denver

Development Screening Test (DDST), sampel yang diambil Ibu dengan anak

usia toddler, dan tempat penelitian berada di Desa Sumberharjo, Kecamatan

Prambanan Kabupaten Sleman Yogyakarta.

3. Alfiyah & Nafiah (2016) meneliti tentang “Hubungan Tingkat Pengetahuan

Ibu Tentang Stimulasi Dengan Perkembangan Anak Usia 0-24 Bulan Di Desa

Triguno Kecamatan Pucakwangi Kabupaten Pati” Menggunakan desain

penelitian korelasi dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel 60

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


10

orang yang diambil menggunakan metode simple random sampling.

Menggunakan instrumen kuesioner dan untuk perkembangan anak dinilai

menggunakan Kuesioner Pra Screening Perkembangan (KPSP). Kuantitatif

data dianalisis dengan uji chi square menggunakan metode yate’s correction.

Hasil penelitian diperoleh p value (0,000) < α (0,05) atau X² hitung (31,139)

> X² tabel (3,84146). Maka Ha diterima, Ada hubungan Tingkat Pengetahuan

Ibu Tentang Stimulasi Dengan Perkembangan Anak Usia 0-24 Bulan Di Desa

Triguno Kecamatan Pucakwangi Kabupaten Pati.

Persamaan dengan peneliti adalah penelitian menggunakan desain

cross sectional. Perbedaan dengan peneliti Teknik pengambilan sampel

menggunakan purposive sampling. Sampel yang diambil adalah Ibu dengan

anak usia toddler, alat pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner dan

untuk menilai perkembangan anak menggunakan Denver Development

Screening Test (DDST) dan tempat penelitian berada di Desa Sumberharjo,

Kecamatan Prambanan Kabupaten Sleman Yogyakarta.

4. Kosegeran et al. (2013) meneliti tentang “Hubungan Tingkat Pengetahuan

Orang Tua Tentang Stimulasi Dini Dengan Perkembangan Anak Usia 4-5

Tahun di Desa Ranoketang Atas.” penelitian ini merupakan penelitian

kuantitatif dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan terhadap

sampel sebanyak 32 responden pada bulan Juni 2013 didesa Ranoketang

Atas. Uji statistik yang digunakan adalah uji kolmogorov smirnov. Hasil

penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta


11

tingkat pengetahuan orang tua tentang stimulasi dini dengan perkembangan

anak usia 4-5 tahun (p=0,005).

Persamaan dengan peneliti adalah penelitian menggunakan

pendekatan cross sectional. Perbedaan dengan peneliti adalah sampel yang

diambil adalah Ibu dengan anak usia toddler dengan teknik purposive

sampling, instrumen yang digunakan adalah kuesioner pengetahuan ibu

tentang stimulasi dan untuk menilai perkembangan anak menggunakan

Denver Development Screening Test (DDST) serta tempat penelitian berada

di Desa Sumberharjo, Kecamatan Prambanan Kabupaten Sleman

Yogyakarta.

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

You might also like