IMMUNOLOGICAL ASPECT
OF IMMUNIZATION
dr. Firdaus Hamid, Ph.D
Author: Dr. Julius Roma, SpA
Immunization the way to increase someone’s
immunity to a certain cause of disease if exposed to
the germ maybe not ill or mildly ill
AIM OF IMMUNIZATION (VACCINATION)
1. To reduce the number of illness (morbidity)
2. To reduce the number of deaths (mortality)
3. To reduce the number of disability (sequelae)
4. Noble : eradication of certain disease
small pox eliminated
PIN polio and measles ?
Passive immunity : immunity from outside, short
duration, congenital or artificial
Active immunity : from the body itself after exposure
to some antigen, whether it’s naturally / artificially
(vaccination); last longer / lifetime
Passive immunization
transfer of anti (antibody or immunity cell) non immune
person
Natural passive immunity
Mother’s immunity placenta foetus
Antiviral, antitoxin, antibacterial
Mother’s immunity breast milk baby
Colostrum >> permanent breast milk
Spesific immunity: E. Coli, Shigella, Polio, etc
Non spesific immunity :
Lisozyme, Lactoferin, Interferon, etc
Cell mediated immunity ?
Artificial passive immunity
Heterolog antibody
From horse
Can induce allergic reaction
( Type I or III serum sickness)
First SKIN TEST/ EYE TEST
Negative direct injection
Positive desensitization
Directly : neonates or new to desensitization
action
Homolog antibody Gammaglobulin
Immune serum globulin ( Human Normal
Immunoglobulin/ HNI )
From healthy donor (without noticing
vaccination procedure, recovery time)
Tourist to tropical region
ITP, Kawasaki disease, Steven Johnson
Syndrome
Guillain Barre Syndrome
Specific human immune serum
Immunized donor
Tetanus immune globulin
Rabies immune globulin
Hep. B immune globulin
Active immunization/vaccination:
The body made the anti essence after
getting stimulus from the outside, ex:
natural infection or vaccination. Natural
infection including symptomatic or
asymptomatic
SOURCE OF ANTIGEN VACCINE
Vaccine :
Bacteria/ virus:
Patogenicity (-) but immunogenicity (+)
Toxoid :
toxicity (-), immunogenicity (+)
IMMUNIZATION
Passive Active
Route - Parenteral - Parenteral
- Oral
Immnune effect - Immediately after immunization - After a few time
- Acute - Prolong
Age - Immediately after delivery - A few time
(HBIG) or exposure / exposure or after
passive immunization
Side effect - Frequent (heterolog) - Rare
Indication - Therapeutic - Prevention
- Prevention
Effective vaccine
1. Induction of the appropriate shape of immunity
2. Stable in reservation, especially living vaccine
3. Enough immunogenicity dead vaccine often
need adjuvant
VACCINATION IMMUNE RESPONSE
1. Primary immune response (PIR) :
First exposure to antigen
Long lag phase
Especially IgM
Forming memory cells (B cell & T cell)
2. Secondary immune response (SIR) :
The next exposure with the same antigen
Shorter lag phase (memory cell formed)
Especially IgG & sel T active
Forming many effector cells and memory cells
SIR give adequate response to the same antigen
exposure in the future
“BOOSTER” to maintain the effective immune
response
VACCINATION IMMUNE RESPONSE
INFLUENCED BY
1. Host Immune Status
Maternal immunity can reduce immune response,
example antibody to measles
Age < 2 months and old person less response
Immune status immune deficiency :
R/ immunosupression
Congenital immune deficiency
Severe illness
Nutritional status malnutrition
Cellular response decreasing
Spesific humoral response decreasing
Immune deficiency contraindication of living
vaccine
2. Host genetical factor well responder, enough & low
3. Vaccine quality and quantity :
a. Ways of administration
Polio Sabin vaccine local/systemic immunty
Polio Salk vaccine systemic immunity
b. Dosage suggestive dose
c. Frequency & administration interval
d. Vaccine type living vaccine > dead vaccine
e. Adjuvant : increasing vaccination immune
response
f. Reservation influencing the vaccine potency
Imunisasi Anak
Pendahuluan
The hepatitis B
virus The measles virus
Bordetella
Corynebacterium pertussis
diphtheriae Clostridium tetani
Imunisasi
Memberikan proteksi terhadap penyakit
infeksi spesifik (penyakit yang dapat
dicegah oleh imunisasi)
Hak anak
Orangtua, tenaga kesehatan menjamin
imunisasi tersedia untuk semua anak
Imunisasi
Pasif
Aktif
Imunisasi Pasif
Imunitas pasif : mendapat antibodi
yang telah terbentuk
Antibodi ibu ditransfer melalui plasenta
selama trimester ke3.
Contoh : tetanus toxoid pada ibu hamil
akan menurunkan kejadian tetanus
neonatorum
Imunisasi Pasif
Immunoglobulin manusia untuk
perlindungan terhadap campak
Imunoglobulin spesifik untuk
perlindungan terhadap tetanus,
diphtheria, hepatitis B, rabies.
(CMV, varicella)
Imunisasi Aktif
Antigen yang diberikan akan
menimbulkan respon imun mirip
seperti infeksi alamiah
Memori imunologis seumur hidup
Perlindungan seumur hidup terhadap
penyakit
Imunisasi Aktif
Menggunakan:
Seluruh organisme (hidup atau mati)
Komponen organisme (vaksin subunit,
vaksin polisakarida)
Modifikasi produk organisme infeksi
(vaksin toxoid)
Manufaktur komponen organisms
(vaksin rekombinan)
Vaksin Ideal
Memberikan perlindungan terhadap
penyakit infeksi
Memberikan proteksi seumur hidup
Tidak ada efek simpang
Perlu diberikan hanya sekali
Dapat diberikan secara kombinasi
Vaksin Ideal (2)
Mudah pemberiannya dan tidak sakit
Stabil dalam pelbagai kondisi
penyimpanan
Punya masa penyimpanan yang
panjang
Mudah dan murah untuk diproduksi
Bakteri Virus
hidup : BCG Hidup : OVP, campak,
varicella parotitis,
rubela, yellow fever
Inaktif : difteri,
pertusis, Inaktif : infuenza, IVP,
tetanus,kolera,pneum rabies, hepatitis A,
okokus, Hepatitis B
meningokokus, Hib,
Thypoid
PPI
Program Pengembangan Imunisasi :
BCG
Hepatitis B
DTP
Polio
Campak
Jadwal Imunisasi IDAI 2006
* Umur < 9 tahun yang mendapat vaksin influenza pertama kalinya harus mendapat 2 dosis
dengan interval minimal 4 minggu
Jadwal imunisasi 2010
BCG
• Vaksin BCG optimal diberikan pada umur 2 sampai 3 bulan.
• Bila vaksin BCG akan diberikan sesudah umur 3 bulan, perlu
dilakukan uji tuberkulin.
• Bila uji tuberkulin pra-BCG tidak dimungkinkan, BCG dapat
diberikan, namun harus diobservasi dalam 7 hari.
• Bila ada reaksi lokal cepat di tempat suntikan (accelerated local
reaction), perlu dievaluasi lebih lanjut (diagnostik TB).
Hepatitis B
Vaksin Hepatitis B pertama diberikan dalam waktu 12
jam setelah lahir.
DTP – Polio
• Vaksin Polio-0 (OPV) diberikan saat kunjungan pertama.
• Bayi yang lahir di RB/RS diberikan vaksin OPV saat bayi
dipulangkan untuk menghindari transmisi virus vaksin kepada
bayi lain.
• Selanjutnya dapat diberikan vaksin OPV atau IPV.
• Vaksin DTP diberikan pada umur > 6 minggu.
• Dapat diberikan vaksin DTwP atau DTaP atau kombinasi dengan
Hep B atau Hib.
• Ulangan DTP umur 18 bulan dan 5 tahun.
• Program BIAS: disesuaikan dengan jadwal imunisasi
Kementerian Kesehatan.
Campak
Vaksin campak atau MMR ulangan diberikan
pada umur 5-7 tahun.
Program BIAS : disesuaikan dengan jadwal
imunisasi Kementerian Kesehatan.
BCG
BCG
Bayi < 3 bulan
Dosis : 0,05 ml IK / ID
Deltoid kanan
Jika > 3 bulan : tes Mantoux/tuberkulin
Daya lindung hanya 42% (WHO 50-78%)
Dikembangkan vaksin TB baru
Penyuntikan intradermal
KIPI = VAER
KejadianIkutan Pasca Imunisasi Vaccine
Adverse Events Report
BCG Ulkus superfisial 3 minggu
Krusta skar 4-8 mm
Limfadenitis
– BCG itis
Disseminated BCG-itis : immunodefisien
berat
DTP
DTP
Cegahdipteria, tetanus, pertusis
Mengandung: Dipteria toxoid,
Tetanus toxoid,
Vaksin Pertusis :
- whole cell
- aselular
DTP
Dasar : 3 kali sejak umur 2 bulan
interval 4-8 mg
Ulangan
- 18-24 bl
5-7 tahun
12 tahun (program BIAS: DT)
Kontraindikasi DTP
Absolut:
1. Riwayat reaksi anafilaksis
2. Ensefalopati (penyakit saraf akut berat
dengan kejang lama dan/atau gangguan
kesadaran dan/atau gangguan neurologis
fokal )
Kontra indikasi DTP
• Specific precaution:
1. Riwayat hiperpirexia
2. Hypotonic hyporesponsiveness
dalam 48 jam
[Link] terus menerus > 3 jam
[Link] kejang dalam 3 hari
setelah imunisasi
Rekomendasi DTP
DTP 1 : umur 2-4 bulan
DTP 2 : umur 3-5 bulan
DTP 3 : umur 4-6 bulan
DTP 4 : umur 1 ½ - 2 tahun
DTP 5 : umur 5 tahun
DT 6 : umur 12 tahun
Table 2. Approximate rates of adverse event occurring within 48 hours DTP
vaccination
Event Frequency
Local
redness, swelling, pain 1 in 2-3 doses
Mild/moderate systemic
fever, drowsiness, fretfulness 1 in 2-3 doses
vomiting, anorexia 1 in 5-15 doses
More serious systemic
persistent crying, fever 1 in 100-300 doses
collapse, convulsions 1 in 1750 doses
acute encephalopathy 1 in 100,000 doses
permanent neurological deficit 1 in 300,000 doses
Polio
Polio
Cegah : poliomielitis
Flaccid paralysis (Lumpuh layu), nyeri
di punggung dan ekstremitas.
Vaksin polio :
Vaksin virus hidup (Sabin) : oral
Vaksin virus mati (Salk) : parenteral
Kontra indikasi Polio – OPV
Suhu > 38,5º C
Kortikosteroid, radiasi
Keganasan
Infeksi HIV or keluarga
Saudara atau anggota keluarga yang
kontak dengan anak imunokompromais
Rekomendasi Polio
Polio
1 : lahir
DPT 1 + Polio 2: umur 2-4 bulan
DPT 2 + Polio 3: umur 3-5 bulan
DPT 3 + Polio 4: umur 4-6 bulan
DPT 4 + Polio 5: umur 1 ½ - 2 tahun
DPT 5 + Polio 6: umur 5 tahun
DT 6 : umur 12 tahun
Hepatitis B
Hepatitis B
Cegah hepatitis B
Vaksin Hepatitis B :
Vaksin derivat plasma
Vaksin rekombinan
Hepatitis B
HB-1 diberikan vaksin rekombinan HB
10 mcg intramuskular, dalam waktu 12
jam setelah lahir
HB-2 diberikan umur 1 bulan dan HB3
pada umur 3-6 bulan
Apabila pada pemeriksaan selanjutnya
diketahui ibu HbsAg-nya positif,
segera berikan 0,5 ml HBIG (sebelum
1 minggu)
Kontraindikasi Hepatitis B
Tidak ada, kecuali hamil
Campak
Campak
Live attenuated virus
Umur 9 bulan
Dosis 0.5 ml SK
Indikasi kontra : demam tinggi,
immunosupresi, immunoglobulin atau
pemberian komponen blood
Ulangan : umur 5-7 tahun
Campak - KIPI
Demam 5-15% pada hari 5-6 pasca
immunisasi, selama 2 hari
Rash 5%, hari 7-10, selama 2-4 hari
Ensefalitis and ensefalopati = 1 : 1 juta
dosis dalam 30 hari pasca imunisasi
Vaksin Non PPI
Hib
MMR
Tifoid
Hepatitis A
Varisela
Influenzae
Pneumokokus
Penyimpanan vaksin
Semua pada suhu 0 – 8 C (WHO)
( Depkes 2-8 C )
Kecuali : OPV
BCG
Campak
( beku : -15 s/d – 25 C )
Pendahuluan
Penyakit-penyakit yang dapat dicegah Vaksin
Penyakit-penyakit menular yg disebabkan oleh mo : virus,
bakteri, parasit
Vaksin merupakan sediaan biologi yang berasal dari virus,
bakteri, parasit yg sudah dilemahkan atau dimatikan /
diinaktivasi
Vaksin bisa juga berasal dari bagian mo yg bersifat
antigenik dan merangsang pembentukan respons imun
humoral serta juga dpt mengaktivasi limfosit B memori thd
mo ttt
Imunisasi dewasa : perhatian kurang imunisasi anak
WHO : 1980 cacar lenyap dari bumi
2000 eradikasi polio
USA : 50.000 - 70.000 orang dewasa meninggal
ok. pneumokok, influenza, hepatitis B
20 - 70% wisatawan masalah kesehatan dlm
perjalanan
Pierce G dan Schaffner
Kurangnya perhatian imunisasi usia dewasa karena:
keraguan keamanan vaksin
ganti rugi yang tidak memadai /asuransi
belum berkembang sistem imunisasi dewasa
Dari cara penularannya penyakit dpt dikategorikan
menjadi 3 golongan :
Air-borne (mll udara)
Flu, Pneumokokal pneumonia, Campak, Gondong,
Rubela, Cacar air dll
Blood-borne (mll darah)
Hepatitis B
Vector & Food-borne (mll vektor/makanan)
Demam Tifoid, Hepatitis A, Rabies
Who are at risk of Airborne infection?
People travel with aircraft or public transportation :
traveler, aircrew, etc
Health care workers : hospitals, clinics, etc
Community places (esp. room with air-condition) :
school, church, café, etc
Family means everybody ………..
a. Live attenuated vaccines
b. Killed inactivated vaccines
c. Rekombinan
d. Toksoid
e. Plasmid DNA Vaccines
- Intramuskular
- Subkutan
- Intradermal
- Intranasal
- Oral
Indikasi vaksin pada orang
dewasa
- Risiko pekerjaan : Hepatitis B, Rabies
- Imunokompromais : Pneumokok, Influenza
Hepatitis B, HIB
- Bepergian : Japanese B Encephalitis,
Tifoid, Hepatitis A, Meningitis,
- Riwayat paparan : Tetanus Toksoid
- Risiko penularan : Influenza, Hepatitis A,
Tifoid, MMR, HPV
- Usia lanjut : Pneumokok, Influenza
Persoalan yang timbul
1. Vaksin dilemahkan 2. Vaksin dimatikan
- Waktu kurang - Kontaminasi
- Mutasi bentuk - Reaksi alergi
- Kontaminasi - Proses mematikan
- Penerima vaksin bakteri / virus < memadai
imunokompromais
Stabilitas
Suhu 4o C 1 tahun
37o C 2-3 hari
Nama vaksin Macam vaksin Cara pemberian
Tetanus Toksoid suntikan IM
Kolera Bakteri yang dimatikan suntikan IM / SK
Hemofilus influenza tipe B Polisakarida suntikan IM
Pneumokok Polisakarida (23 tipe) suntikan IM / SK
Meningokok Polisakarida suntikan SK
Tifoid Bakteri yang dimatikan oral dan suntikan IM
BCG Bakteri dilemahkan suntikan ID / SK
Campak Virus dilemahkan suntikan SK
Parotitis (Mumps) Virus dilemahkan suntikan SK
Vaksin untuk orang dewasa
Nama vaksin Macam vaksin Cara pemberian
Polio oral Virus dilemahkan oral
Polio inactivated Virus tidak aktif suntikan SK
Rubela Virus dilemahkan suntikan SK
Yellow fever Virus dilemahkan suntikan SK
Hepatitis B DNA rekombinan suntikan IM
Hepatitis A Virus tidak aktif suntikan IM
Influenza Virus tidak aktif suntikan IM
Japanese B encephalitis Virus tidak aktif suntikan SK
Rabies Virus tidak aktif suntikan IM / ID
Vaksin yang sedang dikembangkan : malaria, DHF, HIV, H. pylori
Siapa yang perlu divaksinasi ?
Individu usia >6 bulan s/d dewasa Dewasa tua >65
tahun
Individu dengan penyakit kronis Rumah
sakit/perawatan/panti Kehamilan trimester 2 dan 3
Hajj Pilgrimage
Kelompok yang berIsiko menularkan virus terhadap
kelompok “high risk” (risiko tinggi):
Ibu/pengasuh bayi yang berusia 0-23 bulan Dokter,
perawat, dan petugas kesehatan lainnya
Saat ini ± 1 milyar penduduk dianggap “high
risk”
ACIP 2002; Canadian NACI 2001; UK DOH 2002; CDC 2005; 56th World Health Assembly WHO (17 Maret
2003)
Vaccines for Adults
Tetanus dan Diphteria (Td)
Pemberian booster Td/Tdap sangat penting
sehubungan dengan wabah Difteri yang terjadi di
beberapa daerah dan waning immunity
pascavaksinasi Pertusis.
Orang dewasa menggunakan vaksin Td/Tdap, yang
merupakan vaksin DTP dengan reduksi antigen
Difteri dan Pertusis, Tdap menggunakan komponen
pertusis aseluler (bukan whole-cell), sehingga kurang
reaktogenik.
Untuk mencegah Tetanus Neonatorum,
status imunisasi Tetanus bagi WUS (Wanita
Usia Subur) dan calon pengantin
perempuan juga harus diperhatikan
Varicella (Cacar Air)
Vaksin Varicella merupakan vaksin hidup.
Semua orang dewasa yang tidak terbukti pernah mengalami
Cacar Air atau tidak memiliki kekebalan terhadap
Varicella, dianjurkan untuk vaksinasi. Manifestasi klinis
Cacar Air pada orang dewasa umumnya lebih berat
daripada anak-anak.
Sangat dianjurkan bagi tenaga kesehatan.
Varicella dapat menyebabkan cacat janin bila infeksi
primer terjadi pada trimester pertama kehamilan,
sehingga dianjurkandiberikan sebelum menikah/hamil.
Diperlukan waktu minimal 4 minggu untuk boleh hamil
setelah vaksinasi terakhir.
Jangan diberikan kepada ibu hamil.
Human Papillomavirus (HPV)
untuk Perempuan
Vaksinasi HPV untuk perempuan dapat
menggunakan vaksin HPV bivalent atau quadrivalent.
Waktu pemberianterbaik untuk memperoleh
efektivitas maksimal adalah usia 9-26 tahun
dan/atau sebelum aktif secara seksual.
Vaksin dapat diberikan hingga usia 55 tahun.
Vaksinasi tidak menggantikan Pap Smear/IVA yang
tetap harus dilakukan minimal setiap 3 tahun untuk
deteksi dini.
Tidak direkomendasikan untuk ibu hamil.
Human Papillomavirus (HPV)
untuk Laki-Laki
Vaksinasi HPV untuk laki-laki hanya menggunakan
vaksin HPV quadrivalent.
Untuk usia 9-21 tahun, vaksin diberikan kepada semua
individu.
Untuk usia 22-26 tahun, vaksin terutama diberikan
kepada individu homoseksual yang belum vaksinasi.
Individu non-homoseksual juga menerima vaksinasi
hingga usia 26 tahun.
Zoster
Berikan 1 dosis vaksin Zoster kepada semua
individu berusia 50 tahun ke atas; dengan atau tanpa
episode Zoster sebelumnya.
Vaksin Zoster merupakan vaksin hidup.
Measles/Campak,
Mumps/Gondongan,
Rubella/Campak Jerman (MMR)
Vaksin MMR merupakan vaksin hidup.
Sangat dianjurkan bagi tenaga kesehatan, pelancong
dan orang yang tinggal di asrama, lingkungan padat dan saat
terjadi wabah.
Bila belum pernah diberikan vaksin pada masa kanak-kanak
maka diberikan 2 dosis MMR. Bila sudah pernah, diberikan 1
dosis MMR saja.
Dosis kedua diperlukan karena 2-5% populasi normal
tidak merespons 1 dosis MMR.
Vaksin MMR dapat mencegah Sindroma Rubella Kongenital,
berikan kepada perempuan sebelum
menikah/hamil. Diperlukan waktu minimal 4 minggu untuk
boleh hamil setelah vaksinasi terakhir. Jangan diberikan kepada
ibu hamil.
Pneumokokal Konjugat 13-
valent (PVC13) / Pneumokok
Vaksinasi semua orang berusia 50 tahun ke atas.
Bila belum pernah mendapatkan vaksin Pneumokok,
anjurkan pemberian PCV13 terlebih dahulu lalu
ditambahkan PPSV23 dengan jeda minimal 1
tahun setelah pemberian PCV13.
Vaksinasi seluruh calon jemaah haji dan umrah, perlu
diperhatikan agar vaksinasi telah
memberikan proteksi sebelum jemaah haji / umrah
berangkat.
Bila sebelumnya sudah pernah mendapat
vaksinasi PPSV23, berikan vaksin PCV13
dengan jeda minimal 1 tahun setelah pemberian
vaksin PPSV23
Pneumokokal Polisakarida
(PPSV23) / Pneumokok
Vaksinasi semua orang berusia 60 tahun
ke
atas
Vaksinasi seluruh calon jemaah haji dan
umrah, perlu diperhatikan agar vaksinasi
telah memberikan proteksi sebelum jemaah
haji/umrah berangkat.
PPSV23,
Bila dianjurkan pemberian PCV13
sudah pernah
dengan jeda minimal
mendapatkan vaksin1 tahun sesudah
pemberian PPSV23.
Meningitis Meningokokal
Vaksinas Meningitis Meningokokal tidak
i
diberikan secara rutin.
Vaksin ini hanya diberikan kepada
calon jemaah haji/umrah dan calon
pelancong ke negara-negara tertentu,
sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Vaksin ini boleh diberikan kepada
hamil ibu (dengan pertimbangan
manfaat
yang diperoleh lebih besar dari risiko) dan
ibu menyusui.
Hepatitis A
Hepatitis A virus
Vaksin dianjurkan untuk semua
ini
individu. khusus harus diberikan
kepada
Perhatianpelancong dan penjama
makanan (food handler) h
Hepatitis B
Hepatitis B virus
Perhatian khusus harus diberikan kepada
kelompok risiko tinggi: tenaga kesehatan,
pengguna Narkoba, orang dengan partner
seksual multiple, kondisi imunokompromais,
pasien dengan gangguan hati kronik dan
pasien dengan gangguan ginjal kronik
termasuk yang sedang hemodialisis.
Pada individu imunokompeten, tidak ada
rekomendasi untuk memberikan dosis
penguat (booster).
Thypoid Fever
(Demam Tifoid)
Sebagai negara endemis, vaksin ini dianjurkan
untuk semua orang dengan atau tanpa riwayat
Demam Tifoid.
Pengulangan vaksin diberikan setelah 10 tahun
Pasien yang sudahdivaksinasi
akan mendapat International Certificate of
Vaccination or Prophylaxis (kartu kuning).
Yellow Fever
Vaksin Yellow Fever merupakan vaksin hidup.
Vaksin Yellow Fever tidak diberikan secara rutin.
Vaksinini hanya diberikan kepada calon
pelancong ke negara-negara tertentu
sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Influenza IS NOT Common cold !!!
Presentation Influenza1 Common cold2
Clinical spectrum Systemic Local (only on the
respiratory tract)
Onset Sudden Gradual
Fever Usually high Usually mild
Clinical manifestation Fever, chill, myalgia, Sneezing, nose
or presentation malaise, cough, sore throat blockage, sinusitis
Course of disease May be continuous Usually rapid and mild
Complications
Severity of May be
Tends tosevere,
be more e.g. Usually no or mild
Usually mild
pneumonia, exacerbation complications
illness severe
of chronic disease
Adapted from:
[Link] R. Influenza. In: Kasper L et al, eds. Harrison Principles of Internal Medicine 16th Ed. McGraw-Hill 2000; 137: 1066-71
[Link] R. Common Viral Respiratory Infections and Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). In: Kasper L et al, eds. Harrison Principles of Internal
Medicine 16th Ed. McGraw-Hill 2000; 170: 1059-65
During a sneeze, millions of tiny droplets of
water and mucus are expelled at about 200
miles per hour (100 metres per second).
The droplets initially are about 10-100
micrometres diameter, but they dry rapidly
to droplet nuclei of 1-4 micrometres,
containing virus particles or bacteria. This
is a major means of transmission of several
diseases of humans
Influenza virus
[Link]
1. Meningkatkan kepedulian petugas
2. Meningkatkan kemampuan dan penyediaan vaksin
3. Vaksin murah, mudah dijangkau
4. Pendanaan pemerintah - asuransi
5. Acara khusus
6. Memantau Program Imunisasi Nasional (PIN)
7. Penelitian dalam bidang pelaksanaan vaksinasi
Agar dampak imunisasi besar pemutusan rantai
penularan perlu vaksinasi massal