100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
72 tayangan5 halaman

Lob Milenial OK

Dokumen tersebut membahas generasi milenial di Indonesia. Beberapa poin kuncinya adalah: 1) Generasi milenial lahir antara tahun 1980-2000 dan memiliki ciri khas penggunaan teknologi yang tinggi 2) Mereka cenderung lebih suka bekerja dalam tim dibanding sendiri dan memilih wirausaha sebagai profesi 3) Karakteristik mereka antara lain kolektif, terhubung, dan membangun komunitas

Diunggah oleh

RegyCitraPerdana
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
72 tayangan5 halaman

Lob Milenial OK

Dokumen tersebut membahas generasi milenial di Indonesia. Beberapa poin kuncinya adalah: 1) Generasi milenial lahir antara tahun 1980-2000 dan memiliki ciri khas penggunaan teknologi yang tinggi 2) Mereka cenderung lebih suka bekerja dalam tim dibanding sendiri dan memilih wirausaha sebagai profesi 3) Karakteristik mereka antara lain kolektif, terhubung, dan membangun komunitas

Diunggah oleh

RegyCitraPerdana
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
Anda di halaman 1/ 5

Generasi milenial adalah generasi yang saat ini sering diperbincangkan oleh banyak kalangan

di dunia, generasi milenial atau generasi Y adalah kelompok demografis setelah generasi X
generasi Y atau milenial generasi yang lahir diantara tahun 1980 sampai 2000, jadi kisaran
antara 17 – 37 tahun.

Terminologi millennial generation digunakan untuk menyebut generasi yang lahir pada tahun
1980 hingga akhir 2000-an. Generasi 80-an pun disertakan dalam definisi ini karena mereka
mengalami pubertas dan tumbuh dewasa di era millennium. William Strauss dan Neil Howe
menganggap millennial generation sebagai generasi istimewa. Dalam buku mereka yang
berjudul The Fourth Turning, yang ditulis pada tahun 1997, mereka banyak menuliskan
keyakinan akan hal ini.

Di dunia generasi milenial ini sudah banyak dilakukan penelitian, hanya di Indonesia belum
banyak dilakukan penelitian dari populasi penduduk Indonesia yang sudah mencapai 270 juta
generasi milenial ini menempatkan tertinggi 34.45%, hasil perhitungan sensus.

Generasi milenial agak unik dibanding generasi sebelumnya, hasil riset yang dari Pew
Reseach Center secara gamblang menjelaskan perbedaan dibanding generasi sebelumnya.
Yang mencolok dari generasi milenial dibanding generasi sebelumnya adalah soal
penggunaan teknologi dan budaya. Kehidupan generasi milenial tidak bisa dipisahkan dari
teknologi, terutama internet dan sekarang telah menjadi kebutuhan pokok.

Generasi milenial lebih tertarik membicarakan teknologi, olahraga dan musik dibanding
dengan generasi sebelumnya yang membicarakan sosial politik, ekonomi dan keagamaan.

Ketika kita berbicara dan mencoba membedah potret generasi milenial ada 5 isu utama;
diantaranya isu keagamaan, ideologi dan politik, nilai-nilai sosial, pendidikan serta gaya
hidup dan teknologi. Seperti kita tahu bahwa pada saat ini negara kita masih dipimpin
generasi X yang masih mengedepankan kehidupan demokrasi sebagai sistem negara berdasar
pancasila, di dalamnya tergantung unsur agama, sosial dan ekonomi juga menjunjung tinggi
persatuan.

Dari sedikit uraian diatas muncul beberapa pertanyaan, apakah generasi milenial masih
menganut social categorization dan information/decision making pada era keberagaman saat
ini atau malah sebaliknya malah mengabaikan hal-hal tersebut, berikut uraian singkat
mengenai pertanyaan tersebut

 Social categorization theory

Generasi milenial secara umum memiliki kelebihan anatara lain: cukup mandiri, mudah
beradaptasi, bisa diandalkan terutama dalam bekerja berkelompok, tidak takut bila tidak
dapat kerja sebab dengan teknologi mereka bisa mendapatkan uang melalui online,
pertemanan mereka banyak dan menjangkau bukan cuma di Indonesia tapi di seluruh dunia,
dengan teknologi mereka mampu membuat aplikasi yang dapat mempermudah pekerjaan;
termasuk dalam pendidikan, ekonomi, hukum dan sosial.

Jika kita mengamati maka ada beberapa hal yang menarik terkait dengan pekerjaan atau
profesi, mereka senang berkelompok atau bekerja dalam sebuah tim atau pada kelompok
millennial yang lain cenderung memilih wirausaha (entrepreneur) sebagai profesi. Melalui
profesi kewirausahaaan, generasi millennial dapat menjadi pelopor bagi terciptanya gerakan
ekonomi kerakyatan yang berkemakmuran dan berkeadilan.

Menurut Yoris Sebastian di dalam bukunya “Generasi Langgas”, ia membagi generasi


milenial Indonesia menjadi beberapa karateristik yaitu Customization, Chasing inspiration,
Community, Connected, Close to family, Change over generation, Collective, dan
Confidence. Penulis akan lebih menekankan pada beberapa karakter agak terfokus dengan
social categorization, karakteristik itu diantaranya:

 Collective
Generasi milenial memiliki ciri atau karateristik collective dibandingkan dengan generasi
sebelumnya, artinya memiliki solidaritas tinggi didalam kelompok terutama dibanyak kota
non urban. Beberapa contoh diantaranya pada komunitas pemuda-pemudi pelestarian
dibeberapa daerah contohnya di desa Bangli Bali dan budaya “Sirinapace” yang menjadi
kebanggaan para milenials Makassar.
 Connected

Generasi milenials memanfaatkan media sosial untuk berkenalan dan berkolaborasi dalam
berkarya ataupun membuat sebuah usaha lalu membuat wadah atau komunitas tempat
mereka saling berkomunikasi dalam sosial media tersebut agar saling belajar dan saling
berbagi pengalaman atau pun jejaring bisnis mereka.
 Community

Adanya banyak komunitas yang generasi milenial bangun, baik di bidang kreati atau pun
sosial kemasyarakatan, contohnya di kota Malang ada beberap milenial yang hobi traveling
membentuk komunitas yang lalu pada akhirnya menemukan spot wisata baru sehinnga
mereka juga ikut memajukan sektor pariwisata

Kesimpulannya untuk menjadi yang paling kuat di kelas atau lingkungan universitas
bukanlah keinginan para generasi millennial. Mereka lebih mengutamakan kebersamaan,
misalnya menyukai cara belajar berkelompok ketimbang menjadi yang paling pandai satu
kelas. Kebersamaan yang tumbuh sedari kecil, bahkan menjadikan generasi millennial tak
lagi membedakan kawan-kawannya berdasarkan warna kulit ataupun kepercayaan yang
mereka anut. Generasi milenials bukanlah generasi yang masih menganut social
categorization dalam artinya yang sempit, hanya berdasarkan ras,asal daerah, warna kulit dan
bahasa tapi mereka lebih senang berkelompok dalam membangun atau menciptakan hal-hal
yang bersifat produktif bukan yang bersifat desructive pada social categorization yang
memandang diversity sebagai sebuah ketakutan dan hambatan dalam berinteraksi sosial,
generasi milenial malah sebaliknya mereka memandang diversity sebagai sebuah
keuntungan sendiri karena motifnya untuk sebuah tujuan kemajuan bersama yang saling
berkolaborasi dan kelompok hanyalah wadah sebagai tempat keberagaman itu tumbuh
menjadi sesuatu yang produktif

 Information/decision making theory

Ada beberapa teori tentang bagaimana memutuskan para milenial dalam memenuhi gaya
hidupnya diantaranya adalah mereka tidak terpengaruh dengan iklan, sensitif terhadap harga,
suka menggunakan gadget dalam berbelanja, berkomunikasi dengan brand melalui sosial
media, lalu pada akhirnya semua ini untuk membantu memberikan “pengalaman belanja”
yang lebih baik, lebih cepat, dan tidak mudah dilupakan oleh konsumen Milenial.

Ada beberapa hal menarik jika kita melihat kembali pada buku generasi Langgas yang dibuat
Yoris Sebastian yang menjadi riset sekaligus rujukan kondisi generasi milenial Indonesia
pada saat ini, diantaranya adalah:
 Change over Generation
Generasi milenial menjadi generasi yang tumbuh besar di era transisi politik, yaitu reformasi
1998. Oleh karena itu, mereka memiliki karakter yang sangat terbuka terhadap bahkan
bereksperimen dengan berbagai paham ideologis. Milenial sangat kritis serta tidak take it for
granted dalam menerima sebuah paradigma tertentu.
 Chasing inspiration

Mereka suka mencari role model dan idola di era bebas informasi sekarang ini karena
inspirasi bisa didapatkan diamana saja, mereka mencari pemikiran-pemikiran para role model
yang menurut mereka cocok baginya

 Customization

Artinya mereka suka mengadopsi tren-tren baru dari mana pun, memadupadankan dengan
local wisdom untuk memperoleh suatu tren baru yang cocok bagi kebudayaan asal mereka
apalagi era sekarang adanya tren D-I-Y (Do it yourself) yang dibantu oleh teknologi
informasi dan juga Youtube membantu para milenial untuk belajar mengenai apa saja yang
lalu diadopsi sesuai dengan karakter masing-masing

 Close to family

Keluarga menjadi salah satu payung bagi para milenial dalam menghadap era digitalisasi saat
ini, mereka mencari informasi bukan hanya dari internet namu juga bertanya kepada keluarga
terdekatnya mengenai informasi yang ingin mereka ketahui karena para milenial ini senang
mendengar sebuah informasi yang berasal dari pengalaman langsung terutama pengalaman
keluarganya sendiri

Kesimpulannya para milenial memiliki segudang informasi yang amat beragam dan sesuai
dengan teori diatas karena dengan beragamnya infomasi pemikiran milenial menjadi lebih
open minded. Sebuah keputusan yang dihasilkan lebih rasional dengan sudut pandang yang
beragam jadi lebih mudah dalam menghasilkan keputusan yang terbaik.

Bagi generasi millennial untuk melindungi diri dari informasi yang tidak akurat, bersifat
provokasi, pola perilaku penggunaan media harus dievaluasi dan diperbaiki. Merupakan
sebuah hal yang memalukan bagi kita, generasi yang lahir di era digital untuk jatuh pada
informasi hoax yang bersumber dari opini satu orang ataupun berita viral yang tidak
diketahui darimana berita bersumber. Saat ini, untuk memvalidasi berita yang tersebar
melalui media sosial cenderung sulit. Namun, kemudahan teknologi akan banyak membantu
kita untuk membuktikan kebenaran sebuah informasi. Platform mesin pencari mempermudah
kita untuk memperoleh informasi yang akurat, bahkan anda dapat memperoleh data hasil
penelitan maupun jurnal yang dipublikasikan oleh lembaga – lembaga kredibel.

Tidak lagi menjadi alasan untuk mempercayai satu sumber berita karena sebagai generasi
yang lahir di era digital, kita telah diberikan kemudahan untuk menjadi orang – orang yang
“melek media” dan menjadi lebih kritis dalam menyaring informasi yang disajikan kepada
kita.

Anda mungkin juga menyukai