SP-009-3
Rahmasiwi et al. Peningkatan Keterampilan Proses Sains Siswa melalui Model Inkuiri
Peningkatan Keterampilan Proses Sains Siswa dalam Pembelajaran
Biologi melalui Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri di Kelas XI MIA 9
(ICT) SMA Negeri 1 Karanganyar Tahun Pelajaran 2014/2015
Improving Students Science Proces Skill in Biology Through
The Inquiry Learning Model in Grade XI MIA 9 (ICT)
SMA Negeri 1 Karanganyar Academic Year 2014/2015
Amining Rahmasiwi*, Slamet Santosari, Dewi Puspita Sari
Pendidikan Biologi FKIP UNS Surakarta, Indonesia
*Email:
[email protected]Abstract:
The objective of this research is to improve the skill of students science process skill of class XI MIA 9 (ICT)
SMA Negeri 1 Karanganyar academic year 2014/2015 through the use of inquiry learning model. The research
is considered as Classroom Action Research that performed within 3 cycles and consists of 4 phase namely
planning, action, observation, and reflection. The subject of research was students of XI MIA 9 (ICT) SMA
Negeri 1 Karanganyar academic year 2014/2015. Data were obtained by observation, test, interview, and
documentation. The obtained data were analyzed using qualitative descriptive technique. Data validation used
triangulation methods. The result showed that the application of inquiry learning model could improve the
students science process skill of XI MIA 9 (ICT) SMA Negeri 1 Karanganyar academic year 2014/2015. The
data showed that the mean value of all aspects had been improved from 31.41% in pracycle up to 49.14% in
first cycle, than improve up to 62.05% in second cycle, and ended up by 76.45% at the final cycle. The
conclusion of this research is that implementation of inquiry learning model was increasing the students
science process skill in XI MIA 9 (ICT) in SMA Negeri 1 Karanganyar academic year 2014/2015.
Keywords:
inquiry learning model, science process skill.
1. PENDAHULUAN
Hasil observasi pembelajaran di kelas XI MIA 9
(ICT) SMA Negeri 1 Karanganyar menunjukkan
kurangnya optimalisasi proses pembelajaran yang
melibatkan peran siswa. Pembelajaran yang
berlangsung menunjukkan siswa pasif, hanya
memperhatikan penjelasan guru, banyak diam,
banyak mencatat, sedikit mengajukan perntanyaan,
minim dalam berpendapat, serta jarang dalam
merancang dan melaksanakan percobaan secara
mandiri.
Siswa jarang dilibatkan dalam kegiatan
merancang percobaan meliputi penentuan alat bahan,
variabel, serta langkah kerja percobaan. Kegiatan
praktikum yang dilaksanakan hanya berpedoman
pada petunjuk dari guru. Minimnya tingkat
keterlibatan siswa dalam pembelajaran biologi
mengakibatkan keterampilan proses sains siswa
kurang terlatih. Pembelajaran biologi yang ada
seharusnya lebih menekankan pada keterampilan
proses sains. Sependapat dengan Subali (2010) yang
428
menyatakan bahwa biologi sebagai bagian ilmu sains
menekankan pada pembelajaran yang melibatkan
siswa secara langsung melalui pengalaman belajar
yang memuat keterampilan proses sains.
Hasil observasi terhadap keterampilan proses
sains siswa kelas XI MIA 9 (ICT) yang diperoleh dari
pengukuran hasil observasi dan tes tertulis
menunjukkan kemampuan melaksanakan observasi
sebesar 37,89%, mengelompokkan hasil pengamatan
33,87%, menafsirkan data hasil pengamatan 31,44%,
memprediksi kejadian yang akan terjadi dari materi
yang sudah dibahas 27,01%, mengajukan pertanyaan
sebesar 23,38%, merumuskan hipotesis dengan benar
sebesar 33,06%, merencanakan percobaan 29,43%,
menggunakan alat dan bahan sebesar 36,69%,
menerapkan konsep yang telah dipelajari 27,82%,
melakukan percobaan dengan benar 33,85%, serta
mengkomunikasikan hasil dengan benar 31,04%.
Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa
keterampilan proses sains siswa relatif rendah,
terlihat dari persentase masing-masing aspek yang
termasuk kategori kurang baik. Menurut Kale et al
(2013) keterampilan proses sains siswa termasuk
Biologi, Sains, Lingkungan, dan Pembelajarannya
Rahmasiwi et al. Peningkatan Keterampilan Proses Sains Siswa melalui Model Inkuiri
dalam kategori kurang baik jika persentase yang
diperoleh menunjukkan angka kurang dari atau sama
dengan 40%.
Keterampilan proses sains siswa yang rendah
disebabkan oleh beberapa faktor meliputi: rendahnya
latar belakang sains, minimnya prasarana
laboratorium (Jack, 2013), buku satu-satunya
pedoman dalam pembelajaran (Ekene dan Ifeoma,
2011), administrasi sekolah belum menginisiasi
pembelajaran kontekstual (Chaguna dan Yango,
2008), hanya menekankan penguasaan konsep, serta
kegiatan pembelajaran yang belum mengeksplorasi
keterampilan proses sains siswa (Sukarno,
Permanasari, dan Hamidah, 2013). Secara garis besar
faktor yang mempengaruhi rendahnya keterampilan
proses sains siswa terjadi karena kurangnya
optimalisasi pembelajaran yang melibatkan peran
siswa, seperti hasil observasi yang termati di kelas XI
MIA 9 (ICT). Pembelajaran yang berlangsung
memperlihatkan siswa kurang terampil dan aktif
mengikuti proses pembelajaran, siswa cenderung
lebih banyak diam dan sekedar memperhatikan
materi yang disampaikan. Berdasarkan analisis hasil
observasi, disimpulkan bahwa akar masalah
keterampilan proses sains yang rendah disebabkan
karena model pembelajaran yang diterapkan belum
optimal melatihkan keterampilan proses sains,
sehingga diperlukan model pembelajaran yang
mampu memberdayakan keterampilan proses sains
siswa.
Keterampilan proses sains perlu dikembangkan
melalui pengalaman langsung yang melibatkan
penggunaan berbagai material dan tindakan fisik
(Ekene dan Ifeoma, 2011). Pengembangan
keterampilan proses sains menurut Abungu, Okere,
dan Wachanga (2014) digunakan untuk membantu
siswa memperoleh pemahaman materi yang lebih
bersifat long term memory sehingga diharapkan
mampu menyelesaikan segala bentuk permasalahan
kehidupan sehari-hari terutama dalam menghadapi
persaingan global. Jack (2013) menambahkan bahwa
pengembangan sikap dan keterampilan intelektual
yang dibutuhkan untuk meningkatkan pemahaman
konsep dapat dilakukan dengan mengembangkan
keterampilan proses sains sebagai dasar dalam
kegiatan inkuiri. Salah satu model pembelajaran yang
terdiri dari kegiatan-kegiatan inkuiri adalah model
pembelajaran inkuiri. Ongowo dan Indoshi (2013)
menegaskan bahwa keterampilan porses sains dapat
dikembangkan melalui implementasi pembelajaran
yang didasarkan penemuan melalui penyelidikan
yaitu model pembelajaran inkuiri.
Model pembelajaran inkuiri adalah salah satu
tipe model pembelajaran yang menekankan pada
aktivitas, keterampilan, serta pengetahuan melalui
pencarian aktif berdasarkan pada rasa keingintahuan
(Balany, 2013). Ergul (2011) menambahkan bahwa
model pembelajaran inkuiri merupakan salah satu
model pembelajaran yang membantu siswa untuk
memahami
konsep
dan
mengembangkan
keterampilan proses sains melalui tahapan ilmiah.
Tahap pembelajaran inkuiri terdiri dari observasi,
mengajukan
pertanyaan
(merumuskan
permasalahan), merumuskan hipotesis, merancang
percobaan, melaksanakan percobaan, mengumpulkan
data, analisis data, argumentasi (Joyce, et al., 2000
dan Scott, 2010). Tahap pembelajaran yang dimiliki
model pembelajaran inkuiri identik dengan aspek
keterampilan proses sains meliputi observasi,
klasifikasi, bertanya, berhipotesis, merencanankan
percobaan, menggunakan alat bahan, menerapkan
konsep, mengkomunikasikan, serta melakukan
percobaan (Rustaman, 2005), sehingga dapat
digunakan untuk meningkatkan keterampilan proses
sains (Joyce et al., 2000) melalui penerapan tiap
langkah pembelajaran yang dimiliki.
Langkah pertama adalah observasi melalui
penyajian bidang penelitian berupa fenomena dan
metodologi sehingga dapat mengakomodasi siswa
untuk melakukan observasi dan mengajukan
pertanyaan sebab berkaitan dengan kegiatan
pengamatan terhadap fenomena sains untuk
memunculkan rasa ingin tahu yang diwujudkan
dalam bentuk pertanyaan (Bell, et al., 2010). Langkah
kedua
pengajuan
pertanyaan,
tahap
ini
mengakomodasi siswa dalam mengajukan pertanyaan
yang muncul berdasarkan topik yang diperoleh
melalui hasil pengamatan (Kuhlthau, 2010). Langkah
ketiga adalah merumuskan hipotesis yang dapat
mengkomodasi siswa untuk menentukan hipotesis
dengan mengetahui bahwa ada lebih dari satu
kemungkinan penjelasan dari suatu kejadian yang
diamati (Rustaman, 2005), memprediksi keadaan
yang akan terjadi sebab prediksi merupakan
pernyataan tentang keyakinan terhadap suatu
kejadian melibatkan hubungan satu atau lebih
variabel berdasarkan hipotesis yang telah
dirumuskan, serta mengajukan pertanyaan yang
diperlukan untuk mengajukan hipotesis penyelidikan.
Langkah keempat berupa kegiatan merancang
percobaan tahap ini dapat mengakomodasi siswa
dalam merencanakan percobaan melalui pemilihan
alat dan bahan serta prosedur pengumpulan data
untuk menguji hipotesis dan mengajukan berbagai
bentuk pertanyaan terkait dengan alat, bahan,
prosedur, dan kondisi dalam penyelidikan. Langkah
kelima adalah melaksanakan percobaan, tahap ini
mengakomodasi siswa dalam melaksanakan
percobaan dengan melibatkan kegiatan observasi
serta penggunaan alat dan bahan untuk
mengumpulkan data informasi. Langkah keenam
merupakan langkah mengumpulkan data, tahap ini
Seminar Nasional XII Pendidikan Biologi FKIP UNS 2015
429
Rahmasiwi et al. Peningkatan Keterampilan Proses Sains Siswa melalui Model Inkuiri
mengakomodasi siswa dalam mengelompokkan data
hasil percobaan berdasarkan kategori tertentu dan
mengajukan pertanyaan. Langkah ketujuh merupakan
tahap analisis data berupa penentuan langkah-langkah
untuk
menyelesaikan
masalah,
tahap
ini
mengakomodasi
siswa
untuk
mengajukan
pertanyaan,
menafsirkan
dengan
cara
menghubungkan hasil-hasil pengamatan untuk ditarik
kesimpulan (Bell, et al., 2010 dan Joyce, et al., 2000).
Langkah terakhir adalah menyimpulkan dan
mengemukakan argumen (mengkomunikasikan),
tahap ini dapat mengakomodasi siswa dalam
menyampaikan hasil diperoleh melalui percobaan
(Rustaman 2005), memfasilitasi siswa menerapkan
konsep hasil percobaan dalam situasi baru
(Windschitl, et al., 2007), serta mengakomodasi
siswa mengajukan pertanyaan sebab berargumentasi
dan bertanya merupakan kompetensi yang tidak dapat
dipisahkan dalam membangun pemahaman konsep
(Loureiro, 2010).
2. METODE PENELITIAN
Penelitian dilaksanakan di kelas XI MIA 9 (ICT)
SMA Negeri 1 Karanganyar tahun pelajaran
2014/2015. SMA Negeri 1 Karanganyar beralamat di
Jalan A.W. Monginsidi 03, Tegalgede, Karanganyar.
Bentuk penelitian ini adalah Penelitian
Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action
Research (CAR) yang bertujuan untuk meningkatkan
keterampilan proses sains dalam pembelajaran
biologi. Prosedur dan langkah-langkah dalam
penelitian tindakan kelas ini mengikuti model yang
dikembangkan oleh Kemmis dan Mc.Taggart (2005)
berupa model spiral yaitu dalam satu siklus terdiri
dari tahap perencanaan, tindakan, observasi, dan
refleksi.
Tahap perencanaan pembelajaran meliputi
penyusunan instrumen pembelajaran dan instrumen
penelitian. Instrumen pembelajaran terdiri dari
silabus, RPP, LKS, dan materi ajar, sedangkan
instrumen penelitian terdiri dari lembar observasi,
soal keterampilan proses sains, lembar observasi
keterlaksanaan sintak, dan pedoman wawancara,
serta peralatan dokumentasi.
Penelitian dilakukan berkolaborasi dengan guru
biologi
untuk
menyelesaikan
permasalahan
keterampilan proses sains siswa yang dianalisis
melalui hasil observasi pra siklus. Solusi dari
permasalahan di kelas XI MIA 9 (ICT) berupa
penerapan model pembelajaran inkuiri dalam
pembelajaran biologi pada materi sistem ekskresi.
Penerapan model pembelajaran inkuiri dilakukan
dalam tiga siklus pembelajaran, dengan langkah
pembelajaran yang sama. Perbedaan yang terdapat
antar siklus adalah bagian refleksi, sebab refleksi
430
didasarkan pada fakta yang diperoleh dari
pelaksanaan di lapangan. Kegiatan refleksi tiap siklus
dilakukan
untuk
mengupayakan
perbaikan
pembelajaran siklus berikutnya.
Data penelitian keterampilan proses sains siswa
diperoleh melalui observasi, tes tertulis, wawancara,
dan dokumentasi. Observasi dan dokumentasi
dilakukan selama pelaksanaan tindakan dengan
melakukan check () pada lembar observasi
keterampilan proses sains, sedangkan tes tertulis dan
wawancara dilaksanakan di setiap akhir dengan tipe
soal pilihan ganda berjumlah 22 soal memuat 11
aspek keterampilan proses sains. Validitas data yang
digunakan adalah metode triangulasi. Target capaian
yang ditetapkan diakhir tindakan adalah sebesar 70%.
3. HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
Skor capaian aspek keterampilan proses sains siswa
berdasarkan hasil observasi pada pra siklus, siklus 1,
2, dan 3 dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Rata-rata Skor Capaian Tiap Aspek Keterampilan
Proses Sains
Aspek KPS
Mengamati
Mengklasifikasi
Menginterpretasi
Memprediksi
Bertanya
Berhipotesis
Merencanakan percobaan
Menggunakan
alat bahan
Menerapkan
konsep
Mengkomunikasikan
Melakukan
percobaan
Jumlah
Rata-rata
Pra
siklus
37,89
Capaian aspek (%)
Siklus
Siklus
I
II
44,75
55,64
Siklus
III
75,80
33,87
48,78
57,65
80,23
31,44
47,57
60,88
82,25
27,01
23,38
33,06
54,43
51,61
48,78
64,51
75,80
65,32
78,22
81,04
70,56
29,43
58,87
67,33
80,23
36,69
46,77
52,81
71,77
27,82
31,04
51,61
76,61
31,09
65,32
66,93
67,73
33,86
42,74
64,11
76,60
345,55
31,41
540,68
49,15
682,59
62,05
841,04
76,45
Tabel 1 menunjukkan capaian skor tiap aspek
maupun skor rata-rata keseluruhan aspek
keterampilan proses sains dari tahap pra siklus, siklus
I, siklus II, dan siklus III. Skor capaian tiap aspek
akhir tindakan berkisar antara 67,73% sampai
82,25% dengan skor rata-rata total keseluruhan aspek
sebesar 76,38%. Skor tersebut menunjukkan adanya
peningkatan keterampilan proses sains di akhir siklus
dibandingkan dengan pra siklus, siklus I, dan siklus
II. Peningkatan skor terjadi pada setiap aspek maupun
Biologi, Sains, Lingkungan, dan Pembelajarannya
Rahmasiwi et al. Peningkatan Keterampilan Proses Sains Siswa melalui Model Inkuiri
rata-rata skor capaian aspek keterampilan proses
sains. Hasil pengukuran keterampilan proses sains
siswa di akhir tindakan menunjukkan bahwa sebagian
besar aspek sudah mencapai target akhir sebesar
70%, namun terdapat satu aspek yang belum
mencapai target akhir yaitu mengkomunikasikan
hasil percobaan dengan capaian skor sebesar 67,73%
di siklus III. Berdasarkan Tabel 1 dapat dilihat tingkat
kenaikan skor tiap aspek keterampilan proses sains
yang disajikan dalam bentuk diagram pada Gambar 1.
Skor KPS (%)
250
200
150
100
50
0
Pra-siklus
Siklus I
Siklus II
Siklus III
Gambar 1. Peningkatan Skor Tiap Aspek Keterampilan
Proses Sains
Peningkatan terjadi mulai dari siklus I, siklus II,
dan siklus III baik dari tiap aspek maupun rata-rata
keseluruhan aspek. Perbandingan rata-rata skor
capaian keseluruhan aspek dari tahap pra siklus,
siklus I, siklus II, dan siklus III selengkapnya
disajikan pada Gambar 2.
Skor rata-rata (%)
100
76.45
80
62.05
49.14
60
40
31.41
20
0
pra siklus
siklus I
siklus II
Siklus III
Gambar 2. Peningkatan Skor Rata-rata Keterampilan
Proses Sains Pra siklus, siklus I, II, dan III
Berdasarkan hasil dan pembahasan hasil
penelitian pada siklus I, siklus II, dan siklus III
diketahui bahwa penerapan model pembelajaran
inkuiri dapat meningkatkan keterampilan proses sains
pada
aspek
mengamati,
mengklasifikasi,
menginterpretasi,
memprediksi,
mengajukan
pertanyaan, merumuskan hipotesis, merencanakan
percobaan, menggunakan alat dan bahan,
menerapkan konsep, mengkomunikasikan hasil, dan
melakukan percobaan. Sebagian besar aspek
mengalami peningkatan hingga mencapai target yang
telah ditetapkan, hanya ada satu aspek yaitu
mengkomunikasikan hasil dengan skor akhir yang
belum mencapai target minimal 70%.
Skor capaian tiap aspek keterampilan proses
sains saling berkaitan satu sama lain. Keterampilan
mengamati yang baik akan memberikan dampak bagi
peningkatan aspek mengajukan pertanyaan dan
memprediksi. Peningkatan aspek mengajukan
pertanyaan serta memprediksi mempengaruhi
peningkatan aspek merumuskan hipotesis dan
merancang percobaan. Keterampilan merumuskan
hipotesis dan merancang percobaan yang meningkat
selanjutnya berdampak pada keterampilan siswa
dalam melakukan percobaan. Hasil dari pelaksanaan
percobaan
yang
meningkat
mengakibatkan
peningkatan keterampilan mengklasifikasi. Data hasil
klasifikasi yang baik berdampak positif terhadap
peningkatan keterampilan mengkomunikasikan hasil,
menerapkan konsep, serta menginterpretasi melalui
penarikan kesimpulan akhir pembelajaran.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan
model pembelajaran inkuiri dapat meningkatakan
keterampilan proses sains siswa kelas XI MIA 9
(ICT) SMA Negeri 1 Karanganyar tahun pelajaran
2014/2015. Peningkatan yang terjadi tiap siklus
terutama dipengaruhi oleh penerapan model
pembelajaran inkuiri. Menurut Mutisya, et al. (2013)
inkuiri merupakan bagian yang penting dari
pengembangan keterampilan proses sains yang
digunakan oleh para peneliti dalam melaksanakan
penyeledikan. Model pembelajaran inkuiri juga dapat
mengakomodasi
siswa
dalam
melatihkan
keterampilan
proses
sains
melalui
tahap
pembelajaran yang dimiliki. Tahap pembelajaran
model
pembelajaran
inkuiri
yang
dapat
mengakomodasi keterampilan proses sains terdiri
dari kegiatan observasi, mengajukan pertanyaan,
merumuskan
hipotesis,
merencanakan
dan
melaksankan percobaan, mengumpulkan data,
analisis data, dan mengkomunikasikan hasil
(Joyce,2000 dan Scott, 2010).
Faktor lain yang mendukung peningkatan tiap
siklus adalah kualitas pembelajaran yang semakin
baik. Proses pembelajaran pada tahap siklus III lebih
baik dibandingkan siklus II, sedangkan pembelajaran
siklus II lebih baik dibandingkan siklus I.
Peningkatan kualitas dan keterlaksanaan proses
pembelajaran mengakibatkan ketercapaian skor tiap
aspek menjadi lebih tinggi. Sependapat dengan
Brown
(2002)
yang
menyatakan
bahwa
perkembangan siswa dalam penelitian tindakan kelas
dipengaruhi oleh perbaikan kualitas pembelajaran
yang diterapkan oleh guru, guru melakukan perbaikan
pembelajran tiap siklus melalui tahap refleksi dan
perencanaan kembali sebagai upaya perbaikan siklus
berikutnya. Semakin baik kualitas pembelajaran yang
Seminar Nasional XII Pendidikan Biologi FKIP UNS 2015
431
Rahmasiwi et al. Peningkatan Keterampilan Proses Sains Siswa melalui Model Inkuiri
dikelola oleh guru di kelas, semakin besar
peningkatan kualitas siswa.
Peningkatan tiap siklus juga dipengaruhi oleh
faktor kebisaan. Pembelajaran yang berlangsung tiap
siklus memiliki kesamaan tahap-tahap yang
dilaksanakan, mulai dari melakukan pengamatan
hingga pada menyimpulkan hasil. Kegiatan yang
selalu dilakukan berulang-ulang menyebabkan siswa
maupun guru terbiasa dengan kegiatan tersebut.
Kegiatan yang dilakukan dapat melatihkan
keterampilan proses sains secara efektif sehingga
dapat meningkatkan keterampilan proses sains siswa
hingga mencapai target di akhir siklus III. Hasil
penelitian berupa peningkatan keterampilan proses
sains siswa diperoleh melalui pengukuran observasi
dan tes, serta didukung melalui wawancara dengan
siswa dan guru.
Hasil wawancara dengan beberapa perwakilan
siswa diperoleh berbagai respon terhadap penerapan
model pembelajaran inkuiri. Siswa sampel yang
berjumlah 10 orang menyatakan bahwa pembelajaran
yang diterapkan pada materi sistem ekskresi
memberikan pengalaman lebih bagi siswa. Siswa
merasa lebih antusias mengikuti pembelajaran, materi
yang disampaikan lebih dapat dipahami, keterlibatan
dalam melaksankan kegiatan pembelajaran lebih
optimal. Siswa merasa dapat beradaptasi dengan tiap
kegiatan dari model pembelajaran inkuiri mulai dari
siklus I, II, dan III. Pendapat siswa didukung dengan
pernyataan yang disampaikan oleh guru melalui
wawancara dengan guru.
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru tiap
akhir siklus, diperoleh informasi bahwa guru merasa
lebih antusias menyampaikan pembelajaran melalui
penerapan model pembelajaran inkuiri. Guru
menyatakan melalui pembelajaran inkuiri yang
menekankan pada keterlibatan siswa dalam setiap
kegiatan memberikan dampak positif khususnya
terhadap partisipasi siswa kelas XI MIA 9 (ICT).
Guru berpendapat bahwa sebagian besar siswa
terlibat secara aktif dalam pembelajaran, sehingga
tidak hanya diam dan pasif menerima materi. Guru
memberi kesimpulan akhir bahwa penerapan model
pembelajaran inkuri dapam pembelajaran secara
efektif dapat meningkatkan keterampilan proses sains
siswa melalui tahap pembelajaran yang dilakukan.
432
4. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan
bahwa penerapan model pembelajaran inkuiri dapat
meningkatkan keterampilan proses sains siswa dalam
pembelajaran biologi di kelas XI MIA 9 (ICT) SMA
Negeri I Karanganyar tahun pelajaran 2014/2015.
5. DAFTAR PUSTAKA
Abungu, H,E., Okere, M.I.O., & Wachanga, S.M. (2014).
The Effect of Science Process Skills Teaching
Approach on Secondary School Students Achievement
in Chemistry in Nyando District, Kenya. Journal of
Educational and Social Research, 4(6): 359-372.
Bell, T., Urhahne, D., Schanza, S., & Ploetzner, R. (2013).
Collaborative Inquiry Learning: Models, Tools, and
Challenges. International Journal of Science
Education. 32(3): 349-377.
Brown, B.L. (2002). Improving Teaching Practices Action
Research. Dissertation. Blacksburg Virginia.
Chaguna, L.L & Yango, D.M. (2008). Science Process
Skills Proficiency of The Grade VI Pupils in The
Elementary Diocesan Schools of Baguio and Benguet.
Research Journal. 16(4): 22-32.
Ekene, Igboegwu. (2011). Effects Of Co-Operative
Learning Strategy And Demonstration Method On
Acquisition Of Science Process Skills By Chemistry
Students Of Different Levels Of Scientific Literacy.
Journal of research and Development. 3(1): 204-212.
Jack, G.U. (2013). The Influence of Identified Student and
School Variables on Student Science Process Skill
Acquisition. Journal of Education and Practice. 4(5):
16-22.
Kale, M., Astutik, S., & Dina, R. (2013). Penerapan
Ketrampilan Proses Sains melalui Model Think Pair
Share Pada Pembelajaran Fisika Di Sma. Jurnal
Pendidikan Fisika. 2(2): 233-237.
Kemmis, S & Mctaggart, R. (2005). Participatory Action
Research: Handbook of Qualitative Research.
Mutisya, S.M., Rotich, S. & Rotich, P.K. (2013).
Conceptual Understanding Of Science Process Skills
and Gender Stereotyping: A Critical Component For
Inquiry Teaching Of Science In Kenyas Primary
Schools. Journal of Social Science & Humanities, 2(3):
359-369.
Biologi, Sains, Lingkungan, dan Pembelajarannya
Rahmasiwi et al. Peningkatan Keterampilan Proses Sains Siswa melalui Model Inkuiri
Ongowo, R.O & Indoshi, F.C. (2013). Science Process Skill
in Kenya Certificate of Secondary Education Biology
Practical Examination. Journal of Scientific research,
4(11): 713-717.
Rustaman, N.Y. (2005). Perkembangan Penelitian
Pembelajaran Berbasis Inkuiri dalam Pendidikan Sains.
Makalah seminar Nasional II. Bandung.
Subali, B. (2010). Bias Item Tes Keterampilan Proses Sains
Pola Divergen dan Modifikasinya sebagai tes
Kreativitas. Jurnal Penelitian dan Evaluasi
Pendidikan, 2: 309-334.
Sukarno., Permanasari, A., & Hamidah, I. (2013). The
Profile of Science Process Skill (SPS) Student at
Secondary High School (Case Study in Jambi).
International Journal of Scientific Enginering and
Research. 1(1): 79-83.
Windschiti, M., Thompson, J., Melissa, B & Braaten, M.
(2007). Beyond the Scientific Method: Model-Based
Inquiry as a New Paradigm of Preference for School
Science Investigation. Washington: Wiley Periodicals.
Seminar Nasional XII Pendidikan Biologi FKIP UNS 2015
433