Faktor-Faktor Kepatuhan Perawat Yang Berhubungan Dengan Pelaksanaan Pengkajian Spiritual Pasien Di Rumah Sakit "X" Bandung
Faktor-Faktor Kepatuhan Perawat Yang Berhubungan Dengan Pelaksanaan Pengkajian Spiritual Pasien Di Rumah Sakit "X" Bandung
Abstract
Pain is a form of life or circumstances beyond normal limits and thus requires medical
attention and care in health care facilities. Nurses as a profession of the healthcare team
responsible for helping clients safely and comfortably. One of the nurses roles in health care
is spiritual fulfillment. Spiritual assessment is part of a holistic nursing assessment. Spiritual
fulfillment clients can reduce pain and aid in healing physical and mental. The purpose of the
study determines the relationship between the factors of compliance with the implementation
of a spiritual assessment of patients at Hospital " X " Bandung. The method used in this study
is a quantitative correlation method, type a descriptive study using cross - sectional
approach. Total sample 110 nurses, sampling techniques using random sampling techniques.
Data analysis using chi square test. The results showed that there was no relationship
between the factors of compliance with the implementation of a spiritual assessment, p value>
(0.05). Recommendations in this study were nurses always use a comprehensive approach
to care which one of them through a spiritual assessment by following the progress of the
development of science and tailored to the needs of the patient.
mengeksplorasi apa yang sangat bermakna menganggap itu bagian dari psikososial dan
dalam kehidupan mereka. Keperawatan merupakan tu gas dari rohaniawan. J P.
membutuhkan keterampilan dalam perawatan Vlashblom, dalam jurnal Spiritual Care in a
spiritual. Setiap perawat harus memahami Hospital setting: nurse and patient
tentang spiritualitas dan bagaimana perpective melakukan studi penelitian
keyakinan spiritual mempengaruhi kualitatif, salah seorang responden
kehidupan setiap orang (Perry & Potter, menyatakan bahwa tugas kita sebagai
2005). perawat adalah untuk melihat dan membuat
Kebutuhan spiritual merupakan yakin bahwa itu dicatat dalam grafik mereka
kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh setiap jika pasien menyebutkan sesuatu yang
manusia. Apabila seseorang dalam keadaan berulang kali, dan Anda merasa bahwa hanya
sakit, maka hubungan dengan Tuhannya pun mendengarkan tidak cukup. Saya membuat
semakin dekat, mengingat seseorang dalam laporan sangat singkat tentang spiritual
kondisi sakit menjadi lemah dalam segala perawatan. Masalah pribadi tidak benar-
hal, tidak ada yang mampu benar termasuk dalam laporan keperawatan.
membangkitkannya dari kesembuhan, Hasil penelitian yang dilakukan oleh
kecuali Sang Pencipta. Dalam pelayanan Lestari, Sulisnadewi, I Wayan (2007) di
kesehatan, perawat sebagai petugas RSUP Sanglah Denpasar diperoleh (40%)
kesehatan harus memiliki peran utama dalam data pengkajian kurang sesuai dengan standar
memenuhi kebutuhan spiritual. Perawat dan perawat sangat jarang melakukan
dituntut mampu memberikan pemenuhan pengkajian terhadap kebutuhan sosial dan
yang lebih pada saat pasien akan dioperasi, spiritual pasien. Hampir 50% perawat tidak
pasien kritis atau menjelang ajal. melakukan pengkajian terhadap kebutuhan
Dengan demikian, terdapat tersebut. Dan sering sekali hanya berfokus
keterkaitan antara keyakinan dengan pada pengkajian tanda-tanda vital dan
pelayanan kesehatan dimana kebutuhan dasar pengkajian fisik. Padahal pengkajian
manusia yang diberikan melalui pelayanan merupakan kunci membuat keputusan klinis,
kesehatan tidak hanya berupa aspek biologis, mengetahui keadaan pasien, serta masalah
tetapi juga aspek spiritual. Aspek spiritual pasien (Potter & Perry, 2005).
dapat membantu membangkitkan semangat Perawat berada pada posisi terbaik
pasien dalam proses penyembuhan (Asmadi, untuk memberikan asuhan keperawatan
2008:28-29). spiritual pada klien hanya dengan menjadi
Kepatuhan adalah istilah yang dipakai pendengar yang baik, membantu klien
untuk menjelaskan ketaatan atau pasrah pada mengungkapkan keyakinan mereka dan
tujuan yang telah ditentukan. Kepatuhan, mendampingi klien selama perjalanan
sebagai akhir dari tujuan itu sendiri, berbeda penyakitnya serta menyediakan perawatan
dengan faktor motivasi, yang dianggap rohani untuk pasien (Wensley, 2008)
sebagai cara untuk mencapai tujuan. Kemampuan perawat untuk mendapat
Kepatuhan pada program kesehatan gambaran tentang dimensi spiritual klien
merupakan perilaku yang dapat diobservasi yang jelas mungkin dibatasi oleh lingkungan
dan dengan begitu dapat langsung diukur. dimana orang tersebut mempraktikkan
(Bastable, Susan B, 2002:139) spiritualnya. Hal ini benar jika perawat
Perawat memiliki pengetahuan bahwa mempunyai kontak yang terbatas dengan
klien memiliki kebutuhan spiritual, tetapi klien dan gagal untuk membina hubungan.
pada banyak kasus tidak semua perawat Pertanyaannya adalah bukan jenis dukungan
memberikan pelayanan untuk memenuhi spiritual apa yang dapat diberikan tetapi
aspek spiritual klien. Hal ini disebabkan secara sadar perawat mengintegrasikan
perawat tidak disiapkan untuk menghadapi perawatan spiritual kedalam proses
masalah spiritual klien dan perawat keperawatan. Perawat tidak perlu
Volume 1 Nomor 1, Maret 2016 57
Indonesian Journal of Nursing Health Science - Faktor-Faktor Kepatuhan Perawat yang Berhubungan dengan Pelaksanaan
Pengkajian Spiritual Pasien di Rumah Sakit X Bandung
menggunakan alasan tidak cukup waktu kondisi pada individu atau kelompok yang
untuk menghindari pengenalan nilai sebenarnya mau melakukannya, tetapi dapat
spiritualitas yang dianut untuk kesehatan dicegah untuk melakukannya oleh faktor-
kilen (Potter & Perry, 2005:567). Menurut faktor yang menghalangi ketaatan terhadap
Cavendish et al. dalam jurnal Spiritual Care anjuran. Kepatuhan perawat adalah perilaku
in a Hospital setting: nurse and patient perawat terhadap suatu anjuran, prosedur
perpectivemenyatakan bahwa perawat tidak atau peraturan yang harus dilakukan atau
mempunyai cukup waktu untuk memberikan ditaati. Tingkat kepatuhan adalah besar
perawatan spiritual. kecilnya penyimpangan pelaksanaan
Berdasarkan hasil pengamatan yang pelayanan dibandingkan dengan standar
dilakukan oleh peneliti selama 3 minggu di pelayanan yang ditetapkan atau dianjurkan.
ruangan rawat inap di RS. X, 9 dari 10 (Rohimin, Lukman. 2008).
orang perawat mengatakan bahwa pada
pengkajian spiritual, mereka hanya Eksperimen Milgram
menitikberatkan pada keluhan fisik dan Percobaan Milgram atau dikenal juga
biologis saja, sedangkan keluhan spiritual sebagai percobaan kepatuhan kepada
tidak mereka kaji secara mendalam. Adapun otoritas adalah sebuah percobaan yang
alasan mereka mengapa tidak melakukan dilakukan oleh Stanley Milgram, profe
pengkajian spiritual secara mendalam adalah: sor psikologi dari UniversitasYale untuk
kurang ketenagaan, aktivitas tinggi (sibuk), mencari tahu sampai sejauh mana orang-
butuh waktu lama saat melakukan pengkajian orang akan mematuhi figur otoritas ketika
spiritual. Melalui pengamatan yang disuruh untuk melakukan hal yang
dilakukan oleh peneliti sendiri, pada catatan berlawanan dengan hati nurani dan
keperawatan, perawat cenderung melengkapi berbahaya. Percobaan ini dilakukan oleh
hasil pengkajian fisik terlebih dahulu, Milgram pada tahun 1961, setelah
sedangkan untuk bagian pengkajian spiritual sidang terhadap kriminal Perang Dunia
tidak langsung dilengkapi. Setelah dilakukan II, Adolf Eichmann diadakan. Eichmann
wawancara pada 10 orang perawat mengenai yang adalah seorang Nazi yang diadili karena
mengapa pada form pengkajian spiritual perbuatannya yang telah membunuh banyak
kosong, mereka semua mengatakan belum orang Yahudi. Eichmann ketika itu berdalih
melakukan pengkajian spiritual, mereka bahwa ia hanya menuruti perintah atasannya.
mengatakan bahwa pengkajian fisik lebih Peristiwa ini menjadi dasar bagi Stanley
penting terisi lebih dahulu. Milgram untuk melakukan percobaannya.
Fenomena pelaksanaan pengkajian Dari percobaan yang dilakukan oleh Milgram
spiritual yang tidak komperhensif di rumah tersebut, dapat disimpulkan beberapa faktor
sakit merupakan hal yang menarik perhatian yang mempengaruhi tingkat kepatuhan
peneliti untuk mengetahui lebih dalam seseorang. (www.simplypsychology.org)
mengenai pelaksanaan pelaksanaan Faktor-faktor yang mempengaruhi
pengkajian keperawatan di RS. X Bandung kepatuhan berdasarkan Ekperimen Milgram:
karena selain kebutuhan biologis dan psikis,a.
perawat juga harus memperhatikan Status Lokasi
kebutuhan spiritual pasien agar pasien dapat Lokasi adalah tempat, atau letak
kembali sehat secara holistik. (www.kamusbesar.com). Perintah diberikan
di lokasi penting (Universitas Yale) - saat
Konsep Kepatuhan penelitian Milgram dilakukan di sebuah
Patuh adalah sikap positif individu kantor kumuh di kota, tingkat kepatuhan
yang ditunjukan dengan adanya perubahan menurun. Hal ini menunjukkan bahwa
secara berarti sesuai dengan tujuan yang ketaatan juga ditentukan oleh bagaimana
ditetapkan. Ketidakpatuhan merupakan suatu
Volume 1 Nomor 1, Maret 2016 58
Indonesian Journal of Nursing Health Science - Faktor-Faktor Kepatuhan Perawat yang Berhubungan dengan Pelaksanaan
Pengkajian Spiritual Pasien di Rumah Sakit X Bandung
status lokasi. Makin baik status lokasinya, memiliki dukungan sosial dari teman mereka
maka kepatuhan meningkat. maka ketaatan mungkin kurang. Juga
kehadiran orang lain yang terlihat tidak
Tanggung Jawab pribadi mematuhi atasan mengurangi tingkat
Tanggung jawab adalah keadaan ketaatan pada orang lain atau temannya. Hal
wajib menanggung segala sesuatunya ini terjadi dalam percobaan Milgram ketika
(www.kamusbesar.com). Dalam eksperimen ada "responden tidak taat" mempengaruhi
Milgram, diasumsikan tanggung jawab atas responden lain.
segala kerusakan yang bisa terjadi pada diri
orang lain karena dampak hukuman yang Jarak dengan orang yang memegang
diberikannya. Ketika ada peningkatan otoritas/kekuasaan
tanggung jawab pribadi ketaatan berkurang. Lebih mudah untuk menolak perintah
Ketika seseorang harus memikul tanggung dari pihak yang berwenang jika mereka tidak
jawab pribadi atas segala akibat yang bisa berada dekat mereka. Ketika observer
ditimbulkan dari kepatuhannya, tingkat memerintahkan dan mendorong guru untuk
kepatuhan cenderung menurun. Makin besar berkomunikasi melalui telepon dari ruangan
resiko yang ditimbulkan maka makin turun lain, ketaatan turun menjadi 20,5%. Ketika
ntingkat kepatuhan. tokoh yang memegang otoritas dekat saat itu
maka tingkat kepatuhan lebih tinggi.
Legitimasi dari figur otoritas
Legitimasi adalah pernyataan yg sah Konsep Proses Keperawatan
(www.kamusbesar.com). Otoritas adalah Penerapan proses keperawatan dalam
kekuasaan yang sah yang diberikan kepada asuhan keperawatan untuk klien merupakan
lembaga dalam masyarakat yang salah satu wujud tanggung jawab dan proses
memungkinkan para pejabatnya menjalankan tanggung gugat perawat terhadap klien. Pada
fungsinya; hak untuk bertindak akhirnya, penerapan proses keperawatan ini
(www.kamusbesar.com). Orang cenderung akan meningkatkan kualitas layanan
untuk mematuhi orang lain dari orang lain keperwatan kepada klien.
jika mereka mengakui otoritas mereka Proses keperawatan menurut bagi
sebagai benar secara moral dan / atau secara individu, keluarga, dan masyarakat baik
hukum. Respon terhadap otoritas yang sah dalam keadaan sehat ataupun sakit, serta
dipelajari dalam berbagai situasi, misalnya di mencakup seluruh proses kehidupan.
sekolah, keluarga dan tempat kerja. Layanan keperawatan kepada klien dilakukan
dengan menggunakan metode proses
Gambaran Otoritas keperawatan.
Kostum yang digunakan seseorang Penerapan proses keperawatan dalam
mempengaruhi kepatuhan, misalnya kostum asuhan keperawatan untuk klien merupakan
laboratorium yang menandakan bahwa orang salah satu wujud tanggung jawab dan proses
tersebut adalah seorang ahli ilmiah yang tanggung gugat perawat terhadap klien. Pada
memberinya status atau kedudukan yang akhirnya, penerapan proses keperawatan ini
tinggi. akan meningkatkan kualitas layanan
Tetapi ketika mengenakan pakaian keperwatan kepada klien.
sehari-hari, tingkat kepatuhan sangat rendah. Komponen proses keperawatan terdiri
Seragam dari tokoh otoritas dapat dari: pengkajian, diagnosis keperawatan,
menunjukan status sosial. perencanaan, implementasi, evaluasi.
pikiran serta jiwa klien. Pemenuhan hubungan saling percaya. Rasa saling
kebutuhan spiritual klien dapat menurunkan percaya diperkuat ketika pemberi perawatan
penderitaan dan membantu penyembuhan menghargai dan mendukung kesejahteraan
fisik dan mental. Untuk spiritual klien.
mengimplementasikan perawatan spiritual, Penerapan proses keperawatan dari
perawat harus terampil dalam membina perspektif kebutuhan dari perspektif
hubungan saling percaya antara perawat- kebutuhan spiritual klien tidak sederhana.
klien. Karena keterlibatan dalam memenuhi Hal ini sangat jauh dari sekedar mengkaji
kebutuhan spiritual bersifat personal bagi praktik dan ritual keagamaan klien.
perawat dan klien, perawat harus Memahami spiritualitas klien dan kemudian
berkomunikasi dengan penuh kepekaan dan secara tepat mengidentifikasikan tingkat
empati serta harus benar-benar memahami dukungan dan sumber yang diperlukan,
nilai mereka sendiri. Perawat harus membutuhkan perspektif baru yang lebih
mengembangkan konsep spiritualitas yang luas. Heliker (1992) menggambarkan hal ini
luas. sebagai bidang yang menyangkut komunitas
Perawat tidak dapat bergantung hanya dan keharuan (compassion). Perawat harus
pada praktik spiritual mereka; mereka juga menyingkirkan adanya bias dari pengkajian,
perlu menyadari aturan tradisi agama dan rencana dan kesalahan konsep personal dan
ekspresi spiritual yang dianut klien. belajar. Hal ini berarti perawat mempunyai
Kepekaan dalam memberikan perawatan keinginan untuk berbagi dan menemukan
sangat penting untuk memenuhi berbagai makna dan tujuan hidup, kesakitan dan
tingkat dan kedalaman ekspresi spiritual yang kesehatan dari orang lain. Perawat belajar
dianut klien. Kepekaan dalam memberikan untuk melihat di luar wawasan pribadinya
perawatan sangat penting untuk memenuhi ketika menegakkan hubungan klien. Hal ini
berbagai tingkat dalam dan kedalaman berarti mengidentifikasi nilai umum yang
ekspresi spiritual dan kebutuhan klien. membuat kita sebagai manusia. Cinta, saling
Pengalaman klien dengan apa yang dilihat percaya, harapan, sifat saling memaafkan,
sebagai Ketuhanan yang sangat kompleks berguna dan komunitas adalah kebutuhan
dan individual. Oleh karena itu, perlu spiritual yang semua kita miliki (Carson,
dilakukan pendekatan yang memperhatikan 1989). Belajar untuk berbagai kebutuhan
kebutuhan unik masing-masing klien. tersebut atau setidaknya menyadari sifat
Banyak klien memiliki kekuatan spiritual kebersamaan membantu perawat menemukan
yang dapat dipertahankan oleh perawat untuk cara untuk memberikan perawatan dan
membantu mereka mencapai atau dukungan spiritual kepada klien.
mempertahankan perasaan kesejahteraan Aspek penting lain dari perawatan
spiritual, sembuh dari penyakit, dan spiritual adalah mengenali bahwa klien tidak
menghadapi kematian dengan tenang. harus (berhak) mempunyai masalah spiritual.
(Kozier, Barbara. 2012:495). Klien membawa kekuatan spiritual tertentu
yang perawat dapat gunakan sebagai sumber
Pengkajian Spiritual untuk membantu mereka menjalani gaya
Pada intinya keperawatan adalah hidup yang lebih sehat, sembuh dari
komitmen tentang mengasihi (caring). penyakit, atau menghadapi penyakit dengan
Merawat seseorang adalah suatu proses tenang. Perawat harus belajar untuk
interaktif yang bersifat individual melalui memahami aspek positif dari spiritualitas
proses tersebut individu menolong satu sama klien ketimbang berpikir bahwa pada saat
lain dan menjadi teraktualisasi (Clark, et al, menderita suatu penyakit spiritualitas selalu
1991). Suatu elemen perawatan kesehatan menjadi ancaman. Mendukung atau
berkualitas adalah untuk menunjukan kasih mengenali sisi positif dari spiritualitas klien
sayang pada klien sehingga terbentuk
Volume 1 Nomor 1, Maret 2016 60
Indonesian Journal of Nursing Health Science - Faktor-Faktor Kepatuhan Perawat yang Berhubungan dengan Pelaksanaan
Pengkajian Spiritual Pasien di Rumah Sakit X Bandung
yang dituliskan oleh Ince Maria (2012), yang sangat mempengaruhi keadaan spiritual
mengatakan bahwa faktor determinan pasien. Kecenderungan responden menjawab
ditemukan bahwa semakin cukup usia, salah mungkin karena pengetahuan
tingkat kemampuan, kematangan dan responden yang kurang tentang kebutuhan
kekuatan seseorang akan lebih matang dalam spiritual. Hal ini mungkin disebabkan karena
berfikir dan bekerja. kurangnya pelatihan tentang pemenuhan
Menurut pendapat peneliti, masa kebutuhan spiritual. Sebagian besar
kerja atau pengalaman dapat berdampak responden mempunyai jenjang pendidikan
kepada kinerja. Lama kerja dan faktor D3 keperawatan. Pada jenjang D3
kepatuhan saling berkaitan kurang dari keperawatan, sudah diberikan mata kuliah
setengahnya (36.4%) responden memiliki tentang kebutuhan spiritual.
pengalaman kerja 1-5 tahun. Hal ini Menurut peneliti, meskipun sudah
diperkuat oleh jurnal yang dituliskan oleh diberikan tentang kebutuhan spiritual, apabila
Puspa Ayu (2012) yang mengatakan bahwa tidak ada penyegaran tentang kebutuhan
semakin lama seseorang bekerja maka spiritual, maka kemungkinan besar
tingkat kepatuhan bisa saja menurun karena responden lupa. Pentingnya penyegaran
rutinitas yang dilakukan sehari-hari. berupa pelatihan tentang kebutuhan spiritual,
Begitupun sebaliknya, ketika individu baru memungkinkan perawat mengetahui
memasuki suatu instansi untuk bekerja, perkembangan terkini tentang kebutuhan
tingkat kepatuhan cenderung tinggi, terutama spiritualitas dan akan menambah
bagi mereka yang merupakan fresh graduate, keterampilan perawat dalam memenuhi
karena ilmu yang mereka dapatkan masih kebutuhan spiritual termasuk dalam
dapat mereka ingat dengan baik, dan mereka pengkajian.
melakukan hal yang baru dalam dunia kerja.
Dari sebaran pertanyaan pada Faktor figur otoritas dengan pelaksanaan
kuesioner dengan faktor tanggung jawab, pengkajian spiritual
didapatkan hasil skor paling rendah pada Perawat yang melaksanakan
pertanyaan nomor 3. Pernyataan nomor 3, pengkajian spiritual karena ada figur otoritas
adalah keadaan spiritual tidak berpengaruh sebesar 83.8, sedangkan sisanya sebesar
terhadap keadaan fisik, responden 16.2% meskipun ada figur otoritas tidak
seharusnya menjawab pernyataan tersebut melaksanakan pengkajian spiritual. Hasil uji
dengan jawaban tidak. Konten dari statistik diperoleh nilai p value = 0.137 yang
pernyataan nomor 3 adalah mengenai fungsi memiliki makna bahwa tidak ada hubungan
dari pengkajian spiritual, dimana pemenuhan signifikan antara keberadaan figur otoritas
kebutuhan spiritual berpengaruh terhadap dengan pelaksanaan pengkajian spiritual di
kesembuhan fisik. Tanggung jawab perawat Rumah Sakit X Bandung.
adalah melakukan pengkajian spiritual, Orang cenderung untuk mematuhi
sehingga kebutuhan holistik pasien terpenuhi orang lain jika mereka mengakui otoritasnya
dan seimbang antara kebutuhan biologis, benar secara moral dan / atau secara hukum.
fisik dan spiritual. Respon terhadap otoritas yang sah dipelajari
Menurut jurnal yang dikemukakan dalam berbagai situasi, misalnya di sekolah,
oleh Puspa Ayu (2012), perawat di ruang keluarga dan tempat kerja. Manusia telah
Instalasi Rawat Inap melaksanakan terbukti ternyata patuh di hadapan dirasakan
pengkajian pada pasien sesuai dengan figur otoritas yang sah, seperti yang
keluhan yang dirasakan pasien. Keluhan ditunjukkan oleh percobaan Milgram pada
pasien pada saat masuk pertama kali tahun 1960. Hasil penelitian menunjukkan
umumnya adalah keluhan fisik, hampir tidak bahwa ketaatan kepada otoritas adalah
ada pasien datang ke rumah sakit karena norma. Selain itu adanya faktor lama kerja
gangguan spiritual. Keadaan fisik yang sakit juga diduga berpengaruh terhadap kepatuhan
Volume 1 Nomor 1, Maret 2016 62
Indonesian Journal of Nursing Health Science - Faktor-Faktor Kepatuhan Perawat yang Berhubungan dengan Pelaksanaan
Pengkajian Spiritual Pasien di Rumah Sakit X Bandung
seseorang, dimana kurang dari setengahnya ada hubungan antara supervisi kepala
(36.4%) bekerja selama 1-5 tahun. Pada ruangan dengan kepatuhan pelaksanan
tahun-tahun awal seseorang cenderung untuk prosedur tetap (Protap). Menurut peneliti,
patuh pada aturan yang berlaku, sedangkan semakin kurang supervisi kepala ruangan
orang yang sudah lama menekuni maka semakin kurang kepatuhan pada
pekerjaannya memiliki kecenderungan pelaksanaan prosedur tetap (Protap). Kepala
penurunan tingkat kepatuhan. ruangan sebagai supervisor sebaiknya
Figur otoritas dalam kenyataannya memberikan motivasi, bimbingan, arahan.
merupakan seorang pemimpin, jika dalam Menurut Windy (2009) Supervisi merupakan
keperawatan pimpinan dalam unit terkecil suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan
adalah kepala bagian ruangan. Menurut untuk membantu para tenaga perawatan dan
Hersey dan Blanchard, pimpinan adalah staf lainnya dalam melakukan pekerjaan
seseorang yang dapat mempengaruhi orang mereka secara efektif dan untuk mendorong,
lain atau kelompok untuk melakukan unjuk bimbingan dan kesempatan bagi
kerja maksimum yang telah ditetapkan sesuai pertumbuhan keahlian dan kecakapan para
dengan tujuan organisasi. Organisasi akan perawat.
berjalan dengan baik jika pimpinan
mempunyai kecakapan dalam bidangnya, dan Faktor dukungan teman dengan
setiap pimpinan mempunyai keterampilan pelaksanaan pengkajian spiritual
yang berbeda, seperti keterampilan teknis, Diperoleh bahwa lebih dari
manusiawi dan konseptual. Sedangkan setengahnya (72.1%) melaksanakan
bawahan adalah seorang atau sekelompok pengkajian spiritual karena ada dukungan
orang yang merupakan anggota dari suatu dari rekan, sedangkan kurang dari
perkumpulan atau pengikut yang setiap saat setengahnya (27.9%) tidak melaksanakan
siap melaksanakan perintah atau tugas yang pengkajian spiritual meskipun mendapatkan
telah disepakati bersama guna mencapai dukungan dari rekan. Hasil uji statistik
tujuan. Dalam suatu organisasi, bawahan diperoleh nilai p value = 0.077 yang
mempunyai peranan yang sangat strategis, memiliki makna bahwa tidak ada hubungan
karena sukses tidaknya seseorang pimpinan signifikan dukungan rekan dengan
bergantung kepada para pengikutnya ini. pelaksanaan pengkajian spiritual.
Menurut peneliti, figur otoritas Milgram menjelaskan bahwa, ketika
dipengaruhi juga oleh bagaimana seorang subjek bekerja dengan rekan-rekan dekatnya
pemimpin memiliki gaya dalam memimpin. atau berada dalam lingkungan yang sama
Menurut teori ada 3 macam gaya dalam dengan peer group maka biasanya subjek
memimpin, yaitu: gaya kepemimipinan akan melakukan apa yang dilakukan pula
demokratis, gaya kepemimpinan otoriter, dan oleh rekan-rekannya, baik itu sikap patuh
gaya kepemimpinan bebas. Apapun gaya maupun tidak. Hal ini terjadi dalam
kepemimpinan yang digunakan oleh kepala percobaan Milgram ketika ada "responden
bagian, seorang pemimipin harus memiliki tidak taat" mempengaruhi responden lain.
wibawa dan perhatian pada bawahannya. Berdasarkan teori diatas kepatuhan
Seperti yang dikutip pada jurnal yang ditulis seseorang dalam melakukan suatu tugas,
oleh Sudiryanto (2007), meskipun tingkat dipengaruhi oleh dukungan sosial atau rekan,
gaji, suasana kerja, dan kesejahteraan belum dimana dukungan sosial tinggi, maka
dirasakan cukup baik, tetapi dengan adanya kepatuhan akan semakin turun. Pada
perhatian dan dorongan dari pimpinan, penelitian 72.1% responden melaksanakan
mereka termotivasi dalam melaksanakan pengkajian spiritual karena merasakan
tugas dengan baik dan berprestasi. adanya dukungan sosial atau dukungan
Pada jurnal yang dituliskan oleh rekan. Kepatuhan umumnya merupakan
Kuswantoro Rusca (2012), dikatakan bahwa perilaku dipengaruhi oleh rekan sebaya, dan
Volume 1 Nomor 1, Maret 2016 63
Indonesian Journal of Nursing Health Science - Faktor-Faktor Kepatuhan Perawat yang Berhubungan dengan Pelaksanaan
Pengkajian Spiritual Pasien di Rumah Sakit X Bandung
dari kesesuaian mayoritas. Hal ini diperkuat lain, ketaatan turun menjadi 20,5%. Ketika
oleh jurnal yang ditulis oleh Kusumadewi tokoh yang memegang otoritas dekat saat itu
dkk (2012), yang mengatakan bahwa maka tingkat kepatuhan lebih tinggi.
semakin tinggi dukungan sosial atau Berdasarkan teori di atas, kepatuhan
dukungan rekan, maka semakin tinggi pula seseorang dalam melakukan suatu tugas,
tingkat kepatuhan. dipengaruhi oleh jarak pada saat
Adapun hal yang lain yang ikut melaksanakan tugasnya. Apabila jarak
mempengaruhi kepatuhan dengan dukungan dengan pimpinan makin jauh atau pimpinan
rekan, yaitu kontrol diri. Averill (1973) tidak ada di tempat, maka tingkat kepatuhan
mendefinisikan kontrol diri sebagai variabel akan semakin menurun. Pada hasil penelitian
psikologis yang mencakup kemampuan hal ini terjadi sebaliknya, sebanyak 79.1%
individu untuk memodifikasi perilaku, responden melaksanakan pengkajian spiritual
kemampuan individu dalam mengelola meskipun pemimpin mereka berada jauhdari
informasi yang tidak diinginkan dan pimpinan, atau bahkan tidak berada di
kemampuan individu untuk memilih suatu tempat, oleh karena itu penelitian ini tidak
tindakan yang diyakini. Hal ini diperkuat menunjukan adanya hubungan yang
oleh pendapat Suyasa (dalam Melati, dkk., signifikan antara tingkat kepatuhan perawat
2007) yang menyebutkan bahwa kontrol diri pada saat melakukan pengkajian spiritual
merupakan kemampuan individu untuk dengan faktor jarak dengan pimpinan.
menahan keinginan yang bertentangan Peneliti berpendapat bahwa ada
dengan tingkah laku yang tidak sesuai faktor lain yang mempengaruhi perawat
dengan norma sosial, dapat diidentikan untuk melaksanakan pengkajian spiritual
sebagai kemampuan individu untuk meskipun pimpinan mereka tidak berada di
bertingkah laku. Sehingga terdapat perbedaan tempat, yaitu pengetahunan, sikap, beban
tingkat kepatuhan atara individu dengan kerja serta fasilitas hubungannya dengan
kontrol diri tinggi dan individu dengan pengkajian asuhan keperawatan, khususnya
kontrol diri rendah. spiritual. Hal ini diperkuat oleh Martini
(2007), yang mengatakan bahwa
Faktor jarak dengan orang yang pengetahuan, sikap, beban kerja serta fasilitas
memegang figur ototritas dengan ada berhubungannya dengan pengkajian
pelaksanaan pengkajian spiritual asuhan keperawatan. Makin tinggi tingkat
Diperoleh sebagian besar (79.1%) pendidikan, maka makin baik dalam
perawat melaksanakan pengkajian spiritual melakukan tugasnya dan sikapnya terhadap
meskipun berada jauh dengan orang yang pasien. Sebagian besar perawat adalah
memegang kekuasaan, sedangkan sebagian lulusan D3 keperawatan, di dalam jenjang D3
kecil (20.9%) tidak melaksanakan pengkajian Keperawatan, kebutuhan spiritual adalah
spiritual karena jauh dengan orang yang mata kuliah yang wajib diberikan, sehingga
memegang kekuasaan. Hasil uji statistik dalam pelaksanaannya perawat tidak asing
diperoleh nilai p value = 1,0 yang memiliki lagi terhadap pengkajian spiritualitas dan
makna bahwa tidak ada hubungan signifikan mampu melakukannya dengan baik dan
antara jarak dengan orang yang memegang benar. Fasilitas yang berupa lembar
otoritas dengan pelaksanaan pengkajian pengkajian spiritual tersedia di Rumah sakit
spiritual. X, perawat hanya tinggal memberikan
Pada teori dikatakan bahwa, lebih tanda check list pada form pengkajian setelah
mudah untuk menolak perintah dari pihak dilakukan pengkajian, hal ini sangat
yang berwenang jika mereka tidak berada memudahkan pekerjaan.
dekat mereka. Ketika observer Beban kerja adalah fekuensi kegiatan
memerintahkan dan mendorong guru untuk rata-rata dari masing-masing pekerjaan
berkomunikasi melalui telepon dari ruangan dalam jangka waktu tertentu (Wandy, 2007).
Volume 1 Nomor 1, Maret 2016 64
Indonesian Journal of Nursing Health Science - Faktor-Faktor Kepatuhan Perawat yang Berhubungan dengan Pelaksanaan
Pengkajian Spiritual Pasien di Rumah Sakit X Bandung
Beban kerja dapat dilihat dari tugas-tugas 6. Tidak terdapat hubungan yang signifikan
yang diberikan kepada perawat dalam antara faktor jarak dengan orang yang
kegiatan sehari-harinya. Apakah melebihi memegang otoritas dengan pelaksanaan
dari kemampuan mereka, bervariasi, atau pengkajian spiritual pasien di Rumah
adakah tugas tambahan diluar tugas sehari- Sakit X Bandung. P value = 1,0 (>0,05).
hari perawat. Semakin banyak tugas
tambahan yang harus dikerjakan perawat, Daftar Pustaka
maka akan semakin besar beban kerja yang Asmadi. 2008. Konsep dasar keperawatan.
harus ditanggung oleh perawat tersebut, dan Jakarta: EGC
apabila semakin besar beban mereka akan
dapat menyebabkan kejenuhan. Kurang dari Ayu, Puspa. 2012. Kejenuhan Kerja
setengahnya (36.4%) responden penelitian (Burnout) Dengan Kinerja Perawat
memiliki masa kerja 1-5 tahun. Perawat Dalam pemberian Asuhan
dengan masa kerja 1-5 tahun memiliki beban Keperawatan. http://puslit2.petra.ac.id.
kerja yang paling kecil, karena mereka (diunduh tanggal 09 Juli 2013, pukul
melakukan pekerjaan berdasarkan tingkatan 16.00)
leveling dengan job desk yang sesuai dengan
kemampuannya. Bambang. 2005. Metode Penelitian
Kuantitatif. Raja Grafindo Persada.
Kesimpulan Jakarta.
Berdasarkan hasil analisis dan
pembahasan yang telah dilakukan, penulis Basantoable, Susan B. 2002. Perawat
mengambil kesimpulan penelitian sebagai Sebagai Pendidik. Jakarta: EGC
berikut :
1. Dari total responden terdapat 79.1% Brooker, Chris. 2008. Ensiklopedia
perawat yang melaksanakan pengkajian Keperawatan. Jakarta: EGC
spiritual.
2. Terdapat beberapa faktor kepatuhan Castelo, Manuel. 2007. Positioning
perawat saat melakukan pengkajian Corporate Social Responsibility. EJBO
kebutuhan spiritual pasien di RS. X Electronic Journal of Business Ethics
Bandung, yaitu tanggung jawab pribadi, and Organization Studies.
legitimasi dari figur otoritas, dukungan https://jyx.jyu.fi. (diunduh tanggal 25
rekan, dan jarak dengan orang yang April 2013, pukul 22.00)
memegang otoritas.
3. Tidak terdapat hubungan yang signifikan Elizabeth, Marry. 2009. Pedoman Perawat
antara faktor tanggung jawab dengan untuk Pelayanan Spiritual: Berdiri di
pelaksanaan pengkajian spiritual di Atas Tanah yang Kudus. Bina Media
Rumah Sakit X Bandung. P value = Perintis: Medan
0,904 (>0,05).
4. Tidak terdapat hubungan yang signifikan Gerkin, Charles. 2010. Konseling Pastoral
antara faktor legitimasi otoritas dengan dalam Transisi. Kanisius: Yogyakarta
pelaksanaan pengkajian spiritual di
Rumah Sakit X Bandung. P value = Hidayat, Alimul. 2004. Pengantar Konsep
0,137(>0,05) Dasar Asuhan Keperawatan. Salemba
5. Tidak terdapat hubungan yang signifikan Medika: Jakarta
antara faktor dukungan rekan dengan
pelaksanaan pengkajian spiritual di Keiron Walsh. 2008. Social Psychology-
Rumah Sakit X Bandung. P value = Theories of Obedience: Milgrams
0,077 (>0,05). Agency Theory.
Volume 1 Nomor 1, Maret 2016 65
Indonesian Journal of Nursing Health Science - Faktor-Faktor Kepatuhan Perawat yang Berhubungan dengan Pelaksanaan
Pengkajian Spiritual Pasien di Rumah Sakit X Bandung
Notoadmojo, Soekidjo. 2012. Pendidikan Wes, Bertrand. 2007. Logical Learning: the
dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Process of Noncontradictory
Rineka Cipta Integration.
http://logicallearning.net/obedience.ht
Nursalam. 2002. Proses Dokumentasi ml. (Diunduh tanggal 5 Maret 2013,
Keperawatan. Jakarta: Salemba pukul 21.00)
Medika