0% found this document useful (0 votes)
63 views6 pages

ID Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Dis

This document summarizes a research study on the application of an inquiry-based learning model accompanied by lesson sheets based on multi-representation to improve students' science process skills and physics learning outcomes. The study was conducted with X grade students at a high school in Jember, East Java. Data was collected through documentation, observation, interviews, portfolios, and tests. The results showed that students' science process skills during inquiry learning with multi-representational lesson sheets were in the good category 87.28% of the time. There was also a significant difference in physics achievement between students who learned with the inquiry model and multi-representational lesson sheets compared to a conventional learning model.

Uploaded by

Elvy Geong
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd
0% found this document useful (0 votes)
63 views6 pages

ID Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Dis

This document summarizes a research study on the application of an inquiry-based learning model accompanied by lesson sheets based on multi-representation to improve students' science process skills and physics learning outcomes. The study was conducted with X grade students at a high school in Jember, East Java. Data was collected through documentation, observation, interviews, portfolios, and tests. The results showed that students' science process skills during inquiry learning with multi-representational lesson sheets were in the good category 87.28% of the time. There was also a significant difference in physics achievement between students who learned with the inquiry model and multi-representational lesson sheets compared to a conventional learning model.

Uploaded by

Elvy Geong
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd
You are on page 1/ 6

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI DISERTAI LKS

BERBASIS MULTIREPRESENTASI TERHADAP KETERAMPILAN


PROSES SAINS DAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM
PEMBELAJARAN FISIKA DI SMAN
KABUPATEN JEMBER

1)
Himmatul Hasanah, 2)I Ketut Mahardika, 2)Bambang Supriadi
1)
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika
2)
Dosen Pendidikan Fisika FKIP Universitas Jember
Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Jember
E-mail: [email protected]

Abstract
This research focused on the application of inquiry model with LKS
based multirepresentation. The purpose of this research was to describe the
science process skills of students during the learning of inquiry model with LKS
based multirepresentation and to examine the differences of physic achievement
between using inquiry model with LKS based multirepresentation and
conventional model. The type of research was experiment by using posttest-only
control design. The sample of this research was the students of class X at Arjasa
Senior High School. Data collection method used is a documentary,
observation, interview, portofolio, and tests. The analysis result of science
process skills to students during the learning of inquiry model with LKS based
multirepresentation in good category is equal to 87,28%, and there is
differences significant of physic achievement between using inquiry model with
LKS based multirepresentation and conventional model.

Key words: Inquiry model, LKS based multirepresentation, science process


skills, and physics achievement.

PENDAHULUAN mengemukakan bahwa keterampilan


proses sains adalah kemampuan atau
Fisika adalah ilmu yang kecakapan untuk melaksanakan suatu
mempelajari tentang alam dan gejalanya tindakan dalam belajar sains. Mengajarkan
yang terdiri dari proses dan produk. Proses keterampilan proses pada siswa berarti
adalah proses ilmiah yang langkah- memberi kesempatan mereka untuk
langkahnya menggunakan metode ilmiah, melakukan sesuatu, sehingga siswa tidak
sedangkan produk adalah pengetahuan hanya sekedar memperoleh pengetahuan
yang berupa fakta, konsep, prinsip, hukum, saja, tetapi siswa juga dapat menemukan
dan teori. Tujuan pembelajaran fisika pengetahuannya sendiri.
adalah agar siswa dapat menguasai Berdasarkan hasil wawancara
berbagai konsep dan prinsip fisika untuk terbatas dengan guru mata pelajaran fisika
dapat mengembangkan pengetahuan, kelas X di beberapa SMA Negeri di
keterampilan, dan sikap sehingga dapat Kabupaten Jember yaitu untuk mengetahui
diterapkan dalam kehidupan sehari-hari model pembelajaran yang biasanya
(Prihandono, 2011). Keterampilan proses digunakan di kelas, ternyata secara umum
sains juga penting dikembangkan dalam pembelajaran di kelas dilaksanakan dengan
proses pembelajaran. Widayanto (2009) menggunakan pembelajaran kooperatif.

135
Himmatul, Penerapan Model Pembelajaran... 136

Pembelajaran kooperatif lebih ditekankan umum hanya menampilkan kemampuan


pada kerjasama dengan kelompok dan representasi verbal dan matematik saja
pemberian tugas-tugas. Permasalahannya sedangkan kemampuan representasi
siswa masih belum diikutsertakan secara gambar dan grafik kurang dimunculkan
maksimal kemampuannya dalam proses pada LKS. Kondisi tersebut dapat
pembelajaran dan siswa masih belum menghambat kemampuan siswa dalam
ditekankan untuk belajar menemukan serta mengerjakan soal yang berkaitan dengan
membangun sendiri pengetahuan melalui pemecahan masalah yang di dalamnya
percobaan. Oleh sebab itu, pembelajaran mencakup 4 kemampuan representasi yaitu
fisika hendaknya menggunakan suatu verbal, gambar, grafik, dan matematik.
model pembelajaran yang dapat Salah satu upaya untuk mengatasi
memberikan kesempatan siswa untuk masalah tersebut diperlukan LKS yang
mengamati dan membuktikan suatu konsep berisi suatu permasalahan fisika yang
fisika melalui percobaan, sehingga mengarahkan siswa untuk mengamati,
menambah rasa ingin tahu siswa dalam melakukan, dan menganalisis yang di
menyelesaikan suatu permasalahan fisika dalamnya akan mencakup 4 kemampuan
dalam kehidupan sehari-hari. representasi yaitu verbal, gambar, grafik,
Salah satu upaya untuk mengatasi dan matematik. Dikarenakan di dalam
masalah tersebut adalah dengan LKS menyangkut 4 kemampuan
menerapkan model pembelajaran inkuiri. representasi, maka LKS yang digunakan
Model pembelajaran inkuiri merupakan adalah LKS berbasis multirepresentasi
suatu rangkaian kegiatan belajar yang yang digunakan untuk mengukur
melibatkan secara maksimal seluruh keterampilan proses sains siswa meliputi
kemampuan siswa untuk mencari dan menyusun hipotesis, mencatat hasil
menyelidiki secara sistematis, kritis logis, pengamatan, membuat grafik,
analisis, sehingga siswa dapat merumuskan menganalisis data, dan menyimpulkan.
sendiri penemuannya dengan penuh Selain itu juga mengukur keterampilan
percaya diri (Gulo dalam Trianto, 2009: proses sains pada saat proses pembelajaran
166). Tahapan model pembelajaran inkuiri meliputi melakukan pengamatan,
bermula dari mengajukan permasalahan, melakukan percobaan, dan
merumuskan hipotesis, merancang mengkomunikasikan. Oleh sebab itu,
percobaan, melakukan percobaan, model pembelajaran inkuiri akan
menganalisis data, dan membuat dipadukan dengan LKS berbasis
kesimpulan. Peran guru dalam model multirepresentasi yang diharapkan dapat
pembelajaran inkuiri sebagai fasilitator melatih keterampilan proses sains siswa
dengan cara memberi masalah fisika dan dan meningkatkan hasil belajar siswa.
siswa dituntut untuk aktif mencari dan Beberapa penelitian yang relevan
menemukan sendiri suatu permasalahan. menunjukkan adanya perbedaan hasil
Model pembelajaran inkuiri juga belajar fisika siswa yang diajar
membutuhkan bahan ajar untuk membantu menggunakan model pembelajaran inkuiri
siswa dalam proses pembelajaran, salah dengan model pembelajaran konvensional.
satunya yaitu Lembar Kegiatan Siswa Penelitian tersebut antara lain telah
(LKS). Lembar kegiatan siswa adalah dilakukan oleh Purwanto (2013) dan
panduan siswa yang digunakan untuk Kristianingsih (2010). Penelitian mengenai
melakukan kegiatan penyelidikan atau LKS pernah dilakukan oleh Widodo
pemecahan masalah (Trianto, 2009: 222). (2013). Hasil penelitiannya menunjukkan
LKS yang digunakan dalam pembelajaran bahwa keterampilan proses sains dan hasil
fisika berisi tentang ringkasan materi belajar siswa menggunakan LKS berbasis
dengan menyajikan banyak latihan soal. kerja laboratorium lebih baik dibandingkan
Soal-soal yang ada pada LKS secara dengan menggunakan LKS di sekolah.
137 Jurnal Pembelajaran Fisika, Vol. 5 No. 2, September 2016, hal 135 - 140

Berdasarkan latar belakang yang dengan menerapkan pembelajaran


telah diuraikan maka tujuan dari penelitian konvensional. Desain penelitian ini adalah
ini adalah untuk mendeskripsikan posttest only control group design. Teknik
keterampilan proses sains siswa selama pengumpulan data adalah dokumentasi,
proses pembelajaran dengan menggunakan observasi, portofolio, wawancara, dan tes.
model pembelajaran inkuiri disertai LKS Teknik analisis data untuk
berbasis multirepresentasi dalam mendeskripsikan keterampilan proses sains
pembelajaran fisika di SMA dan mengkaji siswa dengan mempresentase hasil
perbedaan yang signifikan pada hasil penilaian pada LKS berbasis
belajar siswa menggunakan model mutirepresentasi dan hasil observasi yang
pembelajaran inkuiri disertai LKS berbasis ditentukan sesuai dengan kriterianya
multirepresentasi dengan menggunakan sedangkan mengkaji perbedaan hasil
pembelajaran konvensional dalam belajar siswa dengan menggunakan
pembelajaran fisika di SMA. perhitungan independent sample t-test.

METODE HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini adalah penelitian Data keterampilan proses sains


eksperimen. Penentuan daerah penelitian diambil pada saat proses pembelajaran
menggunakan metode purposive sampling kelas eksperimen yang menerapkan model
area. Penelitian ini dilakukan di SMA pembelajaran inkuiri disertai LKS berbasis
Negeri Arjasa. Populasi dalam penelitian multirepresentasi. Data keterampilan
ini adalah seluruh siswa kelas X MIA yang proses sains siswa diperoleh dari nilai 8
terdiri dari 6 ruang kelas. Penentuan aspek keterampilan proses sains meliputi
sampel dilakukan dengan menggunakan menyusun hipotesis, melakukan
teknik cluster random sampling yang percobaan, melakukan pengamatan,
sebelumnya telah dilakukan uji mencatat hasil pengamatan, membuat
homogenitas dengan bantuan SPSS 22. grafik, menganalisis data,
Sampel dalam penelitian ini adalah kelas X mengkomunikasikan, dan menyimpulkan.
MIA.3 sebagai kelas eksperimen dan kelas Persentase keterampilan proses sains siswa
X MIA.4 sebagai kelas kontrol. Pada kelas dihitung untuk rata-rata tiap aspek
eksperimen dengan menerapkan model keterampilan proses sains secara
pembelajaran inkuiri disertai LKS berbasis keseluruhan pertemuan. Adapun
multirepresentasi sedangkan kelas kontrol ringkasannya dapat dilihat dalam Tabel 1.

Tabel 1. Ringkasan Persentase Tiap Aspek Keterampilan Proses Sains

Aspek Keterampilan Proses Presentase Keterampilan


No. Kriteria
Sains Proses Sains (%)
1. Menyusun hipotesis 87,71 Baik
2. Melakukan percobaan 93,27 Baik
3. Melakukan pengamatan 89,77 Baik
4. Mencatat hasil pengamatan 92,39 Baik
5. Membuat grafik 80,70 Baik
6. Menganalisis data 91,81 Baik
7. Menyimpulkan 81,29 Baik
8. Mengkomunikasikan 81,29 Baik
Rata-rata 87,28 Baik
Himmatul, Penerapan Model Pembelajaran... 138

Berdasarkan Tabel 1 dapat dilihat inkuiri menurut yaitu siswa dituntut untuk
bahwa persentase nilai rata-rata setiap berperan aktif melakukan percobaan untuk
aspek keterampilan proses sains sains menemukan suatu konsep fisika dari hasil
secara keseluruhan pertemuan mempunyai percobaannya. Persentase nilai rata-rata
hasil yang berbeda-beda pada setiap keterampilan proses sains terendah adalah
aspeknya, akan tetapi dalam satu kriteria membuat grafik sebesar 80,70%. Hal ini
yaitu baik. Urutan persentase nilai rata-rata dikarenakan siswa tidak pernah diajarkan
keterampilan proses sains siswa dari proses membuat grafik dari data hasil
persentase tertinggi hingga persentase percobaan, siswa hanya mengetahui
terendah yaitu melakukan percobaan, gambaran umum grafik fisika saja. Faktor
mencatat hasil pengamatan, menganalisis penyebab lainnya dikarenakan dari
data melakukan pengamatan, menyusun pembelajaran fisika yang biasanya
hipotesis, menyimpulkan dan digunakan di kelas hanya mengarah pada
mengkomunikasikan , dan membuat grafik kemampuan representasi verbal dan
Persentase nilai rata-rata akhir matematis, sehingga siswa masih kesulitan
keterampilan proses sains siswa secara untuk membuat grafik.
keseluruhan yaitu sebesar 87,28% yang Keterampilan proses sains siswa
tergolong dalam kriteria baik. juga diukur untuk setiap aspeknya dari
Hasil analisis persentase nilai rata- keseluruhan pertemuan, juga mengukur
rata keterampilan proses sains dari keterampilan proses sains siswa secara
kedelapan aspek yang diamati, persentase keseluruhan aspek dari setiap pertemuan.
nilai rata-rata keterampilan proses sains Pertemuan yang digunakan meliputi
tertinggi adalah melakukan percobaan pertemuan 1, 2, dan 3. Adapun deskripsi
sebesar 93,27%. Hal ini dikarenakan ringkasannya dapat dilihat pada Tabel 2 di
sesuai dengan tujuan model pembelajaran bawah ini.

Tabel 2. Ringkasan Persentase Nilai Rata-Rata Aspek Keterampilan Proses Sains


Presentase Nilai Rata-rata
No. Pertemuan Kriteria
Keterampilan Proses Sains (%)
1. Pertemuan 1 87,61 Baik
2. Pertemuan 2 86,51 Baik
3. Pertemuan 3 87,72 Baik
Rata-Rata 87,28 Baik

Berdasarkan Tabel 2 di atas dapat materi pertemuan 1. Pada pertemuan 2


dilihat bahwa persentase nilai rata-rata materi cenderung lebih banyak matematis
keterampilan proses sains untuk setiap pada aspek mencatat hasil pengamatan jika
pertemuan 1, 2, dan 3 berbeda-beda, akan dibandingkan pada pertemuan 1 tentang
tetapi dengan kriteria yang sama yaitu gerak lurus beraturan. Ketidaktelitian dan
baik. Pada pertemuan 1 persentase nilai lemahnya pemahaman siswa dalam
rata-rata aspek keterampilan proses sains perhitungan matematis juga menyebabkan
sebesar 87,61% dengan kriteria baik dan hasil keterampilan sains siswa mengalami
mengalami penurunan pada pertemuan 2 penurunan.
yaitu sebesar 86,51% dengan kriteria baik, Hasil analisis keseluruhan aspek
sedangkan pada pertemuan 3 mengalami keterampilan proses sains siswa
peningkatan kembali sebesar 87,72% dikategorikan baik disebabkan melalui
dengan kriteria baik. Penurunan persentase model pembelajaran inkuiri disertai LKS
dari pertemuan 1 dan 2 diakibatkan pada berbasis multirepresentasi dapat
pertemuan 2 materi yang digunakan mengefektifkan proses pembelajaran. Pada
cenderung lebih sulit dibanding dengan setiap tahapan model pembelajaran inkuiri
139 Jurnal Pembelajaran Fisika, Vol. 5 No. 2, September 2016, hal 135 - 140

dapat melatih keterampilan proses sains mengembangkan keterampilan proses sains


siswa yaitu pada tahap menyajikan siswa dengan baik.
pertanyaan atau permasalahan, siswa Data hasil belajar fisika siswa
diberikan suatu permasalahan pada gambar diperoleh dari nilai post-test yang
di dalam LKS berbasis multirepresentasi dilakukan pada kelas eksperimen dan kelas
yang akan mengajak siswa untuk kontrol. Data hasil post-test didapatkan
membuktikan prediksi-prediksi dari nilai rata-rata post-test untuk kelas
gambar tersebut pada tahap merumuskan eksperimen sebesar 84,68 dan nilai rata-
hipotesis, sehingga siswa terlatih pada rata post-test kelas kontrol sebesar 71,29.
aspek keterampilan proses sains menyusun Dari data tersebut menunjukkan bahwa
hipotesis. Pada tahap merancang rata-rata nilai post-test kelas eksperimen
percobaan dan melaksanakan percobaan, lebih besar daripada kelas kontrol. Akan
siswa diminta untuk bekerjasama dengan tetapi untuk mengkaji perbedaan yang
kelompoknya, sehingga siswa terlatih pada signifikansi data hasil belajar fisika, maka
aspek keterampilan proses sains data hasil belajar dianalisis menggunakan
melakukan percobaan, melakukan perhitungan independent sample t-test.
pengamatan, mencatat hasil pengamatan, Berdasarkan hasil analisis
dan membuat grafik. Pada tahap perhitungan menggunakan independent
menganalisis data dan menyimpulkan hasil sample t-test diperoleh nilai ttest sebesar
percobaan, siswa juga terlatih pada aspek 5,33. Nilai ttabel yang diperoleh dari nilai db
keterampilan proses sains menganalisis sebesar 74 pada taraf signifikansi 5%
data, menyimpulkan, dan sebesar 1,66. Dari data nilai tersebut
mengkomunikasikan. Hasil analisis diperoleh hasil bahwa nilai ttest ≥ ttabel yaitu
keterampilan proses sains siswa pada (5,33 ≥ 1,66). Berdasarkan pedoman
penelitian ini sesuai dengan penelitian kriteria pengujian, maka hipotesis nihil
sebelumnya yang pernah dilakukan oleh (H0) ditolak dan hipotesis alternatif (Ha)
Ambarsari (2013) yang menyatakan bahwa diterima. Dengan demikian dapat
aspek keterampilan proses sains siswa disimpulkan bahwa bahwa ada perbedaan
secara keseluruhan dengan menggunakan yang signifikan pada hasil belajar siswa
model pembelajaran inkuiri dikategorikan menggunakan model pembelajaran inkuiri
baik. disertai LKS berbasis multirepresentasi
Melalui hasil jawaban LKS dengan menggunakan pembelajaran
berbasis multirepresentasi yang mengarah konvensional dalam pembelajaran fisika di
pada 4 kemampuan representasi siswa SMA. Hasil analisis hasil belajar fisika
diantaranya verbal, matematis, gambar, siswa pada penelitian ini sesuai jika
dan grafik juga dapat membantu dan dirujuk pada penelitian sebelumnya yang
melatih keterampilan proses sains siswa pernah dilakukan oleh Purwanto (2013)
pada proses pembelajaran, sehingga yang menyatakan bahwa hasil belajar
keterampilan proses sains siswa fisika siswa menggunakan model
dikategorikan baik. Dengan bantuan LKS pembelajaran inkuiri lebih baik daripada
berbasis multirepresentasi siswa akan pembelajaran konvensional.
terlatih untuk melaksanakan tahapan pada Perbedaan hasil belajar fisika kelas
model pembelajaran inkuiri yang akan eksperimen dan kelas kontrol dipengaruhi
menuntun siswa untuk mengamati, oleh beberapa faktor diantaranya yaitu
melakukan, dan menganalisis suatu model pembelajaran yang digunakan. Hal
permasalahan fisika. Hal ini juga sesuai ini juga disampaikan oleh Slameto
dengan penelitian yang pernah dilakukan (1995:64) bahwa faktor sekolah
oleh Widodo (2013) yang menyatakan mempengaruhi hasil belajar siswa
bahwa dengan menggunakan LKS berbasis diantaranya adalah model pembelajaran.
kerja laboratorium mayoritas siswa mampu Pada pembelajaran dengan menerapkan
Himmatul, Penerapan Model Pembelajaran... 140

model pembelajaran inkuiri disertai LKS berbasis multirepresentasi pada proses


berbasis multirepresentasi dapat pembelajaran dalam upaya meningkatkan
memberikan kesempatan kepada siswa hasil belajar dan keterampilan proses sains
untuk berperan aktif untuk menemukan siswa dan bagi peneliti lain hasil penelitian
konsep fisika. Pada setiap tahap- ini dapat dijadikan landasan untuk
tahapannya juga menampilkan bagian dari penelitian dalam pengembangan model
urutan proses yang membantu siswa untuk maupun metode yang cocok diterapkan
belajar dari penemuannya sendiri dari hasil dalam suatu pembelajaran.
percobaannya, sehingga siswa akan lebih
tertarik karena lebih ditekankan pada DAFTAR PUSTAKA
pembelajaran yang berkaitan dengan
fenomena alam, hal ini akan membuat Ambarsari, W. 2013. Penerapan
pengetahuan siswa lebih lama untuk Pembelajaran Inkuiri Terbimbing
diingat. Pada pembelajaran konvensional Terhadap Keterampilan Proses
siswa hanya diberikan tugas-tugas bersama Sains Dasar. Jurnal Pendidikan
dengan kelompok, sehingga kurang Biologi, Vol 5(1) : 81-85
menuntun siswa untuk belajar menemukan Kristianingsih. 2010. Peningkatan Hasil
suatu konsep dari hasil percobaan. Belajar Siswa Melalui Model
Perbedaan hasil belajar fisika siswa kelas Pembelajaran Inkuiri dengan
eksperimen dan kelas kontrol tidak Metode Pictorial Ridlle pada
sepenuhnya dipengaruhi oleh perbedaan Pokok Bahasan Alat Optik di
model pembelajaran, akan tetapi ada faktor SMP. Jurnal Pendidikan Fisika
lain yang mempengaruhinya, yaitu faktor Indonesia, Vol 6(1) : 61-65.
intern salah satunya adalah faktor Prihandono, T. 2011. Efektivitas Metode
psikologis diantaranya yaitu intelegensi, Belajar Fisika Tanpa Rumus Pada
minat, bakat, dan kesiapan. Pembelajaran Sains. Jurnal
Saintifika, Vol 13(1) : 56-67.
SIMPULAN DAN SARAN Purwanto. 2013. Pembelajaran Fisika
Berdasarkan hasil analisis data dengan Menggunakan Model
yang diperoleh, maka disimpulkan bahwa: Inkuiri Terbimbing dalam
1) keterampilan proses sains siswa selama Menumbuhkan Kemampuan
pembelajaran dengan menggunakan model Berfikir Logis Siswa. Jurnal
pembelajaran inkuiri disertai LKS berbasis Pendidikan Fisika Indonesia, Vol
multirepresentasi untuk presentase rata- 10 (1) : 249-253
rata keseluruhan aspeknya sebesar 87,28% Slameto. 1995. Belajar dan Faktor-Faktor
sehingga dapat digolongkan dalam kriteria yang Mempengaruhinya. Jakarta :
baik, 2) ada perbedaan yang signifikan Rineka Cipta.
pada hasil belajar siswa menggunakan Trianto. 2009. Mendesain Model
model pembelajaran inkuiri disertai LKS Pembelajaran Inovatif-Progresif.
berbasis multirepresentasi dengan Jakarta : Kencana Media Group.
menggunakan pembelajaran konvensional Widayanto. 2009. Pengembangan
dalam pembelajaran fisika di SMA. Keterampilan Proses dan
Berdasarkan hasil penelitian dan Pemahaman Siswa Kelas X
pembahasan, maka saran yang diberikan Melalui Kit Optik. Jurnal
adalah dapat dijadikan sebagai bahan Pendidikan Fisika Indonesia, Vol
pertimbangan guru untuk menerapkan 5(1) : 1-7.
model pembelajaran inkuiri disertai LKS

You might also like