Trend dan Issue Keperawatan
Anak
Tugas IKD III dosen pembimbing:
Lutfiah Nur Aini,S.Kep.Ners
DISUSUN OLEH kelompok 2:
STIKES DIAN HUSADA MOJOKERTO
S1 KEPERAWATAN / 1B
Kampus A : Jl. Raya Jabon 40 Telp./Fax: (0321) 321121
Kampus B : Jl. Raya Teras 04 Telp./Fax: (0321) 324774
Website : www.dianhusada.ac.id
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang telah menolong hamba-Nya
menyelesaikan makalah ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan
Beliau mungkin penyusun tidak akan sanggup menyelesaikan dengan baik.
Tak ada kata yang lebih mulia selain ucapan rasa syukur karunia-Nya.
Sehingga makalah “Trend dan issue keperawatan anak” ini dapat
diselesaikan.
Makalah ini disajikan berdasarkan pengamatan dan penyeleksian dari
berbagai sumber. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
semester II .Penyusun mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Yulianto, S.Kep.,Ners.,M.M.Kes., selaku dirrktur
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dian Husada Mojokerto
2. Ibu Linda Presti F, S. Kep., Ns., M.Kes selaku pembimbing
akademik
3. Ibu Lutfiah Nur Aini,S.kep.Ners selaku dosen pembimbing
4. Semua teman – teman yang telah membantu serta memberikan
dukungan dalam menyelesaikan makalah ini.
Penyusun menyadari sesungguhnya bahwa makalah ini masih
kekurangan dan masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu penyusun akan
menerima dengan senang hati, segala kritik dan saran yang membangun demi
kesempurnaan makalah selanjutnya. Dan semoga dengan selesainya makalah
ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
Mojokerto , 23 Februari 2013
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Keperawatan anak merupakan hal yang patut dibahas, karena pada
masa kanak-kanak banyak hal yang dapat mempengaruhi pola pikir bahkan
mempengaruhi perkembangan anak.
Selain itu trend dan isu yang berkembang dalam masyarakat sangat
beragam, mulai dari yang bersifat pembentukan moral, pelayanan
kesehatan, sampai mengenai terapi trauma.
1.2 Rumusan masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Trend?
2. Apa yang dimaksud dengan Isu ?
3. Apa yang dimaksud dengan keperawatan ?
4. Apa yang dimaksud dengan trend dan isu keperawatan?
5. Apa yang dimaksud dengan Anak ?
6. Apa saja trend dan isu dalam keperawatan anak pada saat ini?
1.3 Tujuan
1. Menjelaskan apa yang dimaksud dengan Trend .
2. Menjelaskan apa yang dimaksud dengan Isu.
3. Menjelaskan apa yang dimaksud dengan keperawatan.
4. Menjelaskan apa yang dimaksud dengan trend dan isu keperawatan.
5. Menjelaskan apa yang dimaksud dengan anak.
6. Menjelaskan apa saja trend dan isu keperawatan anak pada saat ini.
1.4 Manfaat
Mahasiswa dapat mengetahui trend dan isu yang beredar dalam
masyarakat tentang keperawatann anak. Kemudian mahasiswa dapat
menyikapi trend dan isu tersebut. Sehingga hal tersebut dapat menunjang
mahasiswa menjadi lebih baik dalam memberikan pelayanan kesehatan
terhadap klien.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian trend
Trend adalah hal yang sangat mendasar dalam berbagai pendekatan
analisa, trend juga dapat didefinisikan salah satu gambaran ataupun
informasi yang terjadi pada saat ini yang biasanya sedang populer
dikalangan masyarakat
2.2 Pengertian isu
Isu adalah suatu peristiwa atau kejadian yang dapat diperkirakan
terjadi atau tidak terjadi pada masa mendatang, yang menyangkut ekonomi,
moneter, sosial, politik, hukum, pembangunan nasional, bencana alam,
ataupun tentang kritis.
Isu adalah sesuatu yang sedang dibicarakan oleh banyak orang namun
masih belum jelas faktanya atau buktinya.
2.3 Pengertian keperawatan
Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan yang profesional, yang
merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan berdasarkan pada
ilmu dan kiat keperawatan, dengan bentuk pelayanan yang mencakup
biopsikososial-spiritual yang ditujukan kepada individu, keluarga,
kelompok, masyarakat baik sehat maupun sakit dalam siklus kehidupan
manusia (Lokakarya keperawatan nasional(1983))
2.4 Pengertian trend dan isu keperawatan
Trend dan isu keperawatan adalah sesuatu yang sedang dibicarakan
banyak orang tentang praktek/ mengenai keperawatan baik itu berdasarkan
fakta maupun tidak, trend dan isu tentunya menyangkut tentang aspek legal
dan etis keperawatan.
Setelah tahun 2000, dunia khususnya bangsa Indonesia memasuki era
globalisasi, pada tahun 2003 era dimulainya pasar bebas ASEAN dimana
banyak tenaga professional keluar dan masuk ke dalam negeri. Pada masa
itu mulai terjadi suatu masa transisi/pergeseran pola kehidupan masyarakat
dimana pola kehidupan masyarakat tradisional berubah menjadi
masyarakat yang maju. Keadaan itu menyebabkan berbagai macam dampak
pada aspek kehidupan masyarakat khususnya aspek kesehatan baik yang
berupa masalah urbanisaasi, pencemaran, kecelakaan, disamping
meningkatnya angka kejadian penyakit klasik yang berhubungan dengan
infeksi, kurang gizi, dan kurangnya pemukiman sehat bagi penduduk.
Pergeseran pola nilai dalam keluarga dan umur harapan hidup yang
meningkat juga menimbulkan masalah kesehatan yang berkaitan dengan
kelompok lanjut usia serta penyakit degeneratif.
Pada masyarakat yang menuju ke arah moderen, terjadi peningkatan
kesempatan untuk meningkatkan pendidikan yang lebih tinggi, peningkatan
pendapatan dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap hukum dan
menjadikan masyarakat lebih kritis. Kondisi itu berpengaruh kepada
pelayanan kesehatan dimana masyarakat yang kritis menghendaki
pelayanan yang bermutu dan diberikan oleh tenaga yang profesional.
Keadaan ini memberikan implikasi bahwa tenaga kesehatan khususnya
keperawatan dapat memenuhi standart global internasional dalam
memberikan pelayanan kesehatan/keperawatan, memiliki kemampuan
professional, kemampuan intelektual dan teknik serta peka terhadap aspek
social budaya, memiliki wawasan yang luas dan menguasi perkembangan
Iptek.
Namun demikian upaya untuk mewujudkan perawat yang professional
di Indonesia masih belum menggembirakan, banyak factor yang dapat
menyebabkan masih rendahnya peran perawat professional, diantaranya :
1) Keterlambatan pengakuan body of knowledge profesi keperawatan. Tahun
1985 pendidikan S1 keperawatan pertama kali dibuka di UI, sedangkan di
negara barat pada tahun 1869.
2) Keterlambatan pengembangan pendidikan perawat professional.
3) Keterlambatan system pelayanan keperawatan., ( standart, bentuk praktik
keperawatan, lisensi )
Menyadari peran profesi keperawatan yang masih rendah dalam dunia
kesehatan akan berdampak negatif terhadap mutu pelayanan kesehatan bagi
tercapainya tujuan kesehatan “ sehat untuk semua pada tahun 2010 “, maka
solusi yang harus ditempuh adalah :
1) Pengembangan pendidikan keperawatan.
Sistem pendidikan tinggi keperawatan sangat penting dalam
pengembangan perawatan professional, pengembangan teknologi
keperawatan, pembinaan profesi dan pendidikan keperawatan
berkelanjutan. Akademi Keperawatan merupakan pendidikan keperawatan
yang menghasilkan tenaga perawatan professional dibidang keperawatan.
Sampai saat ini jenjang ini masih terus ditata dalam hal SDM pengajar,
lahan praktik dan sarana serta prasarana penunjang pendidikan.
2) Memantapkan system pelayanan perawatan professional
Depertemen Kesehatan RI sampai saat ini sedang menyusun registrasi,
lisensi dan sertifikasi praktik keperawatan. Selain itu semua penerapan
model praktik keperawatan professional dalam memberikan asuhan
keperawatan harus segera di lakukan untuk menjamin kepuasan
konsumen/klien.
3) Penyempurnaan organisasi keperawatan
Organisasi profesi keperawatan memerlukan suatu perubahan cepat dan
dinamis serta kemampuan mengakomodasi setiap kepentingan individu
menjadi kepentingan organisasi dan mengintegrasikannya menjadi
serangkaian kegiatan yang dapat dirasakan manfaatnya. Restrukturisasi
organisasi keperawatan merupakan pilihan tepat guna menciptakan suatu
organisasi profesi yang mandiri dan mampu menghidupi anggotanya melalui
upaya jaminan kualitas kinerja dan harapan akan masa depan yang lebih
baik serta meningkat.
2.5 Pengertian anak
Seseorang yang belum mencapai umur 21 tahun dan belum menikah.
Anak merupakan seseorang yang dilahirkan dalam suatu keluarga.
2.6 Trend dan isu keperawatan anak
2.6.1 Imunisasi
Imunisasi adalah upaya pencegahan penyakit infeksi dengan
menyuntikkan vaksin kepada anak sebelum anak terinfeksi. Anak yang
diberi imunisasi akan terlindung dari infeksi penyakit-penyakit .Yang dapat
menyebabkan infeksi sebelum mikroorganisme tersebut memiliki
kesempatanuntuk menyerang tubuh kita. Dengan imunisasi tubuh kita akan
terlindungi dari infeksi begitu pula orang lain. Karena tidak tertular dari
kita
Tujuan Imunisasi
Tujuan dari imunisasi adalah untuk menguranggi angka penderitaan
suatupenyakit yang sangat membahayakan kesehatan bahkan bisa
menyebabkankematian pada penderitanya. Beberapa penyakit yang dapat di
hindari denganimunisasi yaitu:
1. Hepatitis.
2. Campak.
3. Polio.
4. Difteri.
5. Tetanus.
6. Batuk Rejan.
7. Gondongan
Cacar air
TBC
Macam-Macam Imunisasi
1. Imunisasi Aktif.
Adalah kekebalan tubuh yang di dapat seorang karena tubuh
yangsecara aktif membentuk zat antibodi, contohnya: imunisasi polio
ataucampak . Imunisasi aktif juga dapat di bagi dua macam:
a. Imunisasi aktif alamiah adalah kekebalan tubuh yang secara ototmatis di
peroleh sembuhdari suatu penyakit.
b. Imunisasi aktif buatanadalah kekebalan tubuh yang di dapat dari vaksinasi yang
diberikan untuk mendapatkan perlindungan dari sutu penyakit.
2. Imunisasi Pasif
Adalah kekebalan tubuh yang di dapat seseorang yang zat
kekebalantubuhnya di dapat dari luar.Contohnya Penyuntikan ATC (Anti
tetanusSerum).Pada orang yang mengalami luka kecelakaan. Contah lain
adalah:Terdapat pada bayi yang baru lahir dimana bayi tersebut
menerimaberbagi jenis antibodi dari ibunya melalui darah placenta selama
masakandungan.misalnya antibodi terhadap campak. Imunisasi pasif ini
dibagi yaitu:
a. Imunisai pasif alamiahAdalah antibodi yang di dapat seorang karena di
turunkan olehibu yang merupakan orang tua kandung langsung ketika
beradadalam kandungan.
b. Imunisasi pasif buatan.Adalah kekebalan tubuh yang di peroleh karena
suntikan serumuntuk mencegah penyakit tertentu
jenis-Jenis Imunisasi
1. Imunisai BCG adalah prosuder memasukkan vaksin BCG yang
bertujuanmemberi kekebalan tubuh terhadap kuman mycobakterium
tuberculosisdengan cara menghambat penyebaran kuman.
2. Imunisasi hepatitis B adalah tindakan imunisasi dengan pemberianvaksin
hepatitis B ke tubuh bertujuan memberi kekebalan dari penyakithepatitis.
3. Imunisasi polio adalah tindakan memberi vaksin poli (dalam bentuk
oral)atau di kenal dengan nama oral polio vaccine (OPV) bertujuan
memberikekebalan dari penyakit poliomelitis.Imunisasi dapat di berikan
empatkali dengan 4-6 minggu.
4. Imunisasi DPT adalah merupakan tindakan imunisasi dengan
memberivaksin DPT (difteri pertusis tetanus) /DT (difteri tetanus) pada anak
yang bertujuan memberi kekebalan dari kuman penyakit
difteri,pertusis,dantetanus. Pemberian vaksin pertama pada usia 2 bulan dan
berikutnya dengan interval 4-6 minggu.
5. Imunisasi campak adalah tindakan imunisasi dengan memberi vaksin
campak pada anak yang bertujuan memberi kekebalan dari penyakit
campak. Imunisasi dapat di berikan pada usia 9 bulan secara
subkutan,kemudian ulang dapat diberikan dalam waktu interval 6 bulanatau
lebih setelah suntikan pertama . ( Asuhan neonatus bayi dan balita :98-101)
Mekanisme Imunisasi Dalam Proses PencegahanPenyakit
Imunisasi bekerja dengan cara merangsang pembentukan antibodi
terhadaporganisme tertentu,tanpa menyebabkan seorang sakit
2.6.2 Atraumatic care
Atraumatic care atau asuhan yang tidak menimbulkan trauma pada anak
dan keluarganya merupakan asuhan yang terapeutik karena bertujuan
sebagai terapi pada anak. Dasar pemikiran pentingnya asuhan terpeutik ini
adalah bahwa walaupun ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pediatrik
telah berkembang pesat,tindakan yang di lakukan pada anak tetap
menimbulkan trauma, rasa nyeri, marah, cemas, dan takut pada anak.
Sangat di sadari bahwa sampai saat ini belum ada teknologi yang mengatasi
masalah yang timbul sebagai dampak perawatan tersebut. Hal ini
memerlukan perhatian khusus dari tenaga kesehatan, khususnya perawat
dalam melaksanakan tindakan pada anak dan orang tua.
Beberapa buku penelitian menunjukkan bahwa lingkungan rumah sakit
yang dapat menimbulkan trauma bagi anak adalah lingkungan fisik,tenaga
kesehatan baik dari sikap maupun pakaian putih,alat-alat yang di
gunakan,dan lingkungan sosial antar sesama pasein. Dengan adanya stresor
tersebut di stress yang dapat di alami anak adalah gangguan
tidur,pembatasan kreatifitas, perasaaan nyeri, dan suara bising, sedangkan
di stress psikologis mencakup kecemasan, takut, marah, kecewa, sedih malu
dan rasa bersalah.
Atraumatic care adalah bentuk perawatan terapeutik yang di berikan
oleh tenaga kesehatan dalam tatanan pelayanan kesehatan anak,melalui
penggunaan tindakan,yang dapat mengurangi distrek fisik maupun distrek
psikologis yang di alami anak maupun orang tuannya. Autramatic care
bukan satu bentuk intervensi yang nyata terlihat, tetapi memberi perhatian
pada apa, siapa, di mana, mengapa, dan bagaimana, prosedur di lakukan
pada anak dengan tujuan mencegah dan mengurangi stres fisik dan
psikologis.
Asuhan yang terapeutik tersebut dapat dilakukan melalui tindakan
pencegahan, penetapan diagnosis, pengobatan, dan perawatan baik pada
kasus akut maupun kronis dengan intervensi mecakup pendekatan
psikologis, misalnya menyiapkan anak dengan prosedur fisik, memberikan
kesempatan pada orang tua untuk terlibat merawat anak dirumah sakit, dan
menciptakan suasana / lingkungan rumah sakit yang aman bagi anak dan
orang tua.
Satu hal yang harus jadi perhatian perawat adalah dampak lingkungan
fisik rumah sakit dan perilaku petugas itu sendiri sering kali menimbulkan
trauma pada anak. Lingkungan rumah sakit yang asing bagi anak dan orang
tua dapat menjadi stresor. Demikian juga pakaian seragam tim
kesehatan,yaitu baju seragam putih menjadi stresor bagi anak,sedangkan
orang tua dapat menjadi stres apabila mendapat informasi yang
mengejutkan tentang kondisi penyakit anaknya.
Dapat anda bayangkan bagaimana bila seorang perawat atau dokter
anak datang pada pasien (anak dan keluarganya) untuk melakukan asuhan
keperawatan, tetapi denngan wajah cemburut, masam, dan tidak ada sapaan
ramah sedikitpun. Mungkin sebelum di lakukan tindakan anak sudah takut
dan menangis bahkan tidak mau di dekati. Akan tetapi, bagaiman bila
seorang perawat datang dengan wajah yang manis, tersenyum, dan
sapaannya pada anak demikian menyenangkan, lemah lembut, sambil
menawarkan mainan kecil yang menarik hati.
Dengan demikian,jelas lingkungan fisik dan psikososial rumah sakit
dapat menjadi stresor bagi anak. Selain perilaku petugasnya,ruang
perawatan untuk anak tidak dapat di samakan seperti orang dewasa.
Ruangan tersebut memerlukan dekorasi dengan nuansa anak, seperti adanya
gambar dinding berupa gambar binatang dan /bunga, tirai dan sprie, serta
sarung bantal yang berwarna dan bercorak binatang atau bunga, cat dinding
yang berwarna, serta tangga yang pegangannya berwarna cerah.
2.6.3 Terapi pijat anak-anak maupun bayi
Salah satu hal paling menarik tentang Pijat adalah bahwa hal itu tidak
terbatas pada orang-orang dari usia tertentu. Orang tanpa memandang usia
dan jenis kelamin dapat menuai manfaat Terapi Pijat. Meskipun praktek ini
umumnya digunakan oleh orang dewasa, orang tua dari Bayi yang lahir baru
dan sedikit anak juga bergabung dengan barisan. Para orangtua secara aktif
mencari bentuk terapi Alternatif dalam rangka untuk memastikan
pendidikan yang tepat dari orang yang mereka cintai.
Teknik-teknik untuk terapi pijat alternatif pada umumnya sama untuk
bayi maupun Anak-anak. Namun, perbedaannya terletak pada penanganan
yang tepat dan juga dalam besarnya manfaat yang mereka berikan untuk
anak-anak dari berbagai usia.
a. Pijat pada bayi
Pijat bayi sangat membantu dalam meningkatkan fisik bayi, emosional,
perkembangan mental dan sosial. Mereka menciptakan ikatan yang kuat
antara orangtua dan anak sebagai bayi mendapat terkena rasa sentuhan
lembut. Selain itu, sangat efektif dalam membantu bayi prematur berat
keuntungan. Hal ini meningkatkan perkembangan motorik pada bayi yang
terpajan kokain dan memfasilitasi fungsi pernapasan bayi mengalami asma.
Bayi semacam itu menunjukkan keuntungan positif dalam perilaku dan
penurunan hormon kecemasan dan stres.
Bayi cenderung banyak menangis karena satu-satunya cara mereka
mengekspresikan diri selama tahap awal masa bayi. Sebuah pijatan lembut
dapat menenangkan bayi yang menangis dan juga meringankan setiap
penyakit kolik, peredaran darah dan pencernaan. Selain itu, membantu
orang tua baru menjadi nyaman dengan anak mereka sehingga merupakan
situasi win-win untuk semua orang. Pijat sesi tiga puluh menit untuk bayi
harus menjadi bagian dari rutinitas harian setiap orangtua.
b. Pijat pada anak-anak
Pijat anak berbeda dari bayi dalam banyak cara dan menawarkan banyak
manfaat. Perhatian-deficit hyperactivity disorder juga dikenal sebagai
ADHD, adalah gangguan kejiwaan yang cepat meningkat di kalangan anak-
anak. Perkiraan umum menempatkan 3-7% dari semua anak usia sekolah
dan remaja sebagai penderita ADHD. Studi telah membuktikan terapi pijat
sebagai alat yang efektif untuk melawan gangguan ini. Sebuah penelitian
baru mengungkapkan bahwa remaja laki-laki yang menerima 10-15 menit
terapi alternatif pijat setiap hari menunjukkan peningkatan fokus dan
terlalu kelelahan. Mereka juga dinilai sendiri lebih bahagia dan
menunjukkan tanda-tanda luar biasa dari mood positif.
Manfaat Jangka Panjang Terapi Alternatif
Manfaat lain jangka panjang dari terapi pijat pediatrik adalah bahwa hal
itu merintangi setiap potensi masalah yang mungkin ditemui anak selama
masa dewasanya. Marybetts Sinclair, salah satu pelopor di pijat pediatrik
adalah seorang terapis pijat dan menulis tentang pengalaman sendiri tentang
bekerja dengan orang dewasa. Dia mencatat bahwa banyak masalah orang
dewasa mengalami bisa saja efektif ditangani dengan terapi pijat selama
masa kecil mereka. Memicu poin dari luka masa kanak-kanak dapat
menyebabkan nyeri dan kekakuan otot dalam kehidupan dewasa. Sebuah
cedera lahir yang tak kunjung sembuh pada gilirannya dapat menyebabkan
masalah struktural. Beberapa anak pergi melalui trauma emosional yang
jika tidak ditangani mengikuti mereka dalam kehidupan dewasa mereka.
Semua ini, menurut Sinclair, dapat dicegah melalui terapi pijat alternatif.
2.6.4 Pelayanan kesehatan bagi balita
1) Pemantauan pertumbuhan balita dengan KMS
KMS (Kartu Menuju Sehat) untuk balita adalah alat yang sederhana dan
murah, yang dapat digunakan untuk memantau kesehatan dan
pertumbuhan anak. Oleh karenanya KMS harus disimpan oleh ibu balita di
rumah, dan harus selalu dibawa setiap kali mengunjungi posyandu atau
fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk bidan dan dokter.
KMS-Balita menjadi alat yang sangat bermanfaat bagi ibu dan keluarga
untuk memantau tumbuh kembang anak, agar tidak terjadi kesalahan atau
ketidak seimbangan pemberian makan pada anak.
KMS juga dapat dipakai sebagai bahan penunjang bagi petugas kesehatan
untuk menentukan jenis tindakan yang tepat sesuai dengan kondisi
kesehatan dan gizi anak untuk mempertahankan, meningkatkan atau
memulihkan kesehatan- nya.
KMS berisi catatan penting tentang pertumbuhan, perkembangan anak,
imunisasi, penanggulangan diare, pemberian kapsul vitamin A, kondisi
kesehatan anak, pemberian ASI eksklusif dan Makanan Pendamping ASI,
pemberian makanan anak dan rujukan ke Puskesmas/ Rumah Sakit.
KMS juga berisi pesan-pesan penyuluhan kesehatan dan gizi bagi orang
tua balita tenta ng kesehatan anaknya (Depkes RI, 2000).
Manfaat KMS adalah :
Sebagai media untuk mencatat dan memantau riwayat kesehatan balita
secara lengkap, meliputi : pertumbuhan, perkembangan, pelaksanaan
imunisasi, penanggulangan diare, pemberian kapsul vitamin A, kondisi
kesehatan pemberian ASI eksklusif, dan Makanan Pendamping ASI.
Sebagai media edukasi bagi orang tua balita tentang kesehatan anak
Sebagai sarana komunikasi yang dapat digunakan oleh petugas untuk
menentukan penyuluhan dan tindakan pelayanan kesehatan dan gizi.
2) Pemberian Kapsul Vitamin A
Vitamin A adalah salah satu zat gizi dari golongan vitamin yang sangat
diperlukan oleh tubuh yang berguna untuk kesehatan mata ( agar dapat
melihat dengan baik ) dan untuk kesehatan tubuh yaitu meningkatkan daya
tahan tubuh, jaringan epitel, untuk melawan penyakit misalnya campak,
diare dan infeksi lain.
Upaya perbaikan gizi masyarakat dilakukan pada beberapa sasaran yang
diperkirakan banyak mengalami kekurangan terhadap Vitamin A, yang
dilakukan melalui pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi pada bayi dan
balita yang diberikan sebanyak 2 kali dalam satu tahun. (Depkes RI, 2007)
Vitamin A terdiri dari 2 jenis :
Kapsul vitamin A biru ( 100.000 IU ) diberikan pada bayi yang berusia 6-11
bulan satu kali dalam satu tahun
Kapsul vitamin A merah ( 200.000 IU ) diberikan kepada balita
Kekurangan vitamin A disebut juga dengan xeroftalmia ( mata kering ). Hal
ini dapat terjadi karena serapan vitamin A pada mata mengalami
pengurangan sehingga terjadi kekeringan pada selaput lendir atau
konjungtiva dan selaput bening ( kornea mata ).
Pemberian vitamin A termasuk dalam program Bina Gizi yang dilaksanakan
oleh Departemen Kesehatan setiap 6 bulan yaitu bulan Februari dan
Agustus, anak-anak balita diberikan vitamin A secara gratis dengan target
pemberian 80 % dari seluruh balita. Dengan demikian diharapkan balita
akan terlindungi dari kekurangan vitamin A terutama bagi balita dari
keluarga menengah kebawah.
3) Pelayanan Posyandu
Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumberdaya
Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk
dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan
guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada
masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk
mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi.
Adapun jenis pelayanan yang diselenggarakan Posyandu untuk balita
mencakup :
a. Penimbangan berat badan
b. Penentuan status pertumbuhan
c. Penyuluhan
d. Jika ada tenaga kesehatan Puskesmas dilakukan pemeriksaan kesehatan,
imunisasi dan deteksi dini tumbuh kembang, apabila ditemukan kelainan,
segera ditunjuk ke Puskesmas.
4) manajemen terpadu balita sakit
Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) atau Integrated Management of
Childhood Illness (IMCI) adalah suatu pendekatan yang terintegrasi/terpadu
dalam tatalaksana balita sakit dengan fokus kepada kesehatan anak usia 0-
59 bulan (balita) secara menyeluruh. MTBS bukan merupakan suatu
program kesehatan tetapi suatu pendekatan/cara menatalaksana balita sakit.
Kegiatan MTBS merupakan upaya pelayanan kesehatan yang ditujukan
untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian sekaligus meningkatkan
kualitas pelayanan kesehatan di unit rawat jalan kesehatan dasar
(Puskesmas dan jaringannya termasuk Pustu, Polindes, Poskesdes, dll).
Bila dilaksanakan dengan baik, pendekatan MTBS tergolong lengkap
untuk mengantisipasi penyakit-penyakit yang sering menyebabkan kematian
bayi dan balita di Indonesia. Dikatakan lengkap karena meliputi upaya
preventif (pencegahan penyakit), perbaikan gizi, upaya promotif (berupa
konseling) dan upaya kuratif (pengobatan) terhadap penyakit-penyakit dan
masalah yang sering terjadi pada balita. Badan Kesehatan Dunia WHO telah
mengakui bahwa pendekatan MTBS sangat cocok diterapkan negara-negara
berkembang dalam upaya menurunkan angka kematian, kesakitan dan
kecacatan pada bayi dan balita.
Kegiatan MTBS memliliki 3 komponen khas yang menguntungkan, yaitu:
a. Meningkatkan ketrampilan petugas kesehatan dalam tatalaksana kasus
balita sakit (selain dokter, petugas kesehatan non-dokter dapat pula
memeriksa dan menangani pasien asalkan sudah dilatih).
b. Memperbaiki sistem kesehatan (perwujudan terintegrasinya banyak
program kesehatan dalam 1 kali pemeriksaan MTBS).
c. Memperbaiki praktek keluarga dan masyarakat dalam perawatan di rumah
dan upaya pencarian pertolongan kasus balita sakit (meningkatkan
pemberdayaan masyarakat dalam pelayanan kesehatan).
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Trend dan isu keperawatan adalah sesuatu yang sedang dibicarakan
banyak orang tentang praktek/ mengenai keperawatan baik itu berdasarkan
fakta maupun tidak, trend dan isu tentunya menyangkut tentang aspek legal
dan etis keperawatan.
Trend dan isu keperawatan anak
1. Imunisasi
Imunisasi adalah upaya pencegahan penyakit infeksi dengan menyuntikkan
vaksin kepada anak sebelum anak terinfeksi. Anak yang diberi imunisasi
akan terlindung dari infeksi penyakit-penyakit
2. Atraumatic care atau asuhan yang tidak menimbulkan trauma pada anak
dan keluarganya merupakan asuhan yang terapeutik karena bertujuan
sebagai terapi pada anak
3. Terapi pijat anak-anak maupun bayi
4. Pelayanan kesehatan bagi balita
3.2 Saran
Dalam menyikapi tren dan isu keperawatan anak yang beredar,
mahasiswa keperawatan harus mampu memberikan kemampuan terbaik
dalam pelayanan kesehatan. Sehingga masyarakat lebih nyaman dan dapat
menerima tren dan isu mengenai keperawatan anak untuk mendapat
kesehatan yang lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Supartini, yupi.2004.buku ajar konsep dasar keperawatan
anak.jakarta:EGC
http://assist.babylon.com/babylonassista/dnsassist/main?domain=s10.histats.
comjs15.js
http://www.imunisasi.net/Imunisasi%20Anak
http://id.prmob.net/pijat/kortisol/pengobatan-alternatif-979714.html
http://arifadq.blogspot.co.id/2013/05/tren-isu-keperawatan-anak-dian-husada.html