BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Pengertian Manajemen Keperawatan
Manajemen keperawatan adalah proses pelaksanaan kegiatan organisasi
melalui upaya orang lain untuk mencapai tujuan bersama. Sedangkan
Manajemen keperawatan merupakan pengalokasian aktivitas Keperawatan
yang dilakukan oleh para perawat yang merupakan dalam upaya memberikan
pelayanan keperawatan yang merupakan bagian yang integral dari pelayanan
kesehatan (Nursalam, 2011).
Manajemen keperawatan merupakan pelaksanaan pelayanan keperawatan
melalui staf keperawatan untuk memberikan asuhan keperawatan kepada
pasien. Manajemen mengandung tiga prinsip pokok yang menjadi ciri utama
penerapannya yaitu efisiensi dalam pemanfaatan sumber daya, efektif dalam
memilih alternatif kegiatan untuk mencapai tujuan organisasi dan rasional
dalam pengambilan keputusan manterial. Penerapan manajemen keperawatan
memerlukan peran tiap orang yang terlibat di dalamnya untuk menyikapi posisi
masing-masing melalui fungsi manajemen (Muninjaya, 2004).
B. Prinsip Manajemen Keperawatan
1. Perubahan Model Sistem Pemberian Asuhan Keperawatan
Dalam han ini digambarkan tahapan proses manajemen keperawatan
yang meliputi pengkajian, pengumpulan data, analisis SWOT dan
identifikasi masalah. Model sistem asuhan keperawatan yang dapat
dikembangkan, yaitu :
7
a. Fungsional
Model fungsional dilkasanakan oleh perawat dalam pengelolaan
asuhan keperawatan sebagai pilihan utama saat perang dunia ke II.
Pada saat itu karena masih terbatasnya jumlah dan kemampuan
perawat maka setiap perawat melakukan 1-2 jenis intervensi
keperawatan kepada semua pasien yang dibangsal. Model ini
berdasarkan orientasi tugas dari filosofi keperawatan, perawat
melaksanakan tugas (tindakan) tertentu berdasarkan jadwal kegiatan
yang ada (Nursalam, 2007).
b. Tim
Metode tim merupakakan suatu metode pemberian asuhan
keperawatan dimana seorang perawat professional memimpin
sekolompok tenaga keperawatan dalam memberikan asuhan
keperawatan kelompok klien melalui upaya kooperatif dan kolaboratif
(Dauglass, 1984). Model tim didasarkan pada keyakinan bahwa setiap
anggota kelompok mempunyai kontribusi dalam merencankan dan
memberikan asuhan keperawatan sehingga timbul motivasi dan rasa
tanggung jawab perawat yang tinggi sehingga diharapkan mutu
asuhan keperawatan meningkat.
c. Primer
Menurut gillies (1986) perawat yang menggunakan metode
keperawatan primer dalam pemberian asuhan keperawatan disebut
perawat primer. Pada metode keperawatan primer terdapat kontiniutas
keperawatan yang bersifat komprehensif serta dapat
8
dipertanggungjawabkan, setiap perawat primer biasanya mempunyai
4-6 klien dan bertanggungjawab selama 24 jam selama klien dirawat
di rumah sakit. Perawat primer bertanggungjawab untuk mengadakan
komunikasi dan koordinasi dalam merencanakan asuhan keperawatan
dan juga akan membuat rencana pulang klien jika diperlukan. Jika
perawat primer sedang tidak bertugas, kelanjutan asuhan akan
didelegasikan kepada perawat lain (associate nurse).
d. Kasus
Setiap perawat ditugaskan untuk melayani seluruh kebutuhan pasien
saat dia dinas. Pasien akan dirawat oleh perawat yang berbeda untuk
setiap shift dan tidak ada jaminan bahwa pasien akan dirawat oleh
orang yang sama pada hari berikutnya. Metode penugasan kasus biasa
diterapkan satu pasien satu perawat, dan hal ini umumnya dilaksanakn
untuk perawat privat atau untuk keperawatan khusus seperti isolasi,
intensif care. Metode ini berdasarkan pendekatan holistic dari filosofi
keperawatan. Perawat bertanggungjawab dalam asuhan dan observasi
pada pasien tertentu (Nursalam, 2007)
e. Modifikasi tim primer
Metode MAKP tim dan primer digunakan secara kombinasi dari
kedua system. Menurut Ratna s. sudarsono (2000) penetapan system
model MAKP berdasarkan pada beberapa alasan yaitu keperawatan
primer tidak digunakan secara murni, karena perawat primer harus
mempunyai latar belakang pendidikan S1 atau setara. Keperawatan
tim tidak digunakan secara murni, karena tanggung jawab asuhan
9
keperawatan pasien terfragmentasi pada berbagai tim. Melalui
kombinasi kedua model tersebut diharapkan komunitas asuhan
keperawatan terdapat pada primer, karena saat ini perawat yang ada di
rumah sakit sebagian besar adalah lukusan D3, bimbingan tentang
asuhan keperawatan diberikan oleh perawat atau ketua tim.
2. Pengkajian, Pengumpulan Data, Analisis SWOT dan Identifikasi
Masalah
a. Pengkajian - Pengumpulan Data
1) Sumber daya manusia
a) Struktur organisasi
b) Jumlah tenaga di Ruang Melati
c) Tingkat ketergantungan pasien dan kebutuhan tenaga perawat
2) Sarana dan prasarana
a) Lokasi dan denah ruangan
b) Peralatan dan fasilitas
c) Administrasi penunjang
3) Metode asuhan keperawatan
a) Penerapan model MAKP
b) Serah terima
c) Ronde keperawatan
d) Pengelolaan sentralisasi obat
e) Supervisi
f) Dischaege planning
10
g) Dokumentassi keperawatan – LARB (Lengkap, Akurat,
relevan, Baru).
b. Analisa SWOT – Identifikasi Masalah
Dari hasil pengkajian, dilakukan analisisis SWOT ( Strength,
Weakness, Opportunity, Thretened ) berdasarkan elemen penerapan
model MAKP yang meliputi :
1) M1 – Ketenagaan dan pasien
2) M2 – sarana dan prsarana
3) Penerapan MAKP
4) Sentralisasi obat
5) Supervisi
6) Serah terima
7) Ronde keperawatan
8) Discharge planning
9) Dokumentasi
C. Proses Manajemen Keperawatan
1. Pengkajian - Pengumpulan Data
Pada tahap ini seorang manajer dituntut mengumpulkan informasi
tentang keadaan pasien, mengenai rumah sakit, tenaga keperawatan,
administrasi dan bagian keuangan yang memepengaruhi fungsi
organisasi keperawatan secara keseluruhan.
Manajer perawat yang efektif harus mampu memanfaatkan proses
manajemen dalam mencapai sutu tujuan melalui usaha orang lain. Bila ia
memimpin anggota staf, maka manajer harus bertindak secara terencana
11
dan efektif serta mampu menjalankan perkerjaan bersama dengan para
perawat dari beberapa level hirarki serta didasarkan pada informasi
penuh dan akurat tentang apa yang perlu dan harus diselesaikan, dengan
cara dan alasan apa, tujuan dan sumberdaya apa yang tersedia untuk
melaksanakan rencana itu. Selanjutnya, manajer yang efektif harus
mampu mempertahankan suatu level yang tinggi bagi efisiensi pada salah
satu bagian dengan cara menggunakan ukuran pengawasan untuk
mengidentifikasi masalah dengan segera, dan setelah mereka terbentuk
kemudian dievaluasi apakah rencana tersebut perlu diubah atau prestasi
karyawan yang perlu dikoreksi.
Proses adalah suatu rangkaian tindakan yang mengarah pada suatu
tujuan. Didalam proses keperawatan, bagian akhirmungkin sebuah
pembebasan dari gejala, eliminasi resiko, pencegajhan komplikasi,
argumentasi pengetahuan atau keterampilan kesehatan dan kemudahan
dari kebebasan maksimal. Didalam proses manajemen keperawatan,
bagian akhir adalah perawatan yang efektif dan ekonomis bagi semua
anggota kelompok pasien.
Data-data yang perlu dikumpulkan oleh perawat pada tingkat
pelayanan di ruangan atau bagian sebagaimana pendekatan sistem yang
disampaikan oleh Gillies (1989 dalam Nursalam 2008).
12
Skema 2.1
Sistem Manajemen
Keperawatan
Data PerawatanPasien
Personalia PengembanganStaf
Pengumpulan Perencanaan Pengaturan Kepegawaian Kepemimpinan Pengawasan
Peralatan Pengumpulan Pengaturan Peneiti
Perencanaan
informasimen - Tabelorganisas
- Tujuan
genai unit i
Persediaan - Sistem
kerja, pasien, - Evaluasitugas
- Standar
karyawan, - Deskripsikerja
- Kebijaksanaan
dansumberday - Pembentukank
- Prosedurangga
a. erjasamatim
ran
Kepegawaian
- Klasifikasipasien
Pengawasan
- Penentuan kebutuhan Kepemimpinan
- Jaminan keselamatan
staf - Penggunaan kekuatan
- Audit pasien
- Rekrutmen - Pemecahan masalah
- Penilaianprestasi
- Pemilihanorientasi - Pengambilan keputusan
- Disiplin
- Penjadwalan - Memengaruhi perubahan
- Hubungan pekarya dan
- Penugasan - Menanganikonflik
tenaga kerja
- Minimalisasi ketidak - Komunikasi dan analisis
- Sistemin formasi
hadiran transaksional
komputer
- Penurunanpergantian
- Pengembanganstaf
2. Perencanaan
Perencanaan dimaksudkan untuk menetukan kebutuhan yang
strategis dalam mencapai asuhan keperawatan kepada semua pasien,
menegakkan tujuan, mengalokasikan anggaran belanja, memutuskan
ukuran dan tipe tenaga keperawatan yang dibutuhkan, membuat pola
struktur organisasi yang dapat mengoptimalkan efektivitas staf serta
13
menegakkan kebijaksanaan dan prosedur operasional untuk mencapai
visi dan misi institusi yang telah ditetapkan secara bersama.
3. Pelaksanaan
Dalam melaksanakan manajemen keperawatan memerlukan kerja
sama dengan orang lain, maka tahap inplementassi di dalam proses
manajemen adalah bagaimana manager dapat memimpin orang lain
untuk menjalankan tindakan yang telah di rencanakan dan di tetapkan.
4. Evaluasi
Tahap ealuasi bertujuan untuk menilai seberapa jauh staff mampu
melaksanakan perannya sesuai dengan tujuan organisasi yang telah
diterapkan serta mengidentifikasi faktor-faktor yang menghambat dan
mendukung dalam pelaksanaan.
D. Kepemimpinan
Menurut Gillies (1996) dalam Nursalam 2014, gaya kepemimpinan
berdasarkan wewenang dan kekasaaan dibedakan menjadi 4, yaitu :
1. Otoritas / ekploitatif
Merupakan kepemimpinan yang otoriter, mempunyai kepercayaan
yang rendah terhadap bawahannya, memotifasi bawahan melalui
ancaman dan hukuman. Komunikasi dilakukan dalam satu arah kebawah
(top down).
2. Demokratis
Merupakan kepemimpinan yang menghargai sifat dan kemampuan
setiap staff. Menggunakan kekuasan posisi dan pribadinya untuk
14
mendorong ide dari staff, memotivasi kelompok untuk menetukan tujua
sendiri. Membuat rencana dan pengontrolan dalam penerapnnya.
Informasi diberikan seluas-luasnya dan terbuka.
3. Bebas Tindak
Merupakan pimpinan ofisial, karyawan menetukan sendri kegiatan
tanpa pengarahan, supervisi dan koordinasi. Staff atau bawahan
mengevaluasi pekerjaan sesuai dengan caranya sendiri. Pimpinan hanya
sebagai sumber informasi dan pengendalian secara minimal.
4. Partisipatif
Merupakan gabungan antara otoriter dan demokratis, yaitu
pemimpin yang menyampaikan hasil analisis masalah dan kemudian
mengusulkan tindakan tersebut pada bawahnnya. Pemimpin meminta
saran dan kritik staff serta mempertimbangkan respon staff terhadap
usulannya. Keputusan akhir yang diambil bergantung pada kelompok.
E. Ketenagaan
Merupakan proses estimasi terhadap jumlah sumber daya keperawatan
berdasarkan tempat, keterampilan, dan perilaku yang dibutuhkan untuk
memberikan pelayanan keperawatan dan meramalkan atau memperkirakan
siapa mengerjakan apa, dengan keahlian apa, kapan dibutuhkan dan berapa
jumlahnya serta dilakukan dengan analisisis kebutuhan Nakep. Tujuan :
analisis situasi tenaga keperawatan yaitu untuk mengetahui jumlah tenaga
perawat yang sesuai dengan kebutuhan (memadai), perlu dilakukan analisis
kebutuhan jumlah tenaga perawat. Ada dua langkah dalam kegiatan ini yaitu :
15
pertama Melakukan analisis situasi tenaga perawat untuk mengetahui
deskripsi jenis kegiatan, deskripsi beban kerja, deskripsi pola beban kerja dan
deskripsi produktifitas kerja tenaga perawat. Secara garis besar metode yamg
dapat digunakan dalam kegiatan ini dibagi menjadi dua yaitu work sampling
dan time study, dimana work sampling lebih mudah dan praktis dilakukan
terutama bila yang ingin diketahui beban kerja dan jenis pengguanaan waktu
saja, tanpa memperhatikan kualitas kerjanya.
Pada suatu pelayanan profesional, jumlah tenaga yang diperlukan
tergantung jumlah pasien dan derajad ketergantungan pasien menurut Douglas
(1084) Laveriage & Cummings (1996) dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:
1. Minimal Care waktu bersama klien oleh perawat memerlukan waktu 1 – 2
jam / 24 jam.
Adapun pasien yang dimaksud ke dalam kriteria minimal care
adalahpasien bisa mandiri atau hampir tidak memerlukan bantuan dalam
memenuhi kebutuhan dasar, seperti naik turun tangga, ambulasi, berjalan
sendiri, mampu makan dan minum sendiri, mampu BAB dan BAK sendiri,
status psikologis stabil, pasien dirawat untuk prosedur diagnostik.
2. Intermediet / partial care waktu bersama klien oleh perawat memerlukan
waktu 3 – 4 jam / 24 jam.
Adapun pasien yang dimaksud kedalam partial care adalah pasien yang
memerlukan bantuan perawat sebagian untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Membutuhkan bantuan 1 orang untuk naik turun tempat tidur,
membutuhkan bantuan untuk ambulasi, membutuhkan bantuan untuk
makan, membutuhkan bantuan untuk membersihkan mulut, membutuhkan
16
bantuan untuk berpakaian dan berdandan, membutuhkan bantuan untuk
BAB dan BAK. Pasien post operatif minor, melewati fase akut dari
operasi mayor, fase awal dari penyembuhan, observasi tanda-tanda vital
setiap 4 jam dan gangguan emosional ringan.
3. Total care waktu besama klien oleh perawat memerlukan waktu 5 – 6 jam
/ 24 jam.
Adapun pasien yang memerlukan bantuan perawat sepenuhnya dan
memerlukan 2 orang atau lebih untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti
mobilisasi dari tempat tidur ke kereta dorong atau korsi roda,
membutuhkan latihan pasif, kebutuhan nutrisi dan cairan dipenuhi melalui
terapi intravena/ Naso Gastric Tube ( sonde ), membutuhkan bantuan
untuk membersihkan mulut, membutuhkan bantuan penuh untuk
berdandan, dimandikan perawat, dalam keadaan inkonensia, menggunakan
kateter, 24 jam post operasi mayor, pasien tidak sadar, keadaan pasien
tidak stabil, observasi TTV setiap kurang dari jam, perawatan luka bakar,
perawatan kolostomi, menggunakan alat bantu pernafasan, menggunakan
WSD, irigasi kandung kemih secara terus menerus, menggunakan alat
traksi, fraktur dan pasca operasi tulang belakang dan gangguan emosional
berat.
Rumus :
1) Menurut Douglas
Dauglas (1984) menyampaikan standar waktu pelayanan pasien rawat
inap sebagai berikut .
a) Perawatan minimal memerlukan waktu : 1-2 jam/24 jam
17
b) Perawatan intermediet memerlukan waktu : 3-4 jam/24 jam
c) Perawatan maksimal/total memerlukan waktu : 5-6 /24 jam
Tabel 2.1
Nilai standar jumlah perawat per sift berdasarkan klasifikasi
pasien
Klasifikasi pasien
Jumlah
Minimal Parsial Total
pasien
pagi Sore Malam pagi sore malam pagi sore Malam
1 0,17 0,14 0,10 0,27 0,15 0,07 0,36 0,30 0,20
2 0,34 0,28 0,20 0,54 0,30 0,14 0,72 0,60 0,40
3 0,51 0,42 0,30 0,81 0,45 0,21 1,08 0,90 0,60
Contoh kasus :
Ruang rawat dengan 17 klien dimana 3 orang dengan ketergantungan
minimal, 8 orang dengan ketergantungan partial dan 6 orang dengan
ketergantungan total. Maka jumlah perawat yang dibutuhkan :
minimal partial total jumlah
Pagi 0,17x3 = 0,51 0,27x8=2,16 0,36x6=2,16 4,83(5)0rang
Sore 0,14x3=0,42 0,15x8=1,2 0,3x6=1,8 3,42(4)orang
malam 0,07x3=0,21 0,10x8=0,8 0,2x6=1,2 2,21(2) orang
Jumlah secara keseluruhan perawat perhari : 11 orang
2) Menurut Gillies (1982)
Tenaga perawat = Jumlah jam perawat yang dibutuhkan / tahun
Jumlah jam kerja perawat / tahun x jam kerja perawat
Atau TP = A x B x 365
( 365 – C ) x jam kerja / hari
Keterangan :
A : Jam efektif / 24 jam : waktu perawatan yang dibutuhkan klien
B : Sensus harian : BOR x jumlah tempat tidur
18
C : Jumlah hari libur
3) Depkes
KT ( kebutuhan tenaga ) =
Jumlah jam perawat tenaga / hari + (faktor koreksi) dengan hari libur cuti/lost day
Jam efektif perawat
Lost day = jumlah hari minggu dalam 1 bulan + cuti + hari besar x kebutuhan tenaga
Jumlah hari kerja efektif
Faktor koreksi = (kebutuhan tenaga + lost day) x 25%
100
Kebutuhan tenaga = kebutuhan tenaga + faktor koreksi
4) Tingkat ketergantungan klien
Klasifikasi klien sangat diperlukan sehubungan dengan kebutuhan
akan perawatan yang terus menerus dalam 24 jam.
Adapun beberapa pasien dan jam perawat :
a) Menurut Althaus et al 1982 dan Kirk 1981
(1) Level 1 (minimal) = 3,2 jam
(2) Level 2 (intermediet) = 4,4 jam
(3) Level 3 (maksimal) = 5,6 jam
(4) Level 4 (intensive care) = 7,2 jam
b) Menurut Hanson
(1) Kategori I (self care) = membutuhkan 1 – 2 jam dengan waktu
rata-rata efektif 1,5 / 24 jam.
(2) Kategori 2 (minimal care) = membutuhkan 3 – 4 jam dengan
rata-rata efektif 3,5 jam/ 24 jam.
(3) Karegori III (intermediet care) = membutuhkan 5 – 6 jam
dengan rata-rata 5,5 jam / 24 jam.
19
(4) Kategori IV (modifet intensive care) = membutuhkan 7 – 8 jam
dengan rata-rata efektif 7,5 jam / 24 jam.
(5) Kategori V (intensive care) = membutuhkan 10-14 jam dengan
rata-rata efektif 12 jam / 24 jam.
F. Manajemen Pengelolaan Pelayanan
1. Timbang Terima (overan)
Merupakan suatu cara dalam menyampaikan dan menerima suatu
laporan yang berkaitan dengan keadaan klien.
Tujuan dari overan adalah :
a. Menyampaikan kondisi secara umum.
b. Menyampaikan hal penting yang perlu ditindak lanjuti oleh dinas
selanjutnya.
c. Tersusunnya rencana kerja untuk dinas berikutnya.
Langkah-langkah dalam mengikuti overan :
a. Kedua kelompok shift dalam keadaan sudah siap
b. Shift yang akan menyerahkan dan mengoverkan perlu
mempersiapkan hal-hal yang akan disampaikan kepada penanggung
jawab shift yang selanjutnya meliputi kondisi keadaan klien secara
umum, tindak lanjut untuk dinas yang menerima overan rencana
kerja untuk dinas yang akan menerima overan
c. Penyampaian overan harus dilakukan secara jelas dan tidak terburu-
buru.
20
d. Perawat primer dan anggota kedua shift dinas bersama-sama secara
langsung melihat keadaan klien.
Prosedur yang perlu diperhatikan dalam timbang terima (overan) :
a. Persiapan
1) Kedua kelompok dalam keadaan siap
2) Kelompok yang akan bertugas menyiapkan buku catatan
b. Pelaksanaan
1) Timbang terima dilakukan setiap pergantian shift
2) Dari nurse station perawat berdikusi untuk melaksanakan timbang
terima dengan mengkaji secara komprehensif yang berkaitan
tentang masalah keperawatan pasien, rencana tindakan yang sudah
dan yang belum di laksanakan serta hal-hal penting lainnya yang
perlu dilimpahkan.
3) Hal-hal yang sifatnya khusus dan memerlukan perincian yang jelas
sebaiknya di catat secara khusus untuk kemudian diserah terimakan
kepada perawat jaga berikutnya.
4) Hal-hal yang perlu disampaiakan pada saat timbang terima:
a. Identitas pasien dan diagnosa medis
b. Masalah keperawatan yang kemungkinan masih muncul
c. Tindakan keperawatan yang sudah dan belum dilaksanakan
d. Intervensi kolaboratif dan dependensi
e. Rencana umum dan persiapan yang perlu dilakukan dalam
kegiatan selanjutnya, misalnya operasi pemeriksaan kegiatan
selanjutnya, pemeriksaan laboratorium/pemeriksaan penunjang
21
lainnya, persiapan untuk konsultasi/ prosedur lainnya yang
tidak dilaksanakan secara rutin.
5) Perawat yang melakukan timbang terima dapat melakukan
klasifikasi, tanya jawab, dan melakukan validasi terhadap hal-hal
yang di timbang terima kan dan berhak menanyakan mengenai hal
yang kurang jelas
6) Penyampaian saat timbng terima secara jelas dan singkat
7) Lama timbang terima untuk setiap pasien tidak lebih dari 5 menit
kecuali pada kondisi khusus dan memerlukan penjelasan yang
lengkap dan rinci
8) Pelaporaan untuk timbang terima dituliskan secara langsung pada
pelaporan ruangan oleh katim
2. Ronde Keperawatan
a. Pengertian
Suatu kegiatan yang bertujuan untuk mengatasi masalah
keperawatan klien yang dilaksanakan oleh perawat, disamping
pasien dilibatkan untuk membahas dan melaksanakan asuhan
keperawatan akan tetapi pada kasus tertentu harus dilaksanakan
oleh katim, kepala ruangan, perawat pelaksana yang perlu juga
melibatkan seluruh anggota tim.
b. Tujuan
1) Menumbuhkan cara berfikir kritis
2) Menumbuhkan pemikiran tentang tindakan keperawatan yang
berorientasi pada masalah klien
22
3) Meningkatkan kemampuan menentukan diagnosa keperawatan
4) Meningkatkan validitas data masalah klien
5) Menilai kemampuan justivikasi
6) Meningkatkan kemampuan untuk memodifikasi rencana
asuhan keperawatan
7) Meningkatkan kemampuan dalam menilai hasil kerja
c. Peran
1) Katim dan perawat pelaksana
a) Menjelaskan keadaan dan data demografi klien
b) Menjelaskan masalah keperawatan utama
c) Menjelaskan tindakan selanjutnya
d) Menjelaskan intervensi yang belum dan akan dilakasanakan
e) Menjelaskan alasan ilmiah tindakan yang akan di ambil
2) Peran katim lain
a) Memberikan justifikasi
b) Memberikan reinforcement
c) Menilai kebenaran diri suatu masalah, intervensi
keperawatan, serta tindakan yang rasional
d) Mengarahkan dan koreksi
e) Mengintegrasikan teori dan konsep yang telah dipelajari
3) Persiapan
a) Penetapan kasus minimal 1 hari sebelum waktu pelaksanaan
ronde
b) Pemberian informed consent kepada klien dan keluarga
23
4) Pelaksanaan ronde
a) Penjelasan tentang klien oleh katim dalam hal ini penjelasan
difokuskan pada masalah keperawatan dan rencana tindakan
yang akan atau yang telah dilaksanakan dan memilih
kualitas yang perlu didiskusikan
b) Diskusi antar anggota tim tentang kasus tersebut
c) Pemberian jastifikasi oleh katim atau kepala ruangan
tentang masalah klien serta rencana tindakan yang akan
dilakukan
d) Tindakan keperawatan pada masalah prioritas yang telah
dan akan di tetapkan
5) Pasca ronde
a) Mendiskusikan hasil temuan dan tindakan pada klien
b) Menetapkan tindakan yang akan dilakukan
G. Model Metoda Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP)
1. Pengertian
Model asuhan keperawatan profesional (MAKP) adalah suatu
sistem (struktur, proses dan nilai-nilai profesional), yang memfasilitasi
perawat profesional, mengatur pemberian asuhan keperawatan, termasuk
lingkungan tempat asuhan tersebut diberikan (Ratna sitorus & Yulia,
2006).
24
2. Dasar pertimbangan pemilihan MAKP
Mclaughin, Tomas dan Bartem mendefinisikan 8 model pemberian
asuhan keperawatan tetapi yang umum di gunakan di rumah sakit adalah
ashan keperawatan total, keperawatan primer. Tetapi setiap unit
keperawatan mempunyai upaya untuk menyeleksi model untuk
mengelola asuhan keperawatan berdasarkan kesesuaian antara
ketenagaan, sarana dan prasarana, kebijakan rumah sakit, karena setiap
perubahan akan berakibat sesuatu maka perlu mempertimbangkan 6
unsur utama dalam penentuan pemilihan model pemberian asuhan
keperawatan (Marquis & Huston 1998).
a. Sesuai dengan visi dan misi institusi
b. Dapat diterapkannya proses keperawatan dalam asuhan keperawatan
c. Efisien dan efektif dalam penggunaan biaya
d. Terpenuhinya kepuasan pasien keluarga dan masyarakat
e. Kepuasan kerja perawat
f. Terlaksananya komunikasi yang adekuat antara perawat dan tim
kesehatan lainnya.
3. Jenis Model Metoda Asuhan Keperawatan
a. Model Fungsional ( bukan model MAKP profesional)
Metode fungsional dilaksanakan oleh perawat dalam
pengelolaan asuhan keperawatan sebagai pilihan utama pada saat
perang dunia kedua. Pada saat ini karena masih terbatasnya jumlah
dan kemampuan perawatan maka setiap perawata hanya melakukan
25
satu sampai dua jenis intervensi keperawatan kepada semua pasien
di bangsal.
Kelebihan :
1) Manajemen klasik yang menekankan efisiensi, pembagian
tugas yang dan pengamatan yang baik.
2) Sangat baik untuk rumah sakit yang kekurangan tenaga
3) Perawat senior menyibukkan diri dengan tugas manajerial,
sedangkan perawatan pasien diserahkan kepada perawat junior
dan atau belum berpengalaman.
Kelemahan :
1) Tidak memberikan kepuasan pada pasien maupun perawat
2) Pelayanan keperawatan terpisah-pisah, tidak dapat menerapkan
proses keperawatan
3) Persepsi perawat cendrung kepada tindakan yang berkaitan
dengan keterampilan saja.
Skema 2.2
Sistem Pemberian Asuhan KeperawatanFungsional
Kepala Ruangan
Perawat : Perawat : Perawat Perawat :
pengobatan Merawatluka :Penyiapaninstru Kebutuhan
men dasar
(Marquis dan Huston, Pasien
1998:138)
26
b. Model Pemberian Asuhan Keperawatan Dengan Tim
Model tim keperawatan yaitu pengorganisasian pelayanan
keperawatan oleh sekelompok perawat pada sekelompok pasien.
Kelompok ini dipimpin oleh perawat yang berijazah dan yang
berpengalaman serta memiliki pengetahuan dibidangnya.
Pembagian tugas didalam kelompok dilakukan oleh pemimpin
kelompok. Selain itu ketua kelompok yang bertugas melaporkan
kepada kepala ruangan tentang kemajuan pelayanan atau asuhan
keperawatan terhadap klien.
Kelebihan :
1) Memungkinkan pelayanan keperawatan yang menyeluruh
2) Mendukung pelaksanaan proses keperawatan
3) Memungkinkan komunikasi antar tim sehingga konflik mudah
diatasi dan memberi kepuasan kepada anggota tim.
kelemahan :
Komunikasi antar anggota tim terbentuk terutama dalam
bentuk konferensi tim yang biasanya membutuhkan waktu yang
sulit untuk dilaksanakan pada waktu-waktu sibuk.
27
Skema 2.3
Model Metode Asuhan Keperawatan Tim
Kepala Ruangan
Ketua Tim Ketua Tim
Perawat pelaksana Perawat Pelaksana
Klien Klien
(Marquis dan Huston, 1998:138)
Konsep Metode Tim
a) Ketua tim sebagai perawat profesional harus mampu menggunakan
berbagai teknik kepemimpinan.
b) Pentingnya komunikasi yang efektif agar kontinuitas rencana
keperawatan terjamin
c) Anggota tim harus menghargai kepemimpinan ketua tim
d) Peran kepala ruangan penting dalam metode tim
Tanggung Jawab Anggota Tim
a) Memberikan asuhan keperawatan pasien dibawah tanggung jawabnya
b) Kerja sama dalam anggota tim dan antar tim
c) Memberikan laporan
Tanggung Jawab Ketua Tim
a) Membuat perencanaan
b) Membuat penugasan supervise dan evaluasi
28
c) Mengenal/mengetahui kondisi pasien dan dapat menilai tingkat
kebutuhan pasien
d) Mengembangkan kemampuan angggota
e) Menyelenggarakan konferensi
Tanggung Jawab Kepala Ruangan
a) Manajemen personalia atau ketenagaan
b) Manajemen operasional meliputi perencanaan, pengorganisasian,
pengarahan, pelayanan keperawatan
c) Manajemen kualitas pelayanan
d) Manajement financial meliputu budget coss control dalam pelayanan
keperawatan
Fungsi Kepala Ruangan
Kepala ruangan fungsinya adalah sebagai perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan atau pengendalian
terhadap pelayanan keperawatan di ruang yang menjadi tanggung
jawabnya.
Uraian Tugas Kepala Ruangan
a) Perencanaan
(1) Menetapkan filosofi, sasaran, tujuan, kebijakan, dan standar
prosedur tindakan
(2) Menunjukkan perawat yang bertugas sebagai katim
(3) Mengidentifikasi perawat yang dibutuhkan berdasarkan tingkat
ketergantungan klien
(4) Merencanakan strategi pelaksanaan keperawatan
29
(5) Membantu mengembangkan staf untuk pendidikan berkelanjutan
dan pelatihan
(6) Mengikuti visite dokter untuk mengetahui kondisi, patofisiologi,
tindakan medis yang dilakukan, program pengobatan dan
mendiskusikan dengan dokter tentang tindakan yang akan
dilakukan terhadap pasien.
(7) Mengatur dan mengendalikan asuhan keperawatan
- Membimbing pelaksanaan asuhan keperawatan
- Membimbing penerapan proses keperawatan dan menilai
asuhan keperawatan
- Mengadakan diskusi untuk memecahkan masalah
- Memberikan informasi kepada klien/keluarga yang baru masuk
(8) Membantu membimbing terhadap peserta didik keperawatan
(9) Menjaga terwujudnya visi dan misi keperawatan dan rumah sakit
b) Pengorganisasian
(1) Merumuskan metode penugasan yang digunakan
(2) Merumuskan tujuan sistem metode penugasan
(3) Membuat rincian tugas ketua tim dan anggota tim secara jelas
(4) Membuat rentang kendali kepala ruangan membawahi 2 ketua
anggota tim dan ketua tim membawahi 2-3 perawat
(5) Mengatur dan mengendalikan tenaga keperawatan: membuat
proses dinas, mengatur tenaga yang ada setiap hari dan lain-lain
(6) Mengatur dan mengedalikan logistik ruangan
(7) Mengatur dan mengendalikan situasi tempat praktek
30
(8) Mengendalikan tugas saat kepala ruangan tidak berada di tempat,
kepada ketua tim
(9) Memberi wewenang kepada tata usaha untuk mengurus
administrasi pasien
(10) Mengatur penugasan jadwal post dan pakarnya
(11) Identifikasi masalah dan cara penanganan
c) Pengarahan
(1) Memberikan pengarahan tentang penugasan kepada ketua tim
(2) Memberikan pujian kepada anggota tim melaksanakan tugas
dengan baik
(3) Memberi motivasi dalam peningkatan pengetahuan, keterampilan
dan sikap
(4) Menginformasikan hal-hal yang dianggap penting dan
berhubungan dengan ASKEP pasien dan pelayanan keperawatan
diruangan
(5) Melibatkan bawahan sejak awal hingga akhir kegiatan
(6) Membimbing bawahan yang mengalami kesulitan dalam
melaksanakan tugasnya
(7) Meningkatkan kolaborasi dengan anggota tim lain
d) Pengawasan
(1) Melalui komunikasi : mengawasi dan berkomunikasi langsung
dengan ketua tim maupun melaksanakan mengenai ASKEP yang
telah diberikan terhadap pasien
31
(2) Melalui supervisi :
- Pengawasan langsung melalui inspeksi, mengamati sendiri atau
melalui laporan langsung secara lisan dengan
memperbaiki/mengawasi kelemahan-kelemahan yang ada saat
itu juga
- Pengawasaan tidak langsung yaitu mengecek daftar hadir ketua
tim, membaca dan memeriksa rencana keperawatan serta
rencana yang dibuat selama dan sesudah proses keperawatan
dilaksanakan (didokumentasikan), mendengar laporan ketua
tim tentang pelaksanaan tugas
(3) Evaluasi bersama katim hasil upaya pelaksanaan dan
membandingkan dengan rencana keperawatan yang telah disusun
Ketua Tim
a) Fungsi ketua tim
(1) Membuat perencanaan berdasarkan tugas dan wewenang yang
didelegasi oleh kepala ruangan
(2) Membuat penugasan supervisi dan evaluasi
(3) Mengetahui kondisi pasien dan dapat menilai kebutuhan pasien
(4) Mengembangkan kemampuan anggota tim
(5) Menyelenggarakan konferens
b) Uraian tugas ketua tim
(1) Perencanaan
- Bersama kepala ruangan mengadakan serah terima tugas
pada setiap pergantian dinas
32
- Melakukan pembagian tugas atas anggota kelompoknya
- Menyusun rencana asuhan keperawatan
- Menyiapkan keperluan untuk melaksanakan asuhan
keperawatan
- Mengikuti visite dokter
- Menilai hasil pekerjaan anggota kelompok dan
mendiskusikan masalah yang ada
- Menciptakan kerja sama yang harmonis antar anggota tim
- Memberikan pertolongan segera pada klien dengan
kegawatdaruratan
- Membuat laporan klien
- Melakukan rinde keperawatan bersama kepala ruangan
- Mengorientasi klien baru
(2) Pengorganisasian
- Menjelaskan tujuan pengorganisasian tim keperawatan
- Membagi tugas sesuai dengan tingkat ketergantungan klien
- Membuat rincian anggota tim dalam memberikan Askep
- Mengatur waktu istirahat untuk anggota tim
- Mendelegasi proses asuhan keperawatan pada anggota tim
- Membuat rincian tugas anggota tim meliputi pemberian
asuhan keperawatan
(3) Pengarahan
- Memberikan pengarahan atau bimbingan kepada anggota
tim
33
- Memberikan informasi yangberhubungan dengan Askep
- Mengawasi proses asuhan keperawatan
- Melibatkan anggota tim dari awal sampai akhir kegiatan
- Memberi pujian, motivasi kepada anggota tim
(4) Pengawasan
- Melalui komunikasi
Mengawasi dan berkomunikasi langsung dengan pelaksana
dalam pemberian asuhan keperawatan
- Melalui supervisi
Secara langsung melihat atau mengawasi proses asuhan
keperawatan yang dilaksanakan oleh anggota lain.
Secara tidak langsung melihat daftar hadir perawat
pelaksana, membaca dan memeriksa catatan keperawatan,
membaca catatan perawat yang dibuat selama proses
keperawatan, mendengarkan laporan secara lisan dari
anggota tim tentang tugas yang dilakukan.
- Mengevaluasi
Pelaksanaan keperawatan bertanggung jawab kepada
kepala ruangan dan mnyelenggarakan asuhan secara
optimal kepada klien yang berbeda di bawah tanggung
jawabnya.
Uraian Tugas perawat Pelaksana :
a) Perencanaan
(1) Melakukan pengkajian kepada klien
34
(2) Menentukan masalah-masalah keperawatan yang dihadapi
klien berdasarkan hasil pengkajian
(3) Merumuskan tujuan yang akan dicapai untuk menentukan
rencana tindakan
(4) Melakukan tindakan yang akan dilakukan untuk mengatasi
masalah sehingga tujuan keperawatan tercapai
(5) Bersama ketua tim melaksanakn serah terima klien dan
tugas setiap pergantian dinas
(6) Menyiapkan keperluan untuk melaksanakn tindakan
keperawatan
(7) Mendampingi visite dokter pada klien yang menjadi
tanggung jawab bersama kepala tim untuk menilai kondisi
klien dan memungkinkan penyebabnya, rencana tindakan
medis, mengetahui program pengobatan yang akan
dilakukan selanjutnya.
(8) Menyiapkan klien secara fisik secara fisik dan secra mental
atau pemeriksaan penunjang
b) Pengorganisasian
(1) Menerima pendelegasian askep dari kepala ruangan melalui
kepala tim
(2) Membuat mekanisme kerja untuk masing-masing klien
yang menjadi tanggung jawab askep yang telah dilakukan
kepada kepala ruangan melalui kepal tim
(3) Menghindari pertentangan antara anggota tim
35
(4) Ikut menegakkan peraturan rumah sakit dan kebijakan yang
berlaku
(5) Mengembangkan kreativitas
(6) Mengembangkan kemampuan manajemen dalam
memberiakn asyhan keperawatan kepada klien
c) Pengawasan
(1) Melakukan dan menciptakan komunikasi terapeutik dengan
klien dan keluarga selama memberiakan aksep
(2) Mengawasi perkembangan dan reaksi klien terhadap
tindakan keperawatan dan pengobatan
(3) Menilai hasil tindakan keperawatan yang diberikan, apakah
tujuan telah tercapai bersama kepala tim
d) Pengarahan
(1) Memberiakan pengarahan kepada keluarga tentang tindakan
yang akan dilakukan, cara minum obat, aktivitas
(2) Memberikan petunjuk kepada klien dan keluarga mengenai
peraturan yang berlaku, jam kunjungan, pemeriksaan
penunjang dan pengadaan obat-obatan.
(3) Memberikan pujian terhadap kemajuan kesehatan klien dan
kerja sama keluarga dengan petugas
c. MAKP Primer
Metode penugasan dimana satu orang perawat bertanggung
jawab penuh selama 24 jam terhadap asuhan keperawatan pasien
mulai dari pasien masuk sampai keluar rumah sakit. Mendorong
36
praktik kemandirian perawat, ada kejelasan antara sipembuat
rencana asuhan dan pelaksana.
Metode primer ini di tandai dengan adanya keterkaitan kuat
dan terus menerus antara pasien dan perawat yang ditugaskan
untuk merencanakan, melakukan koordinasi asuhan keperawatan
selama pasien dirawat.
Kelebihan :
1) Bersifat kontinuitas dan komprehensif
2) Perawat primer mendapatkan akuntabilitas yang tinggi
terhadap hasil dan memungkinkan pengembangan diri
3) Keuntungan antara lain terhadap pasien, perawat, dokter dan
rumah sakit (Gillies, 1989)
Kelemahan :
Hanya dapat dilakukan oleh perawat yang memiliki
pengalaman dan pengetahuan yang memadao dengan kriteria
asertif, self direction, kemampuan mengambil keputusan yang
tepat, menguasai keperawatan klinik, akuntable serta mampu
berkolaborasi dengan berbagai disiplin.
37
Skema 2.4
Model MetodeAsuhanKeperawatan Primer
Dokter Kepala Ruangan Sarana RS
Perawat Primer
Pasien
Perawat Pelaksana Perawat pelaksana Perawat pelaksana
Sore pagi malam
(Marquis Dan Huston 1998)
Konsep dasar metode primer
1) Ada tanggung jawab dan tanggung gugat
2) Ada otonomi
3) Ketertiban pasien dan keluarga
Tugas perawat primer :
1) Menerima pasien dan mengkaji kebutuhan pasien secara
konfrehensif
2) Membuat tujuan dan rencana keperawatan
3) Melaksanakan rencana yang telah dibuat selama iadinas
4) Mengkomunikasikan dan mengkoordinasi pelayanan yang telah
diberikan oleh disiplin lain maupun perawat lain
5) Mengevaluasi keberhasilan yang dicapai
6) Menerima dan menyesuaikan rencana
7) Menyiapkan penyuluhan untuk pulang
38
8) Melakukan rujukan kepada pekerja sosial, dengan lembega
sosial masyarakat
9) Membuat jadwal perjanjian klinik
10) Mengadakan rujukan klinik
11) Mengadakan kunjungan rumah.
Peran kepala ruang atau bangsal dalam metode primer :
1) Sebagai konsultan pengendalian mutu perawat primer
2) Orientasi dan merencanakan karyawan baru
3) Menyusun jadwal dinas dan memberi penugasan pada perawat
asisten
4) Evaluasi kerja
5) Merencanakan / menyelenggarakan pengembangan staf
6) Membuat 1 – 2 pasien untuk model agar dapat mngenal hambatan
yang terjadi.
Ketenagaan metode primer :
1) Setiap perawat primer adalah perawat “bed side”
2) Beban kasus pasien 4- 6 orang untuk satu perawat
3) Penugasan ditentukan oleh kepala bangsal
4) Perawat primer dibantu oleh perawat profesional lain maupun non
profesional sebagai perawat asisten
d. Manajemen kasus
Setiap perawat di tugaskan untuk melayani seluruh
kebutuhan pasien saat ia dinas. Pasien akan dirawat oleh perawat
yang berbeda untuk setiap sift dan tidak ada jaminan bahwa pasien
39
akan dirawat oleh orang yang sama pada hari berikutnya. Metode
penugasan kasus biasa diterapkan satu pasien satu perawat, dan hal
ini umumnya dilaksanakan untuk perawat privat atau untuk
perawtan khusus seperti : isolasi, intensif care.
Kelebihan :
1) Perawat lebih memahami kasus perkasus
2) Sistem evaluasi dari manajerial menjadi lebih mudah
Kekurangan :
1) Belum dapatnya di identifikasi perawat pananggung jawab
2) Perlu tenaga yang cukup banyak dan mempunyai kemampuan
dasar yang sama
Skema 2.5
Model Metode Asuhan Keperawatan Kasus
Kepala Ruangan
Staf Perawat Staf Perawat Staf Perawat
Pasien / klien Pasien / klien Pasien / klien
(Maquis dan Huston 1998)
e. Model Pemberian Asuhan Keperawatan Modifikasi : Tim
Primer
Metoda ini digunakan secara kombinasi dari kedua sistem.
Menurut Ratna S.Sudarsono (2000), penetapan sistem model
MAKP ini di dasarkan pada beberapa alasan :
40
1) Keperawatan primer tidak digunakan secara murni, karena
sebagai perawat primer harus mempunyai latar belakang
pendidikan S1 Keperawatan atau setara
2) Keperawatan tim tidak digunkan secara murni, karena
tanggung jawab asuhan keperawatan pasien terfragmentasi
pada berbagai tim
3) Melalui kombinasi kedua model teseubut diharapkan
komunitas asuhan keperawatan dan akuntabilitas asuhan
keperawatan terdapat pada primer. Disamping itu karena saat
ini jenis pendidikan perawat yang ada dirumah sakit sebagian
besar adalah lulusan D3,maka akan mendapatkan bimbingan
dari perawat primer atau ketua tim tentang asuhan
keperawatan.
Skema 2.6
Contoh Pemberian Askep Modifikasi
Kepala Ruangan
PP 1 PP 2 PP 3 PP 4
PA PA PA PA
PA PA PA PA
PA PA PA PA
7-8 Pasien 7-8 Pasien 7-8 Pasien 7-8 Pasien
(Marquis dan Huston, 1998:138)
- - 7
41
8 8 -8
Pas Pas Pas
f. Gaya Kepemimpinan Situasional
Pengertian
Menurut Hersay dan Blanchard, kepemimpinan situasional adalah :
1) Jumlah petunjuk dan pengarahan yang diberikan oleh
pemimpin
2) Jumlah dukungan sosioemosional yang diberikan oleh
pimpinan
3) Tingkat kesiapan atau kematangan para pengikut yang ditunjuk
dalam melaksanakan tuga khusus, fungsi, atau tujuan tertentu.
Konsep ini telah dikembangkan untuk membantu orang dalam
menjalankan kepemimpinan dengan memperhatikan peranannya,
yang lebih efektif dalam berinteraksi pemimpin dengan orang lain
dalam kesehariannya. Dalam hal mempengaruhi perilaku bawahan,
situasi merupakan faktor penting karena kepribadian seseorang
yang dibawah dari lahir bisa berubah dengan adanya kondisi
lingkungan yang berubah.
Menurut Model Fiedler
Mengemukakan bahwa kinerja kelompok yang efektif
bergantung pada penyesuaian yang tepat antara gaya pemimpin
dalam berinteraksi dengan bawahan dan pada tingkat mana situasi
memberikan kendali dan pengaruh pada pemimpi tersebut.
Kepemimpinan situasional merupakan gaya pemmpin yang
mempertimbangkan situasi yang dihadapi sebuah perusahaan. Baik
dalam proses pengambilan keputusan terhadap sebuah masalah
42
maupun dengan mengarahkan para baahannya. Kepemimpinan
situasional dalam hal ini, mengubah gaya kepemimpinan yang lama
dengan gaya kepemimpina baru yang di anggap lebih baik dengan
pertimbangan situasi-situasi yang dialami peusahaan.
Dalam kondisi pelatihan kepemimpinan harus menuntut
perhatian dalam organisasi, tampaknya teori kepemimpinan
situasional tetap merupakan satu cara pouler untuk mengekpresikan
apa yang harus dilakukan pemimpin pad pekerjaannya (Gibson,
1997:34).
Dasar Model Kepemimpinan Situasional
1) Kadar bimbingan dan pengarahan yang diberikan oleh
pemimpin (perilaku).
2) Kadar dukungan sosio emosional yang disedakan oleh
pemimpin (perilaku hubungan).
3) Tingkat kesiapan atau kematangan yang diperlihatkan leh
anggota dalam melaksanakan tugas dan fungsi mereka dalam
mencapai tujuan tertentu.
Konsep ini menjelaskan hubungan antara prilaku
kepemimpinan yang efektif dengan tingkat kematangan anggota
kelompok atau pengikutnya. Teori ini menekankan hubungan
pemimpin dengan anggota hingga tercipta kepemimpinan ynag
efektif, karena anggota dapat menentukan keanggotaan pribadi
yang dimiliki pemimpin.
43
Kematangan atau maturity adalah bukan kematangan secara
psikologis melainkan menggambarkan kemauan dan kemampuan
anggota dalam melaksanakan tugas masing-masing termasuk
tanggung jawab dalam melaksanakan tugas tersebut juga kemauan
dan kemampuan mengarahkan diri sendiri. Jadi, variabel
kematangan yang dimaksud adalah kematangan dalam
melaksanakan tugas masing-masing tidak berarti kematangan
dalam segala hal.
Kematangan anak buah adalah kemampuan yang dimiliki
anak buah dalam menyelesaikan tugas dari pimpinan, termasuk di
dalamnya adalah keinginan atau motifasi mereka dalam
menyelesaikan suatu tugas. Kematangan individu dalam teori
kepemimpinan situasional Hersey-Blanchard dibedakan dalam 4
kategori kematangan yang masing-masing punya perbedaan tingkat
kematangan sebagai berikut :
1) M1 : tingkat kematangan anggota rendah
Ciri-cirinya : adalah anggota tidak mampu dan tidak mau
melaksanakan tugas, maksudnya : Kemampuan anggota dalam
melaksanakan tugas rendah dan anggota tersebut juga tidak
mau bertanggung jawab.
Penyebabnya : tugas dan jabatan yang dijabat memang jauh
dari kemampuan, kurang mengerti apa kaitan antara tugas dan
tujuan organisasi, mempunyai sesuatu yang di harapkan tetapi
tidak sesuai dengan ketersediaan dalam organisasi.
44
2) M2 : tingkat kematangan anggota rendah ke sedang atau
moderat rendah
Ciri-cirinya : anggota tidak mampu melaksanakan tapi mau
bertanggung jawab, yaitu walaupun kemampuan dalam
melaksanakan tugasnya rendah tetapi memiliki rasa tanggung
jawab sehingga ada upaya untuk berprestasi. Mereka yakin
akan pentingnya tugas dan tahu pasti tujuan yang ingin dicapai.
Penyebabnya : anggota belum berpengalaman atau belum
mengikuti pelatihan dan pendidikan tetapi memiliki motivasi
tinggi, menduduki jabatan baru dimana semangat tinggi tetapi
bidangnya baru dan selalu berupaya mencapai prestasi, punya
harapan yang sesuai dengan ketersediaan yang ada dalam
organisasi.
3) M3 : tingkat kematangan anggota sedang ke tinggi atau
moderat tinggi.
Ciri-cirinya : anggotanya mampu melaksanakan tetapi tidak
mau. Yaitu mereka yang memiliki kemampuan untuk
melaksanakan tugas tetapi karena suatu hal tidak yakin akan
keberhasilan sehingga tugas tersebut tidak dilaksanakan.
Penyebabnya : anggota merasa kecewa atau frustasi misalnya
baru saja mengalami alih tugas dan tidak puas dengan
penempatan baru.
45
4) M4 : tingkat kematangan anggota tinggi
Ciri-cirinya : anggota mau dan mampu, yaitu : mempunyai
kemampuan yang tinggi dalam menyelesaikan tugas ataupun
memecahkan masalah dan punya motivasi tinggi serta besar
tanggung jawabnya. Mereka adalah yang berpengalaman dan
punya kemampuan yang tinggi dalam menyelesaikan tugas.
Mereka mendapat kepuasan atas prestasinya dan yakin akan
selalu berhasil.
Merujuk pada tingkat kematangan masing-masing
kelompok atau anggota kelompok, maka prilaku kepemimpinan
harus disesuaikan demi tercapainya efektifitas kepemimpinan
berdasarkan analisis pemimpin terhadap tingkat kematangan
anggota, digunakan kombinasi perilaku tugas dan perilaku
hubungan.
Ada beberapa kombinasi perilaku kepemimpinan yang
merujuk pada kematangan yaitu :
Tingkat kematangan Perilaku kepemimpinan
Rendah (M-1) Instruksi (S-1)
Tidak mau dan tidak mampu Tinggi tugas dan rendah
Rendah ke sedang atau hubungan
moderat rendah Konsultasi (S-2)
(M-2) tidak mampu tapi mau Tinggi tugas dan tinggi
Sedang ke tinggi atau moderat hubungan
46
tinggi (M-3) mampu tapi tidak Partisipasi (S-3)
mau Rendah tugas dan tinggi
Tinggi (M-4) hubungan
Mau tapi mampu Delegasi (S-4)
Rendah tugas dan rendah
hubungan
Perilaku kepemimpinan seseorang menghadapi kelompok serta
keseluruhan harus berbeda-beda dengan menghadi individu
anggota kelompok, demikian pula perilaku kepemimpinan manajer
dalam menghadapi tiap-tiap individu harus berbeda-beda
tergantung kematangannya. Masing-masing punya perbedaan
tingkat kematangan.
Menurut teori ini pemimpin haruslah situasional, setiap
keputusan yang dibuat didasrkan pada tingkat kematangan anak
buah, ini berarti keberhasilan seorang pemimipin apabila mereka
menyesuaikan gaya kepemimpinannya dengan tingkat kedewasaan
atau kematangan anak buah. Tingkat kedewasaan atau kematangan
anak buah dapat dibagi menjadi 4 tingkat yaitu :
1) Instruksi adalah untuk pengikut yang rendah kematangannya,
orang yang tidak mampu dan mau memliki tanggu jawab
untuk melaksanakan sesuatu adalah tidak kompeten atau
tidak memiliki keyakinan. Bawahan seperti ini masih sangat
memerlukan pengarahan dan dukungan, masih perlu
47
bimbingan dari atasan tentang bagaimana, kapan dan dimana
mereka dapat melaksanakan tanggung jawab/ tugasnya.
2) Konsultasi adalah untuk tingkat kematangan rendah dan
sedang, orang yang tidak mampu tetapi berkeinginan untuk
memikul tanggung jawab memiliki keyakinan tetapi kurang
memiliki keterampilan. Pimpinan/pemimpin perlu membuka
komunikasi dua arah (two way communications), yaitu untuk
membantu bawahan dalam meningkatkan motivasi kerjanya.
3) Partisipasi bagi tingkat kematangan dari sedang kerendah,
orang-orang pada tingkat perkembangan ini memiliki tetepi
tidak memiliki keinginan untuk melakukan sesuatu yang
diberikan. Untuk meningkatkan produktivitas kerjanya,
dalam hal ini pemimpin harus aktif membuka komunikasi
dua arah dan mendengarkan yang diinginkan oleh bawahan.
4) Delegasi adalah bagi tingkat kematangan yang tinggi, orang-
orang pada tingkat kematangan seperti ini adalah mampu dan
mau, atau mempunyai keyakinan untuk memikul tanggung
jawab. Dalam hal ini pemimpin tidak perlu banyak
memberikan maupun pengarahan, karena dianggap bawahan
sudah mengetahui bagaimana, kapan dan dimana mereka
harus melaksanakan tugas/ tanggung jawabnya (thoha,
1983:74-76).
48
Model-model Keperawatan Situasional
1) Model kepemimpinan kontijensi fiedler
Least preferred coworkers (LPC)
Model kepemimpinan kontijensi fiedler ( 1964 –
1997 ) menjelaskan bagaimana situasi menengahi
hubungan antara efektifitas kepemimpinan dengan ukuran
ciri yang disebut nilai LPC rekan kerja yang paling tidak
disukai (Yukl, 2005 : 251).
Teori kontijensi fidler menunjukan hubungan antara
orientasi pemimpin atau gaya dan kinerja kelompok yang
berbeda di bawah kondisi situasional. Teori ini didasarkan
padapenentuan orientasi pemimpin (hubungan atau tugas),
unsur-unsur situasi (hubungan pemimopin anggota, tugas
struktur, dan kekuasaan pemimpin posisi), dan orientasi
pemimpin yang ditemukan paling efektif karena situasi
berubah dari rendah sampai sedang untuk kontrol tinggi.
Fiedler menemukan bahwa tugas pemimpin berorientasi
lebih efektif dalam situasi kontrol rendah dan moderat dan
hubungan manager berorientasi lebih efektif dalam situasi
kontol moderat.
2) Teori jalur tujuan kepemimpinan
Path goal theory of leadership
Menurut model ini, pemimpin menjadi efektif
karena efek positif yang mereka berikan terhadap motivasi
49
pada pengikut, kinerja dan kepuasan. Teori ini dianggap
sebagai path goal karena terfokus pada bagaimana
pemimpin menpengaruhi persepsi dari pengikutnya
tentang tujuan pekerjaan, tujuan pengembangan diri, dan
jalur yang dibutuhkan dalam mencapai tujuan (
Ivancevich, dkk, 2007).
Dasar dari path goal adalah teori motivasi ekspetasi.
Teori awal dari path goal menyatakan bahwa pemimpin
efektif adalah pemimpin yang bagus dalam membrikann
imbalan pada bawahan dan membuat imbalan tersebut
dalam suatu kesatuan (contingent). Dengan pencapaian
bawahan terhadap tujuan spesifik. Perkembangan awal
teori path goal menyebutkan 4 gaya perilaku spesifik dari
seorang pemimpin meliputi direktif, suporrtif, partisipatif,
dan berorientasi pencapaian dan tiga sikap bawahan
meliputi kepuasan kerja, penerimaan terhadap pimpinan,
dan harapan mengenai hubungan antara usaha – kinerja –
imbalan.
H. Discharge Planning
1. Pengertian Discharge Planning
Discharge Planning adalah proses sitematis yang diberikan kepada
pasien ketika akan meninggalkan tempat pelayanan kesehatan, baik
50
pulang kerumah maupun akan melakukan perawatan di rumah sakit lain
(taylor).
Kozier (2004), mendefenisikan Discharge Planning sebagai proses
mempersiapkan pasien untuk meniggalkan suatu unit pelayanan kepada
unit yang lain di dalam atau diluar suatu agen pelayanan kesehatan
umum.
Ackson (1994), menyatakan bahwa Discharge Planning merupakan
proses mengidentifikasi kebutuhan pasien dan perencanaannya dituliskan
untuk memfasilitasi keberlanjutan suatu pelayanan kesehatan dari suatu
lingkungan yang lain.
Rindhianto(2008), mendefenisikan Discharge Planning sebagai
perencanaan kepulangan pasien dan memberikan informasi kepada klien
dan keluarganya tentang hal-hal yang perlu dihindari dan dilakukan
sehubungan kondisi penyakitnya.
2. Manfaat Discharge Planning
a. Bagi pasien
1) Dapat memenuhi kebutuha pasien
2) Merasakan bahwa dirinya adalah bagian dari proses perawatan
sebagai baian yang aktif dan bukan objek yang pasif
3) Menyadari hak nya untuk dipenuhi
4) Merasa nyaman untuk kelanjutan perawatannya untuk
memperoleh support sebelum timbulnya masalah
5) Dapat memilih prosedur perawatannya
51
6) Mengerti apa yang akan terjadi pada dirinya dan mengetahui
siapa yang dapat dihubungi
b. Bagi perawat
1) Merasa bahwa keahliannya dapat diterima dan dapt digunakan
2) Menerima informasi kunci setiap waktu
3) Memahami perannya dalam sistem
4) Dapat mengembangkan keterampilan dalam prosedur baru
5) Memiliki kesempatan untuk bekerja dalam seting yang berbeda
dan cara yang berbeda
6) Bekerja dalam suatu sistim dengan efekif
3. Prinsip Discharge Planning
a. Koordinasi ( saling berhubungan )
b. Interdisiplin ( salling menjaga, disiplin ilmu, keterampilan sesuai
standar keperawatan )
c. Pengenalan secara dini mungkin ( penjelasan tentang apa yang kita
informasikan )
d. Perencanaan secara hati-hati
e. Melibatkan klien dalam keluarga dalam memberikan perawatan
4. Karakteristik Indikasi Kebutuhan Discharge Planning
a. Kurang pengetahuan tentang pengobatan
b. Isolasi sosial
c. Diagnosa baru penyakit kronik
d. Operasi besar
e. Perpanjagan operasi besar
52
f. Orang labil
g. Penatalaksanaan dirumah secara komplek
h. Kesulitan financial
i. Ketidakmampuan menggunakan sumber rujukan / fasillitas
pelayanan kesehatan
j. Panyakit terminal
5. Mekanisme Discharge Planning Menurut proses keparawatan
a. Pengkajian
Elemen penting dari pengkajian Discharge Planning, meliputi :
1) Data kesehatan
2) Data pribadi
3) Pemberi perawatan
4) Lingkungan
5) Keuangan dan pelayanan yang dapat mendukung
b. Diagnosa
Diagnosa keperawatan berdasarkan pada pengkajian Discharge
Planning, dikembangkan untuk mengetahui kebutuhan klien dan
keluarga. Yaitu mengetahui problem, etiologi ( penyebab ) support
sistem (hal yang mendukung sehingga dilakukan Discharge
Planning).
c. Perencanaan
Menurut Luverne dan Barbara (1998 ),perencanaan pemulangan
pasien membutuhkan identifikasi kebutuhan klien. Kelompok
53
perawat berfokus pada kebutuhan rencana pengajaran yang baik
untuk persiapan pulang klien, yaitu:
1) Medication ( obat )
Pasien sebaiknya mengtahui obat yang harus dilanjutkan
setelah pulang.
2) Environment ( lingkungan )
Lingkungan tempat klien akan pulang dari rumah sakit
sebaiknya aman. Pasien juga sebaiknya memiliki fasilitas
pelayanan yang dibutuhkan untuk kelanjutan perawatannya.
3) Treatment ( pengobatan )
Perawat harus memastikan bahwa pengobatan dapat
berlanjut setelah kien pulang, yang dilakukian oleh klien dan
anggota keluarga.
4) Health Teaching (pengajaran kesehatan)
Klien yang akan pulang sebaiknya diberitahu bagaimana
mempertahankan kesehatan. Termasuk tanda dan gejala yang
mengidentifikasikan kebutuhan perawatan kesehatan tambahan.
5) Diet
Klien sebaiknya dibritahu tentang pembatasan pada
dietnya. Ia sebaiknya mampu memilih diet yang seduai untuk
dirinya.
d. Implementasi
Implementasi dalam Discharge Planning adalah pelaksanaan
rencana pengajaran referral. Seluruh pengajaran yang diberikan
54
harus didokumentasikan pada catatan perawat dan ringkasan pulang
(Discharge Summary). Instruksi tertulis dibrikan kepada klien.
Demontrasi ulang harus menjadi memuaskan. Klien dan pemberi
perawatan harus memiliki keterbukaan dan melakunanya dengan alat
yang digunakan dirumah.
e. Evaluasi
Evaluasi terhadap Discharge Planning adalah penting dalam
membuat kerja proses Discharge Planning. Perencanaan dan
penyerahan harus diteliti denga cermat untuk menjamin kualitas dan
pelayanan yang sesuai.
Keberhasilan program perencanaan pemulangan tergantung
pada 6 variabel :
1) Derajad penyakit
2) Hasil yang diharapkan dari perawatan
3) Durasi perawatan yang dibutuhkan
4) Jenis-jenis pelayanan yang diperlukan
5) Komplikasi tambahan
6) Ketersediaan sumber-sumber untuk mencapai pemulihan.
55