0% found this document useful (0 votes)
45 views18 pages

Bab 1-3 Sikap Ilmiah

The document discusses the background, problem formulation, research objectives, hypotheses, uses of the research, and scope and limitations of a study on the effect of Problem Based Learning (PBL) model on students' scientific attitude skills in the topic of human digestion system. Specifically: - The study aims to determine the influence of PBL model on students' scientific attitude skills in the human digestion system topic. - The problem formulation asks whether the PBL model affects students' scientific attitude skills in the human digestion system topic. - The research is expected to provide benefits for the researcher, teachers, and students in improving teaching quality and learning outcomes.

Uploaded by

Merry Cerry
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as DOC, PDF, TXT or read online on Scribd
0% found this document useful (0 votes)
45 views18 pages

Bab 1-3 Sikap Ilmiah

The document discusses the background, problem formulation, research objectives, hypotheses, uses of the research, and scope and limitations of a study on the effect of Problem Based Learning (PBL) model on students' scientific attitude skills in the topic of human digestion system. Specifically: - The study aims to determine the influence of PBL model on students' scientific attitude skills in the human digestion system topic. - The problem formulation asks whether the PBL model affects students' scientific attitude skills in the human digestion system topic. - The research is expected to provide benefits for the researcher, teachers, and students in improving teaching quality and learning outcomes.

Uploaded by

Merry Cerry
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as DOC, PDF, TXT or read online on Scribd
You are on page 1/ 18

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh

suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan baik dari diri sendiri maupun

lingkungannya. Melalui kegiatan belajar seseorang dapat memperoleh suatu kecakapan,

pengetahuan, dan keterampilan baru. Belajar dapat dilihat dari tiga aspek penting yaitu

kongnitif merupakan proses berpikir, afektif yaitu meliputi tujuan belajar berkenan dengan

minat, sikap, nilai, pengembangan, penghargaan serta penyesuaian diri, dan psikomotor atau

prilaku yang dimunculkan oleh hasil kerja fungsi tubuh manusia (Hakim, Karyanto, dan

Maridi, 2013).

Pembelajaran yang dilaksanakan dapat diketahui hasilnya dengan diadakan evaluasi

hasil belajar yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Evaluasi hasil belajar

bertujuan mengetahui kemajuan-kemajuan dan kelemahan siswa, guru, proses belajar

mengajar beserta sebab akibatnya, sehingga siswa dapat mengetahui langkah apa yang akan

diambil untukmeningkatkan hasil belajarnya. Dalam proses belajar mengajar dapat digunakan

banyak pendekatan pembelajaran. Agar diperoleh hasil yang optimal diperlukan pendekatan

yang tepat untuk mengajarkan suatu pengetahuan atau materi sehingga hasilnya sesuai

dengan yang diharapkan.

Pembelajaran yang dimualai dengan permasalahan difasilitasi melalui model Problem

Based Learning (PBL). PBL merupakan pembelajaran ytang diawali dengan adanya masalah

dan peserta didik dibelikan waktu untuk berpikir bersama mencari informasi dan menyusun

strategi pemecahan masalah (Aknoglu & Tandogan, 2007).

Pelaksanaan model pembelajaran PBL terdiri dari 5 tahap, yaitu: Tahap pertama,

adalah proses orientasi peserta didik pada masalah. Tahap kedua, mengorganisasikan peserta
didik. Tahap ketiga, membimbing kelompok. Tahap keempat, menggembangkan dan

menyajikan hasil. Tahap kelima yaitu menganalisis dan mengevaluasi proses dan hasil

pemecahan masalah (Triyuningsih, 2011).

Berdasarkan langkah-langkah model pembelajaran PBL, siswa dituntut untuk

mengumpulkan informasi dan memecahkan masalah yang diberikan oleh guru secara

berkelompok tetapi dalam pembelajaran ini pun sangat membutuhkan pendamping,

motivator, dam fasilitator, dan dalam hal ini yaitu guru. Pembelajaran dengan menggunakan

model pembelajaran PBL dapat memberikan pengalaman secara langsung kepada siswa

karena model PBL menfasilitasi siswa untuk bereksperimen, bekerjasama, dan memecahkan

masalah. Dengan demikian melalui pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran

PBL dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa (Nopia,2016).

Model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) merupakan salah satu model

pembelajaran inovatif yang dapat memberikan kondisi belajar aktif kepada siswa. PBL

adalah suatu model pembelajaran yang melibatkan siswa untuk memecahkan suatu masalah

melalui tahap-tahap metode ilmiah, sehingga siswa dapat mempelajari pengetahuan yang

berhubungan dengan masalah tersebut sekaligus memiliki keterampilan untuk memecahkan

masalah (Siswanto dan Ariani, 2014). Peneliti tertarik mengambil model pembelajaran

Problem Based Learning (PBL) karena model pembelajaran ini memiliki kelebihan. Berikut

beberapa keunggulan dari model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) menurut

Rizki Wulandari dalam siswanto (2014) :

a. Melatih siswa untuk berlatih menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

b. Merangsang kemampuan berpikir tingkat tinggi.

c. Suasana kondusif, terbuka, negosiasi, demokratis, suasana nyaman, dan

menyenangkan agar siswa dapat berpikir secara optimal.


d. Pemecahan masalah merupakan tekhnik yang cukup bagus untuk memahami isi

pelajaran.

e. Pemecahan masalah dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan

untuk menentukan pengetahuan baru bagi siswa.

f. Pemecahan masalah dapat meningkatkan aktifitas pembelajaran siswa.

g. Pemecahan masalah dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk

mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki di dunia nyata.

h. Pemecahan masalah dapat mengembangkan minat siswa untuk secara terus menerus

belajar.

Sikap ilmiah adalah sikap yang seharusnya dimliki oleh seorang peneliti, untuk dapat

melalui proses penelitian yang baik dan hasil yang baik pula. Peneliti tertarik mengambil

sikap ilmiah karena sikap ilmiah meluputi aspek rasa ingin tahu yaitu menyelidiki atau

keingin tahuan (couriosity) yang tinggi. Bagi seorang ilmuan hal yang dianggap biasa oleh

orang pada umumnya, hal itu merupakan hal penting dan layak untuk diselidiki. Apabila

menghadapi suatu masalah yang baru dikenalnya, maka peneliti berusaha mengetahuinya,

senang mengajukan pertanyaan tentang objek dan peristiwa, kebiasaan menggunakan indera

sebagai mungkin untuk menyelidiki suatu masalah, memperlihatkan gairah untuk meneliti

dan kesungguhan dalam menyelesaikan eksperimen dan aspek berpikir kritis yaitu sebuah

kemampuan yang dimiliki setiap orang untuk menganalisis idea atau gagasan kearah yang

lebih spesifik untuk mengejar pengetahuan yang relevan tentang dunia dengan melibatkan

evaluasi bukti. Kemampuan berpkir kritis sangat diperlukan untuk menganalisis suatu

permasalahan hingga pada tahap pencarian solusi untuk menyelesaikan permasalahan

tersebut.

Dari hasil wawancara peserta didik, ada beberapa hal yang dikeluhkan oleh peserta

didik salah satunya ialah mengenai materi pembelajaran biologi yang menurut mereka cukup
sulit untuk dipahami. Menurut mereka, materi sistem pencernaan pada manusia ialah materi

yang cukup sulit untuk dipelajari. Hal ini dibuktikan dari hasil soal sikap berpikir kritis yang

peneliti berikan ketika observasi pengambilan data awal, dimana mereka masih binggung

dengan proses sistem pencernaan pada manusia. Menurut siswa hal ini disebabkan karena

ketika proses belajar mereka hanya menerima informasi dari guru (teacher center) dan

mereka tidak diberikan kesempatan untuk mencari informasi yang relevan dengan cara

melakukan eksperimen.

Pada sekolah menengah pertama SMP Negeri 2 Belitang III guru masih menerapkan

metode cermah sehinga peneliti tertarik untuk mengenalkan dan menerapkan model

pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada materi sistem penceraan pada manusia.

Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis berkeinginan untuk melakukan

penelitian yang berjudul “Pengaruh Model Problem Based Learning (PBL) terhadap

Kemampuan Sikap Ilmiah Siswa pada Materi Pencemaran Lingkungan di SMPNegeri2

Belitang III”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka rumusan masalah dalam penelitian ini

adalah “Apakah Model Problem Based Learning (PBL) Berpengaruh terhadap Kemampuan

Sikap Ilmiah Siswa pada Materi Sistem Pencernaan Pada Manusia di SMP Negeri 2 Belitang

III?”

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penelitian ini

adalahuntukmengetahui Pengaruh Model Problem Based Learning (PBL) terhadap

Kemampuan Sikap Ilmiah Siswa pada Sistem Pencernaan Pada Manusia di SMP Negeri 2

Belitang III.
D. Hipotesis Penelitian

Adapun hipotesis dari rencana penelitian ini adalah sebagai berikut:

H0 : Tidak ada pengaruh penggunaan Model Pembelajaran Problem Basic

Learning (PBL) terhadap Kemampuan Sikap Ilmiah Siswa pada materi Sistem

Pencernaan Pada Manusia di SMP Negeri 2 Belitang III.

Ha : Ada Pengaruh penggunaan Model Pembelajaran Problem Basic Learning

(PBL) terhadap Kemampuan Sikap Ilmiah Siswa pada materi Sistem Pencernaan

Pada Manusia di SMP Negeri 2 Belitang III.

E. Kegunaan Penelitian

1. Bagi Peneliti

Menambah dan mengembangkan wawasan pengetahuan model pembelajaran Problem

Basic Learning (PBL) dalam pembelajaran biologi dan sebagai acuan perbandingan,

ataupun referensi bagi peneliti yang melakukan penelitian sejenis.

2. Bagi Guru

Sebagai informasi dalam meningkatkan kualitas mengajarnya dalam

menentukan pendekatan, metode dan model pengajaran yang tepat guna

sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik, serta memberikan

alternatif contoh, agar dapat mulai menggunakan Problem Based Learning

(PBL) pada materi Sistem Pencernaan Pada Manusia terhadap kemampuan berpikir kritis

siswa sebagai salah satu satu model pembelajaran.

3. Bagi Peseta Didik

Untuk meningkatkan kemampuan sikap ilmiah dan retensi sehingga hasil

belajar yang diperoleh dapat tercapai secara optimal, serta menumbuhkan kemampuan

siswa untuk saling membantu dan berlatih berinteraksi komunikasi-sosialisai antar sesama

teman.
F. Ruang Lingkup dan Batasan Penelitian
1. Ruang Lingkup
Objek pada rencana penelitian ini adalag siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Belitang III.
2. Batasan Penelitian
a. Dalam rencana penelitian ini difokuskan hanya melalui kemampuan sikap ilmiah

siswa yang dibatasi yaitu sikap kritis dan sikap rasa ingin tahu.
b. Soal test kemampuan sikap ilmiah siswa menggunakan materi Biologi kelas VIII

semester ganjil yakni materi Sistem Pencernaan Pada Manusia. Soal test

kemampuan ilmiah siswa terlampir.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Belajar dan Pembelajaran Biologi


1. Pengertian Belajar

Menurut Rizki Wulandari dalam Dimyati & Mudjiono (2002) belajar merupakan

proses internal yang kompleks, yang melibatkan seluruh mental yang meliputi ranah kognitif,

afektif dan psikomotorik. Belajar juga diartikan sebagai usaha sadar yang dilakukan manusia

shingga terjadi prubahan tingkah laku pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan

perubahan aspek-aspek lain sebagai akibat interaksi dengan lingkungan (Aminoto, 2014).

2. Pembelajaran Biologi

Pembelajaran merupakan pengembangan dari istilah belajar. Pembelajaran yang

diidentikkan dengan kata “mengajar” berasal dari kata dasar “ajar” yang berarti petunjuk

yang diberikan kepada orang supaya diketahui (diturut) ditambah dengan awalan “pe” dan

akhiran “an menjadi “pembelajaran”, yang berarti proses, perbuatan, cara mengajar atau

mengajarkan sehingga anak didik mau belajar.

Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber

belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan

pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan

kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik.

Biologi merupakan salah satu cabang IPA yang memebahas tentang makhluk hidup.

Salah satu objek dan permasalahan dalam bidang biologi yaitu tingkat organisasi kehidupan

(Nurhayati, 2015). Pengertian biologi berdasarkan kata biologi itu sendiri yang terdiri dari

dua kata yaitu bio yang artinya makhluk hidup, dan logi atau logosyang artinya ilmu. Jadi

biologi pada dasarnya berarti ilmu tentang makhluk hidup. Sehingga biologi adalah kajian

tentang kehidupan, dan organisme hidup, termasuk struktur, fungsi, pertumbuhan, evolusi,

persebaran, dan taksonominya (Prawirohartono, 2007).

Sebagai Ilmu, biologi memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

a. Memiliki objek kajian berupa benda-benda konkret, yaitu makhluk hidup.


b. Sebagai ilmu, biologi dikembangkan berdasarkan pengalaman empiris, yaitu pengalaman

yang dapat dilakukan setiap orang.

c. Menggunakan cara berpikir logis.

d. Sebagai ilmu, biologi dikaji menggunakan langkah-langkah sistematis dikenal dengan

metode ilmiah.

e. Hasil kajian bersifat objektif. Artinya hasil penelitian tidak dipengaruhi subyektifitas

peneliti, selalu memihak kebenaran ilmiah.

f. Hasil kajianya bersifat hukum universal, yaitu ketentuan yang berlaku umum diamanapun

dan oleh siapapun dilakukan hasilnya sama.

Pembelajaran biologi pada umumnya memiliki karakteristik keilmuan yang spesifik

yang berbeda dengan ilmu lainya. Sesuai dengan hakikat pembelajaran IPA yang mengacu

pada proses, produk dan sikap ilmiah, pembelajaran biologi idealnya mampu menyediakan

berbagai pengalaman belajar untuk memahami konsep dan proses sains. Keterampilan proses

ini meliputi keterampilan mengamati, mengajukan hipotesis, menggunakan alat dan bahan

secara baik dan benar dengan selalu mempertimbangkan keamanan dan keselamatan kerja,

mengajukan pertanyaan, menggolongkan dan menafsirkan data, serta mengkomunikasikan

hasil temuan secara lisan atau tertulis, menggali dan memilah informasi faktual yang relevan

untuk menguji gagasan-gagasan atau memecahkan masalah sehari-hari (Andarini, 2013).

B. Model Pembelajaran

Model pembelajaran merupakan suatu rencana, pola atau kerangka yang dapat

digunakan untuk merancang mekanisme suatu pembelajaran dari awal sampai akhir secara

sistematis dan memiliki tahapan-tahapan tertentu (Amrullah, 2016). Selain itu menurut

Trianto (2007) model pembelajaran adalah salah satu perencanaan atau pola yang digunakan

sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam


tutorial dan untuk menemukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk didalamnya

buku-buku, film, computer dan lain-lain.

C. Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)

1. Sejarah Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)

Donal Woods McMaster merupakan orang yang pertama kali memperkenalkan istilah

PBL. Universitas McMaster merupakan institusi kedokteran yang memperkenalkan PBL

dalam dunia pendidikan. Setelah itu model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based

Learning) baru muncul pada akhir abad ke-20, tepatnya dipopulerkan oleh Borrows dan

Tamblyn pada tahun 1980 dimana mereka merupakan staf pengajar di Institut Kedokteran

Universitas McMaster (Fitri, 2016).

2. Pengertian Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)

Model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) merupakan salah satu model

pembelajaran inovatif yang dapat memberikan kondisi belajar aktif kepada siswa. PBL

adalah suatu model pembelajaran yang melibatkan siswa untuk memecahkan suatu masalah

melalui tahap-tahap metode ilmiah, sehingga siswa dapat mempelajari pengetahuan yang

berhubungan dengan masalah tersebut sekaligus memiliki keterampilan untuk memecahkan

masalah (Siswanto dan Ariani, 2014).

Menurut Amrullah (2016) model pembelajaran Problem Based Learning (PBL)

merupakan pembelajaran yang menghadapkan siswa pada suatu permasalahan yang memiliki

konteks dengan dunia nyata. Dari masalah yang diberikan, siswa bekerja sama dalam

kelompok , mencoba untuk memecahkan suatu permasalahan dan sekaligus mencari

informasi-informasi baru yang relevan untuk solusinya. Selain itu, menurut Shoimin (2014)

model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) merupakan model pengajaran yang

mencirikan adanya permasalahan nyata sebagai konteks untuk para peserta didik belajar

berpikir kritis dan keterampilan memecahkan masalah serta memperoleh pengetahuan.


3. Karakteristik Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)

Menurut Rizki Wulandari dalam Siswanto (2014) Model pembelajaran Problem Based

Learning (PBL) memiliki karakteristik sebagai berikut:

a. Belajar dimulai dengan suatu masalah.

b. Memastikan bahwa masalah yang diberikan berhubungan dengan dunia nyata siswa.

c. Mengorganisasikan pelajaran di seputar masalah, bukan di sekitar disiplin ilmu.

d. Memberikan tanggung jawab yang besar terhadap siswa dalam membentuk dan

menjalankan secara langsung proses belajar mereka sendiri.

e. Menggunakan kelompok kecil.

f. Menuntut siswa untuk mendemonstrasikan apa yang telah mereka pelajari dalam

bentuk suatu produk atau karya.

4. Kelebihan Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)

Berikut beberapa keunggulan dari model pembelajaran Problem Based Learning

(PBL) menurut Rizki Wulandari dalam siswanto (2014) :

i. Melatih siswa untuk berlatih menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

j. Merangsang kemampuan berpikir tingkat tinggi.

k. Suasana kondusif, terbuka, negosiasi, demokratis, suasana nyaman, dan

menyenangkan agar siswa dapat berpikir secara optimal.

l. Pemecahan masalah merupakan tekhnik yang cukup bagus untuk memahami isi

pelajaran.

m. Pemecahan masalah dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan

untuk menentukan pengetahuan baru bagi siswa.

n. Pemecahan masalah dapat meningkatkan aktifitas pembelajaran siswa.

o. Pemecahan masalah dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk

mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki di dunia nyata.


p. Pemecahan masalah dapat mengembangkan minat siswa untuk secara terus menerus

belajar.

Kemudian menurut Ehlert (2004) yang dikutip oleh Wardani (2015) menyatakan

beberapa keunggulan darimodel pembelajaran Problem Basic Learning (PBL) yaitu sebagai

berikut :

a. Meneydiakan kesempatan pada siswa untuk melakukan penelitian.

b. Membangun kemampuan berpikir kritis.

c. Mengenal konten materi subyek dengan membangun tujuan sesuai dengan konsep.

d. Memberdayakan siswa menjadi seorang ahli dalam bidang studi tertentu

memungkinkan siswa menghasilkan lebih dari satu bentuk solusi.

Selain itu kelebihan model pembelajaran Problem Basic Learning (PBL) menurut

(Shoimin, 2014) adalah sebagai berikut :

a. Siswa terdorong untuk memiliki kemampuan memecahkan masalah dlaam situasi

nyata.

b. Siswa memiliki kemampuan membangun pengetahuanya sendiri melalui aktifitas

belajar.

c. Siswa terbiasa menggunakan sumber-sumber pengetahuan baik dari perpustakaan,

internet, wawancara dan observasi.

d. Siswa memiliki kemampuan untuk melakukan komunikasi ilmiah dalam kegiatan

diskusi atau presentasi hasil pekerjaan mereka.

5. Kelemahan Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)


Selain memiliki keunggulan, model pembelajaran Problem Basic Learning(PBL) juga

memiliki kelemahan. Berikut beberapa kelemahan model pembelajaran model Problem

Basic Learning (PBL) menurut Rizki Wulandari dalam Siswanto dan Ariani,( 2014) :

a. Sulitnya membentuk watak siswa dan pembiasaan tingkah laku.

b. Ketika siswa tidak memiliki minat, atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa

masalah yang dipelajari sulit dipecahkan, maka mereka akan enggan untuk mencoba.

c. Keberhasilan strategi pembelajaran melalui model pembelajaran berbasis masalah

membutuhkan cukup waktu untuk persiapan.

6. Langkah-langkah Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)

Penerapan model pembelajaran berbasis masalah terdiri atas lima langkah utama yang

dimulai dengan guru memperkenalkan siswa dengan situasi masalah dan diakhiri dengan

penyajian dan analisis hasil kerja siswa. Berikut pada tabel 2.1 dapat dilihat sintaks dari

model pembelajaran Problem Basic Learning(PBL) :

Tabel 2.1 Sintaks Model Pembelajaran Problem Basic Learning (PBL)

Tahap Kegiatan Guru


Tahap 1 Guru menjelaskan tujuan pembelajaran,
Orientasi siswa terhadap masalah menjelaskan logistic yang dibutuhkan,
memotivasi siswa agar terlibat pada aktivitas
pemecahan masalah.

Tahap 2 Guru membantu siswa mendefinisikan dan


Mengorganisasi siswa dalam belajar mengorganisasikan tugas belajar yang
berhubungan dengan masalah yang tersebut.

Tahap 3 Guru mendrong siswa untuk mengumpulkan


Membimbing penyelidikan Individu informasi yang sesuai, melaksanakan
maupun Kelompok eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan
pemecahan masalahnya.

Tahap 4 Guru membantu siswa merencanakan dan


Mengembangkan dan menyajikan hasil menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan,
karya dan video serta membantu siswa berbagi tugas
dengan temanya.

Tahap 5 Guru membantu siswa melakukan refleksi atau


Menganalisis dan mengevaluasi proses evaluasi terhadap penyelidikan dan proses yang
pemecahan masalah mereka gunakan.
(Sumber: Triyuningsih, 2011)

Kemudian menurut Rizki Wulandari dalam siswanto (2014), langkah-langkah model

pembelajaran Problem Based Learning (PBL) ialah sebagai berikut:

a. Membagi siswa dalam beberapa kelompok.

b. Member sedikit ulasan tentang materi.

c. Member tugas observasi untuk memperhatikan lingkungan sekitar.

d. Penyampaian ide.

e. Penyajian fakta yang diketahui.

Selain itu, langkah-langkah model pembelajaran PBL menurut (Shoimin, 2014) adalah

sebagai berikut:

a. Menjelaskan tujuan pembelajaran.

b. Memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yangdipilih.

c. Membantusiswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajaryang

berhuungan dengan masalah tersebut (menetapkan topic, tugas, jadwal dll).

d. Mendorong siswa mengumpulkan informasi yang sesuai, eksperimen untuk

mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, penngumpulan data, hipotesis dan

pemecahan masalah.

e. Membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan

mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.

D. Sikap Ilmiah

1. Pengertian Sikap Ilmiah

Sikap berkaitan dengan objek yang disertai dengan perasaan positif (favourable)

atau perasaan negatif (unfavorable). Sikap ilmiah adalah “scientific attitude”

(sikap keilmuan) atau suatu pola penyelesaian masalah secara rasional dan

objektif serta menghilangkan unsur subjektivitas dan melihat perkara secara


netral dengan mengandalkan pendapat-pendapat para pakar, yang dipercaya telah

melakukan penelitian, analisis dan melewati beberapa tahap kritik sehingga

kandungan kebenarannya telah diuji dan dipercaya.

Kurniadi (2001:28) dikutip dari pendapat Edward yang merumuskan perilaku

kreatif sikap ilmiah dari kata-kata ide (gagasan) sebagai berikut:

I : Imagination(imajinasi)

D : Data(Fakta)

E : Evaluation(evaluasi)

A : Action(tindakan)

Sikap merupakan tingkah laku yang bersifat umum yang menyebar tipis di seluruh

hal yang dilakukan siswa. Tetapi sikap juga merupakan salah satu yang

berpengaruh pada hasil belajar siswa. Sikap ilmiah dibedakan dari sekedar sikap

terhadap sains, karena sikap terhadap sains hanya terfokus pada apakah siswa suka atau tidak

suka terhadap pembelajaran sains. Tentu saja sikap positif

terhadap pembelajaran sains akan memberikan kontribusi tinggi dalam

pembentukan sikap ilmiah siswa.

Pengelompokan sikap ilmiah oleh para ahli cukup bervariasi, meskipun jika

ditelaah lebih jauh hampir tidak ada perbedaan yang berarti. Variasi muncul hanya

dalam penempatan dan penamaan sikap ilmiah yang ditonjolkan. Misalnya

American Association for Advancement of Science (AAAS) (1993:1),

memasukkan open minded (sikap terbuka) sebagai salah satu sikap ilmiah utama.

AAAS (1993:1) memberikan penekanan pada empat sikap yang perlu untuk

tingkat sekolah dasar yakni honesty (kejujuran), curiosity (keingintahuan), open

minded (keterbukaan), dan skepticism (ketidakpercayaan). Harlen (1996:1)


membuat pengelompokkan yang lebih lengkap. Secara singkat pengelompokkan

tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.2.

2. Manfaat Berpikir Kritis

Menurut Zubaidah (2016), memiliki keterampilan berpikir kritis itu sangatlah penting

karena keterampilah berpikir kritis dinyatakan sebagai salah satu modal dasar atau modal

intelektual yang paling penting bagi setiap orang dan merupakan bagian yang fundamental

dari kematangan manusia. Seseorang memiliki keterampilan berpikir kritis mampu

mengatur, menyesuaikan, mengubah, atau memperbaiki pikiranya sehingga ia dapat bertindak

lebih tepat, berpikir kritis mampu memilah mana yang baik untuk dilakukan dan mana yang

tidak (Rosyidah, 2015).

Berpikir kritis memungkinkan siswa untuk mempelajari masalah secara sistematis,

menghadapi berjita tantangan dengan cara yang terorganisasi, merumuskan pernyataan

inovatif, serta merancang solusi orisinil. Mereka akan terbiasa membedakan antara

kebenaran dan kebohongan, penampilan dan kenyataan, fakta dan opini, pengetahuan dan

keyakinan. Secacra alami mereka akan membangun argument dengan menggunakan bukti

yang dapat di percaya dan logika yang masuk akal, mereka akan terbiasa membangun

imajinatif antara hal-hal yang berbeda, melihat kemungkinan-kemungkinan tak terduga, dan

berpikir dengan cara baru mengenal masalah-masalah yang sudah lazim (Johnson, 2002).

Orang yang mamapu berpikir kritis adalah orang yang tidak begitu saja menerima atau

menolak sesuatu. Mereka akan mencermati, menganallisis, dan mengevaluasi informasi

sebelum menentukan apakah menerima atau menolak informasi. Jika belum memiliki cukup

pemahaman maka mereka juga mungkin menangguhkan keputusan mereka tentang informasi

itu (Susanto, 2013).

3. Indikator Berpikir Kritis


Ennis (1996) mengungkapkan bahwa ada 12 indikator berpikir kritis yang

dikelompokkan dalam lima besar aktivitas sebagai berikut:

a. Memberikan penjelasan sederhana yang berisi:

1) Memfokuskan pertanyaan.

2) Menganalisis pertanyaan dan bertanya.

3) Menjawab pertanyaan tentang suatu penjelasan atau pernyataan.

b. Membangun keterampilan dasar, yang terdiri dari:

1) Mempertimbangkan apakah sumber dapat dipercaya tau tidak.

2) Mengemaati serta mempertimbangkan suatu laporan hasil observasi.

c. Menyimpulkan yang terdiri dari:

1) Kegiatan mendeduksi atau mempertimbangkan hasil deduksi.

2) Menginduksi atau mempertimbangkan hasil induksi untuk sampai pada

kesimpulan.

d. Mengatur strategi dan teknik, yang terdiri dari:

1) Mengidentifikasi istilah-istilah dan definisi pertimbangan dan juga dimensi.

2) Mengidentifikasi asumsi.

e. Mengatur strategi dan teknik, yang terdiri dari:

1) Mnentukan tindakan.

2) Berinteraksi dengan orang lain.

Keterampilan berpikir kritis menurut Fisher (2008) mncakup Sembilan aspek, yaitu:

a. Mengidentifikasi elemen-elemen dalam kasus yang dipikirkan.

b. Mengeidentifikasi dan mengevaluasi asumsi-asumsi.

c. Mengklarifikasi dan menginterprstasi pertanyaan-pertanyaan dan gagasan-gagasan.

d. Menilai akseptabilitas khususnya kredibilitas dan klaim-klaim.

e. Mengevaluasi argument-argumen yang beragam jenisnya.


f. Meenganallisis, mengevaluasi dan membentuk keputusan-keputusan.

g. Menganalisis, mengevaluasi dan menghasilkan penjelasan.

h. Menarik inferensi-inferensi.

i. Menghasilkan argument-argumen.

Menurut Facione (2013), terdapat enam indicator dan enambelas sub indicator

berpikir kritis. indikator dan sub indikator tersebut dapat disajikan dalam tabel 2.2.

Tabel 2.2. Indikator berpikir kritis menurut Facione (2013)


No Indikator Definisi Sub Indikator
Menginterprestasi adalah memahami
dan mengekspresikan makna dari Mengkategorikan
berbagai macam pengalaman, situasi,
Interprestasi data, penilaian prosedur atau criteria.
1. Interprestasi mencakup sub kecakapan
(Interprestation) Menentukan kalimat
mengkategorikan, menyampaikan
signifikasi dan mengklarifikasi nama. Mengklarifikasi
makna
Menganalisis adalah mengidentifikasi Menguji ide
hubungan inferensial dan actual Mengidentifikasi
diantara pertanyaan-pertanyaan, argument
konsep-konsep dekkripsi untuk Menganalisi argument
Analisis mengekspresikan kepercayaan,
2.
(Anlysis) penilaian, dan pengalaman, informasi
dan opini. Analisis meliputi pengujian
data, pendeteksian argument,
menganalisis argument sebagai sub
kecapaian dari analisis.
Evaluasi berarti menaksir kredibilitas Penilaian klaim
pernyataan-pernyataan atau presentasi
yang merupakan laporan atau dekripsi
dar persepsi, pengalaman, dan menaksir
Evaluasi
3. kekuatan logis dari hubungan
(evaluation)
inferensial, deskripsi atau bentuk
presentasi lainya. Contoh evaluasi
adalah membandingkan kekuatan dan Penilaian argument
kelemahan dari interpretasi alternative.
4. Kesimpulan Inferenceberarti mengidentifikasi dan Mencari bukti
(inference) memperoleh unsure yang diperlukan
untuk membuat kesimpulan-
kesimpulan yang masuk akal, membuat Memilah alternative
dugaan dan hipotesis,
mempertimbangkan informasi yang
Menggambarkan
relevan dan menyimpulkan kesimpulan
Penjelasan/eksplanasi berarti mampu Menyatakan hasil
menyatakan hasil-hasil dari penalaran
Penjelasan Menentukan prosedur
5. seseorang, menjustifikasi penalaran
(Explanation) tersebut dari sisi konseptual,
metodologis, dan konstekstual. Mempresentasikan
argument
Regulasi diri berarti secara sadar diri Menguji diri
memantau kegiatan-kegiatan kognitif
seseorang, unsur-unsur yang
Pengendalian Diri
6. digunakan dalam hasil yang diperoleh,
(selfregulation)
terutama dengan menerapkan
kecakapan di dalam analisis dan valuasi Mengkoreksi diri
untuk penilaianya sendiri.
Sumber:Facione (2013)
Dari ketiga sumber indicator berpikir kritis di atas, peneliti memilih untuk mengacu

pada indicator kemampuan berpikir kritis dari Facione (2013) dengan mempertimbangkan isi

indicator ini lebih kompleks serta mewakili setiap indicator berpikir kritis ahli lainya

(Fithriyah, 2016). Serta banyhaknya penelitian yang menggunakan indicator Facione dalam

mengukur kemampuan berpikir kritis, antara lain Nawawi (2015) dalam penelitianya yang

dituangkan dalam tesis dengan judul Pengembangan Modul Berbasis Challenge Based

Learning Materi Lingkungan untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis.

You might also like