BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh
suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan baik dari diri sendiri maupun
lingkungannya. Melalui kegiatan belajar seseorang dapat memperoleh suatu kecakapan,
pengetahuan, dan keterampilan baru. Belajar dapat dilihat dari tiga aspek penting yaitu
kongnitif merupakan proses berpikir, afektif yaitu meliputi tujuan belajar berkenan dengan
minat, sikap, nilai, pengembangan, penghargaan serta penyesuaian diri, dan psikomotor atau
prilaku yang dimunculkan oleh hasil kerja fungsi tubuh manusia (Hakim, Karyanto, dan
Maridi, 2013).
Pembelajaran yang dilaksanakan dapat diketahui hasilnya dengan diadakan evaluasi
hasil belajar yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Evaluasi hasil belajar
bertujuan mengetahui kemajuan-kemajuan dan kelemahan siswa, guru, proses belajar
mengajar beserta sebab akibatnya, sehingga siswa dapat mengetahui langkah apa yang akan
diambil untukmeningkatkan hasil belajarnya. Dalam proses belajar mengajar dapat digunakan
banyak pendekatan pembelajaran. Agar diperoleh hasil yang optimal diperlukan pendekatan
yang tepat untuk mengajarkan suatu pengetahuan atau materi sehingga hasilnya sesuai
dengan yang diharapkan.
Pembelajaran yang dimualai dengan permasalahan difasilitasi melalui model Problem
Based Learning (PBL). PBL merupakan pembelajaran ytang diawali dengan adanya masalah
dan peserta didik dibelikan waktu untuk berpikir bersama mencari informasi dan menyusun
strategi pemecahan masalah (Aknoglu & Tandogan, 2007).
Pelaksanaan model pembelajaran PBL terdiri dari 5 tahap, yaitu: Tahap pertama,
adalah proses orientasi peserta didik pada masalah. Tahap kedua, mengorganisasikan peserta
didik. Tahap ketiga, membimbing kelompok. Tahap keempat, menggembangkan dan
menyajikan hasil. Tahap kelima yaitu menganalisis dan mengevaluasi proses dan hasil
pemecahan masalah (Triyuningsih, 2011).
Berdasarkan langkah-langkah model pembelajaran PBL, siswa dituntut untuk
mengumpulkan informasi dan memecahkan masalah yang diberikan oleh guru secara
berkelompok tetapi dalam pembelajaran ini pun sangat membutuhkan pendamping,
motivator, dam fasilitator, dan dalam hal ini yaitu guru. Pembelajaran dengan menggunakan
model pembelajaran PBL dapat memberikan pengalaman secara langsung kepada siswa
karena model PBL menfasilitasi siswa untuk bereksperimen, bekerjasama, dan memecahkan
masalah. Dengan demikian melalui pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran
PBL dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa (Nopia,2016).
Model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) merupakan salah satu model
pembelajaran inovatif yang dapat memberikan kondisi belajar aktif kepada siswa. PBL
adalah suatu model pembelajaran yang melibatkan siswa untuk memecahkan suatu masalah
melalui tahap-tahap metode ilmiah, sehingga siswa dapat mempelajari pengetahuan yang
berhubungan dengan masalah tersebut sekaligus memiliki keterampilan untuk memecahkan
masalah (Siswanto dan Ariani, 2014). Peneliti tertarik mengambil model pembelajaran
Problem Based Learning (PBL) karena model pembelajaran ini memiliki kelebihan. Berikut
beberapa keunggulan dari model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) menurut
Rizki Wulandari dalam siswanto (2014) :
a. Melatih siswa untuk berlatih menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
b. Merangsang kemampuan berpikir tingkat tinggi.
c. Suasana kondusif, terbuka, negosiasi, demokratis, suasana nyaman, dan
menyenangkan agar siswa dapat berpikir secara optimal.
d. Pemecahan masalah merupakan tekhnik yang cukup bagus untuk memahami isi
pelajaran.
e. Pemecahan masalah dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan
untuk menentukan pengetahuan baru bagi siswa.
f. Pemecahan masalah dapat meningkatkan aktifitas pembelajaran siswa.
g. Pemecahan masalah dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk
mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki di dunia nyata.
h. Pemecahan masalah dapat mengembangkan minat siswa untuk secara terus menerus
belajar.
Sikap ilmiah adalah sikap yang seharusnya dimliki oleh seorang peneliti, untuk dapat
melalui proses penelitian yang baik dan hasil yang baik pula. Peneliti tertarik mengambil
sikap ilmiah karena sikap ilmiah meluputi aspek rasa ingin tahu yaitu menyelidiki atau
keingin tahuan (couriosity) yang tinggi. Bagi seorang ilmuan hal yang dianggap biasa oleh
orang pada umumnya, hal itu merupakan hal penting dan layak untuk diselidiki. Apabila
menghadapi suatu masalah yang baru dikenalnya, maka peneliti berusaha mengetahuinya,
senang mengajukan pertanyaan tentang objek dan peristiwa, kebiasaan menggunakan indera
sebagai mungkin untuk menyelidiki suatu masalah, memperlihatkan gairah untuk meneliti
dan kesungguhan dalam menyelesaikan eksperimen dan aspek berpikir kritis yaitu sebuah
kemampuan yang dimiliki setiap orang untuk menganalisis idea atau gagasan kearah yang
lebih spesifik untuk mengejar pengetahuan yang relevan tentang dunia dengan melibatkan
evaluasi bukti. Kemampuan berpkir kritis sangat diperlukan untuk menganalisis suatu
permasalahan hingga pada tahap pencarian solusi untuk menyelesaikan permasalahan
tersebut.
Dari hasil wawancara peserta didik, ada beberapa hal yang dikeluhkan oleh peserta
didik salah satunya ialah mengenai materi pembelajaran biologi yang menurut mereka cukup
sulit untuk dipahami. Menurut mereka, materi sistem pencernaan pada manusia ialah materi
yang cukup sulit untuk dipelajari. Hal ini dibuktikan dari hasil soal sikap berpikir kritis yang
peneliti berikan ketika observasi pengambilan data awal, dimana mereka masih binggung
dengan proses sistem pencernaan pada manusia. Menurut siswa hal ini disebabkan karena
ketika proses belajar mereka hanya menerima informasi dari guru (teacher center) dan
mereka tidak diberikan kesempatan untuk mencari informasi yang relevan dengan cara
melakukan eksperimen.
Pada sekolah menengah pertama SMP Negeri 2 Belitang III guru masih menerapkan
metode cermah sehinga peneliti tertarik untuk mengenalkan dan menerapkan model
pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada materi sistem penceraan pada manusia.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis berkeinginan untuk melakukan
penelitian yang berjudul “Pengaruh Model Problem Based Learning (PBL) terhadap
Kemampuan Sikap Ilmiah Siswa pada Materi Pencemaran Lingkungan di SMPNegeri2
Belitang III”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka rumusan masalah dalam penelitian ini
adalah “Apakah Model Problem Based Learning (PBL) Berpengaruh terhadap Kemampuan
Sikap Ilmiah Siswa pada Materi Sistem Pencernaan Pada Manusia di SMP Negeri 2 Belitang
III?”
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penelitian ini
adalahuntukmengetahui Pengaruh Model Problem Based Learning (PBL) terhadap
Kemampuan Sikap Ilmiah Siswa pada Sistem Pencernaan Pada Manusia di SMP Negeri 2
Belitang III.
D. Hipotesis Penelitian
Adapun hipotesis dari rencana penelitian ini adalah sebagai berikut:
H0 : Tidak ada pengaruh penggunaan Model Pembelajaran Problem Basic
Learning (PBL) terhadap Kemampuan Sikap Ilmiah Siswa pada materi Sistem
Pencernaan Pada Manusia di SMP Negeri 2 Belitang III.
Ha : Ada Pengaruh penggunaan Model Pembelajaran Problem Basic Learning
(PBL) terhadap Kemampuan Sikap Ilmiah Siswa pada materi Sistem Pencernaan
Pada Manusia di SMP Negeri 2 Belitang III.
E. Kegunaan Penelitian
1. Bagi Peneliti
Menambah dan mengembangkan wawasan pengetahuan model pembelajaran Problem
Basic Learning (PBL) dalam pembelajaran biologi dan sebagai acuan perbandingan,
ataupun referensi bagi peneliti yang melakukan penelitian sejenis.
2. Bagi Guru
Sebagai informasi dalam meningkatkan kualitas mengajarnya dalam
menentukan pendekatan, metode dan model pengajaran yang tepat guna
sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik, serta memberikan
alternatif contoh, agar dapat mulai menggunakan Problem Based Learning
(PBL) pada materi Sistem Pencernaan Pada Manusia terhadap kemampuan berpikir kritis
siswa sebagai salah satu satu model pembelajaran.
3. Bagi Peseta Didik
Untuk meningkatkan kemampuan sikap ilmiah dan retensi sehingga hasil
belajar yang diperoleh dapat tercapai secara optimal, serta menumbuhkan kemampuan
siswa untuk saling membantu dan berlatih berinteraksi komunikasi-sosialisai antar sesama
teman.
F. Ruang Lingkup dan Batasan Penelitian
1. Ruang Lingkup
Objek pada rencana penelitian ini adalag siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Belitang III.
2. Batasan Penelitian
a. Dalam rencana penelitian ini difokuskan hanya melalui kemampuan sikap ilmiah
siswa yang dibatasi yaitu sikap kritis dan sikap rasa ingin tahu.
b. Soal test kemampuan sikap ilmiah siswa menggunakan materi Biologi kelas VIII
semester ganjil yakni materi Sistem Pencernaan Pada Manusia. Soal test
kemampuan ilmiah siswa terlampir.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Belajar dan Pembelajaran Biologi
1. Pengertian Belajar
Menurut Rizki Wulandari dalam Dimyati & Mudjiono (2002) belajar merupakan
proses internal yang kompleks, yang melibatkan seluruh mental yang meliputi ranah kognitif,
afektif dan psikomotorik. Belajar juga diartikan sebagai usaha sadar yang dilakukan manusia
shingga terjadi prubahan tingkah laku pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan
perubahan aspek-aspek lain sebagai akibat interaksi dengan lingkungan (Aminoto, 2014).
2. Pembelajaran Biologi
Pembelajaran merupakan pengembangan dari istilah belajar. Pembelajaran yang
diidentikkan dengan kata “mengajar” berasal dari kata dasar “ajar” yang berarti petunjuk
yang diberikan kepada orang supaya diketahui (diturut) ditambah dengan awalan “pe” dan
akhiran “an menjadi “pembelajaran”, yang berarti proses, perbuatan, cara mengajar atau
mengajarkan sehingga anak didik mau belajar.
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber
belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan
pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan
kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik.
Biologi merupakan salah satu cabang IPA yang memebahas tentang makhluk hidup.
Salah satu objek dan permasalahan dalam bidang biologi yaitu tingkat organisasi kehidupan
(Nurhayati, 2015). Pengertian biologi berdasarkan kata biologi itu sendiri yang terdiri dari
dua kata yaitu bio yang artinya makhluk hidup, dan logi atau logosyang artinya ilmu. Jadi
biologi pada dasarnya berarti ilmu tentang makhluk hidup. Sehingga biologi adalah kajian
tentang kehidupan, dan organisme hidup, termasuk struktur, fungsi, pertumbuhan, evolusi,
persebaran, dan taksonominya (Prawirohartono, 2007).
Sebagai Ilmu, biologi memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a. Memiliki objek kajian berupa benda-benda konkret, yaitu makhluk hidup.
b. Sebagai ilmu, biologi dikembangkan berdasarkan pengalaman empiris, yaitu pengalaman
yang dapat dilakukan setiap orang.
c. Menggunakan cara berpikir logis.
d. Sebagai ilmu, biologi dikaji menggunakan langkah-langkah sistematis dikenal dengan
metode ilmiah.
e. Hasil kajian bersifat objektif. Artinya hasil penelitian tidak dipengaruhi subyektifitas
peneliti, selalu memihak kebenaran ilmiah.
f. Hasil kajianya bersifat hukum universal, yaitu ketentuan yang berlaku umum diamanapun
dan oleh siapapun dilakukan hasilnya sama.
Pembelajaran biologi pada umumnya memiliki karakteristik keilmuan yang spesifik
yang berbeda dengan ilmu lainya. Sesuai dengan hakikat pembelajaran IPA yang mengacu
pada proses, produk dan sikap ilmiah, pembelajaran biologi idealnya mampu menyediakan
berbagai pengalaman belajar untuk memahami konsep dan proses sains. Keterampilan proses
ini meliputi keterampilan mengamati, mengajukan hipotesis, menggunakan alat dan bahan
secara baik dan benar dengan selalu mempertimbangkan keamanan dan keselamatan kerja,
mengajukan pertanyaan, menggolongkan dan menafsirkan data, serta mengkomunikasikan
hasil temuan secara lisan atau tertulis, menggali dan memilah informasi faktual yang relevan
untuk menguji gagasan-gagasan atau memecahkan masalah sehari-hari (Andarini, 2013).
B. Model Pembelajaran
Model pembelajaran merupakan suatu rencana, pola atau kerangka yang dapat
digunakan untuk merancang mekanisme suatu pembelajaran dari awal sampai akhir secara
sistematis dan memiliki tahapan-tahapan tertentu (Amrullah, 2016). Selain itu menurut
Trianto (2007) model pembelajaran adalah salah satu perencanaan atau pola yang digunakan
sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam
tutorial dan untuk menemukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk didalamnya
buku-buku, film, computer dan lain-lain.
C. Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
1. Sejarah Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
Donal Woods McMaster merupakan orang yang pertama kali memperkenalkan istilah
PBL. Universitas McMaster merupakan institusi kedokteran yang memperkenalkan PBL
dalam dunia pendidikan. Setelah itu model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based
Learning) baru muncul pada akhir abad ke-20, tepatnya dipopulerkan oleh Borrows dan
Tamblyn pada tahun 1980 dimana mereka merupakan staf pengajar di Institut Kedokteran
Universitas McMaster (Fitri, 2016).
2. Pengertian Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
Model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) merupakan salah satu model
pembelajaran inovatif yang dapat memberikan kondisi belajar aktif kepada siswa. PBL
adalah suatu model pembelajaran yang melibatkan siswa untuk memecahkan suatu masalah
melalui tahap-tahap metode ilmiah, sehingga siswa dapat mempelajari pengetahuan yang
berhubungan dengan masalah tersebut sekaligus memiliki keterampilan untuk memecahkan
masalah (Siswanto dan Ariani, 2014).
Menurut Amrullah (2016) model pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
merupakan pembelajaran yang menghadapkan siswa pada suatu permasalahan yang memiliki
konteks dengan dunia nyata. Dari masalah yang diberikan, siswa bekerja sama dalam
kelompok , mencoba untuk memecahkan suatu permasalahan dan sekaligus mencari
informasi-informasi baru yang relevan untuk solusinya. Selain itu, menurut Shoimin (2014)
model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) merupakan model pengajaran yang
mencirikan adanya permasalahan nyata sebagai konteks untuk para peserta didik belajar
berpikir kritis dan keterampilan memecahkan masalah serta memperoleh pengetahuan.
3. Karakteristik Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
Menurut Rizki Wulandari dalam Siswanto (2014) Model pembelajaran Problem Based
Learning (PBL) memiliki karakteristik sebagai berikut:
a. Belajar dimulai dengan suatu masalah.
b. Memastikan bahwa masalah yang diberikan berhubungan dengan dunia nyata siswa.
c. Mengorganisasikan pelajaran di seputar masalah, bukan di sekitar disiplin ilmu.
d. Memberikan tanggung jawab yang besar terhadap siswa dalam membentuk dan
menjalankan secara langsung proses belajar mereka sendiri.
e. Menggunakan kelompok kecil.
f. Menuntut siswa untuk mendemonstrasikan apa yang telah mereka pelajari dalam
bentuk suatu produk atau karya.
4. Kelebihan Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
Berikut beberapa keunggulan dari model pembelajaran Problem Based Learning
(PBL) menurut Rizki Wulandari dalam siswanto (2014) :
i. Melatih siswa untuk berlatih menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
j. Merangsang kemampuan berpikir tingkat tinggi.
k. Suasana kondusif, terbuka, negosiasi, demokratis, suasana nyaman, dan
menyenangkan agar siswa dapat berpikir secara optimal.
l. Pemecahan masalah merupakan tekhnik yang cukup bagus untuk memahami isi
pelajaran.
m. Pemecahan masalah dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan
untuk menentukan pengetahuan baru bagi siswa.
n. Pemecahan masalah dapat meningkatkan aktifitas pembelajaran siswa.
o. Pemecahan masalah dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk
mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki di dunia nyata.
p. Pemecahan masalah dapat mengembangkan minat siswa untuk secara terus menerus
belajar.
Kemudian menurut Ehlert (2004) yang dikutip oleh Wardani (2015) menyatakan
beberapa keunggulan darimodel pembelajaran Problem Basic Learning (PBL) yaitu sebagai
berikut :
a. Meneydiakan kesempatan pada siswa untuk melakukan penelitian.
b. Membangun kemampuan berpikir kritis.
c. Mengenal konten materi subyek dengan membangun tujuan sesuai dengan konsep.
d. Memberdayakan siswa menjadi seorang ahli dalam bidang studi tertentu
memungkinkan siswa menghasilkan lebih dari satu bentuk solusi.
Selain itu kelebihan model pembelajaran Problem Basic Learning (PBL) menurut
(Shoimin, 2014) adalah sebagai berikut :
a. Siswa terdorong untuk memiliki kemampuan memecahkan masalah dlaam situasi
nyata.
b. Siswa memiliki kemampuan membangun pengetahuanya sendiri melalui aktifitas
belajar.
c. Siswa terbiasa menggunakan sumber-sumber pengetahuan baik dari perpustakaan,
internet, wawancara dan observasi.
d. Siswa memiliki kemampuan untuk melakukan komunikasi ilmiah dalam kegiatan
diskusi atau presentasi hasil pekerjaan mereka.
5. Kelemahan Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
Selain memiliki keunggulan, model pembelajaran Problem Basic Learning(PBL) juga
memiliki kelemahan. Berikut beberapa kelemahan model pembelajaran model Problem
Basic Learning (PBL) menurut Rizki Wulandari dalam Siswanto dan Ariani,( 2014) :
a. Sulitnya membentuk watak siswa dan pembiasaan tingkah laku.
b. Ketika siswa tidak memiliki minat, atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa
masalah yang dipelajari sulit dipecahkan, maka mereka akan enggan untuk mencoba.
c. Keberhasilan strategi pembelajaran melalui model pembelajaran berbasis masalah
membutuhkan cukup waktu untuk persiapan.
6. Langkah-langkah Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
Penerapan model pembelajaran berbasis masalah terdiri atas lima langkah utama yang
dimulai dengan guru memperkenalkan siswa dengan situasi masalah dan diakhiri dengan
penyajian dan analisis hasil kerja siswa. Berikut pada tabel 2.1 dapat dilihat sintaks dari
model pembelajaran Problem Basic Learning(PBL) :
Tabel 2.1 Sintaks Model Pembelajaran Problem Basic Learning (PBL)
Tahap Kegiatan Guru
Tahap 1 Guru menjelaskan tujuan pembelajaran,
Orientasi siswa terhadap masalah menjelaskan logistic yang dibutuhkan,
memotivasi siswa agar terlibat pada aktivitas
pemecahan masalah.
Tahap 2 Guru membantu siswa mendefinisikan dan
Mengorganisasi siswa dalam belajar mengorganisasikan tugas belajar yang
berhubungan dengan masalah yang tersebut.
Tahap 3 Guru mendrong siswa untuk mengumpulkan
Membimbing penyelidikan Individu informasi yang sesuai, melaksanakan
maupun Kelompok eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan
pemecahan masalahnya.
Tahap 4 Guru membantu siswa merencanakan dan
Mengembangkan dan menyajikan hasil menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan,
karya dan video serta membantu siswa berbagi tugas
dengan temanya.
Tahap 5 Guru membantu siswa melakukan refleksi atau
Menganalisis dan mengevaluasi proses evaluasi terhadap penyelidikan dan proses yang
pemecahan masalah mereka gunakan.
(Sumber: Triyuningsih, 2011)
Kemudian menurut Rizki Wulandari dalam siswanto (2014), langkah-langkah model
pembelajaran Problem Based Learning (PBL) ialah sebagai berikut:
a. Membagi siswa dalam beberapa kelompok.
b. Member sedikit ulasan tentang materi.
c. Member tugas observasi untuk memperhatikan lingkungan sekitar.
d. Penyampaian ide.
e. Penyajian fakta yang diketahui.
Selain itu, langkah-langkah model pembelajaran PBL menurut (Shoimin, 2014) adalah
sebagai berikut:
a. Menjelaskan tujuan pembelajaran.
b. Memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yangdipilih.
c. Membantusiswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajaryang
berhuungan dengan masalah tersebut (menetapkan topic, tugas, jadwal dll).
d. Mendorong siswa mengumpulkan informasi yang sesuai, eksperimen untuk
mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, penngumpulan data, hipotesis dan
pemecahan masalah.
e. Membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan
mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.
D. Sikap Ilmiah
1. Pengertian Sikap Ilmiah
Sikap berkaitan dengan objek yang disertai dengan perasaan positif (favourable)
atau perasaan negatif (unfavorable). Sikap ilmiah adalah “scientific attitude”
(sikap keilmuan) atau suatu pola penyelesaian masalah secara rasional dan
objektif serta menghilangkan unsur subjektivitas dan melihat perkara secara
netral dengan mengandalkan pendapat-pendapat para pakar, yang dipercaya telah
melakukan penelitian, analisis dan melewati beberapa tahap kritik sehingga
kandungan kebenarannya telah diuji dan dipercaya.
Kurniadi (2001:28) dikutip dari pendapat Edward yang merumuskan perilaku
kreatif sikap ilmiah dari kata-kata ide (gagasan) sebagai berikut:
I : Imagination(imajinasi)
D : Data(Fakta)
E : Evaluation(evaluasi)
A : Action(tindakan)
Sikap merupakan tingkah laku yang bersifat umum yang menyebar tipis di seluruh
hal yang dilakukan siswa. Tetapi sikap juga merupakan salah satu yang
berpengaruh pada hasil belajar siswa. Sikap ilmiah dibedakan dari sekedar sikap
terhadap sains, karena sikap terhadap sains hanya terfokus pada apakah siswa suka atau tidak
suka terhadap pembelajaran sains. Tentu saja sikap positif
terhadap pembelajaran sains akan memberikan kontribusi tinggi dalam
pembentukan sikap ilmiah siswa.
Pengelompokan sikap ilmiah oleh para ahli cukup bervariasi, meskipun jika
ditelaah lebih jauh hampir tidak ada perbedaan yang berarti. Variasi muncul hanya
dalam penempatan dan penamaan sikap ilmiah yang ditonjolkan. Misalnya
American Association for Advancement of Science (AAAS) (1993:1),
memasukkan open minded (sikap terbuka) sebagai salah satu sikap ilmiah utama.
AAAS (1993:1) memberikan penekanan pada empat sikap yang perlu untuk
tingkat sekolah dasar yakni honesty (kejujuran), curiosity (keingintahuan), open
minded (keterbukaan), dan skepticism (ketidakpercayaan). Harlen (1996:1)
membuat pengelompokkan yang lebih lengkap. Secara singkat pengelompokkan
tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.2.
2. Manfaat Berpikir Kritis
Menurut Zubaidah (2016), memiliki keterampilan berpikir kritis itu sangatlah penting
karena keterampilah berpikir kritis dinyatakan sebagai salah satu modal dasar atau modal
intelektual yang paling penting bagi setiap orang dan merupakan bagian yang fundamental
dari kematangan manusia. Seseorang memiliki keterampilan berpikir kritis mampu
mengatur, menyesuaikan, mengubah, atau memperbaiki pikiranya sehingga ia dapat bertindak
lebih tepat, berpikir kritis mampu memilah mana yang baik untuk dilakukan dan mana yang
tidak (Rosyidah, 2015).
Berpikir kritis memungkinkan siswa untuk mempelajari masalah secara sistematis,
menghadapi berjita tantangan dengan cara yang terorganisasi, merumuskan pernyataan
inovatif, serta merancang solusi orisinil. Mereka akan terbiasa membedakan antara
kebenaran dan kebohongan, penampilan dan kenyataan, fakta dan opini, pengetahuan dan
keyakinan. Secacra alami mereka akan membangun argument dengan menggunakan bukti
yang dapat di percaya dan logika yang masuk akal, mereka akan terbiasa membangun
imajinatif antara hal-hal yang berbeda, melihat kemungkinan-kemungkinan tak terduga, dan
berpikir dengan cara baru mengenal masalah-masalah yang sudah lazim (Johnson, 2002).
Orang yang mamapu berpikir kritis adalah orang yang tidak begitu saja menerima atau
menolak sesuatu. Mereka akan mencermati, menganallisis, dan mengevaluasi informasi
sebelum menentukan apakah menerima atau menolak informasi. Jika belum memiliki cukup
pemahaman maka mereka juga mungkin menangguhkan keputusan mereka tentang informasi
itu (Susanto, 2013).
3. Indikator Berpikir Kritis
Ennis (1996) mengungkapkan bahwa ada 12 indikator berpikir kritis yang
dikelompokkan dalam lima besar aktivitas sebagai berikut:
a. Memberikan penjelasan sederhana yang berisi:
1) Memfokuskan pertanyaan.
2) Menganalisis pertanyaan dan bertanya.
3) Menjawab pertanyaan tentang suatu penjelasan atau pernyataan.
b. Membangun keterampilan dasar, yang terdiri dari:
1) Mempertimbangkan apakah sumber dapat dipercaya tau tidak.
2) Mengemaati serta mempertimbangkan suatu laporan hasil observasi.
c. Menyimpulkan yang terdiri dari:
1) Kegiatan mendeduksi atau mempertimbangkan hasil deduksi.
2) Menginduksi atau mempertimbangkan hasil induksi untuk sampai pada
kesimpulan.
d. Mengatur strategi dan teknik, yang terdiri dari:
1) Mengidentifikasi istilah-istilah dan definisi pertimbangan dan juga dimensi.
2) Mengidentifikasi asumsi.
e. Mengatur strategi dan teknik, yang terdiri dari:
1) Mnentukan tindakan.
2) Berinteraksi dengan orang lain.
Keterampilan berpikir kritis menurut Fisher (2008) mncakup Sembilan aspek, yaitu:
a. Mengidentifikasi elemen-elemen dalam kasus yang dipikirkan.
b. Mengeidentifikasi dan mengevaluasi asumsi-asumsi.
c. Mengklarifikasi dan menginterprstasi pertanyaan-pertanyaan dan gagasan-gagasan.
d. Menilai akseptabilitas khususnya kredibilitas dan klaim-klaim.
e. Mengevaluasi argument-argumen yang beragam jenisnya.
f. Meenganallisis, mengevaluasi dan membentuk keputusan-keputusan.
g. Menganalisis, mengevaluasi dan menghasilkan penjelasan.
h. Menarik inferensi-inferensi.
i. Menghasilkan argument-argumen.
Menurut Facione (2013), terdapat enam indicator dan enambelas sub indicator
berpikir kritis. indikator dan sub indikator tersebut dapat disajikan dalam tabel 2.2.
Tabel 2.2. Indikator berpikir kritis menurut Facione (2013)
No Indikator Definisi Sub Indikator
Menginterprestasi adalah memahami
dan mengekspresikan makna dari Mengkategorikan
berbagai macam pengalaman, situasi,
Interprestasi data, penilaian prosedur atau criteria.
1. Interprestasi mencakup sub kecakapan
(Interprestation) Menentukan kalimat
mengkategorikan, menyampaikan
signifikasi dan mengklarifikasi nama. Mengklarifikasi
makna
Menganalisis adalah mengidentifikasi Menguji ide
hubungan inferensial dan actual Mengidentifikasi
diantara pertanyaan-pertanyaan, argument
konsep-konsep dekkripsi untuk Menganalisi argument
Analisis mengekspresikan kepercayaan,
2.
(Anlysis) penilaian, dan pengalaman, informasi
dan opini. Analisis meliputi pengujian
data, pendeteksian argument,
menganalisis argument sebagai sub
kecapaian dari analisis.
Evaluasi berarti menaksir kredibilitas Penilaian klaim
pernyataan-pernyataan atau presentasi
yang merupakan laporan atau dekripsi
dar persepsi, pengalaman, dan menaksir
Evaluasi
3. kekuatan logis dari hubungan
(evaluation)
inferensial, deskripsi atau bentuk
presentasi lainya. Contoh evaluasi
adalah membandingkan kekuatan dan Penilaian argument
kelemahan dari interpretasi alternative.
4. Kesimpulan Inferenceberarti mengidentifikasi dan Mencari bukti
(inference) memperoleh unsure yang diperlukan
untuk membuat kesimpulan-
kesimpulan yang masuk akal, membuat Memilah alternative
dugaan dan hipotesis,
mempertimbangkan informasi yang
Menggambarkan
relevan dan menyimpulkan kesimpulan
Penjelasan/eksplanasi berarti mampu Menyatakan hasil
menyatakan hasil-hasil dari penalaran
Penjelasan Menentukan prosedur
5. seseorang, menjustifikasi penalaran
(Explanation) tersebut dari sisi konseptual,
metodologis, dan konstekstual. Mempresentasikan
argument
Regulasi diri berarti secara sadar diri Menguji diri
memantau kegiatan-kegiatan kognitif
seseorang, unsur-unsur yang
Pengendalian Diri
6. digunakan dalam hasil yang diperoleh,
(selfregulation)
terutama dengan menerapkan
kecakapan di dalam analisis dan valuasi Mengkoreksi diri
untuk penilaianya sendiri.
Sumber:Facione (2013)
Dari ketiga sumber indicator berpikir kritis di atas, peneliti memilih untuk mengacu
pada indicator kemampuan berpikir kritis dari Facione (2013) dengan mempertimbangkan isi
indicator ini lebih kompleks serta mewakili setiap indicator berpikir kritis ahli lainya
(Fithriyah, 2016). Serta banyhaknya penelitian yang menggunakan indicator Facione dalam
mengukur kemampuan berpikir kritis, antara lain Nawawi (2015) dalam penelitianya yang
dituangkan dalam tesis dengan judul Pengembangan Modul Berbasis Challenge Based
Learning Materi Lingkungan untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis.