Jurnal Penelitian
Jurnal Penelitian
Application of Guided Inquiry Learning Model Assisted Concept Map in Salt Hydrolysis
Material for Students of Class XI SMAN 5 Model Palu
Abstract
One of the problems in the world of education is the weakness of the learning process. The
weakness of this process gives a bad influence on students’ learning outcomes in each subject that is
taught in school, including chemistry subjects, especially salt hydrolysis material. This research was
carried out in SMA Negeri 5 Model Palu with the aim of this study, to determine the effect of applying
a guided inquiry learning model assisted concept maps of students’ learning outcomes in salt
hydrolysis material. The population in this study was students in class XI the academic
year2018/2019. The research sample wasstudents class XI IPA 2 as an experimental class (using the
Guided Inquiry learning model) with 26 students and class XI IPA 3 as a control class (learning using
Discovery Learning) with 33 students. Data collection was carried out by using the instrument of
chemical learning test in the salt hydrolysis material that has been validated before. The testing of
research data used two-party t-test statistical analysis with prerequisite tests, namely the normality
and homogeneity tests. The results of statistical analysis, it was obtained that the average score of the
final learning test in the experimental class was 65.58 and the control class was 56.06. The
parametric statistics obtained was 3.371 and Sig. (2-tailed) = 0.001, whereas T table was 2.002 with a
significance level of ɑ = 0.05 and degrees of freedom (DK) = 57. The values were greater (3.371>
2.002), therefore H1was accepted and H0was rejected. Where the H1was the students’ learning
outcomes of salt hydrolysis material in class XI IPA 2 was higher than class XI IPA 3. So it can be
concluded that there are differences in the learning outcomes of salt hydrolysis material between class
XI IPA 2 with class XI IPA 3. Where the average score the final test of class XI IPA 2 class was higher
than the class XI IPA 3.
1
Moh. Rizal S. L Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri ..……………………...
Peningkatan kualitas pembelajaran dapat diharapkan akan tercapai dengan baik, sebab
dilakukan melalui perbaikan proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran yang
sebab pembelajaran di kelas adalah inti kegiatan tepat akan dapat meningkatkan efektivitas
yang menjadi tolak ukur keberhasilan pendidikan pembelajaran di kelas (Suyanti, 2010).
(Ismail dkk., 2013). Permasalahan di dunia Pembelajaran kimia di sekolah diharapkan dapat
pendidikan menjadi perhatian serius bagi bangsa membuat siswa tertarik untuk belajar, merasa
Indonesia mengingat betapa pentingnya peranan senang dan lebih aktif dalam proses belajar
pendidikan dalam kemajuan bangsa, oleh sebab mengajar, serta siswa dapat mencapai hasil
itu pemerintah berusaha untuk melakukan pembelajaran yang maksimal (Priyantika &
perbaikan dan pembaharuan secara kontinu dan Hidayah, 2014).
terus menerus untuk membentuk sistem Berdasarkan hasil observasi dan
pendidikan (Rahayuningsih dkk., 2012). Masalah pengamatan di sekolah SMAN 5 Model Palu
yang dihadapi dunia pendidikan di Indonesia telah menerapkan kurikulum 2013. Dengan
adalah masalah yang berhubungan dengan mutu model pembelajan dipakai di dalam kelas oleh
atau kualitas pendidikan yang masih rendah seorang guru kimia di kelas XI MIPA, yaitu
(Rejeki dkk., 2013). model pembelajaran discovery learning dengan
Banyak upaya yang dilakukan oleh berbantuan multimedia. Dan di dalamnya model
pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan ini guru juga menggunakan metode tanya jawab,
seiring sebagai akibat dari tuntutan kemajuan namun kadang-kadang pula menggunakan
teknologi. Salah satunya adalah melakukan metode praktikum pada materi tertentu seperti
perbaikan terhadap kurikulum. Sebagai contoh pada mata pelajaran hidrokarbon, minyak bumi,
kurikulum 2013 diterapkan sebagai transisi dan hidrolisis garam, termokimia dll. pada kelas XI
perbaikan dari Kurikulum Tingkat Satuan MIPA. Siswa-siswi di dalam kelas kadang
Pendidkan (KTSP). Kemendikbud dalam ditinggal oleh gurunya saat tutorial multimedia
(Carnawi dkk., 2017). Kurikulum 2013 memiliki ditontonkan alhasil sebagian siswa ada yang
beberapa aspek, termasuk sikap, pengetahuan, bermain-main dan tidak menonton tutorial
dan keterampilan. penjelasan materi dari aplikasi multimedia
Kurikulum 2013 merupakan kurikulum tersebut. Hal ini akan berdampak buruk bagi hasil
yang menitikberatkan penilaian siswa pada tiga belajar siswa nantinya. (Novilia dkk., 2016).
hal: Sikap (jujur, santun, disiplin), keterampilan Mengatakan bahwa hasil belajar adalah hasil
(melalui tugas praktek/ proyek sekolah) dan yang diperoleh siswa ketika mereka telah melalui
pengetahuan yang ketiganya merupakan tolak proses belajar.
ukur penilaian prestasi belajar siswa (Fatonah Berdasarkan data hasil belajar tidak sedikit
dkk., 2016). Dalam pelaksanaannya ada beberapa siswa memiliki nilai yang rendah (tidak tuntas)
model pembelajaran yang direkomendasikan pada materi hidrolisis garam. Nilai yang rendah
untuk diterapkan saat kegiatan belajar mengajar ini disebabkan oleh karakteristik materi yang
diantanya inkuiri, pembelajaran berbasis sebagian besar bersifat abstrak sebab konsep-
masalah, pembelajaran berbasis proyek dan konsep hidrolisis perlu dibuktikan melalui
pembelajaran discovery. Kegiatan pembelajaran percobaan, diantaranya menentukan sifat-sifat
dari model-model ini berpusat pada siswa suatu garam dan juga bagaimana menentukan
sehingga siswa cenderung aktif dibanding tingkat keasaman suatu garam. Kesulitan dalam
gurunya. mempelajari materi kimia mengakibatkan banyak
Perencanaan pembelajaran yang kreatif siswa memiliki nilai yang rendah atau berada di
dapat meningkatkan minat belajar siswa terhadap bawah Ketuntasan Belajar Minimal (KBM),
materi apapun baik materi yang bersifat hitungan dengan standar nilainya yaitu 80. Dimana
atau bukan perhitungan. Oleh karena itu persentase jumlah siswa yang memiliki nilai
pembelajaran perlu didesain sedemikian rupa, akhir pada materi hidrolisis garam di bawah
agar dapat menarik perhatian siswa untuk belajar. KBM yaitu sekitar 40% dari 30 siswa pada tahun
Sebab banyak sekali mata pelajaran yang sukar ajaran 2017/2018.
dan bersifat abstrak dan membutuhkan Hidrolisis garam termasuk materi yang
pemahaman konsep yang tinggi. Sehingga sulit terhadap materi-materi yang lain di kelas XI.
membuat siswa tidak menyukai materi tersebut. Hal ini disebabkan karena materi ini merupakan
Salah satu mata pelajaran yang bersifat abstrak materi yang bersifat hitungan serta materi ini juga
adalah ilmu kimia. Untuk menjadikan materi memerlukan percobaan-percobaan untuk
kimia lebih menarik, maka guru harus mampu membuktikan teori-teori yang ada. Jadi, dalam
mengambil kebijakan dengan perbaikan model proses pembelajaran seharusnya melakukan
pembelajaran sehingga kompetensi belajar yang kegiatan praktikum. Menurut (Pertiwi dkk.,
2
Moh. Rizal S. L Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri ..……………………...
3
Moh. Rizal S. L Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri ..……………………...
instrumen penelitian untuk memenuhi validitas dihubungkan hasil perhitungan N-Gain persen
dan reabilitasnya. Data hasil penelitian dianalisis rata-rata yang diperoleh, ternyata untuk kelas
dengan menggunakan metode analisis statistik eksperimen “model pembelajaran inkuiri
inferensial.Pengumpulan data dilakukan dengan terbimbing berbantuan peta konsep “itu masih
menggunakan instrumen tes hasil belajar kimia kurang efektif. Sedangkan, bila dibandingkan
pada materi hidrolisis garam yang telah di dengan “model pembelajaran discovery” yang
validasi terlebih dahulu. Pengujian data hasil diterapkan pada kelas kontrol kategori nilai
penelitian menggunakan analisis statistik uji-t persentasinya itu tidak efektif.
dua pihak dengan uji prasyarat yaitu uji Pengujian normalitas data hasil belajar
normalitas dan uji homogenitas. siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol,
. diperoleh menggunakan “uji normalitas
kolmogorov smirnov”. Pada uji normalitas
Hasil dan Pembahasan menggunakan persamaan kolmogorov smirnov
Berdasarkan penelitian yang dilakukan, dengan data di atas. Nilai signifikansi hitung
diperoleh data deskriptif dari dua kelas yaitu pada kelas kontrol = 0,133 sedang pada kelas
kelas XI MIPA 2 sebagai kelas eksperimen dan eksperimen = 0. Setelah dibandingkan dengan
kelas XI MIPA 3 sebagai kelas kontrol. Data nilai signifikansi 0,05, yang berdistribusi normal
hasil belajar dari kedua kelas ini dianalisis hanyalah nilai signifikansi kelas kontrol saja
menggunakan aplikasi SPSS (Statistical Product sedangkan kelas eksperimen tidak berdistribusi
and Service Solutions) versi 20. Berikut disajikan normal . Oleh sebab itu agar data normal, maka
dalam tabel-tabel di bawah ini.Tabel berikut data perlu diplotkan untuk mendapatkan
melihatkan perbandingan rata-rata hasil pretest histogram yang normal. Sehingga memperoleh
dan posttest antara kelas eksperimen dan kelas data transformasi. Data transformasi ini dianalisis
kontrol. lebih lanjut menggunakan uji One-Sample
Tabel 2. Data deskriptif kelas eksperimen dan Kolmogorov-Smirnov Test.
kelas kontrol Berdasarkan hasil analisis One-Sample
Kolmogorov-Smirnov Test telah, diperoleh nilai
Descriptive Statistics signifikansi 0,127. Seperti yang ditunjukkan
Std. dalam tabel nilai Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar
Minimu Maximu
N Mean Deviatio 0,127 dari data yang telah dikalkulasikan. Jadi,
m m
n
0,127 > 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa
Pre-Test
26 10 45 24,81 10,147 data kalkulasi hasil belajar siswa yang
Eksperimen
Post-Test
ditransformasi telah berdistribusi normal.
26 40 80 65,58 11,430 Hasil pengujian kesamaan dua varians dari
Eksperimen
Pre-Test data hasil belajar siswa antara kelas eksperimen
33 10 45 31,36 10,479 dan kelas kontrol diperolehinterpretasi datanya
Kontrol
Post-Test yang dibandingkan dengan nilai signifikansi 0,05,
33 35 75 56,06 10,213 yaitu diperoleh nilai signifikansi hitung sebesar
Kontrol
Valid N 0,580. Jadi, angka siginifikansi yang didapatkan
26
(listwise) 0,580 > 0,05, maka variansi tiap kelompok sama
(homogen).
Berdasarkan tabel deskriptif pre test dan Pengujian hipotesis, yaitu menggunakan
post test hasil belajar materi hidrolisis garam analisis data independent T-test. Hasil
kelas eksperimen dan kelas kontrol di atas, perhitungan uji “t” statistik independen T-tes
memperlihatkan bahwa nilai rata-rata pre-test dengan menggunakan aplikasi SPSS versi 20.
kelas eksperimen = 24,81, kelas kontrol = 31,36. Diperoleh nilai 𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 untuk statistik parametrik
Berdasarkan data tersebut nilai pre-test rata-rata sebesar = 3,371 dan nilai Sig. (2-tailed)= 0,001.
kelas kontrol masih lebih tinggi dibandingkan Sedangkan 𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 = 2,002 dengan taraf
dengan kelas eksperimen. Sedangkan nilai post- signifikansi ɑ = 0,05 dan derajat kebebasan (DK)
test rata-rata kelas eksperimen = 65,58 dan kelas = 57. Nilai 𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 lebih besar dari 𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 (3,371
kontrol = 56,06, sehingga nilai post-test rata-rata >2,002) maka H1 diterima dan H0 ditolak.
yang lebih tinggi adalah kelas eksperimen. Dimana rumusan H1 yaitu, hasil belajar siswa
Hasil perhitungan lain menunjukkan N- materi hidrolisis garam kelas XI MIPA 2 lebih
Gain persen rata-rata (mean) kelas eksperimen tinggi dibandingkan kelas XI MIPA 3. Keputusan
besarnya 53,48% sedangkan kelas kontrol adalah lain dapat diambil dengan membandingkan nilai
36,58%. Berdasarkan referensi tentang persentasi Sig. (2-tailed) 0,001 < 0,05. Dimana terdapat
kategori efektifitas model pembelajaran dan
4
Moh. Rizal S. L Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri ..……………………...
perbedaan yang signifikan antara hasil belajar peneliti kesehatan, pemerintah, peneliti
kelas XI IPA 2 terhadap kelas XI IPA 3. pendidikan, organisasi pemasaran dan lain-lain.
Penelitian ini meliputi proses kegiatan Hasil belajar siswa merupakan salah satu
belajar mengajar dan hasil belajar. Mulai dari aspek ketercapaian dalam penelitian yang
perancangan pelaksanaan pembelajaran sampai dilakukan. Dengan hasil belajar siswa ini pula
pada tes akhir belajar. Pada penelitian ini kelas dapat menentukan siapa diantara mereka yang
XI MIPA 2 merupakan kelas eksperimen dengan tuntas dan tidak. Sehingga akan berpengaruh
menggunakan “model pembelajaran inkuiri pada kenaikan kelas siswa. Sebab setiap nilai
terbimbing berbatuan peta konsep“ dan XI hasil belajar dalam pokok bahasan tertentu, akan
MIPA3 yang merupakan kelas kontrol dengan diakumulasikan menghasilkan nilai akhir dalam
menggunakan model pembelajaran mata pelajaran tertentu. Berdasarkan hasil tes
discoverylearning di SMA Negeri 5 ModelPalu. pilihan ganda yang diberikan setelah kegiatan
Hasil penelitian diperoleh dari hasil belajar siswa belajar mengajar secara keseluruhan untuk materi
berdasarkan model pembelajaran yang telah hidrolisis garam (Postest). Data hasil belajar
diterapkan terhadap kelas yang dipilih dengan diperoleh dari 59 siswa yang terdiri dari 33 siswa
teknik purposive. kelas XI MIPA 3 sebagai kelas kontrol dan 26
Instrumen penelitian yang dipakaipada siswa Kelas XI MIPA sebagai kelas eksperimen.
penelitian ini yakni tes hasil belajar kimia materi Tes kemampuan awal siswa dilakukan
hidrolisis garam. Instrumen tes hasil belajar ini untuk menentukan kemampuan awal siswa kelas
berupa tes pilihan ganda (multiple choice) yang eksperimen maupun kelas kontrol sebelum
digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa dilaksanakan pembelajaran dengan materi
kelas XI MIPA SMA Negeri 5 Model Palu. hidrolisis garam. Sedangkan tes akhir bertujuan
Instrumen tes ini sebelum dicobakan pada siswa menentukan kemampuan akhir ketika telah diberi
untuk mengukur hasil belajar,divalidasi terlebih perlakuan. Hasil tes kemampan awal dikelas
dahulu. Validasi instrumen penelitian ini eksperimen dan kelas kontrol diperoleh nilai pre
dilakukan secara empiris yaitu diujicobakan di test rata-rata kelas eksperimn = 24,81 dan nilai
sekolah yang sama pada kelas XII MIPA 1. post test rata-ratanya = 65,58. Sedangkan untuk
Dimana bila, ingin memvalidasi soal secara kelas eksperimen, nilai pre test rata-rata = 31,36
empiris maka, siswa yang dites harus telah dan nilai post test rata-rata = 56,06. Nilai rata-
mempelajari materi tersebut. Dalam hal ini materi rata pretest dikelas eksperimen lebih rendah
hidrolisis garam. Kemudian diuji cobakan kepada dibandingkan dengan nilai rata-rata pretest
24 siswa kelas XII MIPA SMA Negeri 5 Model dikelas kontrol. Berdasarkan data tersebut maka
Palu yang telah mempelajari materi hidrolisis dapat diketahui bahwa kemampuan awal yang
garam. Setelah itu, hasil uji coba instrumen dimiliki oleh siswa kelas kontrol lebih unggul
dianalisis menggunakan aplikasi AnatesV4, dari pada kelas eksperimen. Akan tetapi bila
dengan tujuan untuk mengetahui validitas, dibandingkan nilai post test rata-ratanya, maka
reliabilitas, tingkat kesukaran dan daya pembeda kelas eksperimenlah yang lebih unggul.
setiap butir soal instrumen. Berdasarkan data deskriptif di atas dapat
Hasil analisis instrumen menggunakan pula menentukan efektifitas model pembelajaran
aplikasi AnatesV4 yang diperoleh dari 25 butir yang lebih unggul. Perhitungan menunjukkan N-
soal diperoleh 20 butir soal yang valid. Setelah Gain persen rata-rata (mean) kelas eksperimen
itu,20 butir soal yang tersisa ini digunakan besarnya 53,48% sedangkan kelas kontrol adalah
sebagai tes baku untuk mengukur hasil belajar 36,58%. Berdasarkan referensi tentang persentasi
siswa di kelas XI MIPA SMA Negeri 5 Model kategori efektifitas model pembelajaran dan
Palu. Berdasarkan hasil analisis soal tersebut dihubungkan hasil perhitungan N-Gain persen
diperoleh nilai reliabilitas tes secara keseluruhan rata-rata yang diperoleh, ternyata untuk kelas
yaitu sebesar 0,75 soal ini realible sebab eksperimen “model pembelajaran inkuiri
memenuhi kriteria. Dimana reliabilitas suatu tes terbimbing berbantuan peta konsep“itu masih
dikatakan reliable jika, nilai reliabilitas tes berada kurang efektif. Sedangkan, bila dibandingkan
pada rentang R = 0,41 – 1,00. dengan “model pembelajaran discovery” yang
Data statistik hasil belajar siswa baik, diterapkan pada kelas kontrol kategori nilai
deskriptif maupun inferensial dianalisis persentasinya itu tidak efektif. Dengan demikian
menggunakan program perangkat lunak SPSS model pembelajaran inkuiri terbimbing ini yang
versi 20. Aplikasi ini merupakan salah satu berbantuan peta konsep masih lebih unggul/baik
program aplikasi yang paling banyak digunakan diterapkan dibandingkan model discovery
untuk analisis statistik dalam ilmu sosial. Hal ini learning. Hal ini juga sejalan dengan penelitian
digunakan oleh peneliti pasar, perusahaan survei, dari (Bahriah dkk., 2014). Menyatakan bahwa,
5
Moh. Rizal S. L Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri ..……………………...
penerapan pendekatan pembelajaran inkuiri nilaisignifikansi 0,580 > 0,05 dengan = 0,05.
selama tindakan pembelajaran berlangsung dapat Jadi, dapat disimpulkan dalam penelitian ini
meningkatkan kualitas penguasan konsep siswa. distribusi datanya adalah homogen. Hal ini juga
Hal itu dikarenakan dengan keterampilan inkuiri dapat diartikan bahwa tidak terdapat perbedaan
yang dimilikinya, dapat membantu siswa dalam varians antara kelas kontrol dan kelas
menemukan dan membuktikan suatu jawaban eksperimen. Homogenitas data ini mengartikan
dari suatu permasalahan yang mereka hadapi. bahwa tingkat kemampuan antara kedua kelas
Keunggulan skor N-Gain di kelas eksperimen ini yang telah dipilih sebagai sampel relatif sama.
pula disebabkan adanya variasi model yang Distribusi data yang normal dan homogen ini
digunakan peneliti yaitu dengan bantuan peta membuat data dapat dianalisis lanjut. Analisis
konsep yang dapat memetakan kosep-konsep lanjut ini yaitu statistik uji ‘t’ uji dua pihak.
materi sehingga mempermudah siswa dalam Data yang diperoleh berdistribusi normal
mengetahui dan memahami serta dapat dan memiliki tingkat homogenitas yang baik
menjelaskan materi secara terstruktur. pada taraf kepercayaan 95%, mengartikan taraf
Hasil belajar rendah yang diperoleh siswa toleransi kesalahan 0,05.Didapat juga derajat
tidak mutlak dipengaruhi oleh model kebebasan = 57, maka data tersebut dapat
pembelajaran akan tetapi, ada faktor-faktor lain dilanjutkan dengan uji t, yaitu untuk mengetahui
yang mempengaruhi. Secara garis besar kesulitan ada atau tidak adanya perbedaan rata-rata hasil
belajar ini disebabkan oleh beberapa faktor, belajar dua kelompok data. Uji ‘t’ tersebut
diantaranya: (1) Eksternal (luar), dalam hal ini terbatas untuk mencari perbedaan rata-rata dua
yang meliputi faktor lingkungan baik sosial atau kelompok data saja. Kelompok data yang dicari
pun alami serta faktor Instrumental yang meliputi perbedaanya yaitu tidak terlalu besar perbedaan
kurikulum, program, sarana dan prasarana, dan jumlah anggota sampelnya. Adapun satistik uji ‘t’
guru. (2) Internal (dalam), yang termasuk aspek yang digunakan yaitu uji dua pihak karena untuk
ini meliputi fisiologis seperti kondisi fisiologis melihat efektifitas penerapan model
dan panca indera. Serta psikologis yang meliputi pembelajaran inkuiri terbimbingberbantuan peta
minat, kecerdasan, bakat, motivasi, dan konsep terhadap hasil belajar siswa kelas XI
kemampuan kognitif (Ristiyani & Bahriah, MIPA 2, sebagai eksperimen. Sedangkan kelas
2016). Oleh karena itu, sebagai pendidik dan XI MIPA 3 sebagai kontrol diterapkan model
orang tua tetap mengawasi pergaulan anak atau pembelajaran discovery.
peserta didik kita dan terus memotivasi. Hasil pengujian diperoleh nilai 𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔
Pengujian normalitas dan homogenitas untuk statistik parametrik sebesar = 3,371 dan
merupakan uji prasyarat yang dipenuhi untuk nilai Sig. (2-tailed)= 0,001. Sedangkan 𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 =
statistik “uji-t” jenis independent sample T test. 1,67 dengan taraf signifikansi ɑ = 0,05. Nilai
Pengujian ini digunakan uji dua pihak. 𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 lebih besar dari 𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 (3,371 > 1,67),
Berdasarkan uji normalitas tes hasil belajar maka H1 diterima dan H0 ditolak. Keputusan lain
materi hidrolisis garam untuk keseluruhan juga dapat diambil dengan membandingkan nilai
diperoleh nilai asymp sig. 2 tailed sebesar 0,127 Sig. (2-tailed) 0,001 < 0,05. Dimana jika, nilai
lebih besar dari signifikansi 0,05. Jadi, pengujian sig. (2 tailed) < 0,05, maka terdapat perbedaan
normalitas nilai signifikansi 0,127 > 0,05, maka yang signifikan antara rata-rata hasil belajar kelas
data dalam penelitian ini berdistribusi XI MIPA 2 terhadap kelas XI MIPA 3. Sebab itu,
normal.Pengujian sebelumnya, penyebaran data cara alternatif ini pula menerima hipotesis
pada kelas eksperimen belum normal. Maka alternatif dan menolak hipotesis nihil yaitu, rata-
untuk menormalkan data hasil belajar tersebut rata hasil belajar siswa materi hidrolisis garam
kurva histogram yang tidak normal harus kelas XI MIPA 2 lebih tinggi dibandingkan kelas
dinormalkan terlebih dahulu. Oleh karena itu XI MIPA 3.
kurva yang tidak normal ini akan menentukan Berdasarkan hasil pengujian hipotesis,
jenis transformasi apa yang digunakan. Setelah memberikan gambaran kepada kita bahwa model
dicek kurva histogram lebih condong ke kiri pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan peta
dengan bentuk “moderate positive skweness” konsep masih lebih baik digunakan untuk
sehinggga jenis transformasi yang digunakan mengatasi kesulitan belajar siswa dibandingkan
adalah SQRT. Setelah data transformasi dengan menggunakan model discovery. Hal ini,
dianalisis kembali, maka data telah berdistribusi terbukti dengan ditolaknya hipotesis nihil (H0)
normal dengan nilai 0,127 > 0,05 dan telah dan diterimanya hipotesis alternatif (H1). Dalam
memenuhi kurva normal. penelitian ini menggunakan taraf toleransi 0,05
Berdasarkan data tes hasil belajar siswa karena diharapkan dalam pengambilan
dari pengujian homogenitas diperoleh
6
Moh. Rizal S. L Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri ..……………………...
kesimpulan kesalahan yang terjadi hanya 5% saja kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya
dan 95% nya benar. belajar mereka. Pada saat dilakukan
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis, pembelajaran siswa-siswi terlihat antusias.
yang ditolak H0 dan diterima H1 hal ini
menunjukkan bahwa model pembelajaran inkuiri
Kesimpulan
terbimbingberbantuan peta konseppada pokok
bahasan hidrolisis garam memberikan hasil Berdasarkan hasil pengujian hipotesis,
belajar yang lebih bagus dibandingkan dengan memberikan gambaran kepada kita bahwa model
pembelajaran menggunakan discovery. Hal ini, pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan peta
juga diperkuat dengan data hasil belajar post-tes konsep masih lebih baik digunakan untuk
siswa di kelas eksperimen yang tuntas sebanyak 4 mengatasi rendahnya hasil belajar siswa
orang dengan KBM = 80, dan ke-empat siswa dibandingkan dengan menggunakan model
tersebut memperoleh nilai sebesar 80, sedangkan discovery learning. Hal ini terbukti dengan
di kelas kontrol tidak ada satupun siswa yang ditolaknya hipotesis nihil (H0) dan diterimanya
tuntas atau tidak ada satupun siswa di kelas hipotesis alternatif (H1). Dimana Hasil pengujian
kontrol yang mencapai nilai KBM. diperoleh nilai 𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 untuk statistik parametrik
Keunggulan ini, disebabkan model sebesar = 3,371 dan nilai Sig. (2-tailed) = 0,001.
pembelajaran inkuiri terbimbingberbantuan peta Sedangkan 𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 = 2,002 dengan taraf
konsepmerupakan rangkaian kegiatan signifikansi ɑ = 0,05. Nilai 𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 lebih besar
pembelajaran yang menekankan pada proses dari 𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 (3,371 > 2,002), maka H1 diterima dan
bepikir secara kritis dan analitis untuk mencari H0 ditolak.
dan menemukan sendiri jawaban dari suatu
masalah yang dipertanyakan. Dengan salah satu
keunggulannya yang menekankan kepada Ucapan Terimakasih
pengembangan aspek kognitif, afektif, dan Penulis mengucapkan terima kasih kepada
psikomotor secara seimbang, sehingga Idris Ade kepala SMAN 5 Model Palu, Sugeng
pembelajaran melalui strategi ini dianggap lebih Utomo guru mata pelajaran kimia dan siswa-
bermakna. Ditambah lagi variasi peta konsep siswi kelas XI MIPA 2 dan XI MIPA 3 SMAN 5
yang dimasukkan dalam sintaks model tersebut Model Palu tahun ajaran 2018/2019, serta semua
membuat siswa lebih mudah memahami konsep- pihak yang banyak membantu penulis dalam
konsep materi yang ada. Sebab menurut (Fauziah menyelesaikan penelitian ini.
dkk., 2013) fungsi dari peta konsep yaitu untuk
menolong siswa mempelajari cara belajar, Referensi
membantu anak didik di dalam belajar bermakna
Aprilia, F., & Sugiarto, B. (2013). Keterampilan
terhadap konsep-konsep sains.
metakognitif siswa melalui penerapan
Pembelajaran dengan menerapkan “model
model pembelajaran inkuiri terbimbing
pembelajaran inkuiri terbimbingberbantuan peta
pada materi hidrolisis garam. Journal of
konsep”adalah salah satu cara yang baik yang
Chemical Education, 2(3), 36–41.
dilakukan dalam proses pembelajaran kimia
terkhusus materi hidrolisis garam. Dengan Bahriah, E. S., Sofyatiningrum, E., & Irwandi, D.
dilakukan pembuktian antara dua variabel dengan (2014). Studi komparasi metode
uji-t dapat diketahui bahwa pengujian hipotesis pembelajaran studen teams achievement
penelitian ini ada perbedaan yang signifikan division (stad) menggunakan peta pikiran
antara kelas yang mendapat “model pembelajaran (mind mapping) dan peta konsep (concept
inkuiri terbimbing berbantuan peta konsep” mapping) terhadap prestasi belajar siswa
dengan pembelajaran yang menggunakan pada materi pokok sistem periodik unsur
pembelajaran discovery, dimana rata-rata hasil siswa kelas X semester ganjil. Jurnal
belajar siswa yang mendapat pembelajaran Edusains, 6(2), 178–184.
inkuiri terbimbingberbantuan peta konsep lebih
tinggi dari pada hasil belajar dengan model Carnawi, Sudarmin, & Wijayati, N. (2017).
pembelajaran yang digunakan pembelajaran Application of project based learning (pbl)
discovery. Perbedaan dari hasil belajar siswa model for materials of salt hydrolysis to
pada kelas eksperimen dan kelas kontrol ini encourage students enterpreneurship
dapat terjadi karena “model pembelajaran inkuiri behaviour. International Journal of Active
terbimbing berbantuan peta konsep” dapat Learning, 2(1), 50–58.
menghadirkan suasana belajar yang
menyenangkan dan dapat memberikan ruang
7
Moh. Rizal S. L Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri ..……………………...
Fajariyah, N., Utami, B., & Haryono. (2016). Novilia, L., Iskandar, S. M., & Fajaroh, F.
Penerapan model pembelajaran inkuiri (2016). The effectiveness of colloid module
terbimbing untuk meningkatkan based on guided inquiry approach to
kemampuan berpikir kritis dan prestasi increase students’ cognitive learning
belajar pada materi kelarutan dan hasil kali outcomes. International Journal of
kelarutan siswa kelas Xl SMA al islam Education, 9(1), 17–23.
Surakarta tahun ajaran 2014/2015. Jurnal
Pendidikan Kimia, 5(2), 89–97. Nurhidayah, R., Irwandi, D., & Suridewi, N.
(2015). Pengembangan modul berbasis
Fatonah, D. S. R., Ashadi, & Haryono. (2016). inkuiri terbimbing pada materi larutan
Studi komparasi pembelajaran kimia elektrolit dan non-elektrolit. Jurnal
menggunakanmodel inquiry based learning Edusains, 7(1), 36–47.
(ibl) dan problem based learning (pbl) pada
materi termokimia kelas XI SMAN 1 Nurmasyitah, S. (2015). Peningkatan nilai siswa
Sukoharjo dengan memperhatikan pada materi termokimia melalui model
kemampuan matematik tahun pelajaran mind mapping siswa kelas Xl IPA A.1
2015/2016. Jurnal Pendidikan Kimia, 5(2), semester ganjil di SMA N 1 Unggul. Jurnal
36–43. Visipena, 6(1), 12--24.
Fauziah, N., Masykuri, M., & Nugroho, A., C., S. Pertiwi, D. A. B., Eny, & Husna. (2013).
(2013). Studi komparasi metode Peningkatan sikap ilmiah siswa melalui
pembelajaran studen teams achievement metode praktikum dengan pendekatan
division (stad) menggunakan peta pikiran inkuiri pada materi termokimia di kelas XI
(mind mapping) dan peta konsep (concept IPA SMA Negeri 3 Sanggau. Jurnal
mapping) terhadap prestasi belajar siswa Pendidikan Dan Pembelajaran, 2(6), 1–13.
pada materi pokok sistem periodik unsur Priyantika, D. A., & Hidayah, R. (2014). The
siswa kelas X semester ganjil. Jurnal development of chemist web instructional
Pendidikan Kimia, 2(2), 132–139. media on salt hydrolysis matter. Journal of
Firdausi, N. I. (2014). Perbandingan hasil belajar Chemical Education, 3(2), 124–129.
kimia dengan model pembelajaran inquiry Rahayuningsih, R., Masykuri, M., & Utami, B.
dan learning cycle 5e pada materi kelarutan (2012). Penerapan siklus belajar 5e
dan hasil kali kelarutan. Jurnal Pendidikan (learning cycle 5e) disertai peta konsep
Sains, 2(4), 193–199. untuk meningkatkan kualitas proses dan
hasil belajar kimia pada materi kelarutan
Gulo, W. (2002). Belajar mengajar. Jakarta:
dan hasil kali kelarutan kelas Xl IPA
Grasindo. SMAN 1 Kartasura tahun pelajaran
Ismail, M., Laliyo, L. A. R., & Alio, L. (2013). 2011/2012. Jurnal Pendidikan Kimia, 1(1),
Meningkatkan hasil belajar ikatan kimia 51–58.
dengan menerapkan strategi pembelajaran
Rejeki, G. S., Haryono, & Ariani, S. R. D.
peta konsep pada siswa kelas X di SMA
(2013). Pembelajaran team assisted
Negeri I Telaga. Jurnal Entropi, 8(1), 520–
individulaization (tai) dilengkapi peta
529.
konsep untuk meningkatkan aktivitas dan
Kurniawati, D., Masykuri, M., & Saputro, S. prestasi belajar siswa pada materi kelarutan
(2016). Penerapan model pembelajaran dan hasil kali kelarutan kelas XI IPA 4
inkuiri terbimbing dilengkapi lks untuk SMA Negeri 5 Surakarta tahun pelajaran
meningkatkan keterampilan proses sains 2012/2013. Jurnal Pendidikan Kimia, 2(3),
dan prestasi belajar pada materi pokok 175–181.
hukum dasar kimia siswa kelas X MIA 4
Rezeki, R. D., Nurhayati, N. D., & Mulyani, S.
SMAN 1 Karanganyar tahun pelajaran
(2015). Penerapan metode pembelajaran
2014/2015. Jurnal Pendidikan Kimia, 5(1),
project based learning (pjbl) disertai dengan
88–95.
peta konsep untuk meningkatkan prestasi
dan aktivitas belajar siswa pada materi
redoks kelas X-3 SMA Negeri
Kebakkramat tahun pelajaran 2013 / 2014.
Jurnal Pendidikan Kimia, 4(1), 74–81.
8
Moh. Rizal S. L Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri ..……………………...