Hubungan Kepemimpinan Efektif Kepala Ruangan Dengan Kinerja Perawat Dalam Melakukan Asuhan Keperawatan Di Rsu Sari Mutiara Lubuk Pakam
Hubungan Kepemimpinan Efektif Kepala Ruangan Dengan Kinerja Perawat Dalam Melakukan Asuhan Keperawatan Di Rsu Sari Mutiara Lubuk Pakam
1 - Agustus 2019
Cetak ISSN : 2620-5564
Online ISSN : 2655-1292
Abstract
Effective leadership is required by the head of the room to create a good performance on nurses to
achieve the purpose of the room is provide good and quality health serviceThis study aims to
determine the effective leadership of head room with the performance of nurses in nursing care at
RSU. Sari Mutiara Lubuk Pakam. Researchers used descriptive research method correlation with
cross-sectional approach. The population in this study nurse who was on duty in the inpatient unit
RSU. Sari Mutiara Lubuk Pakam totaling 55 people. The sample in this study used a total sampling
technique with 55 respondents. The data collection technique using a questionnaire given to
respondents. The results of this study are analyzed in univariate effective leadership of head room
(81.8%) with sufficient performance of nurses (50.9%). After bivariate analysis with chi-square test
showed that there is a relationship effective leadership of head room with the performance of
nurses (p-value = 0.003). This study recommends that the head of the room more attention to
implementation of the tasks of nursing care by nurses, as well as providing support in working
order, the better the performance of nurses.
Keywords : Effective Leadership, Performance Nurse
Abstrak
Kepemimpinan efektif diperlukan oleh kepala ruangan dalam menciptakan kinerja yang baik pada
perawat pelaksana untuk mencapai tujuan ruangan yaitu memberikan pelayanan kesehatan yang
baik dan berkualitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepemimpinan efektif kepala
ruangan dengan kinerja perawat dalam melakukan asuhan keperawatan di RSU. Sari Mutiara
Lubuk Pakam. Peneliti menggunakan metode penelitian deskriptif korelasi dengan pendekatan
cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini seluruh perawat pelaksana yang sedang bertugas
RSU Sari Mutiara Lubuk Pakam berjumlah 55 responden. Sampel dalam penelitian ini
menggunakan teknik total sampling dengan jumlah responden sebanyak 55. Teknik pengumpulan
data menggunakan kuisioner yang diberikan kepada responden. Uji statistik yang digunakan dalam
penelitian ini adalah uji chi-square. Hasil penelitian ini dianalisis secara univariat yaitu
kepemimpinan kepala ruangan efektif (81,8%) dengan kinerja perawat cukup (50,9%). Setelah
dilakukan analisis bivariat dengan uji chi-square didapatkan hasil yaitu ada hubungan
kepemimpinan efektif kepala ruangan dengan kinerja perawat (p-value=0,003). Penelitian ini
merekomendasikan agar kepala ruangan lebih memperhatikan pelaksanaan tugas asuhan
keperawatan oleh perawat, serta memberikan dukungan dalam bekerja agar kinerja perawat
semakin baik.
Kata Kunci : Kepemimpina Efektif, Kinerja Perawat
sendiri. Kinerja atau prestasi kerja adalah memberikan arahan dan motivasi terhadap
hasil kerja yang dicapai oleh seorang perawat pelaksana, 1 orang mengatakan
karyawan dalam melakukan tugas sesuai kepala ruangan juga jarang bekerjasama
tanggung jawab yang diberikan kepadanya. dengan perawat pelaksana karena tugas
Dalam hal ini kinerja perawat merupakan asuhan keperawatan selalu dilakukan oleh
aktivitas perawat dalam perawat pelaksana dan 1 orang lagi
mengimplementasikan sebaik-baiknya suatu mengatakan kepala ruangan jarang
wewenang, tugas dan tanggung jawabnya melakukan supervisi langsung dalam
dalam rangka pencapaian tujuan tugas pokok pelaksanaan tugas oleh perawat. Sedangkan
profesi dan terwujudnya tujuan dan sasaran hasil observasi yang dilakukan terhadap
unit organisasi (Slamet Haryono, 2004). perawat pelaksana didapatkan bahwa perawat
Kinerja perawat sebenarnya sama dengan tidak melalukan pengkajian secara akurat dan
prestasi kerja di perusahaan. Perawat ingin menyeluruh terhadap data status bio, psiko,
diukur kinerjanya berdasarkan standar sosio dan spiritual pasien. Perawat tidak
obyektif yang terbuka dan dapat mengkaji ulang dan merevisi pelaksanaan
dikomunikasikan. Jika perawat diperhatikan tindakan keperawatan berdasarkan respon
dan dihargai sampai penghargaan superior, klien.
mereka akan lebih terpacu untuk mencapai
prestasi pada tingkat lebih tinggi (Neal, METODE PENELITIAN
2004). Penelitian ini bersifat deskriptif
Melihat begitu luas dan kompleksnya korelasi. Dengan menggunakan pendekatan
tugas dan fungsi dari perawat di rumah sakit, cross sectional yaitu untuk mengetahui
maka rumah sakit membutuhkan SDM yang hubungan kepemimpinan efetif kepala
profesional dalam melaksanakan tugas pokok ruangan dengan kinerja perawat dalam
dan fungsi yang menjadi tanggung jawab melakukan asuhan keperawatan di RSU. Sari
perawat dalam melayani pasien. Pelayanan Mutiara Lubuk Pakam. Populasi dalam
keperawatan yang dilakukan kepada pasien penelitian ini adalah seluruh perawat
di rumah sakit melalui asuhan keperawatan pelaksana yang bertugas di RSU.Sari Mutiara
diharapkan menjadi berdaya guna dan Lubuk Pakam yang berjumlah 55 responden.
berhasil guna. Kinerja perawat melalui Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh
pengelolaan asuhan keperawatan akan perawat pelaksana yang sedang bertugas di
berhasil apabila memiliki tanggung jawab, RSU.Sari Mutiara Lubuk Pakam, teknik
mempunyai pengetahuan tentang manajemen pengambilan sampel dengan menggunakan
keperawatan dan kemampuan memimpin total sampling berjumlah 55 responden.
orang lain di samping pengetahuan dan Instrumen yang digunakan dalam penelitian
ketrampilan klinis yang harus dikuasainya ini yaitu dengan kuisioner. Analisa data
pula (Nurachmad, 2001). dalam penelitian ini meliputi analisa
Berdasarkan hasil survey awal yang univariat yaitu untuk mengetahui distribusi
telah dilakukan peneliti rata-rata pendidikan frekuensi kepemimpinan efektif kepala
terakhir adalah D3. Dari hasil observasi yang ruangan dan kinerja perawat dalam
dilakukan terhadap kepala ruangan terlihat melakukan asuhan keperawatan. Analisa
bahwa tidak semua kepala ruangan mampu bivariat untuk menilai hubungan
memecahkan masalah yang ada di ruangan kepemimpinan efektif kepala ruangan dengan
dengan baik, kepala ruangan sering kinerja perawat dalam melakukan asuhan
mengambil keputusan tanpa berdiskusi keperawatan yaitu dengan menggunakan uji
dengan perawat diruangan. Berdasarkan statistic chisquare dengan kepercayaan (CI)
wawancara terhadap 4 orang perawat adalah 95% dimana bila p < 0,05, berarti
pelaksana yang sedang bertugas di RSU. Sari hasil perhitungan bermakna (signifikan).
Mutiara Lubuk Pakam, 2 dari mereka
mengatakan kepala ruangan jarang
B. Analisa Bivariat
Tabel 4.4
Berdasarkan tabel 4.1 dapat dilihat Hasil Uji Chi-Square Antara Kepemimpinan
berdasarkan kelompok umur responden Efektif Kepala Ruangan Dengan Kinerja
mayoritas berada pada rentang umur 20-30 Perawat Di RSU. Sari Mutiara Lubuk Pakam.
tahun sebanyak 43 orang (78,2%), pada jenis (n = 55)
kelamin responden mayoritas perempuan
sebanyak 51 orang (92,7%), pada tingkat
pendidikan responden mayoritas berada pada
9tingkat D3 Keperawatan sebanyak 51 orang
karakteristik responden usia, jenis kelamin, perawat merupakan bentuk kinerja perawat
pendidikan dan lama kerja responden tidak yang bekerja di ruang rawat inap. Menurut
memberikan pengaruh yang bermakna pada Gibson (1996 dalam Rofii, 2012) bahwa
kepemimpinan efektif kepala ruangan. umur dapat mempengaruhi kinerja dimana
Menurut asumsi peneliti berdasarkan pengembangan karir terjadi pada usia 30
kepemimpinan kepala ruangan diruang rawat tahun, selain itu keterampilan seseorang
inap RSU. Sari Mutiara Lubuk Pakam terutama dalam hal kecepatan, kecekatan,
pemimpin yang efektif adalah pemimpin kekuatan dan koordinasi dihubungkan
yang selalu terbuka untuk menerima saran dengan bertambahnya waktu. Umur 30 tahun
dan kritikan dari orang lain, mampu merupakan tingkat perkembangan manusia
berkomunikasi dengan baik, selalu berpikir yang dikategorikan usia dewasa muda (20-39
kritis dalam setiap pemecahan masalah, serta tahun), semakin bertambah usia berarti
mampu membuat perubahan dalam mencapai semakin arif dan bijaksana untuk melakukan
tujuan organisasi. suatu pekerjaan (Papalia, Olds & Feldman,
2009).
Kinerja Perawat Dalam Melakukan Dilihat dari hasil distribusi frekuensi
Asuhan Keperawatan responden pada tingkat jenis kelamin
Dari hasil penelitian yang dilakukan sebagian besar adalah perempuan (92,7%).
terhadap 55 orang responden terlihat bahwa Jenis kelamin yang kebanyakan menjadi
kinerja perawat kategori cukup yaitu perawat adalah perempuan. Menurut
sebanyak 28 orang (50,9%), baik 25 orang sejarahnya, keperawatan muncul dari peran
(45,5%) dan kurang 2 orang (3,6%). Dengan perspektif perempuan dalam suatu keluarga,
demikian berarti perawat sudah mampu maka dianggap wajar bila perawat
melakukan asuhan keperawatan dengan baik perempuan lebih banyak dari laki-laki
sesuai dengan prosedur keperawatan. Hal ini (Rolinson, 2001). Adanya perbedaan jenis
dapat dilihat dari jawaban kuesioner kelamin akan memberikan hasil kerja yang
reponden yang menyatakan perawat selalu berbeda pula. Hal ini sesuai dengan rumah
mengumpulkan dan mengelompokkan data sakit lain pada umumnya, dimana sebagian
bio-psiko-sosio dan spritual tentang pasien, besar perawat didominasi oleh kaum
perawat selalu melakukan analisis dan perempuan. Menurut (Stephen.P Robbins,
merumuskan masalah dengan mengacu pada 2001) dilain pihak terdapat pertimbangan lain
diagnosis keperawatan, serta membuat bahwa perempuan dalam melaksanakan
rencana tindakan dan mencatat tindakan pekerjaannya lebih disiplin dalam mematuhi
keperawatan yang dilaksanakan. Hal ini peraturan dibanding laki-laki, sehingga akan
didukung oleh pendapat Mangkunegara tercapai pelayanan keperawatan secara
(2009) Kinerja atau prestasi kerja adalah optimal.
hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang Pendidikan responden dalam
dicapai seorang pegawai dalam penelitian ini mayoritas berpendidikan D-III
melaksanakan tugasnya sesuai dengan keperawatan sebesar (92,7%) dan Ners
tanggung jawab yang diberikan kepadanya. sebesar (7,3%), pendidikan merupakan salah
satu karakteristik demografi yang dapat
Berdasarkan distribusi frekuensi, mempengaruhi seseorang, baik terhadap
responden dalam penelitian ini sebagian lingkungan maupun objek tertentu, selain itu
besar berumur 21-30 tahun (78,2%), perawat pendidikan merupakan faktor tidak langsung
yang berusia >30 tahun sebesar (21,8%). yang berpengaruh pada kinerja (Ilyas, 2002).
Perawat dengan kelompok usia tersebut dapat Semakin tinggi pendidikan akan semakin
berdampak posistif terhadap rumah sakit jika kritis, logis dan sistematis dalam berpikir
dikelola dengan sistem manajemen sumber sehingga meningkatkan kualitas kerjanya
daya manusia keperawatan yang baik. dengan kata lain semakin tinggi pendidikan
Pelaksanaan asuhan keperawatan oleh
seseorang maka semakin baik juga prestasi Dari hasil uji statistik menggunakan
kerjanya. uji chi-square menunjukkan bahwa ada
Dalam penelitian ini lama kerja hubungan antara kepemimpinan efektif
responden sebagian besar 1,5 - 3 tahun kepala ruangan dengan kinerja perawat di
(56,4%) dan responden yang bekerja >3 RSU Sari Mutiara Lubuk Pakam dengan nilai
tahun sebesar (43,6%), semakin lama masa p.value < α = 0,05 dimana nilai p.value =
kerja seseorang maka akan semakin banyak 0,003. Hal ini menunjukkan bahwa semakin
pengalaman yang dimilikinya terkait dengan baik kepemimpinan kepala ruangan semakin
pemberian asuhan keperawatan. Hasil baik pula kinerja perawat di ruang rawat inap
penelitian ini didukung oleh pendapat RSU. Sari Mutiara Lubuk Pakam.
Siagian (2009 dalam Rofii, 2009) yang Terlihat dari hasil penelitian yang
mengatakan lama kerja mempengaruhi menunjukkan bahwa lebih banyak responden
pengetahuan seseorang, semakin lama mengatakan kepemimpinan kepala ruangan
bekerja semakin banyak pengalaman efektif yaitu sebanyak 45 orang (81,8%)
sehingga produktivitas kerja dapat dengan kinerja perawat cukup yaitu sebanyak
meningkat. Hal ini sejalan dengan teori 28 orang (50,9%). Hasil penelitian ini
Kusumawati (2011) yang mengatakan bahwa didukung penelitian sebelumnya yang
semakin banyak pengalaman yang dimiliki, dilakukan oleh sugijati (2008) dengan hasil
maka akan semakin bertambah juga penelitian kinerja perawat dalam
pengetahuan perawat tentang diri mereka, melaksanakan asuhan keperawatan di ruang
kesehatan klien, kemampuan untuk rawat inap RSUD Mataram dalam kategori
menginterpretasikan informasi tertentu dan baik (47%). Menurut Kuntoro (2010),
melaksanakan tindakan keperawatan kepemimpinan dalam keperawatan sangatlah
khususnya dalam memberikan asuhan penting karena mempunyai pengaruh yang
keperawatan. dapat menciptakan kepercayaan dan ketaatan,
Hasil penelitian ini sesuai dengan sehingga menimbulkan kesediaan untuk
penelitian yang dilaksanakan oleh Pitoyo melaksanakan tugas, dalam rangka mencapai
(2000) tentang faktor-faktor yang tujuan pelayanan keperawatan secara efektif
berhubungan dengan kinerja perawat dalam dan efisien.
melaksanakan perawatan kesehatan Kinerja perawat pelaksana yang baik
masyarakat di puskesmas kabupaten menjadi indikator dari baiknya pekerjaan
semarang. yang menyatakan ada hubungan yang dihasilkan oleh perawat. Hasil kerja
yang bermakna antar kepemimpinan dengan yang baik tersebut dapat diamati dari
kinerja perawat dalam melaksanakan asuhan kompetensi dan produktivitas yang
perawatan. ditunjukan dari pelaksanaan pekerjaan yang
Menurut asumsi peneliti berdasarkan dilakukan sesuai tugas pekerjaannya. Kinerja
kinerja perawat pelaksana di RSU. Sari yang baik juga tercapai apabila pekerjaan
Mutiara Lubuk Pakam bahwa kinerja yang dilakukan sesuai dengan prosedur yang ada
baik akan mempengaruhi produktifitas dan pekerjaan dilakukan dengan kualitas
sebuah organisasi. Setiap tindakan hasil yang baik. Sesuai dengan Dessler
keperawatan yang dilakukan dengan (2009) menyebutkan kinerja karyawan dapat
mengacu pada standard asuhan keperawatan diukur dangan membandingkan hasil kerja
akan menghasilkan suatu kinerja yang baik. dengan standar yang telah dibuat.
Kinerja perawat pelaksana di RSU.
Hubungan Kepemimpinan Efektif Kepala Sari Mutiara Lubuk Pakam yang sudah dalam
Ruangan Dengan Kinerja Perawat Dalam kategori cukup perlu dipertahankan dan lebih
Melakukan Asuhan Keperawatan Di ditingkatkan. Kinerja dapat dipertahankan
Rumah Sakit Umum Sari Mutiara Lubuk dan ditingkatkan dengan memenuhi harapan
Pakam perawat atas pola hubungan kerja yang baik,
fasilitas kerja, iklim kerja, kebijakan
kepemimpinan, pola kepemimpinan kerja dan 3. Kepemimpinan efektif kepala ruangan ada
kondisi kerja yang baik sehingga dapat hubungan dengan kinerja perawat dalam
mendukung tercapainya kinerja yang melakukan asuhan keperawatan di
maksimal. ruangan rawat inap RSU Sari Mutiara
Beberapa penelitian membuktikan Lubuk Pakam dengan p.value = 0.003 < α
adanya hubungan ini seperti yang dilakukan = 0,005. Hal ini menunjukkan bahwa
oleh Oluseyi, S. (2009), menemukan bahwa semakin baik kepemimpinan seorang
kinerja karyawan sangat dipengaruhi oleh kepala ruangan maka akan semakin baik
kepemimpinan efektif, kemudian motivasi pula kinerja perawat dalam melakukan
kerja dan yang terakhir adalah manajemen asuhan keperawatan, karena seorang
waktu. Kemudian Baidowi, A (2010) pemimpin yang efektif akan mampu
mendapatkan kesimpulan bahwa budaya mempengaruhi orang lain kearah tujuan
organisasi, kepemimpinan, insentif dan yang lebih baik.
disiplin kerja secara simultan memengaruhi
kinerja pegawai. Endro, dan Sujiono, M SARAN
(2012) mendapatkan kesimpulan bahwa ada 1. Bagi Kepala Ruangan
hubungan positif bermakna kepemimpinan Disarankan agar bekerja sesuai dengan
terhadap kinerja tetapi ada hubungan tidak tugas dan fungsinya sebagai pemimpin
bermakna antara kepemimpinan terhadap yang efektif seperti mampu berpikir kritis,
kinerja melalui motivasi. Dari hasil penelitian mengambil tindakan dan memecahkan
yang diperoleh, maka peneliti dapat masalah, menyusun tujuan dan
menyimpulkan semakin efektif membangun orang lain serta lebih
kepemimpinan seorang kepala ruangan maka memperhatikan para perawat tentang
kinerja perawat juga akan semakin baik. pentingnya kinerja yang baik dalam suatu
Selain kepemimpinan yang efektif kinerja tindakan keperawatan dengan cara lebih
perawat juga dapat dipengaruhi oleh faktor menekankan tentang penerapan standar
lain seperti motivasi, beban kerja dan iklim asuhan keperawatan kepada pasien
kerja. maupun keluarganya.
2. Bagi Perawat Pelaksana
KESIMPULAN Disarankan agar dapat menjaga hubungan
Dari hasil penelitian yang telah yang baik dengan kepala ruangan dan
dilakukan di ruang rawat inap RSU Sari lebih meningkatkan kinerjanya dalam
Mutiara Lubuk Pakam dapat diperoleh melakukan asuhan keperawatan terhadap
kesimpulan sebagai berikut: pasien maupun keluarga dengan cara
1. Kepemimpinan kepala ruangan di ruang selalu mengaplikasikan standar asuhan
rawat inap RSU Sari Mutiara Lubuk keperawatan dalam setiap tindakan
Pakam mayoritas adalah efektif . Hal ini keperawatan.
menyatakan bahwa perawat menilai 3. Bagi Rumah Sakit
kepala ruangan di RSU Sari Mutiara Disarankan kepada pihak manajemen
Lubuk Pakam sudah bekerja dengan rumah sakit agar lebih selektif dalam
efektif sesuai dengan tugas dan fungsinya memilih kepemimpinan kepala ruangan
dalam ruangan. dan perawat pelaksana yang memiliki
2. Kinerja perawat di ruang rawat inap RSU pengetahuan lebih luas guna terciptanya
Sari Mutiara Lubuk Pakam termasuk kinerja perawat yang berkualitas. Pihak
kategori cukup. Hal ini menyatakan rumah sakit juga diharapkan lebih
bahwa perawat sudah mampu memberikan meningkatkan iptek dengan
asuhan keperawatan terhadap pasien dan menyelenggarakan pelatihan tentang
keluarga pasien sesuai dengan standar kepemimpinan yang efektif bagi kepala
asuhan keperawatan. ruangan dan pelatihan tentang penerapan
REFERENSI
Agung, Kurniawan. (2005). Transformasi
Pelayanan Publik. Yogyakarta:
Pembaharuan.
Depkes RI, (2001). Petunjuk Pelaksanaan
Indikator Pelayanan Rumah Sakit,
Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, Jakarta.5
Dessler Gary, (2009). Manajemen Sumber
Daya Manusia, Jakarta :Edisi
Kesepuluh Jilid Dua PT Indeks
Harahap, Nazlah (2012). Pengaruh
Kepemimpinan dan Komunikasi
terhadap Kinerja Perawat Pelaksana
di Ruang Rawat Inap RSUD Kota
Padangsidimpuan. Diakses pada hari
Kamis, 09 Juni
2016.http://repository.usu.ac.id/handle/
123456789/34028
Ilyas, Yaslis, (2002). Kinerja, Teori,
Penilaian dan Penelitian. Fakultas
Kesehatan Masyarakat Universitas
Indonesia. Jakarta.
Kuntoro, A. (2010). Buku Ajar Manajemen
Keperawatan.
Yogyakarta: Nuha Medika
Nurachmad E., (2001). Asuhan Keperawatan
Bermutu di Rumah Sakit. Jakarta :
http//www.pdpersi.co.id
Robbin, S.P. (2006). Perilaku Organisasi,
Jilid I, (Edisi ke-10 terjemahan), PT.
Gramedia, Jakarta.
Tappen, R. M., Weiss, S. A., Whitehead, D.
K. (2004). Essentials of Nursing
Leadership and Management.
Philadelphia. F. A. Davis Company.
Wibowo. (2013). Manajemen Kinerja.
Jakarta: Rajawali Pers