0% found this document useful (0 votes)
49 views9 pages

Hubungan Kepemimpinan Efektif Kepala Ruangan Dengan Kinerja Perawat Dalam Melakukan Asuhan Keperawatan Di Rsu Sari Mutiara Lubuk Pakam

This document summarizes a study that examined the relationship between effective leadership of head nurses and nurse performance in nursing care at RSU Sari Mutiara Lubuk Pakam hospital. The study used a descriptive correlational design with a cross-sectional approach involving 55 nurse respondents. The results showed that 81.8% of head nurses demonstrated effective leadership and 50.9% of nurses had sufficient performance. Statistical analysis found a relationship between effective head nurse leadership and nurse performance (p-value = 0.003). The study recommends head nurses provide more attention and support to nurses' nursing care tasks to improve nurse performance.

Uploaded by

hikmah
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd
0% found this document useful (0 votes)
49 views9 pages

Hubungan Kepemimpinan Efektif Kepala Ruangan Dengan Kinerja Perawat Dalam Melakukan Asuhan Keperawatan Di Rsu Sari Mutiara Lubuk Pakam

This document summarizes a study that examined the relationship between effective leadership of head nurses and nurse performance in nursing care at RSU Sari Mutiara Lubuk Pakam hospital. The study used a descriptive correlational design with a cross-sectional approach involving 55 nurse respondents. The results showed that 81.8% of head nurses demonstrated effective leadership and 50.9% of nurses had sufficient performance. Statistical analysis found a relationship between effective head nurse leadership and nurse performance (p-value = 0.003). The study recommends head nurses provide more attention and support to nurses' nursing care tasks to improve nurse performance.

Uploaded by

hikmah
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd
You are on page 1/ 9

Indonesian Trust Health Journal Volume 2, No.

1 - Agustus 2019
Cetak ISSN : 2620-5564
Online ISSN : 2655-1292

HUBUNGAN KEPEMIMPINAN EFEKTIF KEPALA RUANGAN DENGAN


KINERJA PERAWAT DALAM MELAKUKAN ASUHAN KEPERAWATAN
DI RSU SARI MUTIARA LUBUK PAKAM

Eva Kartika Hasibuan, Masri Saragih


Program Studi Ners Fakultas Farmasi dan Ilmu Kesehatan, Universitas Sari Mutiara Indonesia
E-mail : [email protected]
Program Studi Ners Fakultas Farmasi dan Ilmu Kesehatan, Universitas Sari Mutiara Indonesia
E-mail : [email protected]

Abstract
Effective leadership is required by the head of the room to create a good performance on nurses to
achieve the purpose of the room is provide good and quality health serviceThis study aims to
determine the effective leadership of head room with the performance of nurses in nursing care at
RSU. Sari Mutiara Lubuk Pakam. Researchers used descriptive research method correlation with
cross-sectional approach. The population in this study nurse who was on duty in the inpatient unit
RSU. Sari Mutiara Lubuk Pakam totaling 55 people. The sample in this study used a total sampling
technique with 55 respondents. The data collection technique using a questionnaire given to
respondents. The results of this study are analyzed in univariate effective leadership of head room
(81.8%) with sufficient performance of nurses (50.9%). After bivariate analysis with chi-square test
showed that there is a relationship effective leadership of head room with the performance of
nurses (p-value = 0.003). This study recommends that the head of the room more attention to
implementation of the tasks of nursing care by nurses, as well as providing support in working
order, the better the performance of nurses.
Keywords : Effective Leadership, Performance Nurse

Abstrak
Kepemimpinan efektif diperlukan oleh kepala ruangan dalam menciptakan kinerja yang baik pada
perawat pelaksana untuk mencapai tujuan ruangan yaitu memberikan pelayanan kesehatan yang
baik dan berkualitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepemimpinan efektif kepala
ruangan dengan kinerja perawat dalam melakukan asuhan keperawatan di RSU. Sari Mutiara
Lubuk Pakam. Peneliti menggunakan metode penelitian deskriptif korelasi dengan pendekatan
cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini seluruh perawat pelaksana yang sedang bertugas
RSU Sari Mutiara Lubuk Pakam berjumlah 55 responden. Sampel dalam penelitian ini
menggunakan teknik total sampling dengan jumlah responden sebanyak 55. Teknik pengumpulan
data menggunakan kuisioner yang diberikan kepada responden. Uji statistik yang digunakan dalam
penelitian ini adalah uji chi-square. Hasil penelitian ini dianalisis secara univariat yaitu
kepemimpinan kepala ruangan efektif (81,8%) dengan kinerja perawat cukup (50,9%). Setelah
dilakukan analisis bivariat dengan uji chi-square didapatkan hasil yaitu ada hubungan
kepemimpinan efektif kepala ruangan dengan kinerja perawat (p-value=0,003). Penelitian ini
merekomendasikan agar kepala ruangan lebih memperhatikan pelaksanaan tugas asuhan
keperawatan oleh perawat, serta memberikan dukungan dalam bekerja agar kinerja perawat
semakin baik.
Kata Kunci : Kepemimpina Efektif, Kinerja Perawat

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Murni Teguh |138


Indonesian Trust Health Journal Volume 2, No.1 - Agustus 2019
Cetak ISSN : 2620-5564
Online ISSN : 2655-1292

PENDAHULUAN dikembangkan monitoring dan evaluasi


Sumber daya manusia dapat menjadi kinerja perawat khususnya mengenai
suatu aset dalam memberikan nilai tambah keterampilan, sikap, kedisiplinan dan
pada sebuah organisasi. Sumber daya motivasi kerjanya (Jaiz, 2007). Penelitian
manusia ini perlu dikelola secara efektif tentang waktu kerja produktif personil rumah
sehingga diperlukan suatu kepemimpinan sakit di Indonesia ditemukan bahwa waktu
yang efektif (Muninjaya, 2004). kerja produktif personil adalah 53,2% dan
Kepemimpinan yang efektif dapat sisanya 46,8% digunakan untuk kegiatan non
mempengaruhi orang-orang untuk bergerak produktif. Dari 53,2% kinerja produktif,
dalam tujuan yang sama bukan karena hanya 13,3% waktu yang digunakan untuk
diperintah tetapi membuat mereka mau kegiatan pelayanan kesehatan, sedangkan
bergerak dengan kemauan mereka sendiri. sisanya 39,9% digunakan untuk kegiatan
Untuk itu seorang pemimpin harus mampu penunjang pelayanan kesehatan (Ilyas, 2001).
membangun komitmen dari kelompoknya Profesi keperawatan merupakan profesi yang
yaitu dengan cara memberi motivasi, memiliki sumber daya manusia yang relative
semangat, dan kerja tim (Tappen, Weiss & besar (50%) jumlahnya dalam suatu kegiatan
Whitehead, 2004). rumah sakit. Pelayanan kesehatan yang baik
Kepemimpinan yang diterapkan dan berkualitas tidak terlepas dari peran
dalam suatu organisasi dapat membantu tenaga medis dan non medis, salah satu di
menciptakan efektivitas kerja yang positif antaranya adalah tenaga perawat. Tenaga
bagi pegawai. Adanya kepemimpinan yang perawat mempunyai kedudukan penting
sesuai dengan situasi dan kondisi organisasi dalam menghasilkan kualitas pelayanan
maka pegawai akan lebih semangat dalam kesehatan di rumah sakit, karena pelayanan
menjalankan tugas dan kewajibannya dan yang diberikannya berdasarkan pendekatan
mempunyai harapan terpenuhinya kebutuhan. bio-psiko-sosial-spiritual dan dilaksan akan
Selain kepemimpinan, komunikasi intern selama 24 jam secara berkesinambungan
juga mempunyai peranan yang sangat (Depkes RI, 2001).
penting dalam mewujudkan efektivitas kerja Perawat sendiri dikenal sebagai
yang positif. Komunikasi intern adalah sosok yang lembut dalam melaksanakan
proses penyampaian pesan-pesan yang pekerjaannya berdasarkan cinta kasih. Akan
berlangsung antar anggota organisasi, dapat tetapi dalam kenyataannya, sering kita
berlangsung antara pimpinan dengan mendengar kritik dan kecaman dari
bawahan, pimpinan dengan pimpinan, masyarakat terhadap sistem pelayanan yang
maupun bawahan dengan bawahan. kurang bermutu, profesional atau kurang
Demikian juga pada organisasi rumah sakit, empati dalam melakukan program pelayanan
kepemimpinan dan proses komunikasi kepala kesehatan terutama di rumah sakit dan
ruang perawatan dengan perawat pelaksana keluhan atas kinerja perawat dalam
akan menentukan bagaimana kinerja perawat memberikan asuhan keperawatan. Oleh sebab
pelaksana dalam menjalankan tugas dan itu perawat sebagai tim pelayanan kesehatan
kewajibannya melalui asuhan keperawatan yang terbesar dituntut untuk meningkatkan
untuk memenuhi kebutuhan pasien (Nazlah, mutu pelayanan keperawatan. Mutu
2012). pelayanan di rumah sakit juga ditinjau dari
Faktor kepemimpinan dalam sisi keperawatan yang salah satunya meliputi
organisasi memegang peranan penting, aspek motivasi kerja (Sutopo, 2003).
karena bawahan bekerja tergantung dari Salah satu masalah yang ada dalam
kemampuan pimpinannya. Pemimpin yang manajemen sumber daya manusia di rumah
efektif akan mampu menularkan optimisme sakit adalah masalah kinerja karyawan.
dan pengetahuan yang dimilikinya dalam Kinerja karyawan dianggap penting bagi
mencapai tujuan organisasi. Perawat tidak organisasi karena keberhasilan suatu
memiliki uraian tugas dan belum organisasi dipengaruhi oleh kinerja itu

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Murni Teguh |139


Indonesian Trust Health Journal Volume 2, No.1 - Agustus 2019
Cetak ISSN : 2620-5564
Online ISSN : 2655-1292

sendiri. Kinerja atau prestasi kerja adalah memberikan arahan dan motivasi terhadap
hasil kerja yang dicapai oleh seorang perawat pelaksana, 1 orang mengatakan
karyawan dalam melakukan tugas sesuai kepala ruangan juga jarang bekerjasama
tanggung jawab yang diberikan kepadanya. dengan perawat pelaksana karena tugas
Dalam hal ini kinerja perawat merupakan asuhan keperawatan selalu dilakukan oleh
aktivitas perawat dalam perawat pelaksana dan 1 orang lagi
mengimplementasikan sebaik-baiknya suatu mengatakan kepala ruangan jarang
wewenang, tugas dan tanggung jawabnya melakukan supervisi langsung dalam
dalam rangka pencapaian tujuan tugas pokok pelaksanaan tugas oleh perawat. Sedangkan
profesi dan terwujudnya tujuan dan sasaran hasil observasi yang dilakukan terhadap
unit organisasi (Slamet Haryono, 2004). perawat pelaksana didapatkan bahwa perawat
Kinerja perawat sebenarnya sama dengan tidak melalukan pengkajian secara akurat dan
prestasi kerja di perusahaan. Perawat ingin menyeluruh terhadap data status bio, psiko,
diukur kinerjanya berdasarkan standar sosio dan spiritual pasien. Perawat tidak
obyektif yang terbuka dan dapat mengkaji ulang dan merevisi pelaksanaan
dikomunikasikan. Jika perawat diperhatikan tindakan keperawatan berdasarkan respon
dan dihargai sampai penghargaan superior, klien.
mereka akan lebih terpacu untuk mencapai
prestasi pada tingkat lebih tinggi (Neal, METODE PENELITIAN
2004). Penelitian ini bersifat deskriptif
Melihat begitu luas dan kompleksnya korelasi. Dengan menggunakan pendekatan
tugas dan fungsi dari perawat di rumah sakit, cross sectional yaitu untuk mengetahui
maka rumah sakit membutuhkan SDM yang hubungan kepemimpinan efetif kepala
profesional dalam melaksanakan tugas pokok ruangan dengan kinerja perawat dalam
dan fungsi yang menjadi tanggung jawab melakukan asuhan keperawatan di RSU. Sari
perawat dalam melayani pasien. Pelayanan Mutiara Lubuk Pakam. Populasi dalam
keperawatan yang dilakukan kepada pasien penelitian ini adalah seluruh perawat
di rumah sakit melalui asuhan keperawatan pelaksana yang bertugas di RSU.Sari Mutiara
diharapkan menjadi berdaya guna dan Lubuk Pakam yang berjumlah 55 responden.
berhasil guna. Kinerja perawat melalui Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh
pengelolaan asuhan keperawatan akan perawat pelaksana yang sedang bertugas di
berhasil apabila memiliki tanggung jawab, RSU.Sari Mutiara Lubuk Pakam, teknik
mempunyai pengetahuan tentang manajemen pengambilan sampel dengan menggunakan
keperawatan dan kemampuan memimpin total sampling berjumlah 55 responden.
orang lain di samping pengetahuan dan Instrumen yang digunakan dalam penelitian
ketrampilan klinis yang harus dikuasainya ini yaitu dengan kuisioner. Analisa data
pula (Nurachmad, 2001). dalam penelitian ini meliputi analisa
Berdasarkan hasil survey awal yang univariat yaitu untuk mengetahui distribusi
telah dilakukan peneliti rata-rata pendidikan frekuensi kepemimpinan efektif kepala
terakhir adalah D3. Dari hasil observasi yang ruangan dan kinerja perawat dalam
dilakukan terhadap kepala ruangan terlihat melakukan asuhan keperawatan. Analisa
bahwa tidak semua kepala ruangan mampu bivariat untuk menilai hubungan
memecahkan masalah yang ada di ruangan kepemimpinan efektif kepala ruangan dengan
dengan baik, kepala ruangan sering kinerja perawat dalam melakukan asuhan
mengambil keputusan tanpa berdiskusi keperawatan yaitu dengan menggunakan uji
dengan perawat diruangan. Berdasarkan statistic chisquare dengan kepercayaan (CI)
wawancara terhadap 4 orang perawat adalah 95% dimana bila p < 0,05, berarti
pelaksana yang sedang bertugas di RSU. Sari hasil perhitungan bermakna (signifikan).
Mutiara Lubuk Pakam, 2 dari mereka
mengatakan kepala ruangan jarang

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Murni Teguh |140


Indonesian Trust Health Journal Volume 2, No.1 - Agustus 2019
Cetak ISSN : 2620-5564
Online ISSN : 2655-1292

Analisa Univariat (92,7%), lama kerja responden mayoritas 1,5


Untuk mengetahui distribusi - 3 tahun yakni sebanyak 31 orang (56,4%).
frekuensi dan persentase Kepemimpinan
Efektif Kepala Ruangan dan Kinerja Perawat 2. Kepemimpinan Efektif Kepala
dalam Melakukan Asuhan Keperawatan di Ruangan Di Rumah Sakit Umum Sari
RSU. Sari Mutiara Lubuk Pakam. Mutiara Lubuk Pakam.
Tabel 4.2
Analisa Bivariat Distribusi Frekuensi Dan Persentase
Analisa Hubungan Kepemimpinan Kepemimpinan Efektif Kepala Ruangan di
Efektif Kepala Ruangan Dengan Kinerja RSU Sari Mutiara Lubuk Pakam (n= 55)
Perawat dalam Melakukan Asuhan
Keperawatan di RSU. Sari Mutiara Lubuk
Pakam dengan menggunakan uji chi-square
dan tingkat kepercayaan (CI) adalah 95%
dimana bila p < 0,05, berarti hasil
perhitungan bermakna (signifikan).
Berdasarkan tabel 4.2 dapat
HASIL PENELITIAN ` diketahui bahwa kepemimpinan kepala
A. Analisa Univariat ruangan di RSU Sari Mutiara Lubuk Pakam
1. Karakteristik Responden Di Rumah mayoritas efektif yaitu (81,8%).
Sakit Umum Sari Mutiara Lubuk
Pakam. 3. Kinerja Perawat Di Rumah Sakit
Tabel 4.1 Umum Sari Mutiara Medan
Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Tabel 4.3
(Usia, Jenis Kelamin, Pendidikan Dan Lama Distribusi Frekuensi dan Persentase Kinerja
Kerja) Di RSU Sari Mutiara Lubuk Pakam (n Perawat di RSU
= 55) Sari Mutiara Lubuk Pakam (n = 55)

Berdasarkan tabel 4.3 dapat diketahui bahwa


kinerja perawat di RSU Sari Mutiara Lubuk
Pakam mayoritas dalam kategori cukup yaitu
(50,9%).

B. Analisa Bivariat
Tabel 4.4
Berdasarkan tabel 4.1 dapat dilihat Hasil Uji Chi-Square Antara Kepemimpinan
berdasarkan kelompok umur responden Efektif Kepala Ruangan Dengan Kinerja
mayoritas berada pada rentang umur 20-30 Perawat Di RSU. Sari Mutiara Lubuk Pakam.
tahun sebanyak 43 orang (78,2%), pada jenis (n = 55)
kelamin responden mayoritas perempuan
sebanyak 51 orang (92,7%), pada tingkat
pendidikan responden mayoritas berada pada
9tingkat D3 Keperawatan sebanyak 51 orang

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Murni Teguh |141


Indonesian Trust Health Journal Volume 2, No.1 - Agustus 2019
Cetak ISSN : 2620-5564
Online ISSN : 2655-1292

bahwa efektivitas adalah kemampuan


melaksanakan tugas, fungsi (operasi kegiatan
program dan visi) dari pada suatu organisasi
atau sejenisnya yang tidak adanya tekanan
dan ketegangan diantara pelaksanaanya
(Kurniawan, 2005).
Kepemimpinan efektif merupakan
kemampuan seorang pemimpin dalam
Berdasarkan tabel 4.4 dapat dilihat memberikan keseimbangan antara pemberian
bahwa (81,8%) kepemimpinan kepala tugas dan mengelola ketenagaan dan
ruangan dalam kategori efektif dengan memfasilitasi pemecahan masalah dalam
kinerja perawat dalam kategori baik (45,5%), kesenjangan antara kemampuann, prosedur,
kategori cukup (32,7%) dan kategori kurang struktur organisasi, dan motivasi (Dollan
(3,6%). Sedangkan dari (18,2%) &Sellwood, 2008). Hasil penelitian ini
kepemimpinan kepala ruangan dalam didukung oleh penelitian sebelumnya yang
kategori tidak efektif dengan kinerja perawat dilakukan oleh Apriyanto (2011) dengan
kategori cukup (18,2%). hasil penelitian pada kepemimpinannya
Setelah dilakukan uji chi-square dapat dilihat cukup baik yaitu sebagian besar 61 orang
bahwa nilai p value = 0.003 menunjukkan (71,8%).
bahwa ada hubungan yang signifikan antara Beberapa responden mengatakan
kepemimpinan efektif kepala ruangan dengan bahwa ada beberapa kepala ruangan yang
kinerja perawat di RSU. Sari Mutiara Lubuk tidak efektif yaitu 10 orang (18,2%).
Pakam. Kepemimpinan yang tidak efektif dinilai
karena kurangnya kompetensi kepala
PEMBAHASAN ruangan. Hal ini dapat terlihat dari jawaban
Kepemimpinan Efektif Kepala Ruangan kuesioner responden yang berpendapat dalam
Dari hasil penelitian yang dilakukan hal komunikasi kepala ruangan jarang
terhadap 55 orang responden terlihat bahwa mengingatkan perawat akan pentingnya
lebih banyak responden mengatakan pekerjaan yang dilakukan perawat pelaksana.
kepemimpinan kepala ruangan efektif yaitu Hal ini didukung oleh teori Wibowo yang
sebanyak 45 orang (81,8%), dengan mengatakan seorang pemimpin dikatakan
demikian respoden menilai bahwa kepala efektif apabila dapat mencapai tujuanya.
ruangan sudah bekerja dengan baik sesuai Agar mampu mencapai tujuan tersebut maka
dengan fungsinya. Hal ini dapat terlihat dari pemimpin diharapkan memiliki kompetensi
jawaban kuesioner responden yang yang sesuai dengan kepentingan organisasi.
berpendapat kepala ruangan bisa Di samping itu, masih banyak faktor yang
memecahkan dan mengambil keputusan yang mempengaruhi efektivitas kerja. Karena itu
baik dari setiap masalah diruangan, kepala diperlukan pemimpin cerdas dan terampil,
ruangan mau menerima saran dari perawat serta memiliki kompetensi (Wibowo, 2013).
pelaksana serta berperan aktif dalam Menurut Tappen (2004) inti dari
mengarahkan perawat pelaksana untuk kepemimpinan adalah kemampuan untuk
bekerja sesuai tujuan unit. Hal ini memengaruhi orang lain. Kepemimpinan
menunjukkan bahwa kepala ruang telah efektif merupakan pemenuhan dari tujuan
mendapatkan apresiasi yang baik dari bersama oleh pemimpin dengan bawahan.
perawat pelaksana. Kepala ruang sebagai Seorang pemimpin yang efektif dalam
orang yang dihormati telah memberikan keperawatan memiliki kualitas yang
contoh yang baik bagi perawat pelaksana mencakup integritas, berani, insiatif,
sehingga membuat kesan yang baik bagi memiliki kekuatan, optimis, memiliki
perawat pelaksana. Hasil ini sesuai dengan ketekunan, tenang, kemampuan mengatasi
pendapat Kurniawan yang mengatakan stress, dan kesadaran diri. Berdasarkan

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Murni Teguh |142


Indonesian Trust Health Journal Volume 2, No.1 - Agustus 2019
Cetak ISSN : 2620-5564
Online ISSN : 2655-1292

karakteristik responden usia, jenis kelamin, perawat merupakan bentuk kinerja perawat
pendidikan dan lama kerja responden tidak yang bekerja di ruang rawat inap. Menurut
memberikan pengaruh yang bermakna pada Gibson (1996 dalam Rofii, 2012) bahwa
kepemimpinan efektif kepala ruangan. umur dapat mempengaruhi kinerja dimana
Menurut asumsi peneliti berdasarkan pengembangan karir terjadi pada usia 30
kepemimpinan kepala ruangan diruang rawat tahun, selain itu keterampilan seseorang
inap RSU. Sari Mutiara Lubuk Pakam terutama dalam hal kecepatan, kecekatan,
pemimpin yang efektif adalah pemimpin kekuatan dan koordinasi dihubungkan
yang selalu terbuka untuk menerima saran dengan bertambahnya waktu. Umur 30 tahun
dan kritikan dari orang lain, mampu merupakan tingkat perkembangan manusia
berkomunikasi dengan baik, selalu berpikir yang dikategorikan usia dewasa muda (20-39
kritis dalam setiap pemecahan masalah, serta tahun), semakin bertambah usia berarti
mampu membuat perubahan dalam mencapai semakin arif dan bijaksana untuk melakukan
tujuan organisasi. suatu pekerjaan (Papalia, Olds & Feldman,
2009).
Kinerja Perawat Dalam Melakukan Dilihat dari hasil distribusi frekuensi
Asuhan Keperawatan responden pada tingkat jenis kelamin
Dari hasil penelitian yang dilakukan sebagian besar adalah perempuan (92,7%).
terhadap 55 orang responden terlihat bahwa Jenis kelamin yang kebanyakan menjadi
kinerja perawat kategori cukup yaitu perawat adalah perempuan. Menurut
sebanyak 28 orang (50,9%), baik 25 orang sejarahnya, keperawatan muncul dari peran
(45,5%) dan kurang 2 orang (3,6%). Dengan perspektif perempuan dalam suatu keluarga,
demikian berarti perawat sudah mampu maka dianggap wajar bila perawat
melakukan asuhan keperawatan dengan baik perempuan lebih banyak dari laki-laki
sesuai dengan prosedur keperawatan. Hal ini (Rolinson, 2001). Adanya perbedaan jenis
dapat dilihat dari jawaban kuesioner kelamin akan memberikan hasil kerja yang
reponden yang menyatakan perawat selalu berbeda pula. Hal ini sesuai dengan rumah
mengumpulkan dan mengelompokkan data sakit lain pada umumnya, dimana sebagian
bio-psiko-sosio dan spritual tentang pasien, besar perawat didominasi oleh kaum
perawat selalu melakukan analisis dan perempuan. Menurut (Stephen.P Robbins,
merumuskan masalah dengan mengacu pada 2001) dilain pihak terdapat pertimbangan lain
diagnosis keperawatan, serta membuat bahwa perempuan dalam melaksanakan
rencana tindakan dan mencatat tindakan pekerjaannya lebih disiplin dalam mematuhi
keperawatan yang dilaksanakan. Hal ini peraturan dibanding laki-laki, sehingga akan
didukung oleh pendapat Mangkunegara tercapai pelayanan keperawatan secara
(2009) Kinerja atau prestasi kerja adalah optimal.
hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang Pendidikan responden dalam
dicapai seorang pegawai dalam penelitian ini mayoritas berpendidikan D-III
melaksanakan tugasnya sesuai dengan keperawatan sebesar (92,7%) dan Ners
tanggung jawab yang diberikan kepadanya. sebesar (7,3%), pendidikan merupakan salah
satu karakteristik demografi yang dapat
Berdasarkan distribusi frekuensi, mempengaruhi seseorang, baik terhadap
responden dalam penelitian ini sebagian lingkungan maupun objek tertentu, selain itu
besar berumur 21-30 tahun (78,2%), perawat pendidikan merupakan faktor tidak langsung
yang berusia >30 tahun sebesar (21,8%). yang berpengaruh pada kinerja (Ilyas, 2002).
Perawat dengan kelompok usia tersebut dapat Semakin tinggi pendidikan akan semakin
berdampak posistif terhadap rumah sakit jika kritis, logis dan sistematis dalam berpikir
dikelola dengan sistem manajemen sumber sehingga meningkatkan kualitas kerjanya
daya manusia keperawatan yang baik. dengan kata lain semakin tinggi pendidikan
Pelaksanaan asuhan keperawatan oleh

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Murni Teguh |143


Indonesian Trust Health Journal Volume 2, No.1 - Agustus 2019
Cetak ISSN : 2620-5564
Online ISSN : 2655-1292

seseorang maka semakin baik juga prestasi Dari hasil uji statistik menggunakan
kerjanya. uji chi-square menunjukkan bahwa ada
Dalam penelitian ini lama kerja hubungan antara kepemimpinan efektif
responden sebagian besar 1,5 - 3 tahun kepala ruangan dengan kinerja perawat di
(56,4%) dan responden yang bekerja >3 RSU Sari Mutiara Lubuk Pakam dengan nilai
tahun sebesar (43,6%), semakin lama masa p.value < α = 0,05 dimana nilai p.value =
kerja seseorang maka akan semakin banyak 0,003. Hal ini menunjukkan bahwa semakin
pengalaman yang dimilikinya terkait dengan baik kepemimpinan kepala ruangan semakin
pemberian asuhan keperawatan. Hasil baik pula kinerja perawat di ruang rawat inap
penelitian ini didukung oleh pendapat RSU. Sari Mutiara Lubuk Pakam.
Siagian (2009 dalam Rofii, 2009) yang Terlihat dari hasil penelitian yang
mengatakan lama kerja mempengaruhi menunjukkan bahwa lebih banyak responden
pengetahuan seseorang, semakin lama mengatakan kepemimpinan kepala ruangan
bekerja semakin banyak pengalaman efektif yaitu sebanyak 45 orang (81,8%)
sehingga produktivitas kerja dapat dengan kinerja perawat cukup yaitu sebanyak
meningkat. Hal ini sejalan dengan teori 28 orang (50,9%). Hasil penelitian ini
Kusumawati (2011) yang mengatakan bahwa didukung penelitian sebelumnya yang
semakin banyak pengalaman yang dimiliki, dilakukan oleh sugijati (2008) dengan hasil
maka akan semakin bertambah juga penelitian kinerja perawat dalam
pengetahuan perawat tentang diri mereka, melaksanakan asuhan keperawatan di ruang
kesehatan klien, kemampuan untuk rawat inap RSUD Mataram dalam kategori
menginterpretasikan informasi tertentu dan baik (47%). Menurut Kuntoro (2010),
melaksanakan tindakan keperawatan kepemimpinan dalam keperawatan sangatlah
khususnya dalam memberikan asuhan penting karena mempunyai pengaruh yang
keperawatan. dapat menciptakan kepercayaan dan ketaatan,
Hasil penelitian ini sesuai dengan sehingga menimbulkan kesediaan untuk
penelitian yang dilaksanakan oleh Pitoyo melaksanakan tugas, dalam rangka mencapai
(2000) tentang faktor-faktor yang tujuan pelayanan keperawatan secara efektif
berhubungan dengan kinerja perawat dalam dan efisien.
melaksanakan perawatan kesehatan Kinerja perawat pelaksana yang baik
masyarakat di puskesmas kabupaten menjadi indikator dari baiknya pekerjaan
semarang. yang menyatakan ada hubungan yang dihasilkan oleh perawat. Hasil kerja
yang bermakna antar kepemimpinan dengan yang baik tersebut dapat diamati dari
kinerja perawat dalam melaksanakan asuhan kompetensi dan produktivitas yang
perawatan. ditunjukan dari pelaksanaan pekerjaan yang
Menurut asumsi peneliti berdasarkan dilakukan sesuai tugas pekerjaannya. Kinerja
kinerja perawat pelaksana di RSU. Sari yang baik juga tercapai apabila pekerjaan
Mutiara Lubuk Pakam bahwa kinerja yang dilakukan sesuai dengan prosedur yang ada
baik akan mempengaruhi produktifitas dan pekerjaan dilakukan dengan kualitas
sebuah organisasi. Setiap tindakan hasil yang baik. Sesuai dengan Dessler
keperawatan yang dilakukan dengan (2009) menyebutkan kinerja karyawan dapat
mengacu pada standard asuhan keperawatan diukur dangan membandingkan hasil kerja
akan menghasilkan suatu kinerja yang baik. dengan standar yang telah dibuat.
Kinerja perawat pelaksana di RSU.
Hubungan Kepemimpinan Efektif Kepala Sari Mutiara Lubuk Pakam yang sudah dalam
Ruangan Dengan Kinerja Perawat Dalam kategori cukup perlu dipertahankan dan lebih
Melakukan Asuhan Keperawatan Di ditingkatkan. Kinerja dapat dipertahankan
Rumah Sakit Umum Sari Mutiara Lubuk dan ditingkatkan dengan memenuhi harapan
Pakam perawat atas pola hubungan kerja yang baik,
fasilitas kerja, iklim kerja, kebijakan

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Murni Teguh |144


Indonesian Trust Health Journal Volume 2, No.1 - Agustus 2019
Cetak ISSN : 2620-5564
Online ISSN : 2655-1292

kepemimpinan, pola kepemimpinan kerja dan 3. Kepemimpinan efektif kepala ruangan ada
kondisi kerja yang baik sehingga dapat hubungan dengan kinerja perawat dalam
mendukung tercapainya kinerja yang melakukan asuhan keperawatan di
maksimal. ruangan rawat inap RSU Sari Mutiara
Beberapa penelitian membuktikan Lubuk Pakam dengan p.value = 0.003 < α
adanya hubungan ini seperti yang dilakukan = 0,005. Hal ini menunjukkan bahwa
oleh Oluseyi, S. (2009), menemukan bahwa semakin baik kepemimpinan seorang
kinerja karyawan sangat dipengaruhi oleh kepala ruangan maka akan semakin baik
kepemimpinan efektif, kemudian motivasi pula kinerja perawat dalam melakukan
kerja dan yang terakhir adalah manajemen asuhan keperawatan, karena seorang
waktu. Kemudian Baidowi, A (2010) pemimpin yang efektif akan mampu
mendapatkan kesimpulan bahwa budaya mempengaruhi orang lain kearah tujuan
organisasi, kepemimpinan, insentif dan yang lebih baik.
disiplin kerja secara simultan memengaruhi
kinerja pegawai. Endro, dan Sujiono, M SARAN
(2012) mendapatkan kesimpulan bahwa ada 1. Bagi Kepala Ruangan
hubungan positif bermakna kepemimpinan Disarankan agar bekerja sesuai dengan
terhadap kinerja tetapi ada hubungan tidak tugas dan fungsinya sebagai pemimpin
bermakna antara kepemimpinan terhadap yang efektif seperti mampu berpikir kritis,
kinerja melalui motivasi. Dari hasil penelitian mengambil tindakan dan memecahkan
yang diperoleh, maka peneliti dapat masalah, menyusun tujuan dan
menyimpulkan semakin efektif membangun orang lain serta lebih
kepemimpinan seorang kepala ruangan maka memperhatikan para perawat tentang
kinerja perawat juga akan semakin baik. pentingnya kinerja yang baik dalam suatu
Selain kepemimpinan yang efektif kinerja tindakan keperawatan dengan cara lebih
perawat juga dapat dipengaruhi oleh faktor menekankan tentang penerapan standar
lain seperti motivasi, beban kerja dan iklim asuhan keperawatan kepada pasien
kerja. maupun keluarganya.
2. Bagi Perawat Pelaksana
KESIMPULAN Disarankan agar dapat menjaga hubungan
Dari hasil penelitian yang telah yang baik dengan kepala ruangan dan
dilakukan di ruang rawat inap RSU Sari lebih meningkatkan kinerjanya dalam
Mutiara Lubuk Pakam dapat diperoleh melakukan asuhan keperawatan terhadap
kesimpulan sebagai berikut: pasien maupun keluarga dengan cara
1. Kepemimpinan kepala ruangan di ruang selalu mengaplikasikan standar asuhan
rawat inap RSU Sari Mutiara Lubuk keperawatan dalam setiap tindakan
Pakam mayoritas adalah efektif . Hal ini keperawatan.
menyatakan bahwa perawat menilai 3. Bagi Rumah Sakit
kepala ruangan di RSU Sari Mutiara Disarankan kepada pihak manajemen
Lubuk Pakam sudah bekerja dengan rumah sakit agar lebih selektif dalam
efektif sesuai dengan tugas dan fungsinya memilih kepemimpinan kepala ruangan
dalam ruangan. dan perawat pelaksana yang memiliki
2. Kinerja perawat di ruang rawat inap RSU pengetahuan lebih luas guna terciptanya
Sari Mutiara Lubuk Pakam termasuk kinerja perawat yang berkualitas. Pihak
kategori cukup. Hal ini menyatakan rumah sakit juga diharapkan lebih
bahwa perawat sudah mampu memberikan meningkatkan iptek dengan
asuhan keperawatan terhadap pasien dan menyelenggarakan pelatihan tentang
keluarga pasien sesuai dengan standar kepemimpinan yang efektif bagi kepala
asuhan keperawatan. ruangan dan pelatihan tentang penerapan

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Murni Teguh |145


Indonesian Trust Health Journal Volume 2, No.1 - Agustus 2019
Cetak ISSN : 2620-5564
Online ISSN : 2655-1292

asuhan keperawatan yang baik bagi


perawat pelaksana.
4. Bagi Peneliti Selanjutnya
Disarankan agar menggunakan metode
lain dalam melakukan penilaian kinerja
perawat seperti observasi untuk
mendapatkan hasil yang lebih maksimal
dan tidak bersifat objektif.

REFERENSI
Agung, Kurniawan. (2005). Transformasi
Pelayanan Publik. Yogyakarta:
Pembaharuan.
Depkes RI, (2001). Petunjuk Pelaksanaan
Indikator Pelayanan Rumah Sakit,
Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, Jakarta.5
Dessler Gary, (2009). Manajemen Sumber
Daya Manusia, Jakarta :Edisi
Kesepuluh Jilid Dua PT Indeks
Harahap, Nazlah (2012). Pengaruh
Kepemimpinan dan Komunikasi
terhadap Kinerja Perawat Pelaksana
di Ruang Rawat Inap RSUD Kota
Padangsidimpuan. Diakses pada hari
Kamis, 09 Juni
2016.http://repository.usu.ac.id/handle/
123456789/34028
Ilyas, Yaslis, (2002). Kinerja, Teori,
Penilaian dan Penelitian. Fakultas
Kesehatan Masyarakat Universitas
Indonesia. Jakarta.
Kuntoro, A. (2010). Buku Ajar Manajemen
Keperawatan.
Yogyakarta: Nuha Medika
Nurachmad E., (2001). Asuhan Keperawatan
Bermutu di Rumah Sakit. Jakarta :
http//www.pdpersi.co.id
Robbin, S.P. (2006). Perilaku Organisasi,
Jilid I, (Edisi ke-10 terjemahan), PT.
Gramedia, Jakarta.
Tappen, R. M., Weiss, S. A., Whitehead, D.
K. (2004). Essentials of Nursing
Leadership and Management.
Philadelphia. F. A. Davis Company.
Wibowo. (2013). Manajemen Kinerja.
Jakarta: Rajawali Pers

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Murni Teguh |146

You might also like