PERBEDAAN HASIL BELAJAR IPA MELALUI PEMBELAJARAN
INKUIRI TERBIMBING DAN PBL DENGAN KEMAMPUAN AWAL
PADA SISWA KELAS V SD NEGERI 1 GUNUNG TERANG
BANDAR LAMPUNG
Oleh:
Dwi Ervina Winata, Agus Suyatna, Dwi Yulianti
FKIP Unila, Jl. Prof. Dr. Soemantri Brojonegoro No. 1 Bandar Lampung
e-mail:
[email protected] 085267985361
Abstract: The difference of science learning outcomes through guided
inquiry learning and PBL with initial ability to primary V students of SD
Negeri 1 Gunung Terang Bandar Lampung. The objectives of this research are
to explain: (1) interaction between learning guided inquiry and (PBL) with initial
ability student toward Science learning outcomes; (2) the mean difference of
Science learning outcomes to students that use guided inquiry learning and PBL;
(3) the mean difference of Science learning outcomes that use guided inquiry
learning and PBL to high initial ability student; (4) the mean difference of Science
learning outcomes that use guided inquiry learning and PBL to low initial ability
student. This research uses experimental method with 2x2 factorial design. The
sample of this research is 50 students of primary 5. The sampling technique which
used in this research is total sampling. The data which is received will be
processed by using analysis of variant two ways and mean difference test. The
result shows that: (1) there is an interaction between learning guided inquiry and
PBL with student initial ability toward Science learning outcomes (FAB = 14.274
with p < 0.05); (2) overall, Science learning outcomes to students who learn by
guided inquiry learning are higher than the students who learn by PBL µA1= (65,6)
> µA2= (64,2); (3) for students who have high initial ability, the science learning
outcomes to students who learn by PBL are higher than the students who learn by
guided inquiry learning µA2B1= (80,4 > µA1B1= (68,8); (4) for students who have
low initial ebility, the Science learning outcomes to students who learn by guided
inquiry learning are higher than the students who learn by PBL µA1B2= (62,4) >
µA2B2 = (48,8).
Key words: guided inquiry, PBL, prior knowledge
Abstrak: Perbedaan hasil belajar IPA melalui pembelajaran inkuiri
terbimbing dan PBL dengan kemampuan awal pada siswa kelas V SD Negeri
1 Gunung Terang Bandar Lampung. Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan:
(1) interaksi antara pembelajaran inkuiri terbimbing dan Problem Based Learning
(PBL) dengan kemampuan awal siswa terhadap hasil belajar IPA (2) perbedaan
rata-rata hasil belajar IPA siswa yang pembelajarannya menggunakan inkuiri
terbimbing dan PBL (3) perbedaan rata-rata hasil belajar IPA yang
pembelajarannya menggunakan inkuiri terbimbing dan PBL pada siswa
berkemampuan awal tinggi (4) perbedaan rata-rata hasil belajar IPA yang
pembelajarannya menggunakan inkuiri terbimbing dan PBL pada siswa
berkemampuan awal rendah. Penulis menggunakan metode eksperimen dengan
rancangan faktorial 2x2. Sampel penelitian yaitu siswa kelas V, berjumlah 50
siswa. Teknik pengambilan sampel dengan total sampling. Data yang diperoleh
diolah dengan analisis varians dua jalur dan uji beda mean. Berdasarkan hasil
penelitian dapat disimpulkan: (1) ada interaksi antara pembelajaran inkuiri
terbimbing dan PBL dengan kemampuan awal siswa terhadap hasil belajar IPA
(FAB= 14,274 dengan p < 0,05); (2) pencapaian hasil belajar IPA siswa yang
pembelajarannya menggunakan inkuiri terbimbing (µA1= (65,6) lebih tinggi
dibandingkan dengan PBL µA2= (64,2); (3) untuk siswa yang memiliki
kemampuan awal tinggi, hasil belajar IPA siswa yang belajar dengan
pembelajaran PBL lebih tinggi daripada siswa yang belajar dengan pembelajaran
inkuiri terbimbing µA2B1= (80,4 > µA1B1= (68,8); (4) untuk siswa yang memiliki
kemampuan awal rendah, hasil belajar IPA siswa yang belajar dengan
pembelajaran inkuiri terbimbing lebih tinggi daripada siswa yang belajar dengan
pembelajaran PBL µA1B2= (62,4) > µA2B2 = (48,8).
Kata kunci: inkuiri terbimbing, PBL, kemampuan awal
PENDAHULUAN kegiatan pembelajaran berorientasi
pada dua aspek yaitu proses dan hasil.
Pendidikan merupakan salah satu
komponen penting dalam Pada hakekatnya pendidikan ialah
meningkatkan kualitas sumber daya usaha sadar yang dilakukan oleh
manusia. Untuk mewujudkan hal itu, seseorang terhadap orang lain agar
maka sekolah sebagai komponen utama orang lain memiliki pengetahuan dan
pendidikan perlu mengelola keterampilan. Dalam proses pendidikan
pembelajaran sesuai dengan prinsip- selalu terjadi perubahan tingkah laku
prinsip kegiatan pembelajaran antara dari tidak tahu menjadi tahu, tetapi
lain: (1) kegiatan berpusat pada siswa; lebih dari itu perubahan yang
(2) belajar melalui berbuat; (3) belajar diharapkan meliputi seluruh aspek
mandiri dan belajar bekerja sama. pendidikan yaitu: afektif, kognitif dan
Sejalan dengan prinsip kegiatan psikomotor. Dalam melaksanakan
pembelajaran tersebut, maka kegiatan pendidikan terjadi proses pembelajaran
pembelajaran diharapkan tidak terfokus yang merupakan kegiatan utama dari
pada guru, tetapi dapat membuat siswa pendidikan itu sendiri, yang mana
aktif dalam proses belajarnya dan dapat setelah terjadi proses pembelajaran
membangun pengetahuannya sendiri diharapkan terjadi perubahan pada hasil
(student centered learning ), sehingga
belajar siswa. Namun fakta yang Tabel 1.1, menjelaskan bahwa hasil
terlihat di lapangan, proses belajar siswa dalam hal ini ditunjukkan
pembelajaran masih saja bersifat dengan nilai rata-rata UTS kelas V
verbal, dimana siswa tampak pasif dan pada mata pelajaran IPA materi pokok
menerima pengetahuan sesuai dengan pesawat sederhana di SD Negeri 1
yang diberikan guru. Proses Gunung Terang masih tergolong
pembelajaran yang dilakukan di rendah, karena dapat dilihat dari
sekolah masih berpusat pada guru persentase tingkat ketuntasan siswa
(teacher centered). Pada waktu guru dalam mata pelajaran IPA masih di
memberi kesempatan untuk menjawab bawah 50%. Sedangkan Kriteria
atau pun bertanya, siswa bingung apa Ketuntasan Minimal (KKM) yang
yang akan dijawab dan ditanyakan. Hal ditetapkan sekolah untuk mata
ini merupakan indikasi bahwa pelajaran IPA adalah 62,00. Hal ini
kemampuan berpikir dan pemahaman menunjukkan bahwa materi pesawat
konsep pembelajaran siswa masih sederhana merupakan materi yang
sangat rendah. cukup sulit diterima oleh siswa,
sehingga hasil belajar siswa kurang
Berdasarkan informasi tersebut, maka
memuaskan.
dilakukan observasi di SD Negeri 1
Gunung Terang Bandar Lampung, dan
Berdasarkan hasil wawancara dengan
diperoleh keterangan bahwa hasil
beberapa orang siswa kelas V yang
belajar IPA siswa kelas V pada materi
diambil secara random, bahwa di
pelajaran pesawat sederhana di sekolah
dalam proses pembelajaran pada materi
tersebut masih tergolong rendah dan
Pesawat Sederhana, siswa cenderung
masih ada yang belum tuntas KKM,
belajar dengan hanya menggunakan
dengan Kriteria Ketuntasan Minimal
konsep menghafal tanpa memahami
(KKM) 62, Hal ini dapat dilihat dari
maknanya. Di dalam proses
tabel 1.1:
pembelajaran, tidak terjadi interaksi
Kelas Persentase Persentase Rt-rt
(%) siswa (%) siswa antara guru dan siswanya.
nilai
tuntas tuntas
KKM KKM Observasi awal tersebut dapat
VA 48% 52% 61,00
disimpulkan bahwa kualitas proses
VB 40% 60% 59,00
pembelajaran IPA yang dilaksanakan
saat ini relatif masih sangat rendah, mendorong siswa untuk mengajukan
siswa menjadi sangat pasif dan pertanyaan-pertanyaan, untuk
cenderung merasa bosan dengan memeriksa apa yang disajikan
penggunaan metode yang diterapkan kepadanya sehingga dalam
oleh guru tersebut, dapat dilihat dari pembelajaran di kelas siswa merasa
hasil belajar yang ditunjukkan oleh bebas untuk berkarya, berpendapat,
hasil tes Ulangan Tengah Semester membuat kesimpulan dan membuat
tergolong rendah. dugaan. Namun, mengubah kebiasaan
guru dari pembelajaran berpusat pada
Dari permasalahan di atas, salah satu
guru (teacher centered) ke
pembenahan dalam proses
pembelajaran berpusat pada siswa
pembelajaran yang dapat dilakukan
(student centered) bukanlah hal yang
adalah pemilihan model pembelajaran
mudah. Karena itu, masih dibutuhkan
yang tepat dalam penyampaian setiap
pembelajaran yang dapat meningkatkan
konsep, sehingga siswa secara mudah
keaktifan siswa di dalam melatih cara
menerima atau menerapkannya dalam
berfikir kritis dan melatih sikap
kehidupan sehari-hari. Pemilihan
kemandirian mereka, salah satu
model pembelajaran yang tepat atau
diantaranya adalah menggunakan
sesuai untuk setiap konsep akan
model pembelajaran problem based
membuat tujuan pembelajaran yang
learning.
sudah ditentukan tercapai dengan baik,
sehingga dapat memfasilitasi Model pembelajaran problem based
pembelajaran IPA menjadi lebih learning adalah suatu model
bermakna bagi siswa. Salah satu model pembelajaran yang melibatkan siswa
pembelajaran yang dapat diterapkan untuk memecahkan masalah melalui
adalah model pembelajaran inkuiri tahap-tahap metode ilmiah sehingga
terbimbing. Model pembelajaran ini, siswa dapat mempelajari pengetahuan
menempatkan siswa dalam suatu peran yang berhubungan dengan masalah
yang menuntut inisiatif besar dalam tersebut dan sekaligus memiliki
menemukan hal-hal untuk dirinya keterampilan untuk memecahkan
sendiri. Siswa harus aktif terlibat dalam masalah. Masalah yang dijadikan
pembelajaran dan guru bertugas sebagai fokus pembelajaran dapat
memberikan bimbingan serta diselesaikan siswa melalui kerja
kelompok sehingga dapat memberi Desain penelitian yang digunakan
pengalaman-pengalaman belajar yang dapat dilihat pada tabel 3.1
beragam pada siswa seperti kerjasama Model pembelajaran
dan interaksi dalam kelompok. Model Kemampuan Inkuiri Problem based
awal siswa terbimbing Learning
pembelajaran problem based learning (A1) (A2)
TINGGI A1 B 1 A2B1
juga dapat meningkatkan kemampuan
RENDAH A1B2 A2B2
berpikir kritis, menumbuhkan inisiatif
siswa dalam bekerja, motivasi internal Penelitian ini dilaksanakan di SD
untuk belajar, dan dapat Negeri 1 Gunung Terang yang
mengembangkan hubungan beralamatkan di jalan Purnawirawan
interpersonal dalam bekerja kelompok. No.74 Bandar Lampung. Penelitian
dilakukan di kelas V dengan mata
METODE PENELITIAN pelajaran IPA. Populasi dalam
penelitian ini adalah siswa kelas V SD
Penelitian ini merupakan penelitian
Negeri 1 Gunung Terang Bandar
kuantitatif dengan rancangan quasi
Lampung yang terdiri dari 2 kelas,
experiment. Quasi eksperimen adalah
yang berjumlah 50 siswa. Sampel yang
desain eksperimental semu, karena
digunakan dalam penelitian ini adalah
tidak dapat memberikan pengendalian
keseluruhan jumlah populasi yang ada
secara penuh melalui penggunaan
yaitu 50 orang. Mengingat jumlah
prosedur pengacakan (Furchan,
populasi tidak terlalu banyak, maka
2002:368). Dalam desain penelitian ini
teknik pengambilan sampel yang
terdapat tiga variabel penelitian : 1)
digunakan adalah total sampling.
variabel terikat yaitu hasil belajar IPA
Kemudian dari jumlah 50 siswa
siswa, 2) variabel bebas yaitu model
tersebut yang terdiri dari dua kelas,
pembelajaran (PBL dan Inkuiri
dikelompokkan untuk dijadikan
terbimbing), dan 3) variabel atribut
sebagai kelompok eksperimen 1 dan
yaitu kemampuan awal siswa
kelompok eksperimen 2. Selanjutnya,
(kemampuan awal tinggi dan rendah).
masing-masing kelompok dipilah
Adapun desain eksperimen yang menjadi dua kelompok yaitu kelompok
diterapkan adalah faktorial 2 X 2. siswa yang beranggotakan memiliki
kemampuan awal tinggi dan kelompok
siswa yang beranggotakan memiliki Kolmogorov-Smirnov dengan bantuan
kemampuan awal rendah. Penentuan program SPSS 16,0. Berikut ringkasan
kemampuan awal siswa dilakukan hasil uji normalitas:
dengan menggunakan tes kemampuan Kelompok Sig. α Kesimpulan
Sampel
prasyarat yang diadaptasi dari teori A1 B1 0,600
Piaget dan inhelder. Skor yang telah A2 B1 1,060
0,05 Normal
A1 B2 0,785
diperoleh dari tes kemampuan A2 B2 0,723
prasyarat tersebut kemudian di
Sedangkan untuk uji homogenitas diuji
rangking. Sebanyak 27% kelompok
dengan levene’s test dengan bantuan
atas dinyatakan sebagai kelompok yang
program SPSS 16,0. Berikut ringkasan
memiliki kemampuan awal tinggi
perhitungab uji homogenitas:
sedangkan 27% kelompok bawah
Kelompok Fhitung Sig. Kesimpulan
dinyatakan sebagai kelompok yang sampel
A1B1_A1B2
memiliki kemampuan awal rendah.
.131 .941 Homogen
A2B1_A2B2
Instrumen penelitian yang digunakan
dalam penelitian ini adalah instrumen Sedangkan untuk menguji hipotesis 3
pembelajaran yang terdiri atas: RPP dan 4 menggunakan uji t dengan
dan LKS. Sedangkan instrumen menggunakan program SPSS versi 16,0
pengumpulan data berupa isntrumen dengan uji independent sample t-test.
tes. Tipe tes yang digunakan adalah
tipe tes bentuk objektif dan tes bentuk HASIL PENELITIAN DAN
uraian (tes essai) yang berjumlah 20 PEMBAHASAN
soal.
Sebelum melakukan kegiatan
Pengujian hipotesis 1 dan 2 dilakukan pembelajaran dengan menggunakan
dengan ANAVA dua jalur dengan dua model pembelajaran yang berbeda
bantuan SPSS 16.0 PC For Windows. yaitu model pembelajaran (inkuiri
Untuk analisis varians memerlukan terbimbing dan problem based
beberapa persyaratan analisis antara learning), terlebih dahulu kedua kelas
lain: Uji normalitas dan uji harus diberikan tes kemampuan
homogenitas. Pengujian normalitas prasyarat dengan tujuan untuk
dalam penelitian ini menggunakan uji mengetahui kesiapan siswa atau
pemahaman siswa terhadap materi 21. AP 51,5 21. RS 50
22. RA 49 22. FS 50
prasyarat dan juga sebagai pedoman 23. GR 45 23. NH 41,5
24. FS 38 24. SG 34
dalam pembentukan kelompok 25. OA 38 25. DD 25
kemampuan awal yaitu kemampuan Rata-rata 62,86
Rata-
62,72
rata
awal tinggi dan kemampuan awal
rendah. Tes kemampuan prasyarat ini Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa
diikuti oleh siswa kelas V yang skor rata-rata tes kemampuan prasyarat
berjumlah 50 siswa. untuk kelas VA adalah 62,86 dan rata-
rata untuk kelas VB adalah 62,72. Hasil
Materi prasyarat yang harus dikuasai
ini menunjukkan bahwa secara umum
siswa sebelum mempelajari pesawat
siswa telah dapat memahami materi
sederhana adalah materi tentang konsep
prasyarat dengan baik. Sehingga
gaya yang nantinya materi ini akan
peneliti menganggap bahwa siswa
berkaitan dengan materi pelajaran yang
sudah siap mengikuti materi pelajaran
akan diajarkan. Banyaknya soal tes
pesawat sederhana dengan
awal adalah 10 soal, berbentuk pilihan
menggunakan dua model pembelajaran
ganda dan essay dengan waktu yang
yang berbeda yaitu model
disediakan 35 menit. Berikut hasil tes
pembelajaran inkuiri terbimbing dan
kemampuan prasyarat siswa dapat
model pembelajaran problem based
dilihat pada Tabel berikut:
learning. Selanjutnya dihari
KELAS VA KELAS VB
No Nama Nilai No Nama Nilai berikutnya, diadakanlah pelaksanaan
1. AL 86,5 1. DF 80,5
2. AB 80 2. FP 79 pembelajaran dengan menggunakan
3. WN 76 3. MA 77
4. IS 74,5 4. EC 74 model pembelajaran inkuiri terbimbing
5. AH 74,5 5. MS 73,5 dan PBL. Setelah selesai diadakan
6. FA 74 6. TH 73,5
7. DR 72 7. AP 71 pembelajaran maka siswa diberikan tes
8. WS 70 8. AD 70
9. DP 68,5 9. MR 70 hasil belajar. Berikut tabel ringkasan
10. DM 66 10. TI 69,5
data hasil belajar statistik deskriptif
11. CY 65 11. AA 66,5
12. DA 65 12. FP 66 untuk masing-masing sel.
13. NW 64 13. MM 66
14. DM 64 14. MA 65
15. PK 61,5 15. RS 64
16. RS 60 16. DA 63,5
17. TZ 60 17. EP 60
18. DL 58,5 18. RI 60
19. DZ 57 19. SA 60
20. DN 53 20. SK 58,5
Kemampuan Inkuiri PBL (A2) Rt- menyampaikan materi pelajaran
Awal terbimbing rt
(A1) memungkinkan siswa saling
Tinggi (B1) = 68,80 = 80,40 = berinteraksi baik dengan guru maupun
SD = 10,92 SD = 10,40 74,6
Nilai Nilai
dengan siswa lainnya serta lingkungan
tertinggi = tertinggi = sehingga dapat meningkatkan hasil
88 88
Nilai Nilai belajarnya. Lingkungan memberikan
terendah = terendah =
58 60 masukan kepada siswa berupa bantuan
dan masalah, sedangkan sistem saraf
Rendah = 62,40 = 48,00 =
(B2) otak berfungsi menafsirkan bantuan itu
SD = 13,22 SD = 8,432 55,2
Nilai Nilai
secara efektif sehingga masalah yang
tertinggi = tertinggi =
76 64 dihadapi dapat diselidiki, dinilai,
Nilai Nilai
terendah = terendah = dianalisis, serta dicari pemecahannya
40 40
dengan baik.
Rata-rata = 65,6 = 64,2
Menurut Vygotsky, keterampilan-
Hasil pembuktian pada hipotesis keterampilan dalam keberfungsian
pertama, menunjukkan bahwa ada mental berkembang melalui interaksi
interaksi antara pembelajaran (inkuiri sosial langsung. Informasi tentang alat-
terbimbing dan problem based alat, keterampilan dan hubungan-
learning) dengan kemampuan awal hubungan interpersonal kognitif
siswa terhadap hasil belajar IPA. Hasil dipancarkan melalui interaksi langsung
uji statistik dengan menggunakan dengan manusia. Melalui
ANAVA dua jalur diperoleh nilai pengorganisasian pengalaman-
Fhitung = 14,274 yang lebih besar pengalaman interaksi sosial yang
dibandingkan dengan nilai Ftabel = 4,11 berada di dalam suatu latar belakang
atau (14,274 > 4,11). kebudayaan ini, perkembangan mental
anak-anak menjadi matang.
Adanya interaksi ini, menunjukkan
bahwa pemilihan startegi pembelajaran Pembelajaran inkuiri terbimbing dan
harus disesuaikan dengan karakteristik problem based learning merupakan
materi pelajaran yang akan pembelajaran penemuan. Berdasarkan
disampaikan pada siswa. Penggunaan teori belajar penemuan, proses
pembelajaran yang tepat dalam pembelajaran akan menjadi lebih
bermakna dan berjalan baik dan kreatif melakukan kegiatan-kegiatan sehingga
jika siswa dapat menemukan sendiri siswa yang berpikir lambat tetap
suatu aturan atau kesimpulan tertentu. mampu mengikuti kegiatan-kegiatan
yang sedang dilaksanakan dan siswa
Hasil pengujian hipotesis kedua, dari
yang mempunyai kemampuan berpikir
hasil analisis data yang diperoleh
tinggi tidak memonopoli kegiatan. Hal
ternyata Fhitung > Ftabel atau 16,554 >
ini sesuai dengan penelitian yang
4,11 maka Ho ditolak dan H1 diterima,
dilakukan oleh Kuhne (dalam Alberta,
ini berarti bahwa hipotesis yang
2004) menyatakan bahwa pembelajaran
menyatakan ada perbedaan hasil belajar
berdasarkan inkuiri terhadap siswa,
IPA siswa yang diajarkan dengan
dapat membantu mereka menjadi lebih
menggunakan pembelajaran inkuiri
kreatif, lebih berfikir positif dan lebih
terbimbing dan problem based learning
percaya diri. Hal ini berlaku bagi
dapat diterima kebenarannya. Dimana
semua siswa, termasuk siswa yang
rerata hasil belajar IPA siswa yang
membutuhkan perhatian khusus selama
diajarkan dengan menggunakan
proses pembelajaran.
pembelajaran inkuiri terbimbing lebih
tinggi dibandingkan dengan problem Untuk pengujian hipotesis ketiga, dari
based learning yaitu µX1 (65,6) > µX2 hasil analisis data diperoleh nilai thitung
(64,2). sebesar 2,432 dan nilai ttabel diperoleh
dari dk = (n1 + n2 – 2) = 18 pada
Adanya perbedaan ini disebabkan
derajat kepercayaan 95% adalah 1,73.
dalam pembelajaran inkuiri terbimbing,
Sehingga dalam hal ini (thitung > ttabel)
guru memberikan bimbingan atau
yakni 2,432 > 1,73 yang berarti Ho
petunjuk cukup luas kepada siswa
ditolak dan H1 diterima. Rerata hasil
dalam melakukan eksperimen. Dalam
belajar IPA siswa yang mempunyai
pembelajaran inkuiri terbimbing
kemampuan awal tinggi yang diajarkan
sebagian perencanaanya dibuat oleh
dengan problem based learning lebih
guru siswa tidak merumuskan masalah,
tinggi dibandingkan dengan
guru tidak melepas begitu saja
pembelajaran inkuiri terbimbing, yakni
kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh
µA2B1 > µA1B1 (80,4 > 68,8).
siswa. Guru memberikan pengarahan
dan bimbingan kepada siswa dalam
Hasil dari hipotespis ketiga ini sama Dengan pandangan konstruktivisme
dengan kesimpulan dari penelitian yang ‘belajar’ bukanlah semata-mata
dilakukan Ibrahim (2007) diperoleh mentransfer pengetahuan yang ada di
kesimpulan bahwa: hasil belajar siswa luar dirinya, tetapi belajar lebih pada
dengan penerapan strategi bagaimana otak memproses dan
pembelajaran problem based learning menginterpretasikan pengalaman yang
ternyata lebih tinggi dibandingkan baru dengan pengetahuan yang sudah
dengan hasil yang diperoleh siswa dimilikinya dalam format yang baru.
dengan penerapan strategi
Sedangkan untuk pengujian hipotesis
pembelajaran inkuiri dan strategi
ke empat, diperoleh nilai thitung sebesar
pembelajaran ekspositori ditinjau dari
dan nilai ttabel diperoleh dari dk = (n1 +
minat belajar siswa, semakin tinggi
n2 – 2) = 38 pada derajat kepercayaan
minat belajar siswa semakin tinggi pula
95% adalah 1,73. Sehingga dalam hal
hasil belajarnya pada mata pelajaran
ini (thitung > ttabel) yakni 2,903 > 1,73
IPA.
yang berarti Ho ditolak dan H1
Di dalam pembelajaran problem based diterima. Rerata hasil belajar IPA siswa
learning memberi tekanan pada yang mempunyai kemampuan awal
penyelesaian suatu masalah secara rendah yang diajarkan dengan inkuiri
menalar, siswa sendiri yang terbimbing lebih tinggi dibandingkan
menemukan jawaban berdasarkan dengan pembelajaran problem based
pengetahuan, pemahaman, dan learning, yakni µA1B2 > µA2B2 (62,4
keterampilan yang telah dimiliki > 48,0).
sebelumnya. Sehingga siswa yang
Penggunaan pembelajaran inkuiri
memiliki kemampuan awal yang tinggi
terbimbing pada siswa yang memiliki
akan lebih mudah memahami pelajaran
kemampuan awal rendah dapat
IPA pada materi pesawat sederhana.
membuat materi pelajaran lebih mudah
Sesuai dengan pendapat Brunner
untuk dipahami, karena guru tidak
bahwa belajar adalah suatu proses aktif
melepas begitu saja kegiatan-kegiatan
di mana peserta didik membangun
yang dilakukan oleh siswa. Guru
(meng-konstruk) pengetahuan baru
memberikan pengarahan dan
berdasarkan pada pengalaman/
bimbingan kepada siswa dalam
pengetahuan yang sudah dimilikinya.
melakukan kegiatan-kegiatan sehingga pada saat siswa belajar serta
siswa yang berfikir lambat atau siswa mengurangi bantuan dan membiarkan
yang mempunyai intelegensi rendah siswa mengambil tanggung jawab
mampu mengikuti kegiatan-kegiatan sendiri pada saat mereka telah
yang sedang dilaksanakan dan lebih dianggap mampu.
mudah memahami pelajaran IPA pada
materi pesawat sederhana. KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil analisis, pengolahan
Sesuai dengan ide Vygotsky bahwa:
data, dan pembahasan maka dapat
“proses pembelajaran akan terjadi jika
disimpulkan sebagai berikut: Secara
anak bekerja atau menangani tugas-
keseluruhan ada interaksi antara
tugas yang belum dipelajari, namun
pembelajaran (inkuiri terbimbing dan
tugas-tugas tersebut masih berada
problem based learning) dan
dalam jangkauan mereka yang disebut
kemampuan awal terhadap hasil belajar
dengan zone of proximal development,
IPA siswa; Ada perbedaan hasil belajar
yakni daerah tingkat perkembangan
IPA, antara siswa yang
sedikit di atas daerah perkembangan
pembelajarannya menggunakan
seseorang saat ini”. Vygotsky yakin
pembelajaran inkuiri terbimbing dan
bahwa fungsi mental yang lebih tinggi
problem based learning. Rerata hasil
pada umunya muncul dari percakapan
belajar IPA siswa yang diajarkan
dan kerja sama antar individu sebelum
dengan menggunakan pembelajaran
fungsi mental yang lebih tinggi itu
inkuiri terbimbing lebih baik
terserap ke dalam individu tersebut.
dibandingkan dengan pembelajaran
Implikasi teori Vygotsky dalam yang menggunakan problem based
pembelajaran inkuiri ini adalah learning; Ada perbedaan rata-rata hasil
menghendaki setting kelas berbentuk belajar IPA, antara siswa yang
kooperatif, sehingga siswa saling berkemampuan awal tinggi yang
berinteraksi dan berkomunikasi serta diajarkan dengan pembelajaran inkuiri
saling memunculkan strategi terbimbing dan problem based
menyelesaikan tugas yang efektif learning. Rerata hasil belajar IPA siswa
dalam daerah perkembangan proksimal yang memiliki kemampuan awal tinggi
mereka dengan pemberian bantuan yang diajarkan dengan pembelajaran
problem based learning lebih baik seluruh kegiatan belajar (bersifat
dibandingkan pembelajaran inkuiri otoriter); (b) Agar dapat
terbimbing; Ada perbedaan rata-rata mengimplementasikan model
hasil belajar IPA, antara siswa yang pembelajaran inkuiri terbimbing
berkemampuan awal rendah yang maupun model pembelajaran problem
diajarkan dengan pembelajaran inkuiri based learning di kelas, guru perlu
terbimbing dan problem based mempersiapkan bahan ajar yang cocok
learning. Rerata hasil belajar IPA siswa serta membuat antisipasi dari respon
yang memiliki kemampuan awal yang mungkin muncul dari siswa.
rendah yang diajarkan dengan Sehingga guru dapat memberikan
pembelajaran inkurii terbimbing lebih scaffolding yang tepat untuk siswa; (c)
tinggi dibandingkan pembelajaran Guru hendaknya dapat lebih
problem based learning. mengoptimalkan peran dan fungsinya
sebagai fasilitator, motivator, evaluator
Secara teoritik implikasi penelitian ini
dalam pembelajaran.
bermanfaat untuk peningkatan kualitas
(2) Bagi siswa: (a) Siswa hendaknya
pembelajaran IPA di Sekolah Dasar.
melakukan persiapan sebelum
Secara praktis implikasi penelitian ini
pelaksanaan pembelajaran IPA dengan
bermanfaaat untuk: 1) Sebagai acuan
menggunakan model pembelajaran
bagi guru dalam membandingkan gaya
inkuiri terbimbing dan problem based
belajar siswa dan model pembelajaran
learning, yaitu dengan membaca
yang akan digunakan. 2) Memberikan
terlebih dahulu materi baik dari buku
motivasi pada guru untuk lebih kreatif
maupun sumber lainnya; (b) Siswa
dalam penggunaan model pembelajaran
diharapkan dapat ikut berperan aktif
di kelas 3) Menarik minat siswa
dalam proses pembelajaran, sehingga
terhadap materi pembelajaran sehingga
pembelajaran IPA yang dilakukan
hasil belajar siswa dapat meningkat.
dapat lebih menyenangkan, interaktif,
serta dapat menciptakan suasana
Dari hasil penelitian ini disarankan
pembelajaran yang kondusif.
beberapa hal sebagai berikut : (1) Bagi
(3) Bagi sekolah, Sekolah hendaknya
guru: (a) Guru hendaknya dalam proses
lebih meningkatkan dukungan terhadap
pembelajaran di kelas tidak berperan
pelaksanaan pembelajaran dengan
sebagai figure central dan pengendali
menggunakan model pembelajaran Arends, R.I. 2008. Learning to Teach.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
inkuiri terbimbing dan model
Arikunto, S. 2002. Prosedur
pembelajaran problem based learning.
Penelitian. Jakarta: PT. Rineka
Dukungan tersebut dapat berupa Cipta.
penyediaan sarana dan prasarana serta Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian
Suatu Pendekatan Praktek.
media yang dapat mendukung
Edisi Revisi VI. Jakarta: PT.
terlaksananya proses pembelajaran. Rineka Cipta.
Baharuddin dan Nur Wahyuni. 2010.
Teori Belajar &
DAFTAR PUSTAKA Pembelajaran.Yogyakarta: Ar-
Ruzz Media.
Agus, Suprijono. 2012. Metode dan
Budianingsih, C. Asri. 2005. Belajar
Model-Model Mengajar. Bandung:
dan Pembelajaran. Jakarta: PT.
Alfabeta.
Rineka Cipta.
Ahmad, Sabri. 2005. Strategi Belajar Dahar. 2006. Teori-teori Belajar.
Mengajar dan Micro Jakarta: Erlangga.
Teaching.Jakarta: Quantum Dalyono. 2005. Psikologi Pendidikan.
Teaching. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Alma, Buchari. 2008. Guru Profesional De Porter, Bobbi. 2004. Terjemahan
(Menguasai Metode dan Alwiyah Abdurrahman:
Terampil Mengajar). Bandung: Membiasakan Belajar Nyaman
Alfabeta. dan Menyenangkan. Bandung:
Kaifa.
Alwisol. 2004. Psikologi Kepribadian.
Dimyati dan Mudjiono. 2002. Belajar
Malang: UMM Press.
dan Pembelajaran. Jakarta: PT.
Amir, M. Taufiq. 2009. Inovasi Rineka Cipta.
Pendidikan Melalui Problem
Djamarah dan Zain. 2006. Strategi
Based Learning: Bagaimana
Belajar Mengajar. Jakarta: PT.
Pendidik Memberdayakan
Rineka Cipta.
Pemelajar di Era Pengetahuan.
Cetakan ke-1. Jakarta: Prenada Djiwandon, Sri Esti. 2002. Psikologi
Media Group. Pendidikan (Rev-2). Jakarta:
Grasindo.
Anita Woolfolk. 2009. Educational
Psychology: Active Learning Dutch, B.J.,Groh, S.E.& Allen, D.E.
Edition. Yogyakarta: Pustaka 2001. The Power of Problem-
Pelajar. Edisi kesepuluh. based learning. Virginia: Stylus
Cetakan pertama Publishing, LLC.
Arends, R.I. 2004. Learning to Teach. Furchan, A. 2004. Pengantar
New York: McGraw-Hill. Penelitian dalam Pendidikan.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Offset.
Gulo, W. 2002. Strategi Belajar Paul Suparno. 2007. Filsafat
Mengajar. Bandung: PT. Konstruktivisme dalam
Gramedia Widiasarana Pendidikan. Yogyakarta:
Indonesia. Kanisius.
H. Djali. 2007. Psikologi Pendidikan. Purwanto. 2006. Psikologi Pendidikan.
Jakarta: PT. Rineka Cipta. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Hamalik, Oemar. 2005. Proses Belajar Purwanto. 2011. Evaluasi Hasil
Mengajar. Jakarta: Bumi Belajar. Yogyakarta: Pustaka
Aksara. Pelajar.
Hudoyo. 2008. Strategi Mengajar Prawiradilaga, Dewi Salma. 2007.
Belajar Matematika. Malang: Prinsip Desain Pembelajaran.
IKIP Malang. Jakarta: Kencana Predana
Media Group.
Ibrahim, dkk. 2000. Pembelajaran
Berdasarkan Masalah. PT. Raja Pribadi, Benny. 2009. Model Desain
Grafindo Persada. Sistem Pembelajaran. Jakarta:
Dian Rakyat.
Iskandar, M. 2003. Pendidikan Ilmu
Pengetahuan Alam. Jakarta: PT.
Riyanto, Yatim. 2009. Paradigma Baru
Raja Grafindo Persada.
pembelajaran. Jakarta:
Jacobsen, D.A.et al. 2009. Methodes
Kencana.
for Teaching: Metode-metode
Pengajaran Meningkatkan
Runi. 2005. Pengaruh Strategi
Belajar Siswa TK-SMA.
Pembelajaran Terhadap
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Kemampuan Pemecahan
Nashar, H. 2004. Peranan Motivasi Masalah Matematika Siswa.
dan kemampuan Awal dalam Journal Karya Ilmiah (online)
Kegiatan Pembelajaran. (http:/lgurukreatif:wordpress/20
Jakarta: Delia Press. 04/02/05/ptk/qtml) diakses
tanggal 5 Juli 2012.
Nazir. 2005. Metode Penelitian.
Jakarta: Ghalia Indonesia. Roestiyah. 2008. Strategi Belajar
Mengajar. Jakarta: Rineka
Nawawi. 2005. Penilaian Hasil Proses
Cipta.
Belajar Mengajar. Jakarta:
Gunung Agung. Rositawaty, S dan Aris. 2008. Senang
Belajat Ilmu Pengetahuan Alam
Nur, M. & Wikandari, P.R. 2000.
untuk Kelas V SD. Jakarta:
Pengajaran Berpusat Kepada
Pusat Perbukuan Depdiknas.
Siswa dan Pendekatan
Konstruktivisme dalam Rustaman. 2010. Model-model
Pembelajaran. Surabaya: Pembelajaran. Jakarta: PT.
UNESA. Raja Grafindo
Nurhadi dan AG. Senduk. 2003.
Kontekstual dan Penerapannya
dalam KBK. Malang: UM
Press.