0% found this document useful (0 votes)
64 views10 pages

Jurnal Kependidikan:: Email: Jlppm@ikipmataram - Ac.id

Uploaded by

Marta Delva
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd
0% found this document useful (0 votes)
64 views10 pages

Jurnal Kependidikan:: Email: Jlppm@ikipmataram - Ac.id

Uploaded by

Marta Delva
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd

Jurnal Kependidikan: November 2020. Vol.6, No.

3
Jurnal Hasil Penelitian dan Kajian Kepustakaan e-ISSN: 2442-7667
di Bidang Pendidikan, Pengajaran dan Pembelajaran pp.502-511
[Link] Email: jlppm@[Link]

Membina Aktivitas Belajar Mahasiswa di Perguruan Tinggi


Melalui Metode TIE (Translation, Interpretation, Extrapolation)
pada Masa Pandemi Covid-19

Zulhafizh
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Universitasa Riau
Corresponding Author. Email: zulhafizh@[Link]

Abstract: The research objective is to foster student learning activities through Article History
the TIE (Translation, Interpretation, Extrapolation) method. The research Received: 03-09-2020
method used was descriptive correlational method. The research sample Revised: 09-09-2020
consisted of 75 people. The data instrument was in the form of a Likert scale Published:.06-11-20202017
questionnaire which consisted of the aspects of translation, interpretation, and
extrapolation. Data analysis technique used descriptive statistics, Product
Moment correlation, chi square normality, and Anova. The result of the study
showed that the average score for translation was 3,767 which was in the high Key Words:
category; the average score for interpretation was 4,075 categorized as very Learning Activities,
high; and the exploration average score was 4,065 categorized as very high. TIE Method, Covid-
Overall, it was at an average of 3,969 which was in the high category. If the 19.
translation, interpretation, and extrapolation activities were carried out properly,
it could build up to 99,3% of learning activities. In conlcusion, the TIE method
is important to apply in independent learning activities because it can stimulate
students' cognition and psychomotor to achieve better learning quality. In
addition, it can present insightful and experienced students.
Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk membina aktivitas belajar Sejarah Artikel
mahasiswa melalui metode TIE (translation, interpretation, extrapolation). Diterima: 03-09-2020
Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif korelasional. Sampel Direvisi: 09-09-2020
penelitian berjumlah 75 orang. Instrumen pengumpulan data berupa angket Diterbitkan: 06-11-2020
berskala Likert yang terdiri dari aspek translation (penerjemahan),
interpretation (penafsiran), dan extrapolation (eksplorasi). Teknik analisis data
dengan statistik deskriptif, korelasi Product Moment, normalitas chi kuadrat, dan
Anova. Hasilnya menunjukkan rata-rata penerjemahan 3,767 berkategori tinggi; Kata Kunci:
rata-rata interpretasi 4,075 berkategori sangat tinggi; dan rata-rata eksplorasi Aktivitas Belajar, Metode
4,065 berkategori sangat tinggi. Secara keseluruhan berada pada rata-rata 3,969 TIE, Covid-19.
berkategori tinggi. Jika aktivitas penerjemahan, penafsiran, dan ekstrapolasi
dilakukan dengan baik dapat membina aktivitas belajar hingga 99,3%. Metode
TIE penting diterapkan dalam aktivitas belajar secara mandiri karena dapat
merangsang kognisi dan psikomotor mahasiswa untuk mencapai kualitas belajar
lebih baik. Bahkan, dapat menghadirkan mahasiswa yang berwawasan dan
berpengalaman.

How to Cite: Zulhafizh, Z. (2020). Membina Aktivitas Belajar Mahasiswa di Perguruan Tinggi Melalui Metode
TIE (Translation, Interpretation, Extrapolation) pada Masa Pandemi Covid-19. Jurnal Kependidikan: Jurnal
Hasil Penelitian dan Kajian Kepustakaan di Bidang Pendidikan, Pengajaran dan Pembelajaran, 6(3), 502-511.
doi:[Link]

[Link] This is an open-access article under the CC-BY-SA License.

Pendahuluan
Aktivitas pembelajaran merupakan suatu kegiatan timbal balik antara pendidik dengan
peserta didik atau mahasiswa dengan dosen. Hubungan timbal balik ini dapat terjadi secara
langsung yaitu dalam ruang kelas (luring) maupun tidak langsung yaitu secara daring.
Jurnal Kependidikan November 2020. Vol.6, No.3
Copyright © JK 2020, Zulhafizh. |502
Jurnal Kependidikan: November 2020. Vol.6, No.3
Jurnal Hasil Penelitian dan Kajian Kepustakaan e-ISSN: 2442-7667
di Bidang Pendidikan, Pengajaran dan Pembelajaran pp.502-511
[Link] Email: jlppm@[Link]

Kegiatan tersebut sebagai bentuk transfer informasi, pemahaman, maupun pengalaman antara
satu dengan yang lainnya. Di masa covid-19, aktivitas belajar dilakukan secara daring
sehingga menuntut mahasiswa belajar secara mandiri dan melatih skilnya agar dapat
mencapai tujuan pembelajaran. Dalam situasi ini, mahasiswa menjadi pengontrol utama
dalam aktivitas belajarnya. Maka mahasiswa perlu memilih dan memiliki metode belajar
yang tepat agar kualitas belajarnya stabil.
Dalam kontek belajar daring di masa covid-19, kualitas belajar tidak diharapkan
menurun tetapi terus meningkat. Jika kualitas belajar menurun, maka dapat memberikan
dampak mutu capaian belajar wawasan dan pengalamannya (Zulhafizh, Atmazaki, & Syahrul,
2013). Sebuah penelitian menunjukkan jika aktivitas yang dilakukan tidak mendukung
keberhasilan belajar maka prestasi belajar dapat menurun (Zulhafizh, Atmazaki, & Syahrul,
2013; Slameto, 2010; Lachman, 1997). Hal ini terkait juga dengan pengalaman belajar yang
diperoleh mahasiswa. Domjan (2010) dan Ormrod (2008) pengalaman yang dihadapi
memberikan dampak dan pengaruh yang luar biasa terhadap capaian pengetahuan dan
pemahaman.
Kegiatan belajar berupaya memberikan pengalaman kepada mahasiswa sehingga
terjadi penambahan wawasan dan pengalaman. Wawasan dan pengalaman sebagai
pendukung dan pengarah mahasiswa untuk lebih baik. Dalam pembelajaran akan ada proses
mental (Hall, 2003) yang dapat menentukan arah perilaku dan perbuatan (Mustafa &
Zulhafizh, 2017). Lebih lanjut Hall (2003) menjelaskan karena dalam kegiatan belajar terjadi
simulasi dan stimulus sehingga mahasiswa mendapat pemahaman dan pengalaman. Apabila
stimulus berlangsung dengan baik, maka akan menghasilkan suatu pengetahuan bagi
mahasiswa (Jang el al, 2020).
Penelitian Skinner (1938, 1984) menunjukkan belajar sebagai proses evolusi yang
terkait dengan perubahan dalam perilaku, keteraturan dalam lingkungan, dan hubungan sebab
akibat antara keteraturan dalam lingkungan dan perubahan dalam perilaku. Perilaku,
keteraturan dan kausalitas merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam peroses
perubahan tingkah laku, satu sama lain turut mempengaruhi dalam perjalanan tingkah laku
seseorang. Hargreaves (2003) dan Jarvis (2007) menjelaskan bahwa pengetahuan dan
wawasan yang dimiliki setelah melalui kegiatan pembelajaran menjadi penentu dan arah
perilaku masa mendatang. Maka, dalam kontek ini mahasiswa akan terbiasa belajar ketika ia
bina aktivitas belajarnya.
Berdasarkan paparan tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
kualitas aktivitas belajar mahasiswa di perguruan tinggi melalui metode TIE di masa pandemi
Covid-19, serta mengamati sumbangan metode TIE dalam meningkatkan aktivitas belajar.
Hasilnya dapat menjadi bahan pertimbangan bagi penyelengara pendidikan dalam
mewujudkan sistem pembelajaran yang berkualitas. Dalam kontek personal pendidik, bisa
memanfaatkan kegiatan pembelajaran melalui aktivitas penerjemahan (translation),
interpretasi (interpretation), eksplorasi (extrapolation) untuk mencapai tujuan pembelajaran
yang ditargetkan.

Metode Penelitian
Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif korelasi. Dasar pendeskripsian dan
pengkorelasian mengacu pada instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data yaitu
berupa angket. Intrumen ini terdiri dari tiga pokok penting, yaitu: berkaitan dengan
penerjemahan, interpretasi, dan eksplorasi. Ide instrumen ini mengacu pada pendapat

Jurnal Kependidikan November 2020. Vol.6, No.3


Copyright © JK 2020, Zulhafizh. |503
Jurnal Kependidikan: November 2020. Vol.6, No.3
Jurnal Hasil Penelitian dan Kajian Kepustakaan e-ISSN: 2442-7667
di Bidang Pendidikan, Pengajaran dan Pembelajaran pp.502-511
[Link] Email: jlppm@[Link]

Krathwohl (2002) dan Anderson et al (2001), pengelolaan pembelajaran dapat dilakukan


dengan dengan teknis penerjemahan (translation), interpretasi (interpretation), eksplorasi
(extrapolation). Dalam kontek ini disebut metode TIE. Pengamatan ini sebagai bentuk
manifistasi kegiatan pembelajaran jarah jauh (daring) sehingga mahasiswa harus kreatif dan
kritis. Instrumen ini sebarkan kepada mahasiswa secara memanfaatkan google form.
Sampel penelitian adalah mahasiswa Program Studi Pedidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia angkatan 2018 FKIP Universitas Riau, berjumlah 75 orang. Analisis data dilakukan
dengan mensubsitusikan hasil responden melalui statistik deskriptif. Sementara itu, untuk
melihat relevansi dan kaitan instrumen terhadap persoalan membina kualitas belajar melalui
berpikir kreatif dan kritis menggunakan metode korelasi Product Moment, normalitas dengan
chi kuadrat, ramalan peran variabel melalui Anova. Strategi ini dilakukan untuk mengetahui
standar tindakan mahasiswa membina aktivitas belajar melalui penerjemahan, interpretasi,
dan eksplorasi. Hal ini dilakukan untuk memastikan nilai butir-butir informasi yang
diperlukan.

Hasil Penelitian dan Pembahasan


Deskripsi Data
Hasil analisis data membina aktivitas belajar mahasiswa di perguruan tinggi melalui
metode TIE (Translation, Interpretation, Extrapolation) di masa pandemi Covid-19 dapat
diamati dan ditafsirkan melalui informasi rata-rata, yaitu:
Tabel 1. Deskripsi Membina Aktivitas Belajar
No. Pernyataan Rata-rata SD Kategori
1 Penerjemahan 3,767 0,874 Tinggi
2 Interpretasi 4,075 0,856 Sangat tinggi
3 Eksplorasi 4,065 0,859 Sangat tinggi
Rata-rata Kelompok 3,969 0,863 Tinggi
Data tabel 1 diatas menggambarkan ada tiga komponen utama yang menjadi dasar
analisis dalam membina aktivitas belajar mahasiswa. Tiga komponen utama tersebut, yaitu:
penerjemahan memperoleh rata-rata 3,767 berkategori tinggi dengan standar deviasi 0,874;
interpretasi memperoleh rata-rata 4,075 berkategori sangat tinggi dengan standar deviasi
0,856; selanjutnya eksplorasi memperoleh rata-rata 4,065 berkategori sangat tinggi dengan
standar deviasi 0,859. Data-data tersebut memberikan penjelasan bahwa secara keseluruhan
variabel yang terkait membina aktivitas belajar berada pada rata-rata 3,969 berkategori tinggi
dengan standar deviasi 0,863.
Hasil analisis korelasi pada variabel pengamatan terhadap upaya membina aktivitas
belajar sebagai dampak pandemi Covid-19, yaitu:
Tabel 2. Korelasi Membina Aktivitas Belajar
Korelasi
No. Indikator Pengamatan Kategori
Product Moment
1 Penerjemahan 0,774** Sangat kuat
2 Interpretasi 0,893** Sangat kuat
3 Eksplorasi 0,887** Sangat kuat
Rata-rata 0,851 Sangat kuat

Jurnal Kependidikan November 2020. Vol.6, No.3


Copyright © JK 2020, Zulhafizh. |504
Jurnal Kependidikan: November 2020. Vol.6, No.3
Jurnal Hasil Penelitian dan Kajian Kepustakaan e-ISSN: 2442-7667
di Bidang Pendidikan, Pengajaran dan Pembelajaran pp.502-511
[Link] Email: jlppm@[Link]

Pada tabel 2 diatas dapat diamati bahwa seluruh variabel pengamatan berkorelasi
terhadap membina aktivitas belajar. Berdasarkan hasil subsitusi tabel korelasi
memperlihatkan seluruh data berkorelasi sangat kuat, penerjemahan berkorelasi 0,774**
dengan kategori sangat kuat, interpretasi berkorelasi 0,893** dengan kategori sangat kuat, dan
eksplorasi berkorelasi 0,887** dengan kategori sangat kuat. Hal ini juga tampak pada kode
bintang dua. Sarwono (2006) tanda bintang dua menunjukkan adanya korelasi terhadap
variabel secara positif maupun negatif. Selanjutnya, untuk memastikan data, maka dilakukan
uji normalitas dengan uji Chi Kuadrat. Pengujian diperoleh dari perbandingan harga χ2hitung
dan χ2tabel pada taraf signifikansi 0,05.
Tabel 3. Uji Normalitas Data
Kelas dk χ2hitung χ2tabel Sig. Kerangan
Membina aktivitas
1 36,74 96,21 0,000 Normal
belajar
Dari tabel 3 diatas diperoleh data uji normalitas harga χ2hitung < χ2tabel yaitu: 36,74 < 96,21
atau 0,000 < 0,05. Nilai ini menunjukkan bahwa data kegiatan penerjemahan interpretasi,
eksplorasi dalam membina aktivitas belajar berdistribusi normal.
Tabel 4. Anova Skor Membina Aktivitas Belajar
Variabel Independen df SS F Sig.
Tipe Penerjemahan 1 19,607 4,407 0,000
Variabel Interpretasi 1 22,625 9,390 0,000
Eksplorasi 1 16,790 7,956 0,000
Data tabel 4 diatas memperlihatkan Anova satu arah dalam menentukan perbedaan
maupun persamaan sikap mahasiswa dalam membina aktivitas belajar. Seluruh data tidak ada
perbedaan dengan signifikansi tidak lebih dari 0,005, yaitu: melakukan penerjemahan (F =
4,407, sig = 0,000 < 0,05); melakukan interpretasi (F = 9,390, sig = 0,000 < 0,05); dan
melakukan eksplorasi (F = 7,956, sig = 0,001 < 0,05). Semua varibel yang menjadi dasar
pengamatan dapat digunakan menilai sikap membina aktivitas belajar.
Tabel 5. Harga Peranan Varibel
Harga
Subjek
rxy rxy2 Sig.
TIE (PIE) terhadap MAB (rxy) 0,996a 0,993 0,000a
Tabel 5 diatas memperlihatkan harga peranan variabel pengamatan secara
keseluruhan. Hasil luaran diketahui nilai r kuadrat 0,993. Nilai ini bermakna bahwa seluruh
variabel memberikan peranan dalam mengukur sikap membina aktivitas belajar sebesar
99,3% sedangkan 0,7 ditentukan oleh variabel lain. Data ini jelas mendukung penelitian dan
teori yang dikembangkan oleh Bloom et al (1956) mau Anderson et al (2001) tentang
taksonomi dalam mencapai tujuan belajar dan mengajar pendidikan. Dalam kontek ini,
mahasiswa perlu menerapkan metode TIE untuk membina aktivitas belajar.

Penerjemahan (Translation)
Penerjemahan pada kontek ini menekankan tentang proses menjelaskan atau
menguraikan materi yang dipelajari. Proses penerjemahan konten atau materi dalam
pembelajaran mampu membangun fokus atau perhatian mahasiswa (Widdowson, 2014).
Kegiatan penerjemahan mendorong seseorang untuk terlibat secara langsung terhadap
persoalan yang dihadapi. Dalam proses pembelajaran, langkah ini sebagai tindakan agar
Jurnal Kependidikan November 2020. Vol.6, No.3
Copyright © JK 2020, Zulhafizh. |505
Jurnal Kependidikan: November 2020. Vol.6, No.3
Jurnal Hasil Penelitian dan Kajian Kepustakaan e-ISSN: 2442-7667
di Bidang Pendidikan, Pengajaran dan Pembelajaran pp.502-511
[Link] Email: jlppm@[Link]

mahasiswa bisa mengalami langsung baik secara pedagogik maupun sosiologis. Mahasiswa
secara langsung maupun tidak langsung akan mendapatkan kegiatan yang bermakna dari
aktivitas yang dilakukan.
Proses penerjemahan pada penelitian ini berada pada rata-rata 3,76 dengan kategori
tinggi. Proses penerjemahan ini memerlukan daya kreativitas mahasiswa agar dapat
memahami lebih jauh terhadap materi dipelajari. Jika kreativitasnya rendah maka aktivitas
penerjemahannya bisa rendah. Penelitian López dan Meseguer (2018) memberikan
penekanan bahwa seseorang yang berupaya mengulas atau mendesain materi yang dipelajari
harus didukung dengan kreatif pribadinya. Semakin kreatif mahasiswa pada tahap ini maka
semakin banyak keterlibatannya dalam memahami materi tersebut (Zulhafizh, 2020). Seperti
halnya memberikan contoh atau pandangannya setelah membaca materi.
Yazici (2016) dalam penelitiannya menyebutkan tindakan penerjemahan ini membuat
seseorang melakukan tindakan untuk mengkoordinasikan apa-apa yang ia miliki, baik terkait
dengan pengetahuan dan pengalamannya. Hal ini membuat mahasiswa memiliki kecakapan
yang baik dari proses berpikir hingga penggunaan bahasa. Capaian ini dapat menjadi motif
terbentuknya prinsip penerjemahan yang baik di kalangan mahasiswa di situasi pandemi
Covid-19. Toury (1995) kecakapan penerjemahan diharapkan semakin matang sehingga
pengetahuan dan pemahamannya terhadap sesuatu yang dipelajari semakin baik. Untuk
mencapai ini, mahasiswa harus latihan. Hönig (1990) hal ini sebagai strategi terbaik untuk
memahirkan tindakan yang dilakukan.
Anderson et al (2001) mengungkapkan tindakan penerjemahan ini bagian dari upaya
untuk memahami hal yang dipelajari. Kegiatan penerjemahan misalnya, melibatkan daya
pikir dan kreativitas seseorang. Atas dasar itu mendorong seseorang bisa memahami materi
tersebut. Krathwohl (2002) kemudian mengembangkan ide Anderson et al (2001) bahwa
pengamatan tehadap prinsip penerjemahan dengan cara seseorang mengubah/
memparafrasekan konsep yang dipelajari dan dibahas, membuat ilustrasi yang logis dan
realistis, memberikan pandangan/penjelasan terhadap konsep-konsep yang dipelajari, dan
menjelaskan kembali materi/konsep dalam bentuk kerangka konseptual.
Melihat data dan penelitian terdahulu bahwa penerjemahan dalam aktivitas belajar
dapat membeni kegiatan belajarnya, maka perlu ada dorongan yang kuat kepada mahasiswa
dapat mengaplikasi kegiatan penerjemahan untuk membantu mencapai target tujuan
pembelajaran. Perlu ada latihan yang intensif atau rutin agar kualitas penerjemahan ini
menjadi terampil (Mustafa, Hermandra, & Zulhafizh, 2019; Turçin, 2005). Dengan begitu,
daya kreativitas mahasiswa akan meningkat. Hal itu sebagai strategi agar tidak terjadi
kegagalan dalam belajar selama pandemi Covid-19. Kegagalan langkah awal dapat
memberikan pengaruh terhadap langkah yang berikutnya.

Interpretasi (Interpretation)
Interpretasi merupakan aktivitas pemaknaan terhadap hal yang pelajari. Tindakan
yang dilakukan dapat berupa menafsirkan, menggambarkan, maupun menjelasakan terhadap
hal yang diketahui. Kegiatan menginterpretasi ini membuat seseorang lebih kritis. Dalam
kegiatan pembelajaran, strategi ini mendorong mahasiswa untuk melakukan tindakan yang
produktif. Artinya mahasiswa sudah bisa memberikan penilaian yang tepat agar hal yang
disampaikan tidak keliru. Berbagai pertimbangan sudah dilakukan sehingga mahasiswa
memiliki kemapanan pengetahuan hingga level pemahaman.

Jurnal Kependidikan November 2020. Vol.6, No.3


Copyright © JK 2020, Zulhafizh. |506
Jurnal Kependidikan: November 2020. Vol.6, No.3
Jurnal Hasil Penelitian dan Kajian Kepustakaan e-ISSN: 2442-7667
di Bidang Pendidikan, Pengajaran dan Pembelajaran pp.502-511
[Link] Email: jlppm@[Link]

Untuk mendukung proses interpretasi ini, mahasiswa harus didukung dengan


pengetahuan (Angelo & Cross, 1993). Tanpa dasar pengetahuan dapat menyulitkan
mahasiswa menginterpretasi atau memaknai persoalan yang diberikan. Artinya, kematangan
penerjemahan menjadi acuan dalam kegiatan interpretasi konsep atau materi. Pada level ini,
mahasiswa dituntut untuk menaktualisasikan apa-apa yang ia dapat. Mereka secara sadar
maupun tidak sadar diuji kemampuannya. Mahasiswa yang paham akan melakukan proses
interprasi dengan baik sesuai arahan yang diharapkan.
Di level interpretasi ini pula, Bransford, Brown, dan Cocking (2000) mengungkapan
mahasiswa sudah bisa mengembangkan beberapa hal sesuai dengan petunjuk yang ada.
Seperti menjabarkan contoh yang ada ke arah yang konkret atau mengaitkan berbagai
bersoalan dengan pengalamannya. Jika kemmapuan menjabarkan contoh dan mengaitkan
persoalan dengan pengalamannya dapat dilakukan dengan tepat, maka dapat dipastikan
mahasiswa dapat memahami lebih dalam terhadap materi maupun penjelasan yang
diperolehnya.
Wiggins & McTighe (2005) proses interpretasi merupakan aktivitas penilaian yang
dapat membawanya mengikuti aktivitas pembelajaran. Secara tidak langsung, pendapat yang
dikemukakan Wiggins & McTighe ini memberikan penekanan perlunya mahasiswa
mengikuti setiap aktivitas pembelajan agar memudahkannya dalam memaknai setiap
informasi atau materi yang diperolehnya. Ada banyak hal yang tidak bisa didapat dengan
membaca materi karena keterbatasan kreativitas, maka perlu mahasiswa mengikuti alur
penjelasan yang ada. Artinya, penjelasan pendidik atau dosen membantu mengarahkan siswa
untuk mengambil setiap keputusan. Mahasiswa dapat terbantu dalam mengelola informasi
dan menuangkan ide yang tepat untuk disampaikan.
Krathwohl (2002) menyebutkan bahwa untuk membina kreativitas interperasi dalam
membina aktivitas belajar, seperti: meminta mahasiswa untuk menafsirkan konsep dan
contoh yang diberikan dalam pembelajaran, membedakan dengan baik tentang fungsi,
manfaat, dan contoh, menjelaskan hasil tafsiran suatu konsep dengan pengalaman, dan
menggambarkan kondisi yang dialami sejalan dengan konsep yang dipelajari. Strategi ini
menjadi catatan penting bagi mahasiswa untuk membina aktivitas belajar. Proses interpretasi
dalam belajar perlu ditaltih mahasiswa agar cepat dan mudah memahami informasi
(Mikulecky, 2016; Goodyear & Ellis, 2007; Biggs, 2003).

Eksplorasi (Extrapolation)
Eksplorasi merupakan kegiatan penting dilakukan untuk menggali dan mendapatkan
pengalaman baru dari informasi atau materi yang diperolehnya. Setiap pembelajaran yang
dilalui mahasiswa tentu akan melahirkan berbagai pengalaman baru, khususnya waktu dan
suasana yang baru. Kegiatan eksplorasi ini sebagai tindakan yang mendorong mahasiswa
untuk aktif dalam pembelajaran. Kenapa demikian? Pengalaman baru akan diperoleh selama
mahasiswa mengikuti pembelajaran yang disajikan pendidik atau pun mahasiswa. Mahasiswa
akan mengalami kesulitan mengelola ide kreatifnya jika tidak memiliki bekal yang memadai.
Mustafa dan Zulhafizh (2018a & b) penguasaan informasi memudahkan mahasiswa untuk
mengeksplorasi informasi yang ada sehingga dapat melahirkan pengalaman baru.
McGrath (2015) berpandangan kegiatan eksplorasi merupakan aktivitas yang menarik
karena seseorang akan memperoleh berbagai pengalaman baru. Strategi ini dapat
memaksimalkan kemampuan dan keterampilan mahasiswa. Cara ini memicu mahasiswa
mencapai mutu pemahaman yang berkualitas. Bahkan, intensitas pemahaman terhadap suatu

Jurnal Kependidikan November 2020. Vol.6, No.3


Copyright © JK 2020, Zulhafizh. |507
Jurnal Kependidikan: November 2020. Vol.6, No.3
Jurnal Hasil Penelitian dan Kajian Kepustakaan e-ISSN: 2442-7667
di Bidang Pendidikan, Pengajaran dan Pembelajaran pp.502-511
[Link] Email: jlppm@[Link]

persoalan atau materi bisa lebih baik dari sebelumnya. Hal ini, membuat mahasiswa semakin
berkualitas dengan pengetahuan yang dimilikinya sehingga membuatnya semakin matang
dengan target pembelajaran yang diharapkan. Prihatiningtyas dan Rosmaiyadi (2020)
aktivitas mengeksplorasi ini turut mendorong mahasiswa berpikir kritis sehingga melatih
daya nalarnya dalam memahami informasi.
Zulhafizh, Atmazaki, dan Syahrul (2013) mengingatkan aktivitas mengeksplorasi
sebuah informasi perlu di dukung motivasi yang tinggi agar usaha yang dilakukan dapat
ditempuh secara maksimal. Lemahnya motivasi belajar dapat berdampak pada tingkat
kualitas yang dicapai (Mustafa et al, 2019, 2018). Hal ini tentunya, pengalaman yang
diperoleh dari aktivitas mengeksplorasi itu tidak maksimal pula. Lebih lanjut dikemukakan
bahwa keberhasilan mengeksplorasi ini didukung dengan rasa tanggung jawab. Jika rasa itu
tidak dimiliki oleh mahasiswa maka usaha mengeksplor informasi atau materi tidak akan
melahirkan pengalaman yang maksimal. Fitriani et al (2020) dan McGrath (2015)
mengemukakan motivasi belajar dapat memacu daya kreativitas dan aktivitas belajar secara
khusus untuk meningkatkan mutu pemahaman terhadap materi yang dipelajari
mahasiswa. Penelitian McGrath (2015) pun mengatakan bahwa kemampuan mengeksplorasi
ini salah satu penentu kesuksesan belajar mahasiswa.
Mengembangkan ide dari Krathwohl (2002) dan Anderson, et al (2001) bahwa
instrumen yang digunakan untuk mengetahui aktivitas eksplorasi mahasiswa, yaitu
mengamati aktivitas mahasiswa dalam membuat perkiraan terhadap kegunaan materi yang
dipelajari dan dipahami, membuat dugaan tindakan yang dapat dilakukan untuk
menyelesaikan masalah, menyimpulkan hasil pembelajaran dalam bentuk rangkuman atau
mind map, menentukan target yang harus dicapai dari aktivitas pembelajaran, membedakan
setiap konsep dan contoh yang dibahas/didapat secara relevan dan komprehensif, mengisi
atau mengerjakan tugas yang diberikan secara rutin, dan meramalkan capaian pembelajaran
yang akan diperoleh berdasarkan pemahaman yang dimiliki.
Dalam teori Bloom yang dikembangkan oleh Anderson, et al (2001) menyebutkan
bahwa level tertinggi kegiatan berpikir mahasiswa ada pada tingkat kognitif 6 atau kreasi atau
berbuat. Kegiatan eksplorasi bagian yang menutut mahasiswa untuk menerapkan cara pikir
hingga level 6. Penelitian Rieman (1996) pendekatan pembelajaran melalui eksplorasi
merupakan strategi efektif dan menarik untuk mengantarkan mahasiswa dalam belajar.
Carroll (1990); Carroll dan Rosson (1987) penelitiannya juga menunjukkan bahwa
mahasiswa yang mampu melakukan tindakan eksplorasi cenderung lebih aktif dan agresif
dalam menggali informasi. Menurut Carroll (1990) dalam situasi ini mahasiswa harus tetap
dikontrol dan dibimbing agar dapat mempercepat capaian target yang diharapkan.

Kesimpulan
Kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian ini antara lain, yakni mahasiswa telah
membina aktivitas belajarnya di masa pandemi Covid-19 dengan baik, pada kategori tinggi.
Aktivitas seperti penerjemahan, menginterpretasi, maupun mengeksplorasi dalam kegiatan
belajar sangat membantunya memahami informasi yang dipelajari. Aktivitas belajar bisa saja
gagal ketika mahasiswa tidak mampu memahami informasi tersebut. Untuk menjaga
kestabilan, mahasiswa telah membina aktivitas belajarnya melalui penerjemahan (translation)
dengan rata-rata 3,767 berkategori tinggi, interpretasi (interpretation) dengan rata-rata 4,075
berkategori sangat tinggi, dan ekstrapolasi (extrapolation) dengan rata-rata 4,065 berkategori
sangat tinggi. Jika metode ini diterapkan dengan baik dalam aktivitas belajar, maka diyakini

Jurnal Kependidikan November 2020. Vol.6, No.3


Copyright © JK 2020, Zulhafizh. |508
Jurnal Kependidikan: November 2020. Vol.6, No.3
Jurnal Hasil Penelitian dan Kajian Kepustakaan e-ISSN: 2442-7667
di Bidang Pendidikan, Pengajaran dan Pembelajaran pp.502-511
[Link] Email: jlppm@[Link]

mahasiswa bisa berhasil kegiatan belajarnya hingga 99,3%. Hal ini betapa pentingnya metode
TIE diterapkan dalam aktivitas belajarnya. Melihat dari data tersebut, metode TIE mampu
merangsang kognisi dan psikomotor mahasiswa dalam mencapai mutu maupun kualitas
belajar menjadi lebih baik. Bahkan dapat menghadirkan mahasiswa yang berwawasan dan
berpengalaman.

Saran
Berdasarkan hasil penelitian ini, ada beberarapa saran yang disampaikan; (1) bagi mahasiswa
agar melakukan tindakan belajar di masa pendemi Covid-19 melalui metode TIE atau
translation (penerjemahan), interpretation (interpretasi), dan extrapolation (ekstrapolasi)
sehingga dapat meningkat kualitas belajarnya. (2) Bagi dosen agar dapat menerapkan metode
TIE untuk membina kualitas belajar mahasiswanya mengingat kegiatan belajar secara daring
dan mengarahkan mahasiswa belajar mandiri. (3) Bagi lembaga penyelenggara pendidikan
dan pengajaran, khususnya perguruan tinggi Universitas Riau dapat menjadikan hasil
penelitian ini sebagai bahan pertimbangan kebijakan tentang penyelenggaraan pembelajaran
di masa Covid-19. Selain itu, (4) bagi peneliti lanjutan agar dapat melakukan ekspremen atau
evaluasi efektivitas penyelenggaran pembelajaran di masa Covid-19 melalui elaborasi metode
TIE dengan metode lain agar melahirkan suatu pendekatan yang mampu mengarahkan
mahasiswa berprestasi.

Daftar Pustaka
Anderson, L. W. (Ed.), Krathwohl, D. R. (Ed.), Airasian, P. W., Cruikshank, K. A., Mayer,
R. E., Pintrich, P. R., Raths, J., & Wittrock, M. C. (2001). A Taxonomy for Learning,
Teaching, and Assessing: A Revision of Bloom’s Taxonomy of Educational Objectives
(Complete Edition). New York: Longman.
Angelo, T. A., & Cross, K. P. (1993). Classroom Assessment Techniques: A Handbook for
College Teachers. San Francisco: Jossey-Bass.
Biggs, J. (2003). Teaching for Quality Learning at University: What the Student Does (2nd
Ed.). Buckingham: Open University Press.
Bloom, B. S. (Ed.), Engelhart, M. D., Furst, E. J., Hill, W. H., & Krathwohl, D. R. (1956).
Taxonomy Ofeducational Objectives: The Classification of Educational Goals.
Handbook 1: Cognitive Domain. New York: David McKay.
Bransford, J. D., Brown, A. L., & Cocking, R. R. (Eds.). (2000). How People Learn: Brain,
Mind, Experience, and School. Washington, DC: National Academy Press.
Carroll, J. M. (1990). The Nurnberg Funnel. Cambridge, Mass: MIT Press.
Carroll, J. M., & Androsson, M. B. (1987). The Paradox of the Active User (80–111). J. M.
Carroll (Ed). In Interfacing Thought: Cognitive Aspects of Human-Computer
Interaction. Cambridge, Mass: MIT Press/Bradford Books.
Domjan, M. (2010). Principles of Learning and Behavior (6th Ed.). Belmont, CA:
Wadsworth/Cengage.
Fitriyani, Y., Fauzi, I., & Sari, M. (2020). Motivasi Belajar Mahasiswa Pada Pembelajaran
Daring Selama Pandemik Covid-19. Jurnal Kependidikan: Jurnal Hasil Penelitian
dan Kajian Kepustakaan di Bidang Pendidikan, Pengajaran dan Pembelajaran, 6(2),
165-175. doi:[Link]

Jurnal Kependidikan November 2020. Vol.6, No.3


Copyright © JK 2020, Zulhafizh. |509
Jurnal Kependidikan: November 2020. Vol.6, No.3
Jurnal Hasil Penelitian dan Kajian Kepustakaan e-ISSN: 2442-7667
di Bidang Pendidikan, Pengajaran dan Pembelajaran pp.502-511
[Link] Email: jlppm@[Link]

Goodyear, P., & Ellis, R. (2007). Students’ Interpretations of Learning Tasks: Implications
for Educational Design. In ICT: Providing Choices for Learners and Learning.
Proceedings Ascilite Singapore 2007, 339-346.
Hall, G. (200 3). The Psychology of Learning. In L. Nadel ( Ed .), Encyclopedia of Cognitive
Science (Vol. 2, pp. 837-845). London: Nature Publishing Group.
Hargreaves, A. (2003). Teaching in the Knowledge Society. New York & London: Teachers
College Press.
Hönig, H. G., (1990). Holmes’ Mapping Theory and the Landscape of Mental Translation
Processes, In: Kitty Leuven-Zwart, M. V. & Naaijkens T. (eds.). Translation Studies
The State of Art. Proceedings of the First James. Holmes Symposium on Translation
Studies, 77-89.
Jang, J., Purwanto, A., Purnamasari, D., Ramdan, M., Hutagalung, L., Akuba, S., Sulistiyadi,
A., Pramono, R., & Bernarto, I. (2020). Pendidikan Vokasi BTEC UK di Indonesia:
Studi Fenomenologi Esensi Pengalaman Peserta Didik. Jurnal Kependidikan: Jurnal
Hasil Penelitian dan Kajian Kepustakaan di Bidang Pendidikan, Pengajaran dan
Pembelajaran, 6(1), 1-12. doi:[Link]
Jarvis, P. (2006). Towards Comprehensive Theory of Human Learning. London and England
New York: Routledge Taylor and Francis Group.
Kandola, B. (2002). Graduate Induction Training Techniques: A New Model for Fostering
Creativity. Education & Training, 44(7), 308.
Krathwohl, D. R. (2002). A Revision of Bloom’s Taxonomy: An Overview. Ohio, Columbus:
EBSCO Publishing.
Lachman, S. J. (1997). Learning is A Process: To Ward an Improved Definition of Learning.
Journal of Psychology, 13(1), 477-480.
López, A. M. R., & Meseguer, P. (2018). Creativity and Translation Quality: Opposing
Enemies or Friendly Allies? Journal of Language and Communication in Business,
57, DOI: 10.7146/hjlcb.v0i57.106202
McGrath, K. (2015). A Vision for Every Student: Exploration-Based Learning. Retrieved
from [Link]
based-learning/
Mikulecky, B. S. (2016). Teaching Reading in a Second Language. Retrieved from
[Link]
20Monograph%[Link]
Mustafa, M. N., & Zulhafizh. (2017). Building the Professionalism of Teachers as an Effort
to Improve Education. In Husein, R, et al (Eds.), International Seminar and Annual
Meeting 2017 Fields of Linguistics, Literature, Arts, and Culture, Medan, 449.
Mustafa, M. N., & Zulhafizh. (2018a). Information Mastery by Teachers as A Strategy to
Succeed in the Implementation of Teaching and Learning Activities. International
Seminar and Annual Meeting BKS-PTN Wilayah Barat, 516-523.
Mustafa, M. N., & Zulhafizh. (2018b). Information Mastery by Teachers as A Strategy to
Succeed in the Implementation of Teaching and Learning Activities. International
Seminar and Annual Meeting BKS-PTN Wilayah Barat, 516-523.

Jurnal Kependidikan November 2020. Vol.6, No.3


Copyright © JK 2020, Zulhafizh. |510
Jurnal Kependidikan: November 2020. Vol.6, No.3
Jurnal Hasil Penelitian dan Kajian Kepustakaan e-ISSN: 2442-7667
di Bidang Pendidikan, Pengajaran dan Pembelajaran pp.502-511
[Link] Email: jlppm@[Link]

Mustafa, M. N., Hermandra, & Zulhafizh. (2019). The Effort to Raise Students’ Knowledge
and Comprehension in the Learning Activity by Advanced Teachers. Proceedings of
the UR International Conference on Educational Sciences, 237-244.
Mustafa, M. N., Hermandra, Suarman, & Zulhafizh. (2019). Manajerial Pembelajaran
Kreatif: Menjadi Guru Jitu. Yogyakarta: Mirra Buana Media.
Mustafa, M. N., Hermandra, Zulhafizh, & Hermita, N. (2018). The Significance of Language
Motivations Learning: Correlation Analysis. Advanced Science Letters, 24(11), 8080-
8083.
Ormrod, J. E. (2008). Human Learning (5th Ed.). Upper Saddle River, NJ: Merrill/Prentice
Hall.
Prihatiningtyas, N., & Rosmaiyadi, R. (2020). Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa
Dalam Model Pembelajaran Jucama pada Materi Trigonometri. Jurnal Kependidikan:
Jurnal Hasil Penelitian dan Kajian Kepustakaan di Bidang Pendidikan, Pengajaran
dan Pembelajaran, 6(1), 27-37. doi:[Link]
Rieman, J. (1996). A Field Study of Exploratory Learning Strategies. ACM Transactions on
Computer-Human Interaction, 3(3), 189-218.
Sarwono, J. (2006). Analisis Data Penelitian Menggunakan SPSS. Yogyakarta: Andi Offset.
Skinner, B. F. (1938). The Behavior of Organisms: An experimental Analysis. New York:
Appleton-Century.
Skinner, B. F. (1984). The Evolution of Behavior. Journal of the Experimental Analysis of
Behavior, 41, 217-221.
Slameto. (2010). Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Toury, G. (1995). Descriptive Translation Studies and Beyond. Amsterdam: John Benjamins.
Turçin, M. (2005). Tıbbi İngilizce. İstanbul: Nobel Tıp Kitabevi.
Widdowson, H.G. (2014) The Role of Translation in Language Learning and Teaching. In:
House J. (eds). Translation: A Multidisciplinary Approach. London: Palgrave
Macmillan.
Wiggins, G. P., & McTighe, J. (2005). Understanding by Design (2nd Expanded Edition).
Baltimore: Association for Supervision & Curriculum Development.
Yazici, M. (2016). Barriers vs Creativity in Translator Training. Journal of Education and
Practice, 7(27), 62-68.
Zulhafizh, Atmazaki, & Syahrul R. (2013). Kontribusi Sikap dan Motivasi Belajar Siswa
terhadap Hasil Belajar Bahasa Indonesia. Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajaran,
1(2), 13-28.
Zulhafizh. (2020). Orientation on Implementation of Learning Curriculum at Senior High
School: Teacher's Perspective. Jurnal PAJAR (Pendidikan dan Pengajaran), 4(2),
303-315.

Jurnal Kependidikan November 2020. Vol.6, No.3


Copyright © JK 2020, Zulhafizh. |511

You might also like