HUBUNGAN FUNGSI MANAJEMEN KEPALA RUANGAN DENGAN
KINERJA PERAWAT DALAM MELAKSANAKAN ASUHAN
KEPERAWATAN DI RUANG RAWAT INAP PUSKESMAS
WAELENGGA KABUPATEN MANGGARAI TIMUR TAHUN 2019
Yohanes Jakri, Hildegardis Timun
Prodi Sarjana Keperawatan FIKP Unika St. Paulus Ruteng. Jl. Jend. Ahmad Yani, No.10, Ruteng-Flores
86508
Email: [email protected]
Abstract: The Correlation Of Ward Head Management Function Upon Nursing Performance In
Implementing Nursing Care In Inpatient Ward Waelengga Community Health Center, Manggarai Timur
District 2019. The implementation of the ward head management function is one of the important factors
that influence nurses' work performance and has an impact on the quality of nursing services.. Therefore the
management function must be applied in the health service order, so that motivated nurses improve their
performance in providing quality nursing care to patients. This study aims to determine the relationship
between the management function of the ward head and the performance of nurses in implementing nursing
care in the inpatient of Waelengga Community Health Center. This research is a quantitative description
research with a cross sectional study design and the sampling technique uses total sampling. The sample in
this study were 20 nurses in the inpatient ward at Waelengga Community Health Center. The results of data
analysis using the Chi-square test showed that the significance value of the management function of the ward
head with the work performance of nurses in implementing nursing care was p value 0.046 <α =0.05. In
conclusion, there is a significant relationship between the function of management of the ward head and the
performance of nurses in implementing nursing care in the inpatient of the Waelengga Health Center.
Suggestions for the community are necessary to improve the ability of the ward head management function
through training and developing managerial nursing concepts.
Keywords: Management Functions, Nurse Performance, Ward Head.
Abstrak: Hubungan Fungsi Manajemen Kepala Ruangan Dengan Kinerja Perawat Dalam Melaksanakan
Asuhan Keperawatan Di Ruang Rawat Inap Puskesmas Waelengga Kabupaten Manggarai Timur Tahun
2019. Pelaksanaan fungsi manajemen kepala ruangan merupakan salah satu faktor penting yang
mempengaruhi kinerja kerja perawat dan berdampak pada kualitas pelayanan asuhan keperawatan. Fungsi
manajerial kepala ruangan harus diaplikasikan dalam tatanan pelayanan kesehatan, sehingga perawat
termotivasi meningkatkan kinerjanya dalam pemberian asuhan keperawatan yang berkualitas kepada
pasien, dengan demikian mutu kesehatan masyarakat dapat meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui hubungan fungsi manajemen kepala ruangan dengan kinerja perawat dalam melaksanakan
asuhan keperawatan di rawat inap Puskesmas Waelengga. Penelitian ini merupakan penelitian deskripsi
kuantitatif dengan desain cross sectional study dan teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling.
Sampel pada penelitian ini adalah perawat pelaksana di ruang rawat inap Puskesmas Waelengga
sebanyak 20 orang. Hasil Analisa data menggunakan uji Chi-square didapatkan nilai signifikansi variabel
fungsi manajemen kepala ruangan dengan kinerja kerja perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan
adalah p value 0,046 < α = 0,05. Kesimpulannya terdapat hubungan bermakna antara fungsi manajemen
kepala ruangan dengan kinerja perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan di rawat inap Puskesmas
Waelengga. Saran terhadap pihak puskesmas adalah perlu dilakukan peningkatan kemampuan fungsi
manajemen kepala ruangan melalui pelatihan dan pengembangan konsep manajerial keperawatan.
Kata Kunci : Fungsi Manajemen, Kinerja Perawat, Kepala Ruangan
56
Jakri & Timun, Hubungan Fungsi Manajemen Kepala Ruangan Dengan Kinerja…. 57
PENDAHULUAN 38 tahun 2014 tentang Keperawatan
Pelayanan keperawatan merupakan menyatakan perawat dalam melaksanakan
bagian integral dari pelayanan kesehatan pelayanan kesehatan berperan sebagai
yang mempunyai daya ungkit besar dalam penyelenggara praktik keperawatan,
mencapai tujuan pembangunan di bidang pemberi asuhan keperawatan.
kesehatan. Sebagai pemberian pelayanan Perawat merupakan tenaga yang
keperawatan, secara profesional perawat paling lama berinteraksi dengan pasiennya,
diharapkan mampu menyelesaikan sehingga memiliki kontribusi yang besar
tugasnya dalam memberikan asuhan dalam upaya meningkatkan kualitas dan
keperawatan untuk meningkatkan derajat kuantitas pelayanan yang diberikan
ksehatan masyarakat menuju ke arah dibanding dengan tenaga kesehatan yang
kesehatan yang optimal. Indikator penilaian lain (Hubberd,1996) dalam Sitorus (2011).
mutu asuhan pelayanan RS salah satunya Salah satu aspek terpenting dari kinerja
adalah mutu asuhan keperawatan yang perawat adalah pelaksanaan asuhan
dimanfaatkan oleh masyarakat (Nursalam, keperawatan, adapun tahapan dalam
2014), begitupun mutu asuhan pelayanan pelaksanaan asuhan keperawatan yakni
pada Puskesmas. Asuhan keperawatan yang tahapan pengkajian, diagnosa keperawatan,
berkualitas menjadi tujuan utama pelayanan intervensi, implementasi, dan evaluasi.
keperawatan. Pengukuran dan penilaian Pelaksanaan asuhan keperawatan pada
kinerja asuhan keperawatan yang dilakukan dasarnya dijadikan acuan dalam menilai
oleh perawat menjadi penting untuk kinerja perawat. Menurut Supangat (2008)
dilakukan agar mengetahui mutu asuhan dalam Kewuan (2017), bahwa indikator
yang diberikan. kinerja seorang perawat adalah disiplin
Menurut UU Nomor 36 tahun 2014 kerja, sikap dan prilaku, pelaksanaan
tentang Tenaga Kesehatan, menyatakan prosedur rumah sakit, dan pelaksanaan
bahwa tenaga kesehatan memiliki peranan kegiatan asuhan keperawatan. Oleh karena
penting untuk meningkatkan kualitas itu, kinerja perawat dapat dilihat dari mutu
pelayanan kesehatan yang maksimal asuhan keperawatan yang diberikan kepada
kepada masyarakat. Tenaga kesehatan pasien, dengan menggunakan standar
dalam hal ini perawat mempunyai praktik keperawatan.
kedudukan penting dalam menghasilkan Menurut Siswanto (2012), fungsi
kualitas pelayanan kesehatan. UU Nomor manajemen akan mengarahkan perawat
58 Jurnal Wawasan Kesehatan: Volume: 4, Nomor 2, Desember 2019
dalam mencapai tujuan yang akan sementara, belum ada bimbingan kepala
ditujukan dengan menerapkan proses ruang terhadap perawat pelaksana,
keperawatan yang terdiri pada empat pengawasan yang dilakukan oleh kepala
elemen yaitu fungsi perencanaan ruangan masih bersifat temporer jika ada
(Planning), fungsi pengorganisasian masalah, belum dilaksanakannya Standar
(Organizing), fungsi pengarahan Operasional Prosedur (SOP) yang baik,
(Actuating), dan fungsi pengendalian penerapan yang selama ini dilakukan
(Controling) yang merupakan siklus diruangan hanya berdasarkan pada rutinitas
manajemen yang saling berkaitan satu sama saja.
lain. Untuk penerapan manajemen Untuk meningkatkan produktivitas
keperawatan di ruang rawat inap kerja, efektifitas kerja, keberhasilan
memerlukan kepala ruang yang memenuhi perawat pelaksana sangat dipengaruhi oleh
standar sebagai manjerial. Kepala ruang pelaksanaan fungsi manajemen kepala
memiliki tanggungjawab dalam ruangan. Dengan melihat fenomena di atas,
pengelolaan pelayanan keperawatan peneliti tertarik untuk meneliti tentang
diruangan dengan menggunakan proses hubungan fungsi manajemen kepala
manajemen keperawatan yaitu melalui ruangan dengan kinerja perawat dalam
fungsi- fungsi manajemen tersebut (Keliat, melaksanakan asuhan keperawatan di rawat
2012). inap Puskesmas Waelengga, Kabupaten
Berdasarkan studi pendahuluan di Manggarai Timur.
ruang rawat inap puskesmas waelengga METODE PENELITIAN
yang sering dikeluhkan masyarakat adalah Penelitian ini dilakukan di Puskesmas
lambatnya pelayanan yang diberikan oleh Waelengga, Manggarai Timur, periode
perawat. Berdasarkan hasil wawancara dan Februari sampai maret 2019. Dalam
observasi terhadap kepala ruang dan penelitian ini, populasi Perawat yang
perawat pelaksana, fungsi manajemen bekerja di ruang rawat berjumlah 20 orang
diruangan masih belum baik, perawat dengan menggunakan teknik total sampling
bekerja apa adanya, rendahnya yaitu jumlah sampel sama dengan populasi.
penghargaan terhadap perawat, perawat Pada proses penelitian ini, pengambilan
pelaksana belum dilibatkan dalam data penelitian menggunakan data primer,
perencanaan ruangan, pembagian tugas yaitu kuisione sebagai panduan yang
masih berupa intruksi yang bersifat dibagikan kepada responden untuk
Jakri & Timun, Hubungan Fungsi Manajemen Kepala Ruangan Dengan Kinerja…. 59
mendapatkan data mengenai variable yang bekerja di ruang rawat inap
independen dan dependen, serta data Puskesmas Waelengga.
sekunder berupa jumlah perawat pelaksana
HASIL PENELITIAN
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur
Umur Frekuensi (f) Presentase (%)
26 - 35 18 90,0
36 - 40 2 10,0
Total 20 100
Sumber : Data Primer Tahun 2019
Tabel 2. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Frekuensi (f) Presentase (%)
Laki- Laki 3 15,0
Perempuan 17 85%
Total 20 100
Sumber : Data Primer Tahun 2019
Tabel 3. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pendidikan
Pendidikan Frekuensi (f) Presentase (%)
Diploma 18 90 %
S1 Ners 2 10%
Total 20 100
Sumber : Data Primer Tahun 2019
Tabel 4. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Masa Kerja
Masa Kerja (Tahun) Frekuensi (f) Presentase (%)
0 -1 0 0%
>1 20 100 %
Total 20 100
Sumber : Data Primer Tahun 2019
Tabel 5. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Fungsi Manajemen Kepala
Ruangan
Fungsi Manajemen Frekuensi (f) Presentase (%)
1. Fungsi Perencanaan
a. Baik 12 60
b. Kurang 8 40
Total 20 100
2. Fungsi Pengorganisasian
a. Baik 18 90
b. Kurang 2 10
60 Jurnal Wawasan Kesehatan: Volume: 4, Nomor 2, Desember 2019
Total 20 100
3. Fungsi Pengarahan
a. Baik 12 60
b. Kurang 8 40
Total 20 100
4. Fungsi Pengawasan
a. Baik 5 25
b. Kurang 15 75
Total 20 100
Tabel 6. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kinerja Perawat
Kinerja Perawat Frekuensi (f) Presentase (%)
Baik 17 85
Kurang 3 15
Total 20 100
Sumber : Data Primer Tahun 2019
Tabel 7. Hubungan Fungsi Manajemen Kepala Ruangan Dengan Kinerja Perawat Dalam
Melaksanakan Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat Inap Puskesmas Waelengga
Fungsi Manajeme Kinerja Perawat Total p Value
Kepala Ruangan Baik Kurang
F % F % F %
Baik 16 80 1 5 17 85
Kurang 1 5 2 10 3 15 0,046
Total 17 85 3 15 20 100
PEMBAHASAN dikarenakan kepala ruangan sudah
menjalankan fungsi tersebut dengan baik.
Fungsi Manajemen Kepala Ruangan
Pada fungsi perencanaan terdapat 12
Berdasarkan tabel 5, menunjukkan
responden (60%) menyatakan baik dan 8
bahwa persepsi perawat terhadap fungsi
responden (40%) menyatakan kurang baik,
manajemen kepala ruangan pada
peneliti berasumsi bahwa fungsi
umumnya baik yaitu > 50 % menyatakan
perencanaan kepala ruangan sudah baik,
yang baik pada fungsi perencanaan,
hal ini terlihat dari jawaban responden
pengorganisasian, dan pengarahan, kecuali
yang dominan mengatakan kepala ruangan
pada fungsi pengawasan hanya 25 % yang
sering membuat rencana kegiatan yang
menyatakan baik. Menurut asumsi
harus dilaksanakan secara rutin untuk
peneliti bahwa fungsi manajemen kepala
mencapai tujuan organisasi. Hal ini sesuai
ruangan sebagai perencanaan,
dengan pendapat Keliat, (2014) bahwa
pengorganisasian dan pengarahan baik
Jakri & Timun, Hubungan Fungsi Manajemen Kepala Ruangan Dengan Kinerja…. 61
perencanaan manajemen keperawatan horisontal yang bertanggungjawab untuk
diawali dengan perumusan tujuan mencapai tujuan organisasi.
institusi/organisasi yang dijelaskan dalam Pada penelitian ini terdapat 12
visi, misi, filosofi dan tujuan sebagai arah responden (60%) menyatakan fungsi
kebijakan organisasi dan menentukan pengarahan kepala ruangan baik dan 8
standar yang akan digunakan dalam responden (40%) menyatakan kurang baik.
melakukan pengawasan serta mencapai Peneliti berasumsi bahwa kepala ruangan
tujuan. sudah menjalankan fungsinya dengan
Begitupun pada fungsi baik, hal ini terlihat dari jawaban
pengorganisasian, terdapat 18 responden responden yang dominan mengatakan
(90%) menyatakan fungsi kepala ruangan sering memberikan
pengorganisasian kepala ruangan baik dan penghargaan berupa pujian, memberi
2 responden (10%) menyatakan kurang motivasi, menangani konflik, dan
baik. Menurut asusmi peneliti bahwa membina komunikasi organisasi dengan
kemampuan manajerial dalam fungsi baik. Hal ini sejalan dengan pendapat
pengorganisaian kepala ruangan sudah Swansburg, (2010) dalam Anwar (2016),
baik, hal ini terlihat dari jawaban bahwa Kepala ruang dalam melakukan
responden yang dominan mengatakan kegiatan pengarahan melalui: saling
bahwa kepala ruangan sering memberi motivasi, membantu pemecahan
melaksanakan fungsinya seperti masalah, melakukan pendelegasian,
koordinasi kegiatan, pengelompokan menggunakan komunikasi yang efektif,
aktivitas, kewenangan dan tanggung jawab melakukan kolaborasi dan koordinasi, agar
masing masing perawat. Hal ini sesuai tercapai tujuan yang telah ditentukan.
dengan pendapat Hubbert, (2000) dalam Sedangkan pada fungsi pengawasan
Haryanti (2013) bahwa pengorganisasian hanya 5 responden (25 %) menyatakan
kegiatan keperawatan di ruang rawat inap fungsi pengawasan kepala ruangan baik
adalah pengelompokan aktivitas untuk sedangkan 15 responden (75%)
mencapai tujuan melalui penugasan suatu menyatakan kurang baik. Peneliti
kelompok tenaga keperawatan, berasumsi bahwa kepala ruangan tidak
menentukan cara pengkoordinasian menjalan fungsi pengawasan dengan baik,
aktivitas yang tepat, baik vertikal maupun hal ini terlihat dari jawaban responden
yang dominan mengatakan bahwa kepala
62 Jurnal Wawasan Kesehatan: Volume: 4, Nomor 2, Desember 2019
ruangan jarang bahkan tidak pernah
menjalankan tugas pengawasan seperti Berdasarkan tabel 6 menunjukan
penilaian pelaksanaan asuhan bahwa mayoritas kinerja perawat dalam
keperawatan, memperhatikan kemajuan melaksanakan asuhan keperawatan adalah
dan kualitas asuhan keperawatan, baik yaitu sebanyak 17 responden (85%),
meningkatkan pengetahuan dan dan yang kurang 3 responden (15%).
ketrampilan perawat dalam asuhan Peneliti berasumsi bahwa kinerja perawat
keperawatan, dan menggunakan standar di rawat inap puskesmas waelengga sudah
untuk menilai asuhan keperawatan. Hal ini baik, hal ini terlihat dari jawaban
sesuai dengan teori Marquis dan Houston responden yang mengatakan bahwa
(2012), bahwa pegawasan yang efektif perawat sering bahkan selalu
akan meningkatkan kepuasan kerja, melaksanakan asuhan keperawatan dengan
motivasi, inovasi, dan hasil yang menggunakan proses keperawatan yaitu
berkualitas. Dengan pengawasan pengkajian, diagnosa, intervensi,
memungkinkan rencana yang telah implementasi, dan evaluasi, yang
dilaksanakan oleh sumber daya secara berpedoman pada standar keperawatan
efektif dan efisien sesuai standar yang dalam lingkup wewenang serta tanggung
ditetapkan. Pengendalian dilaksanakan jawab keperawatan. Kinerja perawat
untuk menilai tentang pelaksanaan rencana merupakan ukuran keberhasilan dalam
yang telah dibuat dengan mengukur dan mencapai tujuan pelayanan keperawatan.
mengkaji struktur, proses dan hasil Adapun faktor-faktor yang berpengaruh
pelayanan dan asuhan keperawatan sesuai terhadap kinerja perawat diantaranya
standar dan mempertahankan kualitas. adalah Faktor personal/individu, faktor
Hasil penelitian ini sejalan dengan kepemimpinan, faktor team, faktor sistem,
penelitian yang dilakukan oleh Mutaqin faktor kontekstual/situasional. Faktor-
(2014) bahwa dengan pengawasan yang faktor tersebut berpengaruh terhadap
efektif akan memberikan hasil kerja yang perawat dalam melaksanakan tugas-tugas
berkualitas, dengan pengawasan yang baik yang diberikan kepadanya. Hal ini sejalan
akan memungkinkan rencana yang telah dengan pendapat Armstrong & Baron
dibuat berjalan secara efektif dan efisien. (1998) dalam Wibowo (2011), bahwa
kinerja dipengaruhi oleh beberapa hal,
Kinerja Perawat Dalam Melaksanakan
salah satunya adalah Faktor
Asuhan Keperawatan
Jakri & Timun, Hubungan Fungsi Manajemen Kepala Ruangan Dengan Kinerja…. 63
kepemimpinan yaitu kualitas yang dimiliki melalui penerapan fungsi manajemen yaitu
oleh manajer dan team leader dalam perencanaan, pengorganisasian,
memberi dorongan, semangat, arahan, dan pengarahan, dan pengendalian atau
dukungan. pengawasan untuk menciptakan situasi
yang terorganisir agar setiap individu
Hubungan Fungsi Manajemen Kepala dapat melaksanakan tugasnya, mengatasi
Ruangan Dengan Kinerja Perawat hambatan yang ada, dan mengoptimalkan
Dalam Melaksanakan Asuhan
Keperawatan efisiensi serta efektivitas guna mencapai
tujuan organisasi. Fokus keempat fungsi
Berdasarkan tabel 7, menunjukan manajemen tersebut adalah untuk menjaga
bahwa dari 17 orang perawat yang dan menciptakan konsistensi kinerja.
mengatakan fungsi manajemen kepala Namun hasil penelitian ini yang
ruangan baik dan kinerja perawat baik mengatakan fungsi manajemen kepala
sebanyak 16 orang (80%). Menurut ruangan baik tetapi kinerja kerja perawat
asumsi peneliti hal ini dipengaruhi oleh masih kurang terdapat 1 orang (5%).
pelaksanaan fungsi manajemen kepala Menurut asumsi peneliti hal ini disebabkan
ruangan sudah terlaksana dengan baik, ada faktor lain diluar fungsi manejemen
sehingga menghasilkan kinerja perawat kepala ruangan yang mempengaruhi
yang baik dalam melaksanakan asuhan kinerja seseorang. Menurut Armstrong &
keperawatan. Oleh karena itu, semakin Baron (1998) dalam Wibowo (2011), ada
baik pelaksanaan fungsi manajemen lima faktor yang berpengaruh terhadap
kepala ruangan maka semakin baik pula kinerja, selain faktor kepemimpinan
kinerja perawat pelaksana. Sesuai dengan terdapat faktor sistem yaitu fasilitas
teori yang dikemukakan oleh Huber, kerja/infrastruktur yang diberikan oleh
(2006) dalam Keliat, (2014) bahwa organisasi. Hal inilah yang mempengaruhi
seorang kepala ruangan yang efektif kinerja perawat kurang dalam
diruang rawat inap adalah seseorang yang melaksanakan asuhan keperawatan.
tidak hanya berusaha mencapai tujuan Berdasarkan hasil penelitian ini
ruangan tetapi juga tetap mempertahankan menunjukan bahwa yang mengatakan
tingkat kompetensi, komitmen dan fungsi manajemen kepala ruangan kurang
antusiasme staf secara terus menerus, hal baik dan kinerja perawat kurang baik
ini harus dilaksanakan secara konsisten sebanyak 2 orang (10%). Menurut asumsi
64 Jurnal Wawasan Kesehatan: Volume: 4, Nomor 2, Desember 2019
peneliti kinerja perawat kurang karena KESIMPULAN
kemampuan kepala ruangan yang kurang Berdasarkan hasil pengolahan data
dalam melaksanakan fungsi manajemen. dan pembahasan pada penelitian ini, maka
Hal ini terlihat pada fungsi pengawasan dapat disimpulkan: gambaran persepsi
kepala ruangan yang kurang baik. Oleh perawat tentang fungsi manajemen
sebab itu fungsi pengawasan perlu kepala ruangan yang baik yaitu sebanyak
dilaksanakan dan ditingkatkan agar kinerja 17 responden (85%) dan yang kurang
perawat juga meningkat dalam yaitu 3 responden (15%), gambaran
peningkatan kualitas asuhan keperawatan. kinerja perawat pelaksana yang baik
Namun hasil penelitian ini yang yaitu sebanyak 17 responden (85%)
mengatakan fungsi manajemen kepala dan kinerja yang kurang sebanyak 3
ruangan kurang baik tetapi kinerja perawat responden (15%) dan Ada hubungan
baik terdapat 1 orang (5%). Menurut yang significant antara fungsi
asumsi peneliti hal ini disebabkan ada manajemen kepala ruangan dengan
faktor lain diluar fungsi manejemen kepala kinerja perawat dalam melaksanakan
ruangan yang mempengaruhi kinerja asuhan keperawatan di rawat inap
seseorang. Menurut Armstrong & Baron Puskesmas Waelengga Kabupaten
(1998) dalam Wibowo (2011), ada lima Manggarai Timur dengan nila p value
faktor yang berpengaruh terhadap kinerja, (0,046) < α (0,05).
selain faktor kepemimpinan terdapat
DAFTAR PUSTAKA
faktor personal atau individu, yaitu
kemampuan, kepercayaan diri, motivasi, Ajeng yuanita et.al. 2011. Hubungan
Fungsi Manajemen Kepala Ruang
dan komitmen yang dimiliki oleh setiap Dengan Pelaksanaan Asuhan
individu. Hal inilah yang mempengaruhi Keperawatan Pasien Penyakit
Menular di SMC RS Telogorejo.
kinerja perawat baik dalam melaksanakan Jurnal Keperawatan.
asuhan keperawatan meskipun fungsi Https://docplayer.info/amp/4497676
82. Diakses tanggal 28 oktober 2018
manajemen kepala ruangan kurang baik.
Anwar, et.al. 2016. Hubungan Fungsi
Semakin baik Kepala Ruangan Manajemen Kepala Ruang Dengan
menjalankan fungsi manajerialnya, maka Penerapan Patient Safety Culture
Rumah Sakit Umum Dr. Zainoel
semakin baik pula kinerja perawat dalam Abidin Banda Aceh . Idea Nursing
melaksanakan asuhan keperawatan. journal. ISNN: 2087-2879 Vol. VII
No.1.Https://www.Jurnalunsyiah.ac.
id Diakses tanggal 28 oktober 2018
Jakri & Timun, Hubungan Fungsi Manajemen Kepala Ruangan Dengan Kinerja…. 65
Desri, et.al. 2012. Kinerja Perawat Kewuan, Nikolaus N. 2017.
Dalam Pemberian Asuhan Manajemen Kinerja
Keperawatan di Rumah Sakit Tk II Keperawatan. Jakarta: EGC
Putri Hijau Medan.. Jurnal
Keperawatan. Kozier. 2010. Buku ajar praktek
Https://jurnal.usu.ac.id. Diakses keperawatan klinis. Edisi 5.
tanggal 13 oktober 2018 Jakarta ; EGC
Dwi, Cahyani, O. 2017. Pengaruh Kuswantoro, at .al. 2010. Pengaruh
kepuasan kerja dan stres terhadap Pelaksanaan Fungsi Manajerial
kinerja perawat rumah sakit PKU Kepala Ruang Dalam Metode
Muhamadiya. jurnal manajemen Penugadan Tim Terhadap Kineja
bisnis indonesia. vol. 6, no.1 Ketua Tim di RSU Dr. Saiful
http://journal.student.uny.ac Anwar Malang. Jurnal
diakses tanggal 13 oktober 2018 Keperawatan.Vo.1, No. 2.
Http://ejournal.umm.ac.id./index.
Haryanti, at.al. 2013. Analisis pengaruh php/keperawatan/article/view/41
peresepsi perawat pelaksana tentang 0. diakses 13 Oktober 2018.
fungsi manajerial kepala ruang
terhadap pendokumentasian asuhan Mugianti, S. 2016. Manajemen dan
keperawatan diruang rawat inap. kepemimpinan dalam praktek
Jurnal Managemen Keperawatan. keperawatan, Kementrian
Vol.1, No. 2, November 2013. Kesehatan Republik Indonesia,
http://media.neliti.com>piblications. Jakarta.
diakses tanggal 13 Oktober 2018
Notoadmojo, S. 2010. Metodologi
Hidayat, A.Aziz. 2010.Metode Penelitian Penelitian Kesehatan. Edisi
Keperawatan dan Teknik Analisis. Revisi. Jakarta: Rineka cipta.
Jakarta: Selemba Medika.
Nursalam. 2011. Manajemen
Houck, katharina. at.al. 2012. Adverse Keperawatan (aplikasi dalam
event rates as measures of praktik keperawatan
hospital performence. Jurnal professional). Jakarta: Salemba
Healths policy, vol.104. issue Medika
2:146-152.
2013. Metodologi Penelitian :
http://doi.org/10.1016/j.healtpol.
Pendekatan Praktis. Edisi 3.
2011.06.010. Diakses 13 oktober
Jakarta : Salemba Medika.
2018
2014. Konsep dan
Jacobs, Romens, at.al. 2013. “the Penerapan Metodologi
relationship berween Penelitian Ilmu Keperawatan
organizational cultur and Edisi 4. Jakarta: Salemba
performance in acute hospital” Medika.
social science and
madicine.vol.76:115-125. 2015. Manajemen Keperawatan
https://dx.doi.org/10.1016/j.socsc Aplikasi dalam Praktik
imed.2012.10.014 di akses Keperawatan Profesional Edisi
tanggal 14 oktober 2018 5. Jakarta: Salemba Medika.
66 Jurnal Wawasan Kesehatan: Volume: 4, Nomor 2, Desember 2019
Potter & Perry. 2009. Fundamental
Keperawatan, Edisi 7. Jakarta:
Salemba Medika.
Parmin. 2010. Hubungan pelaksanaan
fungsi manajerial kepala
ruangan dengan motivasi
perawat pelaksana. Jurnal
keperawatan
http://pdii.lipi.go.id/admin/jurn
al. Diakses tanggal 13 oktober
2018
Sitorus, Panjaitan. 2011. Manajemen
Keperawatan di Ruang
Rawat. Jakarta: EGC.
Siswanto, H.B. 2012. Pengantar
manajemen. Jakarta: Bumi
Aksara
Suarli, Y. Bahtiar. 2010. Manajemen
Keperawatan. Jakarta: Erlangga
Sugiyono. 2007. Metode Penelitian
Pendidikan, pendekatan
Kuantitatif dan Kualitatif.
Bandung: Alfabeta
Susilo. 2013. Prinsip-Prinsip
Biostatistika Dan Aplikasi
SPSS Pada Ilmu
Keperawatan. Jakarta: IN
Media
Swansburg, Russel, C. 2004.
Pengantar Kepemimpinan &
Manajemen Keperawatan untuk
Perawat Klinis, Jakarta: EGC.
UU Nomor 36 tentang Tenaga
Kesehatan di akses dari
http://www.hukumonline.com
pada tanggal 18 Oktober 2018.
UU Nomor 38 tentang Keperawatan di
akses dari
http://www.hukumonline.com
pada tanggal 18 Oktober 2018.