0% found this document useful (0 votes)
58 views7 pages

319-Article Text-883-1-10-20190531

Uploaded by

Rika Aryani
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd
0% found this document useful (0 votes)
58 views7 pages

319-Article Text-883-1-10-20190531

Uploaded by

Rika Aryani
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd
You are on page 1/ 7

JEP | Volume 3 | Nomor 1| Mei 2019

e-ISSN 2579-860X
p-ISSN 2614-1221
Doi: https://doi.org/10.24036/jep/vol3-iss1/319

Pengaruh Penggunaan Lembar Kerja Siswa (LKS) Eksperimen


Laju Reaksi Berbasis Inkuiri Terbimbing Terhadap
Hasil Belajar Siswa Kelas XI
MIA SMAN 4 Padang

Margarita Claudya Maida 1) Bayharti2) Andromeda 3)


1)
Prodi Pendidikan Kimia, FMIPA Universitas Negeri Padang
2)
Jurusan Kimia, FMIPA Universitas Negeri Padang
2)
Jurusan Kimia, FMIPA Universitas Negeri Padang
[email protected]

ABSTRACT
This study aims to reveal the effect of using guided inquiry based experiment worksheet on re-
action rate topic on students’ learning outcome. This research is a quasi-experimental research, using
randomized Posttest Only Control Group Design. The research sample consisted of two classes,
namely the experiment class and control class obtained through cluster sampling technique. The
population were students of class XI MIA SMAN 4 Padang as much as 6 classes, the academic year
2015/2016. Sample were class XI MIA 1 (experimental group) and class XI MIA 3 (control group).
Learning outcome ware collected by tests at the end of the study. Data analysis showed that the exper-
iments class learning with guided inquiry based experiment worksheet got learning outcome with av-
erage value of 86.27. Meanwhile learning outcomes of student in control class who learned without
guided inquiry based experiment worksheet was 74.40. Both of Normality and Homogenous’s results
showed that the distribution of the two experimental classes were normal and homogeneous. After the
t-test on the real level of 0.05 was found that tcount is greater than ttable. It’s means that research
hypothesis (H1) is accepted, so that it can be concluded that the results of student learning using stu-
dent worksheet guided inquiry-based reaction rate is significantly higher than the student worksheet
without a reaction rate-based guided inquiry.

Keywords : Guided Inquiry, Student Worksheet Experiment, Rate of reaction


his is an open access article distributed under the Creative Commons 4.0 Attribution License, which permits unrestricted use, distribution, and reproduction
in any medium, provided the original work is properly cited. ©2018 by author and Universitas Negeri Padang.

keberadaan praktikum sebagai metode pembe


PENDAHULUAN lajaran bidang studi sains merupakan suatu
Laju reaksi merupakan salah satu materi keharusan.
yang diajarkan di kelas XI tingkat SMA/MA. Berdasarkan hasil observasi dan tanya
Pada materi ini siswa harus mampu menjelaskan jawab dengan beberapa guru kimia dan beberapa
faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi orang siswa SMA Negeri 4 Padang diperoleh
yaitu konsentrasi, luas permukaan, suhu dan informasi bahwa kegiatan praktikum dilakukan
katalis, serta mampu menghitung dan menentu setelah pembelajaran teori sehingga praktikum
kan orde reaksi, persamaan laju reaksi dan cendrung bersifat mengkonfirmasi konsep yang
tetapan laju reaksi melalui percobaan (KD 4.6 telah diperoleh. Selain itu, siswa melakukan
dan 4.7 Laju Reaksi Kurikulum 2013, praktikum sesuai dengan instruksi yang terdapat
Kemendikbud, 2013). Dalam penyampaian dalam buku teks tanpa memikirkan alasan
konsep laju reaksi, sesuai dengan KD di atas pengerjaan tahap demi tahap yang dilakukan dan
maka pembelajaran materi ini membutuhkan belum dapat menuntun siswa menemukan
kegiatan praktikum. Kegiatan praktikum ber konsep sendiri. Jika hal ini terjadi terus menerus
guna agar siswa dapat menemukan konsep yang maka kegiatan pratikum hanya menjadi kegiatan
terdapat pada materi laju reaksi. Sesuai dengan mengumpulkan data. Oleh sebab itu diperlukan
anjuran Kurikulum 2013, dimana peserta didik suatu penuntun yang dapat membimbing siswa
bukan lagi sebagai objek pembelajaran tetapi untuk menemukan konsep sendiri dan membuat
juga sebagai subjek pembelajaran, maka kegiatan pratikum menjadi lebih bermakna.
Teori belajar Piaget menegaskan bahwa
Margarita Claudya Maida, Bayharti, Andromeda 76

pengetahuan akan mempunyai makna jika dicari haman mereka tentang konsep laju reaksi Model
dan diselidiki secara mandiri oleh siswa dapat berupa diagram, grafik, data hasil eksper-
(Hartono, 2013). imen, persamaan, metodologi, beberapa prosa,
Dalam pelaksanaan praktikum diperlukan simulasi komputer dan demonstrasi (Hanson,
suatu penuntun yang dapat membimbing siswa 2006). Pada tahap ini siswa memiliki kesem
dalam kegiatan pratikum supaya lebih terarah. patan untuk melakukan pengamatan, merancang
Salah satunya adalah penuntun praktikum dalam eksperimen, mengumpulkan dan menganalisa
bentuk LKS eksperimen berbasis inkuiri ter- data atau informasi, mengusulkan, menanyakan
bimbing. Penelitian yang telah dilakukan oleh dan menguji hipotesis (Hanson, 2005). Setiap
Kholifudin dan Yasin (2012) menyatakan model konsep dieksplorasi dengan satu atau lebih mod-
inkuiri terbimbing melalui eksperimen memberi el atau data hasil percobaan yang telah
kan keleluasaan pada siswa untuk melakukan dilakukan oleh siswa dan dipandu dengan per-
percobaan sendiri dengan bimbingan guru se- tanyaan kunci (critical thinking question). Per-
hingga siswa mempunyai keinginan yang lebih tanyaan kunci adalah pertanyaan yang
besar untuk menemukan konsep. Proses membimbing siswa menganalisis model dan
pembelajaran dengan menggunakan model menemukan konsep sendiri. Pertanyaan kunci
inkuiri terbimbing dapat mengembangkan dan disusun dari yang sederhana hingga yang sulit.
meningkatkan keterampilan proses sains dan Sehingga di akhir pertanyaan kunci siswa akan
hasil belajar siswa (Saputra dkk, 2012). dapat menemukan konsep.
LKS eksperimen berbasis inkuiri terbim Pada tahap eksplorasi siswa secara efek-
bing dilengkapi materi ajar yang berisi orientasi tif dipandu dan didorong untuk mengeskplorasi
(menghubungkan pengetahuan baru dengan model, kemudian menarik kesimpulan dan
pengetahuan sebelumnya) dan pertanyaan kunci membuat prediksi. Setelah siswa terlibat dalam
(critical thinking questions) yang menuntun tahap pembentukan konsep, informasi tambahan
siswa untuk menemukan konsep yang sedang dan nama konsep dapat diperkenalkan. Tahap
dipelajari. Model inkuiri terbimbing melibatkan eksplorasi dan pembentukan konsep bersama-
siswa secara langsung dalam proses pembe sama membantu siswa untuk mengembangkan
lajaran melalui penyelidikan dari permasalahan dan memahami konsep yang dipelajari.
yang diberikan guru, kemudian siswa menentu Tahap aplikasi merupakan tahapan
kan proses dan solusi dari permasalahan tersebut pemberian latihan dan soal. Latihan memberi
hingga akhirnya siswa dapat menemukan konsep kesempatan kepada siswa untuk membangun
sendiri dan dapat membuat kesimpulan. Pembe kepercayaan diri dalam situasi sederhana dan
lajaran menggunakan model inkuiri terbimbing konteks yang dikenal. Disisi lain, soal membu-
terdiri dari 5 tahap yaitu orientasi, eksplorasi, tuhkan siswa untuk menganalisis situasi yang
penemuan konsep atau pembentukan konsep, kompleks, untuk mentransfer pengetahuan baru
aplikasi dan penutup (Hanson, 2005). pada konteks yang tidak dikenal, untuk mensin-
Orientasi merupakan tahap mempersiap tesisnya dengan pengetahuan lain, dan untuk
kan siswa untuk belajar. Pada tahap ini guru menggunakannya dalam cara-cara baru dan ber-
dapat memberikan motivasi untuk menciptakan beda (Hanson, 2006).
minat dan rasa ingin tahu siswa. Untuk Pada tahap penutup siswa dapat membuat
membangun pengetahuan baru, siswa harus kesimpulan dan memahami konsep yang dipela-
menghubungkan materi yang akan dipelajari jari serta menghubungkan antara satu konsep
dengan pengetahuan awal sebelum mempelajari dengan konsep yang lainnya. Penilaian dapat
materi laju reaksi (prior knowledge), sehingga diperoleh dengan melaporkan hasilnya kepada
proses pembelajaran akan terasa lebih bermakna rekan-rekan dan guru. Pada penggunaan LKS
karena adanya ketertarikan dan kayakinan berbasis inkuiri terbimbing ini guru merupakan
mengenai pentingnya topik laju reaksi (Hanson, fasilitator dalam penyelidikan yang mendorong
2005). Pengetahuan awal merupakan penge- siswa mengungkapkan atau menjawab pertan-
tahuan yang telah ada sebelum pelaksanaan tu- yaan-pertanyaan juga membimbing siswa untuk
gas belajar tertentu, tersedia atau dapat dipanggil penyelidikan lebih lanjut. Sedangkan siswa akan
kembali atau direkonstruksi dan relevan untuk dihadapkan pada tugas-tugas yang relevan untuk
pencapaian tujuan pembelajaran. diselesaikan baik melalui diskusi kelompok
Pada tahap eksplorasi siswa diberikan maupun secara individual agar mampu me-
sebuah model untuk mengembangkan pema- nyelesaikan masalah dan menarik suatu kes-

JEP| Volume 3| Nomor 1|Mei 2019|Page 75-81


(Pengaruh Penggunaan Lembar Kerja Siswa (LKS) Eksperimen………..) 77

impulan secara mandiri maupun berkelompok


(Iryani dkk, 2016). Sampel
LKS yang digunakan dalam penelitian Sampel adalah sebagian kecil dari popu-
ini disusun oleh Iwefriani pada tahun 2015 yang lasi yang dijadikan wakil dalam penelitian
telah memenuhi uji validitas, praktikalitas dan (Winarsunu, 2009). Dengan menggunakan
belum pernah di uji cobakan pengaruhnya ter- teknik pengambilan sampel cluster sampling
hadap hasil belajar (Andromeda dkk, 2017). menurut Gay (2000) didapatkan kelas sampel
LKS tersebut berisi tentang materi laju reaksi pada penelitian ini adalah kelas XI MIA 1 se-
yang diajarkan dikelas XI tingkat SMA/MA. bagai kelas eksperimen dan XI MIA 3 sebagai
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan kelas kontrol.
pengaruh penggunaan LKS eksperimen laju
reaksi berbasis inkuiri terbimbing terhadap hasil Variabel dan Data
belajar siswa di kelas XI MIA SMAN 4 Pa- Variabel
dang.
Variabel dalam penelitian ini terdiri dari
variablel terikat, variabel bebas, dan variabel
METODE PENELITIAN kontrol. Pada penelitian ini yang merupakan
variabel terikat yaitu hasil belajar siswa yang
Jenis penelitian ini adalah eksperimen
diperoleh setelah melakukan tes akhir. Sedang
semu dengan desain penelitian adalah Rando
kan variabel bebas yaitu perlakuan berupa
mized Control Group Posttest Only Design.
pembelajaran dengan menggunakan LKS ekspe
Pada desain penelitian ini terdapat dua kelas
rimen laju reaksi berbasis inkuiri terbimbing
yang masing-masing dipilih secara random (R),
yang diberikan kepada siswa kelas eksperimen.
yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kelas
Sebagai variabel kontrol yaitu segala sesuatu
eksperimen dalam pembelajaran menggunakan
yang bisa mempengaruhi hasil belajar siswa. Hal
LKS (Lembar Kerja Siswa) eksperimen berbasis
ini dapat berupa alokasi waktu, materi, kuri
inkuiri terbimbing, sedangkan kelas kontrol
kulum dan guru yang mengajar dikelas sampel.
menggunakan LKS yang disediakan sekolah.
Pengaruh adanya perlakuan (treatment) adalah Data
X1 dengan X2. Desain penelitian ini dapat dilihat Jenis data pada penelitian ini adalah
pada Tabel 1. data primer yang diperoleh dari tes hasil belajar
yang diberikan perlakuan pada kelas sampel.
Tabel 1. Desain Penelitian
Sampel Perlakuan Tes akhir Prosedur Penelitian
Kelas Eksperimen X1 O Penelitian dilakukan dalam 3 tahap
Kelas Kontrol X2 O yaitu, tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan
(Sugiyono, 2012) tahap penyelesaian. Pada tahap persiapan
dilakukan pembuatan RPP, uji coba soal dan
Keterangan : X1 = pembelajaran menggunakan analisis soal. Soal yang diuji-cobakan berjumlah
lembar kerja siswa eksperimen berbasis inkuiri 35 soal, dengan bentuk objektif. Setelah
terbimbing, X2 = pembelajaran menggunakan dilakukan uji coba dan analisis soal didapatkan
lembar kerja siswa yang disediakan sekolah, 25 soal yang layak digunakan sebagai tes akhir.
O = tes akhir Pada tahap pelaksanaan dilakukan kegiatan
Populasi dan Sampel pembelajaran. Pengujian tes akhir dan pengolah
an data tes akhir dan data pengamatan dilakukan
Populasi pada tahap penyelesaian.
Populasi adalah objek atau subjek yang Instrumen Penelitian
telah tergeneralisasi yang mempunyai kualitas Instrumen yang dipakai dalam penilitian ini
dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh adalah tes tertulis untuk penilaian hasil belajar.
peneliti untuk diteliti (Sugiyono, 2012). Populasi Tes yang digunakan berupa soal objektif yang
dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas disesuaikan dengan tujuan pembelajaran.
XI MIA (6 kelas) SMAN 4 Padang pada tahun Teknik Analisis Data
ajaran 2015/2016. Analisis terhadap data penelitian dilaku
kan bertujuan untuk menguji kebenaran hipo

JEP| Volume 3| Nomor 1|Mei 2019|Page 75-81


Margarita Claudya Maida, Bayharti, Andromeda 78

tesis yang diajukan dalam penelitian. Untuk


menganalisis kebenaran data hasil penelitian
HASIL DAN PEMBAHASAN
digunakan uji hipotesis yaitu dengan uji
perbedaan dua rata-rata atau uji-t. Sebelum Deskripsi Data
melakukan uji-t terlebih dahulu dilakukan uji Data yang diperoleh berupa hasil belajar
normalitas dan uji homogenitas. siswa pada ranah kognitif dari 30 siswa dari
Uji Normalitas setiap kelas eksperimen dan kelas kontrol. Rata-
Uji normalitas bertujuan untuk melihat rata yang didapatkan untuk kelas eksperimen
apakah populasi terdistribusi normal atau tidak. dan kelas kontrol berturut-turut adalah 86,27 dan
Untuk menguji normalitas digunakan uji 74,40.
Liliefors (Sudjana, 2005). Analisis Data
Uji Homogenitas Analisis data dilakukan dengan cara
Untuk menentukan apakah kedua kelom berurutan, mulai dari melihat perbedaan nilai
pok data mempunyai varians yang homogen kelas eksperimen dan kelas kontrol, uji
dilakukan uji homogenitas dengan mengguna normalitas, uji homogenitas dan uji-t. Nilai hasil
kan rumus : belajar siswa pada kelas eksperimen dan kelas
kontrol, sehingga diperoleh nilai rata-rata ( x ),
simpangan baku (S), dan varians (S2). Seperti
F= terlihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Nilai Rata-Rata, Simpangan Baku, dan
Keterangan : F = perbandingan antara varians Varians Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
terbesar dengan varians terkecil, S1 = varians
hasil belajar terbesar, S2 = varians hasil belajar Kelas N X S S2
terkecil Eksperimen 30 86,27 7,10 50,41
Kontrol 30 74,40 9,55 91,14
Uji hipotesis
Uji hipotesis bertujuan untuk menetukan Dari Tabel 2 terlihat bahwa hasil belajar
apakah hipotesis penelitian dapat diterima atau siswa kelas eksperimen lebih tinggi dari pada
ditolak. Hipotesis tersebut ditulis dalam bentuk kelas kontrol. Untuk mengetahui apakah
hipotesis statistik dengan uji satu pihak yaitu terdapat pengaruh signifikan penggunaan LKS
laju reaksi berbasis inkuiri terbimbing maka
Ho :  1 =  2 dilakukan uji hipotesis. Uji hipotesis didasarkan
pada uji normalitas dan homogenitas pada kedua
H1 : 1 2 kelas sampel. Analisis uji normalitas dirangkum
Keterangan :  1 = Skor rata- rata kelas pada Tabel 3.
eksperimen,  2 = Skor rata- rata kelas kontrol Tabel 3. Hasil Uji Normalitas terhadap Tes
Berdasarkan hasil pengolahan data Akhir Kelas Sampel
diperoleh bahwa kedua kelas mempunyai nilai
terdistribusi normal dan mempunyai varians Kelas α N Lo Lt Distribusi
yang homogen. Oleh karena itu untuk menguji Eksperimen 30 0,1052 0,161 Normal
hipotesis digunakan uji t, dengan persamaan 0,05
Kontrol 30 0,1288 0,161 Normal
sebagai berikut ini
t = Dari Tabel 3 diketahui harga L0 pada mas-
ing-masing kelas sampel lebih kecil daripada
harga Lt nya. Hal ini menunjukkan bahwa kedua
Keterangan : x1 = Nilai rata-rata siswa kelas kelas sampel terdistribusi normal pada semua
eksperimen, x2 = Nilai rata-rata siswa kelas kompetensi.
kontrol, s = Simpangan baku, n1 = Jumlah Untuk menentukan kedua kelas sampel
siswa kelas eksperimen , n2 = Jumlah siswa memiliki varian yang homogen atau tidak
kelas kontrol. dilakukan uji homogenitas. Hasil analisis uji
homogenitas dirangkum pada Tabel 4.

JEP| Volume 3| Nomor 1|Mei 2019|Page 75-81


(Pengaruh Penggunaan Lembar Kerja Siswa (LKS) Eksperimen………..) 79

men berbasis inkuiri terbimbing, yang telah diu-


Tabel 4. Hasil Uji Homogenitas terhadap Hasil jicobakan dan ditentukan nilai validitas dan
Tes Akhir Kelas Sampel praktikalitasnnya oleh Andromeda (2017) se-
Kelas N S2 Fh Ft Keterangan
dangkan pada kelas kontrol digunakan LKS
yang biasa digunakan sekolah.
Eksperimen 30 50,41
1,81 1,84 Homogen Pembelajaran dengan menggunakan LKS
Kontrol 30 91,14
berbasis inkuiri terbimbing dapat menarik minat
siswa dalam belajar. Hal ini disebabkan karena
Dari Tabel 4 diketahui harga Fh pada LKS berbasis inkuiri terbimbing memuat orien-
masing-masing kelas sampel lebih kecil tasi atau pengetahuan prasyarat, informasi dan
daripada harga Ft . Hal ini menunjukkan bahwa model berupa data hasil percobaan, gambar,
kedua kelas sampel memiliki varians yang tabel, pertanyaan kunci, dan latihan. Selain itu
homogen pada semua kompetensi. terdapat model berupa gambar disertai dengan
Hasil uji normalitas dan uji homogenitas warna yang dapat menarik minat siswa dalam
kedua kelasmenunjukkan bahwa kedua kelas belajar. Dalam hal tersebut, siswa mengamati
terdistribusi normal dan mempunyai varians dan menganalisis model dari hasil pengamatan
yang homogen. Oleh karena itu untuk menguji dan melakukan percobaan untuk menjawab per-
hipotesis digunakan uji t dan data hasil uji tanyaan yang dapat mendorong siswa untuk ber-
hipotesis terangkum pada Tabel 5. pikir kritis dan analitis. Pertanyaan tersebut
Tabel 5. Hasil Uji Hipotesis terhadap Hasil Tes disebut dengan pertanyaan kunci atau critical
Akhir Kelas Sampel thingking-question.
Pertanyaan kunci merupakan jantung
Kelas N Rata-rata S2 th tt
dari kegiatan inkuiri terbimbing (Hanson, 2005).
Eksperimen 30 86,27 50,41 Pertanyaan kunci merupakan pertanyaaan yang
Kontrol 5,47 1,67
30 74,40 91,14 menuntun siswa untuk berpikir kritis, analitis,
sehingga dapat membantu siswa untuk mem-
Berdasarkan analisis yang telah dilakukan
bangun konsep sendiri, dan membuat kes-
didapatkan thitung > ttabel, sehingga H0 ditolak pa- impulan (Kholifudin & Yasin, 2012). Pertan-
da taraf nyata 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa yaan-pertanyaan ini dibuat saling berhubungan
hasil belajar siswa dengan menggunakan LKS satu sama lain dari tingkat rendah hingga tingkat
eksperimen laju reaksi berbasis inkuiri terbim- tinggi sehingga siswa dapat mengembangkan
bing lebih tinggi secara signifikan daripada hasil jawaban dengan memikirkan tentang apa yang
belajar siswa yang menggunakan LKS yang mereka temukan dalam model/informasi, apa
yang mereka sudah tahu dan apa yang telah
bukan berbasis inkuiri terbimbing. mereka pelajari dengan menjawab macam-
macam pertanyaan sebelumnya.
Pembahasan Berbeda halnya dengan LKS yang
Pada pembelajaran laju reaksi di kelas ek- digunakan di kelas kontrol. Pada LKS tersebut
sperimen dan kontrol sama-sama digunakan tidak terdapat pertanyaan kunci melainkan per-
model pembelajaran inkuiri terbimbing. Model tanyaan yang sifatnya mengkonfirmasi hasil
pembelajaran inkuiri terbimbing merupakan percobaan, pertanyaan-pertanyaan yang tidak
model pembelajaran yang berpusat pada siswa, saling berhubungan satu sama lain, pertanyaan
siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil yang tidak membimbing siswa dalam
dengan peran individu untuk memastikan bahwa menemukan suatu konsep, sehingga siswa akan
semua siswa terlibat penuh dalam proses pem- kesulitan dalam membangun pemahaman kon-
belajaran yang membuat siswa lebih mengerti sep.
dan mengingat lebih lama (Straumanis, 2010). Dengan adanya LKS eksperimen ber-
Model pembelajaran inkuiri terbimbing terdiri basis inkuiri terbimbing yang digunakan dalam
dari 5 tahap, yaitu orientasi, eksplorasi, pemben- sistem belajar kelompok, siswa bekerja sama
tukan konsep, aplikasi dan penutup (Hanson, dalam membangun pemahaman dan penge-
2005). Hal yang membedakan kelas eksperimen tahuannya, sehingga siswa lebih mudah meng-
dan kelas kontrol adalah LKS yang digunakan. ingat dan mengerti (Hanson, 2006). Hal ini ter-
Pada kelas ekperimen digunakan LKS eksperi- lihat ketika siswa menjawab pertanyaan kunci.
Siswa bekerja sama dan berdiskusi dalam men-

JEP| Volume 3| Nomor 1|Mei 2019|Page 75-81


Margarita Claudya Maida, Bayharti, Andromeda 80

jawab pertanyaan kunci. Dengan demikian pem- bahwa dalam belajar aktif, siswa akan
belajaran menjadi lebih efektif. Hal tersebut mengupayakan sesuatu, dia mencari jawaban
sesuai dengan pendapat Hanson (2005), yang atas sebuah pertanyaan, memerlukan informasi
mengemukakan bahwa “pembelajaran menjadi untuk memecahkan masalah, atau menyelidiki
lebih efektif ketika siswa saling bekerja sama cara untuk melakukan pekerjaan (Silberman,
dengan banyak berdiskusi baik didalam ke- 2006). Keterlibatan siswa secara aktif ini akan
lompok maupun antar kelompok”. berdampak baik pada hasil belajar siswa, afektif
Siswa dengan menggunakan LKS ek- siswa dan psikomotor siswa.
sperimen berbasis inkuiri terbimbing, belajar LKS eksperimen berbasis inkuiri ter-
sambil melakukan sendiri dalam menemukan bimbing memberikan bimbingan melalui model,
konsep yang dipelajari, siswa akan memperoleh pertanyaan kunci, latihan dan pemecahan masa-
pengalaman lebih bermakna dan melekat dalam lah. Hal ini membuat kelas ekperimen memiliki
pikiran mereka (Andromeda dkk, 2016). Dengan beberapa kelebihan dari kelas kontrol yaitu se-
kuatnya informasi yang melekat pada memori bagai berikut; 1) Membuat siswa kelas eksperi-
siswa, akan berdampak pula terhadap perolehan men lebih aktif dari kelas kontrol, sebab peserta
hasil belajar siswa. Disamping itu, siswa dapat didik dituntut untuk menyelesaikan masalah
belajar memecahkan masalah secara obyektif, sendiri dengan bantuan pertanyaan kunci, 2)
kritis, terbuka dan kerja sama. Hal ini akan Memiliki kemapuan berpikir kristis dan analistis
memberikan pengaruh terhadap sikap ilmiah, siswa yang lebih baik dari kelas control, 3)
keterampilan serta hasil belajar siswa (Dewi Memiliki prestasi akademik yang lebih tinggi
dkk, 2013) dari kelas kontrol.
Pada kelas eksperimen, ketika siswa
mengerjakan latihan dan menyampaikan hasil KESIMPULAN
diskusi (saat konfirmasi dari guru), siswa terlihat Berdasarkan hasil penelitian dan analisis
antusias dalam mengemukakan kesimpulan ke- data yang telah dilaksanakan disimpulkan bahwa
lompoknya. Hal tersebut sesuai dengan terdapat penggaruh penggunaan LKS ekspe
penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh rimen laju reaksi berbasis inkuiri terbimbing
Bilgin dan Myers disimpulkan bahwa siswa terhadap hasil belajar siswa. Diperoleh hasil
yang belajar dengan menggunakan model pem- belajar kelas eksperimen (menggunakan LKS
belajaran inkuiri terbimbing lebih mudah eksperimen berbasis inkuiri terbimbing) lebih
mengerti dan memahami konsep pelajaran serta tinggi dengan rata-rata 86,27 dibandingkan
meningkatkan efektivitas interaksi, membangun dengan kelas kontrol (LKS yang biasa diguna
tim, pembelajaran dan minat melalui kerja ke- kan sekolah) dengan rata-rata 74,40.
lompok yang sangat terstruktur Bilgin (2009)
serta Myers dan Richard (2012) yang menyim-
pulkan bahwa siswa yang belajar dengan DAFTAR PUSTAKA
menggunakan model pembelajaran inkuiri ter-
bimbing lebih mudah mengerti dan memahami Andromeda, A., Bahrizal, B., & Ardina, Z.
konsep pelajaran serta meningkatkan efektivitas 2016. Efektifitas Kegiatan Praktikum Terin-
interaksi, membangun tim, pembelajaran dan
tegrasi dalam Pembelajaran pada Materi
minat melalui kerja kelompok yang sangat ter-
struktur. Kesetimbangan Kimia Kelas XI SMA/MA.
Tingginya hasil belajar siswa pada kelas EKSAKTA, 1, 45-51.
eksperimen secara signifikan dibandingkan hasil Andromeda, A., Yerimadesi, Y., & Iwefriani, I.
belajar siswa pada kelas kontrol juga terlihat 2017. Pengembangan Lembaran Kerja
pada kompetensi afektif dan psikomotor. Hal ini Siswa (LKS) Eksperimen Berbasis Guided-
disebabkan karena penggunaan LKS eksperimen Inquiry Materi Laju Reaksi Untuk Siswa
berbasis inkuiri terbimbing dalam proses pem- SMA/MA. JURNAL EKSAKTA PENDIDI-
belajaran, memberi peluang kepada siswa untuk KAN (JEP), 1(1), 47-54. doi:10.24036/
berpartisipasi lebih aktif dalam proses belajar jep/vol1-iss1/47
dibandingkan kelas kontrol. Dalam pembelaja- Bilgin, Ibrahim. 2009. The Effects of Guided
ran, siswa aktif dalam melakukan pengamatan, Inqury Instruction Incorporating, a Coopera-
mengolah data dan menjawab pertanyaan- tive Learning Approach on University Stu-
pertanyaan kunci. Silberman (2006) menyatakan

JEP| Volume 3| Nomor 1|Mei 2019|Page 75-81


(Pengaruh Penggunaan Lembar Kerja Siswa (LKS) Eksperimen………..) 81

dents’Achievement of Acid and Bases Con- Straumanis, Andrei. 2010. Process Oriented
cepts and Attitude Toward Guided Inqury Guided Inquiry Learning. A Practical
Instruction. SRE, 4 (10): 1038-1046. Guide For Instruktor, Organic Chemistry:
Dewi, N. L., Dantes, N., & Sadia, I. W. 2013. Guided Inquiry, Second Edition. USA:
Pengaruh model pembelajaran inkuiri ter- Brool/Cole.
bimbing terhadap sikap ilmiah dan hasil Sudjana. 2005. Metode Statistik. Bandung: Tar-
belajar IPA. PENDASI: Jurnal Pendidikan sito
Dasar Indonesia, 3(1). Sugiyono. 2012. Metode Penelitian (Pendekatan
Gay, R L, dkk. 2000. Educational Research: Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung:
Competencies for Analysis and Applica- Alfabeta.
tions. New Jersey: Pearson Winarsunu. Tulus. 2009. Statistik dalam
Hanson, D. 2005. Designing Process-Oriented Penelitian Psikologi dan Pendidikan. Ma-
Guided-Inquiry Activities. New York: Pasi- lang: UMM Press.
fic Crest.
Hartono, Rudi. 2013. Ragam Model
Mengajar yang Mudah Diterima Murid.
Jogja karta: DIVA Press.
Iryani, I., Mawardi, M., & Andromeda, A. 2016.
Pengaruh Penggunaan Lks Berbasis Inkuiri
Terbimbing Terhadap Hasil Belajar Siswa
Untuk Materi Koloid Kelas Xi Sman 1 Ba-
tusangkar. EKSAKTA, 1, 82-89.
Kholifudin, M.Yasin. 2012. Pembelajaran Fisika
dengan Inkuiri Terbimbing melalui Metode
Eksperimen dan Demonstrasi Ditinjau dari
Gaya Belajar Siswa. Laporan Penelitian.
Prosiding Pertemua Ilmiah XXVI HFI
Jateng & DIY.
Myers, Trina and Richard, Monypenny. 2012.
Overcoming The Glassy-Eyed Nod: An Ap-
plication of Process-Oriented Guided In-
quiry Learning Techniques In Information
Technology. Journal of Learning Design,
5(1).
Saputra, Alanindra, Widoretno, Sri dan Santosa,
Slamet. 2012. Peningkatan Keterampilan
Proses Sains dan Hasil Belajar Siswa me-
lalui Penerapan Strategi Guided Inquiry di
SMP Negeri 5 Surakarta Kelas VIII F Tahun
Pelajaran 2011/ 2012. BIO-PEDAGOGI , 1
(1). pp. 36-45. ISSN 2252-6897
Saputra, A. 2012. Peningkatan Keterampilan
Proses Sains dan Hasil Belajar Siswa me-
lalui Penerapan Strategi Guided Inquiry di
SMP Negeri 5 Surakarta Kelas VIII F Tahun
Pelajaran 2011/ 2012. Jurnal Oktober 2012,
1, No.1, Hal 36-45. Surakarta.
Silberman, Mel. 2006. Active Learning 101
Cara Belajar Siswa Aktif. Penerjemah: Rai-
sul Muttaqien. Bandung: Nusa media

JEP| Volume 3| Nomor 1|Mei 2019|Page 75-81

You might also like