0% found this document useful (0 votes)
36 views12 pages

Analisis Interpretasi Musik Jaman Barok Pada Prelude From Suite No.1 For Violoncello Solo Karya J.S. Bach

The document analyzes the Baroque music interpretation of Prelude from Suite No. 1 for Violoncello Solo by J.S. Bach. It discusses the form, musical structure, rules for interpreting Baroque music, and musical concepts of the Baroque era. The analysis found the introduction has a dual form consisting of two parts. Interpretation is analyzed through Baroque rules of metrics, slurs, detached notes, unequal notes, and dynamics.
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd
0% found this document useful (0 votes)
36 views12 pages

Analisis Interpretasi Musik Jaman Barok Pada Prelude From Suite No.1 For Violoncello Solo Karya J.S. Bach

The document analyzes the Baroque music interpretation of Prelude from Suite No. 1 for Violoncello Solo by J.S. Bach. It discusses the form, musical structure, rules for interpreting Baroque music, and musical concepts of the Baroque era. The analysis found the introduction has a dual form consisting of two parts. Interpretation is analyzed through Baroque rules of metrics, slurs, detached notes, unequal notes, and dynamics.
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd
You are on page 1/ 12

VIRTUOSO (Jurnal Pengkajian Dan Penciptaan Musik), Vol. 1 No.

1 November 2018
ISSN: 2622-0407
ANALISIS INTERPRETASI MUSIK JAMAN BAROK PADA PRELUDE FROM SUITE NO.1
FOR VIOLONCELLO SOLO KARYA J.S. BACH

Wildany Mafazatin Nailiyah


Program Studi Seni Musik Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya
E-Mail: [email protected]

Abstract : Researchers analyzed Baroque music interpretation on Prelude from Suite No.1 for Violoncello
because of most people especially mussician and music students do not know about the proper interpretation of
Baroque music. The method used in this study is a qualitative research, method that does not use numbers as the
data source. The object of research is the interpretation of this song with several theories that support the form of
music, musical structure, rules for interpreting Baroque music, and musical concepts from the Baroque Era. The
results of his research were obtained by observation, interviews, and documentation. The introduction of Suite
No.1 for Violoncello Solo by J.S. Bach has dual form consisting of parts one and two. Analysis of interpretations
is carried out through baroque interpretations of musical rules consisting of metrics, slurs, separate notes, not
equal notes, and dynamics. With C or 4/4 metrics, Prelude is played with a faster tempo starting from adagio to
allegro. Various slurs are obtained which ultimately influence the interpretation of this song which adds to the
pedal point. Separate notes also appear a lot like the characteristics of the Baroque music. Not the same note and
diamika also influence someone playing the song. Through the following aspects, a way to play the Preliminary
song was produced with the correct interpretation of Baroque music.
Keywords: Baroque Music, Interpretation, Prelude.

Abstrak: Peneliti menganalisis interpretasi musik Jaman Barok pada lagu Prelude from Suite No.1 for
Violoncello dilatar belakangi oleh kurangnya pemahaman banyak orang terutama para pemain dan mahasiswa
musik tentang bagaimana penginterpretasian musik Jaman Barok yang tepat. Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif karena tidak menggunakan angka-angka sebagai sumber
datanya. Objek penelitian difokuskan pada interpretasi dari lagu tersebut dengan menerapkan beberapa teori
diantaranya bentuk musik, struktur musik, aturan-aturan interpretasi musik Jaman Barok, dan ekspresi musik
dari Jaman Barok. Hasil penelitiannya diperoleh dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Prelude
from Suite No.1 for Violoncello Solo karya J.S. Bach ini memiliki bentuk dual yang terdiri dari bagian satu dan
bagian dua. Analisis dari interpretasinya dianalisis melalui aturan-aturan interpretasi musik Jaman Barok yang
terdiri dari metrik, slur, detached notes, unequal notes, dan dinamika. Dengan metrik C atau 4/4 maka Prelude
dimainkan dengan tempo yang lambat mulai dari adagio hingga allegro. Terdapat slur yang beragam yang
akhirnya memengaruhi interpretasi dari lagu ini yang menonjolkan pedal pointnya. Detached notes juga banyak
muncul seperti ciri khas dari lagu Jaman Barok. Unequal notes dan diamika juga saling memengaruhi bagaimana
seseorang memainkan lagu tersebut. Melalui beberapa aspek tersebut akhirnya dihasilkan bagaimana cara
memainkan lagu Prelude dengan interpretasi musik Jaman Barok yang tepat.
Kata Kunci: Musik Jaman Barok, Interpretasi, Prelude.

jaman yang lain. Mulai dari cara bermain hingga


PENDAHULUAN bentuk dan akustik organologi dari instrumennya.
Barok adalah sebuah istilah untuk Perkembangan Musik di jaman Barok juga lebih
menyebutkan gaya bangunan atau arsitektur pada pesat dari jaman-jaman sebelum jaman tersebut,
abad ke-17 hingga 18. Istilah Barok itu sendiri baru terbukti dengan lahirnya bentuk-bentuk musik baru
muncul pada abad ke-18 dalam sebuah buku seperti opera, oratorio, kantata, konserto, dan suita.
karangan Denis Diderot yang berjudul Tidak hanya itu, dalam Jaman Barok jua semakin
Encyclopédie. Istilah ini kemudian dipakai untuk berkembang musik-musik vokal dan musik
menyebut periode kesenian Eropa abad ke-17 instrumental.
hingga 18, termasuk seni musiknya. Seni musik Pemahaman masyarakat terhadap musik Barok
yang berkembang pada Jaman Barok merupakan kebanyakan sangatlah kurang. Masyarakat hanya
suatu reaksi atas musik polifon pada Jaman menyebut musik barat dari abad ke-4 hingga ke-19
Renaisans dan musik Barok sedikit banyak dikuasai sebagai musik Klasik. Padahal dalam musik barat
dengan basso continuo. Musik Barok juga memiliki dibagi menjadi beberapa jaman, mulai dari musik
ciri khas dan karakter yang berbeda dengan jaman- Jaman Pertengahan (375-1400), musik Jaman

1
Wildany Mafazatin Nailiyah
ANALISIS INTERPRETASI MUSIK JAMAN BAROK PADA PRELUDE FROM SUITE NO.1 FOR VIOLONCELLO SOLO
KARYA J.S. BACH
Renaisans (1400-1600), musik Jaman Barok (1600- Michaliskirche di kota Luneburg. Kemudian
1750), musik Jaman Klasik (1750-1820), musik mendapatkan pekerjaan pertamanya sebagai organis
Jaman Romantik (1800-1890), dan musik Jaman di gereja kota Arnstadt pada 1702. Seorang
Modern (1900-sekarang). Perkembangan setiap pangeran yang terkesan dengan permainan organnya
jaman juga membuat fungsi dari musik ikut membuatnya mendapatkan tugas baru di Weimar
berkembang yang hanya sebatas musik gereja, bisa dan mendorong J.S. Bach untuk membuat lebih
berkembang menjadi musik profan, dan lain banyak komposisi dan kantata-kantata. Pada akhir
sebagainya. Fungsi musik sebagai sarana hiburan hidupnya, ia mulai mengalami kebutaan dan pada
maupun pendidikan, tidak terlepas dari peran saat itu masih sempat menggubah Die Kunst Der
seorang komposer maupun arranger dalam Fugue 13 (BWV 1080) dengan mengeja not yang
menyampaikan ide musikalnya (Karyawanto, 2018: ada di kepalanya kepada istrinya. Namun karya
9). Jadi, fungsi musik pada setiap jaman juga tersebut tak sempat terselesaikan. Semasa hidupnya,
dipengaruhi oleh komponis dan tujuan komponis J.S. Bach menciptakan 1071 karya dikutip menurut
dalam menciptakan karya tersebut. Kurangnya Bach-Werke-Verzeichnis (BWV)/daftar karya bach
pemahaman masyarakat akan perbedaan musik dari (Prier, 2007: 66). Mulai dari Suita, Sonata, Partita,
berbagai jaman itulah yang membuat peneliti Overture, Kantata, Oratorio, Passio, dan masih
tertarik untuk mengenalkan interpretasi musik dari banyak lagi. Salah satu karyanya yang paling
sebuah jaman yaitu musik Jaman Barok. terkenal adalah suita, yang kemudian banyak
Gaya musik barok pertama kali muncul di ditranskripkan ke alat musik lain seperti viola, gitar,
Italia. Pada awalnya masyarakat memprotes marimba, hingga trombon.
kehadiran harmoni baru, dengan nada-nada disonan Suita (dari bahasa Perancis: deretan) sudah
yang tidak menyiapkan akor-akor konsonan pada terdapat di Perancis pada abad ke-16, dimana istilah
akor-akor sebelumnya, menurut kebiasaan tradisi ini pertama kali muncul. Dalam abad ke-17/18
lama. Mereka juga tidak senang akan progresi- istilah suita dipakai di Eropa Barat dalam arti yang
progresi kromatik yang mengaburkan sistem modal tak tentu, umumnya dimaksudkan ialah deretan
berdasarkan delapan modus grejawi, dan susunan beberapa tarian. (Prier, 1996: 70). Awalnya suita
yang tidak stabil (McNeill, 2002: 172). Pemakaian hanya terdiri dari dua rangkaian yaitu Pavane-
basso continuo adalah salah satu ciri khas dari Gailard, atau Pavane-Saltarello. Kemudian pada
permainan Musik Barok. Basso continuo terlihat akhir abad 16 ditambahkan satu tarian lagi yaitu
dalam opera-opera pertama dari Jacopo Peri, Emilio Piva. Puncak perkembangannya terjadi pada abad
de’ Cavalieri, dan Giulio Caccini. Selain musik ke-17 sampai pertengahan abad ke-18. Menjadi
vokal, musik tari adalah sumber kedua untuk Allemande – Courante – Sarabande – Gigue. Disini
perkembangan musik instrumental di Eropa. Nampak pengaruh dari berbagai bangsa Eropa dan
Musik jaman Barok tidak lepas dari komponis- keinginan untuk mengikut sertakan berbagai gaya
komponis dan karya-karya musik Barok itu sendiri. yang berlainan. Mulai dari gaya Jerman, Perancis,
Mulai dari G. Gabrieli, C. Monteverdi, J.B. Lully, Spanyol, serta Inggris atau Skotlandia. Pada abad
A. Scarlatti, J.S. Bach, dan masih banyak yang lain. ke-18 di Perancis muncullah bagian-bagian baru
Dari beberapa komponis tersebut, terdapat nama J.S. dalam suita dengan nama Gavotte, Bourree,
Bach. J.S. Bach dianggap sebagai komponis yang Menuett serta bagian bukan tarian seperti Prelude,
menandai berakhirnya musik jaman Barok karena Chaconne, Passacaile (Prier, 1996: 75). Prelude
musik jaman Barok berakhir di abad ke-18 dan J.S. adalah bagian depan dari beberapa suita. Prelude
Bach juga meninggal di abad ke-18. J.S. Bach lahir juga memiliki arti pembukaan atau pendahuluan.
di Eisenach, Jerman, pada 1685 dan meninggal pada Selama era barok pada, Prelude biasa disajikan
1750. Setelah orangtuanya meninggal pada 1695 dia sebagai sebuah pengenalan terhadap sebuah
diasuh oleh kakaknya, Johann Christoph Bach lalu movements yang panjang dan kompleks. Prelude
mulai diajarkan untuk bermain organ dan biola. juga dapat menjadi sebuah lagu yang berdiri sendiri
Setelah keluar dari rumah kakanya pada umur 15 di era romantik. Biasanya Prelude memiliki sedikit
tahun , ia menjadi anggota pemain koor gereja variasi ritmik dan motif melodi yang diulang-ulang.

2
VIRTUOSO (Jurnal Pengkajian Dan Penciptaan Musik), Vol. 1 No. 1 November 2018
ISSN: 2622-0407

musik. Karena kurangnya tanda-tanda dan ekspresi


Memainkan sebuah karya musik jaman Barok dalam karya musik tersebut, maka permainannya
memiliki aturan-aturan dalam mengacu pada aturan-aturan dari musik Jaman
menginterpretasikannya. Aturan yang dimaksud Barok. Aturan-aturan interpretasi musik Jaman
disini bukan berarti membatasi pemain dalam Barok Meliputi metrik yang memiliki karakternya
menginterpretasikan sebuah karya musik, melainkan sendiri mulai dari metrik 4/4 atau C hingga 9/16.
ingin mempertahankan tradisi, memprekaya teknik Terdapat pula Articulatory Silence atau keheningan
dan pengalaman bermusik yang akhirnya dapat artikulasi yang berarti setiap not tidak ditahan
membentuk musikalitas seseorang. Kurangnya sepanjang notasi yang tertulis di partitur. Areasi
pengetahuan terhadap aturan-aturan interpretasi diantara not ini disebut dengan “keheningan
jaman barok oleh musisi-musisi di jaman modern artikulasi”. Terdapat pula detached notes, adalah
juga menjadi alasan penulis dalam pemilihan materi ketika membagi sebuah not menjadi dua bagian
ini. Analisis karya ilmiah ini dapat mengoptimalkan yang sama yang mana bagian pertama adalah bagian
pemahaman tentang bagaimana menginterpretasikan yang memunculkan suara sedangkan bagian kedua
sebuah karya musik jaman Barok sesuai dengan adalah gema atau sustain dari bagian pertama.
jamannya. Penulis mengambil komposisi dari J.S. Selain itu terdapat pula slur, unequal notes, rubato,
Bach dari Suite pertama di bagian Prelude BWV dan hiasan/ornamen. Dalam penelitian ini juga
1007 karena karya musik jaman Barok tersebut mengacu pada penelitian terdahulu yang relevan
termasuk karya yang populer dan familiar. Peneliti untuk menjadi acuan dalam penelitian karena
menggunakan versi dari G.Hulshov yang diterbitkan memiliki beberapa kesamaan dalam beberapa aspek
sebelumnya oleh Van Loghum Slaterus dan seperti metode penelitian dansama-sama
diterbitkan ulang oleh Bärenreiter-Verlag di Basel, menganalisis atau mengkaji masalah interpretasi.
sebuah rumah penerbitan musik klasik Jerman yang
berbasis di Kassel. Sebelum meneliti METODE
interpretasinya, akan diteliti terlebih dahulu bentuk Penelitian ini menggunakan pendekatan
musik dari prelude ini. penelitian kualitatif deskriptif karena variable
Menurut Veilhan, (1979: ix) “For it essential to penelitian merupakan objek yang tidak perlu
speak about rules. The word may seem didactic and menggunakan pengukuran dan proses statistik.
suggestive of fixed precepts. But in fact, for the Menurut Moeloeng (2001: 6), data penelitian
musical era known as the Baroque, what we are kualitatif yang dikumpulkan adalah data yang
concerned with is the body of traditions, principles, berupa kata-kata, gambar, dan bukan merupakan
affects, conventions, and inventions which make up angka-angka. Penelitian ini bertujuan untuk
good taste that in the long run remains the sole mendeskripsikan bentuk dan struktur lagu Prelude
criterion for expressing a musical discourse that is from Suite No.1 for Unaccompanied Solo Cello
at once both alive and sensitive.”Artinya Veilhan yang akhirnya nanti akan diteliti cara
menyatakan bahwa ketika seseorang berbicara soal penginterpretasian musik jaman Baroknya. Data
aturan, hal tersebut memang terdengar kaku. Tetapi yang dianalisis adalah partitur lagu Prelude from
faktanya untuk musik jaman Barok, yang Suite No.1 for Unaccompanied Solo Cello versi dari
dimaksudkan adalah bukannya membatasi G.Hulshov yang diterbitkan sebelumnya oleh Van
seseorang dalam menginterpretasi sebuah karya Loghum Slaterus dan diterbitkan ulang oleh
musik, namun ingin mempertahankan tradisi, Bärenreiter-Verlag di Basel, sebuah rumah
prinsip, konvensi, dan invensi yang akhirnya nanti penerbitan musik klasik Jerman yang berbasis di
akan memberikan seseorang sebuah rasa yang baik Kassel.
dan berkualitas dalam jangka panjang saat Data utama dalam penelitian ini adalah teks
mengekspresikan sebuah karya musik. Semakin musik dari Prelude from Suite No.1 for Violoncello
hidup dan menyentuh. Hal tersebut sesuai pula Solo karya J.S. Bach. Ditambah dengan beberapa
dengan pernyataan Hermeren tentang bagaimana data pendukung eksternal berupa video pertunjukan
seharusnya menginterpretasikan sebuah karya dari beberapa pemain cello, buku-buku, artikel, dan

3
Wildany Mafazatin Nailiyah
ANALISIS INTERPRETASI MUSIK JAMAN BAROK PADA PRELUDE FROM SUITE NO.1 FOR VIOLONCELLO SOLO
KARYA J.S. BACH
wawancara dengan narasumber untuk satu dengan yang lain serta untuk mengetahui apa
kepentingan analisis dan identifikasi. saja yang terdapat pada teks tersebut. Di dalam
Teknik pengambilan data dari penelitian ini sebuah musik yang menggunakan lirik, musik
yaitu dengan metode observasi, wawancara, dan instrumental, atau musik tanpa lirik syair juga
dokumentasi. Observasi dilakukan degan memiliki kalimat-kalimat di dalamnya. Kemudian
pengamatan langsung terhadap objek penelitian pemilahan motif bertujuan untuk melihat corak apa
untuk mendapat data mengenai bentuk musik dari saja yang ada dalam partitur Prelude from Suite
Prelude from Suite No.1 for Violoncello Solo karya No.1 for Violoncello Solo.
J.S. Bach kemudian dianalisis bagaimana Langkah selanjutnya yang dilakukan peneliti
penginterpretasiannya dalam interpretasi musik setelah data tersaji secara sistematis dan terperinci
jaman Barok. Wawancara ditujukan kepada pihak adalah menarik kesimpulan dan verifikasi data
yang dianggap ahli dalam hal penginterpretasian tersebut. Peneliti mendeskripsikan hasil analisis
musik Barok. Peneliti sendiri menunjuk Asep agar mudah dipahami untuk kemudian disimpulkan.
Hidayat, S.Sn, M.Sn sebagai ahli sekaligus Kesimpulan penelitian yang diperoleh tadi
informan. Dokumentasi disini berupa partitur dan kemudian dikaji dengan menggunakan teori yang
video dari komposisi Prelude from Suite No.1 for ada. Proses yang dilakukan peneliti adalah dengan
Violoncello Solo karya J.S. Bach dan video dari membandingkan antara hasil analisis dari Prelude
beberapa cellist. from Suite No.1 for Violoncello Solo karya J.S. Bach
Dalam melakukan analisis data, peneliti dengan teori aturan-aturan interpretasi musik jaman
menggunakan tiga komponen yaitu reduksi data Barok.
(data reduction), penyajian data (data display), dan
penyimpulan (conclusion drawing/verification). HASIL DAN PEMBAHASAN
Data penelitian yang diperoleh diperoleh melalui Pada Prelude from Suite No.1 for Violoncello
teknik pengumpulan data memiliki bentuk yang Solo karya J.S. Bach dibagi menjadi dua bagian atau
beraneka ragam. Bisa berbentuk partitur, video, dan biasa disebut denga bentuk dual. Bentuk dual adalah
hasil wawancara. Peneliti perlu menyortir data-data bentuk lagu dua bagian yang mendapat suatu
yang dianggap pokok sehingga dapat lebih mudah modifikasi dalam sebuah bentuk khusus untuk
dalam melakukan penelitian. Sesuai dengan musik instrumental (terutama selama jaman barok).
rumusan masalah penelitian, peneliti menggunakan Pada bagian satu didominasi oleh arpegio-arpegio
data penelitian pokok berupa partitur lagu beserta yang digesek pada tiga senar Kita bisa menemukan
video-video rekaman pertunjukan Prelude from arpegio yang penuh pada birama 1-4 dan birama 15-
Suite No.1 for Violoncello Solo karya J.S. Bach. 19.
Setelah melakukan reduksi data, langkah
selanjutnya yang dilakukan peneliti adalah
Notasi 1. Motif-motif yang Membentuk Arpegio
menyajikannya. Dengan menyajikan data, maka
(Verlag, 1950: 4)
memudahkan untuk memahami apa yang terjadi,
Pada bagian dua dimulai setelah tanda fermata
merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa
pada birama 22 hingga birama 42 yang diakhiri
yang telah didapat. Seperti yang dijelaskan oleh
dengan kadens G mayor. Pada bagian dua ini
Miles dan Huberman, proses menyajikan data
arpegio-arpegio yang sering dijumpai pada bagian
dilakukan dengan teks yang bersifat naratif
pertama mulai jarang ditemui. Meskipun muncul
(Sugiyono, 2005: 249). Teks tersebut memuat
arpegio, arpegio tersebut hanya terdapat di awal lalu
seluruh data yang berupa analisis aturan-aturan
diikuti dengan tangga nada yang mewakili harmoni
interpretasi jaman barok. Data yang sudah direduksi
dari arpegio tersebut.
disajikan kemudian dilakukan pengkajian. Peneliti
membagi berdasarkan pembagian terbesar dalam
struktur musik yaitu periode sampai kepada
pembagian frase dan motif. Langkah ini dilakukan Notasi 2. Motif Nada yang Berurutan
agar sebuah teks musik menjadi jelas antara kalimat (Verlag, 1950: 5)

4
VIRTUOSO (Jurnal Pengkajian Dan Penciptaan Musik), Vol. 1 No. 1 November 2018
ISSN: 2622-0407

(Verlag, 1990: 5)
Pada bagian prelude ini, di bar 1-5 terdapat Terdapat codetta yaitu pengantar bagian
tema utama (main theme) yang mengawali lagu penutup sebuah karya musik. Biasanya diletakkan
prelude. Tema utama merupakan susunan berupa sebelum coda. Dibutuhkan teknik bermain yaitu
melodi atau akor yang sangat penting dalam sebuah bow crossing dalam bagian codetta ini. Bow
karya. Biasanya motif atau kalimat utama yang akan crossing yaitu detache bow dalam dua senar. Pada
dikembangkan pada birama-birama selanjutnya. birama 31-38.
Kebanyakan tema utama ini diletakkan di awal
lagu/repertoar.

Notasi 6. Codetta
Notasi 3. Tema Utama (Verlag, 1990: 5)
(Verlag, 1990: 4) Pada bagian paling akhir sebagai penutup
terdapat modulasi ke akor V (dominan) pada dalam sebuah karya musik, terdapat bagian yang
birama 6-13. Kemudian ada frase anteseden di disebut coda. Di dalam coda ini terdapat authentic
birama 9 pada ketukan ketiga, yaitu sebagai kalimat cadence dan frase consequent sebagai kalimat jawab
tanya yang berupa melodi dengan progresi akor V dari birama 30.
ke akor I. Pada birama 9 terdapat authentic cadence
yaitu progresi akor V ke akor I.

Notasi 7. Ending/coda
(Verlag, 1990: 5)
Pada karya musik Prelude from Suite No.1 for
Violoncello Solo yang merupakan salah satu
komposisi dari Jaman Barok dan ditulis oleh J.S
Bach, memiliki beberapa aturan dalam
penginterpretasiannya. Meskipun minim sekali
Notasi 4. Authentic Kadens dengan tanda-tanda dinamika, ornamen, dan lain
(Verlag, 1990: 4) sebagainya, memainkannya tidak sedatar seperti apa
Pada biama 14, akornya kembali ke tonika atau yang tertulis di teks musik. Banyak karya musik
nada dasar. Terdapat authentic cadence pada birama jaman barok tidak diatur secara tertulis baik
18 yang ditandai dengan akor V. Pada birama 19 ekspresi, dinamika, ornamen, bowing, dan lain
terdapat frase consequent yang merupakan kalimat sebagainya. Hanya dengan melihat sukat, bentuk
jawab dari frase anteseden. Kemudian terdapat musik, dan bagaimana motif juga nilai not, sebuah
transisi di birama 20-22 pada ketukan kedua sebagai karya musik jaman Barok bisa dianalisis bagaimana
perpindahan ke bagian dua. Muncul tema baru di cara penginterpretasiannya. Berikut adalah analisis
birama 22 ketukan ke tiga sebagai tema ke dua. interpretasi musik jaman Barok yang benar menurut
beberapa teori.
Prelude from Suite No.1 for Violoncello Solo
Karya J.S. Bach memiliki sukat 4/4 atau biasa
Notasi 5. Tema Baru di Bagian II disebut common time. Sukat C dalam jaman barok

5
Wildany Mafazatin Nailiyah
ANALISIS INTERPRETASI MUSIK JAMAN BAROK PADA PRELUDE FROM SUITE NO.1 FOR VIOLONCELLO SOLO
KARYA J.S. BACH
biasanya memiliki tempo yang relatif pelan Tidak ada aturan yang spesial tentang tempo
dan sering digunakan dalam instrumen vokal juga dari prelude. Prelude bisa dimainkan secara lembut,
instrumen lain. Dalam lagu yang bersifat kasar, memanjang pendekkan not, dan banyak lagi,
instrumental, sukat ini sangat cocok untuk atau dalam kata lain selama bisa dimainkan dengan
dimainkan dalam Prelude, bagian pertama dari nyaman dan terdengar indah. Namun secara umum
sebuah sonata, Allemande, fuga, dan beberapa prelude memiliki tempo yang relatif pelan. Pada
bentuk musik yang lain. karya musik Prelude from Suite No.1 for
Terdapat beberapa macam slur dalam aturan- Violoncello Solo Karya J.S. Bach cenderung
aturan interpretasi Jaman Barok. Dalam Prelude menggunakan tempo 65 hingga 80 bpm. Artinya
from Suite No.1 for Violoncello Solo Karya J.S. tempo yang sesuai adalah mulai dari adagio hingga
Bach. Yang pertama terdapat slur yang ditulis andante. Tempo tersebut bisa memaksimalkan not-
secara jelas. not seperenambelasan, arpegio-arpegio, dan banyak
pedal point yang ada pada karya musik tersebut.
Terbukti dengan beberapa cellist seperti Mystilav
Notasi 8. Slur Pada Tiga Not Awal Motif Rostropovich, Jacqueline Du-Pre, Yo-yo Ma, dan
(Verlag, 1950: 4) masih banyak lagi, menggunakan tempo antara
Pada birama 9 terdapat slur dengan garis putus- adagio hingga andante dalam memainkan Prelude,
putus. Slur ini memiliki arti slur yang disarankan meskipun tidak tertulis dalam teks musik.
oleh penulis di versi ini. Boleh digunakan dan boleh Dalam karya ini terdapat banyak sekali pedal
juga tidak. points, pedal points dimainkan secara detache agar
menghasilkan sustain dan menjadi akar (root) dari
nada-nada setelahnya.
Notasi 9. Slur Bertitik pada Empat Not
(Verlag, 1950: 5)
Pada birama 13 hingga birama 18 terdapat dua Notasi 12. Detached Notes pada Pedal Points
opsi slur. Ketika menggunakan slur yang atas maka (Verlag, 1950: 4)
pedal point akan dimainkan dengan durasi lebih Selain detache dilakukan pada pedal points,
lama dan menghasilkan gaung yang lebih besar. detache juga dilakukan pada not not yang tidak
Ketika menggunakan slur yang bawah maka suara dislur dan bukan rangkaian dari motif yang
yang dihasilkan cenderung membentuk akor. membentuk tangga nada.
Pada karya musik Prelude from Suite No.1 for
Violoncello Solo Karya J.S. Bach, dari awal hingga
akhir menggunakan not seperenambelasan. Hanya
pada birama 22 saat berakhirnya bagian satu
terdapat not 1/8 yang di fermata. Kemudian pada
bagian akhir terdapat kadens dengan nilai not empat
ketuk. Seperti yang dikatakan Quantz, maka not-not
Notasi 10. Dua Opsi Slur seperenambelasan yang terdapat dalam karya ini
(Verlag, 1950: 4) tidak murni dimainkan sama dari awal hingga akhir.
Pada birama 31 hingga birama 38 slur tidak Namun, ada not not tertentu yang harus
dipergunakan sama sekali karena ingin menonjolkan dipanjangkan atau dipendekkan.
antara pedal point dan garis melodinya. Contohnya terdapat pada birama 1-8.
Terdapat serangkaian nada seperenambelasan dan di
dalamnya terdapat arpegio-arpegio. Arpegio dalam
beberapa birama ini diawali dengan pedal point.
Pedal point dimainkan dengan durasi yang lebih
Notasi 11. Tidak Ada Slur
lama daripada nada-nada setelahnya meskipun
(Verlag, 1950: 5)
dislur. Ini disebabkan karena pedal point berfungsi

6
VIRTUOSO (Jurnal Pengkajian Dan Penciptaan Musik), Vol. 1 No. 1 November 2018
ISSN: 2622-0407

untuk mempertegas akor dalam satu bar. Birama 15-18 memiliki motif yang sama
Unequal notes atau not yang tidak senilai dengan seperti birama 1-8 dengan pedal point yang
nilai not terdapat pada pedal point yang dimainkan dimainkan dengan tidak senilai. Pada birama 19,
lebih lama dan menimbulkan nilai notnya terdengar terdapat arpegio diawal dan diikuti dengan tangga
lebih besar dari pada not-not lainnya. nada yang menurun dari B3 ke D2. Pedal point
dimainkan lebih lama dan tangga nada setelah pedal
point dimainkan dengan mengalir.
Notasi 13. Unequal Notes pada Pedal Points
(Verlag, 1950: 4)
Pada birama sebelas, mulai beralih ke akor
Notasi 17. Unequal Notes pada Pedal Points
minor diawali dengan nada G#. Nada G# disini
(Verlag, 1950: 4)
dimainkan lebih lama dan lebih diberi penekanan
Birama 20-21 juga memiliki motif yang sama,
karena berfungsi sebagai awal dari akor minor.
yaitu motif yang diawali dengan arpegio dan
Selain nada G# yang dimainkan tidak senilai, nada
diulang sama persis. Unequal notes nya pun masih
B3 pada ketukan ketiga juga diberikan penekanan
sama yaitu di bagian peda point. Kemudian pada
dan dimainkan lebih lama.
birama 22 terdapat arpegio dari C2 hingga D4 yang
membentuk akor A mayor dengan pedal point pada
Notasi 14. Unequal Notes pada nada G# dan B C2 yang tidak dislur dengan akor lain yang akhirnya
(Verlag, 1950: 4 akan membuat nilai notnya lebih besar. Setelah
Terdapat dua pilihan bowing yang ditulis oleh tanda fermata terdapar rangkaian nada yang
G.Hushlov, yang pertama terletak di tiga not dari dimainkan secara mengalir hingga birama 23.
awal setiap motif, dan yang kedua terletak di tiga
not setelah nada pertama birama tiga belas.
Perbedaan saat menggunakan bowing yang pertama Notasi 88. Unequal Notes pada Nada C2
dan yang kedua adalah pada durasi di pedal (Verlag, 1950: 5)
pointnya. Pedal point saat digunakan bowing Pada birama 24, not naik setengah dari D4 pada
pertama memiliki durasi yang lebih pendek daripada birama sebelumnya menuju Eb4. Disinilah unequal
dengan bowing yang kedua, ini disebabkan karena notes digunakan. Nada Eb akan diberi penekanan
bowing kedua pedal pointnya dimainkan dalam satu dan durasi yang lebih lama juga nada D pada
tarikan bow tanpa dislur dengan nada lainnya. ketukan kedua dan nada C pada ketukan ketiga. Ini
dilakukan karena terjadi pengulangan nada saat
pergantian ketukan.
Notasi 15. Unequal Notes pada Dua Opsi Slur
(Verlag, 1950: 4)
Birama 14 dimainkan secara mengalir karena Notasi 19. Unequal Notes pada Nada yang Diulang
tidak ada pedal point dan melodinya berupa tangga (Verlag, 1950: 5)
nada tanpa ada melodi yang menonjol. Tapi disini Birama 25 memiliki unequal notes yang sama
pada bagian terakhir tepatnya di ketukan keempat, dengan birama 20-21 dengan pedal point pada
saat melodi mulai turun ke senar G, secara otomatis arpegio dan diikuti dengan garis melodi. Demikian
temponya akan semakin menurun dan nada nada pula pada birama 26-28. Pada birama 29 terdapat
terakhirnya mengalami ketidaksenilaian not. Hal ini satu rangkaian tangga nada yang diawali dengan
terjadi karena nada C3, B2, A2, dan G2 adalah pedal point. Masih sama, pedal point harus
jembatan menuju motif yang sama seperti motif di dimainkan lebih panjang daripada not-not
awal. setelahnya.

Notasi 16. Unequal Notes Saat Menuju Motif Awal


(Verlag, 1950: 4) Notasi 20. Unequal Notes pada Pedal Points
(Verlag, 1950: 5)

7
Wildany Mafazatin Nailiyah
ANALISIS INTERPRETASI MUSIK JAMAN BAROK PADA PRELUDE FROM SUITE NO.1 FOR VIOLONCELLO SOLO
KARYA J.S. BACH
berikutnya. Hal ini karena bagian tersebut
Pada birama 30-33 memiliki motif dimana mempertegas akor yang ada dengan pedal point di
terdapat garis melodi dan pedal point yang nada G yang lebih forte dari nada-nada yang lain.
dimainkan secara bergantian. Dalam hal ini bisa Terdapat motif ulangan harafiah atau motif yang
dimainkan secara rata dari awal hingga akhir. Pada diulang persis dengan nada yang sama di birama
birama 34 masih memiliki motif yang sama, tapi satu. Motif awal dimainkan lebih forte dari motif
dengan diberi unequal notes pada nada B3, C3, dan pengulangannya. Hal ini karena musik Jaman Barok
D4. Hal ini karena nada-nada tersebut dimainkan memiliki ciri khas bahwa ketika ada motif yang
pada senar D dengan posisi empat sehingga butuh diulang sama persis maka motif berikutnya
penekanan-penekanan dan nada yang semakin naik. dimainkan lebih lembut dari motif sebelumnya.

Notasi 21. Unequal Notes pada Nada B3, C3, dan


D4
(Verlag, 1950: 5)
mf mp
Kemudian pada birama 37-38 melodi semakin
naik dengan nada-nada kromatik. Pada nada-nada Notasi 24. Dinamika pada Motif Ulangan Harafiah
kromatik, semakin tinggi nadanya maka nilai notnya (Verlag, 1950: 4)
akan semakin membesar karena nada-nada kromatik Pada birama 4, masih menggunakan motif yang
tersebut adalah penghantar menuju klimaks dari sama seperti birama sebelumnya, namun tidak
karya musik ini. diulang secara persis seperti motif pertamanya
dalam satu bar. Pada nada terakhir di birama4 tidak
menggunakan nada G melainkan nada F#. Nada F#
Notasi 22. Unequal Notes pada Nada Kromatik tersebut menunjukkan bahwa tema awal sudah
(Verlag, 1950: 5) selesai dan digunakan sebagai perantara menuju
Pada birama 39-41 adalah bagian codetta juga tema berikutnya. Jadi cara penginterpretasiannya
klimaks dengan motif yang sama dengan tema awal masih sama seperti pada birama satu sampai birama
namun dengan susunan yang dibalik dan bowingnya tiga, namun disini yang membedakan saat tangan
juga dibalik. Setiap not dari awal motif diberi durasi menekan nada F# maka nada tersebut harus digesek
yang lebih lama dari pada not-not setelahnya lebih berat dan sedikit lebih lama.
sehinggabisa menghasilkan kesan bahwa lagu akan
selesai. Kemudian ditutup dengan akor G mayor f
dibagian ending. Notasi 25. Dinamika pada Nada F#
(Verlag, 1950: 4)
Pada birama lima mulai muncul motif baru.
Masih diawali dengan arpegio dengan not-not yang
di-slur namun kali ini dengan nada-nada yang
Notasi 23. Unequal Notes pada Codetta berbeda di setiap motifnya. Nada-nada yang
(Verlag, 1950: 5) tersusun pada birama lima menunjukkan akor Em
Dalam interpretasi musik jaman Barok, dan merupakan jembatan untuk menuju akor VI atau
memiliki dinamika yang lebih kompleks karena submedian dari G. Rangkaian nada tersebut
kebanyakan tidak ditulis dalam teks musik. Pemain dimainkan satu persatu tanpa dislur. Pada ketukan
harus mengartikan sendiri bagaimana dinamika pada satu sampai tiga masih dimainkan secara ringan
sebuah motif, kalimat, frase, dan banyak lagi. Pada kemudian intensitasnya meningkat atau semakin
birama 1-4 terdapat motif yang membentuk arpegio- keras pada ketukan ke empat. Hal ini karena nada-
arpegio dengan tiga not yang dislur pada bagian nada sudah dimainkan di senar tiga sehingga
awal motif. Pada awal arpegio di birama satu, not terkesan lebih berat, selain fungsinya untuk menuju
yang di slur dimainkan lebih forte dari not akor VI nya.

8
VIRTUOSO (Jurnal Pengkajian Dan Penciptaan Musik), Vol. 1 No. 1 November 2018
ISSN: 2622-0407

Pada birama 11, dinamika akan naik pada not-


not yang diberi penekanan. Contohnya pada nada
G# di ketukan pertama dan nada B di ketukan
ketiga. Penekanan tersebut akan menimbulkan
Notasi 26. Dinamika Menuju Akor VI
dinamika yang lebih keras dari pada not-not lainnya
(Verlag, 1950: 4)
dalam birama tersebut.
Pada birama enam, motif sama seperti pada > >
birama satu hingga empat namun pada akor A7. Jadi
penginterpretasiannya sama seperti birama satu
sampai empat. Pada birama tujuh memiliki motif
Notasi 29. Aksen pada Nada G# dan B
yang sama seperti birama lima namun dengan nada
(Verlag, 1950: 4)
yang lebih tinggi dan nada-nadanya mewakili akor
Pada birama 12 terdapat arpegio yang naik
D atau dominan dari akor G.
kemudian diikuti dengan rangkaian melodi yang
Pada birama delapan, memiliki motif yang
turun pada setiap motif. Begitu pula dinamikanya,
sama seperti birama satu sampai birama empat dan
akan ikut naik turun seirama dengan nada yang naik
birama enam, namun pada akor E minor. Terjadi
juga turun.
dinamika yang berbeda dalam biramaini meskipun
motifnya sama seperti birama sebelumnya. Hal ini
dikarenakan pedal point pada biramadelapan tidak
pada posisi senar yang terbuka. Pedal point Notasi 30. Dinamika yang Mengikuti Garis Melodi
dimainkan pada nada E2 yang terletak pada senar (Verlag, 1950: 4)
empat atau C2. Karena tidak pada posisi senar yang Pada birama tiga belas dinamika tidak naik
terbuka maka penekana pada nada E2 lebih besar turun seperti birama sebelumnya dan lebih stabil.
dan membutuhkan durasi yang lebih lama daripada Pada birama empat belas terjadi crescendo pada
motif-motif sebelumnya yang sama persis. Dan akhir biramatepatnya pada ketukan ke empat. Hal
secara otomatis akan menghasilkan dinamika yang tersebut karena pada empat nada tersebut adalah
lebih keras. nada yang ditujukan untuk menuju tema berikutnya,
jadi harus dipertegas dengan dinamika yang makin
f mf naik.

Notasi 27. Dinamika pada Interval Jauh


(Verlag, 1950: 4) Notasi 31. Dinamika pada Garis Melodi Turun
Birama sembilan dan sepuluh arpegio mulai (Verlag, 1950: 4)
menghilang dan diganti dengan nada-nada berurutan Pada birama 15-17, memiliki motif yang sama
seperti membentuk tangga nada. Pada birama dengan birama 1-4 dan cara memainkannya pun
sembilan diawali dengan arpegio yang membentuk sama yaitu dengan lebih menaikkan volume suara di
akor A7, kemudian diikuti dengan garis melodi motif pertama daripada pengulangannya. Kemudian
yang masih dalam akor A7. Pada birama ini, pada birama 18 terdapat motif yang sama namun
dimainkan secara mengalir karena pedal point pada pada birama kali ini cenderung dimainkan lebih
bagian depan diikuti garis melodi hingga birama 10. keras dari tiga birama sebelumnya karena terdapat
Dinamikanya semakin naik saat garis melodi naik, interval nada yang jauh dan dimainkan di senar tiga
dan dinamikanya juga semakin lembut saat garis hingga senar satu yang cenderung lebih nyaring.
melodi semakin menurun.

f mf

Notasi 28. Dinamika yang Mengikuti Garis Melodi Notasi 32. Dinamika pada Interval yang Jauh
(Verlag, 1950: 4) (Verlag, 1950: 4)

9
Wildany Mafazatin Nailiyah
ANALISIS INTERPRETASI MUSIK JAMAN BAROK PADA PRELUDE FROM SUITE NO.1 FOR VIOLONCELLO SOLO
KARYA J.S. BACH
Notasi 35. Dinamika pada Pedal Points dan
Dinamika semakin turun pada birama sembilan Pengulangan Motif
belas karena terdapat rangkaian tangga nada yang (Verlag, 1950: 5)
semakin turun dimulai dari nada B3 hingga D2. Pada birama 26 diawali motif yang sama
Kemudian berangsur naik sedikit-demi sedikit dari seperti birama 25, namun pada motif kedua mirip
birama dua puluh, dan naik lagi di birama dua puluh dengan birama 24. Jadi setelah pedal point
satu, kemudian puncaknya ada di nada D pada dimainkan lebih forte, kemudian lembut kembali
birama 22 yang di fermata. Puncak dari dinamika pada not kedua dan makin naik hingga ke ketukan
tersebut mengakhiri bagian satu dari Prelude from ketiga. Pada motif berikutnya, ada penekanan pada
Suite No.1 for Violoncello Solo Karya J.S. Bach. nada C# dan Bb sehingga dinamikanya lebih keras
pada saat memainkan dua nada tersebut.
Pada birama 27 dan 28 memiliki garis melodi
> >
yang naik turun. Dinamikanya pun mengikuti garis
Notasi 33. Dinamika mengikuti Garis Melodi melodi yang ada. Bisa semakin crescendo dan bisa
(Verlag, 1950: 4) juga semakin decrescendo. Pada birama 28 diakhiri
Bagian dua diawali dengan nada-nada berderet dengan decrescendo hingga awal birama 29.
naik pada birama 22 yang diawali dengan dinamika
yang lembut dan mengalami crescendo hingga nada
G3. Kemudian pada birama 23, terdapat not yang
dislur di awal motif dengan gerakan menurun. Pada Notasi 36. Dinamika pada Garis Melodi yang Naik
tiga nada tersebut mengalami decrressendo yang Turun
kecil kemudian naik lagi ketika nada nya naik. (Verlag, 1950: 5)
Begitu pula berikutnya. Dan pada birama 24 Pada birama 29 dan 30 terdapat garis melodi
terdapat penekanan penekanan pada ketukan awal dengan motif yang menurun dan berulang. Pada
dari nada-nada yang diulang. Hal tersebut berfungsi nada paling tinggi secara otomatis dimainkan lebih
untuk mempertegas kedua nada tersebut dan forte dan pada saat menurun, dinamikanya semakin
dinamikanya kembali turun pada dua ketukan lembut. Saat motif tersebut diulang kembali,
terakhir. dinamikanya kembali naik dan semakin turun. Jadi
terjadi pengulangan dinamika pada setiap motif dan
> > > semakin menurun sesuai denga tingkatan notnya.

Notasi 34. Dinamika pada Not yang Diulang


(Verlag, 1950: 4) > > > >
Pada birama 25, terdapat pedal point yang
digesek terpisah dan tidak di slur, berbeda seperti
Notasi 37. Dinamika pada Motif yang Membentuk
pada slur di motif awal. Ini menimbulkan dinamika
Tangga Nada
yang lebih keras dan terdengar sedikit diberi
(Verlag, 1950: 5)
tekanan dari not yang lain. Pada awal birama25 juga
Pada birama 31 - 36 dimulailah motif yang
memiliki pola dan bowing yang sama. Kemudian di
berbeda. Disini terdapat bagian codetta menuju
akhir birama 25 terdapat pola yang sama seperti
ending. Pada birama 31 dilakukan penekanan pada
birama 24 dimana terdapat pengulangan motif yang
nada F# pertama kali karena menunjukkan
membuat setiap nada yang sama di ketukan pertama
dimulainya motif baru tersebut atau menunjukkan
dimainkan lebih forte.
dimulainya codetta. Secara otomatis nada F#
> > dimainkan lebih forte dari nada lainnya. Not-not
setelah nada F# dimainkan lebih lembut dengan
f dinamika yang stabil. Baru pada birama33 saat jari

10
VIRTUOSO (Jurnal Pengkajian Dan Penciptaan Musik), Vol. 1 No. 1 November 2018
ISSN: 2622-0407

mulai menggunakan posisi empat mulai ada Akor mayor tersebut terus berlanjut hingga
aksen-aksen lagi di beberapa nada yang penting. birama 4. Mulai dari birama 5 hingga 13 akan
ditemui beberapa kor minor seperti E minor dan A
> minor. Pada birama-birama tersebut suasananya
tetap tenang namun dengan karakter yang lebih
gelap yang disebabkan oleh munculnya beberapa
akor minor tersebut.

Notasi 38. Dinamika pada Pedal Points dan Garis


Melodi
(Verlag, 1950: 5)
Em
Kemudian pada birama 37 masih terdapat motif
yang sama teteapi mulai ada crescendo hingga
birama 38. Crescendo ini didukung dengan nada-
nada kromatik yang semakin meningkat dan
Am
mengantarkan lagunya menuju klimaks dan ending.

Em

Notasi 39. Dinamika pada Nada Kromatik Notasi 41. Akor-akor Minor
(Verlag, 1950: 5) (Verlag, 1950: 5)
Pada birama 39-41 disinilah klimaks dari lagu Pada birama berikutnya adalah birama-birama
ini. Motifnya kembali ke tema awal seperti pada menuju ending dari bagian I. Dalam bagian ini akor-
birama1-4 namun dengan susunan yang terbalik dan akor dimainkan menjadi tenang dengan karakter
tanpa adanya pedal not. Pada birama ini not awal yang lebih cerah karena sudah tidak terdapat akor-
dari satu motif dimainkan forte, baik motif pertama akor minor.
maupun kedua. Kemudian diakhiri dengan kadens Pada awal bagian II yang terdiri dari rangkaian
dalamn G mayor yang secara otomatis dimainkan nada-nada berurutan suasananya lebih mengalir.
secara forte juga karena akhir dari klimaks. Dengan munculnya beberapa aksen dari nada-nada
Dalam karya musik Jaman Barok, biasanya berurutan tersebut muncullah seperti lagu tersebut
ekspresi yang diutarakan dalam karya musik sedang berbicara kepada penikmatnya. Saat tempo
tersebut adalah ekspresi dasar. Ketika sebuah lagu semakin naik di bagian codetta, J.S. Bach seperti
diawali dengan ekspresi senang, maka akan diakhri menunjukkan sebuah kesimpulan dari lagu yang dia
pula dengan ekspresi senang atau dengan akor tulis ini kemudian diakhiri dengan ending pada akor
mayor. Meskipun tidak berlaku pada semua lagu G mayor yang dimainkan dengan forte dan bisa
Jaman Barok, namun hal ini terdapat dalam diambil kesimpulan bahwa lagu ini berakhir dengan
kebanyakan musik Jaman Barok. ekspresi yang senang, seperti awal lagu.
Pada Prelude from Suite No.1 for Violoncello
Solo Karya J.S. Bach, lagu ini memiliki nada dasar
di G mayor dan dimulai pada G mayor. Artinya lagu
ini memiliki ekspresi yang senang dan tenang pada
awalnya. Notasi 42. Coda dengan ekspresi senang
(Verlag, 1950: 5)
Hal ini sesuai dengan teori ekspresi dari musik
G C Jaman Barok yang menyatakan bahwa apabila
sebuah lagu diawali dengan ekspresi yang senang,
Notasi 40. Akor Mayor pada awal Bagian maka akan diakhiri dengan ekspresi yang senang
(Verlag, 1950: 5) pula. Begitu pula sebaliknya.

11
Wildany Mafazatin Nailiyah
ANALISIS INTERPRETASI MUSIK JAMAN BAROK PADA PRELUDE FROM SUITE NO.1 FOR VIOLONCELLO SOLO
KARYA J.S. BACH
Pusat Musik Liturgi
PENUTUP Prier, K.E.2007. Sejarah Musik Jilid 2. Yogyakarta.
Prelude from Suite No.1 for Violoncello Solo Pusat Musik Liturgi
Karya J.S. Bach memiliki bentuk dual yang Prier K.E.2011. Kamus Musik. Yogyakarta. Pusat
merupakan ciri khas dari musik jaman barok. Musik Liturgi
Bagian pertama memiliki motif-motif yang Stein, Leon. 1979. Structure & Style: The Study and
membentuk arpegio dan bagian kedua membentuk Analysis of Musical Forms Expanded
rangkaian nada yang berurutan. Selain memiliki Edition. United State of America: Summy
bentuk dual, karya musik ini tergolong dalam tipe Birchard.
prelude arpeggientyp yang merupakan prelude Sugiyono. 2005. Memahami Penelitian Kualitatif.
dengan banyak arpegio-arpegio, terlihat jelas pada Bandung: Alfabeta
bagian pertama. Prelude ini juga tergolong dalam Sugiyono.2011. Metodologi Penelitian Kuantitatif
tipe toccatentyp dimana nada-nadanya terdengar Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta
seperti improvisasi yang tertulis, terlihat pada Syafiq, M. 2003. Ensiklopedia Musik Klasik.
bagian kedua. Terbukti dengan beberapa rangkaian Yogyakarta. Adi Cita
nada yang naik dan turun. Pada Tambajong, J. 1992. Ensiklopedi Musik. Jakarta.
penginterpretasiannya, Prelude from Suite No.1 for PT. Cipta Adi Pustaka
Violoncello Solo Karya J.S. Bach harus dilihat dari Tambajong. 1998. Ensiklopedi Nasional Indonesia.
motif, frase, mana not yang didetache, mana not Jakarta: PT. Cipta Adi Pustaka
yang diberi articulatory silence, dan bagaimana Tim Penyusun. 2014. Panduan Penulisan dan
penerapan dinamika yang benar. Apabila beberapa Penilaian Skripsi. Surabaya. Unesa
batasan dalam aturan-aturan interpretasi musik Veilhan, J.C. 1979. The Rules of Musical
jaman Barok tersebut diterapkan maka akan Interpretation in TheBaroque Era. Paris.
dihasilkan permainan dengan interpretasi musik Alphonse Leduc
Jaman Barok. Jadi karya musik yang dimainkan
sesuai dengan bagaimana seharusnya karya tersebut
diinterpretasikan.

DAFTAR PUSTAKA
Banoe, P.2003. Kamus Musik. Yogyakarta. Kanisius
Donington, R. 1963. The Interpretation of
Early Music. London. Faber and Faber
Hermeren, G. 2001. The full voic’d quire: tipe of
interpretation of music. In Krausz, M. (eds).
The Interpretation of Music. New York:
Oxfod University Press.
Karyawanto, H. Y.2018.Bentuk Lagu dan Ambitus
Nada Pada Orkestrasi Mars Unesa. Virtuoso
(Jurnal Pengkajian Dan Penciptaan Musik),
1(1), 8-14.
Mary, C. 1992. Performing Baroque Music.
Amadeus Press. New York. USA
McNeill, R.J. 1998. Sejarah Musik Jilid 1. Jakarta.
PT. BPK GunungMulia
Moleong, L.J. 2001. Metodologi Penelitian
Kualitatif. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya
Prier, K.E. 1996. Ilmu Bentuk Musik. Yogyakarta.

12

You might also like