Manajemen dan Resolusi Konflik Internasional
Manajemen dan Resolusi Konflik Internasional
KEYWORDS
Conflict Management; Conflict Resolution;
Negotiation; Peace
This is an open access article under the terms of the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International (CC BY-SA 4.0). 16 | P a g e
© 2022 The Authors. Papua Journal of Diplomacy and International Relations (PJDIR) published by the International Relations
Study Program, Faculty of Social and Political Sciences, Cenderawasih University, in collaboration with the Indonesian
Association for International Relations (AIHII).
Penny Kurnia Putri. Manajemen Konflik dan Resolusi Konflik: Sebuah Pendekatan Terhadap
Perdamaian.
yang tegas baik secara teoretis maupun konflik berdasarkan sifat dari konflik itu
praktis. sendiri. Hal ini penting untuk mengurai
Boutros-Ghali (1992) menjelaskan pemetaan aktor dan lokasi geografisnya.
bahwa peacebuilding sebagai post-konflik Dal (2018) meyakini bahwa faktor-faktor
sosial dan rekonstruksi politik, atau jalan tersebut sebagai hal fundamental untuk
untuk menghindari kambuhnya konflik di membedakan aspek teoretis dan konseptual
masa mendatang. Catatan ini menandai pendekatan dalam manajemen konflik.
bahwa manajemen konflik secara aktual
memiliki perbedaan dengan resolusi METODE PENELITIAN
konflik. Kemudian Galtung (2007) dalam Dalam artikel ini, isu penelitian dianalisis
studi perdamaian secara spesifik menyoroti menggunakan metode kualitatif dengan
perbedaan ini dengan mengatakan bahwa pembahasan yang bersifat deskriptif. Artikel
pencegahan dan resolusi konflik berada ini merupakan ekposisi tentang pendekatan
pada tingkatan melampaui atau dibawah manajemen konflik dan resolusi konflik
kendali negara. yang banyak di pengaruhi oleh kerangka
Ketika konflik terjadi, pihak-pihak pemikiran Galtung (2007) tentang studi
yang bertikai dapat memilih antara resolusi perdamaian. Narasi yang dikembangkan
konflik atau manajemen konflik, atau dalam pembahasan didasarkan pada
kombinasi antara keduanya. Walaupun sumber-sumber sekunder seperti buku-
beberapa orang menganggap kedua buku, jurnal, situs website, laporan, dan
pendekatan ini sebagai hal yang sama, sumber-sumber lainnya yang didapatkan
keduanya sebenarnya memiliki proses melalui studi kepustakaan. Informasi dari
berbeda yang mempengaruhi bagaimana sumber-sumber sekunder ini dikategorikan
cara konflik di hadapi dan diselesaikan. sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah
Dalam konteks ini, manajemen konflik alur sistematis yang dapat menegaskan
mendorong pihak-pihak yang bertikai perbedaan sekaligus keterkaitan pendekatan
untuk bekerjasama, bahkan dalam situasi manajemen konflik dan resolusi konflik.
konflik yang sedang berlangsung. Pada tahap awal, peneliti menerapkan
Sementara resolusi konflik berusaha untuk sistem pemilahan data berdasarkan topik
mengakhiri atau mengurangi intensitas dan kredibilitas sumber. Selanjutnya
konflik dengan mencari solusi penyelesaian dilakukan tahap parafrase ide, gagasan,
(ADR Times, 2021). maupun pernyataan lainnya, sebelum
Call dan Cook (2003) menegaskan akhirnya penulis menginterpretasikan
bahwa apabila upaya peacebuilding berada kerangka pemikiran (konsep/teori) ke dalam
pada level elit, maka proses pada level isu atau fenomena penelitian. Analisis
nonelit dengan berbagai dimensi (sosial, melalui teknik interpretasi ini melibatkan
psikologi, dan agama) pada tingkat lokal sejumlah pemikiran yang sudah diuji,
berperan untuk mengoperasikan resolusi sehingga hasilnya masih dalam kerangka
konflik. Sedangkan Dal (2018) dalam kajian ilmiah. Untuk memudahkan
studinya mengidentifikasi manajemen pembaca, beberapa data dan analisis
19 | P a g e
Penny Kurnia Putri. Manajemen Konflik dan Resolusi Konflik: Sebuah Pendekatan Terhadap
Perdamaian.
disajikan ke dalam bentuk tabel dan gambar transformasi konflik merupakan sebuah
disertai dengan penjelasan naratif upaya mengubah cara pandang konflik
dibawahnya. menjadi positif dengan memandang bahwa
Sudut pandang keamanan dan konflik dapat bermanfaat bagi orang yang
perdamaian dipakai untuk membingkai terlibat agar konflik tersebut tidak menjadi
pembahasan tentang konflik agar dapat panjang atau tidak terselesaikan (Graf et al.,
memetakan lebih jelas ruang 2007).
operasionalisasi keduanya, sehingga mampu Pendekatan TRANSCEND dapat
menunjukkan batasan samarnya. Terakhir, diidentifikasi melalui tiga kategori tujuan,
penulis menyusun keterkaitan antarvariabel yakni nature, culture, dan structure. Aspek
ke dalam bahasan negosiasi sebagai titik nature atau sifat alami diartikan sebagai
peralihan proses transformasi konflik. segala sesuatu yang ada di dalam diri kita
Sebagai ilustrasi pendekatan, artikel ini dan sekitar kita. Sedangkan culture adalah
berfokus pada sebuah upaya perdamaian. hal-hal berupa norma dan nilai yang dianut
oleh diri (internal). Terakhir, structure adalah
HASIL DAN PEMBAHASAN sesuatu yang berada di sekitar kita (eksternal)
Satu hal yang pasti dan selalu mengikuti dan telah terorganisasikan atas hal positif
terminologi konflik ketika digunakan adalah atau negatif, serta terkait konsekuensi
konsep “perdamaian.” Berbagai upaya (sanksi) (Galtung, 2007).
penanganan konflik, selalu dirancang dalam Dalam pemikirannya, Galtung (2007)
skema implementasi “sedamai” mungkin. menekankan pada konsep building yang
Indikator dari hal ini tidak lain adalah implementasinya diwujudkan melalui upaya-
meminimalkan dampak yang terjadi, seperti upaya relasional seperti adanya upaya
jumlah korban dan kerugian material, baik pembangunan pasca konflik yang berkaitan
secara nasional maupun internasional. dengan infrastruktur. Pembangunan relasi ini
Salah satu model pendekatan atas bertujuan untuk mengonstruksi kehadiran
perdamaian yang digagas oleh Galtung tiga kategori tadi agar tidak rentan terjadi
(2007) dinamakan TRANSCEND. Pendekatan benturan, dan bisa mengakibatkan konflik.
ini menawarkan model perdamaian melalui Beberapa cara klasik seperti negosiasi,
transformasi konflik secara damai. Artinya, memang akan selalu dipergunakan. Namun,
dalam gagasan Galtung, transformasi konflik inovasi yang ditawarkan adalah bahwa saat
ini diartikan sebagai situasi konfliktual yang ini negosiasi tidak harus dilakukan langsung
dapat diselesaikan tanpa menggunakan oleh pihak yang bertikai, melainkan dapat
kekerasan, tetapi mengubah skala konflik memasukkan variabel pihak ketiga sebagai
secara berkala, salah satunya melalui fasilitator. Dalam rangka mewujudkan
pelibatan pihak ketiga. Oleh karena itu, perdamaian yang sesungguhnya, Galtung
gagasan yang menaunginya berada dibawah (2007) merancang model identifikasi proses
kerangka studi perdamaian, dan bukan studi perdamaian melalui enam tugas pokok yang
keamanan (Galtung, 2007). Selain itu, tercantum dalam tabel 1.
Lederach juga menambahkan bahwa
20 | P a g e
Penny Kurnia Putri. Manajemen Konflik dan Resolusi Konflik: Sebuah Pendekatan Terhadap
Perdamaian.
Pada tabel di atas, Galtung (2007) dini agar konflik tidak tereskalasi lebih jauh.
mengidentifikasi enam tugas perdamaian (six Beberapa istilah atau terminologi yang
peace tasks), tiga 'ketidakhadiran' (three dipakai Galtung dalam menjelaskan
absences) dan tiga 'kehadiran' (three presences). TRANSCEND, seperti perdamaian negatif/
Galtung (2007) kemudian mengelompokkan positif, unsur-unsur absensi/ presensi, dan
proses absensi ke dalam kerangka sebagainya, secara tidak langsung berusaha
perdamaian negatif, dan presensi ke dalam menormalisasi intervensi atas dasar
perdamaian positif. Secara umum, segala transformasi konflik secara damai. Perlu
bentuk absensi (atas kekerasan), seperti diketahui bahwa selama ini tindakan
gencatan senjata, berhentinya tindak intervensi selalu berbenturan dengan
eksploitasi, dan kondisi tanpa kedaulatan negara. Perilaku intervensi
peraturan/hukum, termasuk ke dalam dianggap melanggar batas otoritas penguasa
pencapaian (-P). Sedangkan jika segala di suatu wilayah tertentu. Namun Galtung
bentuk presensi, seperti kerja sama, (2007) mampu menciptakan celah untuk
kesetaraan, dan dialog budaya sudah mulai masuk ke dalam ruang konflik tersebut
terlihat, maka mengindikasikan bahwa menggunakan isu perdamaian, alih-alih
proses (+P) tengah berlangsung. Di sini keamanan. Pada kasus tertentu, upaya
Galtung (2007) ingin menyampaikan jika kita pengamanan harus dilakukan terlebih
hanya berfokus pada absensi saja, maka dahulu sebagai bagian dari proses
upaya-upaya perdamaian/penyelesaian perdamaian itu sendiri.
konflik yang muncul akan selamanya Berdasarkan pemaparan di atas,
terjebak dalam skema penggunaan kekerasan penulis mengidentifikasi bahwa gagasan
(militer). Oleh sebab itu, kondisi presensi Galtung tentang transformasi konflik
sebisa mungkin mampu diidentifikasi lebih tercermin dalam kerangka manajemen
21 | P a g e
Penny Kurnia Putri. Manajemen Konflik dan Resolusi Konflik: Sebuah Pendekatan Terhadap
Perdamaian.
konflik. Para aktor politik atau pemimpin konflik akibat ketidakmampuan pemerintah
negara sebagian besar masih setempat untuk mengamankan situasi,
memprioritaskan nilai-nilai keamanan atas maka pihak ketiga dapat berperan untuk
konflik yang terjadi. Sehingga perilaku yang mengambil alih kewenangan tersebut.
muncul juga didominasi oleh tindakan hard Menurut Bercovitch dan Regan,
power untuk mengejar kondisi negative peace. dikutip dalam Butler (2009), pendekatan
Padahal, jika kita merujuk pada pemikiran manajemen konflik yang dilakukan pihak
utuh Galtung tentang perdamaian ketiga secara praktis dapat dikategorikan
(negative+positive peace), tujuan utamanya menjadi empat hal pokok sesuai
adalah menciptakan atau mewujudkan kebutuhannya di lapangan, yaitu: (i) threat-
perdamaian dengan upaya-upaya tanpa based (menggunakan kekuatan persenjataan
kekerasan, atau bisa kita sebut dengan untuk memaksa pihak-pihak bertikai
“perdamaian nirkekerasan.” menghentikan peperangan); (ii) deterrence-
Galtung setidaknya mampu based (menggunakan kekuatan persenjataan,
memengaruhi perilaku aktor dalam dan beberapa instrumen diplomasi yang
mencapai (-P) melalui proses manajemen sifatnya menekan pihak bertikai); (iii)
konflik sesuai norma kemanusiaan yang accomodationist (menggunakan cara
berlaku. Secara praktis, gagasan Galtung persuasif diplomatik untuk menawarkan
sangat bermanfaat bagi para pihak terkait kesepakatan terhadap pihak bertikai); 4)
untuk bisa menormalisasi tindakan adjudicatory (menggunakan sarana hukum
intervensi. Aspek (+P) yang menjadi tujuan dengan melibatkan sistem lembaga formal
utama semua pihak, bisa dikatakan masih untuk mengakomodasi perjanjian).
membutuhkan proses panjang untuk benar- Konsep manajemen konflik bermuara
benar bisa diwujudkan pada setiap kondisi pada tujuan utama: mengejar keamanan
konflik, namun gerbang masuknya sudah kolektif. Keamanan kolektif sendiri
bisa terlihat dengan output yang bernama memiliki tiga gagasan pokok yang
resolusi konflik. melatarbelakanginya, bahwa (i) agresi
militer adalah format yang tidak dapat
Manajemen Konflik: Lingkup Praktis dan diterima dalam perilaku politik
Teoritis Operasi Perdamaian internasional; (ii) aksi agresi yang dilakukan
Manajemen konflik dipahami sebagai upaya oleh pihak tertentu dianggap mengancam
yang dilakukan untuk mengontrol konflik keamanan bagi semua pihak dalam sistem
yang sedang terjadi antara aktor negara atau internasional; (iii) menjaga serta menjamin
level sub-negara, dan biasanya melibatkan keamanan merupakan tugas semua pihak
pihak ketiga. Fokus perhatian manajemen dalam sistem internasional (Butler, 2009).
konflik adalah mencegah terjadinya eskalasi Secara praktis, ketiga pernyataan di atas
konflik lebih jauh lagi dengan merujuk kepada perilaku aktor negara yang
meminimalisir kerusakan maupun jumlah harus melaporkan penggunaan militernya,
korban jiwa, baik dalam skala horizontal mengintegrasikan kepentingan komunitas
maupun vertikal. Dalam kondisi eskalasi internasional ke dalam kepentingan
22 | P a g e
Penny Kurnia Putri. Manajemen Konflik dan Resolusi Konflik: Sebuah Pendekatan Terhadap
Perdamaian.
24 | P a g e
Penny Kurnia Putri. Manajemen Konflik dan Resolusi Konflik: Sebuah Pendekatan Terhadap
Perdamaian.
Handling phase (one way only) Inter-related in numerous ways (sometimes overlapping)
25 | P a g e
Penny Kurnia Putri. Manajemen Konflik dan Resolusi Konflik: Sebuah Pendekatan Terhadap
Perdamaian.
26 | P a g e
Penny Kurnia Putri. Manajemen Konflik dan Resolusi Konflik: Sebuah Pendekatan Terhadap
Perdamaian.
27 | P a g e
Penny Kurnia Putri. Manajemen Konflik dan Resolusi Konflik: Sebuah Pendekatan Terhadap
Perdamaian.
28 | P a g e
Penny Kurnia Putri. Manajemen Konflik dan Resolusi Konflik: Sebuah Pendekatan Terhadap
Perdamaian.
29 | P a g e
Penny Kurnia Putri. Manajemen Konflik dan Resolusi Konflik: Sebuah Pendekatan Terhadap
Perdamaian.
bersengketa. Sejauh ini, semua pihak tidak dilakukan adalah mencapai kesepakatan.
akan dan tidak dapat mengandalkan Kedua hal ini sama-sama harus melalui
diplomasi untuk menyelesaikan masalah proses dan tantangan yang rumit. Sebelum
yang disengketakan, dan memiliki mencapai sebuah kesepakatan, pihak yang
kemungkinan menerapkan kekerasan berkonflik harus memastikan bahwa
sebagai alat untuk menekan pihak lain kepentingan mereka akan tercapai, dan
untuk menerima penyelesaian (Slantchev, komitmen dari pihak lawan untuk
2003). Contohnya dapat dilihat selama melaksanakan seluruh kesepakatan yang
perang saudara Mozambik dimana akan dibuat melalui proses negosiasi.
Resistance National of Mozambican Kerangka kerja dalam proses negosiasi
(RENAMO) menggunakan jenis strategi ini, merupakan “two level game,” dimana pada
yang diawali melalui penggunaan level pertama merupakan perwakilan dari
kekerasan untuk melemahkan pemerintah pihak yang berkonflik, dan level kedua
dengan harapan menyebabkan rezim adalah pemimpin dan konstituen dari
runtuh atau memilih opsi negosiasi (Heo & masing-masing pihak. Kesepakatan yang
DeRouen, 2007). telah dicapai melalui meja perundingan
Faktor kunci kapan dan mengapa para kemudian harus diratifikasi oleh masing-
pihak masuk ke meja negosiasi adalah masing pihak, baik dalam bentuk institusi
adanya pengakuan timbal balik para pihak formal maupun kumpulan elit informal.
yang bersengketa, bahwa (a) biaya konflik Untuk memastikan keberhasilan dalam
sangat tinggi, dan (b) kemungkinan bahwa negosiasi, pihak penawar harus memastikan
kekerasan akan menghasilkan alternatif bahwa tawaran kerja sama akan diterima
yang menguntungkan bagi status quo yang oleh pihak lawan. Hal ini karena
rendah. Hal ini karena negosiasi kesepakatan yang akan diratifikasi
menawarkan jalan keluar dari biaya dan merupakan kesepakatan yang bersifat
kerugian yang diakibatkan dari konflik jangka panjang dan mengikat pihak yang
yang terjadi. Adanya kebuntuan dan biaya bernegosiasi.
yang besar menciptakan kondisi dimana Setelah mencapai sebuah kesepakatan,
pihak yang berkonflik menyadari bahwa pihak yang berkonflik cenderung masih
negosiasi menawarkan manajemen konflik diliputi oleh rasa takut bahwa pihak lawan
yang lebih menjanjikan, dibandingkan terus akan melanggar kesepakatan yang telah
menerus menggunakan kekerasan hingga tercapai. Untuk itu, para pihak yang
salah satu pihak kalah. Pada akhirnya, bersengketa harus saling terbuka dengan
proses negosiasi hanya dapat terjadi jika adanya kebijakan yang transparan. Selain
pihak yang berkonflik menyadari bahwa keterbukaan antarpihak, dibutuhkan juga
berunding dan mencari jalan keluar yang ketentuan fear-reducing dan cost-increasing.
menguntungkan keduanya lebih baik Untuk mengurangi rasa takut, kesepakatan
daripada penggunaan kekerasan. dapat melibatkan jaminan pihak ketiga dan
Setelah berhasil melakukan proses kesepakatan pembagian kekuasaan.
negosiasi, langkah selanjutnya yang harus Hadirnya pihak ketiga dalam bentuk peace-
30 | P a g e
Penny Kurnia Putri. Manajemen Konflik dan Resolusi Konflik: Sebuah Pendekatan Terhadap
Perdamaian.
keeping force menjamin bahwa negara yang upaya manajemen dan resolusi konflik
lebih kuat tidak akan menyerang negara dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti
yang lebih lemah. Namun hadirnya pihak timing, credible commitment, dan spoilers.
ketiga tidak membawa jaminan akan Oleh sebab itu, manuver pihak ketiga dalam
terjaganya kesepakatan, karena pihak yang memainkan peran perdamaian harus
tidak memahami kesepakatan bisa saja disertai pertimbangan strategis yang
menganggap kesepakatan tidak adil dan berjenjang (jangka pendek/panjang).
berujung pada kekerasan. Selain itu, cost- Meskipun belum sepenuhnya berubah,
increasing juga tidak menjamin karena dapat pergeseran upaya penyelesaian konflik
berujung pada konflik yang berulang. Oleh sejauh ini sudah banyak menerapkan solusi-
karena itu, kunci dari keberhasilan dalam solusi yang dititikberatkan pada tindakan
sebuah kesepakatan adalah rasa saling nirkekerasan. Artinya sudah banyak yang
percaya. menyadari bahwa upaya perdamaian tidak
harus menunggu konflik pecah terlebih
KESIMPULAN dahulu, sehingga menjadi peluang untuk
Artikel ini telah melihat batasan teoritis dan upaya nirkekerasan lebih realistis dan
praktis dalam kajian manajemen dan implementatif.
resolusi konflik. Manajemen konflik dan
resolusi konflik adalah dua pendekatan DAFTAR PUSTAKA
yang berbeda atas dasar tujuannya. Namun ADR Times. (23 June 2021). Conflict
secara umum, keduanya saling bersinergi Management Vs Conflict Resolution.
untuk mewujudkan perdamaian yang utuh. https://www.adrtimes.com/conflict-
Manajemen konflik mengambil peran awal management-vs-conflict-
untuk menghadirkan perdamaian negatif, resolution/#:~:text=Conflict%20manag
disusul dengan resolusi konflik yang ement%20allows%20parties%20to,eli
berperan “menyempurnakan” upaya-upaya minate%20or%20mitigate%20the%20c
yang sudah dilakukan sebelumnya. Dapat onflict
disimpulkan bahwa batasan teoritis Boutros-Ghali, B. (1992). An agenda for
manajemen konflik terlihat pada penciptaan peace: Preventive diplomacy,
ruang bagi proses perdamaian seperti peacemaking and peace-keeping.
negosiasi. Sedangkan resolusi konflik International Relations, 11(3), 201–218.
terlihat pada perjanjian damai yang berhasil Butler, M. J. (2009). International Conflict
dibuat, dan aksi (building) setelahnya. Management. Routledge.
Meskipun ada aspek yang kerap Call, C. T., & Cook, S. E. (2003). On
tumpang-tindih dalam kajian praktisnya, Democratization and Peacebuilding.
yakni peace-keeping dan peace-making, Global Governance, 9, 233-246.
identifikasi dapat dilakukan dengan Dal, E.P. (2018). Rising Powers in
memverifikasi unsur tipe perdamaian International Conflict Management:
dalam kasus yang diamati. Lebih lanjut, An Introduction. Third World Quarterly,
sebagai sebuah pendekatan, keberhasilan
31 | P a g e
Penny Kurnia Putri. Manajemen Konflik dan Resolusi Konflik: Sebuah Pendekatan Terhadap
Perdamaian.
32 | P a g e
Penny Kurnia Putri. Manajemen Konflik dan Resolusi Konflik: Sebuah Pendekatan Terhadap
Perdamaian.
33 | P a g e
Penny Kurnia Putri. Manajemen Konflik dan Resolusi Konflik: Sebuah Pendekatan Terhadap
Perdamaian.
TENTANG PENULIS
Penny Kurnia Putri adalah seorang dosen yang mengajar di Program Studi Hubungan
Internasional, Universitas Udayana. Penny memiliki ketertarikan pada isu-isu keamanan,
perdamaian, dan pembangunan.
34 | P a g e