0% found this document useful (0 votes)
177 views19 pages

Manajemen dan Resolusi Konflik Internasional

This document is a research paper that explores the differences between conflict management and conflict resolution in the context of international relations. It begins with an introduction that notes how the terms "conflict management" and "conflict resolution" are often used interchangeably, despite having distinct theoretical and practical differences. The paper then reviews relevant literature on the topics, describes the qualitative research methodology used, and discusses the key differences between conflict management and conflict resolution in reference to theories of negative and positive peace. It aims to clarify the theoretical and practical boundaries between conflict management and conflict resolution to improve understanding of these approaches to peace.
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd
0% found this document useful (0 votes)
177 views19 pages

Manajemen dan Resolusi Konflik Internasional

This document is a research paper that explores the differences between conflict management and conflict resolution in the context of international relations. It begins with an introduction that notes how the terms "conflict management" and "conflict resolution" are often used interchangeably, despite having distinct theoretical and practical differences. The paper then reviews relevant literature on the topics, describes the qualitative research methodology used, and discusses the key differences between conflict management and conflict resolution in reference to theories of negative and positive peace. It aims to clarify the theoretical and practical boundaries between conflict management and conflict resolution to improve understanding of these approaches to peace.
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd
You are on page 1/ 19

Received: 22 March 2022 Revised: 20 April 2022 Accepted: 27 May 2022

Papua Journal of Diplomacy and International Relations


Volume 2, Issue 1, May 2022 (16-34)
DOI : 10.31957/pjdir.v2i1.1945
ISSN 2797-0957 (Online)

Manajemen Konflik dan Resolusi Konflik: Sebuah


Pendekatan Terhadap Perdamaian

Penny Kurnia Putri

INSTITUTION/ AFFILIATION ABSTRACT


Program Studi Hubungan Internasional, Although much literature has examined conflict
Universitas Udayana, Denpasar, Bali.
management and conflict resolution, there have not
yet been systematic studies that focus on their
CORRESPONDENCE discrepancies. This article aims to explore the
*Penny, Jalan P.B. Sudirman, Kota difference between conflict management and
Denpasar, Bali 80234, Indonesia
conflict resolution in the context of international
Email: [email protected]
relations. The discussion includes the theoretical
and practical aspects of both approaches to peace
based on a literature review of primary texts in
Security and Peace Studies. This study adopts a
qualitative descriptive method to shed light on the
difference between the two approaches. In reference
to the concept of negative and positive peace,
theoretically, conflict management is engaged in
negative peace, and conflict resolution in positive
peace. Conflict management has the output to open
room for peace processes such as negotiations, and
conflict resolution to create peace agreements. Both
approaches contribute significantly as keys to the
transition towards peace through peace operations
and supporting mechanisms to bring the finest
negotiations.

KEYWORDS
Conflict Management; Conflict Resolution;
Negotiation; Peace

This is an open access article under the terms of the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International (CC BY-SA 4.0). 16 | P a g e
© 2022 The Authors. Papua Journal of Diplomacy and International Relations (PJDIR) published by the International Relations
Study Program, Faculty of Social and Political Sciences, Cenderawasih University, in collaboration with the Indonesian
Association for International Relations (AIHII).
Penny Kurnia Putri. Manajemen Konflik dan Resolusi Konflik: Sebuah Pendekatan Terhadap
Perdamaian.

PENDAHULUAN Namun, kedua terminologi ini sering


Konflik merupakan sebuah studi yang kali tumpang-tindih dalam pemaknaan dan
menarik dalam kajian ilmu hubungan penggunaannya. Hal ini bisa dipahami
internasional dalam beberapa tahun karena keduanya kerap digunakan dalam
terakhir ini (D’Amato, 2022; Lahiry, 2019; penanganan sebuah konflik. Akibatnya,
Long, 2021; Väyrynen, 2018). Ada banyak sering terjadi salah tafsir (misinterpretation)
konflik yang terjadi di berbagai belahan dan berujung pada kebingungan (confusion).
dunia, seperti konflik Bougainville antara Kedua terminologi ini memiliki tujuan dan
pasukan pemerintah Papua Nugini (PNG) hasil yang berbeda (outcomes) karena
dan Tentara Revolusioner Bougainville perbedaan proses yang dilalui (ADR Times,
(BRA) dari tahun 1988 hingga 1998 2021; Shaw, 2020). Meskipun secara teoretis
(Paramma et al., 2021); konflik di wilayah memiliki perbedaan yang cukup kontras,
Darfur, Sudan, yang dimulai tahun 2003 keduanya juga memiliki basis asumsi yang
antara kelompok pemberontak the Sudan sama untuk mengurangi intensitas konflik.
Liberation Movement (SLM) dan the Justice Manajemen konflik maupun resolusi
and Equality Movement (JEM) dan konflik saling melengkapi satu sama lain.
pemerintah Sudan (Hashim, 2022); konflik Hal ini terjadi karena pendekatan
antara Timor Leste dan Indonesia dalam manajemen konflik yang dilakukan dapat
kurun waktu 1975 hingga 1999 (Loney, menjadi langkah awal dimulainya proses
2019); konflik antara Rusia dan Ukraina saat resolusi konflik. Penelitian ini bertujuan
ini yang mengubah geopolitik Eropa (Adler, untuk mempertegas kembali batasan teoritis
2022), dan masih banyak lagi contoh dan praktis dalam kajian manajemen dan
konflik-konflik lainnya. resolusi konflik. Hal ini dilakukan agar para
Dalam situasi konflik, ada dua akademisi, aktivis, pengambil kebijakan,
terminologi yang sering digunakan secara maupun masyarakat awam yang tertarik
bersamaan dan bergantian, yaitu: terhadap kajian keilmuan hubungan
manajemen konflik (conflict management) internasional dapat memetakan perilaku
dan resolusi konflik (conflict resolution) aksi dan reaksi aktor-aktor politik dan
(Jeong, 2009; Joseph, 2015; Shaw, 2020). melakukan analisis konflik serta
Manajemen konflik merupakan pendekatan penanganan konflik secara tepat.
yang tidak hanya berbicara tentang Penulisan artikel ini di bagi dalam
bagaimana menangani konflik, tetapi juga beberapa bagian. Pertama, penulis
menunjukkan pengelolaan konflik dengan memaparkan tinjauan literatur untuk
cara-cara kekerasan atau kompetitif dan meninjau penelitian-penelitian sebelumnya
non-kekerasan atau kooperatif (Sumita, yang berkaitan dengan manajemen dan
2020). Sementara resolusi konflik dapat resolusi konflik. Kedua, penjelasan terkait
didefinisikan sebagai proses informal atau metode yang digunakan dalam artikel ini,
formal yang digunakan dua pihak atau termasuk bagaimana data di kumpulkan.
lebih untuk menemukan solusi damai atas Ketiga, berkaitan dengan hasil dan diskusi
perselisihan mereka (Shonk, 2021). yang di bagi dalam beberapa sub-bagian
17 | P a g e
Penny Kurnia Putri. Manajemen Konflik dan Resolusi Konflik: Sebuah Pendekatan Terhadap
Perdamaian.

untuk melihat perbedaan sekaligus merujuk pada pemberontakan melawan


keterkaitan antara pendekatan manajemen negara, yang bertujuan mengacaukan
konflik dan resolusi konflik. Terakhir, negara atau diakui, seperti Sudan Selatan
penulis merangkum beberapa hasil temuan yang muncul dari Sudan. Mutiny adalah
dan menjawab tujuan penulisan pada tindakan pembangkangan di militer atau
bagian kesimpulan. pemberontakan di pasukan keamanan
terhadapnya komando tinggi, yang dapat
TINJAUAN LITERATUR berujung pada penggulingan pemerintah.
Definisi, Bentuk, Sumber dan Sifat Protest mengacu pada demonstrasi (massa)
Konflik yang terorganisir menentang suatu
Jeong (2000) mendefinisikan konflik sebagai pemerintah, suatu tindakan atau suatu
sebuah kondisi ketika dua atau lebih kebijakan/keputusan.
kelompok terlibat dalam perjuangan atas Selama ini diskusi tentang sumber
nilai-nilai dan klaim status, kekuasaan dan dan sifat konflik tersentral pada dua topik
sumber daya, di mana tujuan lawan untuk utama, yakni subjektivis dan objektivis
menetralisir, melukai atau menghilangkan (Reimann, 2004). Pendekatan subjektivis
saingan. Dalam disiplin Hubungan melihat konflik berdasarkan tidak
Internasional (HI), Yaqing (2018) selarasnya tujuan. Menurut pendekatan ini,
menjelaskan bahwa konflik didefinisikan tujuan tidak kompatibel karena
lebih mencolok dan serius. Hal ini terjadi misinformasi tentang budaya, stereotipe,
karena pemahaman yang mengakar dalam dan ketidakpercayaan. Sementara
masyarakat internasional sebagai an anarchic pendekatan objektivis melihat konflik
Hobbesian jungle di mana setiap orang berasal dari struktur yang tidak setara,
berperang melawan orang lain karena tidak dimana salah satu pihak merasakan
adanya Leviathan. Teori HI arus utama, ketidakadilan dalam kelas sosial.
misalnya, berpendapat bahwa konflik
adalah “the state of nature of international Manajemen Konflik Vs Resolusi Konflik
life”. Realisme berpendapat bahwa Dalam beberapa penelitian, manajemen
perebutan kekuasaan selalu menjadi tema konflik seringkali diungkap bersamaan
sentral hubungan internasional. Sementara dengan strategi resolusi konflik.
Liberalisme percaya bahwa konflik ada Sebagaimana penelitian Kaisupy dan Maing
sebagai sesuatu yang normal, meskipun (2021) yang memaparkan strategi negosiasi
lebih optimis tentang penyelesaian konflik dalam menyelesaikan perselisihan dua
melalui lembaga-lembaga internasional. pihak yang berkepentingan. Hal serupa juga
Folarin (2015) membagi konflik dalam diungkapkan dalam penelitian Nugroho
empat bentuk, yaitu revolt, insurgency, (2021) yang menyetarakan manajemen
mutiny, dan protest. Revolt merujuk pada konflik dengan komunikasi penyelesaian.
pemberontakan rakyat melawan tatanan Pandangan ini menyisakan kesan bahwa
yang ada, dan dalam beberapa kasus, manajemen konflik belum memiliki pijakan
berujung pada sebuah revolusi. Insurgency
18 | P a g e
Penny Kurnia Putri. Manajemen Konflik dan Resolusi Konflik: Sebuah Pendekatan Terhadap
Perdamaian.

yang tegas baik secara teoretis maupun konflik berdasarkan sifat dari konflik itu
praktis. sendiri. Hal ini penting untuk mengurai
Boutros-Ghali (1992) menjelaskan pemetaan aktor dan lokasi geografisnya.
bahwa peacebuilding sebagai post-konflik Dal (2018) meyakini bahwa faktor-faktor
sosial dan rekonstruksi politik, atau jalan tersebut sebagai hal fundamental untuk
untuk menghindari kambuhnya konflik di membedakan aspek teoretis dan konseptual
masa mendatang. Catatan ini menandai pendekatan dalam manajemen konflik.
bahwa manajemen konflik secara aktual
memiliki perbedaan dengan resolusi METODE PENELITIAN
konflik. Kemudian Galtung (2007) dalam Dalam artikel ini, isu penelitian dianalisis
studi perdamaian secara spesifik menyoroti menggunakan metode kualitatif dengan
perbedaan ini dengan mengatakan bahwa pembahasan yang bersifat deskriptif. Artikel
pencegahan dan resolusi konflik berada ini merupakan ekposisi tentang pendekatan
pada tingkatan melampaui atau dibawah manajemen konflik dan resolusi konflik
kendali negara. yang banyak di pengaruhi oleh kerangka
Ketika konflik terjadi, pihak-pihak pemikiran Galtung (2007) tentang studi
yang bertikai dapat memilih antara resolusi perdamaian. Narasi yang dikembangkan
konflik atau manajemen konflik, atau dalam pembahasan didasarkan pada
kombinasi antara keduanya. Walaupun sumber-sumber sekunder seperti buku-
beberapa orang menganggap kedua buku, jurnal, situs website, laporan, dan
pendekatan ini sebagai hal yang sama, sumber-sumber lainnya yang didapatkan
keduanya sebenarnya memiliki proses melalui studi kepustakaan. Informasi dari
berbeda yang mempengaruhi bagaimana sumber-sumber sekunder ini dikategorikan
cara konflik di hadapi dan diselesaikan. sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah
Dalam konteks ini, manajemen konflik alur sistematis yang dapat menegaskan
mendorong pihak-pihak yang bertikai perbedaan sekaligus keterkaitan pendekatan
untuk bekerjasama, bahkan dalam situasi manajemen konflik dan resolusi konflik.
konflik yang sedang berlangsung. Pada tahap awal, peneliti menerapkan
Sementara resolusi konflik berusaha untuk sistem pemilahan data berdasarkan topik
mengakhiri atau mengurangi intensitas dan kredibilitas sumber. Selanjutnya
konflik dengan mencari solusi penyelesaian dilakukan tahap parafrase ide, gagasan,
(ADR Times, 2021). maupun pernyataan lainnya, sebelum
Call dan Cook (2003) menegaskan akhirnya penulis menginterpretasikan
bahwa apabila upaya peacebuilding berada kerangka pemikiran (konsep/teori) ke dalam
pada level elit, maka proses pada level isu atau fenomena penelitian. Analisis
nonelit dengan berbagai dimensi (sosial, melalui teknik interpretasi ini melibatkan
psikologi, dan agama) pada tingkat lokal sejumlah pemikiran yang sudah diuji,
berperan untuk mengoperasikan resolusi sehingga hasilnya masih dalam kerangka
konflik. Sedangkan Dal (2018) dalam kajian ilmiah. Untuk memudahkan
studinya mengidentifikasi manajemen pembaca, beberapa data dan analisis
19 | P a g e
Penny Kurnia Putri. Manajemen Konflik dan Resolusi Konflik: Sebuah Pendekatan Terhadap
Perdamaian.

disajikan ke dalam bentuk tabel dan gambar transformasi konflik merupakan sebuah
disertai dengan penjelasan naratif upaya mengubah cara pandang konflik
dibawahnya. menjadi positif dengan memandang bahwa
Sudut pandang keamanan dan konflik dapat bermanfaat bagi orang yang
perdamaian dipakai untuk membingkai terlibat agar konflik tersebut tidak menjadi
pembahasan tentang konflik agar dapat panjang atau tidak terselesaikan (Graf et al.,
memetakan lebih jelas ruang 2007).
operasionalisasi keduanya, sehingga mampu Pendekatan TRANSCEND dapat
menunjukkan batasan samarnya. Terakhir, diidentifikasi melalui tiga kategori tujuan,
penulis menyusun keterkaitan antarvariabel yakni nature, culture, dan structure. Aspek
ke dalam bahasan negosiasi sebagai titik nature atau sifat alami diartikan sebagai
peralihan proses transformasi konflik. segala sesuatu yang ada di dalam diri kita
Sebagai ilustrasi pendekatan, artikel ini dan sekitar kita. Sedangkan culture adalah
berfokus pada sebuah upaya perdamaian. hal-hal berupa norma dan nilai yang dianut
oleh diri (internal). Terakhir, structure adalah
HASIL DAN PEMBAHASAN sesuatu yang berada di sekitar kita (eksternal)
Satu hal yang pasti dan selalu mengikuti dan telah terorganisasikan atas hal positif
terminologi konflik ketika digunakan adalah atau negatif, serta terkait konsekuensi
konsep “perdamaian.” Berbagai upaya (sanksi) (Galtung, 2007).
penanganan konflik, selalu dirancang dalam Dalam pemikirannya, Galtung (2007)
skema implementasi “sedamai” mungkin. menekankan pada konsep building yang
Indikator dari hal ini tidak lain adalah implementasinya diwujudkan melalui upaya-
meminimalkan dampak yang terjadi, seperti upaya relasional seperti adanya upaya
jumlah korban dan kerugian material, baik pembangunan pasca konflik yang berkaitan
secara nasional maupun internasional. dengan infrastruktur. Pembangunan relasi ini
Salah satu model pendekatan atas bertujuan untuk mengonstruksi kehadiran
perdamaian yang digagas oleh Galtung tiga kategori tadi agar tidak rentan terjadi
(2007) dinamakan TRANSCEND. Pendekatan benturan, dan bisa mengakibatkan konflik.
ini menawarkan model perdamaian melalui Beberapa cara klasik seperti negosiasi,
transformasi konflik secara damai. Artinya, memang akan selalu dipergunakan. Namun,
dalam gagasan Galtung, transformasi konflik inovasi yang ditawarkan adalah bahwa saat
ini diartikan sebagai situasi konfliktual yang ini negosiasi tidak harus dilakukan langsung
dapat diselesaikan tanpa menggunakan oleh pihak yang bertikai, melainkan dapat
kekerasan, tetapi mengubah skala konflik memasukkan variabel pihak ketiga sebagai
secara berkala, salah satunya melalui fasilitator. Dalam rangka mewujudkan
pelibatan pihak ketiga. Oleh karena itu, perdamaian yang sesungguhnya, Galtung
gagasan yang menaunginya berada dibawah (2007) merancang model identifikasi proses
kerangka studi perdamaian, dan bukan studi perdamaian melalui enam tugas pokok yang
keamanan (Galtung, 2007). Selain itu, tercantum dalam tabel 1.
Lederach juga menambahkan bahwa
20 | P a g e
Penny Kurnia Putri. Manajemen Konflik dan Resolusi Konflik: Sebuah Pendekatan Terhadap
Perdamaian.

Tabel 1. Perdamaian: negatif dan positif, langsung, struktural, budaya


(Peace: negative and positive, direct, structural, cultural)

Sumber: Galtung (2007)

Pada tabel di atas, Galtung (2007) dini agar konflik tidak tereskalasi lebih jauh.
mengidentifikasi enam tugas perdamaian (six Beberapa istilah atau terminologi yang
peace tasks), tiga 'ketidakhadiran' (three dipakai Galtung dalam menjelaskan
absences) dan tiga 'kehadiran' (three presences). TRANSCEND, seperti perdamaian negatif/
Galtung (2007) kemudian mengelompokkan positif, unsur-unsur absensi/ presensi, dan
proses absensi ke dalam kerangka sebagainya, secara tidak langsung berusaha
perdamaian negatif, dan presensi ke dalam menormalisasi intervensi atas dasar
perdamaian positif. Secara umum, segala transformasi konflik secara damai. Perlu
bentuk absensi (atas kekerasan), seperti diketahui bahwa selama ini tindakan
gencatan senjata, berhentinya tindak intervensi selalu berbenturan dengan
eksploitasi, dan kondisi tanpa kedaulatan negara. Perilaku intervensi
peraturan/hukum, termasuk ke dalam dianggap melanggar batas otoritas penguasa
pencapaian (-P). Sedangkan jika segala di suatu wilayah tertentu. Namun Galtung
bentuk presensi, seperti kerja sama, (2007) mampu menciptakan celah untuk
kesetaraan, dan dialog budaya sudah mulai masuk ke dalam ruang konflik tersebut
terlihat, maka mengindikasikan bahwa menggunakan isu perdamaian, alih-alih
proses (+P) tengah berlangsung. Di sini keamanan. Pada kasus tertentu, upaya
Galtung (2007) ingin menyampaikan jika kita pengamanan harus dilakukan terlebih
hanya berfokus pada absensi saja, maka dahulu sebagai bagian dari proses
upaya-upaya perdamaian/penyelesaian perdamaian itu sendiri.
konflik yang muncul akan selamanya Berdasarkan pemaparan di atas,
terjebak dalam skema penggunaan kekerasan penulis mengidentifikasi bahwa gagasan
(militer). Oleh sebab itu, kondisi presensi Galtung tentang transformasi konflik
sebisa mungkin mampu diidentifikasi lebih tercermin dalam kerangka manajemen
21 | P a g e
Penny Kurnia Putri. Manajemen Konflik dan Resolusi Konflik: Sebuah Pendekatan Terhadap
Perdamaian.

konflik. Para aktor politik atau pemimpin konflik akibat ketidakmampuan pemerintah
negara sebagian besar masih setempat untuk mengamankan situasi,
memprioritaskan nilai-nilai keamanan atas maka pihak ketiga dapat berperan untuk
konflik yang terjadi. Sehingga perilaku yang mengambil alih kewenangan tersebut.
muncul juga didominasi oleh tindakan hard Menurut Bercovitch dan Regan,
power untuk mengejar kondisi negative peace. dikutip dalam Butler (2009), pendekatan
Padahal, jika kita merujuk pada pemikiran manajemen konflik yang dilakukan pihak
utuh Galtung tentang perdamaian ketiga secara praktis dapat dikategorikan
(negative+positive peace), tujuan utamanya menjadi empat hal pokok sesuai
adalah menciptakan atau mewujudkan kebutuhannya di lapangan, yaitu: (i) threat-
perdamaian dengan upaya-upaya tanpa based (menggunakan kekuatan persenjataan
kekerasan, atau bisa kita sebut dengan untuk memaksa pihak-pihak bertikai
“perdamaian nirkekerasan.” menghentikan peperangan); (ii) deterrence-
Galtung setidaknya mampu based (menggunakan kekuatan persenjataan,
memengaruhi perilaku aktor dalam dan beberapa instrumen diplomasi yang
mencapai (-P) melalui proses manajemen sifatnya menekan pihak bertikai); (iii)
konflik sesuai norma kemanusiaan yang accomodationist (menggunakan cara
berlaku. Secara praktis, gagasan Galtung persuasif diplomatik untuk menawarkan
sangat bermanfaat bagi para pihak terkait kesepakatan terhadap pihak bertikai); 4)
untuk bisa menormalisasi tindakan adjudicatory (menggunakan sarana hukum
intervensi. Aspek (+P) yang menjadi tujuan dengan melibatkan sistem lembaga formal
utama semua pihak, bisa dikatakan masih untuk mengakomodasi perjanjian).
membutuhkan proses panjang untuk benar- Konsep manajemen konflik bermuara
benar bisa diwujudkan pada setiap kondisi pada tujuan utama: mengejar keamanan
konflik, namun gerbang masuknya sudah kolektif. Keamanan kolektif sendiri
bisa terlihat dengan output yang bernama memiliki tiga gagasan pokok yang
resolusi konflik. melatarbelakanginya, bahwa (i) agresi
militer adalah format yang tidak dapat
Manajemen Konflik: Lingkup Praktis dan diterima dalam perilaku politik
Teoritis Operasi Perdamaian internasional; (ii) aksi agresi yang dilakukan
Manajemen konflik dipahami sebagai upaya oleh pihak tertentu dianggap mengancam
yang dilakukan untuk mengontrol konflik keamanan bagi semua pihak dalam sistem
yang sedang terjadi antara aktor negara atau internasional; (iii) menjaga serta menjamin
level sub-negara, dan biasanya melibatkan keamanan merupakan tugas semua pihak
pihak ketiga. Fokus perhatian manajemen dalam sistem internasional (Butler, 2009).
konflik adalah mencegah terjadinya eskalasi Secara praktis, ketiga pernyataan di atas
konflik lebih jauh lagi dengan merujuk kepada perilaku aktor negara yang
meminimalisir kerusakan maupun jumlah harus melaporkan penggunaan militernya,
korban jiwa, baik dalam skala horizontal mengintegrasikan kepentingan komunitas
maupun vertikal. Dalam kondisi eskalasi internasional ke dalam kepentingan

22 | P a g e
Penny Kurnia Putri. Manajemen Konflik dan Resolusi Konflik: Sebuah Pendekatan Terhadap
Perdamaian.

nasional sebagai satu kesatuan, dan internasional terkait keamanan kolektif


mengindahkan perasaan takut akan adalah tentang kedaulatan dan
dominasi politik pihak tertentu dengan (penggunaan) kekuatan. Selain itu, terdapat
mulai memupuk kepercayaan satu sama pertanyaan atas seberapa jauh tindakan
lain. manajemen konflik “pihak ketiga”
Sistem keamanan kolektif dipahami melanggar batas kedaulatan negara, dan
sebagai konsep berbagi kepentingan dan seberapa besar peran dibutuhkan dalam
upaya mengatur perilaku diantara negara- penggunaan kekerasan untuk memaksa
negara. Sejauh ini, praktik keamanan penghentian konflik. Menjawab hal
kolektif direpresentasikan oleh eksistensi tersebut, Butler (2009) memetakan aksi
PBB sebagai sistem pemerintahan manajemen konflik yang relevan ketika
internasional itu sendiri. Aspek dilematis harus berbenturan dengan kedua aspek tadi
dalam implementasi manajemen konflik pada gambar berikut.

Gambar 1. Pemetaan Aksi Manajemen Konflik. Sumber: Butler (2009)

Ilustrasi garis vektor horizontal di atas adalah melakukan operasi peace-keeping.


menunjukkan tingkat kedaulatan Pada kondisi tersebut, operasi bisa
(sovereignty) suatu negara berkonflik, dan dilakukan melalui skema keamanan
garis vektor vertikal menunjukkan tingkat kolektif. Sedangkan secara umum, peace-
kekuatan /keamanan (force) pihak ketiga. enforcement diterapkan jika kondisi
Jika kondisi di area konflik didominasi kedaulatan minimum dan kekuatan
oleh kedaulatan dan kekuatan yang maksimum (kiri-bawah).
maksimum (kanan-bawah), maka upaya Selanjutnya, upaya negosiasi,
manajemen konflik yang memungkinkan mediasi, dan adjudikasi dilakukan pada
23 | P a g e
Penny Kurnia Putri. Manajemen Konflik dan Resolusi Konflik: Sebuah Pendekatan Terhadap
Perdamaian.

kondisi kedaulatan maksimum dan negatif dan positif. Unsur-unsur


kekuatan minimum (kanan-atas). Hal ini perdamaian negatif diadopsi dalam skema
dikatakan sangat logis, karena jika tingkat manajemen konflik, yakni menekankan
kedaulatan negara berkonflik tersebut pada upaya-upaya praktis yang dilakukan
tinggi, maka pihak ketiga yang memiliki untuk mencegah eskalasi konflik, dan
kekuatan minimum hanya bisa biasanya hanya untuk jangka pendek.
menawarkan upaya deskalasi melalui jalur Gagasan perdamaian dipakai untuk
persuasif diplomatik dan hukum. “melemahkan” eksistensi kedaulatan yang
Terakhir, peta ruang aksi dengan kerap menjadi penghalang sebuah operasi
kedaulatan dan kekuatan yang rendah perdamaian.
(kiri-atas). Pada kondisi ini, baik negara
maupun pihak ketiga mulai memasuki Resolusi Konflik: Langkah Awal Menuju
fase positive peace (+P), yakni dengan Perdamaian Positif
menerapkan peace-building (upaya Untuk mewujudkan perdamaian secara
pencapaian perdamaian melalui jalur-jalur kultural dan struktural dibutuhkan sebuah
rekonsunstri pembangunan politik, sosial (re)konstruksi terhadap isu yang di hadapi
dan ekonomi). melalui upaya (re)solusi dan (re)konsiliasi
Upaya peace-building dimasukkan ke terhadap pihak yang bertikai. Kedua
dalam tahap paling akhir diantara operasi perdamaian tersebut dapat dimaknai
perdamaian lainnya. Peace building dalam bentuk perdamaian positif, yang
menurut Galtung (2007) merupakan artinya tidak ada lagi bentuk diskriminasi,
proses perdamaian jangka panjang, yang pembatasan akses politik, pendidikan,
menekankan pada penelusuran, dan sosial kepada pihak-pihak yang menjadi
penyelesaian akar konflik, serta korban. Dalam istilah Galtung, upaya ini
mempererat bagian yang dapat disebut building.
menggabungkan pihak bertikai dalam Salah satu operasi perdamaian PBB
formasi baru demi terciptanya perdamaian juga menggunakan istilah yang sama,
yang positif. Hal ini dikarenakan yaitu peace-building–berfokus pada
prosesnya yang menitikberatkan pada penguatan kapasitas nasional di semua
konstruksi perdamaian kultural dengan tingkatan untuk manajemen konflik,
skala jangka panjang. Pada tahap ini, sehingga mengurangi resiko terluang
aspek kekerasan tidak digunakan lagi, dan kembali ke dalam situasi konflik (United
biasanya dilakukan melalui program Nations, n.d).1 Karena itu, peace-building
pendidikan ataupun pemberian bantuan. ditujukan untuk jangka panjang, dan
Jika dianalisis dari sudut pandang
perdamaian, pemetaan Butler (2009) 1PBB menggunakan beberapa istilah yang merujuk
pada berbagai kegiatan yang dilakukan untuk
termasuk ke dalam kajian praktis menjaga perdamaian dan keamanan internasional
penanganan konflik. Upaya-upaya di seluruh dunia. Peacekeeping merupakan kegiatan
yang paling populer di lakukan. Kegiatan lainnya
tersebut dipetakan berdasarkan kajian
adalah conflict prevention and mediation, peacemaking,
teoritis Galtung tentang perdamaian peace enforcement, peacebuilding.

24 | P a g e
Penny Kurnia Putri. Manajemen Konflik dan Resolusi Konflik: Sebuah Pendekatan Terhadap
Perdamaian.

fokusnya pada “kehadiran” nilai Identifikasi upaya perdamaian disajikan


(misalnya kesetaraan), sehingga hal ini oleh penulis pada tabel 2.
selaras dengan konsep perdamaian positif.

Tabel 2. Model Pendekatan Perdamaian

Tipe Periode Operasi Aksi Capaian


Manajemen Jangka Peace-enforcement Intervensi Menciptakan
(-P)
Konflik pendek Peace-keeping sanksi (ekonomi) ruang negosiasi

Handling phase (one way only) Inter-related in numerous ways (sometimes overlapping)

Resolusi Jangka Peace-making Fasilitasi Menciptakan


(+P)
Konflik panjang Peace-building Mediasi perjanjian damai

Sumber: Data di olah penulis

Panah satu arah manajemen konflik diaplikasikan ketika proses pembuatan


menuju resolusi konflik menunjukkan perdamaian sedang berlangsung untuk
bahwa proses penanganan konflik secara mengantisipasi terjadinya bentrokan
alami berjalan sesuai arah anak panah, dan kembali.
tidak sebaliknya. Hal ini berkaitan dengan Terdapat beberapa faktor yang
yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa mempengaruhi suatu pendekatan
resolusi hanya bisa terwujud ketika konflik perdamaian yang dilakukan agar dikatakan
sudah mengalami deskalasi, atau situasi area berhasil atau tidak. Sebagian besar
konflik sudah kondusif. Sedangkan panah pendekatan ini menekankan pada area studi
dua arah dengan garis putus-putus negosiasi atau dalam fase manajemen
mengindikasikan bahwa implementasi peace- konflik. Berikut adalah penjelasan faktor-
keeping dan peace-making kerap kali faktor yang perlu diperhatikan dalam
tumpang-tindih karena keduanya berada menerapkan manajemen konflik
pada tahap peralihan atas transformasi internasional yang di dikutip dalam Greig
konflik yang terjadi. Dari sudut pandang et.al., (2019):
Galtung mengenai transformasi konflik (ke
arah perdamaian positif), peace-keeping dan 1. Perhitungan Waktu (timing)
peace-making dapat beroperasi pada momen Hal ini dipengaruhi oleh faktor
yang sama, yakni operasi penjagaan “kematangan” konflik itu sendiri.
perdamaian sebagai mekanisme awal Artinya, pihak ketiga harus jeli melihat
membuka ruang negosiasi, atau peluang “kapan” dirinya harus terlibat

25 | P a g e
Penny Kurnia Putri. Manajemen Konflik dan Resolusi Konflik: Sebuah Pendekatan Terhadap
Perdamaian.

berdasarkan “kesiapan” kondisi pihak bertikai secara utuh


konflik. Terdapat empat kondisi untuk mengkalkulasi untung-ruginya dan
mengidentifikasi hadirnya faktor menolak perdamaian. Apabila
kematangan, antara lain: ternyata pihak bertikai memutuskan
a) Mutually Hurting Stalemate (MHS) melanjutkan perseteruan, maka
Sebuah kondisi dimana kedua belah selanjutnya mereka akan berfokus
pihak tidak ada peluang untuk untuk memaksimalkan keuntungan
menang, dan tindakan mereka justru relatif (dengan menghambat lawan
akan semakin menambah meraih tujuan) dan meminimalkan
kesengsaraan. Biasanya pihak kekalahan.
bertikai akan mencari peluang untuk d) The Enticing Opportunity Model
menghentikan kekerasan dan (EOM)
mengubahnya ke arah nirkekerasan Model ini menekankan pada
untuk mencapai tujuan mereka. ketersediaan alternatif penyelesaian
Mekanisme ini berbasis pada konflik selain pertimbangan biaya.
kalkulasi untung-rugi yang dapat Mekanismenya berfokus pada
ditawarkan, khususnya jika keuntungan apa yang bisa
dihadapkan pada kerugian material ditawarkan oleh pihak ketiga.
jika tidak segera mengubah strategi. Mereka umumnya mengetahui
MHS merupakan kondisi paling kesepakatan prospektif seperti apa
memungkinkan untuk dilakukan yang diinginkan, sehingga
deskalasi konflik dan menginisiasi pendekatan manajemen konflik yang
negosiasi. dilakukan adalah menawarkan
b) Imminent Mutual Catastrophe (IMC) kemungkinan keuntungan yang
Argumentasi bahwa bencana lebih dapat meraih kesediaan kedua pihak
besar akan segera terjadi dan untuk berdamai. Selanjutnya,
berdampak tidak hanya pada pihak manajemen konflik dapat berupaya
bertikai, menjadikan kondisi ini memanipulasi keuntungan dan
tepat untuk dilakukan manajemen kerugian relatif atas tindak
konflik “secara paksa.” kekerasan dan nirkekerasan yang
c) The Entrapment Model (ENT) kemudian perhitungan tersebut
Pihak bertikai akan secara rasional ditawarkan kepada pihak bertikai
mempertimbangkan sejumlah biaya agar mereka menyetujui skema
yang harus dikeluarkan jika kesepakatan damai yang dirancang
pertikaian tetap berlanjut. Kondisi oleh pihak ketiga. Mekanisme
ini merepresentasikan pihak bertikai penawaran ini dapat dilakukan pada
pada posisi awal menuju tengah tahap awal, tengah, dan akhir dari
(eskalasi) konflik, sehingga pihak sebuah konflik.
ketiga harus bergerak cepat
mengelola konflik tersebut sebelum

26 | P a g e
Penny Kurnia Putri. Manajemen Konflik dan Resolusi Konflik: Sebuah Pendekatan Terhadap
Perdamaian.

2. Komitmen Terpercaya (credible dalam kurun waktu tertentu. Disini


commitment) Hamas dinilai sebagai spoilers yang
Isu komitmen yang kredibel merujuk tidak ingin negosiasi tersebut
secara garis besar pada durabilitas dari terealisasikan. Beberapa hal yang perlu
hasil kesepakatan yang potensial, diketahui tentang upaya
khususnya mengenai persepsi pihak “mengacaukan” proses manajemen
bertikai terhadap lawannya atas konflik adalah bahwa: (i) spoilers dapat
kesungguhan bekerja sama dalam muncul dari dalam maupun luar proses
upaya manajemen konflik tersebut perdamaian; (ii) perilaku ini tidak
untuk mewujudkan kesepakatan hanya terjadi selama proses negosiasi
damai. Logika komitmen terpercaya ini atau pada proses negosiasi saja,
terkait dengan tiga asumsi, yaitu: (i) melainkan semua pendekatan
keberhasilan manajemen konflik manajemen konflik dapat dikacaukan
membutuhkan kerja sama dari dua atau dengan praktik ini; (iii) selanjutnya,
lebih pihak yang bertikai, (ii) pihak tindak kekerasan bukanlah satu-
bertikai tidak mempercayai lawan- satunya mekanisme mengacaukan
lawan mereka, (iii) pihak ketiga mampu (spoiling) yang bisa terjadi di proses
menjembatani ketidakpercayaan manajemen konflik.
tersebut.
Logika Negosiasi: Kunci “nirkekerasan”
3. Spoilers Dalam Resolusi Konflik
Spoilers adalah istilah yang diberikan Sejauh ini, kita sudah sering melihat
bagi para pemimpin dan pihak-pihak peristiwa kekerasan atau perang skala besar
lain yang percaya jika perdamaian yang yang terjadi. Namun hal yang luput dari
didapatkan melalui proses manajemen perhatian adalah bahwa posisi konfliktual
konflik dapat mengancam kekuasaan tersebut dapat tumbuh menjadi bibit-bibit
mereka, pandangan dunia terhadap kekerasan lainnya dalam waktu dekat jika
mereka, dan kepentingan-kepentingan tidak dikelola dengan baik. Oleh sebab itu,
yang ingin mereka capai. Sehingga idealnya tindakan pencegahan selalu
mereka memutuskan menggunakan dilakukan pada tahap awal konflik, sebelum
kekerasan untuk melemahkan dan/atau munculnya aksi kekerasan. Sedangkan
menggagalkan upaya perdamaian upaya manajemen dan resolusi dibutuhkan
tersebut. Sebagai contoh adalah ketika konflik sudah memasuki fase
tindakan Hamas yang meluncurkan kekerasan aktif. Konsep manajemen dan
roket dan mengirim pejuang militant resolusi memainkan peran dalam tahapan
bom bunuh diri kepada Israel ketika fase konflik itu sendiri, yang terbagi
PM Netanyahu mengumumkan bahwa menjadi pra-, intra-, dan pasca- konflik.
dirinya tidak akan bernegosiasi dengan Berdasarkan prosesnya, manajemen
pihak Palestina hingga dihentikannya dan resolusi konflik dibedakan dari segi
tindak teroris atau serangan lainnya tujuan “perdamaian” yang ingin dicapai.

27 | P a g e
Penny Kurnia Putri. Manajemen Konflik dan Resolusi Konflik: Sebuah Pendekatan Terhadap
Perdamaian.

Dengan meminjam konsep Galtung alasan mengapa negosiasi merupakan


mengenai perdamaian, Greig et al. (2019) langkah yang lebih baik dalam proses
mendemonstrasikan bahwa proses manajemen konflik dibandingkan
manajemen konflik lebih berfokus pada kekerasan. Pertama, negosiasi merupakan
terminologi “negative peace” (-P), yaitu alat resolusi konflik yang efisien. Hal ini
meredakan atau meniadakan tindak karena negosiasi mengurangi kematian dan
kekerasan terlebih dahulu (the absence of kerusakan yang diakibatkan oleh kekerasan,
violence), khususnya pada perang. membangun komitmen, dan memberikan
Sedangkan resolusi konflik memiliki visi manfaat. Kedua, negosisasi meningkatkan
lebih jauh, yakni fokus pada terminologi keuntungan jangka panjang dan
“positive peace” (+P). Perdamaian positif mengurangi pengaruh negatif dengan
tidak hanya berhenti pada berakhirnya membangun rasa saling percaya dalam
tindakan kekerasan saja, melainkan hubungan pihak yang berkonflik. Dan
termasuk pencapaian atas keadilan sosial ketiga, negosiasi membantu membentuk
dan hilangnya sumber kekerasan itu sendiri. hubungan bagi pihak yang berkonflik di
Bisa dikatakan jika (-P) merupakan pondasi masa depan (Greig et.al., 2019).
awal untuk menuju (+P). Untuk pihak-pihak yang bersengketa,
Maoz, dikutip dalam Greig et.al. negosiasi paling baik dianggap sebagai
(2019), mengidentifikasi tiga tujuan bagian dari proses tawar-menawar yang
fundamental dilakukannya manajemen lebih luas, dimana pihak yang bersengketa
konflik, antara lain: (i) untuk mengontrol bertukar proposal dan kontra-proposal
atau membatasi penggunaan kekerasan dalam upaya untuk menyelesaikan masalah
yang terjadi, dan bukan untuk yang diperdebatkan diantara mereka. Para
mengakhirinya, (ii) untuk mencegah konflik pihak yang berselisih juga menekan satu
menyebar ke area geografis yang lebih luas, sama lain dengan tujuan untuk berusaha
dan (iii) untuk mencegah bertambahnya membatasi pilihan masing-masing dan
pihak yang terlibat dalam konflik yang mengekstrak konsesi. Jika tidak dapat
dapat memperkeruh keadaan. Di sisi lain, mengandalkan diplomasi untuk
Burton, dikutip dalam Greig et.al. (2019), menyelesaikan masalah yang
mengatakan bahwa resolusi konflik dalam dipersengketakan, para pihak mungkin
format ideal berfungsi untuk mengeliminasi menggunakan kekerasan sebagai alat untuk
semua isu yang melatarbelakangi terjadinya menekan pihak lain agar menerima
konflik tersebut pada kali pertamanya, penyelesaian. Inti dari asumsi argumen ini
sehingga di masa depan masing-masing adalah bahwa para pihak pada awalnya
pihak tidak akan menemukan alasan untuk dapat salah memahami biaya dan manfaat
memulai pertarungan kembali. perang, yakni masing-masing pihak percaya
Dalam konteks manajemen konflik bahwa mereka dapat memperoleh hasil
dan resolusi konflik, negosisasi merupakan yang lebih baik melalui konflik daripada
cara yang lunak atau soft dalam menentukan melalui sebuah penyelesaian yang
proses perdamaian. Terdapat beberapa dinegosiasikan bersama.

28 | P a g e
Penny Kurnia Putri. Manajemen Konflik dan Resolusi Konflik: Sebuah Pendekatan Terhadap
Perdamaian.

Ketidakmampuan para pihak untuk menjadi faktor terjadinya dan berhasilnya


memperkirakan secara tepat biaya dan sebuah negosiasi. Hal ini karena ketika
manfaat konflik merupakan konsekuensi pihak yang berkonflik memahami
dari ketidakpastian yang dimiliki masing- pentingnya sebuah isu tersebut, maka dapat
masing pihak tentang kemampuan dan memengaruhi keinginan untuk bernegosiasi
komitmen militer pihak lain, yakni masing- dan menghasilkan perjanjian. Setelah
masing pihak memiliki insentif untuk melihat karakteristik dan isu yang terjadi
menggambarkan dirinya sebagai pihak dalam konflik, keadaan politik antara pihak
yang kuat dan berkomitmen tinggi terhadap yang berkonflik juga dapat memengaruhi
tuntutannya sebagai sarana untuk terjadinya negosiasi.
meningkatkan posisi tawarnya. Selama Negara dengan keadaan politik yang
perang, kekerasan memberikan proses baik akan lebih memungkinkan untuk
sinyal dimana ketika kedua belah pihak menawarkan negosiasi dibandingkan
belajar dari pertempuran mereka satu sama dengan negara dengan keadaan politik yang
lain, akhirnya mencapai penyelesaian rendah. Selain itu, konflik yang berlarut-
sebagai harapan mereka akan biaya larut dapat menambah potensi jumlah
pertempuran dan hasil akhir dari konflik itu pihak yang terlibat, dan semakin banyak
menjadi satu. Hasil di medan perang pihak yang terlibat maka proses negosiasi
memberikan informasi pada masing-masing akan lebih rumit. Oleh sebab itu, dapat
pihak akan kekuatan relatif keduanya dan disimpulkan bahwa setidaknya terdapat
prospek kemenangan. Selain fungsi sinyal empat hal yang dapat memengaruhi
itu, kekerasan juga membawa manfaat terjadinya negosiasi, yakni karakteristik,
dengan menyediakan sarana bagi pihak pentingnya isu, keadaan politik, dan jumlah
yang bertikai untuk mencari perbaikan pihak yang berkonflik.
dalam posisi tawar mereka, sekaligus Menurut Fearon, dikutip dalam Greig
melemahkan posisi musuh. et.al. (2019), saat proses tawar-menawar
Karakteristik konflik yang berbeda berjalan, para pihak mendengarkan,
memberikan implikasi yang berbeda pula mengamati dan bertukar informasi tentang
terhadap proses terjadinya negosiasi dan satu sama lain. Contohnya seperti kekuatan
keberhasilan proses tersebut. Perbedaan ini relatif, biaya dan manfaat perang, serta
juga mampu memberikan tantangan perkiraan output jika perang. Kemudian
tersendiri dalam proses negosiasi. Konflik masing-masing pihak akan menganalisis
sipil dan konflik antarnegara memiliki arti penting dari masalah yang dihadapi ke
proses yang berbeda dalam negosiasi. pihak lain, komitmen mereka terhadap
Konflik sipil biasanya memiliki proses yang posisi tawar tersebut, dan kemampuan yang
lebih rumit, karena memiliki permasalahan dapat mereka kumpulkan untuk
komitmen dan trust issue yang lebih besar mendukung atau mempertegas posisi itu.
daripada konflik antarnegara. Dalam hal ini, penggunaan kekerasan
Selain karakteristik konflik, isu yang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari
diperebutkan dalam sebuah konflik juga proses negosiasi antara pihak yang

29 | P a g e
Penny Kurnia Putri. Manajemen Konflik dan Resolusi Konflik: Sebuah Pendekatan Terhadap
Perdamaian.

bersengketa. Sejauh ini, semua pihak tidak dilakukan adalah mencapai kesepakatan.
akan dan tidak dapat mengandalkan Kedua hal ini sama-sama harus melalui
diplomasi untuk menyelesaikan masalah proses dan tantangan yang rumit. Sebelum
yang disengketakan, dan memiliki mencapai sebuah kesepakatan, pihak yang
kemungkinan menerapkan kekerasan berkonflik harus memastikan bahwa
sebagai alat untuk menekan pihak lain kepentingan mereka akan tercapai, dan
untuk menerima penyelesaian (Slantchev, komitmen dari pihak lawan untuk
2003). Contohnya dapat dilihat selama melaksanakan seluruh kesepakatan yang
perang saudara Mozambik dimana akan dibuat melalui proses negosiasi.
Resistance National of Mozambican Kerangka kerja dalam proses negosiasi
(RENAMO) menggunakan jenis strategi ini, merupakan “two level game,” dimana pada
yang diawali melalui penggunaan level pertama merupakan perwakilan dari
kekerasan untuk melemahkan pemerintah pihak yang berkonflik, dan level kedua
dengan harapan menyebabkan rezim adalah pemimpin dan konstituen dari
runtuh atau memilih opsi negosiasi (Heo & masing-masing pihak. Kesepakatan yang
DeRouen, 2007). telah dicapai melalui meja perundingan
Faktor kunci kapan dan mengapa para kemudian harus diratifikasi oleh masing-
pihak masuk ke meja negosiasi adalah masing pihak, baik dalam bentuk institusi
adanya pengakuan timbal balik para pihak formal maupun kumpulan elit informal.
yang bersengketa, bahwa (a) biaya konflik Untuk memastikan keberhasilan dalam
sangat tinggi, dan (b) kemungkinan bahwa negosiasi, pihak penawar harus memastikan
kekerasan akan menghasilkan alternatif bahwa tawaran kerja sama akan diterima
yang menguntungkan bagi status quo yang oleh pihak lawan. Hal ini karena
rendah. Hal ini karena negosiasi kesepakatan yang akan diratifikasi
menawarkan jalan keluar dari biaya dan merupakan kesepakatan yang bersifat
kerugian yang diakibatkan dari konflik jangka panjang dan mengikat pihak yang
yang terjadi. Adanya kebuntuan dan biaya bernegosiasi.
yang besar menciptakan kondisi dimana Setelah mencapai sebuah kesepakatan,
pihak yang berkonflik menyadari bahwa pihak yang berkonflik cenderung masih
negosiasi menawarkan manajemen konflik diliputi oleh rasa takut bahwa pihak lawan
yang lebih menjanjikan, dibandingkan terus akan melanggar kesepakatan yang telah
menerus menggunakan kekerasan hingga tercapai. Untuk itu, para pihak yang
salah satu pihak kalah. Pada akhirnya, bersengketa harus saling terbuka dengan
proses negosiasi hanya dapat terjadi jika adanya kebijakan yang transparan. Selain
pihak yang berkonflik menyadari bahwa keterbukaan antarpihak, dibutuhkan juga
berunding dan mencari jalan keluar yang ketentuan fear-reducing dan cost-increasing.
menguntungkan keduanya lebih baik Untuk mengurangi rasa takut, kesepakatan
daripada penggunaan kekerasan. dapat melibatkan jaminan pihak ketiga dan
Setelah berhasil melakukan proses kesepakatan pembagian kekuasaan.
negosiasi, langkah selanjutnya yang harus Hadirnya pihak ketiga dalam bentuk peace-

30 | P a g e
Penny Kurnia Putri. Manajemen Konflik dan Resolusi Konflik: Sebuah Pendekatan Terhadap
Perdamaian.

keeping force menjamin bahwa negara yang upaya manajemen dan resolusi konflik
lebih kuat tidak akan menyerang negara dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti
yang lebih lemah. Namun hadirnya pihak timing, credible commitment, dan spoilers.
ketiga tidak membawa jaminan akan Oleh sebab itu, manuver pihak ketiga dalam
terjaganya kesepakatan, karena pihak yang memainkan peran perdamaian harus
tidak memahami kesepakatan bisa saja disertai pertimbangan strategis yang
menganggap kesepakatan tidak adil dan berjenjang (jangka pendek/panjang).
berujung pada kekerasan. Selain itu, cost- Meskipun belum sepenuhnya berubah,
increasing juga tidak menjamin karena dapat pergeseran upaya penyelesaian konflik
berujung pada konflik yang berulang. Oleh sejauh ini sudah banyak menerapkan solusi-
karena itu, kunci dari keberhasilan dalam solusi yang dititikberatkan pada tindakan
sebuah kesepakatan adalah rasa saling nirkekerasan. Artinya sudah banyak yang
percaya. menyadari bahwa upaya perdamaian tidak
harus menunggu konflik pecah terlebih
KESIMPULAN dahulu, sehingga menjadi peluang untuk
Artikel ini telah melihat batasan teoritis dan upaya nirkekerasan lebih realistis dan
praktis dalam kajian manajemen dan implementatif.
resolusi konflik. Manajemen konflik dan
resolusi konflik adalah dua pendekatan DAFTAR PUSTAKA
yang berbeda atas dasar tujuannya. Namun ADR Times. (23 June 2021). Conflict
secara umum, keduanya saling bersinergi Management Vs Conflict Resolution.
untuk mewujudkan perdamaian yang utuh. https://www.adrtimes.com/conflict-
Manajemen konflik mengambil peran awal management-vs-conflict-
untuk menghadirkan perdamaian negatif, resolution/#:~:text=Conflict%20manag
disusul dengan resolusi konflik yang ement%20allows%20parties%20to,eli
berperan “menyempurnakan” upaya-upaya minate%20or%20mitigate%20the%20c
yang sudah dilakukan sebelumnya. Dapat onflict
disimpulkan bahwa batasan teoritis Boutros-Ghali, B. (1992). An agenda for
manajemen konflik terlihat pada penciptaan peace: Preventive diplomacy,
ruang bagi proses perdamaian seperti peacemaking and peace-keeping.
negosiasi. Sedangkan resolusi konflik International Relations, 11(3), 201–218.
terlihat pada perjanjian damai yang berhasil Butler, M. J. (2009). International Conflict
dibuat, dan aksi (building) setelahnya. Management. Routledge.
Meskipun ada aspek yang kerap Call, C. T., & Cook, S. E. (2003). On
tumpang-tindih dalam kajian praktisnya, Democratization and Peacebuilding.
yakni peace-keeping dan peace-making, Global Governance, 9, 233-246.
identifikasi dapat dilakukan dengan Dal, E.P. (2018). Rising Powers in
memverifikasi unsur tipe perdamaian International Conflict Management:
dalam kasus yang diamati. Lebih lanjut, An Introduction. Third World Quarterly,
sebagai sebuah pendekatan, keberhasilan

31 | P a g e
Penny Kurnia Putri. Manajemen Konflik dan Resolusi Konflik: Sebuah Pendekatan Terhadap
Perdamaian.

39(12), 2207-2221. DOI: https://www.bbc.com/news/world-


10.1080/01436597.2018.1503048 africa-61217999
D'Amato, S., Dian, M., & Russo, A. (2022). Heo, U., & DeRouen, K. (2007). Civil Wars of
Reaching for allies? The dialectics and the World: Major Conflicts Since World
overlaps between international War II. ABC-CLIO, Inc.
relations and area studies in the study Jeong, H-W. (2009). Conflict Management and
of politics, security and conflicts. Resolution: An introduction (1st ed).
Italian Political Science Review/Rivista Routledge.
Italiana Di Scienza Politica, 1-19. https://doi.org/10.4324/9780203864975
doi:10.1017/ipo.2022.13 Jeong, H-W. (2000). Peace and Conflict Studies:
Edler, K. (3 April 2022). Ukraine war: Europe’s An Introduction (1st ed). Routledge.
new security era, faced with Russian Joseph, O.B. (2015). Conflict Management
threat. BBC News. and Resolution in Nigeria Public
https://www.bbc.com/news/world- Sector. Review of Public Administration
europe-60960155 and Management, 4(8), 107-120.
Folarin, S.F. (2015). Types and Causes of Kaisupy, D. A., & Maing, S. G. (2021). Proses
Conflict (Readings in Peace and Conflict Negosiasi Konflik Papua: Dialog
Studies). Covenant University. Jakarta-Papua. Jurnal Ilmu Sosial Dan
https://core.ac.uk/download/pdf/32224 Humaniora, 10(1), 82–98.
691.pdf Lahiry, S. (2019). Conflict, Peace and
Galtung, J. (2007). Introduction: peace by Security: An International Relations
peaceful conflict transformation – the Perspective with Special Reference to
TRANSCEND approach. In C. Webel India. Millennial Asia, 10(1), 76-90.
& J. Galtung (eds). Handbook of Peace https://doi.org/10.1177/09763996198256
and Conflict Studies (pp. 14-32). 91
Routledge. Loney, H. (2019). The changing nature of
Graf, W., Kramer, G., & Nicolescou, A. resistance: East Timor on the
(2007). Counselling and training for international stage. International
conflict transformation and peace- Institute for Asian Studies (The
building: the TRANSCEND approach. Newsletter 83 Summer).
In C. Webel & J. Galtung (eds). https://www.iias.asia/the-
Handbook of Peace and Conflict Studies newsletter/article/changing-nature-
(pp. 123-142). Routledge. resistance-east-timor-international-
Greig, J. M., Owsiak, A.P., & Diehl, P.F. stage
(2019). International Conflict Long, W. (2021). Cooperation and Conflict in
Managemenet. Polity Press. International Relations. In W.
Hashim, M. (26 April 2022). Darfur: Why are Wilczynski & S. Brosnan (Eds.),
Sudan’s Janjaweed on the attack again?. Cooperation and Conflict: The Interaction
BBC News. of Opposites in Shaping Social Behavior
(pp. 7-25). Cambridge: Cambridge

32 | P a g e
Penny Kurnia Putri. Manajemen Konflik dan Resolusi Konflik: Sebuah Pendekatan Terhadap
Perdamaian.

University Press. resolution-and-conflict-


doi:10.1017/9781108671187.003 transformation-whats-the-difference/
Nugroho, L. (2021). Peran Komunikasi Sumita, B. (8 July 2020). Conflict Management.
dalam Manajemen Konflik. AL- Oxford Bibliographies.
IDZA’AH: Jurnal Dakwah Dan https://www.oxfordbibliographies.com
Komunikasi, 3(2), 1–11. /view/document/obo-
Paramma, P.R.T., Lewuk, M., Sagala, R., & 9780199743292/obo-9780199743292-
Elosak, I. (2021). Memahami Konflik 0004.xml#:~:text=Conflict%20managem
Bougainville di Papua Nugini: Analisis ent%20is%20not%20only,who%20spec
Kronologi, Aktor, Motivasi dan ialize%20in%20managing%20conflicts
Penyebab Konflik. Papua Journal of United Nations. (n.d). Terminology.
Diplomacy and International Relations, https://peacekeeping.un.org/en/termin
1(2), 121-136. DOI: ology
10.31957/pjdir.v1i2.1790 Väyrynen, T. (2018). Culture and international
Reimann, C. (2004). Assessing the state-of- conflict resolution: A critical analysis of
the-art in conflict transformation. In A. the work of John Burton. Manchester
Austin., M. Fischer., & N. Ropers. University Press. DOI:
Transforming Ethnopolitical Conflict (pp. https://doi.org/10.7765/9781526130990
41–66). Springer. Webel, C., & Galtung, J. (2007). Handbook of
Shonk, K. (28 December 2021). What is Peace and Conflict Studies. Routledge.
Conflict Resolution, and How Does It Yaqing, Q. (2018). Understanding International
Work? How to manage conflict at work Conflict. Conflux Center.
through conflict resolution. Program on https://www.confluxcenter.org/unders
Negotiation, Harvard Law School. tanding-international-conflict/
https://www.pon.harvard.edu/daily/co
nflict-resolution/what-is-conflict-
resolution-and-how-does-it-work/
Slantchev, B. L. (2003). The Principle of
Convergence in Wartime Negotiations.
American Political Science Review, 97(4),
621-632. DOI:
https://doi.org/10.1017/S000305540300
0911
Shaw, N. (18 November 2020). Conflict
Management, Conflict Resolution, and
Conflict Transformation: What’s the
Difference?. Pollack Peacebuilding.
https://pollackpeacebuilding.com/blog
/conflict-management-conflict-

33 | P a g e
Penny Kurnia Putri. Manajemen Konflik dan Resolusi Konflik: Sebuah Pendekatan Terhadap
Perdamaian.

TENTANG PENULIS
Penny Kurnia Putri adalah seorang dosen yang mengajar di Program Studi Hubungan
Internasional, Universitas Udayana. Penny memiliki ketertarikan pada isu-isu keamanan,
perdamaian, dan pembangunan.

CARA SITASI ARTIKEL INI:


Putri, P.K. (2022). Manajemen Konflik dan Resolusi Konflik: Sebuah Pendekatan Terhadap
Perdamaian. Papua Journal of Diplomacy and International Relations, 2(1), 16-34. DOI:
10.31957/pjdir.v2i1.1945

34 | P a g e

You might also like