BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Telaah Pustaka
1. Konsep Dasar Evidence-based practice
a. Definisi Evidence-based practice
Evidence-based practice ialah suatu strategi dalam
memperoleh pengetahuan dan keterampilan untuk dapat
meningkatkan tingkah laku yang positif dengan menggabungkan
bukti penelitian terbaik sehingga evidence-based practice dapat
diterapkan ke dalam praktik keperawatan dan membuat suatu
keputusan perawatan kesehatan yang lebih baik (Bostwick, 2013.
Bloom et al, 2009. Azmoude et al, 2017).
Evidence-based practice ialah kerangka kerja untuk menguji,
mengevaluasi dan menerapkan temuan penelitian dengan tujuan
meningkatkan pelayanan keperawatan yang akan diberikan
kepada pasien (Melnyk, Fineout-Overholt et al, 2012). Pelayanan
kesehatan yang bersifat evidence-based practice secara
internasional telah diakui sebagai pendekatan yang bersifat dapat
menyelesaikan permasalahan serta menekankan pada penerapan
penelitian yang terbaik untuk membantu perawat profesional dan
calon perawat profesional mendapatkan ilmu yang terbaru (Stokke
et al, 2014 . Chang & Crowe, 2011).
28
29
b. Tujuan Evidence-based practice
Tujuan pendekatan evidence-based practice untuk
menentukan bukti-bukti terbaik sebagai jawaban dari pertanyaan
klinis yang muncul dan kemudian diaplikasikan ke dalam praktek
keperawatan untuk meningkatkan kualitas perawatan yang
diberikan kepada pasien. Jika pada saat ini praktek keperawatan
tidak memanfaatkan evidence-based practice pada saat di lahan
praktek tindakan keperawatan akan sangat ketinggalan dengan
perkembangan ilmu-ilmu terbaru dan seringkali akan berdampak
merugikan bagi pasien (Melnyk & Fineout, 2011).
Oleh karena itu, memasukan evidence-based practice
kedalam kurikulum pendidikan keperawatan sangatlah penting.
Tujuan utama kurikulum memasukan evidence-based practice
dalam pendidikan keperawatan pada sarjana dan profesi ners
untuk kedepannya dapat menyiapkan perawat profesional yang
mempunyai kemampuan dalam memberikan pelayanan
keperawatan yang berkualitas berdasarkan bukti (Ashktorab,
2015).
c. Komponen Kunci Evidence-based practice
Menurut Drisko (2017), mengembangkan evidence-based
practice model kontemporer dan menyatakan bahwa evidence-
based practice memiliki 4 komponen, yaitu pertama, keadaan
klinis klien saat ini; kedua, bukti penelitian terbaik yang relevan;
30
ketiga; nilai dan preferensi klien; keempat, keahlian klinis dari
praktisi.
Menurut Melnyk & Overholt (2011), ada 3 komponen dalam
evidence-based practice yaitu pertama, adalah bukti eksternal
berupa hasil penelitian, teori-teori yang lahir dari penelitian,
pendapat dari ahli dan hasil diskusi panel para ahli; kedua, bukti
internal berupa penilaian klinis, hasil dari proyek peningkatan
kualitas dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan klinik,
penggunaan sumber daya tenaga kesehatan yang diperlukan
untuk melakukan perawatan; ketiga, memberikan manfaat terbaik
untuk kondisi pasien saat itu dan meminimalkan pembiayaan.
d. Langkah-Langkah Penerapan Evidence-based practice
Menurut Melnyk, Ford, Long, & Overholt (2014), terdapat
tujuh langkah dalam penerapan evidence-based practice dimulai
dengan menumbuhkan semangat melakukan pencarian, budaya
dan lingkungan karena tanpa unsur-unsur ini, tenaga kesehatan
tidak akan secara rutin untuk menerapkan evidence-based
practice pada praktek kesehariannya.
Adapun tujuh langkah dalam penerapan evidence-based
practice yaitu pertama, menumbuhkan semangat penyelidikan
bersama dengan budaya evidence-based practice dan lingkungan;
kedua, menanyakan pertanyaan klinik dengan menggunakan
format PICO/PICOT yaitu P (Patient atau populasi), I (Intervention
31
atau tindakan), C (Comparison Intervention atau intervensi yang
akan dibandingkan), O (Outcome atau hasil) dan T (Time atau
waktu); Ketiga, mencari dan mengumpulkan bukti ilmiah yang
paling relevan dengan menggunakan format PICO/PICOT;
Keempat, melakukan penilaian kritis terhadap bukti ilmiah.
Kelima, mengintegrasikan bukti-bukti ilmiah yang terbaik
dengan salah satu ahli di klinik serta memperhatikan keinginan
dan manfaatnya bagi pasien dalam membuat keputusan atau
perubahan; Keenam mengevaluasi hasil dari perubahan yang
telah diputuskan berdasarkan bukti-bukti dan yang ketujuh
menyebarluaskan hasil dari evidence-based practice.
Menurut Leen, Bell dan McQuillan (2014). Paul Glasziou dan
Salisbury (2012), menjabarkan terdapat 5 langkah dalam
penerapan evidence-based practice atau biasa disebut 5A yaitu;
pertama, ask ialah pertanyaan yang berfokus pada pasien dan
perawatan individu, Sebagian besar pertanyaan klinis dapat dibagi
menjadi empat komponen yang disingkat menjadi PICO/PICOT;
Kedua, acquire yaitu mendapatkan bukti terbaik yang tersedia dan
relevan; Ketiga, appraise yaitu menilai bukti; Keempat, apply yaitu
menerapkan bukti dan melibatkan dalam pengambilan keputusan
dengan pasien atau kelompok individu; Kelima, assess yaitu
menilai dan menyebarluaskan hasil.
32
e. Model Evidence-based practice
Beberapa model evidence-based practice telah
dikembangkan sebagai panduan perawatan kesehatan profesional
untuk implementasi berbasis bukti dalam lahan praktik. Menurut
(Leen, Bell dan McQuillan, 2014. Melnyk dan Fineout, 2011)
menggambarkan beberapa model yang dapat diterapkan yaitu:
1) Model Johns Hopkins, pada model John Hopkin’s memiliki 3
domain prioritas masalah yaitu dalam praktek keperawatan,
pendidikan dan penelitian. Dalam pelaksanaanya model john
hopkin’s ini memiliki tahapan awal yaitu mengidentifikasi
evidence-based practice, kemudian membentuk tim,
memperoleh, menilai dan meringkas adanya bukti-bukti yang
akan direkomendasi dalam praktik mulai dari pelaksanakan
sampai dengan evaluasi.
2) Model Stetler, model ini merupakan model yang tidak
berorientasi pada perubahan formal tetapi pada perubahan
pada individu perawat ataupun organisasi. Dalam tahap settler
berfokus pada tahapan yaitu persiapan penelitian bukti ilmiah,
memvalidasi hasil dari temuan, sintesis dari hasil temuan dan
membuat suatu keputusan mengenai dilakukan atau tidaknya
bukti ilmiah tersebut untuk perubahan pelaksanakan dalam
praktik, penerjemahan dan menerapkan hasil temuan bukti
ilmiah ke dalam praktik, dan kemudian melakukan evaluasi.
33
3) Model ACE Star, merupakan suatu model transformasi dari
pengetahuan seseorangan yang berdasarkan dari hasil
research, adapun tahapan dalam ACE star ini ialah penemuan
pengetahuan, kemudian ringkasan yang telah dibuat
berdasarkan bukti ilmiah, memahami dan menerjemahkan bukti
ilmiah untuk kemudian dijadikan bahan rekomendasi dalam
praktik, integrasi ke dalam praktik, dan yang terakhir yaitu tahap
evalusi dimana untuk menilai bukti pengetahuan yang telah di
dapatkan.
4) Model IOWA, meliputi pertama, evaluasi pengetahuan terkait
dengan kebijakan suatu institusi dan sebagai pencetus
terjadinya suatu masalah; kedua, mengumpulkan dan kritik
hasil bukti penelitian; ketiga, memberikan keputusan mengenai
apakah dapat dilakukan atau tidak perubahan dalam praktik
klinik dan apakah memang pantas diterapkan di kemudian hari;
keempat, evaluasi dari struktur proses dan hasil yang
didapatkan.
Dalam pelaksanaan model evidence-based practice, untuk
mahasiswa sarjana keperawatan dan mahasiswa profesi
keperawatan disarankan untuk menggunakan model jhon hopkin’s
dan model ACE star karena prosesnya lebih sederhana dan sama
dengan proses keperawatan yang biasa dilakukan di rumah sakit
(Schneider dan Whitehead, 2013).
34
f. Keuntungan dan Kerugian Penggunaan Evidence-based practice
Menurut Yates (2012), evidence-based practice memiliki
banyak keuntungan dalam membantu tenaga kesehatan
khususnya dokter, perawat atau mahasiswa untuk dapat membuat
suatu keputusan klinis pada saat dilahan praktek berdasarkan
pengalaman pribadi atau orang lain yang telah di kembangkan
menjadi suatu bukti ilmiah, serta dalam menerapakan evidence-
based practice biaya yang digunakan tidak banyak. Adapun
keuntungan lain dari evidence-based practice terletak pada proses
pengambilan keputusan, evidence-based practice mendorong
para konselor kesehatan untuk dapat mempertimbangkan lebih
luas tentang efektivitas perawatan yang akan di berikan serta
menjadikan konselor lebih terampil dalam mencari literature untuk
pengobatan yang lebih baik.
Kerugian atau kelemahan dari evidence-based practice ini
sendiri ialah dalam proses pengambilan keputusan membutuhkan
tuntutan waktu yang digunakan lebih banyak dan kerja yang
ekstra dalam mengambil keputusan klinis sehingga perawat atau
mahasiswa akan lebih banyak pekerjaan dalam menentukan
intervensi yang akan diberikan pada pasien, adapun kerugian lain
dalam evidence-based practice ialah konselor yang biasanya
menggunakan evidence-based practice dalam mengambil
keputusan klinik akan memiliki hasil yang lebih unggul
35
dibandingkan konselor yang tidak menggunakan evidence-based
practice.
g. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Evidence-based practice
Menurut Ligita (2012), Perawat atau tenaga kesehatan
lainnya harus memberikan pelayanan terbaik kepada setiap
pasien. Sebelum membuat keputusan klinis yang terbaik untuk
diberikan kepada pasien tenaga kesehatan harus mengacu pada
hasil-hasil penelitian terkini dan terbaik yaitu dengan cara
meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan tersebut, faktor-
faktor yang mendukung dalam penerapan evidence-based
practice salah satunya ialah pengetahuan.
Menurut Shi, Chesworth, Law, Haynes dan MacDermid
(2014), perilaku penggunaan evidence-based practice mengacu
pada apakah tenaga kesehatan dapat menerapkan pengetahuan
tentang evidence-based practice untuk masalah klinis dilahan
praktek. Pengetahuan dan prilaku dalam menerapakan evidence-
based practice mengacu pada kinerja para praktisi dari kegiatan
instrumental yang terkait dengan evidence-based practice seperti
mencari atau mendapatkan bukti ilmiah yang terbaik untuk
diterapkan dalam lahan praktik klinik. Adapun teori dari faktor
tersebut adalah sebagai berikut.
36
2. Faktor Pengetahuan
a. Definisi Pengetahuan tentang Evidence-based practice
Pengetahuan ialah hasil tahu seseorang terhadap suatu
objek, pada dasarnya pengetahuan terdiri dari sejumlah fakta dan
teori yang memungkinkan seseorang untuk dapat memecahkan
suatu masalah yang sedang dihadapinya (Notoatmodjo, 2014).
Pengetahuan tentang evidence-based practice ialah dimana
seorang individu mampu untuk memahami tentang konsep
evidence-based practice yang berdasarkan pada kemampuan
dalam menjelaskan prinsip-prinsip dasar dari evidence-based
practice. Dalam menilai pemahaman individu terhadap
pengetahuan evidence-based practice maka perlu dilakukan
indentifikasi pertanyaan yang sesuai untuk menjawab pertanyaan
klinis dilapangan (Tilson, et al., 2011).
b. Tingkat Pengetahuan
Menurut Wawan & Dewi (2010), Pengetahuan seseorang
mempunyai 6 tingkatan yang berbeda-beda, yaitu:
1) Tahu (Know)
Tingkatan yang paling rendah yang dimiliki sesorang,
dikatakan bahwa individu tersebut tahu ketika dapat mengingat
kembali suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Tahu
merupakan kata kerja yang digunakan untuk mengukur
seseorang yang tahu tentang apa yang dipelajari yaitu dapat
37
menyebutkan, menguraikan, mengidentifikasi, menyatakan dan
sebagainya.
2) Memahami (Comprehension),
Memahami suatu objek bukan hanya sekedar tahu
terhadap objek tersebut, dan juga tidak sekedar menyebutkan,
tetapi orang tersebut dapat menginterpretasikan secara benar
tentang objek yang diketahuinya. Seseorang yang telah
memahami objek dan materi harus dapat menjelaskan,
menyebutkan contoh, menarik kesimpulan, meramalkan
terhadap suatu objek yang dipelajari.
3) Aplikasi (Application)
Aplikasi merupakan kemampuan seseorang dalam
menggunakan materi yang telah dipelajari kemudian diterapkan
pada situasi atau kondisi yang sebenarnya (real). Aplikasi dapat
diartikan apabila seseorang yang telah memahami objek yang
dimaksud dapat menggunakan ataupun mengaplikasikan
prinsip yang diketahui tersebut pada situasi atau kondisi yang
lain.
4) Analisis (Analysis)
Analisis ialah kemampuan seseorang dalam menjabarkan
atau memisahkan, lalu kemudian mencari hubungan antara
komponen-komponen dalam suatu objek atau masalah yang
diketahui ciri-ciri bahwa pengetahuan seseorang telah sampai
38
pada tingkatan ini adalah jika seseorang tersebut dapat
membedakan, memisahkan, mengelompokkan, membuat
bagan (diagram) terhadap pengetahuan objek tersebut.
5) Sintesis (Synthesis)
Sintesis ialah kemampuan seseorang dalam menyusun
atau meletakkan dalam suatu hubungan yang logis dari
komponen pengetahuan yang sudah dimilikinya. Dengan kata
lain suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari
formulasi yang sudah ada sebelumnya.
6) Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ialah kemampuan untuk melakukan suatu
penilaian terhadap materi atau objek. Dimana dalam penilaian-
penilaian ini harus berdasarkan suatu kriteria yang telah
ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah
ada.
c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan
1) Usia
Usia mempengaruhi daya tangkap dan pola pikir
seseorang. Semakin bertambah usia akan semakin bertambah
pula daya tangkap dan pola pikir sehingga pengetahuan yang
diperolehnya semakin membaik. Pada usia muda, individu akan
lebih berperan aktif dalam masyarakat dan kehidupan sosial,
serta lebih banyak melakukan persiapan untuk menyesuaikan
39
diri menuju usia tua. Pada usia ini kemampuan intelektual,
pemecahan masalah, dan kemampuan verbal hampir tidak ada
penurunan (Budiman & Agus, 2013).
2) Pengalaman
Pengalaman merupakan guru yang terbaik (experience is
the best teacher), pepatah tersebut bisa diartikan bahwa
pengalaman merupakan sumber pengetahuan atau
pengalaman yang diperoleh dari suatu kebenaran. Oleh sebab
itu pengalaman pribadi pun dapat dijadikan sebagai upaya
untuk memperoleh pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan cara
mengulang kembali pengetahuan yang diperoleh dalam
memecahkan persoalan yang dihadapai pada masa lalu
(Notoatmodjo, 2010).
3) Pendidikan
Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang semakin
banyak pula pengetahuan yang dimiliki. Sebaliknya semakin
pendidikan yang kurang akan mengahambat perkembangan
sikap seseorang terhadap nilai-nilai yang baru diperkenalkan
(Nursalam dan Efendi, 2012).
4) Informasi / Media Massa
Infomasi yang diperoleh baik dari pendidikan formal
maupun nonformal dapat memberikan pengaruh jangka pendek
(immediate impact) sehingga menghasilkan perubahan atau
40
peningkatan pengetahuan. Berkembangnya teknologi akan
menyediakan bermacam-macam media massa yang dapat
mempengaruhi pengetahuan seseorang. Adanya informasi baru
mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi
terbentuknya pengetahuan terhadap hal tersebut (Budiman &
Agus, 2013).
5) Pekerjaan
Pekerjaan adalah kebutuhan yang harus dilakukan
terutama untuk menunjang kehidupannya dan kehidupan
keluarganya. Pekerjaan bukanlah sumber kesenangan, tetapi
lebih banyak merupakan cara mencari nafkah yang
membosankan berulang dan banyak tantangan (Nursalam dan
Efendi, 2012).
d. Jenis Pengetahuan
Menurut Riyanto & Budiman (2014), Pemahaman
mahasiswa mengenai pengetahuan dalam dunia pendidikan
kesehatan khususnya evidence-based practice sangat beraneka
ragam diantaranya sebagai berikut:
1) Pengetahuan implisit adalah pengetahuan yang tertanam
dalam bentuk pengalaman seseorang dan yang bersifat tidak
nyata, seperti keyakinan pribadi dan prinsip yang sulit untuk
ditransfer ke orang lain baik secara tertulis maupun lisan.
41
2) Pengetahuan eksplisit adalah pengetahuan yang di dapat
melalui jenis informasi seperti internet yang berupa dokumen,
data dan sejenisnya. Pengetahuan eksplisit dapat dengan
mudah diartikulasikan dan diakses. Sebagian besar bentuk
pengetahuan eksplisit dapat disimpan dengan mudah dalam
berbagai bentuk media seperti kertas, secara digital.
e. Pengukuran Pengetahuan tentang Evidence-based practice
Alat ukur yang digunakan dalam mengukur pengetahuan
tentang evidence-based practice menggunakan kuesioner
EBPQ/Evidence-based practice Questioner dari (Upton & Upton,
2006) yang telah dilakukan proses cross culture di-Indonesia oleh
(Fajarini, Rahayu, & Setiawan, 2018) terdiri dari 14 pertanyaan
yang berisikan: pertama, keterampilan penelitian; kedua,
keterampilan dalam mengunakan teknologi informasi;
Ketiga, memantau dan mengevaluasi keterampilan praktik;
keempat, mengubah kebutuhan informasi anda menjadi
pertanyaan penelitian; kelima, pengetahuan tentang jenis dan
sumber informasi; keenam, kemampuan mengetahui kesenjangan
antara praktik dengan ilmu dalam praktik professional anda;
ketujuh, pengetahuan tentang bagaimana mendapatkan artikel
ilmiah; kedelapan, kemampuan untuk membandingkan literatur/
bukti ilmiah dengan standar yang ada secara kritis;
42
Kesembilan, kemampuan untuk menentukan seberapa valid
(mendekati kebenaran) literature/bukti ilmiah yang tersedia;
kesepuluh, kemampuan untuk menentukan seberapa berguna
(dapat diterapkan secara klinis) literature/bukti ilmiah yang
tersedia; kesebelas, kemampuan untuk menerapkan informasi
pada masing-masing kasus; keduabelas, berbagi ide dan
informasi dengan rekan kerja; ketigabelas, menyebarkan ide baru
terkait perawatan kepada rekan kerja; keempatbelas, kemampuan
untuk mengevaluasi kembali praktik anda sendiri.
f. Kategori Pengetahuan
Menurut Arikunto (2006), untuk mengetahui kualitas
pengetahuan yang dimiliki oleh sesorang dapat dibagi menjadi tiga
tingkatan yaitu:
1) Tingkat pengetahuan baik, jika skor atau nilai yang di dapatkan
ialah 76 - 100% dari seluruh pertanyaan.
2) Tingkat pengetahuan cukup baik, jika skor atau nilai yang di
dapatkan ialah 56 - 75% dari seluruh pertanyaan.
3) Tingkat pengetahuan kurang baik, jika skor atau nilai yang di
dapatkan ialah < 56 % dari seluruh pertanyaan.
43
3. Konsep Dasar Kesiapan Penerapan pada Evidence-based
practice
a. Definisi Kesiapan Penerapan pada Evidence-based practice
Kesiapan penerapan evidence-based practice ialah kondisi
seseorang yang membuat dirinya siap untuk dapat memberikan
tindakan keperawatan dengan pengetahuan yang ia miliki agar
dapat membantu dalam berkontribusi secara produktif untuk
mencapai tujuan pada saat di lahan praktik (Makki, Salleh,
Memon, & Harun, 2015. Slameto, 2010).
Menurut Saunders & Vehvilainen-Julkunen (2015), Kesiapan
mahasiswa profesi ners dalam menerapkan evidence-based
practice meliputi beberapa faktor yang berkaitan dengan
pengetahuan dan keterampilan terkait evidence-based practice,
budaya tempat ia berkerja, kebutuhan dalam informasi, tingkat
pendidikan yang lebih tinggi, pengalaman dalam bidang
keperawatan dan usia yang lebih muda.
Menurut AbuRuz, Hayeah, Al-Dweik dan Al-Akash (2017),
mahasiswa profesi ners yang menerapkan evidence-based
practice membutuhkan keterampilan seperti melakukan pencarian
literatur dan mengevaluasi bukti, Pengetahuan ialah salah satu
kunci dalam penerapan evidence-based practice pada lahan
praktek.
44
b. Prinsip-Prinsip Kesiapan
Menurut Slameto (2010), prinsip-prinsip kesiapan harus
meliputi:
1) Semua aspek perkembangan dalam berinteraksi (saling
pengaruh dan memengaruhi)
2) Kematangan jasmani dan rohani, untuk memperoleh manfaat
dari pengalaman
3) Pengalaman-pengalaman mempunyai pengaruh yang positif
terhadap kesiapan.
4) Kesiapan dasar dalam kegiatan tertentu terbentuk dalam
periode tertentu selama masa pembentukan dalam masa
perkembangan.
c. Komponen Kesiapan Penerapan
Menurut Ligita (2012), Kesiapan dalam menerapkan sesuatu
memiliki 3 point utama pertanyaan klinikal yaitu, pengetahuan
dalam menilai pemahaman sesorang tentang statistik dan bahasa
dalam artikel penelitian, keterampilan dalam mencari literatur dan
mengevaluasi hasil penelitian sebelum digunakan dalam lahan
praktik dan membaca serta memahami artikel penelitian seperi
menentukan dan membandingkan penelitian kuantitatif dan
kualitatif dan yang terakhir ialah aktivitas yang mengarah kepada
evidence-based practice seperti Identifikasi sumber daya/
kelompok yang secara aktif untuk mendukung evidence-based
45
practice dan perawat yang sudah memiliki keahlian di bidang
evidence-based practice bersedia untuk membimbing perawat
klinik yang berminat dalam menerapkan tindakan yang bersifat
evidence-based practice di lahan praktek.
d. Alat ukur kesiapan penerapan evidence-based practice
Alat ukur yang digunakan untuk kesiapan penerapan
evidence-based practice ialah kuesioner dari (Melnyk, Overholt, &
Mays, 2008) yang terdiri dari 18 yang telah dilakukan proses
penerjemahan di Balai Bahasa kampus Universitas
Muhammadiyah Kalimantan Timur, adapun pertanyaannya yaitu
pertama menggunakan evidence-based practice untuk mengubah
praktik klinik; kedua, melakukan penilaian secara kritis terhadap
bukti dari studi penelitian; ketiga, membuat pertanyaan PICO (P:
Pasien, polulasi dan problem, I: Intervensi atau indikator, C:
Pembanding atau control, O: Hasil) tentang praktik klinis .
Keempat, mendiskusikan evidence-based practice dari studi
penelitian bersama rekan sejawat secara informal; kelima,
mengumpulkan data terkait masalah pasien; keenam, berbagi
evidence-based practice dari studi penelitian dalam bentuk format
laporan atau persentasi kepada lebih dari 2 rekan sejawat;
ketujuh, mengevaluasi hasil dari perubahan praktik klinis;
kedelapan, berbagi pedoman evidence-based practice kepada
rekan sejawat; kesembilan, berbagi evidence-based practice dari
46
studi penelitian kepada pasien atau anggota keluarga pasien;
kesepuluh, berbagi evidence-based practice dari studi penelitian
kepada anggota tim dari berbagai disiplin ilmu.
Kesebelas, membaca dan menilai studi penelitian klinis
secara kritis; keduabelas, mengakses kumpulan database dari
Cochrane Library untuk merangkum dan menafsirkan hasil
penelitian medis; ketigabelas, mengakses pedoman nasional
Clearinghouse yaitu database dari pedoman evidence-based
practice; keempat belas, menggunakan pedoman Evidence-based
practice atau ulasan sistematis (Cochrane Library, NCBI, Google
Schoolar dll) untuk mengubah praktik klinis di tempat saya
bekerja; kelimabelas, mengevaluasi inisiatif keperawatan dengan
mengumpulkan hasil data pasien; keenambelas, berbagi data
hasil yang telah saya kumpulkan dengan rekan-rekan sejawat;
ketujuhbelas, mengubah praktik berdasarkan hasil data pasien
dan yang terakhir mempromosikan penggunaan Evidence-based
practice kepada rekan sejawat saya.
4. Konsep Mahasiswa Profesi Ners
a. Definisi Mahasiswa Profesi Ners
Mahasiswa ialah seseorang yang sedang belajar di
perguruan tinggi baik universitas, institusi maupun akademi.
Mareka yang sudah terdaftar sebagai salah satu murid di
perguruan tunggu dapat disebut sebagai mahasiswa. Mahasiswa
47
ialah generasi penerus bangsa yang diyakini mampu untuk
bersaing, dapat mengharumkan nama bangsa dan menjadi pribadi
yang terpelajar dengan wawasan, pengetahuan, keterampilan dan
mampu menyatukan serta menyampaikan pikiran dan hati nurani
untuk memajukan bangsa (Amir, 2010. Hartaji, 2012. Santoso,
2012).
Program pendidikan ners diharapakan dapat menghasilkan
perawat yang profesional dengan sikap, tingkah laku dan
akuntabel dalam melaksanakan asuhan/praktik keperawatan
dasar hingga dengan kerumitan tertentu secara mandiri. Sebagai
perawat professional untuk memenuhi kebutuhan objektif pasien
dan untuk melakukan supervisi praktik keperawatan mereka
dituntut untuk memiliki kemampuan dalam meningkatkan mutu
pelayanan atau memberi asuhan keperawatan dengan
memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah maju
secara tepat guna, serta mampu untuk melaksanakaan riset
keperawatan dasar dan penerapan yang sederhana. Program
pendidikan ners memiliki landasan keilmuan yang kokoh dan
harus memiliki landasan ke-profesional yang mantap sesuai
dengan sifatnya sebagai pendidikan profesi (Nursalam & Efendi,
2012).
48
b. Tujuan Profesi Ners
Tujuan dari program profesi ners yang nantinya akan dicapai
ialah menyelenggarakan pembelajaran didalam kelas maupun
dilapangan, melakukan pemilihan hasil riset dan mengabdikan diri
kepada masyarakat dalam lingkup akademik yang kondusif,
aspiratif, transparan dan akuntabel (Kemenkes, 2018). Adapun
sasarannya pendidikan profesi ners ialah:
1) Terwujudnya sistem pembelajaran yang berorientasi pada
mahasiswa SCL (student centered learning) dengan
memanfaatkan teknologi terkini dan berbasis sistem
penjaminan mutu perguruan tinggi pada setiap semester.
2) Terselenggaranya penelitian dalam bidang keperawatan oleh
mahasiswa pada akhir pendidikan dan dosen setiap tahun.
3) Tercapainya pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat
berdasarkan dengan hasil riset yang bersifat evidence-based
practice guna untuk memenuhi kebutuhan masyarakat pada
setiap semester.
4) Terwujudnya tata kelola program yang baik, transparan,
aspiratif dan akuntabel (good governance).
B. Penelitian Terkait
1. Hasniatisari Harun, Yusshy Kurnia Herliani dan Anita Setyawati
(2018), meneliti tentang “Hubungan Pengetahuan Terhadap
Kompetensi Mahasiswa Profesi Ners Dalam Penerapan Evidence
49
Based Practice”, Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif
deskriptif korelasi dengan teknik pengambilan sampel menggunakan
total sampling dengan jumlah sampel 120 responden. Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan
antara pengetahuan dengan kompetensi mahasiswa program profesi
ners dalam penerapan evidence based practice nilainya p value
(0,01) < α (0,05).
2. Titan Ligita (2012), melakukan penelitian tentang “Pengetahuan,
Sikap dan Kesiapan Perawat Klinisi Dalam Implementasi Evidence-
Base Practice”. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross
sectional dengan teknik pengambilan sampel menggunakan
sampling convenience jumlah sampel 66 responden. Hasil penelitian
ini menunjukan bahwa hubungan antara pengetahuan akan konsep
evidence based practice hubungan antara pengetahuan akan konsep
evidence-based practice didapatkan nilai Pearson’s r correlation
adalah 0,168 yang bermakna adanya hubungan yang bermakna
antara pengetahuan akan konsep evidence-based practice.
3. Melnyk M. B. et all. (2008), melakukan penelitian “The Evidence-
based practice Beliefs and Implementation Scales: Psychometric
Properties of Two New Instruments”. Penelitian ini menggunakan
metode non probability sampling yaitu accidental sampling pada saat
peneliti menghadiri lokakarya pendidikan dengan jumlah sampel
penelitian ini berjumlah 394 responden yang semuanya terdiri dari
50
perawat. Hasil penelitian ini diperoleh nilai Alpha Cronbach
penerapan EBP ialah (0.96).
4. Anita Setyawati, Hasniatisari Harun dan Yusshy Kurnia Herliani
(2017), meneliti tentang “Peningkatan pengetahuan perawat dan
bidan tentang evidence-based practice melalui pelatihan penerapan
evidence-based practice”. Penelitian ini menggunakan pendekatan
pre test-post test design dengan jumlah sampel 14 responden. Uji
Hipotesis menggunakan uji Wilcoxon dengan hasil yang diperoleh
ialah (p=0.000) dengan nilai rerata pengetahuan sebelum pelatihan
(6.14) dan setelah pelatihan (8.29).
51
C. Kerangka Teori Penelitian
Kerangka teori ialah suatu uraian yang menyatakan bagaimana
hubungan suatu teori dengan faktor-faktor yang penting dalam suatu
penelitian (Notoatmodjo, 2014). Adapun kerangka teori dalam penelitian
ini sebagai berikut:
Gambar 2.1
Kerangka Teori Penelitian
Jenis-Jenis Pengertian Kategori
Pengetahuan pengetahuan Pengetahuan
1) Pengetahuan Pengetahuan 1) Pengetahuan baik
implisit adalah tentang evidence- jika persentase
pengetahuan yang based practice ialah 76 - 100 %
tertanam dalam dimana seorang 2) Pengetahuan
bentuk individu mampu cukup jika
pengalaman untuk memahami persentase
seseorang. tentang konsep 56 - 75 %
2) Pengetahuan evidence-based 3) Pengetahuan
eksplisit adalah practice kurang baik jika
pengetahuan yang persentase < 56 %
di dapat melalui (Tilson, et al.,
media informasi 2011). (Arikunto, 2006)
(Riyanto & Budiman,
2014)
Kesiapan penerapan
evidence-based practice
a. Definisi (AbuRuz, Hayeah, Al-
Dweik dan Al-Akash, 2017) Mahasiswa
b. Prinsip - prinsip kesiapan Profesi
(Slameto, 2010) Ners
c. Komponen kesiapan (Ligita,
2012)
52
D. Kerangka Konsep Penelitian
Kerangka konsep ialah suatu teori yang menjelaskan adanya
keterkaitan antar variabel (baik variabel yang diteliti maupun yang tidak
diteliti), kerangka konsep akan membantu peneliti dalam
menghubungkan hasil penemuan dengan teori yang ada (Nursalam,
2013). Adapun kerangka konsep penelitian ini adalah sebagai berikut:
Gambar 2.2
Kerangka Konsep Penelitian
Pengetahuan Kesiapan penerapan
evidence-based practice
1. Baik 75 - 98.
2. Cukup baik 55 - 1. Baik ≥ median 32.00.
74. 2. Kurang baik < median
3. Kurang baik < 55. 32.00
Variabel Independen Variabel Dependen
E. Hipotesis Penelitian
Menurut Nursalam (2013) hipotesis ialah jawaban sementara dari
rumusan masalah atau pertanyaan penelitian, hipotesis terbagi menjadi
2 yaitu, Hipotesis nol (Ho) yaitu hipotesis yang digunakan untuk
interprestasi hasil yang besifat sebab atau akibat dan Hipotesis
alternatif (Ha) yaitu hipotesis yang menyatakan suatu hubungan antara
dua variabel atau lebih.
1. Hipotesis Nol (Ho)
Ho : Tidak terdapat hubungan antara pengetahuan dengan kesiapan
penerapan evidence-based practice pada mahasiswa profesi
ners Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur.
53
2. Hipotesis Alternatif (Ha)
Ha : Terdapat hubungan antara pengetahuan dengan kesiapan
penerapan evidence-based prcatice pada mahasiswa profesi
ners Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur.
Adapun kesimpulan hipotesis yang akan di dapatkan pada
penelitian ini, yaitu:
1. Ho di tolak yang artinya terdapat hubungan yang bermakna antara
variabel independen dan variabel dependen.
2. Ho di terima yang artinya tidak terdapat hubungan yang bermakna
antara variabel independen dan variabel dependen.