Media Gizi Pangan, Vol.
25, Edisi 1, 2018 Tingkat Pendidikan Ibu, ASI Eksklusif
TINGKAT PENDIDIKAN IBU DAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF
DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA
DI PROVINSI SULAWESI SELATAN
Analisis Data Sekunder Laporan Pemantauan Status Gizi
Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2015
Mustamin1, Ramlan Asbar, Budiawan
1
Jurusan Gizi, Politeknik Kesehatan Kemenkes, Makassar
2
Alumni Prodi D-IV, Jurusan Gizi, Politeknik Kesehatan Kemenkes, Makassar
ABSTRACT
Stunting is caused by three factors, involving individXDOV¶ IRRG intake, birth
weight and health condition; the quality and quantity of food nutrition, human
resources, number and family structure, parenting, health care, and services; and
environmental factors that include social infrastructure, educational services and
health services. 7KLV DLPHG WR ILQG WKH UHODWLRQVKLS EHWZHHQ PRWKHUV¶ HGXFDWLRQ
OHYHO DQG H[FOXVLYH EUHDVWIHHGLQJ WRZDUG WKH WRGGOHUV¶ stunting in South Sulawesi
Province 2015 based on the report of secondary data analysis on Nutrition Status
(PSG) 2015. This research used 2015 PSG data with observational design. The
samples in this research were toddlers in 3 cities or regency in South Sulawesi
Province with the highest stunting event rate, they were Jeneponto (300 toddlers),
Pangkep (300 toddlers) and Tana Toraja (298 toddlers). Secondary data were
taken from PSG report of 2015. The nutrition status was measured by
DQWKURSRPHWU\ 0RWKHUV¶ HGXFDWLRQ OHYHO DQG H[FOXVLYH EUHDVWIHHGLQJ GDWD ZHUH
obtained by asking respondents using PSG 2015 questionnaires. To find out the
relationship of two variables, it was conducted yate's correlation test using SPSS
program. The data were presented in the form of frequency distribution tables and
narration. The results showed that the prevalence of stunting was 44%. The
proportion of lower educated mothers was 56.5%, while exclusive breastfeeding
was quite high at 94.8%. Mothers with less education (27.7%) had stunting
children, while 27.3% well-educated mothers have normal children and there was
a significant relationship between mother education level and stunting on toddlers
(p = 0,001). The stunting was found on toddlers who are not exclusively breastfed
(0.9%) and exclusively breastfed (43.1%), and there was a significant relationship
between exclusive breastfeeding and stunting incidence in toddlers (p = 0.000).
Keywords: educated mothers, giving exclusive breastfeeding and stunting.
PENDAHULUAN dibandingkan tahun 2010 yaitu sebesar
Riset Kesehatan Dasar pada tahun 35,6% (sangat pendek 18,5% dan pendek
2013 menunjukkan bahwa prevalensi 18%) dan pada tahun 2007 yaitu sebesar
stunting secara nasional sebesar 37,2% 36,8% (sangat pendek 18,8% dan pendek
(sangat pendek 18,0% dan pendek 19,2%), 18,0%) (Balitbangkes, 2013). Masa balita
yang berarti terjadi peningkatan sering dinyatakan sebagai masa kritis
25
Media Gizi Pangan, Vol. 25, Edisi 1, 2018 Tingkat Pendidikan Ibu, ASI Eksklusif
dalam rangka mendapatkan sumber daya balita stunting di Indonesia mencapai 37%
manusia yang berkualitas, terlebih pada (terdiri dari 18% sangat pendek dan 19,2%
periode 2 tahun pertama merupakan masa pendek) yang berarti terjadi peningkatan
emas untuk pertumbuhan dan tahun 2010 (35.6%) dan tahun 2007
perkembangan otak yang optimal. Suatu (36,8%). Terdapat 20 provinsi diatas
negara jika status gizi anak balitanya baik prevalensi nasional dengan urutan dari
maka kualitas sumber daya manusianya prevalensi tertinggi sampai terendah yang
juga baik dan jika status gizinya jelek, dimana Provinsi Sulawesi Selatan pada
maka kualitas sumber daya manusianya urutan ke-13, sedangkan masalah
pun akan menurun (Aritonang, 2010). kesehatan masyarakat dianggap berat bila
Status gizi bayi dan balita prevalensi pendek sebesar 30±39 persen
merupakan salah satu indikator gizi GDQ VHULXV ELOD SUHYDOHQVL SHQGHN •
masyarakat dan telah dikembangkan persen (WHO 2010).
menjadi salah satu indikator kesehatan dan Berdasarkan laporan PSG Sulawesi
kesejahteraan masyarakat. Hal ini Selatan tahun 2014, bahwa jumlah balita
dikarenakan kelompok bayi dan balita yang mengalami stunting sebanyak
sangat rentan terhadap berbagai penyakit 35.98%, yaitu pendek (25.58%) dan sangat
kekurangan gizi (Rohmatun, 2014). pendek (10.40 %). Angka balita pendek
Masalah gizi khususnya anak tingkat Sulawesi Selatan tersebut lebih
pendek (stunting), menghambat rendah sekitar 5% dibandingkan dengan
perkembangan anak dengan dampak hasil Riskesdas tahun 2013 yang mencapai
negatif yang akan berlangsung dalam sekitar 41%. Namun demikian, proporsi
kehidupan selanjutnya. Anak-anak pendek balita pendek tersebut masih lebih tinggi
menghadapi kemungkinan yang lebih besar dari angka balita pendek tingkat nasional
untuk tumbuh menjadi orang dewasa yang (Riskesdas, 2013) yang hanya mencapai
kurang berpendidikan, miskin, kurang 37.2%, yaitu balita pendek sebesar 19.2%
sehat dan lebih rentan terhadap penyakit dan sangat pendek sebesar 18.0%.
tidak menular. Oleh karena itu, anak Kabupaten/kota yang paling rendah angka
pendek merupakan prediktor buruknya balita pendek adalah Sidrap (22.49%) dan
kualitas sumber daya manusia yang Bulukumba (31.88%). Proporsi balita
diterima secara luas, yang selanjutnya pendek kedua kabupaten tersebut lebih
menurunkan kemampuan produktif suatu rendah dari angka nasional (Riskesdas
bangsa dimasa yang akan datang 2013) maupun tingkat Provinsi Sulawesi
(UNICEF, 2012). Selatan. Sebaliknya, kabupaten/kota yang
Stunting menggambarkan keadaan paling tinggi angka balita pendek adalah
gizi kurang yang sudah berjalan lama dan Takalar (44.32%), Bone (40.31%) dan
memerlukan waktu bagi anak untuk (Maros 39,07%).
berkembang serta pulih kembali. Sejumlah Pemberian ASI eksklusif di
besar penelitian cross-sectional Indonesia masih jauh dari harapan.
memperlihatkan keterkaitan antara stunting Berdasarkan hasil survey dari peneliti
atau berat badan kurang yang sedang atau masih banyak ibu-ibu yang berada di
berat, perkembangan motorik dan mental Kecamatan Kawangkoan yang tidak
yang buruk dalam usia kanak-kanak dini memberikan ASI eksklusif kepada bayi
serta prestasi kognitif dan prestasi sekolah dan hanya diganti dengan susu formula.
yang buruk dalam usia kanak-kanak lanjut Jika bayi mendapatkan makanan
(Gibney dkk, 2009). pendamping ASI terlalu dini (sebelum
Data Riset Kesehatan Dasar enam bulan) maka akan meningkatkan
(Riskesdas) 2013 menunjukkan prevalensi risiko penyakit diare dan infeksi lainnya.
26
Media Gizi Pangan, Vol. 25, Edisi 1, 2018 Tingkat Pendidikan Ibu, ASI Eksklusif
Selain itu juga akan menyebabkan jumlah METODE
ASI yang diterima bayi berkurang, padahal Penelitian ini menggunakan data
komposisi gizi ASI pada 6 bulan pertama PSG 2015. Desain yang digunakan dalam
sangat cocok untuk kebutuhan bayi, penelitian ini yaitu observasional. Variabel
akibatnya pertumbuhan bayi akan independen dan dependen diukur pada saat
terganggu (Sulistyoningsih, 2011). Data bersamaan pada waktu PSG berlangsung.
Riskesdas 2013 menunjukan Kegiatan PSG 2015 telah dilakukan
kecenderungan proses mulai menyusu pada sejak bulan Oktober sampai Desember
anak 0-23 bulan pada tahun 2010 dan tahun 2015 di kabupaten dan kota Provinsi
2013, dinilai bahwa proses menyusu Sulawesi Selatan, sedangkan analisis lanjut
kurang dari satu jam yaitu sebesar 29,3% data PSG ini (data sekunder) dilakukan
pada tahun 2010 meningkat menjadi 34,5% pada bulan Maret sampai Mei 2017.
pada tahun 2013. Populasi dalam penelitian adalah
Latar belakang pendidikan orang seluruh balita yang masuk dalam populasi
tua, baik ayah maupun ibu, merupakan PSG 2015 sebanyak 7.200 balita.Sampel
salah satu unsur penting dalam dalam penelitian ini adalah balita yang
menentukan status gizi anak. Pendidikan berada di 3 kota atau kabupaten di Provinsi
ibu disamping merupakan modal utama Sulawesi Selatan dengan angka kejadian
dalam menunjang perekonomian rumah stunting tertinggi, yaitu Jeneponto (300
tangga, juga berperan dalam pola balita), Pangkep (300 balita) dan Tana
pemberian makan keluarga maupun pola Toraja (298 balita).
pengasuhan anak (Singarimbun, dalam Status gizi balita diukur dengan
Handarsari dkk, 2010). cara antropometri. Data tingkat pendidikan
Hasil PSG Sulsel tahun 2014 ibu dan pemberian ASI eksklusif diperoleh
menyatakan bahwa proporsi balita gizi dengan menanyakan responden
kurang maupun gizi buruk cenderung menggunakan kuesioner PSG 2015. Untuk
mengalami penurunan seiring peningkatan mengetahui hubungan dua variable
pendidikan ibu. Artinya, semakin tinggi GLODNXNDQ XML \DWH¶V FRUUHODWLRQ GHQJDQ
tingkat pendidikan ibu maka semakin baik menggunakan program SPSS. Data
status gizi balitanya. Kemudian untuk hasil disajikan dalam bentuk tabel distribusi
PSG Sulsel tahun 2015, menunjukkan frekuensi dan narasi.
bahwa sebagian besar ayah dan ibu
memiliki latar belakang pendidikan Tamat HASIL
SMA yaitu masing-masing 33.5% dan Usia Sampel
29.6%. Tabel 1.
Berdasarkan hal tersebut maka Distribusi Balita Berdasarkan Usia
penulis bermaksud mempelajari hubungan
tingkat pendidikan ibu dan pemberian ASI Usia n %
eksklusif dengan kejadian stunting pada 0 ± 5 Bulan 146 16.3
balita di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 6 ± 11Bulan 127 14.1
2015. Pada hasil Pemantauan Status Gizi 12 ± 23 Bulan 223 24.8
(PSG) Sulawesi Selatan tahun 2015 24 ± 60 Bulan 402 44.8
tersedia data tingkat pendidikan ibu, data Total 898 100
pemberian ASI eksklusif dan data balita
stunting. Berdasarkan Tabel 1 menunjukkan
bahwa sampel terbanyak berumur 24 ± 60
bulan sebanyak 402 balita (44,8 %) dan
27
Media Gizi Pangan, Vol. 25, Edisi 1, 2018 Tingkat Pendidikan Ibu, ASI Eksklusif
terendah berumur 6 ± 11 bulan sebanyak Kategori Pendidikan Responden/Ibu
127 balita (14,1 %). Balita
Jenis Kelamin Tabel 4
Tabel 2. Distribusi Responden Berdasarkan
Distribusi Balita Berdasarkan Jenis Kategori Pendidikan
Kelamin
Kategori
n %
Jenis kelamin n % Pendidikan
Baik 391 43.5
Laki - laki 470 52.3 Kurang 507 56.5
Perempuan 428 47.7 Total 898 100
Total 898 100
Berdasarkan Tabel 4 menunjukkan
Berdasarkan Tabel 2 menunjukkan bahwa pada umumnya kategori pendidikan
bahwa sampel lebih banyak berjenis responden kurang sebanyak 507 orang
kelamin laki-laki yaitu 470 balita (52,3 %), (56,5%) dan 391 orang (43,5%) responden
dibandingkan perempuan sebanyak 428 yang kategori pendidikannya baik.
orang (47,7 %).
Pemberian ASI Eksklusif
Pendidikan Responden/Ibu Balita
Tabel 5
Tabel 3 Distribusi Responden Berdasarkan
Distribusi Responden Berdasarkan Pemberian ASI Eksklusif
Pendidikan
Pemberian ASI
Pendidikan n % n %
Eksklusif
Tidak Pernah Sekolah 25 2.8 Ya 851 94.8
Tidak Tamat SD 30 3.3 Tidak 47 5.2
Tamat SD 254 28.3 Total 898 100
Tamat SMP 198 22
Tamat SMA 269 30 Tabel 5 menunjukkan sebagian
Tamat D1-D3 33 3.7 besar ibu balita (94,8%) memberikan ASI
Tamat DIV/S1-S3 89 9.9 secara eksklusif dan hanya 5,2 % ibu balita
Total 898 100 yang tidak memberikan ASI secara
eksklusif.
Berdasarkan Tabel 3 menunjukkan
Status Gizi Balita Berdasarkan Indeks
bahwa pada umumnya responden
PB(TB)/U
berpendidikan tamat SMA sebanyak 269
orang (30%) dan ada 25 orang (2,8 %) Tabel 6
yang tidak pernah bersekolah. Distribusi Sampel Berdasarkan Status Gizi
(Indeks PB(TB)/U)
Status Gizi n %
Normal 503 56
Stunting 395 44
Total 898 100
28
Media Gizi Pangan, Vol. 25, Edisi 1, 2018 Tingkat Pendidikan Ibu, ASI Eksklusif
Berdasarkan Tabel 6 menunjukkan balita (56 %) dan 395 balita (44 %) yang
bahwa pada umumnya status gizi sampel dinyatakan stunting.
berdasarkan inddeks PB(TB)/U paling
banyak berstatus gizi normal sebanyak 503
Hubungan Pendidikan Ibu Terhadap Kejadian Stunting
Tabel 7
Distribusi Pendidikan Ibu Terhadap Kejadian Stunting
Status Gizi Pendidikan
Menurut Jumlah Continuity
Baik Kurang p
PB(TB)/U Correction
n % n % n %
Normal 245 27.3 258 28.7 503 56
11.944 0.001
Stunting 146 16.3 249 27.7 395 44
Jumlah 391 43.6 507 56.4 898 100
Berdasarkan Tabel 7 menunjukkan sedangkan dari 391 balita dengan ibu
bahwa hasil analisis statistik dengan berpendidikan baik sebagian besar
menggunakan uji Chi-square ini diketahui memiliki indeks Z-Skor PB(TB)/U normal
bahwa ada hubungan yang bermakna (27,3%). Berdasarkan hasil analisis
antara pendidikan ibu dengan kejadian menghasilkan p < 0,05 dengan nilai
stunting pada balita di Provinsi Sulawesi signifikansi 0,001 yang berarti signifikan
Selatan Tahun 2015 berdasarkan analisis atau bermakna. Hal ini berarti ada
data sekunder Laporan Pemantauan Status hubungan antara tingkat pendidikan ibu
Gizi (PSG) tahun 2015. dengan kejadian stunting pada balita di
Pada penelitian ini menunjukkan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2015
bahwa dari 507 balita dengan ibu berdasarkan analisis data sekunder
berpendidikan kurang memiliki indeks Z- Laporan Pemantauan Status Gizi (PSG)
Skor PB(TB)/U stunting (27,7%), tahun 2015.
Hubungan Pemberian ASI Eksklusif Terhadap Kejadian Stunting
Tabel 8
Distribusi Pemberian ASI Eksklusif Terhadap Kejadian Stunting
Status Gizi Pemberian ASI
Menurut Eksklusif Jumlah Continuity
p
PB(TB)/U Ya Tidak Correction
n % n % n %
Normal 464 51.7 39 4.3 503 56
13.505 0.000
Stunting 387 43.1 8 0.9 395 44
Jumlah 851 94.8 47 5.2 898 100
Berdasarkan Tabel 8 menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna
bahwa hasil analisis statistik dengan antara pemberian ASI eksklusif dengan
menggunakan uji Chi-square ini diketahui kejadian stunting pada balita di Provinsi
29
Media Gizi Pangan, Vol. 25, Edisi 1, 2018 Tingkat Pendidikan Ibu, ASI Eksklusif
Sulawesi Selatan Tahun 2015 berdasarkan signifikansi 0,001 yang berarti signifikan
analisis data sekunder Laporan atau bermakna. Hal ini berarti ada
Pemantauan Status Gizi (PSG) tahun 2015. hubungan antara tingkat pendidikan ibu
Pada penelitian ini menunjukkan dengan kejadian stunting pada balita di
bahwa dari 851 balita yang mendapatkan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2015
ASI eksklusif sebagian besar memiliki berdasarkan analisis data sekunder
indeks Z-skor PB(TB)/U normal (51,7%) Laporan Pemantauan Status Gizi (PSG)
sedangkan dari 47 balita yang tidak tahun 2015. Hasil tersebut sependapat
mendapatkan ASI eksklusif memiliki dengan naskah publikasi oleh Rohmatun
indeks PB(TB)/U stunting (0,9%). (2014) yang mengatakan bahwa ada
Berdasarkan hasil analisis menghasilkan p hubungan antara tingkat pendidikan ibu
< 0,05 dengan nilai signifikansi 0,000 yang dengan kejadian stunting pada balita di
berarti signifikan atau bermakna. Hal ini Desa Sidowarno Kecamatan Wonosari
berarti ada hubungan yang bermakna Kabupaten Klaten dengan nilai signifikansi
antara pemberian ASI eksklusif dengan 0,007.
kejadian stunting pada balita di Provinsi Tingginya tingkat pendidikan
Sulawesi Selatan Tahun 2015 berdasarkan yang dimiliki maka akan mempengaruhi
analisis data sekunder Laporan pengetahuan tentang gizi. Hasil laporan
Pemantauan Status Gizi (PSG) tahun 2015. PSG Sulsel tahun 2015 mengatakan bahwa
semakin rendah tingkat pendidikan ibu
PEMBAHASAN maka proporsi masalah gizi balita semakin
Stunting merupakan hasil dari tinggi, begitu pula sebaliknya. Hal tersebut
kekurangan gizi kronis, yang menghambat menunjukkan bahwa tingkat pendidikan
pertumbuhan linear. Biasanya, ibu salah satu komponen yang tidak bisa
pertumbuhan goyah dimulai pada sekitar diabaikan. Pengetahuan ibu tentang gizi
usia enam bulan, sebagai transisi makanan berpengaruh pada perilaku ibu dalam
anak yang sering tidak memadai dalam menyediakan makanan bagi anaknnya. Ibu
jumlah dan kualitas, dan peningkatan yang memiliki pengetahuan gizi baik
paparan dari lingkungan yang diharapkan mampu menyediakan makanan
meningkatkan terkena penyakit. (Elizabeth, dengan jenis dan jumlah yang tepat agar
2013). Menurut WHO (2010) stunting anak dapat tumbuh dan berkembang secara
disebabkan oleh malnutrisi dan atau optimal (Astari, 2008).
penyakit infeksi kronis yang berulang. Pada penelitian ini menunjukkan
Penelitian ini menunjukkan bahwa dari 851 balita yang mendapatkan
adanya 395 balita (44%) yang dinyatakan ASI eksklusif sebagian besar memiliki
stunting. Angka ini merupakan angka yang indeks Z-skor PB(TB)/U normal (51,7%)
relatif tinggi jika dibandingkan dengan sedangkan dari 47 balita yang tidak
target Millenium Development Goals mendapatkan ASI eksklusif memiliki
(MDGs) yaitu 15%. indeks PB(TB)/U stunting (0,9%).
Pada penelitian ini menunjukkan Berdasarkan hasil analisis menghasilkan p
bahwa dari 507 balita dengan ibu < 0,05 dengan nilai signifikansi 0,000 yang
berpendidikan kurang memiliki indeks Z- berarti signifikan atau bermakna. Hal ini
Skor PB(TB)/U stunting (27,7%), berarti ada hubungan yang bermakna
sedangkan dari 391 balita dengan ibu antara pemberian ASI eksklusif dengan
berpendidikan baik sebagian besar kejadian stunting pada balita di Provinsi
memiliki indeks Z-Skor PB(TB)/U normal Sulawesi Selatan Tahun 2015 berdasarkan
(27,3%). Berdasarkan hasil analisis analisis data sekunder Laporan
menghasilkan p < 0,05 dengan nilai Pemantauan Status Gizi (PSG) tahun 2015.
30
Media Gizi Pangan, Vol. 25, Edisi 1, 2018 Tingkat Pendidikan Ibu, ASI Eksklusif
Hasil tersebut sependapat dengan Dewi 2. Diharapkan bagi seluruh masyarakat
(2015) yang mengatakan bahwa ada agar mempertahankan pemberian ASI
hubungan status stunting dengan eksklusif pada balita dan
pemberian ASI Eksklusif pada balita di mengoptimalkan pelaksanaan UU
Kabupaten Gunung Kidul dengan nilai Kesehatan 2009 yang terdapat sanksi
signifikansi 0,002. tegas pada siapa yang dengan sengaja
Hasil laporan PSG tahun 2015 menhalangi program pemberian ASI
mengatakan bahwa balita yang tidak ASI Eksklusif (Pasal 200) dan sangsi
eksklusif sebagian besar (3,8%) pidana berat bagi korporasi (Pasal
mendapatkan susu formula pada usia 0 201) serta pelaksanaan PP no. 33
bulan. Pemberian ASI bersamaan dengan tahun 2012 tentang ASI.
susu formula dapat memenuhi kebutuhan 3. Diharapkan peranan petugas kesehatan
zat gizi bayi sehingga pertumbuhannya lebih ditingkatkan lagi dalam hal
tidak terganggu. Akan tetapi, susu formula pelaksanaan penimbangan,
tidak mengandung zat antibodi sebaik pengukuran tinggi badan dan
kandungan zat antibodi pada ASI sehingga imunisasi serta juga memberikan
bayi lebih rentan terkena penyakit edukasi kepada ibu balita mengenai
(Rahayu, 2011). pentingnya perhatian terhadap
pertumbuhan balita.
KESIMPULAN
1. Berdasarkan kategori pendidikan, DAFTAR PUSTAKA
proporsi ibu berpendidikan kurang Arisman, M. B. 2010. Gizi Dalam Daur
lebih tinggi (56,5%) dibandingkan Kehidupan. Edisi 2. Penerbit Buku
dengan ibu berpendidikan baik. EGC. Jakarta.
2. Pemberian ASI eksklusif sudah cukup Aritonang, I. 2010. Menilai Status Gizi
tinggi mencapai 94,8 %. Untuk Mencapai Sehat Optimal.
3. Prevalensi stunting pada penelitian ini Grafina Mediacipta, Cv.
cukup tinggi yaitu 44 %. Astari, LD. 2008. Faktor-faktor yang
4. Ibu berpendidikan kurang (27,7%) Berpengaruh Terhadap Kejadian
memiliki balita stunting, sementara Stunting Balita Usia 6-12 Bulan di
27,3% ibu berpendidikan baik memiliki Kabupaten Bogor (Tesis). Institut
balita normal dan terdapat hubungan Pertanian Bogor : Bogor.
signifikan antara tingkat pendidikan Budiasih, S. 2008. Hanbook Ibu Menyusui.
ibu dengan kejadian stunting pada Bandung. Karya Kita.
balita. Damanik, M. Rizal, Ikeu Ekayanti, Didik
5. Stunting ditemukan pada balita yang Hariyadi. 2010. Analisis Pengaruh
tidak diberikan ASI eksklusif (0,9%) Pendidikan Ibu Terhadap Status
dan yang diberi ASI eksklusif (43,1 Gizi Balita Di provinsi Kalimantan
%), dan terhadap hubungan signifikan Barat. Jurnal Gizi dan Pangan
antara pemberian ASI eksklusif dengan Depkes RI. 2004. Pedoman Gizi Seimbang.
kejadian stunting pada balita. Jakarta : Dirjen Kesmas
Dewi, Devillya Puspita. 2015. Status
SARAN Stunting Kaitannya dengan
1. Diharapkan kepada petugas kesehatan Pemberian ASI Eksklusif pada
dapat meningkatkan monitoring Balita di Kabupaten Gunung Kidul.
pertumbuhan balita sehingga dapat Vol X Nomor 4 Oktober 2015 -
mengurangi risiko terjadinya stunting Jurnal Medika Respati
pada balita.
31
Media Gizi Pangan, Vol. 25, Edisi 1, 2018 Tingkat Pendidikan Ibu, ASI Eksklusif
Elizabeth. 2013. Gambaran sosial ekonomi dan Pengembangan Kesehatan
keluarga anak balita pendek Departemen Kesehatan RI.
(stunting) dikelurahan sudiang Rohmatun, N. Y. 2014. Hubungan Tingkat
raya kecamatan biringkanaya kota Pendidikan Ibu Dan Pemberian ASI
makassar. Karya Tulis Ilmiah. Eksklusif Dengan Kejadian
Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Stunting Pada Balita Di Desa
Makassar Program studi diploma Sidowarno Kecamatan Wonosari
III Gizi. Kabupaten Klaten. Naskah
Fanny, L., Aswita A, dan Theresia D. KB. Publikasi Program Studi Gizi
2009. Gizi Dalam Daur Kehidupan. Fakultas Ilmu Kesehatan
Politeknik Kesehatan Makassar Universitas Muhammadiyah
Jurusan Gizi Makassar Surakarta.
Sulistyoningsih, H. 2011. Gizi Untuk
Gibney, M. J., Margetts, Barrie M., Kesehatan Ibu dan Anak.
Kearny, John M., dan Arab L. Yogyakarta : Graha Ilmu.
2009. Public Health Nutrition (Gizi UU RI No. 20. 2003. Sistem Pendidikan
Kesehatan Masyarakat).EGC. Nasional.
Jakarta UNICEF. 2012. Ringkasan Kajian Gizi Ibu
Handarsari, E., Rosidi, A., dan Dan Anak. UNICEF Indonesia.
Widyaningsih, J. 2010. Hubungan Jakarta
Pendidikan dan Pengetahuan Gizi WHO. 2006. Situation :Underweight In
Ibu dengan Tingkat Konsumsi Children In Global Healhty
Energi dan Protein Anak TK Nurul Observatory.
Bahri Desa Wukir Sari Kecamatan WHO. 2010. Infant mortality. World
Batang Kabupaten Batang. Health Organization
Program Studi DIII Gizi Fakultas
Ilmu Keperawatan dan Kesehatan
Universitas Muhammadiyah
Semarang
Kemenko KesRa RI. 2012. Pedoman
Perencanaan Program Gerakan
Nasional Sadar Gizi dalam Rangka
1000 Hari Pertama Kehidupan.
Diakses 3 Januari 2017 dari :
http://www.bappenas.go.id
Notoatmodjo, S. 2012. Promosi Kesehatan
dan Perilaku Kesehatan.Jakarta :
Rineka Cipta.
Rahayu, L. S. 2011. Associated ofHeight of
Parents WithChanges of Stunting
Statusfrom 6-12 months to 3±
4years (Tesis). Yogyakarta
:Universitas Gajah Mada
Yogyakarta.
Riskesdas. 2013. Laporan Nasional Riset
Kesehatan Dasar (Riskesdas Tahun
2013). Jakarta : Badan Penelitian
32