Gambaran Sosio Budaya Gizi Pada Balita Stunting Usia 6-24 Bulan Di
Kecamatan Kalisat Kabupaten Jember
1
Fahrun Faradila, 1Farida Wahyu Ningtyias*, 1Sulistiyani
1
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember
Jl. Kalimantan 37 Kampus Tegal Boto Jember 68121
e-mail:
[email protected] ABSTRACT
Stunting is a condition where the child is too short for his age. This happens because in
infancy and toddlers they experience chronic malnutrition so that growth failure occurs.
Culture is one of the indirect factors that affect the nutritional status of children. There are
several kinds of socio-cultural influences on nutritional status, namely Food Value (food
value), Food Belief (belief in food) and Food Taboo (abstinence towards food). This socio-
cultural condition will affect nutritional parenting patterns which have an impact on the
incidence of malnutrition in children. Descriptive research with quantitative descriptive
method was conducted in Kalisat District in November-December 2020. The variables of this
study were the characteristics of children under five (gender and nutritional status), family
characteristics (mother's age, number of family members, mother's education level, mother's
occupation, economic status), mother's level of knowledge about nutrition), nutritional
parenting of children under five (prelacteal food or drink, colostrum, exclusive breastfeeding,
frequency of breastfeeding, complementary feeding, age of complementary feeding, frequency
of complementary feeding, types of complementary feeding) and socio-cultural nutrition (
taboos and recommendations during pregnancy) that exist in the community. The sample of
this study amounted to 30 toddlers along with their mothers. The purpose of this study is to
explain the socio-cultural nutrition that affects the nutritional status of stunting toddlers aged
6-24 months in Kalisat District, Jember Regency, an area that is famous for its pandhalungan
culture, assimilation of Javanese and Madurese cultures. The results show that stunting
toddlers are aged (6-24 months) and the majority are male. Living with a small family with a
low economic level and having a mother who does not work with a low level of education but
has a good level of nutritional knowledge. The socio-cultural culture of maternal nutrition
during pregnancy and lactation showed that the majority of respondents still believed in the
myths that developed in the community and carried out certain dietary taboos and
recommendations. So it is necessary to provide education about what is right and wrong
regarding the taboos and recommendations that have been carried out so far.
Keywords: stunting, socio-cultural nutrition, food taboo, children under five
ABSTRAK
Stunting atau pendek suatu kondisi anak memiliki tinggi badan terlalu pendek dibandingkan
usianya. Hal ini terjadi karena pada masa bayi dan balita mengalami kekurangan gizi kronis
sehingga terjadi gagal tumbuh. Budaya merupakan salah satu faktor tidak langsung yang
mempengaruhi status gizi anak. Ada beberapa macam sosio budaya yang mempengaruhi
status gizi yaitu Food Value (nilai makanan), Food Belief (kepercayaan terhadap makanan)
dan Food Taboo (pantangan terhadap makanan). Kondisi sosio budaya ini akan berpengaruh
terhadap pola asuh gizi yang berdampak pada kejadian malnutrisi pada anak. Penelitian
deskriptif dengan metode deskriptif kuantitatif dilakukan di Kecamatan Kalisat pada bulan
November-Desember 2020. Variabel penelitian ini adalah karakteristik balita (jenis kelamin
dan status gizi), karakteristik keluarga (usia ibu, jumlah anggota keluarga, tingkat pendidikan
ibu, pekerjaan ibu, status ekonomi, tingkat pengetahuan ibu tentang gizi), pola asuh gizi balita
(pemberian makanan atau minuman prelakteal, pemberian kolostrum, pemberian ASI
Eksklusif, frekuensi pemberian ASI, pemberian MPASI, usia pemberian MPASI, frekuensi
pemberian MPASI, jenis MPASI) dan sosio-budaya gizi (pantangan dan anjuran selama
kehamilan) yang ada di masyarakat. Sampel penelitian ini berjumlah 30 balita bersama
dengan ibunya. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan sosio budaya gizi yang berpengaruh
pada status gizi balita stunting usia 6-24 bulan di Kecamatan Kalisat Kabupaten Jember, suatu
daerah yang terkenal dengan budaya pandhalungan, asimilasi budaya jawa dan madura. Hasil
menunjukkan bahwa balita stunting berusia (6-24 bulan) dan mayoritas laki-laki. Tinggal
bersama keluarga kecil dengan tingkat ekonomi rendah dan memiliki ibu yang tidak bekerja
dengan tingkat pendidikan yang rendah namun mempunyai tingkat pengetahuan gizi yang
baik. Sosio budaya gizi ibu pada saat ibu hamil dan menyusui diperoleh hasil bahwa
mayoritas responden masih percaya mitos-mitos yang berkembang di masyarakat dan
melakukan pantangan dan anjuran makanan tertentu. Sehingga perlu diberikan edukasi
tentang apa yang benar dan salah terkait pantangan dan anjuran yang dilakukan selama ini.
Kata kunci: Stunting, sosio budaya gizi, pantangan makan, balita
PENDAHULUAN Timur sebesar 31,5% lebih besar daripada
Stunting atau pendek suatu kondisi anak prevalensi nasional sebesar 30,8%.
memiliki tinggi badan terlalu pendek Kabupaten Jember menjadi salah satu
dibandingkan usianya. Hal ini terjadi karena penyumbang angka tersebut dengan angka
pada masa bayi dan balita mengalami prevalensi 33,99%6. Berdasarkan Laporan
kekurangan gizi kronis sehingga terjadi Dinas Kesehatan Kabupaten Jember yang di
gagal tumbuh1. Stunting di Indonesia dapat dari hasil operasi timbang data
merupakan salah satu masalah gizi terkait stunting balita tahun 2019 diketahui bahwa
dengan kualitas sumber daya manusia kasussbalita stunting tertinggi pertama
(SDM)2. terjadi di wilayah kerjaaPuskesmas Kalisat
Data WHO dalam Setyawati3 dengan presentase sebesar 31,81%7.
menyebutkan, Indonesia berada pada posisi Faktor sosiobudaya sangat berperan
ketiga di Asia Tenggara dengan rata-rata penting dalam status gizi seseorang. Ada
dalam 3 tahun terakhir sebesar 36,4%. Hasil beberapa macam sosio budaya yang
Laporan RisettKesehatannDasar mempengaruhi masalah gizi yaitu Food
(Riskesdas) tahun 20184,5 menunjukkan Value (makanan tertentu memiliki nilai
bahwa proporsi statussgizi sangattpendek lebih tinggi, misal : nasi dinilai lebih tinggi
dan pendek pada balita Propinsi Jawa dari songkong), Food Belief (makanan
tertentu dipercaya akan berpengaruh baik imunisasi, dan pemberian makanan
jika dikonsumsi, misal : air kelapa pendamping ASI dini pada balita. Hasil
dipercaya akan membersihkan kulit bayi penelitian Sholihah dan Sartika tahun
jika dikonsumsi selama ibu hamil), Food 201411 menunjukkan tabu makanan dapat
Hot-Cold (makanan digolongkan menjadi meningkatkan risiko defisiensi protein
makanan panas (lauk hewani) dan makanan hewani, lemak, vitamin A, kalsium, dan zat
dingin (sayuran) yang harus dikonsumsi besi ibu. Kesehatan ibu dan anak tidak
dengan seimbang) dan Food taboo dapat dipisahkan, sehingga apapun yang
(makanan yang jika dimakan akan mempengaruhi kesehatan ibu, biasanya
berdampak tidak baik kepada yang mempengaruhi anak. Sejumlah pantangan
mengonsumsinya, misal : ibu hamil tidak makanan tradisional yang dianut ibu hamil
boleh mengonsumsi telur khawatir sulit dibawa ke anak-anaknya setelah
pada saar persalinan)8. Tabu makanan melahirkan9..
adalah makanan dan minuman yang orang- Hasil penelitian Sholihah12 tahun 2019,
orang tidak mengkonsumsi untuk tiga kategori makanan tabu pada
kepentingan agama, budaya, atau alasan masyarakat suku Madura, Jawa, dan
higienis. Dalam banyak budaya, keyakinan Pendalungan di Kabupaten Jember, yaitu
adalah bahwa menghindari asupan makanan kategori buah dan sayur termasuk buah
tertentu (tabu dengan bentuk tak lazim, kategori hewani
makanan) melindungi kesehatan ibu dan (hewan yang dijadikan lauk), dan kategori
pengalaman mereka sendiri sebelumnya makanan minuman olahan. Alasannya
atau wanita lain. Namun, hal ini dapat bersifat simbolis karena faktor budaya dan
meningkatkan risiko kekurangan protein, Kesehatan yang bersifat fungsional dengan
lemak, vitamin A, kalsium, dan zat besi sasaran Sebagian besar adalah ibu hamil,
pada ibu hamil.9 Jika food taboo ini busui dan gadis. Adanya tabu pada
dilakukan namun yang pantang adalah makanan berdampak negatif pada kesehatan
makanan yang baik untuk Kesehatan maka karena terhalangnya asupan zat gizi masuk
berisiko pada malnutrisi. kedalam tubuh.
Illahi dan Muniroh10 menyebutkan Budaya masyarakat yang berpengaruh
praktik sosio budaya gizi yang antara lain adalah sikap dan perilaku
kemungkinan berkaitan dengan stunting masyarakat terhadap makanan yang
yaitu pantangan makan pada ibu hamil, mempengaruhi dalam konsumsi makanan13.
pemberian makanan prelakteal pada bayi Illahi dan Muniroh10 menyebutkan bahwa
baru lahir, bayi tidak memperoleh sosio budaya gizi yang berkembang di
Etnik Madura antara lain pantangan dikhawatirkan bisa menyebabkan
makanan pada ibu hamil, anak tidak boleh keguguran9,10,11,12.
di imunisasi, bayi baru lahir diberikan Kabupaten Jember terkenal dengan
makanan awalan berupa madu atau daging budaya pandhalungan-nya, yaitu asimilasi
kelapa yang masih muda, dan kebiasaan ibu budaya Jawa dan Madura. Tidak hanya
untuk memberikan makanan sebelum balita Bahasa dan logat saja yang berbaur namun
berusia 6 bulan yang dapat mengakibatkan juga kesenian dan budaya hidup
balita berisiko mengalami stunting. Hasil masyarakatnya juga berbaur15. Hal ini
penelitian lainnya oleh Diana, et al tahun menyebabkan paparan masyarakat yang
201814 terkait tabu pada masyarakat madura tinggal di Kabupaten Jember, termasuk
adalah beberapa pantangan protein hewani kecamatan kKalisat lebih besar terhadap
dan sayuran dan buah yang tidak boleh tabu, yaitu dari budaya Jawa dan budaya
dikonsumsi orang hamil di madura adalah Madura. Berdasarkan latar belakang diatas,
udang, cumi, ikan pari, terong, kol, tujuan penelitian ini adalah
kangkung, kodondong, nanas, semangka, menggambarkan sosio budaya gizi
rambutan dan durian. kaitannya dengan kejadian stunting di
Sebagian besar dari pantangan kecamatan Kalisat Kabupaten Jember.
dipercaya bisa mengakibatkan bayi akan METODE PENELITIAN
susah dilahirkan, karena udang dan cumi Penelitian deskriptif dengan metode
berjalan mundur, dan bayi bersembunyi deskriptif kuantitatif ini dilakukan di
seperti ikan pari. Jenis sayuran yang Kecamatan Kalisat Kabupaten Jember pada
dipantang ibu hamil adalah terong, bulan November-Desember 2020. Variabel
kangkong, kol dan cabai karena penelitian ini adalah karakteristik balita
dikhawatirkan anak terselaput lapisan yang (jenis kelamin dan status gizi), karakteristik
tebal seperti terong dan kol sehingga sulit keluarga (usia ibu, jumlah anggota
untuk dilahirkan. Tabu pada kangkung keluarga, tingkat pendidikan ibu, pekerjaan
karena dianggap menyebabkan persalinan ibu, status ekonomi, tingkat pengetahuan
kembar dan risiko pendarahan, sedangkan ibu tentang gizi), pola asuh gizi balita
cabai dipantang karena membuat bayi (pemberian makanan atau minuman
kotor, rewel dan sakit. Konsumsi buah- prelakteal, pemberian kolostrum, pemberian
buahan seperti kedondong, nanas, ASI Eksklusif, frekuensi pemberian ASI,
semangka, durian, dan rambutan oleh ibu pemberian MPASI, usia pemberian MPASI,
hamil tidak diperbolehkan, karena frekuensi pemberian MPASI, jenis MPASI)
dan sosio-budaya gizi (pantangan dan
anjuran selama kehamilan) yang ada di Menurut Almatsier, 201317 perempuan
masyarakat. Data didapatkan dari sebanyak memiliki lebih banyak jaringan lemak dan
30 responden responden ibu dengan balita lebih sedikit jaringan otot daripada laki-
stunting, jumlah sampel ini berdasarkan laki. Secara metabolik, otot lebih aktif jika
keterbatasan peneliti dan memenuhi dibandingkan dengan lemak, sehingga otot
minimal jumlah responden pada penelitian akan memerlukan energi lebih tinggi
kuantitatif. Cara pengumpulan data berupa daripada lemak, dengan demikian, laki-laki
wawancara dengan kuesioner dan studi dan perempuan dengan tinggi badan, berat
dokumentasi. Penyajian data berupa tabel, badan dan umur yang sama memiliki
gambar atau narasi untuk menjelaskan hasil komposisi tubuh yang berbeda, sehingga
penelitian. kebutuhan energi dan gizinya juga akan
HASIL DAN PEMBAHASAN berbeda. Selain itu anak laki-laki cenderung
Karakteristik Balita lebih aktif dan mengalami perkembangan
Karakteristik balita pada penelitian motorik lebih banyak sehingga
ini adalah jenis kelami dan juga status gizi membutuhkan nergi yang lebih besar juga.
balita, yang hasilnya dapat dilihat pada
Karakteristik keluarga
Tabel 1.
Karakteristik keluarga secara tidak
Tabel 1. Distribusi Karakteristik Balita
langsung berpengaruh kepada status gizi
Variabel Jumlah Persentase
(n=30) (%) balita, pada penelitian ini karakteristik
Jenis Kelamin keluarga meliputi : usia ibu, jumlah anggota
Laki-laki 17 56,67
Perempuan 13 43,33 keluarga, tingkat pendidikan ibu, pekerjaan
Status Gizi ibu, status ekonomi dan pengetahuan ibu
Pendek 20 66,67
Sangat pendek 10 33,33 tentang gizi, hasilnya terlihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Distribusi Karakteristik keluarga
Dari 30 responden penelitian,
Variabel Jumlah Persentase
sebagian besar (56,67%) berjenis kelamin (n=30) (%)
laki-laki, memiliki status gizi pendek Usia Ibu
Remaja akhir (15-25 19 63,33
sebesar 66,67%, Balita dengan jenis tahun)
kelamin laki-laki berjumlah lebih banyak Dewasa awal (26-35 11 36,67
tahun)
dibandingkan balita perempuan, hal ini Dewasa akhir (36-45 0 0
sesuai dengan penelitian Febriani,et tahun)
Jumlah Anggota Keluarga
al.,201816 bahwa balita laki-laki memiliki
Besar (>4 orang) 0 0
peluang menjadi stunting 2,441 kali lebih Kecil (≤4 orang) 30 30
Tingkat Pendidikan Ibu
besar dibandingkan balita perempuan.
Variabel Jumlah Persentase makanan, pemilihan makanan sampai menu
(n=30) (%)
makanan.
Tidak/belum pernah 1 3,33
sekolah Balita berada dalam keluarga kecil
Tidak tamat 0 0 (anggota keluarga ≤4 orang). Namun ini
SD/sederajat
Tamat SD/sederajat 20 66,67 tidak menjadi jaminan balita dalam
Tamat 3 10 keluarga mempunyai status gizi baik. Hal
SMP/sederajat
Tamat 2 6,67 ini didukung oleh penelitian Purnamasari et
SMA/sederajat al19 status gizi anak tidak berhubungan
Tamat Perguruan 4 13,33
Tinggi dengan ukuran keluarga. Karena faktor lain
Pekerjaan ibu seperti status ekonomi keluarga juga
Tidak bekerja/IRT 21 70
Petani 0 0 berpengaruh pada penyediaan makanan
Buruh 0 0 dalam rumah tangga yang akan berpengaruh
Wiraswasta 4 13,33
Karyawan swasta 2 6,67 pada status gizi anak.
PNS 0 0 Sebesar 66,67% (20 orang) ibu memiliki
Lainnya 3 10
Status Ekonomi Pendidikan tamat SD.. Pendidikan ibu
Rendah (≥ 50– 60% 30 100 termasuk bagian yang berarti, dengan
Tinggi (< 50%) 0 0
Pengetahuan Ibu tentang Gizi tingkat pendidikan yang tinggi, peluang
Rendah seseorang untuk mendapatkan informasi
Baik 7 23,33
Sangat baik 23 76,67 terkait pengasuhan anak, merawat anak
Total 30 100 serta cara mendidik anak yang baik menjadi
Tabel 2 menunjukkan mayoritas ibu lebih besar20. Hasil penelitian Kuswandi
berusia 15-25 tahun (remaja akhir) yaitu dan Khotimah18 menunjukkan bahwa balita
sebesar 63,33% (19 orang). Umur juga berisiko memiliki status gizi buruk 3 kali
dapat menjadi gambaran kematangan pada lebih besar jika ibu berpendidikan rendah.
seseorang terkait pemilihan dan perilaku Sebagian besar ibu tidak bekerja/IRT,
makannya. Pembentukan perilaku konsumsi yaitu sebesar 70% (21 orang), sehingga ibu
makanan dapat berdampak pada status lebih banyak meluangkan waktunya untuk
gizinya (Rahardjo, 2011 cit Khotimah dan memperhatikan dan mengasuh anaknya
Kuswandi18. Ibu mememang peranan dengan baik. Tetapi menurut Wardani, et al,
penting dalam mendukung upaya mengatasi 201920 status gizi balita tidak berhubungan
masalah gizi, terutama terkait hal asupan dengan pekerjaan ibu. Hal ini sesuai studi
gizi, terutama penyediaan makanan dalam Chasnah21 yaitu status gizi balita tidak
rumah tangga, mulai dari penyiapan berhubungan dengan jenis pekerjaan ibu.
Berdasarkan status ekonomi, tinggal dengan keluarga besar, memiliki
keseluruhan responden mempunyai status tingkat Pendidikan SD, dan juga memiliki
ekonomi yang tergolong rendah (≥ 50 – pekerjaan sebagai buruh, petani ataupun
60%). Kondisi sosial ekonomi yang rendah PNS dan juga tidak ada keluarga yang
akan menyebabkan akses pemenuhan mempunyai tingkat ekonomi yang tinggi.
terhadap kebutuhan pokok akan kurang
berpengaruh pada buruknya status gizi Pola Asuh Gizi Pada Balita
anak.22 Pendapatan yang tinggi juga akan Variabel pola asuh gizi pada
berpengaruh dengan tingginya peluang penelitian ini meliputi pemberian
untuk daya beli pangan dari segi jumlah dan kolostrum, pemberian makanan prelakteal,
mutunya, sedangkan jika pendapatan pemberian ASI Ekslusif, frekuensi
menurun juga akan dapat mempengaruhi pemberian ASI Eksklusif, pemberian
daya beli masyarakat terkait kebutuhan MPASI, frekuensi, usia dan jenis pemberian
pangan23. Studi yang dilakukan oleh MPASI. Hasilnya dapat dilihat pada Tabel
Handini24 menyatakan pendapatan keluarga 3.
berhubungan dengan status gizi. Tabel 3. Pola asuh Gizi pada Balita
Sebagian besar ibu balita stunting di Variabel Jumlah Persentase
(n=30) (%)
Kecamatan Kalisat kategori
Pemberian makanan atau minuman
pengetahuannya adalah sangat baik sebesar prelakteal
76,67% (23 orang). Ibu yang memiliki Ya
Tidak 30 100
pengetahuan gizi dalam kategori baik, akan Pemberian Kolostrum
menyiapkan asupan makanan sesuai dengan Ya 27 90
Tidak 3 10
jenis, jumlah dan kebutuhan anaknya. Pemberian ASI
Sebaliknya, ibu dengan pengetahuan gizi Eksklusif
Ya 3 10
yang kurang dalam penyiapan makanannya Tidak 30 100
cenderung asal, bahkan menyiapkan Frekuensi Pemberian ASI Eksklusif
Minimal 8x sehari 30 100
makanan siap saji dan praktis25. Minimal 3x sehari 0 0
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Pemberian MP-ASI
Ya 30 100
Munthofiah26 bahwa terdapat hubungan Tidak 0 0
pengetahuan, sikap, dan perilaku ibu Usia Pemberian MP-ASI
< 6 bulan 5 16,67
dengan status gizi anak. Beberapa kriteria
≥ 6 bulan 25 83,33
pada variable karakteristik keluarga Frekuensi Pemberian MP-ASI
1-2x sehari 3 10
hasilnya nol (0) karena memang tidak ada
3-4x sehari 27 90
ibu yang berusia di rentang 36-40 tahun, Bentuk MP-ASI
Variabel Jumlah Persentase Pantangan ibu pada saat mengandung
(n=30) (%) dan memberikan ASI
Makanan yang 3 10 Ada 30 100
dilumatkan dan Tidak ada
disaring Total 30 100
Makanan yang 27 90 Anjuran ibu pada saat mengandung dan
dicincang dan memberikan ASI
dihaluskan jika perlu Ada 30 100
Sebagian besar (90%) ibu balita stunting Tidak ada
memberikan kolustrum pada anaknya dan Total 30 100
Semua ibu mempunyai pantangan makan
semuanya memberikan ASI secara eksklusif
pada masa kehamilan dan menyusui dan
kepada anaknya. Terkait pemberian
juga terdapat anjuran makan yang dilakukan
MPASI, sebagian besar memberikan
ibu pada saat ibu mengandung dan
Makanan Pendamping ASI pada usia lebih
memberikan ASI pada anaknya yang ada di
dari sama dengan 6 bulan, yaitu sebesar
lingkungannya. Pantangan dan anjuran pada
83,33% (25 anak). Namun ada sejumlah ibu
ibu hamil dan menyusui dapat dilihat pada
dengan balita stunting yang memberikan
Tabel 5.
makanan pendamping ASI terlalu dini (< 6
bulan) dengan alasan khawatir jika anaknya Tabel 5. Pantangan pada ibu hamil dan
lapar sehingga sebelum usia 6 bulan, anak menyusui
tersebut sudah diberikan makanan seperti
Food Taboo/ Alasan
bubur. Frekuensi pemberian MP-ASI oleh Pantangan
ibu balita stunting, Sebagian besar ibu makan
Ibu Hamil
memberikan MP-ASI dengan frekuensi 3- Sayur pakis khawatir anak yang
4x sehari. Sesuai dengan jenis Makanan dikandung akan berbulu
Jantung - khawatir sulit pada saat
Pendamping ASI pada balita usia 6-24 Pisang persalinan
bulan yaitu memberikan makanan yang - khawatir BB bayi akan
menyusut/kecil seperti
dicincang dan dihaluskan jika perlu. jantung pisang
Durian, nanas Penyebab keguguran
Sosio Budaya Gizi Ibu pada saat hamil dan manga, pada kehamilan
minuman
dan menyusui
bersoda
Sosio budaya gizi yang diteliti Pisang Khawatir bayi yang
adalah pantangan dan anjuran pada saat ibu dempet kandung lahir kembar
hamil dan menyusui, dapat dilihat hasilnya dempet
pada Tabel 4. Nangka Penyebab sakit pinggang
pada ibu hamil
Tabel 4. Sosio Budaya Gizi pada Balita Air Jeruk Khawatir bayi mengecil,
tidak bisa membuka
Variabel Jumlah Persentase mata pada saat lahir dan
(n=30) (%)
matanya berwarna merah muda dianjurkan dikonsumsi ibu hamil agar
Air es Khawatir bayi besar dan air ketuban jernih dan kulit bayinya putih
jadi penyulit pada saat
persalinan dan bersih.
Lemak Kawatir bayi lahir ada
daging atau putih-putihnya/belang
ayam SIMPULAN DAN SARAN
Udang Khawatir jadi penyulit
pada saat persalinan Semua balita berusia 6-24 bulan dan
Hati ayam Kahawatir bibir bayi mayoritas berjenis kelamin laki-laki.
berwatna hitam
Ibu Menyusui Sebagian besar diasuh ibu berusia muda
cabe/makanan Khawatir bayi diare atau dengan pendidikan terakhir tamat SD yang
pedas ASI menjadi panas
Telur ASI menjadi amis tidak bekerja dengan tingkat pengetahuan
sangat baik tentang gizi yang tinggal
Pantangan ini tetap dilakukan tanpa
bersama keluarga kecil dengan status
mereka tahu manfaat dari makanan yang
ekonomi rendah.
dipantang, seperti hasil penelitian Ningtyias
Gambaran pola asuh pada balita
dan Kurrohman tahun 2017 terkait food
diperoleh hasil bahwa mayoritas ibu
taboo pada ibu hamil di masyarakat
memberikan kolostrum, memberikan ASI
Pandhalungan. Ibu dan nenek adalah
Eksklusif, dan memberikan MP-ASI usia
sumber utama informasi terkait makanan
≥6 bulan namun masih melaksanakan
yang dipantang selain pantangan ini sudah
pantangan dan anjuran yang beredar di
turun temurun dipercaya di masyarakat27.
masyarakat. Perlunya edukasi agar tidak
Beberapa anjuran yang dipercaya dan
melakukan pantangan atau anjuran yang
dilakukan oleh responden di Kecamatan
dapat merugikan kesehatan ibu dan balita.
Kalisat selama kehamilan dan menyusui
adalah mengkonsumsi kopi hitam dan
REFERENSI
ketumbar agar bayinya bersih, meminum
1. Persatuan Ahli Gizi Indonesia. Stop
minyak kelapa agar ibu melahirkan dengan
Stunting dengan Konseling Gizi.
lancar. Belut (dimakan ekornya dalam
Jakarta: Penebar Swadaya Grup;
keadaan mentah) juga dianjurkan agar ibu
2018
melahirkan licin/mudah. Ikan lele
2. Kementerian Desa, Pembangunan
dianjurkan dikonsumsi selama kehamilan
Daerah Tertinggal dan Transmigrasi
agar bayi sehat dan hidup pada saat
Republik Indonesia. Buku Saku
dilahirkan. Daun blencong, daun katuk dan
Desa dalam Penanganan Stunting.
kacang tanah dianjurkan dikonsumsi ibu
Jakarta: Kementerian Desa,
menyusui agar ASInya lancar. Air kelapa
Pembangunan Daerah Tertinggal, Ntuli. Traditional food taboos and
dan Transmigrasi; 2017 practices during pregnancy,
3. Setyawati, V. A. V. Kajian Stunting postpartum recovery, and infant care
Berdasarkan Umur dan Jenis of Zulu women in northern
Kelamin Di Kota Semarang. KwaZulu-Natal. Journal of
STIKES PKU Muhammadiyah Ethnobiology and Ethnomedicine.
Surakarta, 834-838; 2018 2021
4. Kementerian Kesehatan Republik 10. Illahi, R. K., dan Muniroh, L. 2016.
Indonesia. Hasil Utama Gambaran Sosio Budaya Gizi Etnik
RISKESDAS 2018. Jakarta: Madura Dan Kejadian Stunting
Kementerian Kesehatan RI Badan Balita Usia 24–59 Bulan Di
Penelitian dan Pengembangan Bangkalan. Media Gizi Indonesia,
kesehatan; 2018 11(2): 135–143.
5. Kementerian Kesehatan RI. Situasi 11. Sholihah, L. A., & Sartika, R. A. D.
Balita Pendek (Stunting) di (2014). Makanan tabu pada ibu
Indonesia. Jakarta: Pusat Data dan hamil Suku Tengger. Kesmas:
Informasi Kementerian Kesehatan Jurnal Kesehatan Masyarakat
Republik Indonesia; 2018 Nasional (National Public Health
6. Kementerian Kesehatan Republik Journal), 313-318.
Indonesia. Hasil RISKESDAS 12. SHOLIHAH, A. Kajian Etnobiologi
Propinsi Jawa Timur 2018. Jakarta: Makanan Tabu pada Masyarakat
Kementerian Kesehatan RI Badan Suku Madura, Jawa, dan
Penelitian dan Pengembangan Pendalungan di Kabupaten Jember
kesehatan; 2019 serta Pemanfaatannya sebagai Buku
7. Dinas Kesehatan Kabupaten Jember. Ilmiah Populer.(Skripsi).2019 FKIP
Laporan hasil Operasi Timbang data UNEJ
stunting balita Tahun 2019. Jember: 13. Mufidah, N. L. (2012). Pola
Dinas Kesehatan Kabupaten Jember; konsumsi masyarakat perkotaan:
2019 studi deskriptif pemanfaatan
8. Merryana Adriani, S. K. M. (2016). foodcourt oleh keluarga. Jurnal
Pengantar gizi masyarakat. Prenada Biokultur, 2, 157-178.
Media. 14. Diana, R., Rachmayanti, R. D.,
9. Mmbulaheni Ramulondi, Helene de Anwar, F., Khomsan, A.,
Wet and Nontuthuko Rosemary Christianti, D. F., & Kusuma, R.
(2018). Food taboos and suggestions ekonomi dan riwayat bblr terhadap
among Madurese pregnant women: status gizi balita. Indonesian
a qualitative study. Journal of midwifery and health sciences
Ethnic Foods, 5(4), 246-253. journal, 3(4), 349-358.
15. Arifin, E. B. (2014). Pertumbuhan 21. Chasnah, N. A. Sari, A. D.
Kota Jember dan Munculnya Hubungan Tingkat Pengetahuan
Budaya Pandhalungan. LITERASI: Dan Pekerjaan Ibu Dengan Status
Indonesian Journal of Gizi Balita Di Posyandu Mekarsari
Humanities, 2(1), 28-35. Desa Genting Jambu Kabupaten
16. Febriani, C. A., Perdana, A. A., & Semarang. Skripsi. Yogyakarta:
Humairoh, H. (2018). Faktor Program Studi Ilmu Keperawatan
kejadian stunting balita berusia 6-23 Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas
bulan di Provinsi Lampung. Jurnal ‘Aisyiyah; 2019
Dunia Kesmas, 7(3). 22. Sebataraja, L., Oenzil, F., dan
17. Almatsier, S. (2013). Daur Asterina. 2014. Hubungan Status
Kehidupan dan Gizi. Gizi Seimbang Gizi dengan Status Sosial Ekonomi
dalam Daur Kehidupan, 1. Keluarga Murid Sekolah Dasar di
18. Khotimah, H dan Kuswandi, K. Daerah Pusat dan Pinggiran Kota
2014. Hubungan Karakteristik Ibu Padang. Jurnal Kesehatan Andalas,
dengan Status Gizi Balita di Desa 3(2): 182-187
Sumur Bandung Kecamatan Cikulur 23. Rozali, N. A. (2016). Peranan
Kabupaten Lebak Tahun 2013. pendidikan, pekerjaan ibu dan
Jurnal Obstretika Scientia, 2(1): pendapatan keluarga terhadap
146-162 status gizi balita di posyandu Rw 24
19. Purnamasari, U. D., Darjito, E., dan dan 08 wilayah kerja puskesmas
Kusnandar. Hubungan Jumlah nusukan kota surakarta (Doctoral
Anggota Keluarga, Pengetahuan dissertation, Universitas
Gizi Ibu dan Tingkat Konsumsi Muhammadiyah Surakarta).
Energi dengan Status Gizi Anak 24. Handini, D. 2013. Hubungan
Sekolah Dasar. Jurnal Kesmasindo, Tingkat Pendapatan Keluarga
8(2): 49-56; 2016 dengan Status Gizi Balita di
20. Wardhani, f. M. K., utami, s., & Wilayah Kerja Puskesmas
puspitasari, d. (2019). Hubungan Kalijambe. Skripsi. Surakarta:
pola pemberian makan, sosial
Fakultas Kedokteran Universitas
Muhammadiyah Surakarta.
25. Ningrum, W dan Utami, T. 2017.
Perbedaan Status Gizi Stunting dan
Perkembangan antara Balita
Riwayat BBLR dengan Balita Berat
Lahir Normal. Jurnal Kesehatan
Alirsyad, 10(2): 46-56.
26. Munthofiah, S. 2008. Hubungan
Antara Pengetahuan, Sikap, dan
Perilaku Ibu dengan Status Gizi
Anak Balita. Tesis. Surakarta:
Program Pascasarjana Universitas
Sebelas Maret.
27. Ningtyias, F.W dan Kurrohman, T.
2020. Food taboo and recommended
foods for pregnant woman : the
study phenomenology in
Pandhalungan society. Proceeding
International. IOP Conference
Series : Earth and Evironmental
Science. 485 (1): 012149