Cover Laporan Jaga
Cover Laporan Jaga
JAMKES PAPUA
No. DM : ……………………………………………………………………
SMF : IGD
Dokter : Jacky
Tanggal : 17/4/13
R/ Darplex XII
S 1 dd IV pc
R/ PQ III
S 1 dd III
R/ Ciprofloksasin X
S 2 dd I
R/ PCT X
S 2 dd I
R/ Ranitidin X
S 2 dd I ac
S
Pro : Tn. Mesak K.
Analisis Resep:
- Resep diatas ditujukan untuk pasien Tn. Mesak K berumur kurang lebih 28 tahun
yang tinggal di APO Gunung. Resep tersebut ditulis oleh dr. Jacky dari ruang UGD
pada tanggal 17 April 2013. Dokter tersebut meminta obat sebagai berikut:
1
1. Darplex 12 buah dengan aturan minum sekali minum 4 tablet dengan hanya sekali
pemberian dalam satu hari dan diminum sesudah makan;
2. PQ (Primaquin) 3 buah dengan aturan minum sekali minum 3 tablet dengan hanya
sekali pemberian dalam satu hari,
3. Ciprofloksasin 10 buah dengan aturan minum sekali minum 1 hari dengan dua kali
pemberian dalam satu hari;
4. PCT (Paracetamol) 10 buah dengan aturan minum sekali minum 1 hari dengan
dua kali pemberian dalam satu hari;
5. Ranitidin 10 buah dengan aturan minum sekali minum 1 tablet dengan dua kali
pemberian dalam satu hari dan diminum sebelum makan
- Semua bentuk sediaan obat yang diminta dalam resep tersebut dalam bentuk tablet
1. Presciber’s Signature
Karena resep tersebut berasal dari Rumah Sakit Umum Daerah Jayapura, maka
Kop resep (kepala resep) sudah dicantumkan beserta dengan alamat lengkap dan
nomor telepon yang bisa dihubungi. Namun No. DM dari dokter yang menulis resep
tersebut tidak ditulis.
Nama dokter dan tempat/SMF tempat resep ini dikeluarkan ditulis.
2. Tanggal Resep
Tanggal resep sudah dicantumkan yaitu tanggal 17 April 2013
3. Superscriptio
Superscriptio atau Recipe (R/) sudah dicantumkan pada masing-masing obat yang
diminta.
4. Inscriptio
Inscriptio atau isi resep terdiri dari nama obat, jenis dan satuan. Dalam penulisan
resep tersebut, nama obat telah dicantumkan, namun dosis yang diminta pada obat
kedua sampai obat keempat tidak dicantumkan. Jumlah obat yang diminta telah
dicantumkan tanpa kata numero (NO).
5. Subscriptio
Subscriptio adalah bentuk sediaan yang dikehendaki. Dalam penulisan resep
tersebut tidak dicantumkan bentuk sediaan obat yang dikehendaki.
2
6. Transcriptio
Transcriptio atau Signatura adalah aturan pakai untuk penderita. Pada resep
tersebut telah ada aturan pakai untuk penderita, namun waktu untuk minum obat
hanya dicantumkan pada obat pertama dan kelima. Untuk obat kedua sampai keempat
tidak dicantumkan
7. Paraf dokter.
Paraf atau tanda tangan dokter yang menuliskan suatu resep menjadikan resep
tersebut otentik. Dalam penulisan resep tersebut, tidak terdapat tanda tangan dokter
yang menuliskan resep tersebut.
8. Identitas Pasien.
Identitas Pasien yang menerima sebuah resep harus meliputi nama pasien (pro),
umur, berat badan beserta alamat. Ini dimaksudkan agar tidak terjadi kesalahan dalam
penyerahan obat diapotik. Pada resep tersebut, telah tercantumkan nama, umur dan
alamat pasien penerima esep tersebut, namun berat badan pasien tidak dicantumkan
Berdasarkan keterangan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa resep tersebut
tidak lengkap.
3
2. PEMERINTAH PROVINSI PAPUA
Swasta
SMF :
Dokter : Flo
Tanggal : 17/4/13
R/ Darplex XII
S 1 dd tab IV (paraf)
Primaquin XIV
S 1 dd tab I (paraf)
Paracetamol No VII
S 3 dd I (paraf)
S 3 dd I ac (paraf)
S
Pro : Tn. Alfonso Siahaan
Alamat : Pasir II
Analisis Resep:
- Resep diatas ditujukan untuk pasien Tn. Alfonso Siahaan berumur 29 tahun yang
tinggal di Pasir II. Resep tersebut ditulis oleh dr. Flo pada tanggal 17 April 2013.
Dokter tersebut meminta obat sebagai berikut:
1. Darplex 12 buah dengan aturan minum sekali minum 4 tablet dengan hanya sekali
pemberian dalam satu hari;
2. PQ (Primaquin) 14 buah dengan aturan minum sekali minum 1 tablet dengan
hanya sekali pemberian dalam satu hari,
3. PCT (Paracetamol) 7 buah dengan aturan minum sekali minum 1 tablet dengan
tiga kali pemberian dalam satu hari;
4
4. Domperidon tablet 7 buah dengan aturan minum sekali minum 1 tablet dengan
tiga kali pemberian dalam satu hari dan diminum sebelum makan
- Semua bentuk sediaan obat yang diminta dalam resep tersebut dalam bentuk tablet
1. Presciber’s Signature
Karena resep tersebut berasal dari Rumah Sakit Umum Daerah Jayapura, maka
Kop resep (kepala resep) sudah dicantumkan beserta dengan alamat lengkap dan
nomor telepon yang bisa dihubungi. Namun No. DM dari dokter yang menulis resep
tersebut tidak ditulis begitu juga dengan nama SMF atau ruangan atau instalasi tempat
resep itu dikeluarkan tidak dicantumkan
Nama dokter yang menulis rsep ini telah dicantumkan.
2. Tanggal Resep
Tanggal resep sudah dicantumkan yaitu tanggal 17 April 2013
3. Superscriptio
Superscriptio atau Recipe (R/) hanya dicantumkan untuk obat pertama. Pada obat
kedua dan seterusnya tidak dicantumkan. Namun dokter tersebut terlihat
mencantumkan sebuah tanda kecil didepan penulisan setiap obat.
4. Inscriptio
Inscriptio atau isi resep terdiri dari nama obat, jenis dan satuan. Dalam penulisan
resep tersebut, nama obat telah dicantumkan, namun dosis yang diminta pada obat
kedua sampai obat keempat tidak dicantumkan. Jumlah obat yang diminta telah
dicantumkan. Penulisan kata ‘Numero (NO)’ hanya pada obat ketiga, sedangkan yang
lain tidak.
5. Subscriptio
Subscriptio adalah bentuk sediaan yang dikehendaki. Dalam penulisan resep
tersebut tidak dicantumkan bentuk sediaan obat yang dikehendaki, kecuali ditulis
hanya untuk obat terakhir. Bentuk sediaan obat yang lain justru dituliskan dibawah
dekat signatura.
6. Transcriptio
Transcriptio atau Signatura adalah aturan pakai untuk penderita. Pada resep
tersebut telah ada aturan pakai untuk penderita, namun waktu untuk minum obat
hanya dicantumkan pada obat terakhir. Untuk obat pertama, kedua dan ketiga tidak
dicantumkan
5
7. Paraf dokter.
Paraf atau tanda tangan dokter yang menuliskan suatu resep menjadikan resep
tersebut otentik. Dalam penulisan resep tersebut, telah terdapat paraf dokter yang
menuliskan resep tersebut.
8. Identitas Pasien.
Identitas Pasien yang menerima sebuah resep harus meliputi nama pasien (pro),
umur, berat badan beserta alamat. Ini dimaksudkan agar tidak terjadi kesalahan dalam
penyerahan obat diapotik. Pada resep tersebut, telah tercantumkan nama, umur dan
alamat pasien penerima esep tersebut, namun berat badan pasien tidak dicantumkan
Berdasarkan keterangan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa resep tersebut
tidak lengkap.
Tanggal : 17/4/13
R/ Sukralfate I
S 4 dd cth II (paraf)
R/ Ranitidin
S 2 dd tab I (paraf)
S
Pro : Terianus Hasegem
Alamat : Bucen I
Analisis Resep:
- Resep diatas ditujukan untuk pasien Terianus Hasegem berumur 45 tahun dan tinggal
di Bucen I. Resep tersebut ditulis oleh dr. Andre pada tanggal 17 April 2013. Dokter
tersebut meminta obat sebagai berikut:
6
1. Sukralfate I buah dengan aturan minum sekali 2 sendok teh dengan empat kali
pemberian dalam satu hari;
2. Ranitidin dengan aturan minum sekali minum 1 tablet dengan dua kali pemberian
dalam satu hari;
- Bentuk sediaan obat yang diminta dalam resep tersebut dalam bentuk sirup (obat
pertama karena memakai kata “cth” yang artinya sendok teh) dan tablet.
1. Presciber’s Signature
Karena resep tersebut berasal dari Rumah Sakit Umum Daerah Jayapura, maka
Kop resep (kepala resep) sudah dicantumkan beserta dengan alamat lengkap dan
nomor telepon yang bisa dihubungi. Namun No. DM dari dokter yang menulis resep
dan dari ruangan atau poli atau SMF mana resep tersebut dikeluarkan tidak
dicantumkan.
Nama dokter telah dicantumkan.
2. Tanggal Resep
Tanggal resep sudah dicantumkan yaitu tanggal 17 April 2013
3. Superscriptio
Superscriptio atau Recipe (R/) sudah dicantumkan pada masing-masing obat yang
diminta.
4. Inscriptio
Inscriptio atau isi resep terdiri dari nama obat, jenis dan satuan. Dalam penulisan
resep tersebut, nama obat telah dicantumkan, namun dosis yang diminta pada setiap
obat tidak dicantumkan. Jumlah obat yang diminta hanya dicantumkan pada obat
pertama, namun obat kedua tidak dicantumkan. Kedua obat tidak mencantumkan kata
numero (NO).
5. Subscriptio
Subscriptio adalah bentuk sediaan yang dikehendaki. Dalam penulisan resep
tersebut tidak dicantumkan bentuk sediaan obat yang dikehendaki. Bentuk sediaan
obat yang dikehendaki justru diketahui ketika membaca transcriptio.
6. Transcriptio
Transcriptio atau Signatura adalah aturan pakai untuk penderita. Pada resep
tersebut telah ada aturan pakai untuk penderita, namun waktu untuk minum obat tidak
dicantumkan.
7
7. Paraf dokter.
Paraf atau tanda tangan dokter yang menuliskan suatu resep menjadikan resep
tersebut otentik. Dalam penulisan resep tersebut, terdapat paraf dokter yang
menuliskan resep tersebut.
8. Identitas Pasien.
Identitas Pasien yang menerima sebuah resep harus meliputi nama pasien (pro),
umur, berat badan beserta alamat. Ini dimaksudkan agar tidak terjadi kesalahan dalam
penyerahan obat diapotik. Pada resep tersebut, telah tercantumkan nama dan umur
pasien penerima resep tersebut, alamat pasien namun tidak lengkap. Berat badan
pasien tidak dicantumkan.
Berdasarkan keterangan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa resep tersebut
tidak lengkap.
SMF : Kebidanan
Tanggal : 17/4/13
Neadle 18 no. V
S
Pro : Ny. Mila Kaharuddin
Alamat : Entrop
8
Analisis Resep:
- Resep diatas ditujukan untuk pasien Ny. Mila Kaharuddin yang tinggal di Entrop. Resep
tersebut ditulis oleh dr. Daniel H. U. [Link] dari SMF Kebidanan pada tanggal 17 April
2013. Dokter tersebut meminta obat sebagai berikut:
1. Ranitidin injeksi sebanyak 3 buah;
2. Alinamin – E injeksi sebanyak 4 buah;
3. Nerobion injeksi sebanyak 2 buah;
4. Neadle ukuran 18 sebanyak 5 buah;
- Semua bentuk sediaan obat yang diminta dalam resep tersebut dalam bentuk injeksi
1. Presciber’s Signature
Karena resep tersebut berasal dari Rumah Sakit Umum Daerah Jayapura, maka
Kop resep (kepala resep) sudah dicantumkan beserta dengan alamat lengkap dan
nomor telepon yang bisa dihubungi. Namun No. DM dari dokter yang menulis resep
tersebut tidak ditulis.
Nama dokter dan tempat/SMF tempat resep ini dikeluarkan sudah dicantumkan.
2. Tanggal Resep
Tanggal resep sudah dicantumkan yaitu tanggal 17 April 2013
3. Superscriptio
Superscriptio atau Recipe (R/) sudah dicantumkan pada masing-masing obat yang
diminta.
4. Inscriptio
Inscriptio atau isi resep terdiri dari nama obat, jenis dan satuan. Dalam penulisan
resep tersebut, nama obat telah dicantumkan, namun dosis yang diminta. Jumlah obat
yang diminta telah dicantumkan lengkap dengan kata numero (NO).
5. Subscriptio
Subscriptio adalah bentuk sediaan yang dikehendaki. Dalam penulisan resep
tersebut telah dicantumkan bentuk sediaan obat yang dikehendaki.
6. Transcriptio
Transcriptio atau Signatura adalah aturan pakai untuk penderita. Pada resep
tersebut tidak dicantumkan aturan pakai untuk penderita serta waktu untuk
9
menginjeksi obat tersebut. Biasanya obat injeksi dicantumkan S.i.m.m (in manum
medici) yang berarti berikan ke tangan dokter.
7. Paraf dokter.
Paraf atau tanda tangan dokter yang menuliskan suatu resep menjadikan resep
tersebut otentik. Dalam penulisan resep tersebut, tidak terdapat paraf ataupun tanda
tangan dokter yang menuliskan resep tersebut.
8. Identitas Pasien.
Identitas Pasien yang menerima sebuah resep harus meliputi nama pasien (pro),
umur, berat badan beserta alamat. Ini dimaksudkan agar tidak terjadi kesalahan dalam
penyerahan obat diapotik. Pada resep tersebut, telah tercantumkan nama, serta alamat
penerima resep tersebut walaupun alamatnya juga tidak lengkap, namun tidak
dicantumkan umur serta berat badan pasien penerima resep tersebut
Berdasarkan keterangan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa resep tersebut
tidak lengkap.
10
2.
PEMERINTAH PROVINSI PAPUA
No. DM : ……………………………………………………………………
SMF : Kebidanan
Tanggal : 17/4/13
S i.m.m (paraf)
S i.m.m
S i.m.m
S i.m.m
S i.m.m
S i.m.m
S
Pro : Ny. Yuliana Goefar
Alamat : Dok IX
Analisis Resep:
- Resep diatas ditujukan untuk pasien Ny. Yuliana Goefar, berumur 31 tahun yang
tinggal di Dok IX. Resep tersebut ditulis oleh dr. Suhartono, [Link] (K) dari SMF
Kebidanan pada tanggal 17 April 2013. Dokter tersebut meminta obat sebagai
berikut:
1. Sefriaxone injeksi sebanyak 3 buah dengan aturan pakai diberikan kepada dokter
11
2. Metronidazole flacon sebanyak 3 buah dengan aturan pakai diberikan kepada
dokter
3. Cernevit vial sebanyak 2 buah dengan aturan pakai diberikan ke tangan dokter
4. Alinamin K ampul sebanyak 3 buah dengan aturan pakai diberikan ke tangan
dokter
5. Ranitidin ampul sebanyak 3 buah dengan aturan pakai diberikan ke tangan dokter
6. Tradomix ampul sebanyak 3 buah dengan aturan pakai diberikan ke tangan dokter
- Semua bentuk sediaan obat yang diminta dalam resep tersebut dalam bentuk injeksi
1. Presciber’s Signature
Karena resep tersebut berasal dari Rumah Sakit Umum Daerah Jayapura, maka
Kop resep (kepala resep) sudah dicantumkan beserta dengan alamat lengkap dan
nomor telepon yang bisa dihubungi. Namun No. DM dari dokter yang menulis resep
tersebut tidak ditulis.
Nama dokter dan tempat/SMF tempat resep ini dikeluarkan sudah dicantumkan.
2. Tanggal Resep
Tanggal resep sudah dicantumkan yaitu tanggal 17 April 2013
3. Superscriptio
Superscriptio atau Recipe (R/) sudah dicantumkan pada masing-masing obat yang
diminta.
4. Inscriptio
Inscriptio atau isi resep terdiri dari nama obat, jenis dan satuan. Dalam penulisan
resep tersebut, nama obat telah dicantumkan, namun dosis yang diminta tidak
dicantumkan. Jumlah obat yang diminta telah dicantumkan lengkap dengan kata
numero (NO).
5. Subscriptio
Subscriptio adalah bentuk sediaan yang dikehendaki. Dalam penulisan resep
tersebut telah dicantumkan bentuk sediaan obat yang dikehendaki.
6. Transcriptio
Transcriptio atau Signatura adalah aturan pakai untuk penderita. Pada setiap resep
telah dicantumkan aturan pakai untuk penderita. Namun waktu untuk menginjeksi
obat tersebut tidak dicantumkan.
12
7. Paraf dokter.
Paraf atau tanda tangan dokter yang menuliskan suatu resep menjadikan resep
tersebut otentik. Dalam penulisan resep tersebut, tidak terdapat paraf ataupun tanda
tangan dokter yang menuliskan resep tersebut. Namun terdapat tanda kecil setiap
akhir dari garis yang memisahkan antara Recipe satu dengan yang lainnya. Tanda
tersebut dapat diartikan sebagai paraf dokter.
8. Identitas Pasien.
Identitas Pasien yang menerima sebuah resep harus meliputi nama pasien (pro),
umur, berat badan beserta alamat. Ini dimaksudkan agar tidak terjadi kesalahan dalam
penyerahan obat diapotik. Pada resep tersebut, telah tercantumkan nama, umur, serta
alamat penerima resep tersebut walaupun tidak lengkap, namun tidak dicantumkan
berat badan pasien penerima resep tersebut.
Berdasarkan keterangan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa resep tersebut
tidak lengkap.
3.
PEMERINTAH PROVINSI PAPUA
JAMKES PAPUA
SMF : Kebidanan
Tanggal : 17/4/13
S 3 dd I (paraf)
S i.m.m (Paraf)
S
Pro : Ny. Ani Guanak
Umur : ……………………………. 13
BB : …………………….
Alamat : ………………………………………………………………
Analisis Resep:
- Resep diatas ditujukan untuk pasien Ny. Ani Guanak. Resep tersebut ditulis oleh dr.
Suhartono, [Link] (K) dari SMF Kebidanan pada tanggal 17 April 2013. Dokter tersebut
meminta obat sebagai berikut:
a. Metronidazole injeksi sebanyak 6 buah dengan aturan pakai 3 kali pemberian setiap
hari
b. Larutan Ringer Lactat sebanyak 3 kolf, Larutan Dekstrose 5 % sebanyak 3 kolf dan
spuit ukuran 1, 3, 5, dan 10 ml masing-masing sebanyak 3 buah. Aturan pakai untuk
masing-masing alat kesehatan tersebut diberikan kepada dokter
- Bentuk sediaan obat yang diminta dalam resep tersebut adalah dalam bentuk injeksi untuk
Recipe yang pertama, sedangkan untuk Recipe yang kedua adalah alat kesehatan.
1. Presciber’s Signature
Karena resep tersebut berasal dari Rumah Sakit Umum Daerah Jayapura, maka
Kop resep (kepala resep) sudah dicantumkan beserta dengan alamat lengkap dan
nomor telepon yang bisa dihubungi. Namun No. DM dari dokter yang menulis resep
tersebut tidak ditulis.
Nama dokter dan tempat/SMF tempat resep ini dikeluarkan sudah dicantumkan.
2. Tanggal Resep
Tanggal resep sudah dicantumkan yaitu tanggal 17 April 2013
3. Superscriptio
Superscriptio atau Recipe (R/) sudah dicantumkan pada masing-masing obat yang
diminta.
4. Inscriptio
Inscriptio atau isi resep terdiri dari nama obat, jenis dan satuan. Dalam penulisan
resep tersebut, nama obat telah dicantumkan, namun dosis yang diminta tidak
dicantumkan. Pada penulisan resep yang pertama terdapat kesalahan penulisan.
Seharusnya nama obat yang pertama ditulis kemudian disusul dengan dosis dan
bentuk sediaan obat yang diinginkan. Namun, pada resep tersebut bentuk sediaan
ditulis pertama kali disusul dengan nama obat.
Jumlah obat dan alat kesehatan yang diminta telah dicantumkan lengkap dengan
kata numero (NO).
14
5. Subscriptio
Subscriptio adalah bentuk sediaan yang dikehendaki. Dalam penulisan resep
tersebut telah dicantumkan bentuk sediaan obat yang dikehendaki.
6. Transcriptio
Transcriptio atau Signatura adalah aturan pakai untuk penderita. Pada setiap resep
telah dicantumkan aturan pakai untuk penderita. Namun waktu untuk menginjeksi
obat untuk resep pertama tidak dicantumkan.
7. Paraf dokter.
Paraf atau tanda tangan dokter yang menuliskan suatu resep menjadikan resep
tersebut otentik. Dalam penulisan resep tersebut, terdapat paraf dokter yang
menuliskan resep tersebut.
8. Identitas Pasien.
Identitas Pasien yang menerima sebuah resep harus meliputi nama pasien (pro),
umur, berat badan beserta alamat. Ini dimaksudkan agar tidak terjadi kesalahan dalam
penyerahan obat diapotik atau diruangan. Pada resep tersebut, telah tercantumkan
nama penerima resep tersebut, namun tidak dicantumkan umur, berat badan serta
alamatnya.
Berdasarkan keterangan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa resep tersebut
tidak lengkap.
15
Bentuk sediaan : Puyer (Pulv)
1. PEMERINTAH PROVINSI PAPUA
Tanggal : 17/4/13
R/ Asiklovir 120 mg
S 4 dd pulv I (paraf)
S.u.e (paraf)
R/ Amoxicillin 160 mg
S3 dd pulv I (paraf)
R/ PCT 190 mg
S
Pro : An. Kristin Kamusa
Alamat : Dok IX
Analisis Resep:
- Resep diatas ditujukan untuk pasien An. Kristin Kamusa yang berumur 1 tahun 4 bulan,
mempunyai berat badan 9,5 kg dan tingal di Dok IX. Resep tersebut ditulis oleh dr. Andre
17 April 2013. Dokter tersebut meminta obat sebagai berikut:
a. Asiklovir 120 mg dalam bentuk puyer sebanyak 20 bungkus, dengan aturan pakai 4
kali pemberian dalam satu hari
b. Talk Salisil sebanyak satu buah untuk pemakaian obat luar
c. Amoxicillin 160 mg dalam bentuk puyer sebanyak 15 bungkus dengan aturan pakai 3
kali pemberian dalam satu hari
16
d. PCT (Paracetamol) 190 mg dalam bentuk puyer sebanyak 15 bungkus dengan aturan
pakai 3 kali pemberian dalam satu hari dan diberikan kalau panas saja
- Bentuk sediaan obat yang diminta dalam resep tersebut adalah dalam bentuk puyer dan
pemakaian obat luar (recipe kedua)
Recipe I:
Ambillah sebanyak 120 mg asiklovir tablet lalu tumbuk hingga menjadi halus dan bagi dalam
20 bungkus puyer.
Recipe III:
Ambillah sebanyak 160 mg Amoksisilin tablet lalu tumbuk hingga menjadi halus dan bagi
dalam 15 bungkus puyer.
Recipe IV:
Ambillah sebanyak 125 mg (dosis awal yang ditentukan dokter yang menulis resep adalah
190, namun terdapat coretan dri apoteker yang menerima resep dan diganti dengan PCT 125
mg) paracetamol tablet lalu tumbuk hingga menjadi halus dan bagi dalam 15 bungkus puyer.
1. Presciber’s Signature
Karena resep tersebut berasal dari Rumah Sakit Umum Daerah Jayapura, maka
Kop resep (kepala resep) sudah dicantumkan beserta dengan alamat lengkap dan
nomor telepon yang bisa dihubungi. Namun No. DM dari dokter yang menulis resep
tersebut dan tempat/ruangan/SMF tempat resep itu dikeluarkan tidak dicantumkan.
Nama dokter yang menulis resep tersebut telah dicantumkan.
2. Tanggal Resep
Tanggal resep sudah dicantumkan yaitu tanggal 17 April 2013
3. Superscriptio
Superscriptio atau Recipe (R/) sudah dicantumkan pada masing-masing obat yang
diminta.
4. Inscriptio
17
Inscriptio atau isi resep terdiri dari nama obat, jenis dan satuan. Dalam penulisan
resep tersebut, nama obat telah dicantumkan serta dosis yang diminta tidak
dicantumkan.
Pada penulisan recipe yang terakhir untuk obat paracetamol, tidak sesuai dengan
dosis. Paracetamol untuk anak-anak dosisnya adalah 10 mg/kgbb/ dosis. Sehingga
dosis yang seharusnya ditulis adalah 95 mg (10 mg x 9,5 kg).
Jumlah obat serta puyer yang diminta telah dicantumkan lengkap dengan kata
numero (NO).
5. Subscriptio
Subscriptio adalah bentuk sediaan yang dikehendaki. Dalam penulisan resep
tersebut telah dicantumkan bentuk sediaan obat yang dikehendaki. Namun untuk
recipe yang kedua tidak dicantumkan bentuk sediaan yang dikehendaki.
6. Transcriptio
Transcriptio atau Signatura adalah aturan pakai untuk penderita. Pada setiap resep
telah dicantumkan aturan pakai untuk penderita. Namun waktu untuk mengkonsumsi
obat untuk recipe pertama, ketiga dan keempat serta waktu pemakaian untuk recipe ke
dua tidak dicantumkan.
7. Paraf dokter.
Paraf atau tanda tangan dokter yang menuliskan suatu resep menjadikan resep
tersebut otentik. Dalam penulisan resep tersebut, terdapat paraf dokter yang
menuliskan resep tersebut.
8. Identitas Pasien.
Identitas Pasien yang menerima sebuah resep harus meliputi nama pasien (pro),
umur, berat badan beserta alamat. Ini dimaksudkan agar tidak terjadi kesalahan dalam
penyerahan obat diapotik atau diruangan. Pada resep tersebut, telah tercantumkan
nama, umur, berat badan serta alamat pasien tersebut.
Berdasarkan keterangan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa resep tersebut
tidak lengkap.
18
2. PEMERINTAH PROVINSI PAPUA
Jamkes Papua
No. DM : ………………………………………………………………….
SMF : UGD
Tanggal : 17/4/13
R/ Amoxicillin 250 mg
S 3 dd pulv I (paraf)
R/ PCT 280 MG
S3 dd pulv I (paraf)
R/ Ambroxol 7 mg
CTM 1,4 mg
Dexa 0,14 mg
Efedrin 7 mg
S3 dd pulv I (paraf)
R/ multivit syr I
S 1 dd cth I (paraf)
S
Pro : An. Jimmi Hamadi
Umur : 4 tahun BB : 14 kg
Alamat : Entrop
19
Analisis Resep:
- Resep diatas ditujukan untuk pasien An. Jimmi Hamadi yang berumur 4 tahun,
mempunyai berat badan 14 kg dan tinggal di Entrop. Resep tersebut ditulis oleh dr. Andre
dari UGD pada tanggal 17 April 2013. Dokter tersebut meminta obat sebagai berikut:
a. Amoxicillin 250 mg dalam bentuk puyer sebanyak 15 bungkus dengan aturan pakai 3
kali pemberian per hari
b. PCT (Paracetamol) 280 mg dalam bentuk puyer sebanyak 15 bungkus, dengan aturan
pakai 3 kali pemberian per hari
c. Ambroxol 7 mg, CTM 1,4 mg, Dexametazon 0,14 mg dan efedrin 7 mg dibuat dalam
15 bungkus dengan aturan pakai 3 kali pemberian per hari
d. Multivitamin syr sebanyak satu botol dengan atuan pakai 1 sendok teh setiap kali
minum, dengan hanya sekali pemberian
- Bentuk sediaan obat yang diminta dalam resep tersebut adalah dalam bentuk puyer dan
bentuk sirup (recipe keempat)
Recipe I:
Ambillah sebanyak Amoxicillin 250 mg tablet lalu tumbuk hingga menjadi halus dan bagi
dalam 15 bungkus puyer.
Recipe II:
Ambillah sebanyak 280 mg Amoksisilin tablet lalu tumbuk hingga menjadi halus dan bagi
dalam 15 bungkus puyer.
Recipe III:
Ambillah sebanyak 7 mg ambroxol tablet, 1,4 mg CTM tablet, 0,14 Dexametason dan 7 mg
efedrin lalu tumbuk hingga menjadi halus dan tercampur dan bagi dalam 15 bungkus puyer.
1. Presciber’s Signature
Karena resep tersebut berasal dari Rumah Sakit Umum Daerah Jayapura, maka Kop
resep (kepala resep) sudah dicantumkan beserta dengan alamat lengkap dan nomor
20
telepon yang bisa dihubungi. Namun No. DM dari dokter yang menulis resep tersebut
tidak dicantumkan.
Nama dokter yang menulis resep tersebut dan ruangan tempat resep tersebut
dikeluarkan telah dicantumkan.
2. Tanggal Resep
Tanggal resep sudah dicantumkan yaitu tanggal 17 April 2013
3. Superscriptio
Superscriptio atau Recipe (R/) sudah dicantumkan pada masing-masing obat yang
diminta.
4. Inscriptio
Inscriptio atau isi resep terdiri dari nama obat, jenis dan satuan. Dalam penulisan
resep tersebut, nama obat serta dosis yang diminta telah dicantumkan. Jumlah obat serta
puyer yang diminta telah dicantumkan lengkap dengan kata numero (NO), kecuali untuk
recipe yang terakhir.
Untuk resep yang terakhir tidak dicantumkan dosis yang diminta. Seharusnya ada
tulisan ‘btl’ di direcipe tersebut.
5. Subscriptio
Subscriptio adalah bentuk sediaan yang dikehendaki. Dalam penulisan resep tersebut
telah dicantumkan bentuk sediaan obat yang dikehendaki.
6. Transcriptio
Transcriptio atau Signatura adalah aturan pakai untuk penderita. Pada setiap resep
telah dicantumkan aturan pakai untuk penderita. Namun waktu untuk mengkonsumsi obat
tidak dicantumkan.
7. Paraf dokter.
Paraf atau tanda tangan dokter yang menuliskan suatu resep menjadikan resep
tersebut otentik. Dalam penulisan resep tersebut, terdapat paraf dokter yang menuliskan
resep tersebut.
8. Identitas Pasien.
Identitas Pasien yang menerima sebuah resep harus meliputi nama pasien (pro), umur,
berat badan beserta alamat. Ini dimaksudkan agar tidak terjadi kesalahan dalam
penyerahan obat diapotik atau diruangan. Pada resep tersebut, telah tercantumkan nama,
umur, berat badan serta alamat pasien tersebut.
Berdasarkan keterangan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa resep tersebut
tidak lengkap.
21
4. PEMERINTAH PROVINSI PAPUA
JAMKES PAPUA
No. DM : ………………………………………………………………….
SMF : IGD
Dokter : Jacky
Tanggal : 17/4/13
R/ NGT dewasa 18 I
Spuit 20 cc I
S i.m.m (paraf)
R/ Phenytoin 100 mg
As. Folat I
Carbamazepin 200 mg
Luminal I
B6 I
S2 dd pulv I (paraf)
R/ Captopril X
S 3 dd II (paraf)
S
Pro : Tn. Rudy K.
Umur : - BB : -
Analisis Resep:
- Resep diatas ditujukan untuk pasien Tn. Rudi K. yang tinggal di APO kali. Resep tersebut
ditulis oleh dr. Jacky dari UGD pada tanggal 20 April 2013. Dokter tersebut meminta
obat sebagai berikut:
22
a. NGT dewasa berukuran 18 1 buah dan spuit 20 cc 1 buah dengan aturan pakai
diserahkan kepada dokter
b. Phenytoin 100 mg, As. Folat 1 butir tablet, Carbamazepin 200 mg, Luminal 1
butir tablet, B6 1 butir tablet dibuat dalam bentuk puyer sebanyak 10 bungkus
dengan aturan pakai 2 kali pemberian per hari
c. Captopril 10 buah dengan aturan pakai sekali minum 1 butir tablet dengan 3 kali
pemberian per hari
- Bentuk sediaan obat yang diminta dalam resep tersebut adalah dalam bentuk alat
kesehatan, puyer dan bentuk tablet (bentuk sediaan obat yang diminta pada recipe terakhir
diasumsikan sebagai tablet karena sediaan kaptopril hanya dalam bentuk tablet)
Ambillah sebanyak 100 mg Phenytoin tablet, 1 butir tablet asam folat, 200 mg carbamazepin,
butir tablet luminal dan 1 butir tablet B6 lalu tumbuk hingga menjadi halus dan tercampur
dan bagi dalam 10 bungkus puyer.
1. Presciber’s Signature
Karena resep tersebut berasal dari Rumah Sakit Umum Daerah Jayapura, maka Kop
resep (kepala resep) sudah dicantumkan beserta dengan alamat lengkap dan nomor
telepon yang bisa dihubungi. Namun No. DM dari dokter yang menulis resep tersebut
tidak dicantumkan.
Nama dokter yang menulis resep tersebut dan ruangan tempat resep tersebut
dikeluarkan telah dicantumkan.
2. Tanggal Resep
Tanggal resep sudah dicantumkan yaitu tanggal 20 April 2013
3. Superscriptio
Superscriptio atau Recipe (R/) sudah dicantumkan pada masing-masing obat yang
diminta.
4. Inscriptio
Inscriptio atau isi resep terdiri dari nama obat atau alat kesehatan, jenis dan satuan.
Dalam penulisan resep tersebut, nama alat kesehatan telah ditulis berdasarkan ukuran
yang diminta. Namun dosis pada pembuatan puyer untuk recipe kedua kurang lengkap.
23
Luminal, B6 dan asam folat tidak ditambahkan dosis dan hanya ditambah angka romawi
I. Untuk recipe yang ketiga juga tidak ditambahkan dosis yang diminta.
Jumlah alat kesehatan, puyer serta obat yang diminta tidak mencantumkan kata
numero (NO).
5. Subscriptio
Subscriptio adalah bentuk sediaan yang dikehendaki. Dalam penulisan resep tersebut
tidak dicantumkan bentuk sediaan obat yang dikehendaki kecuali untuk recipe yang
kedua yan mencantumkan bentuk sediaan obatnya.
6. Transcriptio
Transcriptio atau Signatura adalah aturan pakai untuk penderita. Pada setiap resep
telah dicantumkan aturan pakai untuk penderita. Namun waktu untuk mengkonsumsi obat
tidak dicantumkan.
7. Paraf dokter.
Paraf atau tanda tangan dokter yang menuliskan suatu resep menjadikan resep
tersebut otentik. Dalam penulisan resep tersebut, terdapat paraf dokter yang menuliskan
resep tersebut.
8. Identitas Pasien.
Identitas Pasien yang menerima sebuah resep harus meliputi nama pasien (pro), umur,
berat badan beserta alamat. Ini dimaksudkan agar tidak terjadi kesalahan dalam
penyerahan obat diapotik atau diruangan. Pada resep tersebut, telah tercantumkan nama
serta alamat pasien tersebut penerima resep tersebut, namun umur dan berat badan tidak
dicantumkan.
Berdasarkan keterangan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa resep tersebut
tidak lengkap.
24
5. PEMERINTAH PROVINSI PAPUA
JAMKES PAPUA
No. DM : ………………………………………………………………….
SMF : IGD
Dokter : Marcel
Tanggal : 20/4/2013
R/ DMP 3,5 mg
CTM 1,7 mg
Efedrin 9 mg
S3 dd I (paraf)
S
Pro : An. Yan Aninam
Umur : 5 thn BB : 17 kg
Alamat : Klofkamp
Analisis Resep:
- Resep diatas ditujukan untuk pasien An. Yan Aninam berumur 5 tahun dengan berat 17
kg dan beralamat di Klofkamp. Resep tersebut ditulis oleh dr. Marcell dari UGD pada
tanggal 20 April 2013. Dokter tersebut meminta obat DMP 3,5 mg, CTM 1,7 mg dan
Efedrin 9 mg yang dibuat dan dicampur menjadi dalam bentuk puyer sebanyak 15
bungkus dengan aturan pakai 3 kali pemberian per hari dengan dosis sekali minum 1
bungkus puyer
- Bentuk sediaan obat yang diminta dalam resep tersebut adalah dalam bentuk puyer
Ambillah sebanyak 3,5 mg DMP tablet, 1,7 mg CTM, dan 9 mg efedrin, lalu tumbuk hingga
menjadi halus dan tercampur serta bagi dalam 15 bungkus puyer.
25
Analisa Kelengkapan Resep
1. Presciber’s Signature
Karena resep tersebut berasal dari Rumah Sakit Umum Daerah Jayapura, maka Kop
resep (kepala resep) sudah dicantumkan beserta dengan alamat lengkap dan nomor
telepon yang bisa dihubungi. Namun No. DM dari dokter yang menulis resep tersebut
tidak dicantumkan.
Nama dokter yang menulis resep tersebut dan ruangan tempat resep tersebut
dikeluarkan telah dicantumkan.
2. Tanggal Resep
Tanggal resep sudah dicantumkan yaitu tanggal 22 April 2013
3. Superscriptio
Superscriptio atau Recipe (R/) sudah dicantumkan pada obat yang diminta.
4. Inscriptio
Inscriptio atau isi resep terdiri dari nama obat atau alat kesehatan, jenis dan satuan.
Dalam penulisan resep tersebut, nama alat kesehatan telah ditulis berdasarkan ukuran
yang diminta. Penulisan kata numero (NO) telah dicantumkan.
5. Subscriptio
Subscriptio adalah bentuk sediaan yang dikehendaki. Dalam penulisan resep tersebut
telah dicantumkan bentuk sediaan obat yang dikehendaki
6. Transcriptio
Transcriptio atau Signatura adalah aturan pakai untuk penderita. Pada resep diatas
telah dicantumkan aturan pakai untuk penderita. Namun waktu untuk mengkonsumsi obat
tidak dicantumkan.
7. Paraf dokter.
Paraf atau tanda tangan dokter yang menuliskan suatu resep menjadikan resep
tersebut otentik. Dalam penulisan resep tersebut, terdapat paraf dokter yang menuliskan
resep tersebut.
8. Identitas Pasien.
Identitas Pasien yang menerima sebuah resep harus meliputi nama pasien (pro), umur,
berat badan beserta alamat. Ini dimaksudkan agar tidak terjadi kesalahan dalam
penyerahan obat diapotik atau diruangan. Pada resep tersebut, tnama pasien penerima
rese, berat badan, umur serta alamat pasien enerima resep telah dicantumkan.
26
Berdasarkan keterangan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa resep tersebut
tidak lengkap.
SMF : IGD
Dokter : Jacky
Tanggal : 17/4/13
R/ Ciprofloksasin X
S 2 dd I
S 3 dd I
R/ Asam mefenamat X
S 3 dd I
S
Pro : Tn. Jonathan Morin
Alamat : ………………………………………………………………
Analisis Resep:
- Resep diatas ditujukan untuk pasien Tn. Jonathan Morin berumur 53 tahun. Resep
tersebut ditulis oleh dr. Jacky dari ruang IGD pada tanggal 17 April 2013. Dokter
tersebut meminta obat sebagai berikut:
1. Ciprofloksasin 10 buah dengan aturan minum sekali minum 1 tablet dengan dua
kali pemberian dalam satu hari;
2. Non Flamin kapsul 10 buah dengan aturan minum sekali minum 1 kapsul dengan
tiga kali pemberian dalam satu hari;
27
3. Asam mefenamat 10 buah dengan aturan minum sekali minum 1 tablet dengan
tiga kali pemberian dalam satu hari;
- Bentuk sediaan obat yang diminta dalam resep tersebut dalam bentuk tablet dan
kapsul
1. Presciber’s Signature
Karena resep tersebut berasal dari Rumah Sakit Umum Daerah Jayapura, maka
Kop resep (kepala resep) sudah dicantumkan beserta dengan alamat lengkap dan
nomor telepon yang bisa dihubungi. Namun No. DM dari dokter yang menulis resep
tersebut tidak ditulis.
Nama dokter dan tempat/SMF tempat resep ini dikeluarkan ditulis.
2. Tanggal Resep
Tanggal resep sudah dicantumkan yaitu tanggal 17 April 2013
3. Superscriptio
Superscriptio atau Recipe (R/) sudah dicantumkan pada masing-masing obat yang
diminta.
4. Inscriptio
Inscriptio atau isi resep terdiri dari nama obat, jenis dan satuan. Dalam penulisan
resep tersebut, nama obat telah dicantumkan, namun dosis yang diminta pada obat
kedua sampai obat ketiga tidak dicantumkan. Jumlah obat yang diminta telah
dicantumkan tanpa kata numero (NO).
5. Subscriptio
Subscriptio adalah bentuk sediaan yang dikehendaki. Dalam penulisan resep
tersebut tidak dicantumkan bentuk sediaan obat yang dikehendaki, kecuali pada obat
ke dua dituliskan nama sediaan obat yang diminta.
6. Transcriptio
Transcriptio atau Signatura adalah aturan pakai untuk penderita. Pada resep
tersebut telah ada aturan pakai untuk penderita, namun waktu untuk minum obat tidak
dicantumkan.
7. Paraf dokter.
Paraf atau tanda tangan dokter yang menuliskan suatu resep menjadikan resep
tersebut otentik. Dalam penulisan resep tersebut, tidak terdapat paraf atau tanda
tangan dokter yang menuliskan resep tersebut.
28
8. Identitas Pasien.
Identitas Pasien yang menerima sebuah resep harus meliputi nama pasien (pro),
umur, berat badan beserta alamat. Ini dimaksudkan agar tidak terjadi kesalahan dalam
penyerahan obat diapotik. Pada resep tersebut, telah tercantumkan nama dan umur
pasien penerima resep tersebut, namun alamat dan berat badan pasien tidak
dicantumkan
Berdasarkan keterangan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa resep tersebut
tidak lengkap.
SMF : IGD
Dokter : Marcelle
Tanggal : 22/4/2013
R/ Ambroxol
CTM 1 tab
Efedrin
S 3 dd I caps (paraf)
S
Pro : Ny. Ruth Mayor
Alamat : ………………………………………………………………
Analisis Resep
- Resep diatas ditujukan untuk pasien Ny. Ruth Mayor berumur 41 tahun. Resep
tersebut ditulis oleh dr. Marcelle dari ruang IGD pada tanggal 22 April 2013. Dokter
tersebut meminta obat Ambroxol, CTM dan Efedrin masing-masing satu tablet dan
dicampurkan kemudian dibuat kedalam bentuk kapsul
29
- Bentuk sediaan obat yang diminta dalam resep tersebut dalam bentuk kapsul
1. Presciber’s Signature
Karena resep tersebut berasal dari Rumah Sakit Umum Daerah Jayapura, maka
Kop resep (kepala resep) sudah dicantumkan beserta dengan alamat lengkap dan
nomor telepon yang bisa dihubungi. Namun No. DM dari dokter yang menulis resep
tersebut tidak ditulis.
Nama dokter dan tempat/SMF tempat resep ini dikeluarkan ditulis.
2. Tanggal Resep
Tanggal resep sudah dicantumkan yaitu tanggal 22 April 2013
3. Superscriptio
Superscriptio atau Recipe (R/) sudah dicantumkan pada obat yang diminta.
4. Inscriptio
Inscriptio atau isi resep terdiri dari nama obat, jenis dan satuan. Dalam penulisan
resep tersebut, nama obat telah dicantumkan, namun dosis yang diminta tidak
dicantumkan dan hanya dicantumkan 1 tablet untuk setiap obat yang diminta. Jumlah
obat yang diminta telah dicantumkan lengkap dengan kata numero (NO).
5. Subscriptio
Subscriptio adalah bentuk sediaan yang dikehendaki. Dalam penulisan resep
tersebut telah dicantumkan bentuk sediaan obat yang dikehendaki, namun terdapat
salah penulisan, dimana seharusnya arti dari resep tersebut adalah semua obat yang
diminta diminta dicampurkan dibuat dalam bentuk kapsul. Penulisan yang benar
adalah “m.f.l.a pulv da in caps”.
6. Transcriptio
Transcriptio atau Signatura adalah aturan pakai untuk penderita. Pada resep
tersebut telah ada aturan pakai untuk penderita, namun waktu untuk minum obat tidak
dicantumkan.
7. Paraf dokter.
Paraf atau tanda tangan dokter yang menuliskan suatu resep menjadikan resep
tersebut otentik. Dalam penulisan resep tersebut, terdapat paraf dokter yang
menuliskan resep tersebut.
30
8. Identitas Pasien.
Identitas Pasien yang menerima sebuah resep harus meliputi nama pasien (pro),
umur, berat badan beserta alamat. Ini dimaksudkan agar tidak terjadi kesalahan dalam
penyerahan obat diapotik. Pada resep tersebut, telah tercantumkan nama dan umur
pasien penerima resep tersebut, namun alamat dan berat badan pasien tidak
dicantumkan
Berdasarkan keterangan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa resep tersebut
tidak lengkap.
SMF : IGD
Dokter : Heidi
Tanggal : 20/4/13
R/ Lansoprazole caps II
S 1 dd caps I (paraf)
R/ Narfoz 8 mg tb III
S 3 dd I tb I (paraf)
S 3 dd I tb I (paraf)
S
Pro : Tn. Yan Piet Arronggear
Alamat : ………………………………………………………………
31
Analisis Resep:
- Resep diatas ditujukan untuk pasien Tn. Yan Piet Arronggear berumur 25 tahun.
Resep tersebut ditulis oleh dr. Heidi dari ruang IGD pada tanggal 20 April 2013.
Dokter tersebut meminta obat sebagai berikut:
1. Antasida sirup sebanyak 1 botol dengan aturan minum sekali minum 1 sendok teh
dengan 3 kali pemberian per hari dan diminum sebelum makan
2. Lansoprazole kapsul sebanyak 2 butir dengan aturan minum sekali minum 1
kapsul dengan 1 kali pemberian per hari
3. Narfoz 8 mg tablet sebanyak 3 butir tablet dengan aturan minum sekali minum 1
tablet dengan 3 kali pemberian per hari
4. Ciprofloksasin 500 mg tablet sebanyak 3 butir dengan aturan minum sekali
minum 1 tablet dengan 3 kali pemberian per hari
- Bentuk sediaan obat yang diminta dalam resep tersebut dalam bentuk sirup, kapsul
dan tablet.
1. Presciber’s Signature
Karena resep tersebut berasal dari Rumah Sakit Umum Daerah Jayapura, maka
Kop resep (kepala resep) sudah dicantumkan beserta dengan alamat lengkap dan
nomor telepon yang bisa dihubungi. Namun No. DM dari dokter yang menulis resep
tersebut tidak ditulis.
Nama dokter dan tempat/SMF tempat resep ini dikeluarkan ditulis.
2. Tanggal Resep
Tanggal resep sudah dicantumkan yaitu tanggal 20 April 2013
3. Superscriptio
Superscriptio atau Recipe (R/) sudah dicantumkan pada masing-masing obat yang
diminta.
4. Inscriptio
Inscriptio atau isi resep terdiri dari nama obat, jenis dan satuan. Dalam penulisan
resep tersebut, nama obat telah dicantumkan, namun dosis yang diminta pada obat
pertama dan obat kedua tidak dicantumkan. Jumlah obat yang diminta telah
dicantumkan tanpa kata numero (NO).
32
5. Subscriptio
Subscriptio adalah bentuk sediaan yang dikehendaki. Dalam penulisan resep
tersebut dicantumkan bentuk sediaan obat yang dikehendaki.
6. Transcriptio
Transcriptio atau Signatura adalah aturan pakai untuk penderita. Pada resep
tersebut telah ada aturan pakai untuk penderita, namun waktu untuk minum obat tidak
dicantumkan. Pada penulisan resep ke tiga terjadi kesalahan penulisan, seharusnya S
3 dd tab I. Penulisan tab untuk sediaan obat tablet juga salah, seharusnya ‘tab’.
7. Paraf dokter.
Paraf atau tanda tangan dokter yang menuliskan suatu resep menjadikan resep
tersebut otentik. Dalam penulisan resep tersebut, terdapat paraf dokter yang
menuliskan resep tersebut.
8. Identitas Pasien.
Identitas Pasien yang menerima sebuah resep harus meliputi nama pasien (pro),
umur, berat badan beserta alamat. Ini dimaksudkan agar tidak terjadi kesalahan dalam
penyerahan obat diapotik. Pada resep tersebut, telah tercantumkan nama dan umur
pasien penerima resep tersebut, namun alamat dan berat badan pasien tidak
dicantumkan
Berdasarkan keterangan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa resep tersebut
tidak lengkap.
33
4. PEMERINTAH PROVINSI PAPUA
JAMKES PAPUA
No. DM : ………………………………………………………………..
SMF : IGD
Dokter : Heidi
Tanggal : 20/4/13
S 3 dd cth ½ ac (paraf)
R/ Psidii caps X
S
Pro : An. Kesya Waromi
Umur : 7 thn BB : 17 kg
Alamat : ………………………………………………………………
Analisis Resep:
- Resep diatas ditujukan untuk pasien An. Kesya Waromi berumur 7 tahun dengan berat 17
kg. Resep tersebut ditulis oleh dr. Heidi dari ruang IGD pada tanggal 20 April 2013.
Dokter tersebut meminta obat sebagai berikut:
a. Domperidone sirup sebanyak 1 botol dengan aturan minum sekali minum 1 sendok
teh dengan 3 kali pemberian dan diminum sebelum makan dengan keterangan bila
mual atau muntah saja.
b. Cotrimoxsazole sirup sebanyak 1 botol dengan aturan minum sekali minum 2 sendok
teh dengan 2 kali pemberian. Obat ini harus dihabiskan.
34
c. Antasida sirup sebanyak 1 botol dengan aturan minum sekali minum ½ sendok teh
dengan 3 kali pemberian dan diminum sebelum makan.
d. Psidii kapsul sebanyak 10 butir dengan aturan minum sekali minum ½ kapsul dengan
2 kali pemberian
- Bentuk sediaan obat yang diminta dalam resep tersebut dalam bentuk sirup dan kapsul.
1. Presciber’s Signature
Karena resep tersebut berasal dari Rumah Sakit Umum Daerah Jayapura, maka Kop
resep (kepala resep) sudah dicantumkan beserta dengan alamat lengkap dan nomor
telepon yang bisa dihubungi. Namun No. DM dari dokter yang menulis resep tersebut
tidak ditulis. Nama dokter dan tempat/SMF tempat resep ini dikeluarkan ditulis.
2. Tanggal Resep
Tanggal resep sudah dicantumkan yaitu tanggal 20 April 2013
3. Superscriptio
Superscriptio atau Recipe (R/) sudah dicantumkan pada masing-masing obat yang
diminta.
4. Inscriptio
Inscriptio atau isi resep terdiri dari nama obat, jenis dan satuan. Dalam penulisan
resep tersebut, nama obat telah dicantumkan, namun dosis yang diminta tidak
dicantumkan. Jumlah obat yang diminta telah dicantumkan tanpa kata numero (NO).
5. Subscriptio
Subscriptio adalah bentuk sediaan yang dikehendaki. Dalam penulisan resep tersebut
dicantumkan bentuk sediaan obat yang dikehendaki.
6. Transcriptio
Transcriptio atau Signatura adalah aturan pakai untuk penderita. Pada resep tersebut
telah ada aturan pakai untuk penderita. Waktu untuk minum obat dicantumkan hanya
untuk obat pertama dan ketiga, obat kedua dan keempat tidak dicantumkan.
7. Paraf dokter.
Paraf atau tanda tangan dokter yang menuliskan suatu resep menjadikan resep
tersebut otentik. Dalam penulisan resep tersebut, terdapat paraf dokter yang menuliskan
resep tersebut.
35
8. Identitas Pasien.
Identitas Pasien yang menerima sebuah resep harus meliputi nama pasien (pro), umur,
berat badan beserta alamat. Ini dimaksudkan agar tidak terjadi kesalahan dalam
penyerahan obat diapotik. Pada resep tersebut, telah tercantumkan nama, umur dan berat
badan pasien penerima resep tersebut, namun alamat pasien tidak dicantumkan
Berdasarkan keterangan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa resep tersebut tidak
lengkap.
JAMKES PAPUA
No. DM : ………………………………………………………………..
Tanggal : 22/4/13
S 2 dd I (paraf)
R/ Paracetamol 500 mg X
S 3 dd I (paraf)
R/ CTM V
S 3 dd ½ (paraf)
S
Pro : An. Aprilio Nosparik
Umur : 4 thn BB : 41 kg
36
Analisis Resep:
- Resep diatas ditujukan untuk pasien An. Aprilio Nosparik berumur 4 tahun dengan berat
41 kg. Resep tersebut ditulis oleh dr. Made dari Polklinik Sore pada tanggal 22 April
2013. Dokter tersebut meminta obat sebagai berikut:
a. Cefadoxyl kapsul 500 mg sebanyak 10 butir dengan aturan minum sekali minum 1
butir kapsul dengan 2 kali pemberian.
b. Paracetamol 500 mg sebanyak 10 butir tablet dengan aturan minum sekali minum 1
butir dengan 3 kali pemberian.
c. CTM sebanyak 5 butir tablet dengan aturan minum sekali minum ½ tablet dengan 3
kali pemberian
- Bentuk sediaan obat yang diminta dalam resep tersebut dalam bentuk kapsul dan tablet.
1. Presciber’s Signature
Karena resep tersebut berasal dari Rumah Sakit Umum Daerah Jayapura, maka Kop
resep (kepala resep) sudah dicantumkan beserta dengan alamat lengkap dan nomor
telepon yang bisa dihubungi. Namun No. DM dari dokter yang menulis resep tersebut
tidak ditulis. Nama dokter dan tempat/SMF tempat resep ini dikeluarkan ditulis.
2. Tanggal Resep
Tanggal resep sudah dicantumkan yaitu tanggal 22 April 2013
3. Superscriptio
Superscriptio atau Recipe (R/) sudah dicantumkan pada masing-masing obat yang
diminta.
4. Inscriptio
Inscriptio atau isi resep terdiri dari nama obat, jenis dan satuan. Dalam penulisan
resep tersebut, nama obat telah dicantumkan, namun dosis yang diminta hanya
dicantumkan untuk obat pertama dan kedua. Obat ketiga tidak dicantumkan. Jumlah obat
yang diminta telah dicantumkan tanpa kata numero (NO).
5. Subscriptio
Subscriptio adalah bentuk sediaan yang dikehendaki. Dalam penulisan resep tersebut
dicantumkan bentuk sediaan obat yang dikehendaki. Hanya obat ketiga yang bentuk
sediaannya tidak dicantumkan.
37
6. Transcriptio
Transcriptio atau Signatura adalah aturan pakai untuk penderita. Pada resep tersebut
telah ada aturan pakai untuk penderita. Waktu untuk minum obat tidak dicantumkan.
7. Paraf dokter.
Paraf atau tanda tangan dokter yang menuliskan suatu resep menjadikan resep
tersebut otentik. Dalam penulisan resep tersebut, terdapat paraf dokter yang menuliskan
resep tersebut.
8. Identitas Pasien.
Identitas Pasien yang menerima sebuah resep harus meliputi nama pasien (pro), umur,
berat badan beserta alamat. Ini dimaksudkan agar tidak terjadi kesalahan dalam
penyerahan obat diapotik. Pada resep tersebut, Identitas pasien tela dicantumkan dengan
lengkap.
Berdasarkan keterangan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa resep tersebut tidak
lengkap.
Bentuk resep alat kesehatan telah dicantumkan bersama dengan bentuk resep untuk sediaan
injeksi di resep ketiga.
38
Bentuk Sediaan : Obat luar dan lain-lain.
JAMKES PAPUA
No. DM : ………………………………………………………………..
SMF : Anak
Tanggal : 22/4/13
R/ ol 70% 100 cc I
Abocath No. 24 G I
Minyak telon I
Dysposible 10 cc
Dysposible 3 cc I
Dysposible 1 cc II
Wing Needle No 27 G
S i.m.m (paraf)
R/ Trombolpup er I
Sue (paraf)
R/ San b plex I
S 1 dd 0,3 cc (paraf)
S
Pro : By. Regina Rumansara
Umur : - BB : -
Alamat : Bhayangkara
39
Analisis Resep:
- Resep diatas ditujukan untuk pasien By. Regina Rumansara yang beralamtkan di
Bhayangkara. Resep tersebut ditulis oleh dr. Alfin Amelia dari ruangan SMF Anak pada
tanggal 22 April 2013. Dokter tersebut meminta obat sebagai berikut:
a. Alat kesehatan berupa ol 70% 100 cc 1 buah, Plester Kecil Rol 1 buah, Abocath No.
24 G 1 buah, Kasa Steril Box 2 buah, Minyak telon 1 buah, Dysposible 10 cc,
Dysposibble 3 cc 1 buah dan Dysposibble 1 cc 2 buah, Wing Needle No 27 G dengan
aturan pemakaian diberikan ke tangan dokter
b. Trombolpup eliksir 1 buah dengan aturan pemakaian untuk obat luar
c. San b plex 1 buah dengan pemakaian 1 kali per hari dengan dosis 0,3 cc setiap kali
pemakaian.
- Bentuk sediaan obat yang diminta dalam resep tersebut dalam bentuk alat kesehatan,
eliksir dan injeksi.
1. Presciber’s Signature
Karena resep tersebut berasal dari Rumah Sakit Umum Daerah Jayapura, maka Kop
resep (kepala resep) sudah dicantumkan beserta dengan alamat lengkap dan nomor
telepon yang bisa dihubungi. Namun No. DM dari dokter yang menulis resep tersebut
tidak ditulis. Nama dokter dan tempat/SMF tempat resep ini dikeluarkan ditulis.
2. Tanggal Resep
Tanggal resep sudah dicantumkan yaitu tanggal 22 April 2013
3. Superscriptio
Superscriptio atau Recipe (R/) sudah dicantumkan pada masing-masing obat yang
diminta.
4. Inscriptio
Inscriptio atau isi resep terdiri dari nama obat, jenis dan satuan. Dalam penulisan
resep tersebut, nama obat telah dicantumkan, namun dosis yang diminta tidak
dicantumkan. Jumlah obat yang diminta telah dicantumkan tanpa kata numero (NO).
5. Subscriptio
Subscriptio adalah bentuk sediaan yang dikehendaki. Dalam penulisan resep tersebut
dicantumkan bentuk sediaan obat yang dikehendaki. Hanya obat ketiga yang bentuk
sediaannya tidak dicantumkan.
40
6. Transcriptio
Transcriptio atau Signatura adalah aturan pakai untuk penderita. Pada resep tersebut
telah ada aturan pakai untuk penderita. Waktu untuk pemakaian serta konsumsi obat tidak
dicantumkan.
7. Paraf dokter.
Paraf atau tanda tangan dokter yang menuliskan suatu resep menjadikan resep
tersebut otentik. Dalam penulisan resep tersebut, terdapat paraf dokter yang menuliskan
resep tersebut.
8. Identitas Pasien.
Identitas Pasien yang menerima sebuah resep harus meliputi nama pasien (pro), umur,
berat badan beserta alamat. Ini dimaksudkan agar tidak terjadi kesalahan dalam
penyerahan obat diapotik. Pada resep tersebut, nama dan alamat pasien telah
dicantumkan, namun umur dan berat badan pasien tidak dcantumkan.
Berdasarkan keterangan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa resep tersebut tidak
lengkap.
JAMKES PAPUA
No. DM : C1430
SMF : RP3
Dokter : Fitri
Tanggal : 22/4/2013
Sue (paraf)
S i.m.m (paraf)
S
Pro : Tn. Hengky Dagopra
Umur : 45 thn BB : -
41
Alamat : -
Analisis Resep:
- Resep diatas ditujukan untuk pasien Tn. Hengky Dagopra yang berusia 45 tahun. Resep
tersebut ditulis oleh dr. Fitri dari ruangan SMF RP3 (Ruang Penyakit Paru-Paru) pada
tanggal 22 April 2013. Dokter tersebut meminta obat sebagai berikut:
a. Inerson cream sebanyak 1 buah dengan aturan pemakaian untuk obat luar
b. Kanamisin injeksi sebanyak 2 vial dengan aturan pemakaian diserahkan ke tangan
dokter
- Bentuk sediaan obat yang diminta dalam resep tersebut dalam bentuk cream dan injeksi.
1. Presciber’s Signature
Karena resep tersebut berasal dari Rumah Sakit Umum Daerah Jayapura, maka Kop
resep (kepala resep) sudah dicantumkan beserta dengan alamat lengkap dan nomor
telepon yang bisa dihubungi. No. DM dari dokter yang menulis resep tersebut telah
ditulis, nama dokter dan tempat/SMF tempat resep ini dikeluarkan juga telah ditulis.
2. Tanggal Resep
Tanggal resep sudah dicantumkan yaitu tanggal 22 April 2013
3. Superscriptio
Superscriptio atau Recipe (R/) sudah dicantumkan pada masing-masing obat yang
diminta.
4. Inscriptio
Inscriptio atau isi resep terdiri dari nama obat, jenis dan satuan. Dalam penulisan
resep tersebut, nama obat telah dicantumkan, namun dosis yang diminta tidak
dicantumkan. Jumlah obat yang diminta telah dicantumkan lengkap dengan kata numero
(NO).
5. Subscriptio
Subscriptio adalah bentuk sediaan yang dikehendaki. Dalam penulisan resep tersebut
dicantumkan bentuk sediaan obat yang dikehendaki.
6. Transcriptio
Transcriptio atau Signatura adalah aturan pakai untuk penderita. Pada resep tersebut
telah ada aturan pakai untuk penderita. Waktu untuk pemakaian obat tidak dicantumkan.
42
7. Paraf dokter.
Paraf atau tanda tangan dokter yang menuliskan suatu resep menjadikan resep
tersebut otentik. Dalam penulisan resep tersebut, terdapat paraf dokter yang menuliskan
resep tersebut.
8. Identitas Pasien.
Identitas Pasien yang menerima sebuah resep harus meliputi nama pasien (pro), umur,
berat badan beserta alamat. Ini dimaksudkan agar tidak terjadi kesalahan dalam
penyerahan obat diapotik. Pada resep tersebut, nama dan umur pasien telah dicantumkan,
namun berat badan pasien dan alamat pasie tidak dicantumkan.
Berdasarkan keterangan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa resep tersebut tidak
lengkap.
3. Untuk contoh resep yang ketiga telah dicantumkan bersama dengan sediaan puyer.
43