Maintain Engine Cooling System
Maintain Engine Cooling System
Rev No.A
1 of 101
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 Member of Indika Energy Group
1 of 101
Maintain Engine Cooling System
Daftar Isi
1. SAFETY ............................................................................................................... 4
1.1. Informasi Material Safety ............................................................................... 4
1.2. Panduan General Safety ................................................................................. 4
1.3. Syarat – Syarat Khusus Safety ........................................................................ 4
1.4. Komponen yang berputar ............................................................................... 5
1.5. Safety dalam Penggunaan Coolant .................................................................. 5
1.6. Pembuangan Coolant ..................................................................................... 5
2. TUJUAN SISTEM PENDINGIN ................................................................................ 6
2.1. Perlunya Sistem Pendingin ............................................................................. 6
2.2. Panas dan Temperatur ................................................................................... 7
2.3. Perpindahan Panas ........................................................................................ 8
2.4. Elektrolisa ................................................................................................... 10
2.5. Erosi Kavitasi ............................................................................................... 11
2.6. Colant Engine .............................................................................................. 13
3. COOLING SYSTEM COMPONENT ......................................................................... 18
3.1. Water Pump ................................................................................................ 20
3.2. Radiator ...................................................................................................... 21
3.3. Hose ........................................................................................................... 26
3.4. Cooling Fan ................................................................................................. 26
3.5. Water Temperatur Regulator /Thermostat ..................................................... 30
3.6. Temperatur Indicator ................................................................................... 32
3.7. Radiator Pressure Cap .................................................................................. 32
3.8. Expansion Plug (Frost Plug) .......................................................................... 34
3.9. Coolant Conditioner Element ........................................................................ 34
3.10. After-Cooler .............................................................................................. 35
3.11. Engine Oil Cooler ...................................................................................... 37
3.12. Water Cooled Exhaust ............................................................................... 38
4. COOLING SYSTEM REVIEW ................................................................................ 39
4.1. Cooling System Pada Engine 3406B .............................................................. 39
5. COOLING SYSTEM MAINTENANCE ...................................................................... 48
5.1. Inspeksi Visual Pada Sistem Pendingin .......................................................... 48
5.2. Inspeksi Visual Pada Aliran Udara ................................................................. 48
5.3. Sirkulasi Coolant .......................................................................................... 49
5.4. Radiator Core Flow ...................................................................................... 49
5.5. Udara di dalam Coolant ................................................................................ 50
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 2 of 101
Maintain Engine Cooling System
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 3 of 101
Maintain Engine Cooling System
1. SAFETY
1.1. Informasi Material Safety
Material Safety Data Sheet (MSDS) untuk bermacam-macam material yang digunakan
pada system pendingin seharusnya berada pada tempat kerja. Pekerja perlu mengerti
dan mematuhi pada apa yang direkomendasikan sebelum menggunakan material
apapun untuk system ini.
PERINGATAN
Sistem pendingin beroperasi mencapai tekanan 150 kPa (22 psi) dan temperatur kerja
mencapai 110°C (230°F). Perhatian yang khusus diperlukan ketika bekerja pada system
pendingin untuk mencegah terjadinya cidera.
Hal ini umum untuk engine yang terpasang dengan temperature controlled fans yang
mana dapat berputar tanpa adanya peringatan. Kehati – hatian sangat diperlukan untuk
mencegah terjadinya kecelakaan pada pekerja.
Ketika memeriksa ketinggian coolant pada engine yang panas, perhatian yang khusus
diperlukan pada saat membuka radiator cap. Penurunan tekanan yang tiba – tiba pada
engine yang beroperasi pada temperatur operasi menyebabkan coolant mendidih dan
menimbulkan uap. Uap ini dapat menyebabkan luka bakar serius.
Sebelum melepas tutup radiator atau melepas komponen lainnya dari system pendingin
yang panas :
Biarkan system menjadi dingin kurang lebih dua jam, atau gunakan tindakan
pencegahan untuk menghindari terjadinya luka bakar.
Lindungi tangan dengan sarung tangan atau kain lap yang tebal.
Berdiri pada sebelah sisinya dan jangan membungkuk di atas radiator.
Putar dan buka tutup untuk langkah pertama (safety stop).
Tunggu tekanan turun.
Tekan radiator cap dan putar untuk melepasnya.
Beberapa radiator cap mungkin dipasang dengan sebuah tombol atau lever untuk
membuang tekanan dalam sistem. Ikutilah petunjuk pada Service Manual.
Sebelum melepas hose, khususnya hose di bagian bawah, pastikan temperatur
coolant tidak panas. Temperatur pada sisi luar hose akan lebih rendah daripada
temperatur coolant sebenarnya sehingga perlu hati – hati dalam memeriksa
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 4 of 101
Maintain Engine Cooling System
Corrosion inhibitor dan larutan antifreeze mengandung ethylene glycol dan unsur
pokok pembentuknya adalah toxic.
Untuk mempertimbangkan penanganan yang aman untuk larutan ini, berikut ini
tindakan pencegahan yang perlu diperhatikan :
- Jagalah ventilasi yang cukup dan jangan menghirup uap.
- Penghalang tidak boleh berada di dalam. Jangan letakkan hose pada mulut anda
ketika sedang menuangkan dan mulai menyedot atau mulai menghirup atau
menuang coolant menggunakan jari anda dan air diisikan ke hose.
- Jika terjadi percikan ke kulit, bersihkan segera.
- Jika pakaian terpercik, gantilah dan cucilah sebelum digunakan kembali.
- Jangan menumpahkan coolant pada cat kendaraan, cucilah dengan segera dengan
menggunakan air.
- Cegahlah tertumpahnya inhibitor atau larutan antifreeze ketika sedang
memperbaiki system pendingin dengan mengurasnya ke dalam sebuah wadah yang
bersih.
Coolant tidak boleh dibuang ke dalam laut atau selokan karena coolant mengandung
racun yang berbahaya untuk laut dan tumbuhan. Coolant ditampung dan melalui proses
pengolahan limbah sebelum dibuang. Mengacu pada peraturan pemerintah tentang
prosedur pembuangan limbah.
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 5 of 101
Maintain Engine Cooling System
Di dalam engine terjadi proses pembakaran bahan bakar untuk menghasilkan tenaga
dan dalam proses pembakaran tersebut juga menghasilkan temperature yang sangat
tinggi di dalam ruang bakar. Temperatur di dalam engine perlu dikontrol agar tidak
melebihi batasan temperatur kerja untuk memaksimalkan efisiensi pembakaran bahan
bakar dan memastikan tingkat temperatur dijaga agar tidak menyebabkan kerusakan
terhadap komponen. Ketika engine beroperasi pada kondisi belum mencapai temperatur
kerja (dingin) akan terjadi keausan lebih cepat pada komponen – komponen tertentu.
Pada Engine diesel sangat bergantung pada perawatan sistem pendingin yang baik
sehingga engine dapat mencapai temperatur kerja dengan cepat dan juga dapat
menjaga temperatur kerja tetap konstan sehubungan dengan beban yang diterima oleh
engine.
Pada proses pembakaran udara dan bahan bakar di dalam ruang bakar akan
menghasilkan panas dengan temperatur yang sangat tinggi. Panas tersebut akan diserap
oleh dinding cylinder, cylinder head dan piston. Oleh sebab itu sistem pendingin harus
mampu menjaga temperatur kerja sehingga komponen – komponen tersebut tidak
menerima panas yang berlebihan (overheat).
Sistem pendingin tidak hanya berfungsi untuk melindungi komponen – komponen engine
tetapi juga menjaga kondisi oli yang dipakai pada sistem pelumasan bisa tetap pada
kondisi temperatur kerja sehingga pelumasan terhadap komponen – komponen engine
tetap terjaga. Sistem pendingin yang menyerap terlalu banyak panas juga tidak baik
karena akan menurunkan thermal efficiency dari engine serta menurunkan energi yang
dihasilkan.
Gambar 1 Heat
Pada diesel engine (Gambar 1) heat yang dihasilkan dari proses pembakaran bahan
bakar di dalam ruang bakar sekitar 33% diubah menjadi energi sedangkan sisanya
dibuang dengan beberapa cara yaitu: 30% heat dibuang melalui gas buang, 30%
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 6 of 101
Maintain Engine Cooling System
diserap oleh system pendingin dan 7% diradiasikan dari engine ke udara sekitar.
Pada beberapa engine menggunakan system pendingin dengan media udara tetapi
sebagian besar engine menggunakan media cairan (liquid). Keuntungan dari media
cairan (liquid) adalah pengontrolan temperatur yang bagus, tidak berisik dan dari segi
manufaktur mudah dalam proses pembuatannya.
Gambar 2
Berdasarkan penelitian bahwa engine diesel 200 HP yang beroperasi pada 70% dari
beban penuh dapat menghasilkan heat yang cukup untuk membuat hangat sebuah
rumah dengan 5 ruangan yang memiliki kondisi temperatur ruang sekitar rumah tersebut
yang nilainya di bawah titik temperatur beku.
Panas adalah sebuah bentuk energi, dimana panas tersebut dapat dihasilkan dari proses
pembakaran bahan bakar di dalam silinder engine.
Istilah panas dan temperatur adalah berbeda. Panas adalah bentuk energi, sedangkan
temperatur adalah derajat nilai suatu panas. Panas di umpamakan sebagai nilai
temperatur yang berada di atas temperatur atmosfer normal dan dingin adalah ketika
nilai temperatur berada di bawah temperatur atmosfir.
Panas adalah daya molekul yang bekerja dalam objek dan temperatur adalah satuan dari
daya molekul. Panas akan bergerak dari molekul yang lebih aktif ke molekul yang kurang
aktif, atau dari komponen yang lebih panas ke komponen yang lebih dingin.
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 7 of 101
Maintain Engine Cooling System
Pengaruh Heat
Ketika panas diserap dari sebuah bahan/komponen akan menyebabkan hal – hal sebagai
berikut:
1. Perubahan temperatur. Panas yang diserap oleh bahan akan menyebabkan
temperatur pada bahan tersebut naik sedangkan bila panas diserap dari suatu
bahan akan menyebabkan temperatur pada bahan tersebut turun.
2. Perubahan warna. Apabila logam atau baja khusus di panaskan dapat
menyebabkan terjadinya perubahan warna pada bahan tersebut. Jika sebuah baja
dipanaskan maka baja tersebut akan berubah warna sesuai dengan panas yang
diterima. Komponen – komponen engine yang pernah mengalami overpanas
biasanya dapat diidentifikasi dengan perubahan warna pada komponen tersebut
(discoloration).
3. Perubahan bentuk. Panas dapat menyebabkan sebuah perubahan bentuk dari
benda padat menjadi cair dan cair menjadi gas (es dapat berubah menjadi cair
atau air menjadi uap). Logam yang dipanaskan pada saat pengelasan akan
berubah dari padat menjadi cair.
4. Perubahan volume. Panas dapat menyebabkan terjadinya pemuaian dan apabila
panas diserap dari suatu bahan dapat menyebabkan terjadinya penyusutan pada
bahan tersebut. Apabila suatu bahan dipanaskan maka molekul pada bahan
tersebut akan mengembang sehingga volumenya akan naik sedangkan bila suatu
bahan didinginkan maka molekul pada bahan tersebut akan menyusut sehingga
volumenya akan turun.
5. Semua jenis bahan akan mengembang jika dipanaskan dan akan menyusut jika
didinginkan. Gas akan mengembang berlipat – lipat dari volume sebelumnya
tetapi pada cairan dan benda padat hanya akan sedikit saja karena molekul benda
padat dan cair bukan molekul bebas seperti yang dimiliki oleh gas.
Sifat air berbeda dengan cairan lainnya. Air akan menyusut jika didinginkan sampai suhu
4ºC dan dari temperatur tersebut sampai air akan membeku menjadi es, maka air akan
mengembang. Ketika air didinginkan di bawah 0°C maka es akan menyusut seperti zat
padat lainnya.
Oleh karena itu untuk engine yang dipakai pada kondisi lingkungan yang dingin perlu
ditambahkan larutan antifreeze ke system pendinginnya untuk mencegah agar air tidak
membeku. Tanpa menggunakan larutan ini dapat menyebabkan kerusakkan engine.
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 8 of 101
Maintain Engine Cooling System
Semua cara tersebut digunakan pada proses perpindahan panas di engine. Ingat bahwa
panas akan berpindah dari tempat yang temperaturnya lebih tinggi ke tempat yang
temperaturnya lebih rendah.
Konduksi
Gambar 3 Konduksi
Di dalam engine, panas akan dikonduksikan dari ruang bakar ke system pendingin melalui
komponen – komponen logam pada engine (Gambar 3).
Pada engine yang menggunakan system pendingin dengan media udara, panas akan di
konduksikan ke sirip (fin) pendingin pada bagian luar silinder dan kemudian panas akan
dibuang ke udara sekitar.
Sifat dari bahan ada mempunyai sifat sebagai penghantar panas yang baik dan ada juga
jelek. Logam merupakan penghantar yang baik tetapi bahan asbestos, kayu, kertas dan
material bukan logam adalah penghantar panas yang jelek dan dapat digolongkan
sebagai penghambat panas.
Konveksi
Gambar 4 Konveksi
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 9 of 101
Maintain Engine Cooling System
Gambar 4 –Pada ujung sebuah bejana diberi panas sehingga menghasilkan aliran
konveksi di dalam air dan sebuah larutan berwarna yang ada di dalam sebuah bejana
yang transparan membuat efek ini mudah untuk dilihat.
Konveksi adalah suatu cara perpindahan panas dengan pergerakan yang sebenarnya
dari molekul-molekul zat. Hal ini berlaku untuk gas dan cairan tetapi tidak untuk zat
padat.
Ketika sebagian dari cairan atau gas di dalam bejana dipanaskan maka bahan tersebut
akan memuai sehingga volumenya meningkat, tetapi densitynya akan turun.
Hal ini membuat partikel-partikel dari bahan yang dipanaskan akan menjadi ringan
sehingga mengapung ke atas dan memenuhi bagian yang lebih dingin sedangkan
partikel – partikel yang lebih berat akan tenggelam di bagian bawah bejana. Hal ini
merupakan prinsip dari aliran konveksi. Prinsip ini digambarkan pada Gambar 10.4.
Radiasi
Pada proses perpindahan panas dengan cara radiasi, panas akan dipindahkan ke udara
sekitar. Energi panas dapat kita rasakan dari nyala api yang memancarkan panas. Energi
yang diubah menjadi panas pada sebuah benda dingin yang disinari akan menyebabkan
temperatur pada benda tersebut naik secara bertahap.
Suatu bahan yang memiliki warna gelap akan menghantarkan panas lebih baik daripada
bahan yang memiliki warna terang. Oleh karena itu sirip (fins) pendingin pada cylinder
dan radiator biasanya dicat dengan lapisan warna hitam sehingga panas dari sistem
pendingin dapat dengan mudah dipancarkan ke udara sekitar. Material dengan warna
yang gelap juga baik untuk menyerap panas secara radiasi.
2.4. Elektrolisa
Gambar 5 - Elektrolisa
Beberapa cairan seperti air yang mengandung unsur kimia dapat mengalirkan arus listrik
dan hal ini akan menghasilkan sebuah reaksi kimia. Penghantar yang berada di dalam
cairan disebut dengan elektroda sedangkan cairannya disebut dengan elektrolit
(electrolyte) dan proses kimia yang terjadi disebut dengan elektrolisa (Gambar 5).
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 10 of 101
Maintain Engine Cooling System
Pada proses elektrolisa, konduksi yang terjadi pada elektrolit akibat adalah pergerakan
dari ion-ion, dimana atom - atom akan membawa muatan-muatan positif atau negatif.
Ketika arus mengalir melalui elektrolit, hal ini terjadi karena adanya pergerakan ion-ion.
Ion positif bergerak di dalam elektrolit menuju katoda, dimana katoda adalah elektroda
negatif, dan ion negative bergerak menuju anoda, dimana anoda adalah elektroda
positif.
Peristiwa elektrolisa tidak terjadi hanya pada arus yang mengalir dalam cairan tetapi
juga dapat terjadi pada material deposit dari anoda ke katoda. Selanjutnya hal ini akan
terjadi tergantung dari material elektroda dan jenis elektrolitnya. Proses electroplating
menggunakan prinsip ini untuk penyepuhan material dari anoda ke atas bagian benda
yang akan disepuh, dimana benda tersebut diibaratkan sebagai katoda. Di dalam proses
ini, material anoda berangsur-angsur akan terkikis dan menjadi lapisan deposit pada
katoda.
Electroplating adalah sebuah proses yang terkontrol tetapi elektrolisa dapat terjadi saat
tidak diharapkan yaitu jika terdapat dua logam yang berbeda dan kelembaban atau air
tidak murni.
Logam yang berbeda mempunyai potensial listrik yang berbeda, sehingga yang satu
menjadi anoda dan yang lain menjadi katoda. Kelembaban bertindak sebagai elektrolit
(electrolyte), dan lama kelamaan material berangsur-angsur terlepas dari anoda.
Kondisi tersebut di atas dapat terjadi pada system pendingin engine, dimana besi tuang
(cast iron) dari cylinder block, baja aluminium dari cylinder head, dan air. Elektrolisa
dapat terjadi di dalam system pendingin dan menyebabkan terjadinya korosi pada jacket
water dan saluran-saluran pendingin. Untuk alasan ini, air suling (destilasi), dimana air
tersebut secara praktis terbebas dari unsur kimia seharusnya digunakan di dalam system
pendingin dan aditif - aditifnya.
Penyebab terbesar dari elektrolisa di dalam system pendingin adalah tidak tepatnya
grounding pada peralatan elekrik.
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 11 of 101
Maintain Engine Cooling System
Erosi kavitasi terjadi ketika gelembung udara terpecah membentur lapisan logam. Semua
cairan mengandung larutan gas dimana membentuk gelembung (bubble) di dalam
daerah yang bertekanan rendah dan pada kondisi system yang tidak normal dapat
menimbulkan tambahan gelembung-gelembung udara yang lain.
Keretakan kecil kadang-kadang terjadi dan bergabung sampai sebagian kecil partikel
logam terlepas dan mengakibatkan lubang pada komponen.
Gelembung – gelembung udara (Bubble) dapat terbentuk pada kondisi di bawah ini:
Ketika cairan mencapai titik didihnya
Ketika cairan bergerak dengan cepat melewati lubang (prinsip Bernoulli)
Ketika komponen bergerak di dalam sebuah cairan menghasilkan area bertekanan
rendah (contoh: liner vibration)
Ketika pressure static system rendah (radiator cap rusak, beroperasi pada dataran
tinggi)
Ketika hambatan pada saluran masuk menyebabkan kavitasi pompa fluida
Ketika adanya kebocoran pada suction line menimbulkan gelembung udara
Ketika level cairan rendah menyebabkan cairan kemasukan udara
Beberapa kondisi tersebut normal terjadi pada engine dan terkadang terjadi bersamaan.
Selama siklus pembakaran, cylinder liner secara konstan mengembang dan menyusut.
Pada saat menyusut, kekosongan ruang terjadi pada sekitar dinding liner menyebabkan
tekanan coolant turun. Tekanan yang rendah ini menyebabkan coolant mendidih,
membentuk gelembung (bubble).
Pada sistem pendingin, conditioner digunakan untuk membentuk lapisan pelindung yang
melindungi komponen logam dari gelembung – gelembung (bubble).
Gambar 7 Liner
Pitted yang dalam pada permukaan liner ini (Gambar 7) adalah akibat dari erosi kavitasi.
Kerusakan terkumpul pada satu area dari dinding liner saja. Fakta pada saat
pembongkaran menyatakan bahwa area yang rusak terletak antara dua liner.
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 12 of 101
Maintain Engine Cooling System
Gambar 8 Housing
Aluminium housing pada sistem pendingin (Gambar 8) dapat dirusak oleh erosi kavitasi,
khususnya jika terdapat hambatan pada saluran isap/masuk yang mengakibatkan
tekanan rendah dan berikutnya menyebabkan kavitasi fluida pada impeller pompa.
Gelembung (bubble) yang terbentuk pada sisi low pressure (suction/isap) akan pecah
pada sisi high pressure (discharge/pengeluaran).
Coolant menyerap panas dari komponen – komponen di system yang ada di engine
kemudian membuang panas tersebut ke udara sekitar melalui heat exchanger atau
radiator dengan media udara atau air.
Sebagian besar sistem pendingin engine menggunakan media air sebagai bahan dasar
dan mencampurnya dengan additive untuk:
Mengurangi korosi pada jacket water engine dan komponen lainnya di dalam
engine.
Mencegah pembekuan air pada kondisi cuaca yang sangat dingin ketika engine
mati.
Kandungan Coolant
Gambar 9 Coolant
Ada tiga kandungan utama yang membentuk coolant engine (Gambar 9):
Air, untuk mencegah overheating
Antifreeze, untuk mencegah pembekuan.
Coolant conditioner, untuk mencegah korosi.
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 13 of 101
Maintain Engine Cooling System
Coolant dengan konsentrasi yang tepat harus mampu memenuhi persyaratan dasar di
bawah ini:
Mampu memindahkan panas
Melindungi dari kerusakan kavitasi
Memberikan ketahanan terhadap korosi
Mencegah penbentukan gumpalan (deposit)
Dapat digunakan untuk sistem pendingin yang memakai hose dan material seal
Dapat melindungi media pada system pendingin tidak membeku
Air
Air mempunyai unsur pemindah panas yang terbaik daripada zat-zat lainnya tetapi juga
memiliki beberapa kelemahan, yaitu:
Air mudah mendidih
Air dapat membeku
Air sangat korosif terhadap metal/logam
Antifreeze
Antifreeze, atau ethylene glycol berfungsi untuk menaikkan titik didih dan menurunkan
titik beku dari air. Jumlah kandungan antifreeze menentukan seberapa besar perubahan
temperatur. Coolant yang membeku tidak dapat mengalir pada system pendingin
sehingga tidak dapat bersikulasi untuk memindahkan panas dan juga dapat
menimbullkan keretakan.
Conditioner atau Corrosion Inhibitor
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 14 of 101
Maintain Engine Cooling System
Gambar 11 Conditioner
Conditioner (Gambar 11) akan melapisi seluruh komponen engine dan melindungi
komponen logam dari korosi dan bersisik/scaling (menempelnya unsur dasar air
terhadap permukaan logam panas).
Gambar 12
Batasan temperatur kerja operasi (Operating range) dipengaruhi oleh altitude dari
tempat operasi dan tekanan pada system serta konsentrasi antifreeze.
Semakin tinggi daerah permukaan operasi dari permukaan air laut maka akan semakin
rendah titik didih air. Semakin tinggi system tekanan maka semakin tinggi titik didih air.
Hal ini merupakan alasan mengapa sebagian besar engine menggunakan sistem
pendingin bertekanan.
Air akan mendidih pada temperatur 100°C (212°F) pada tekanan atmosfer normal.
Grafik pada gambar 12, memperlihatkan bahwa jika tekanan dalam sistem pendingin
dinaikkan menjadi 40 kPa (6 psi) maka titik didih coolant naik mencapai 110°C (230°F).
Jika coolant mendidih dapat menimbulkan gelembung (bubble) sehingga tidak dapat
memindahkan panas dengan baik, menurunkan efisiensi system pendingin dan
gelembung (bubble) akan mempengaruhi jumlah kapasitas aliran yang dihasilkan
pompa. Ketika gelembung (bubble) udara pecah dapat melepaskan sebagian kecil dari
komponen logam (erosi kavitasi).
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 15 of 101
Maintain Engine Cooling System
Gambar 13
Ketika antifreeze ditambahkan, konsentrasinya harus diantara 30% dan 60%. Di bawah
30% tidak memberikan perlindungan yang cukup, sementara di atas 60% akan
mempengaruhi penyerapan system pendingin engine. Demikian juga pada konsentrasi
antifreeze yang tinggi akan menimbulkan endapan silica yang mengakibatkan
tertutupnya komponen di dalam system dan dapat menurunkan umur seal.
Corrosion Inhibitor atau conditioner adalah additive yang dilarutkan di dalam air
pendingin untuk melindungi berbagai macam komponen logam pada sistem pendingin
engine dari korosi. Konsentrasi yang tepat dari campuran itu harus dijaga untuk
mencapai tingkat PH yang tepat untuk memberikan perlindungan yang sempurna.
Konsentrasi coolant conditioner harus dijaga antara 3% dan 6%. Jika konsentrasi terlalu
rendah maka komponen akan mudah korosi. Jika terlalu tinggi konsentrasinya, unsur
pemindah panas dari coolant akan berkurang dan ada kemungkinan terbentuknya
gumpalan silica dimana menyebabkan pemadatan coolant.
Beberapa additive yang digunakan adalah chrom, borax, dan nitrat. Sebagian besar
perusahaan diesel engine merekomendasikan produk khusus untuk perlindungan korosi.
Caterpillar sekarang merekomendasikan pre-mixed extended life coolant (ELC).
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 16 of 101
Maintain Engine Cooling System
Gambar 14 ELC
Extended Life Coolant (ELC) memberikan:
Umur coolant 6000 jam atau 4 tahun
Anti korosi
Memanjangkan umur seal water pump
Mencegah beku pada temperatur rendah
Mengandung anti didih yang baik
Maintenance yang diperlukan hanya penambahan ELC Extender setelah 3000 jam atau
setelah 2 tahun. ELC mengandung organic acid inhibitor dan antifoam agent dengan
sedikit nitrat dan kemudian ethylene glycol sebagai bahan dasar coolant. Yang kemudian
dicampur dengan air destilasi dengan konsentrasi 50/50. ELC memberikan perlindungan
terhadap pembekuan sampai dengan -37°C (-35°F). Perlindungan terhadap didih dengan
spesifikasi radiator cap 90 kPa (13 psi) mencapai 129°C atau 265°F.
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 17 of 101
Maintain Engine Cooling System
Engine juga bisa memiliki komponen lain yang didinginkan seperti aftercooler, oil cooler,
hydraulic oil cooler ataupun transmission oil cooler. Pada beberapa engine marine
ataupun aplikasi engine yang tetap (diam) seperti genset ataupun engine yang
digunakan untuk menggerakkan pompa, memiliki heat exchanger sebagai pengganti
radiator.
Water pump (1) menghasilkan aliran (flow) di dalam system pendingin. Water pump
menghisap coolant yang lebih dingin dari bagian bawah radiator (5) kemudian
mengalirkannya ke seluruh system. Pada sebagian besar high performance diesel
engine dilengkapi dengan sebuah engine oil cooler (2) dimana coolant akan dialirkan
melalui oil cooler dan kemudian ke cylinder block (3).
Water temperatur regulator atau thermostat (4) mengatur aliran coolant menuju
radiator. Saat engine dalam kondisi dingin, thermostat menutup aliran air menuju
radiator (5) dimana terpasang pressure cap (6) untuk mengatur tekanan di dalam
system pendingin dan coolant dari engine akan dialirkan menuju water pump melalui
bypass tube lalu kembali ke engine. Ini akan membantu agar engine dapat mencapai
suhu kerja dengan cepat.
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 18 of 101
Maintain Engine Cooling System
Saat engine panas, thermostat akan mengalirkan air menuju radiator untuk didinginkan
sebelum memasuki engine. Thermostat tidak secara penuh membuka atau menutup,
tetapi berada dalam posisi keduanya untuk mempertahankan agar suhu engine tetap
konstan. Suhu engine yang tepat sangatlah penting.
Engine yang terlalu dingin tidak akan bekerja menghasilkan suhu yang cukup tinggi
untuk mendapatkan pembakaran yang effisien dan akan menyebabkan munculnya
endapan pada sistem pelumasan engine. Engine yang terlalu panas akan menyebabkan
engine panas (overheat) dan menyebabkan kerusakan yang serius pada engine. Hose
(7) digunakan sebagai saluran penghubung yang fleksibel dari radiator dengan engine.
Pandangan potongan dari engine block (Gambar 16) memperlihatkan saluran bagian
dalam dari system pendingin yang disebut jacket water sebagai saluran untuk
mendinginkan cylinder liner.
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 19 of 101
Maintain Engine Cooling System
Gambar 18 memperlihatkan aliran coolant yang dialirkan melewati oil cooler menuju
cylinder block. Coolant dialirkan di sekeliling dinding liner menuju cylinder head
kemudian aliran coolant akan dialirkan ke saluran valve dan saluran gas buang (exhaust)
di dalam cylinder head menuju water outlet housing pada cylinder head.
Temperatur dari coolant dikontrol oleh thermostat. Jika temperatur coolant di dalam
engine masih rendah, thermostat tertutup dan mengarahkan sebagian coolant kembali
menuju bagian saluran bypass ke water pump.
Temperatur engine block akan naik dengan cepat karena coolant yang dialirkan tidak
dingin. Ketika temperatur coolant mencapai suhu settingan pembukaan thermostat,
maka thermostat akan terbuka dan mengalirkan coolant ke radiator sehingga coolant
dapat didinginkan. Ini merupakan proses yang terus menerus dan membantu dalam
menjaga temperatur kerja serta dapat juga untuk mempercepat tercapainya temperatur
kerja engine .
Water pump yang terpasang pada diesel engine adalah jenis centrifugal pump (Gambar
19 kiri). Impeller berbentuk kipas yang akan menghasilkan area bertekanan rendah pada
bagian tengan hub ketika impeller berputar (Gambar 19 kanan).
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 20 of 101
Maintain Engine Cooling System
Gambar 20
1. Curved Blades 4. Input Shaft
2. Impeller 5. Center of Housing
3. Housing and Outlet
Water pump (Gambar 20) biasanya terpasang pada bagian depan dari cylinder block.
Water pump terdiri dari sebuah housing dengan saluran inlet dan outlet (Gambar 10.20)
Ketika impeller berputar, coolant terhisap masuk ke bagian inlet dari pompa (pada
bagian tengah shaft (4) dari pompa), menuju blade (1) dan terlempar keluar oleh gaya
sentrifugal (3) dan didorong menuju outlet pompa (3) kemudian menuju cylinder block.
Saluran inlet pompa terhubung dengan sebuah hose ke bagian bawah dari radiator, dan
coolant dari radiator masuk menuju pompa menggantikan coolant yang didorong ke sisi
outlet. Shaft yang mengikat impeller menggunakan bearing. Oleh karena itu shaft
tersebut membutuhkan pelumasan oli engine . Drive shaft mungkin terpasang dengan
Vee Belt atau secara langsung digerakkan oleh timing gear.
Sebuah spring loaded khusus, carbon faced seal (terpasang antara impeller dan housing)
digunakan untuk mencegah coolant bocor. Water pump memiliki sebuah lubang pada
shaft housing (secara umum pada bagian belakang pompa) yang membiarkan kebocoran
coolant mengalir ke bagian luar jika carbon face seal rusak.
3.2. Radiator
Gambar 21
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 21 of 101
Maintain Engine Cooling System
Radiator terdiri dari dua buah tanki yang di dalamnya dilengkapi dengan core. Core
terdiri dari pipa sebagai saluran coolant ketika mengalir melalui radiator untuk
didinginkan (Gambar 21).
Gambar 22
Pada sekitar bagian core pada radiator dilengkapi dengan sirip – sirip (fins). Berdasarkan
rancangannya ada dua jenis core yaitu: core dengan center fin (Gambar 21) dan core
dengan horizontal fin (Gambar 22). Sebagian besar untuk aplikasi alat - alat berat
menggunakan jenis radiator dengan horizontal fin. Fin berfungsi agar proses perpindahan
panas lebih bagus. Udara yang dihembuskan karena pergerakan machine atau
dihembuskan oleh kipas akan melewati pipa (tube) dan sirip (fin) akan menyerap panas dari
coolant. Proses perpindahan panas coolant pada radiator sangat dipengaruhi oleh kecepatan
aliran udara yang melewati pipa (tube) dan sirip (fin) yang ada pada radiator.
Aliran Coolant
Pada gambar 23 di atas menunjukkan komponen – komponen dasar dan aliran coolant
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 22 of 101
Maintain Engine Cooling System
pada system pendingin. Thermostat berfungsi untuk mengatur aliran coolant yang akan
mengalir ke radiator atau ke bypass valve.
Ketika temperatur coolant belum mencapai temperatur kerja operasi engine , thermostat
akan akan mengalirkan coolant ke saluran bypass dan menutup aliran coolant yang
menuju radiator. Ketika temperatur kerja operasi telah tercapai maka thermostat akan
mengalirkan coolant ke radiator. Hal ini membuat coolant engine yang panas dialirkan
melewati radiator, akan didinginkan.
Selama engine beroperasi, udara dapat masuk ke system pendingin jika coolant level terlalu
rendah atau bila terjadi aliran turbulensi pada system akibat dari seal water pump yang aus,
clamp hose yang kendor pada sisi low pressure dari system atau karena kesalahan prosedur
pada saat pengisian coolant ke sistem. Udara yang terjebak dapat menyebabkan panas yang
berlebihan (overheat) pada ruang bakar sehingga dapat menyebabkan kerusakan atau crack
pada cylinder head.
Engine yang terpasang pada machine untuk transportasi darat umumnya menggunakan
system pendingin jenis “shunt” (Gambar 24).
Sistem pendingin jenis ini cara kerjanya sama saja dengan jenis yang menggunakan
radiator, tetapi pada jenis “shunt” memiliki tambahan ruang pada bagian atas radiator
yaitu sebuah tube shunt yang menghubungkan ruang bagian atas radiator dengan
saluran inlet pompa.
Saluran ini berfungsi untuk menjaga agar pada saluran inlet pompa tidak kekurangan
aliran coolant jika terjadi perubahan rpm engine yang tiba – tiba pada saat perpindahan
gigi (downshift). Tanpa saluran shunt, pompa dapat menghisap negative pressure
selama perpindahan gigi (downshift) sehingga dapat mengakibatkan timbulnya kavitasi.
Radiator yang terpasang pada vehicle yang bergerak didesain untuk menghasilkan
perpindahan panas yang optimal pada ambient temperatur maksimum yang ditentukan
dan dapat tahan lama.
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 23 of 101
Maintain Engine Cooling System
Selain conventional radiator, terdapat tiga jenis rancangan (design) radiator Caterpillar
yang berbeda untuk digunakan pada Caterpillar Earthmoving Machine.
Folded Core
Folded core radiator (Gambar 25) adalah radiator dengan design praktis dimana core
dapat diganti secara individu. Hal ini berguna jika core rusak karena benturan dari luar
dan juga memungkinkan radiator untuk diperbaiki bukan pada tempat yang khusus
(sebagai contoh tidak perlu penyolderan). Core assembly disekat antara tanki bagian
atas dan tanki bagian bawah.
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 24 of 101
Maintain Engine Cooling System
Radiator Improved Multiple Row Module (IMRM) seperti terlihat pada Gambar 26
merupakan pengembangan (improvement) design radiator, didesain untuk mengatasi
situasi dimana aplikasi machine berpotensi mengalami penyumbatan jika menggunakan
folded core radiator.
IMRM memiliki kerapatan fin yang tidak terlalu rapat seperti pada folded core radiator,
sehingga lebih memudahkan aliran udara melewati core pada radiator. Desain ini
membuat IMRM radiator lebih tahan terhadap plugging karena kotoran lembut, serabut,
atau debu halus. Schedule untuk waktu pembersihan lebih lama.
Kelebihan dari radiator jenis IMRM adalah desainnya yang sangat mudah untuk
diperbaiki dibandingkan dengan folded core radiator. Core assembly yang terpisah
(independent) memungkinkan untuk diganti hanya bila terjadi kerusakan yang parah dan
waktu penggantian serta biaya lebih effisien jika dibandingkan penggantian semua core.
AMOCS radiator (Gambar 27) adalah sebuah desain yang unik yang dapat dijumpai pada
berbagai jenis machine zaman sekarang. AMOCS merupakan singkatan dari Advanced
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 25 of 101
Maintain Engine Cooling System
Dua jalur system pendingin mensirkulasikan coolant dari saluran hisap di bagian bawah
tangki, ke atas melalui bagian depan dari elemen pendingin radiator. Kemudian coolant
mengalir ke bawah lagi melalui bagian belakang dari elemen pendingin radiator
kemudian coolant dialirkan dari bagian bawah tanki menuju water pump. Seperti pada
rancangan jenis folded core dan IMRM, konstruksi AMOCS radiator adalah jenis modular.
3.3. Hose
Hose radiator menghubungkan water pump dan engine block (umumnya pada
thermostat housing). Fungsinya adalah sebagai saluran penghubung aliran (flow) coolant
yang akan ke radiator dan yang akan mengalir dari radiator ke water pump.
Bentuk dari hose dan sambungan lain biasanya identik dengan kondisinya. Jika sebuah
hose yang lunak dan kenyal serta mudah melipat ketika ditekan, hal ini mengindikasikan
bahwa hose mengalami kerusakan pada bagian dalam dan harus diganti. Jika sebuah
hose yang keras dan tidak fleksibel lagi sebagai akibat dari panas, hose harus diganti.
Beberapa hose mempunyai penguat pada bagian dalamnya (spring) untuk mencegah
hose terlipat ketika temperatur di dalam system pendingin turun (drop). Clamp hose
harus diperiksa secara berkala dari kebocoran atau kekencangan pengikatannya.
Kipas (fan) yang terpasang pada machine ada dua tipe yaitu conventional suction fan
atau blower type fan (Gambar 28). Pada tipe Suction fan (1) udara luar akan dihisap
dan aliran udara akan melewati fin dan core yang ada pada radiator, terhembus ke
engine dan exhaust melalui sisi ruangan pada bagian belakang atau bagian bawah
machine.
Blower type fan (2) beroperasi dengan cara yang berbeda yaitu dengan cara udara yang
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 26 of 101
Maintain Engine Cooling System
di hisap dari bagian belakang kipas dihembuskan melewati engine kemudian melalui
radiator untuk mendinginkan coolant di dalam radiator. Blower type fan digunakan pada
machine yang beroperasi pada daerah operasi yang sangat berdebu, contoh: track type
tractor yang bekerja pada tempat pembuangan akhir. Blower type fan juga berfungsi
untuk membantu mengurangi kemungkinan tersumbatnya radiator dan kerusakan core
akibat pengikisan.
Vehicle pada aplikasi jalan raya umumnya menggunakan conventional suction type fan
karena kecepatan gerak vehicle dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan aliran udara
yang melewati radiator.
Tidak direkomendasikan menggunakan Blower type fan yang hanya dirubah posisi
pemasangannya sehingga diharapkan dapat menjadi suction fan karena pitch dari blade
akan berbeda dan tidak sama dengan tipe suction fan yang sebenarnya. Jika hal ini
dilakukan dapat mengakibatkan menurunnya kapasitas aliran udara.
Umumnya fan yang dipakai pada alat berat bahannya terbuat dari baja (steel) tetapi ada
beberapa jenis fan yang menggunakan bahan plastik. Dengan bahan plastik
keuntungannya adalah karena bahannya ringan sehingga blade menjadi fleksibel pada
putaran kecepatan tinggi. Dan hal ini juga akan mengurangi tenaga yang dibutuhkan
untuk menggerakkan fan. Penggunaan fan dengan bahan plastik juga meningkatkan
umur dari drive belt dan bearing serta suara atau tingkat kebisingan yang ditimbulkan
tidak terlalu tinggi.
Dari segi jenis putaran fan umumnya adalah jenis fixed drive yaitu beroperasi secara
terus menerus (continuously). Tetapi ada juga pada beberapa aplikasi ada yang
menggunakan variable speed fan drive dimana fan akan berputar sesuai dengan
kapasitas pendinginan sehingga tenaga yang dibutuhkan untuk menggerakan fan dapat
tidak selalu sama pada setiap kondisi. Fan ini dikontrol dengan referensi informasi input
dari temperatur coolant dan efisiensi tenaga untuk menggerakkan fan lebih baik jika
dibandingkan dengan jenis fix fan drive.
Viscous Drive
Salah satu contoh berikut adalah variable fan drive yang menggunakan viscous yaitu
temperatur sensitive coupling yang didalammya terdapat silicon oil (Gambar 29). Saat
temperatur coolant pada radiator meningkat maka temperatur udara yang melalui
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 27 of 101
Maintain Engine Cooling System
radiator dan fan hub juga akan meningkat. Hal ini mengakibatkan temperatur sensitive
valve (Bimetallic strip) akan membuka (distort) sehingga silicon oil dapat mengalir ke
drive hub.
Hal ini menghasilkan friction pada hub sehingga menyebabkan fan drive disc berputar.
Kecepatan putaran fan tergantung dari jumlah oli yang mengalir ke dalam hub.
Semakin tinggi kecepatan fan maka panas coolant semakin menurun sehingga panas
yang di serap oleh aliran udara juga turun, hal ini akan menyebabkan temperatur
sensitive valve menutup ke arah depan sehingga kecepatan fan berkurang.
Pada saat engine sedang warming up (pemanasan) atau kondisi udara sekitar dingin
maka kecepatan fan akan dikurangi sehingga dapat menghemat tenaga yang
dikeluarkan engine untuk memutar fan.
Electric Fan
1. Fan Shroud
2. Fan
3. Motor
4. Relay
5. Fan Switch
6. Fuses
7. Connector
Susunan rangkaian elektrik dari jenis electrical fan dan kontrolnya ditunjukkan pada
Gambar 30. Pada beberapa aplikasi sebuah single fan di pasang di belakang radiator
tetapi ada juga yang memakai dua fan yaitu dipasang pada bagian depan dan bagian
belakang radiator. Rangkaian terbagi menjadi dua rangkaian elektrik yaitu fan switch
circuit dan fan circuit yang terdiri dari fan motor dan fan relay.
Cara kerja
Motor fan dikontrol oleh fan relay (4) dan relay akan dikontrol oleh fan switch (5) yang
terpasang pada thermostat housing. Switch ini merupakan heat-sensitive switch yang
cara kerjanya adalah ketika temperatur sekitar 100ºC switch akan tertutup (closed) dan
jika temperatur kurang dari 100ºC maka switch akan terbuka (open). Switch ini berjenis
normally open.
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 28 of 101
Maintain Engine Cooling System
Temperatur sensor tidak akan mengaktifkan relay jika temperatur coolant kurang dari
100°C sehingga arus dari battery tidak mengalir ke fan motor sehingga fan tidak akan
berputar, hal ini akan menghemat tenaga engine. Temperatur sensor akan mengaktifkan
relay jika temperatur coolant lebih dari 100°C sehingga arus dari battery dapat mengalir
ke fan motor sehingga fan akan berputar dan mengalirkan udara ke radiator untuk
pendinginan.
Hydraulic Motor
Jenis yang lain adalah fan yang menggunakan penggerak hydraulic motor yang dikontrol
dengan sebuah thermostatic valve. Fan akan di putar ketika coolant telah mencapai
temperatur yang ditentukan. Ketika Thermostatic valve aktif maka oli akan di alirkan untuk
menggerakan fan hydraulic motor.
Sebuah bentuk fan drive yang berbeda adalah multi plate fan clutch, di mana
dihubungkan oleh tekanan spring dan menyebabkan fan berputar. Terlepasnya
hubungan ke fan adalah oleh karena adanya udara bertekanan yang menekan spring
keluar dari clutch plate. Tipe ini adalah ON atau OFF jenis lain.
Jenis fan drive yang menggunakan multi plate fan clutch akan aktif (engaged) oleh
tekanan spring sehingga fan dapat berputar. Untuk menon-aktifkan clutch dengan cara
memberi tekanan udara untuk melawan tekanan spring sehingga clutch plate tidak aktif
(released). Fan
drive ini tipenya on – off.
Radiator Shroud
Gambar 32
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 29 of 101
Maintain Engine Cooling System
Desain fan dan radiator pada engine dengan power tinggi biasanya di lengkapi dengan
sebuah pelindung (fan shroud). Fan shroud adalah pelindung yang terbuat dari logam
atau plastik untuk mencegah agar udara tidak menyebar kearah luar dan juga
mengarahkan aliran udara ke dalam fan.
Water temperatur regulator atau thermostat akan mengatur aliran coolant menuju
radiator. Design dari Water temperatur regulator pada setiap engine dapat berbeda –
beda tetapi prinsip kerjanya sama saja.
Gambar 34
Water temperatur regulator atau thermostat akan mengatur aliran coolant menuju
radiator. Saat engine dalam kondisi dingin, thermostat menutup aliran air menuju
radiator dan coolant dari engine akan dialirkan menuju water pump melalui bypass
tube lalu kembali ke engine . Ini akan membantu agar engine dapat mencapai suhu
kerja dengan cepat.
Saat engine panas, thermostat akan mengalirkan air menuju radiator untuk didinginkan
sebelum memasuki engine. Thermostat tidak secara penuh membuka atau menutup,
tetapi berada dalam posisi keduanya untuk mempertahankan agar suhu engine tetap
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 30 of 101
Maintain Engine Cooling System
Engine yang terlalu dingin tidak akan bekerja menghasilkan suhu yang cukup tinggi
untuk mendapatkan pembakaran yang effisien dan akan menyebabkan munculnya
endapan pada sistem pelumasan engine, karbon dan lapisan deposit pada dinding liner
serta dapat menimbulkan engine blowby. Jika temperatur terlalu rendah dapat
menyebabkan timbulnya kondensasi di ruang bakar dan membentuk asam pada daerah
sekitar ring piston. Engine yang terlalu panas akan menyebabkan engine panas
(overheat) dan menyebabkan kerusakan yang serius pada engine.
Cara Kerja
Gambar 36
Pada gambar 10.36 di atas menunjukkan Thermostat dalam kondisi terbuka (open) dan
tertutup (closed). Jika temperatur meningkat, wax pellet akan memanjang dan menekan
rubber diaphragm. Dengan begitu maka pin akan terdorong tetapi karena pin tersebut
fixed dan tidak dapat bergerak sehingga pellet container akan bergerak ke bawah.
Kondisi ini akan menggerakan valve off pada dudukannya, membuka valve dan
mengijinkan coolant mengalir ke radiator. Ketika temperatur engine turun, wax pada
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 31 of 101
Maintain Engine Cooling System
pellet akan menyusut sehingga spring akan membuat valve menutup dan aliran coolant
ke radiator akan tertutup.
Temperatur sensor pada radiator atau system pendingin berfungsi untuk memonitor
temperatur coolant dan mengirimkan informasi untuk ditampilkan ke gauge atau
warning light pada instrument panel.
Komponen sistem pendingin yang mungkin paling dilupakan adalah radiator cap
(pressure cap). Pressure cap (Gambar 37) memiliki relief valve yang menjaga agar
tekanan pada sistem pendingin tidak melebihi tekanan yang diinginkan. Pressure cap
mempertahankan tekanan pada sistem pendingin.
Dengan menaikkan tekanan sebesar 1 psi, titik didih air akan naik sebesar 1.8oC
(3,25oF), yang memungkinkan air tidak mendidih pada suhu 212oF (100oC). Umumnya
radiator cap memiliki relief valve yang sanggup menahan tekanan sistem pendingin
bervariasi antara 48 -165 Kpa (7 – 24 psi). Ketika temperatur coolant naik maka
tekanan sistem pendingin juga akan naik karena sistem menggunakan sistem tertutup.
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 32 of 101
Maintain Engine Cooling System
Didalam radiator cap terdapat pressure spring, pressure valve dan saluran ke resevoir
(Gambar 38). Pada saat tekanan mencapai nilai pembukaan relief valve maka air dan
udara yang bertekanan akan dibuang atau ditampung bila engine menggunakan
reservoir. Proses ini berlangsung untuk mencegah tekanan yang berlebihan pada sistem
pendingin.
Gambar 39
Vacuum valve pada radiator cap berfungsi untuk mencegah terjadinya kevakuman pada
sistem pendingin, valve membuka ketika tekanan di sistem lebih rendah 1 Psi dibawah
tekanan atmosfer dan membiarkan udara masuk ke dalam sistem atau coolant yang
ditampung pada reservoir kembali masuk ke radiator.
Level pengisian coolant harus mencapai level pada filler pipe (Gambar 40). Jika sistem
pendingin dilengkapi dengan coolant recovery system (expansion tank atau reservoir)
untuk pengecekan level coolant dapat dilihat pada recovery container.
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 33 of 101
Maintain Engine Cooling System
Expansion plug umumnya terbuat dari bahan alloy. Expansion plug memberi ruang jika
coolant membeku pada aplikasi di daerah dingin. Pemuaian coolant pada saat panas
dapat menyebabkan cylinder block mengalami retak dengan penggunaan expansion plug
hal ini dapat dikurangi karena expansion plug dapat melenturkan atau menerima
pemuaian dari block.
Expansion plug juga tahan terhadap korosi. Penggantian expansion plug harus dilakukan
sesuai dengan prosedur dan spesifikasi pabrik, pastikan penggunaan bonding compound
yang benar dan pemasangan plug dilakukan pada kedalaman yang sesuai.
System yang menggunakan conditioner element memerlukan initial fill element yang
dilakukan pada saat pengisian system pendingin pertama kali. Selama normal service
interval menggunakan maintenance element.
Coolant filter terdiri dari sebuah filter element dan sebuah tempat untuk larutan kimia yang
akan larut ke dalam coolant selama periode waktu tertentu. Larutan kimia digunakan untuk
memastikan bahwa level konsentrasi yang tepat selama periode waktu tertentu.
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 34 of 101
Maintain Engine Cooling System
Filter juga berfungsi untuk menjaga kondisi acid-free dari coolant selama larutan kimia
larut secara perlahan. Sebagaimana filter yang memiliki bypass, hanya sebagian kecil
dari coolant bersirkulasi melalui filter, tetapi seiring dengan berjalannya waktu semua
coolant pernah melalui filter.
Sebuah hose filter biasanya terpasang pada sisi yang bertekanan sebagai contoh: block
dan thermostat housing, sementara yang lain berada pada sisi low pressure sebagai
contoh: inlet untuk water pump.
Coolant tergantung dari pabrik pembuatnya biasanya dapat di identifikasi dengan warna
seperti pink, green, atau yellow tetapi warna tersebut tidak boleh digunakan sebagai
patokan tingkat konsentrasi dari coolant.
Coolant bisa saja masih berwarna cerah tetapi tingkat perlindungannya mungkin sudah
tidak mencukupi.
3.10. After-Cooler
Gambar 43 Aftercooler
Aftercooler (Gambar 43) dipasang setelah turbocharger pada engine untuk menurunkan
suhu udara yang akan memasuki ruang bakar. Ini menyebabkan kerapatan udara
menjadi meningkat, sehingga jumlah udara menjadi lebih banyak dan effisiensi dan
tenaga yang dihasilkan engine meningkat. Beberapa pabrik engine mengistilahkan
aftercooler sebagai intercooler.
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 35 of 101
Maintain Engine Cooling System
Berdasarkan media yang dipakai aftercooler di bagi menjadi 2 yaitu menggunakan media
air dan udara. Terdapat tiga jenis system yang menggunakan aftercooler yang
digunakan engine Caterpillar. Semua jenis aftercooler berfungsi sama. Aftercooler akan
menyerap panas dari udara sehingga udara menjadi lebih dingin dan kerapatan
udaranya menjadi meningkat.
Untuk aplikasi engine sekarang umumnya aftercooler dipasang pada bagian depan
coolant radiator pada engine (Gambar 45).
Gambar 46
Sistem jacket water aftercooler memiliki core assembly yang digunakan sebagai saluran
coolant untuk mendinginkan udara.
Coolant yang digunakan adalah coolant yang sama yang digunakan untuk mendinginkan
engine . Coolant ini digunakan untuk mendinginkan udara yang akan memasuki ruang
bakar. Coolant dari water pump mengalir melalui aftercooler core. Udara bertekanan dari
turbocharger di dinginkan oleh aftercooler ini sebelum memasuki intake manifold.
Sistem aftercooler rangkaian terpisah (separate circuit aftercooler) mirip dengan sistem
jacket water aftercooler dengan beberapa perbedaan yang kecil. Rangkaian pendingin
udara terpisah dari sistem pendingin yang digunakan untuk mendinginkan engine
(jacket water). Jacket water bekerja untuk mendinginkan engine head, engine block, oli
transmissi dan lain-lain.
Sistem separate circuit aftercooler memiliki pompa, saluran air dan pemindah panas
tersendiri. Sistem ini umumnya digunakan pada aplikasi dimana proses pendinginan
udara yang maksimum diperlukan. Beberapa aplikasi marine menggunakan sistem ini
dengan pemindah panas (panas exchanger) yang dirancang untuk menggunakan air laut
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 36 of 101
Maintain Engine Cooling System
untuk sirkuit pendingin. Pada truck besar yang digunakan pada pertambangan juga
menggunakan aftercooler jenis ini.
Untuk efisiensi pelumasan, oli engine perlu untuk dijaga pada level temperatur tertentu.
Temperatur oli engine tidak boleh melebihi 120°C. Sehubungan dengan adanya friksi
dan beban panas yang terjadi pada oli di dalam high performance engine , heavy duty
diesel engine , oli temperatur akan naik sehingga perlu untuk didinginkan secara terus
menerus agar temperatur oli sesuai dengan temperatur kerja oli.
Engine oil cooler terdiri dari sebuah metal housing yang memiliki sekumpulan tube
tembaga yang mana terpisah oleh susunan sekat (buffle) (Gambar 48).
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 37 of 101
Maintain Engine Cooling System
Coolant engine mengalir di dalam tube-tube dan oli engine yang panas mengalir di
sekitar bagian luar dari tube (Gambar 49).
Oil cooler mengurangi temperatur maksimum dari oli engine dan juga mempercepat
tercapainya temperatur kerja engine dengan cara mensirkulasikan oli engine sampai
mencapai temperatur kerja maksimum.
Exhaust manifold yang digunakan pada alat berat umumnya didinginkan oleh udara.
Teknologi saat ini ada yang menggunakan shielded manifold untuk mencegah kerusakan
karena panas yang dihasilkan dari radiasi.
Pada marine engine, hal ini biasanya digunakan untuk exhaust manifold yang
mempunyai jacket water di sekitar exhaust untuk mendinginkan exhaust gas (Gambar
50).
System ini mengeliminasi radiasi panas dan mencegah overheating pada ruangan
dimana engine dipakai.
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 38 of 101
Maintain Engine Cooling System
Gambar engine Caterpillar 3406B menunjukkan komponen dan aliran coolant pada
system pendingin engine.
Dimulai dari saluran masuk ke water pump. Water pump mengambil coolant dari tiga
sumber yaitu bagian bawah tanki radiator, bypass dan shunt line.
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 39 of 101
Maintain Engine Cooling System
Shunt line (Gambar 53) berfungsi agar tersedia positive coolant pressure pada saluran
masuk water pump untuk mencegah terjadinya kavitasi pada water pump. Sebagian
kecil coolant secara konstan mengalir melalui shunt line ke saluran masuk water pump.
Hal ini menyebabkan sebagian kecil coolant secara konstan mengalir melalui vent tube
antara ruang bagian bawah dan bagian atas tanki radiator. Hal ini membuat air bubble
terpisah dari coolant.
Shunt line juga berfungsi sebagai saluran untuk pengisian ketika mengisi coolant ke
dalam system pendingin (Gambar 54). Hal ini juga dapat mencegah timbulnya udara
yang terjebak pada system pendingin ketika melakukan pengisian.
Water pump (Gambar 55) digerakkan oleh gear yang terhubung dengan gear crankshaft.
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 40 of 101
Maintain Engine Cooling System
Water pump menghisap coolant dari saluran masuk kemudian mengalirkan coolant
menuju oil cooler (Gambar 56).
Di dalam oil cooler (Gambar 57) panas dari oli ditransfer ke coolant.
Jika engine memiliki jacket water aftercooler, sebagian dari coolant dialirkan menuju ke
aftercooler (Gambar 58).
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 41 of 101
Maintain Engine Cooling System
Gambar 59 Aftercooler
Coolant ini dilewatkan melalui aftercooler untuk mendinginkan udara masuk. Coolant
akan keluar dari aftercooler masuk ke bagian belakang dari cylinder block (Gambar 59).
Di dalam cylinder block, coolant mengalir di sekeliling cylinder liner kemudian mengalir
ke atas menuju cylinder head (Gambar 60). Panas yang dihasilkan oleh pembakaran
ditransfer melalui liner kemudian panas pada liner diserap oleh coolant yang mengalir
melewati jacket water.
Di dalam cylinder head (Gambar 61), coolant mengalir disekitar valve dan saluran
exhaust.
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 42 of 101
Maintain Engine Cooling System
Coolant untuk mendinginkan kompresor udara mengalir dari cylinder block melalui
saluran masuk pada kompresor. Dari kompresor, coolant mengalir melalui hose yang ada
di depan cylinder head (Gambar 62).
Gambar 63
Coolant yang mengalir di dalam cylinder head menuju ke bagian depan head kemudian
masuk thermostat housing (Gambar 63).
Gambar 64 Thermostat
Ketika coolant masih di bawah temperatur kerja operasi kondisi dari thermostat masih
tertutup. Coolant mengalir melalui regulator housing dan bypass line kembali ke water
pump (Gambar 64). Hal ini akan membuat tercapainya temperatur kerja engine lebih
cepat.
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 43 of 101
Maintain Engine Cooling System
Gambar 65 Thermostat
Ketika coolant sudah mencapai temperatur kerja maka thermostat akan terbuka dan
membuka saluran coolant menuju ke radiator (Gambar 65).
Gambar 66 Radiator
Selama coolant mengalir malalui core radiator (Gambar 66) panas dari coolant akan
ditransfer ke atmosfer dan diserap oleh udara yang ditiupkan oleh kipas melewati
radiator. Dari radiator, coolant akan mengalir ke saluran masuk water pump.
Sistem pendingin engine disekat oleh sebuah pressure radiator cap (Gambar 67).
Pressure cap berfungsi untuk menjaga tekanan didalam system pendingin pada saat
engine beroperasi.
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 44 of 101
Maintain Engine Cooling System
Sistem pendingin dapat dilengkapi dengan sebuah coolant conditioner element (Gambar
68). Pitting dapat terjadi pada permukaan luar liner dan bagian dalam cylinder block. Hal
ini biasanya disebabkan oleh korosi atau kavitasi yang terjadi pada system pendingin.
Penambahan coolant conditioner pada coolant dapat meminimalkan kerusakan pada
komponen – komponen system pendingin. Periksalah tingkat konsentrasi sebelum
mengganti element sehingga dapat diketahui filter yang harus digunakan. Jagalah
tingkat konsentrasinya antara 3 sampai 6%.
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 45 of 101
Maintain Engine Cooling System
Base untuk coolant conditioner element dipasang pada engine (Gambar 69). Coolant
mengalir melalui element dari saluran water pump kemudian kembali ke kompresor
udara.
Aliran coolant yang melalui element dapat menjaga tingkat konsentrasi dan dapat juga
menyaring partikel kontaminan yang ada pada coolant.
Pendingin Udara
Pada aplikasi heavy dan medium duty diesel engine umumnya menggunakan media
pendingin cairan (coolant). Tetapi pada beberapa aplikasi seperti Deutz engine masih
ada yang memakai media pendingin udara dimana pada aplikasi tersebut ukuran engine
dan power yang di hasilkan tidak terlalu besar.
Pada engine yang menggunakan media pendingin udara akan mengalirkan udara di
sekeliling liner sehingga panas yang dihasilkan oleh hasil pembakaran engine akan
diserap oleh udara yang akan dipindahkan dari engine ke udara sekitar.
Pada system pendingin engine yang menggunakan media pendingin udara sangat
bergantung pada:
1. Desain cooling fin
2. Kecepatan aliran udara yang melewati fin
3. Perbedaan temperatur antara udara dan permukaan fin.
Pada engine yang berukuran kecil dan multi-cylinder engine, fan flywheel digunakan
untuk mendorong udara melewati saluran khusus pada cylinder head assembly (Gambar
70). Pada engine besar (4 sampai dengan 8 cylinder), pendinginan engine menggunakan
high-speed axial- flow fan dengan desain saluran yang khusus dimana konsentrasi aliran
udara mengalir melalui daerah kritikal yang panas dari engine.
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 46 of 101
Maintain Engine Cooling System
Selama melakukan pemanasan engine, temperatur cylinder head dan temperatur oli engine
dimonitor oleh electronic controller yang akan mengurangi aliran oli ke fan hydraulic
coupling. Hasil ini pada kecepatan fan yang rendah yang akan membantu engine mencapai
temperatur kerja yang tepat dengan cepat. Setelah temperatur kerja yang sesuai tercapai,
maka sebagian udara pendingin yang diperlukan secara langsung didasarkan pada
temperatur kerja engine. Maka dari itu engine tidak perlu membuang energi untuk memutar
cooling fan.
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 47 of 101
Maintain Engine Cooling System
CATATAN:
Seal water pump: sedikit kebocoran coolant yang terjadi pada permukaan seal “face-type” adalah normal
hal ini dibutuhkan untuk menyediakan pelumasan pada seal jenis ini. Sebuah lubang yang ada di housing
water pump digunakan agar coolant atau pelumas seal dapat mengalir dari housing pompa. Sejumlah kecil
kebocoran coolant secara intermittent dari lubang ini bukan mengidentifikasikan kerusakan pada seal water
pump. Gantilah seal water pump hanya jika kebocoran besar terjadi atau aliran coolant yang terus – menerus
mengalir dari housing water pump.
3. Periksalah kebengkokan sirip – sirip radiator. Yakinkan bahwa aliran udara yang
melewati radiator tidak terhambat.
4. Periksalah kekencangan belt untuk kipas radiator.
5. Cek kerusakan pada fan blade.
6. Periksalah jika ada gelembung gas buang atau udara di dalam sistem pendingin.
7. Periksalah filler cap dan seal untuk menyekat pada cap.
Aliran udara yang mengalir melalui kisi – kisi radiator digunakan untuk menyerap panas
dari coolant sistem pendingin.
Agar udara dapat mengalir melalui radiator maka dibutuhkan kipas. Aliran udara yang
mengalir melalui kisi – kisi radiator tidak akan maksimal jika terhambat oleh material
luar, seperti: serangga, rumput, daun dan kotoran yang tersangkut pada kisi – kisi
radiator. Inspeksi secara visual diperlukan untuk menentukan hambatan udara pada kisi
– kisi. Hal ini dilakukan dengan menggunakan pencahayaan yang diletakkan di atas kisi
– kisi radiator kemudian dilihat dari sebelahnya untuk mengamati adanya hambatan
aliran udara.
Material asing di kisi – kisi radiator harus selalu dibersihkan menggunakan steam
cleaning dari arah yang berkebalikan dengan aliran udara. Periksalah kipas pendingin
dari keretakan yang diakibatkan karena kipas yang sudah fatique pada sekeliling blade
dan sambungan – sambungan pengelasan.
Pengoperasian kipas yang benar harus pula ditentukan. Prosedur pengetesan akan
berbeda – beda tergantung pada tipe penggerak yang dipasangkan pada fan radiator.
Periksalah bearing pada viscous fan coupling karena jika bearing mempunyai clearance
terlalu besar dapat mengakibatkan fan tidak dapat bekerja maksimal dan mengalami
kerusakan. Lakukan inspeksi untuk memeriksa kebocoran oli.
Pada hub juga perlu diperiksa untuk memastikan engagement yang benar pada
temperature operasi yang sesuai. Hal ini membutuhkan sebuah hot air gun atau sumber
pemanas lain yang mampu mengaktifkan bimetallic strip dan control pin sehingga fan
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 48 of 101
Maintain Engine Cooling System
akan berputar. Engine harus dioperasikan pada saat melakukan test ini sehingga perlu
hati – hati pada komponen –komponen yang berputar.
Beberapa manufaktur merekomendasikan untuk melepas bimetallic strip dan control pin.
Simulasi ini menggambarkan saat kondisi panas maksimum ketika engine beroperasi
sehingga fan harus berputar maksimum.
Fan clutch harus beroperasi dengan temperatur kerja yang sesuai. Periksalah kerja dari
sensing valve dengan cara memanaskan control valve pada temperatur tertentu dan
ketika udara sudah cukup mendinginkan maka valve harus berhenti aktif. Pakailah
peralatan elektrik (electric jug) dan sebuah thermometer untuk melakukan test ini.
Spesifikasi dan prosedur yang benar dapat di lihat pada Service manual pada section
Testing & adjusting.
Sirkulasi coolant harus efisien dan benar pada system pendingin untuk mencegah
terjadinya overheating pada tempat – tempat tertentu terutama pada coolant di sekitar
water jacket dan cylinder head.
Volume aliran coolant yang di pompakan oleh water pump bisa berkurang jika ada
hambatan terhadap aliran karena kotoran, sediment atau karat yang terbentuk pada
permukaan komponen – komponen system pendingin.
Water pump berfungsi untuk mensirkulasikan coolant pada sistem pendingin. Aliran
coolant akan berkurang dan tidak efisien jika terjadi kerusakan pada komponen –
komponen di dalam water pump seperti impeller mengalami korosi atau slipping, drive
shaft patah, dll. Kerusakan tersebut akan menyebabkan meningkatnya temperatur
coolant karena sirkulasi yang kurang baik. Kerja dari thermostat juga perlu diperiksa.
Thermostat harus terbuka penuh sekitar 8°C (45°F) di atas temperatur bukaan
thermostat.
Perawatan coolant dan system pendingin yang benar dapat mengurangi resiko
tersumbatnya core pada radiator. Dan sebaliknya jika perawatan tidak dilakukan maka
core pada radiator dapat tersumbat oleh debu, karat dan kontaminan.
Pada beberapa desain radiator core pada radiator dapat di periksa melalui filler neck.
Pada radiator besar yang menggunakan header tank, inspeksi visual ini tidak dapat
dilakukan.
Langkah 1 Buka hose radiator atas dan bawah dan arahkan hose menghadap ke
bawah.
Langkah 2 Tutup sambungan hose pada radiator.
Langkah 3 Isilah radiator dengan air dan biarkan tutupnya terbuka.
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 49 of 101
Maintain Engine Cooling System
Langkah 4 Buka tutup bagian bawah pada leher hose bagian bawah.
Langkah 5 Air seharusnya menyemprot keluar sangat deras.
Langkah 6 Panjang semprotan akan memendek seiring dengan menurunnya level
air didalam.
Jika air yang keluar tidak mengalir cukup deras maka top tank dan bottom tank radiator
perlu di lepas sehingga core dapat dibersihkan.
Udara juga berkumpul di sekitar thermostat sehingga element thermostat tidak dapat
beroperasi pada temperatur yang tepat. Hal ini akan menyebabkan terjadinya
overheating pada coolant selama engine warm up.
Stress pada komponen akan terjadi karena ketika thermostat mulai terbuka dan coolant
dengan temperatur rendah setelah melewati radiator akan mengalir ke jacket water
dimana sebelumnya telah terjadi overheating.
Untuk memeriksa gelembung udara pada coolant, pasanglah sight glass yang bening
pada vent line yang ke radiator dan hose di atas dan bawah radiator. Sight glass dapat
menggunakan special tool atau pipa plastik yang bening. Sight glass yang di pasang di
bagian bawah harus menggunakan pipa yang kuat untuk mencegah agar tidak kempes
(collapse) oleh kevakuman yang terjadi selama melakukan test.
Pastikan level coolant benar selama melakukan test. Terjadinya aeration akan terlihat
dengan adanya gelembung udara pada coolant yang mengalir di bagian atas di
sepanjang sight glass.
Gelembung udara pada sight glass di bagian bawah mengindikasikan adanya kebocoran
di radiator atau terjadinya hambatan aliran di dalam core. Gelembung udara pada hose
bagian atas atau saluran bleeding mengindikasikan problem pada engine.
Sumber terjadinya gelembung udara (aeration) adalah seal water pump bocor,
sambungan hose kendor, gasket head rusak atau retaknya combustion chamber.
Gelembung udara timbul karena adanya kerusakan pada gasket dan keretakan sehingga
udara masuk ke coolant gallery.
Umumnya water pump harus dilepas dari engine untuk memeriksa kondisi impeller
apakah terjadi karat atau kerusakan akibat cavitation tetapi pada beberapa engine
mempunyai sambungan inlet atau outlet yang dapat dibuka untuk memeriksa kondisi
impeller.
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 50 of 101
Maintain Engine Cooling System
Jika ditemukan terjadi pitting atau kerusakan core pada komponen – komponen system
pendingin maka perlu dilakukan perbaikan atau penggantian water pump.
Kondisi bearing pada belt penggerak pompa dapat di periksa dengan cara melepas drive
belt dari pulley kemudian putar shaft dan periksa apakah terjadi gerakan yang kasar
atau kekendoran di bearing.
Untuk memeriksa kondisi seal spring tension pada permukaan seal karbon di dalam
water pump yaitu dengan cara memutar pulley dan amati bagaimana pulley tersebut
berhenti.
Seal yang terpasang terlalu kekencangan akan membuat pulley berhenti dengan cepat
dengan akhiran pergerakan pulley yang kasar. Kondisi bagian karet seal tidak bisa
diinspeksi dan jika ditemukan kebocoran maka harus dilakukan perbaikan water pump.
Melakukan pengetesan tekanan di dalam system pendingin merupakan salah satu dari
perawatan dan inspeksi berkala yang sangat penting (Gambar 72). Kebocoran coolant
yang terjadi secara terus menerus baik besar maupun kecil pada engine yang sedang
beroperasi dapat menyebabkan kekurangan coolant di dalam system pendingin.
Coolant dijaga pada tingkat konsentrasi yang tepat dan memiliki tingkat PH yang rendah.
Hal ini berarti bahwa bahwa coolant di klasifikasikan soft water dan memiliki kualitas
pencarian bocor (leak searching quality). Walaupun clamp hose diikat dengan benar,
atau kekencangan gasket dipelihara dengan benar, kebocoran mungkin masih dapat
terjadi. Kebocoran coolant dapat terjadi:
Ketika engine dingin saat tekanan di dalam system mulai berkurang dan tidak ada
pemuaian akibat panas pada sambungan – sambungan sistem pendingin.
Ketika sistem pada temperatur kerja operasi dan tekanan meningkat.
Kebocoran yang sangat kecil kemungkinan akan sulit untuk di temukan karena kebocoran
coolant yang sedikit akan langsung menguap sehingga susah mengidentifikasi tempat
terjadinya kebocoran.
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 51 of 101
Maintain Engine Cooling System
Ingat bahwa temperatur dan tekanan saling berhubungan. Ketika melakukan diagnosa pada
sistem pendingin periksalah tekanan dan temperatur pada sistem pendingin. Tekanan akan
sangat berpengaruh terhadap temperatur coolant pada sistem pendingin.
Salah satu penyebab kebocoran tekanan di dalam sistem pendingin adalah kerusakan
pada seal pada radiator pressure cap. Setelah engine dingin kendorkan radiator pressure
cap dan biarkan tekanan keluar dari sistem pendingin. Kemudian lepaslah radiator
pressure cap.
Periksalah kondisi radiator pressure cap. Periksalah jika ada kerusakan pada seal atau
permukaan seal. Bersihkanlah jika di temukan ada material asing atau endapan kotoran
pada cap, seal atau permukaan seal.
Jika coolant engine terlalu panas dan terjadi kehilangan coolant pada system pendingin
kemungkinan di sebabkan oleh berkurangmya tekanan pada system. Jika indicator
(gauge atau warning light) menunjukan bahwa temperatur coolant engine terlalu panas
lakukan pemeriksaan kebocoran coolant.
Hidupkan engine sampai mencapai temperatur kerja kemudian bacalah nilai temperatur
pada test indicator, indicator temperatur coolant dan thermometer. Pembacaan
temperatur pada ketiga alat tersebut harus menunjukan nilai yang sama.
Temperatur saat thermostat terbuka penuh harus lebih tinggi 8°C (45°F) dari temperatur
bukaan thermostat yang tertera pada sisi thermostat.
1. Rendamlah thermostat ke dalam wadah berisi air dan panaskan sampai valve
terbuka.
2. Keluarkan thermostat dari air dan masukkan feeler strip diantara valve dan
dudukannya, (valve akan tertutup dan dan menjepit strip).
3. Biarkan air mendingin atau tambahkan air dingin untuk menurunkan temperatur air
sampai nilai di bawah temperatur bukaan thermostat.
4. Kemudian masukan lagi thermostat ke dalam air dan panaskan kembali air secara
bertahap. Strip akan terlepas ketika thermostat mulai terbuka. Hal ini di lakukan
untuk mengetahui temperatur bukaan thermostat sesuai dengan spesifikasi.
5. Panaskan terus air sampai temperatur lebih tinggi untuk menentukan pada
temperatur berapa valve terbuka penuh.
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 53 of 101
Maintain Engine Cooling System
NOTE:
Jangan pernah berasumsi bahwa valve pasti terbuka penuh – selalu lakukan
pemeriksaan. Angkatlah thermostat menggunakan kawat pengait kemudian periksalah
jarak pembukaan thermostat.
Ketika melakukan pengetesan ini, thermostat tidak boleh menyentuh dinding wadah
karena dapat menyebabkan hasil yang di dapatkan tidak akurat.
1. Lepas thermostat.
2. Panaskan air dalam wadah sampai temperatur 98°C (208°F). Aduklah air di dalam
wadah sehingga pemanasan dapat merata.
3. Masukkan dan gantung thermostat di dalam wadah air. Thermostat harus di tengah –
tengah wadah air.
4. Jaga air pada temperatur yang sesuai selama sepuluh menit.
5. Setelah sepuluh menit, ambil thermostat dan secepatnya diukur jarak bukaan
thermostat. Jarak minimum harus :
a. 111-8010 Water Temperature Thermostat ... 9.5 mm (0.37 in);
b. 4W4794 Water Temperature Thermostat ... 10.4 mm (0.41 in).
6. Gantilah thermostat apabila jarak bukaan tidak sesuai dengan spesifikasi.
PERINGATAN :
Pakailah selalu pelindung mata ketika melakukan pembersihan sistem pendingin.
Lakukan pembersihan core radiator dengan engine dalam keadaan tidak hidup.
Conventional Radiator
Lepaskan kisi – kisi jeruji radiator ( radiator grill) dari machine. Tentukan arah aliran
udara. Jika machine dilengkapi dengan blower fan, core harus dibersihkan dari arah
yang berlawanan dengan fan.
Jika machine dilengkapi dengan suction fan, core harus dibersihkan searah dengan arah
fan radiator. Fan shroud harus dilepas untuk membersihkan core radiator yang
menggunakan suction fan.
Untuk membersihkan core yang kotor oleh debu, dedaunan, ranting kecil, jaring – jaring,
sobekan kain katun, dll maka gunakan udara bertekanan sebesar 345 kPa (50 psi).
Pegang nozzle dengan jarak kurang lebih 6 mm (1/4”) dari sirip – sirip (fin). Gerakkan
secara perlahan nozzle ke arah atas dan ke bawah untuk membersihkan kotoran di
antara pipa yang vertikal di core radiator.
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 54 of 101
Maintain Engine Cooling System
Biasanya, kotoran pada core radiator yang menggunakan blower fan akan lebih tebal
dan lengket dibandingkan dengan kotoran pada core radiator yang menggunakan
suction fan. Untuk memastikan kebersihan core radiator gunakan cahaya dari belakang
radiator.
Gambar 74
Pada machine menggunakan blower fan, kotoran yang tebal terletak pada area A
(Gambar 74) pada sudut bagian luar core radiator di sekitar fan. Area B pada core
radiator merupakan perkiraan lokasi dimana aliran udara sangat tinggi sehingga lokasi
tersebut mempunyai beberapa kotoran namun tidak setebal kotoran pada area A.
Hal ini akan menyebabkan sebagian besar kotoran akan berada di baris ke dua dan ke
tiga dari tube di radiator core. Area C dari radiator core adalah lokasi perkiraan dari fan
hub. Percepatan aliran udara sangat rendah di area ini dan akan tetap cukup bersih
sepanjang waktu.
Air bertekanan adalah merupakan cara yang sangat baik untuk membersihkan kotoran
keluar dari radiator core. Pastikan tekanan air tidak terlalu tinggi karena dapat merusak
fin pada radiator.
Jika terdapat oli pada sirip radiator core, gunakan steam cleaner dan sabun untuk
menghilangkannya. Gunakan udara bertekanan di workshop untuk menghilangkan
kotoran yang mudah lepas sebelum menggunakan steam cleaner.
Beberapa material seperti kulit kayu red-wood atau serpihan kertas (biasanya ditemukan
di tempat operasi penimbunan sampah) dan tipe material yang berserabut sangat susah
dihilangkan.
Jika diperlukan, lepas radiator core dari machine, gunakan udara dari workshop dan
steam cleaner. Pastikan core secara seksama dibersihkan sebelum dipasang di machine.
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 55 of 101
Maintain Engine Cooling System
Meskipun Folded Core Radiator terlihat berbeda dari core radiator standar, prinsip
pendinginan dan pembersihannya sama saja. Tindakan pencegahan yang sama dengan
radiator standar yang harus digunakan pada folded core radiator. Sebagai contoh, pada
aplikasi perkayuan, pelindung engine harus digunakan dan terjaga perbaikannya dengan
baik.
Untuk machine yang digunakan di aplikasi yang berdebu, radiator harus disemprot pada
jangka waktu yang teratur. Radiator mudah mengalami sumbatan pada aplikasi tertentu
dan tindakan pemeliharaan harus diatur untuk kondisi ini. Sebagaimana core standar,
pemeliharaan yang masuk akal harus tetap dijalankan.
Udara bertekanan, air bertekanan tinggi dan steam adalah tiga pembersih kelas medium
yang dianjurkan dimana dapat digunakan untuk membersihkan core radiator ini. Untuk
debu, dedaunan, dan kotoran pada umumnya, metode yang manapun bisa digunakan.
Namun, penggunaan udara bertekanan lebih dianjurkan.
Hasil yang dapat diterima akan didapat dengan membuka jeruji bagian depan dan
mengarahkan media pembersih dengan sudut yang tepat ke bagian depan masing-masing
permukaan core. Gerakkan nozzle dari bagian tengan menuju bagian atas di tiap-tiap core,
dilakukan dari belakang vee, dan kemudian kembali lagi ke depan vee. Gerakkan melintasi
seluruh permukaan tiap core dan kemudian lakukan pada setengah bagian bawahnya.
Pada kondisi lapangan dan setelah core mendapatkan pembersihan menyeluruh (sikat,
air, dll.), start dan hangatkan engine, dan akselerasikan ke high idle beberapa kali atau
sampai kotoran yang lepas tidak tersembur keluar lagi dari core. Stop engine dan periksa
kembali permukaan core. Waktu pemeriksaan bisa lebih pendek pada langkah kedua ini.
Start engine kembali dan akselerasikan ke high idle beberapa kali.
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 56 of 101
Maintain Engine Cooling System
Sebuah metode untuk meningkatkan kecepatan aliran udara yaitu meletakkan sepotong
kayu lapis pada tiga bagian terbawah dari radiator. Letakkan kayu lapis di antara jeruji dan
radiator ke arah bagian bawah core. Kayu lapis tersebut kemungkinan perlu diikat dengan
kawat pada tempatnya.
Start dan akselerasikan engine beberapa kali atau sampai kotoran berhenti terbuang. Stop
engine dan kemudian posisikan ulang kembali kayu lapis ke arah bagian atas core. Ulangi
proses pengakselerasian engine.
Penambahan kecepatan aliran udara akan membantu dalam membuang kotoran di antara
fin. Jika steam atau air digunakan, lanjutkan mengoperasikan engine sampai core panas
dan tidak lagi air yang menguap dari fin. Machine kemudian sudah siap untuk
digunakan.
PERINGATAN :
Janganlah menyemprotkan air dingin ke engine sedang panas atau radiator. Retak
akibat panas dapat terjadi, menyebabkan kerusakan serius pada engine.
Jika ditemui oli, getah atau lumpur, maka dibutuhkan prosedur pembersihan yang
berbeda. Oli dan getah dapat dibersihkan dari core menggunakan degreaser yang ada di
pasaran. Degreaser harus diberikan di kedua sisi permukaan core, khususnya area
sumbatan yang terlihat. Biarkan tetap basah selama minimum lima menit dan kemudian
cuci core. Gunakan air bertekanan yang panas dan sedikit deterjen.
Pusatkan upaya pembersihan pada area yang terkena oli dan getah, dilakukan dari
kedua sisi core. Pastikan mencuci area tiap ujung masing-masing core di seputar seal.
Oli yang berlebihan di area ini dapat merusak seal. Setelah pencucian, bilas core
dengan air panas.
Start engine, akselerasikan engine beberapa kali dan bilas core lagi. Ulangi proses
pembilasan ini sampai gelembung sabun tidak keluar lagi dari fin. Lanjutkan
mengoperasikan engine sampai tidak ada lagi uap air yang muncul dari fin.
Penyumbatan akibat lumpur dapat terdiri dari dua jenis: percikan lumpur dan resapan
lumpur. Percikan lumpur dapat dengan mudah dihilangkan dengan mematikan engine
dan menyemprotkan air di kedua sisi core untuk melunakkan lumpur. Jika panas dari
radiator menyebabkan air menguap, semprot core lagi.
Jika lumpur telah melunak, arahkan nozzle air dari sisi kipas menuju bagian depan
radiator. Jaga posisi nozzle agar tegak lurus dengan permukaan tiap core. Pastikan hose
nozzle tidak menekan fin radiator. Tekanan pada fin dapat membengkokkan atau
merusaknya.
Kemudian lanjutkan dari bagian depan radiator dan semprotkan air pada tiap core. Jaga
posisi nozzle mengarah ke bagian belakang engine. Posisi nozzle seperti ini menjadikan
lumpur mengelupas atau tersapu. Setelah lumpur terkelupas, posisikan kembali nozzle
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 57 of 101
Maintain Engine Cooling System
Ketika air dari core terlihat bersih, berarti core telah bersih. Pastikan untuk
mengeringkan radiator seperti disebutkan sebelumnya. Potongan kecil dari percikan
lumpur dan kotoran yang lain dapat dihilangkan dengan sikat bulu.
Resapan lumpur sangat sulit untuk dibersihkan pada radiator jenis apapun. Untuk hasil
terbaik, lepas penutup fan, fan dan shroud. Semprot kedua sisi dengan air bertekanan
tinggi hingga air yang mengalir di antara fin terlihat bersih. Untuk memeriksa kebersihan
core radiator, pemberian cahaya di bagian belakang core dapat digunakan untuk
memeriksa kotoran. Jika kotoran terlihat, diperlukan pembersihan tambahan.
Jika pembersihan resapan lumpur ini tidak memberikan hasil yang baik, lepaskan
radiator. Tutup lubang inlet dan outlet di bagian atas dan bawah tangki dan letakkan di
sebuah tangki besar yang berisi air dan deterjen.
Setelah perendaman dan penggoncangan core radiator di dalam air, bilaslah dengan air
panas dan keringkan dengan udara. Waktu yang dibutuhkan untuk perendaman
disesuaikan dengan masalah yang ada.
Multiple Row Module Radiator tersusun dari lipatan core radiator, yang menggantikan
standard core radiator pada kebanyakan peralatan. Multiple row module radiator
menggunakan individual core assemblies, namun sangat mengurangi dengan baik
banyak masalah penyumbatan yang sebelumnya terjadi. Karena radiator jenis ini serupa
dengan dua jenis lainnya, lihat “Pembersihan Bagian Luar Standard Core Radiator”, dan
“Pembersihan Bagian Luar Folded Core Radiator”.
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 58 of 101
Maintain Engine Cooling System
PERINGATAN :
Jangan memakai Caterpillar Cooling System Cleaner dengan Dowtherm 209 Full-Fill.
Ada beberapa cara untuk menentukan jika sistem pendingin membutuhkan lebih dari
pembersihan ringan:
Hambatan aliran
Lepas radiator cap dan periksa apakah pipa pendingin tersumbat. Jika di temukan
tersumbat maka jika hanya dengan melakukan pembersihan ringan tidak akan
mendapatkan hasil yang maksimal.
Overheating konstan
Jika fan belt, thermostat dan water pump bekerja dengan baik, tetapi engine tetap
overheat, maka sistem pendingin kemungkinan tersumbat dengan parah.
Kegagalan Water Pump
Jika water pump mengalami kerusakan dan saat pemeriksaan ditemukan kontaminasi air
yang berlebihan pada bearing, seal, dan permukaan shaft maka sistem pendingin
membutuhkan pembersihan menyeluruh menggunakan bahan kimia spesial (special
chemical)
Terlihat pengkaratan parah dan lumpur hijau
Jika lumpur hijau (chromium hydroxide) jelas ada di dasar radiator cap dan coolant
sangat keruh maka penguji antifreeze tidak dapat dibaca, sistem akan memerlukan
pembersihan lebih menyeluruh menggunakan pelarut khusus.
5.14. Contamination
Ketika engine stop, coolant yang akan masuk ke dalam saluran oli karena tekanan pada
system pendingin akan berkurang secara bertahap di bandingkan tekanan oli yang akan
langsung turun ketika engine di matikan. Pengetesan dengan tekanan dapat di gunakan
untuk mengetes kebocoran pada oil cooler. Dengan pengujian sample oli dapat
mengetahui kandungan antifreeze atau kandungan air di dalam oli.
Setelah di ketahui berdasarkan pemeriksaan atau pengujian sample oli bahwa di dalam
sistem pendingin terdapat kontaminan maka sistem pendingin harus dibersihkan dengan
cara sebagai berikut:
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 59 of 101
Maintain Engine Cooling System
Sistem pendingin juga dapat dibersihkan dengan Caterpillar Cooling System Cleaner.
Pembersih ini dapat digunakan untuk melakukan pembersihan karat pada system pendingin
tanpa harus membongkar engine.
Pembersih ini dapat dipakai pada system pendingin engine Caterpillar dan sistem pendingin
engine dari manufaktur lain. Pelarut ringan ini tidak boleh digunakan pada sistem pendingin
yang tidak mempunyai maintenance interval schedule atau sudah terjadi endapan yang
sangat banyak di dalam system pendingin. Bila didalam system sudah terjadi endapan dan
karat yang terlalu banyak maka perlu digunakan cairan pembersih yang lebih kuat atau
lakukan disassembly dan pembersihan komponen.
Caterpillar Cooling System Cleaner (Part Number 6V4511) dengan kapasitas 1.9 liter
wadah atau untuk melakukan pembersihan dengan cepat gunakan Caterpillar Cooling
System Cleaner dengan part number:
4C4609: 0.236 L
4C4610: 1.980 L
4C4611: 3.780 L
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 60 of 101
Maintain Engine Cooling System
4C4612: 18.90 L
4C4613: 208 L
Kosongkan dan buang semua coolant pada system pendingin. Kemudian isi dengan air
bersih dan 6 – 10% cleaner. Hidupkan engine selama 1 jam setelah itu buang lagi
coolant dan bilaslah system pendingin dengan air bersih. Isi system pendingin dengan
campuran Caterpillar Antifreeze (Part Number 8C3684) dan air yang sesuai. Jika tidak
menggunakan Caterpillar Antifreeze tambahkan dengan Supplemental Coolant Additive
dengan jumlah yang sesuai.
5.16. Reverse-Flush
Sistem pendingin dapat dibilas (flushing) menggunakan air yang di hubungkan dengan
hose. Untuk melakukan flushing dapat juga menggunakan alat flushing yang menghasilakan
udara dan air bertekanan. Dengan alat ini tekanan udara berfungsi agar air yang di
sirkulasikan dapat lebih kuat sehingga menghasilkan gelombang air yang dapat membantu
mengikis dan mengeluarkan serpihan bahan atau karat. Radiator dan saluran water-
jacket pada engine biasanya dibilas secara terpisah.
Untuk melakukan pembilasan (flushing) pada saluran water-jacket engine dapat juga
menggunakan metode reverse-flushed tetapi jangan lupa melepas thermostat sebelum
melakukan pembilasan. Selama melakukan proses pembilasan jika di lengkapi dengan
interior heater control harus di posisikan pada posisi panas (panas position) sehingga air
dapat bersirkulasi melewati saluran untuk pemanas juga.
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 61 of 101
Maintain Engine Cooling System
Konsentrasi coolant pada system pendingin lama – lama akan berkurang oleh sebab itu
dibutuhkan pengetesan secara rutin untuk mengetahui konsentrasi pada coolant.
Coolant additive harus ditambahkan untuk menjaga konsentrasi coolant. Hal ini dapat
dilakukan dengan cara menambahkan concentrated liquid, pre-mixed coolant atau water
filter replacement unit tergantung jenis coolant yang dipakai pada system pendingin.
Rekomendasi untuk penggunaan coolant concentration test kits harus mengacu pada
rekomendasi pabrik pembuat engine. Pemeriksaan secara visual harus selalu dilakukan
terhadap coolant di dalam system pendingin.
Beberapa manufaktur menggunakan special paper test strips yang dicelupkan ke dalam
coolant kemudian perubahan warna yang terjadi pada special paper test strips
dibandingkan dengan master sheet yang akan menunjukkan tingkat konsentrasi pada
coolant yang sedang di test. Tes ini mampu mencakup kedua level anti-freeze dan level
pelindung korosi/kavitasi. Level anti-freeze juga dicek dengan refractometer atau coolant
hydrometer.
Konsentrasi perlindungan terhadap korosi dan kavitasi juga dapat diukur dengan specific
chemical test kit. Coolant yang akan di test diletakkan pada sebuah test tube. Kemudian
coolant pada tabung tersebut diberi tetesan kimia yang akan menyebabkan coolant
tersebut berubah warna. Banyaknya tetesan akan menunjukkan konsentrasi pada
coolant dan tindakan apa yang harus dilakukan dengan mengacu pada master chart.
SELALU:
Gunakan test kit dan lakukan prosedur yang sesuai dengan yang di rekomendasikan
oleh Caterpillar.
Gunakan coolant sesuai dengan yang direkomendasikan oleh Caterpillar.
JANGAN:
Lain halnya jika sistem pendingin kurang pemeliharaan, berkurangnya pelindung dari
serangan karat, kavitasi dan pembekuan akan terjadi.
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 62 of 101
Maintain Engine Cooling System
Proses troubleshooting dan analisis pada sistem pendingin harus dilakukan dengan
menggunakan peralatan test yang benar. Di bawah ini adalah peralatan – peralatan
untuk melakukan test pada sistem pendingin yang direkomendasikan oleh Caterpillar.
Blowby/Air Flow Indicator Group 8T2700 (Gambar 78) terdiri dari sebuah digital indicator
genggam, sebuah remote mounted pick-up, kabel 915 mm (3 ft), hose blowby dan
beberapa konektor.
Peralatan ini mampu mengukur volume gas blowby yang keluar dari crankcase breather
dan dapat pula digunakan untuk mengukur kecepatan udara yang melewati radiator.
Dengan peralatan ini dapat menentukan perbedaan area pada core dan untuk
mengidentifikasi area yang tersumbat.
4C6500 Digital Thermometer Group (Gambar 79) berfungsi untuk menentukan kondisi
system pendingin jika mengalami overheating atau overcooling. Peralatan ini dapat
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 63 of 101
Maintain Engine Cooling System
Prosedur untuk menggunakan peralatan ini terdapat pada Operating Manual NEHS0554.
Self-sealing probe adaptor (Gambar 10.80) dapat digunakan untuk memasang probe
untuk tekanan dan temperatur sehingga tidak perlu men-drain coolant pada system
pendingin. Probe adaptor secara otomatis tidak akan bocor ketika probe dilepas. Dengan
probe adaptor membuat proses pengetesan system pendingin lebih cepat dan mudah.
Probe adaptor dapat digunakan pada sistem pendingin dengan tekanan sampai dengan
690 kPa (100 psi) dan temperatur sampai dengan 120°C (250°F). 5P2720 Self-Sealing
mempunyai ulir pipa 1/8” 5P2725 Self-Sealing Probe Adaptor mempunyai ulir ¼” 5P3591
Self-Sealing Probe Adaptor Group mempunyai standar ulir 9/16” dan “-18”TPI.
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 64 of 101
Maintain Engine Cooling System
Alat Coolant and battery tester (Gambar 82) memberikan informasi pembacaan yang
akurat tentang temperatur beku coolant. Alat ini dipakai untuk coolant yang
mengandung ethylene glycol. Hanya beberapa tetes coolant yang dibutuhkan dalam
pengetesan.
Coolant dapat dites dalam keadaan panas atau dingin karena alat ini secara otomatis
akan menyesuaikan dengan kondisi temperatur coolant yang di test. Coolant and battery
tester (5P0957) menunjukkan temperatur coolant dalam derajat Fahrenheit dan Coolant
and battery tester (5P3514) menunjukkan temperatur coolant dalam derajat Centigrade.
Coolant and battery tester dapat juga digunakan untuk mengetes specific gravity pada
lead-acid battery electrolyte.
Test kit seperti yang di tunjukkan pada Gambar 83 di gunakan untuk mengukur secara
akurat konsentrasi Caterpillar supplemental coolant additive dan tingkat konsentrasi
ethylene glycol dalam campuran coolant.
Pengetesan dengan test kit ini dapat mencegah konsentrasi yang berlebihan atau terlalu
sedikit pada coolant yang dapat mengakibatkan kerusakan pada engine. Pengetesan
dengan test kit ini hanya membutuhkan beberapa menit saja untuk melakukannya.
Pengetesan dengan test kit ini dapat menentukan level conditioner dan rekomendasi
yang harus dilakukan dalam perawatan sistem pendingin. Kit ini secara khusus
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 65 of 101
Maintain Engine Cooling System
digunakan untuk system pendingin engine yang menggunakan Caterpillar liquid cooling
system conditioner, coolant conditioner precharge dan maintenance element filters.
Pemeriksaan coolant secara berkala harus dilakukan karena konsentrasi conditioner akan
berkurang dengan jumlah yang tidak dapat diperkirakan. Hal – hal yang berpengaruh
terhadap rata – rata pengurangan konsentrasi (depletion rate) yaitu : jumlah antifreeze
yang berbeda –beda, kesalahan perawatan, gas blowby, ketinggian radiator dengan air,
umur pemakaian engine dan kondisi – kondisi lain yang berhubungan dengan
penggunaan heavy duty diesel dan gasoline engine.
NOTE:
Caterpillar Supplemental Coolant Additive Test Kit dapat digunakan untuk menentukan
konsentrasi nitrites di dalam coolant. Supplemental coolant additives yang lain
menggunakan phosphate based dan kit tidak bisa memberikan hasil test yang akurat.
Caterpillar merekomendasikan menggunakan test kit milik manufaktur jika menggunakan
supplemental coolant additive merek lain.
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 66 of 101
Maintain Engine Cooling System
9U7400 Multitach Group (Gambar 85) merupakan alat tambahan yang memiliki
phototach attachment untuk mengukur kecepatan putar kipas. Prosedur pengetesan
dapat dilihat pada Operators Manual NEHS0605.
9S8140 System Pressurizing Pump (Gambar 86) digunakan untuk membuat sistem
pendingin bertekanan sehingga dapat untuk mengetes kebocoran. Alat ini juga dapat
digunakan untuk mengetes pressure relief valve dan pressure gauge.
Pressure probe (Gambar 87) digunakan dengan pressure gauge untuk mengecek
tekanan coolant, biasanya digunakan pada sisi inlet atau outlet pada water pump. Probe
ini dapat dipasang pada lubang pipa dengan ulit 1/8” atau menggunakan
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 67 of 101
Maintain Engine Cooling System
Untuk melakukan perbaikan dan mendiagnosa sebuah system sangatlah penting untuk
mengerti tentang cara kerja dan hubungan system tersebut terhadap system – system
yang lain. Kumpulkanlah informasi dari operator, pemilik dan bagian maintenance
tentang machine yang akan diperbaiki. Catatlah semua kemungkinan – kemungkinan
penyebab masalah.
Di dalam service manual pada section Troubleshooting Guides terdapat informasi dan
langkah – langkah yang harus dilakukan dalam melakukan proses perbaikan. Periksalah
kemungkinan masalah yang mudah dulu untuk dilakukan (CHECK THE EASY AND
OBVIOUS THINGS FIRST) kemudian jika belum terselesaikan lakukan pemeriksaan
menggunakan diagnostic tool. Hal terakhir yang harus dilakukan adalah melakukan
proses disassembly dan inspeksi terhadap komponen – komponen.
Masalah yang terjadi pada system pendingin adalah coolant terlalu panas (overheating)
atau coolant terlalu dingin (overcooling). Langkah pertama yang harus dilakukan dalam
melakukan troubleshooting pada sistem pendingin yang mengalami overheating atau
overcooling adalah mengumpulkan informasi tentang sejarah dari machine tersebut
yaitu:
Tanya dengan beberapa pertanyaan, seperti : kapan, seberapa sering dan dalam
kondisi apa masalahnya terjadi ?
Apakah ada tanda – tanda yang terlihat ?
Apakah coolant perlu ditambah secara berkala ?
Untuk aplikasi apa unit tersebut digunakan ?
Apakah load factor lebih tinggi dari beban normal?
Langkah ini sangat penting karena operator dapat memberikan informasi tentang
indikasi secara umum dimana tempat terjadinya kerusakan. Ada tiga jenis problem dasar
yang dapat terjadi pada sistem pendingin:
Overheating
Terjadi ketika engine beroperasi pada temperatur diatas normal.
Kehilangan coolant
Hal ini dapat terjadi karena kebocoran pada saluran – saluaran atau karena
overheating.
Overcooling
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 68 of 101
Maintain Engine Cooling System
Sebuah kondisi dimana engine tidak mencapai temperatur kerja operasi normal.
Overcooling umumnya terjadi pada daerah operasi yang dingin tetapi dapat juga
terjadi pada daerah operasi yang panas. Pengoperasian machine dengan kondisi
overcooling dapat menyebabkan terjadinya keausan yang lebih cepat pada daerah
sekitar ring piston karena terjadinya asam dan deposit karbon yang berlebihan.
Untuk melakukan perbaikan pada sistem pendingin hal yang harus pertama kali
dilakukan adalah pemeriksaan secara visual (visual inspection). Jika kerusakan tidak
dapat ditemukan pada visual inspection maka gunakanlah diagnostic tool dan lakukan
pelepasan dan inspeksi komponen jika diperlukan.
Coolant Level
Hal yang paling mudah untuk mencari penyebab masalah overheating pada sistem
pendingin engine adalah memeriksa level coolant (Gambar 89). Level coolant yang tidak
benar dapat mengakibatkan overheating pada sistem pendingin sehingga dapat
menyebabkan terjadinya kerusakan – kerusakan pada komponen engine seperti retak
(crack) pada cylinder head dan block engine.
PERINGATAN :
JANGAN membuka filler atau pressure cap saat coolant engine masih panas. Uap atau
coolant panas dapat menyebabkan luka bakar. Cek kebocoran coolant atau gelelmbung –
gelembung udara didalam radiator ketika engine tidak hidup.
Pastikan coolant engine telah dingin kemudian periksalah level coolant pada radiator.
Level coolant yang terlalu rendah dapat menyebabkan overheating atau dapat juga level
coolant terlalu rendah karena efek dari terjadinya overheating. Pada saat coolant mulai
mendidih kondisi pressure relief valve pada radiator cap akan terbuka sehingga tekanan
pada sistem pendingin tetap konstan tetapi pada kondisi ini ada juga coolant akan
menguap mengalir ke resevoir.
Rule of Thumb:
1. Coolant harus dapat melapisi untuk melindungi internal tube atau element core.
2. Pada sistem yang menggunakan non-recovery system, level coolant pada bagian top
tank harus berada sekitar 12 sampai 20 mm (1/2” sampai 3/4”) dibawah leher lubang
pengisian.
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 69 of 101
Maintain Engine Cooling System
3. Pada sistem yang menggunakan recovery system, level coolant harus di atas bagian
leher pengisian ketika sistem sudah panas dan berada pada level mark pada botol
ketika kondisi dingin.
Jika level coolant terlalu rendah maka tambahkan seperlunya. Lihatlah informasi pada
Operation and Maintenance Guide tentang jumlah pengisian coolant yang harus
ditambahkan. Jika level coolant sudah benar tetapi engine masih overheating lagi maka
dapat disimpulkan bahwa level coolant yang rendah bukan penyebab terjadinya
overheating. Jika level coolant secara terus – menerus berkurang ada kemungkinan
terjadinya kebocoran.
Radiator
Jika level coolant sudah benar kemudian periksalah radiator. Periksalah radiator dari
kotoran atau sesuatu yang menyumbat core atau fin sehingga menyebabkan aliran
udara yang melewati radiator dapat terhambat. Untuk melakukan pemeriksaan core
gunakanlah senter untuk menyinari radiator dan jika cahaya tidak dapat menembus
radiator maka kemungkinan terjadi penyumbatan pada radiator.
Periksalah kisi – kisi pada radiator jika terjadi kerusakan atau bengkok yang dapat
menghambat aliran udara serta perikasalah kebocoran pada radiator (Gambar 90). Pada
engine untuk aplikasi truck yang mempunyai penutup (shutter) untuk radiator perlu
diperiksa jika terjadi macet dalam kondisi tertutup(stuck closed).
Pakailah alat radiator fin comb untuk meluruskan kebengkokan dan juga untuk
membersihkan kisi – kisi. Kemudian gunakan udara bertekanan untuk membersihkan
potongan – potongan material kecil atau kotoran dari core radiator.
Periksalah aliran udara pada sisi masuk dan keluarnya udara yang melewati radiator.
Pemasangan yang tidak benar dan tersumbat radiator oleh kotoran dapat berakibat pada
kurangnya aliran udara untuk pendinginan coolant di dalam radiator yang dapat
menyebabkan terjadinya overheating pada engine.
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 70 of 101
Maintain Engine Cooling System
Fan Shroud
Periksalah kondisi dari pelindung kipas (fan shroud) (Gambar 91). Pastikan pelindung
kipas (fan shroud) terpasang dengan benar. Kemudian pastikan landasan karet (rubber
strip) dalam kondisi yang bagus.
Pelindung radiator dan pelindung kipas (fan shroud) dapat meningkatkan effisiensi kipas
dengan cara mengarahkan aliran udara untuk melewati radiator dan juga mencegah
aliran udara tidak memantul atau berputar melewati sisi – sisi samping radiator.
Jarak antara pelindung kipas (fan shroud) dan ujung blade kipas (fan) harus sedekat
mungkin sehingga dapat mencegah berputarnya kembali aliran udara pada bagian
sekitar ujung kipas.
Pastikan guard dapat diperbaiki ulang (serviceable).
Kipas
Periksalah kondisi fan blade dari kerusakan (Gambar 92 kiri). Periksalah apakah
pemasangan kipas sudah benar. Sebuah fixed-blade fan yang dipasang terbalik
effisiensinya akan berkurang sampai 50% maka periksalah apakah kipas yang terpasang
pada machine sudah benar.
Periksalah kekencangan fan belt dan kondisi keausan groove di pulley (Gambar 92,
kanan) (Lihat pada literatur dengan Media number SEBF8046 untuk mengetahui
spesifikasi batas keausan groove di pulley). Fan belt yang kendor akan mempercepat
keausan belt dan dapat menyebabkan kerusakan pada pulley. Fan belt yang kendor akan
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 71 of 101
Maintain Engine Cooling System
menyebabkan kipas berputar lebih pelan karena slip sehingga tidak bisa menghasilkan aliran
udara yang maksimal dan dapat berakibat overheating pada engine.
Pastikan tidak ada oli atau grease pada fan belt atau pulley. Oli atau gease dapat
menyebabkan belt menjadi slip. Diameter luar tali kipas baru harus kelihatan melewati
ujung pulley sedikit. Jika fan belt sejajar dengan bagian luar diameter pulley, fan belt
dan pulley akan rusak. Cek permukaan bagian dalam fan belt adanya crack. Crack pada
permukaan bagian dalam akan menyebabkan fan belt putus. Ganti fan belt secara
keseluruhan.
Fan belt yang baru akan merentang sedikit setelah beberapa hari pengoperasian. Fan
belt baru dan fan belt yang lama bila digunakan bersamaan akan menyebabkan
tegangan berlebih pada fan belt baru. Saat dilakukan penyetelan pada fan belt yang
akan terjadi adalah fan belt baru akan kencang sebelum fan belt lama sehingga fan belt
baru yang akan menerima beban secara keseluruhan beban.
CATATAN :
Tegangan pada fan belt yang berlebihan akan menyebabkan bearing water pump dan
bearing pulley menerima beban yang berlebihan. Hal tersebut juga membuat keausan
fan belt lebih cepat. Tegangan pada fan belt yang tidak cukup (kendor) menyebabkan
fan belt akan slip sehingga fan akan berputar lebih lambat. Fan belt harus lentur kurang
lebih 10 mm (0,4”) ketika ditekan pada jarak terpanjang lintasannya.
Fan Clutch
Pada unit vehicle yang menggunakan fan clutch (Gambar 93), jika terjadi slip pada fan
clutch dapat menyebabkan berkurangnya aliran udara. Apabila terjadi kerusakan pada
clutch dapat menyebabkan fan tidak bisa berputar sehingga tidak ada aliran udara untuk
mendinginkan coolant di dalam radiator.
Untuk mengukur kecepatan putaran fan dapat menggunakan alat 9U7400 Multitach II
kemudian bandingkan kecepatan fan dengan kecepatan engine sehingga dapat diketahui
apakah clutch beroperasi dengan benar.
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 72 of 101
Maintain Engine Cooling System
Rule of Thumb:
Ketika kondisi temperatur panas dan seimbang putarlah fluid fan dengan tangan. Jika
fan berputar lebih dari 4 kali putaran maka fluid fan tersebut tidak bekerja dengan baik.
Periksalah juga adanya kekasaran. Hati – hati jangan sampai tangan dan lengan
terluka bakar ketika melakukan tes ini.
Shutter System
Gambar 94
Untuk unit vehicle yang memakai system dengan penutup (shutter system) (Gambar
94), periksalah kondisi penutup dari kerusakan seperti macet dalam kondisi menutup
(stuck closed) atau tidak bisa menutup penuh karena jika kerusakan tersebut akan
menghambat aliran udara yang melewati radiator sehingga dapat berakibat overheating
pada engine. Pemeriksaan bisa dilakukan secara visual dan jika ditemukan kerusakan
atau sistem tidak bisa bekerja dengan benar perbaiki atau jika perlu lakukan
penggantian.
Hose Coolant
Gambar 95 Hose
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 73 of 101
Maintain Engine Cooling System
Aliran coolant yang tidak sesuai dapat disebabkan oleh hose yang terjepit, bocor, rusak
atau pemasangan hose yang tidak benar (Gambar 95). Kempesnya hose pada sisi hisap
water pump mengindikasikan bahwa water pump tidak dapat menghisap coolant yang
cukup karena coolant kurang atau terjadinya hambatan pada pada saluran sebelum sisi
inlet. Hose bisa di beri cat untuk membuat hose lebih keras.
Periksalah kebocoran pada water pump. Water pump pada semua aplikasi engine
memiliki lubang pembuangan (drain hole) di antara seal coolant dan seal bearing di
dalam water pump karena tanpa drain hole di khawatirkan coolant dapat bercampur
dengan oli apabila terjadi kerusakan pada seal di dalam water pump.
Drain hole juga berfungsi untuk mengalirkan kebocoran pada saat terjadi pemuaian dan
penyusutan seal. Sedikit kebocoran coolant pada saat pertama kali merupakan kejadian
yang normal karena seal di rancang untuk mengalami kebocoran pada kondisi – kondisi
tertentu untuk menjaga agar seal tetap dalam kondisi dingin dan juga sebagai
pelumasan.
Periksalah tanda – tanda kebocoran coolant atau oli di antara cylinder head dan cylinder
block. Bila terjadi kebocoran di tempat tersebut maka mengindikasikan terjadinya
kerusakkan pada gasket cylinder head.
Periksalah kondisi gasket pada radiator cap jika mengalami kerusakan gantilah gasket
atau radiator cap.
Periksalah kondisi permukaan untuk gasket radiator. Permukaan tersebut harus
halus dan datar.
Pada aplikasi gas engine, pada saluran manifold dan converter terdapat juga
saluran coolant di dalamnya sehingga perlu diperiksa dari kebocoran baik di
dalam atau di bagian luarnya.
Pada aplikasi vehicle, periksalah kondisi rangkaian pemanas (heater) dari
kebocoran.
Jika radiator cap di ikat dengan sebuah stud maka pastikan kontak antara gasket
dan permukaan pada radiator top tank tertutup rapat. Jika stud yang di pakai
terlalu panjang atau rusak tidak dapat menyekat dengan sempurna.
Pada kompresor udara yang menggunakan jacket water periksalah kebocoran
karena coolant dapat masuk ke kompressor atau coolant akan kemasukan udara.
Periksalah recovery pipe dan hose dari kebocoran.
PERINGATAN :
Jangan melakukan disassemble pada relief valve pada sistem pendingin jika
radiator cap belum di lepas dari radiator dan tekanan pada sistem pendingin
belum dikeluarkan (di-release). Tekanan pada sistem pendingin yang masih tinggi
akan menyebabkan coolant atau uap panas menyembur keluar sehingga dapat
menyebabkan cidera.
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 74 of 101
Maintain Engine Cooling System
Jika pressure relief valve dipasang di bagian atas tangki radiator lepas dan periksa
kondisi relief valve kemudian periksa juga kondisi permukaan gasket. Bersihkan
permukaan untuk memasang relief valve dari karat dan kotoran sebelum di
pasang.
Periksalah seal pada governor setelah melakukan fuel setting. Pastikan machine
tidak beroperasi pada kondisi overload atau di operasikan pada torque converter
stall speed.
Periksalah slip pada clutch transmission dan steering.
Pastikan brake pada machine tidak mengalami dragging.
Jika dilengkapi dengan vehicle retarding device pastikan sistem tersebut bekerja
dengan baik.
Periksalah konsentrasi glycol pada coolant. Konsentrasi glycol tidak boleh melebihi
50%.
Jika kerusakan tidak dapat ditemukan pada visual inspection maka gunakanlah
diagnostic tool dan jika perlu lakukan pelepasan dan inspeksi komponen jika diperlukan.
Untuk memeriksa temperatur pasanglah digital thermometer probes (Gambar 96) pada
lokasi – lokasi yang telah ditentukan. Sebelum memasang digital thermometer probes
pastikan temperatur engine sudah dingin kemudian pasanglah self-sealing probe adaptor
pada lokasi – lokasi seperti berikut:
Temperatur oli pada saluran inlet cooler tidak boleh di atas 132°C (270°F). Temperatur
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 75 of 101
Maintain Engine Cooling System
oli normal untuk pada saluran inlet cooler antara 6° sampai 11°C (42° sampai 52°F)
lebih besar daripada pada temperatur coolant pada tangki bagian atas radiator (radiator
top tank) ketika machine dioperasikan pada kondisi beban penuh (full load).
Temperatur oli pada saluran outlet cooler antara 8° sampai 22°C (45° sampai 72°F)
lebih rendah dari temperatur oli pada saluran inlet cooler.
Relief valve pada sistem pendingin harus membuka pada tekanan yang sesuai dengan
spesifikasi tergantung jenis engine yang dapat di lihat pada Engine Specification Module.
Untuk memeriksa tekanan pembukaan relief valve dengan cara memasang pressure
gauge pada tangki bagian atas radiator (Gambar 97). Gunakan Air Pressure Pump untuk
menaikan tekanan pada sistem pendingin dan relief valve harus membuka sesuai dengan
spesifikasi.
Sistem pendingin yang tidak diisi sesuai level yang benar dapat menyebabkan
terperangkapnya udara di dalam sistem pendingin. Kerusakan atau kebocoran pada
beberapa komponen seperti aftercooler dan hose juga dapat menyebabkan masuknya udara
ke dalam sistem pendingin, khususnya di sisi inlet water pump.
Udara yang terperangkap di dalam sistem pendingin akan menyebabkan terjadinya busa
atau gelembung udara yang akan mempengaruhi kerja water pump. Gelembung udara di
dalam sistem akan menjadi penghambat sehingga aliran pompa akan turun. Gelembung
udara akan membuat coolant tidak mampu kontak langsung dengan komponen yang
akan di dinginkan sehingga menyebabkan timbulnya bintik panas (hot spot) pada
komponen yang tersekat oleh gelembung udara.
Untuk mencegah udara agar tidak masuk ke dalam system pendingin ketika pengisian
yang perlu diperhatikan adalah cara pengisian tidak boleh terlalu cepat dan pastikan
semua sambungan hose terikat kuat. Setelah pengisian selesai nyalakan engine
kemudian periksa lagi level coolant untuk menyakinkan radiator masih penuh, khususnya
setelah thermostat terbuka dan coolant bersirkulasi ke seluruh sistem.
Gas exhaust yang bocor ke dalam sistem pendingin juga dapat menyebabkan busa atau
gelembung udara. Gas exhaust dapat masuk ke dalam sistem pendingin melalui gasket
cylinder head yang mengalami keretakan atau cacat. Umumnya penyebab dari
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 76 of 101
Maintain Engine Cooling System
Gas di dalam sistem pendingin adalah salah satu penyebab terjadinya overheating.
Untuk memeriksa kandungan gas di dalam system pendingin dapat menggunakan alat
test yaitu bottle test. Gunakanlah 9U6737 Radiator tool Group untuk melakukan bottle
test. Isi sistem pendingin dengan coolant pada level yang benar. Kencangkan hose yang
menuju outlet relief valve di tangki bagian atas radiator.
Letakkan ujung hose lainnya dalam wadah air. Pasang radiator cap kemudian
kencangkan. Hidupkan machine dan operasikan sampai temperatur operasi tercapai
(thermostat terbuka). Pastikan temperatur sistem pendingin antara 85°C (185°F) dan
99°C (210°F). Temperatur ini dapat di ukur cek dengan memasang thermistor probe
pada regulator housing didepan regulator.
Test ini hanya untuk memeriksa kandungan gas bukan uap air karena pada kondisi yang
sama akan menghasilkan kondisi yang hampir sama jika temperatur meningkat. Lihatlah
jumlah gelembung udara dalam wadah kaca (glass jar) jika gelembung udara hanya
terlihat kadang – kadang maka disana tidak ada udara atau gas dalam sistem pendingin.
Tetapi jika gelembung udara berjumlah banyak dan terus – menerus muncul hal itu
menunjukkan adanya udara atau gas hasil pembakaran.
Temperature Gauge
pada temperatur sekitar 108°C (226°F) atau 113°C (235°F) pada beberapa model.
Ketika engine telah mencapai temperatur kerja bandingkanlah temperatur yang terbaca
pada thermometer group dengan yang terbaca pada gauge. Jika pada gauge
menunjukkan overheating sedangkan pada thermometer group menunjukkan
temperatur normal maka menunjukkan terjadinya kerusakkan pada gauge.
Untuk memastikan kerusakkan pada gauge ganti sekali lagi thermometer probe sebelum
memutuskan bahwa gauge mengalami kerusakkan. Jika gauge dan thermometer group
menunjukkan nilai temperature yang sama maka problem overheating benar – benar
terjadi.
Pasanglah thermometer probe di bagian atas tangki radiator (top tank) dan pegang satu
thermometer probe di tangan untuk mengukur temperatur udara sekitar (ambient
temperature). Pastikan ambient temperature di ukur pada daerah yang tidak dipengaruhi
panas yang di timbulkan oleh sumber panas lain. Jika fan meniup udara melewati
manifold yang panas, hal ini akan berpengaruh terhadap pembacaan ambient
temperature.
Jika sistem pendingin menggunakan shunt line, pasanglah probe pada water
temperature regulator housing outlet. Dengan engine telah mencapai kondisi
temperature kerja operasi dan thermostat terbuka penuh perbedaan temperatur pada
radiator tangki bagian atas (top tank) dan ambient temperature tidak boleh melebihi 61
derajat Celcius saat machine di bebani penuh dan thermostat terbuka penuh. Nilai ini
disebut sebagai temperature differential. Nilai dari perbedaan temperatur ini akan sangat
berguna pada saat melakukan proses perbaikan (troubleshooting).
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 78 of 101
Maintain Engine Cooling System
Periksa temperatur pada torque converter yang terlalu tinggi. Jika torque converter tidak
bekerja dengan benar dan terlalu membebani engine maka dapat menyebabkan panas
yang berlebihan untuk di dinginkan oleh sistem pendingin (Gambar 100).
Jika jarum penunjuk gauge (gauge pointer) berada di zona bahaya merah (red danger
zone) pasanglah thermometer probe pada torque converter inlet dan outlet serta pada oil
cooler. Pada kondisi engine hidup nilai perbedaan temperatur harus diantara 8°C sampai
22°C (45° - 72°F).
Jika nilai perbedaan temperatur kurang dari 8°C (45°F) kemungkinan water tube pada
radiator tersumbat dan harus di bersihkan atau diganti. Jika perbedaan temperatur lebih
dari 22°C (72°F) kemungkinan saluran oli tersumbat sehingga aliran oli juga terhambat.
Aliran oli yang terhambat menyebabkan oli di dinginkan terlalu lama pada oil cooler
sehingga temperatur oli menjadi terlalu rendah karena perpindahan panas yang terlalu
lama.
Retarder
Jika machine dilengkapi dengan pendingin oli retarder atau sistem brake maka ini juga dapat
menjadi salah satu kemungkinan terjadinya overheating (Gambar 101). Pengoperasian unit
yang tidak benar dapat menyebabkan panas yang diserap oleh system pendingin menjadi
terlalu besar seperti misalnya operator melakukan kesalahan dalam penggunaan brake
terutama pada aplikasi Unit Hauling. Pengecekan oil cooler dapat di lakukan sama dengan
pengecekan pada torque converter.
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 79 of 101
Maintain Engine Cooling System
Hambatan terhadap aliran coolant dan perpindahan panas yang terjadi pada radiator dapat
diukur. Hal ini dapat dilakukan dengan mengukur perbedaan temperatur antara tangki
bagian atas (top tank) dan bawah radiator (bottom tank). Pastikan ujung probe pada top
tank terendam oleh coolant. Pasanglah probe untuk bottom tank pada outlet elbow atau di
saluran inlet water pump. Overheating bisa di akibatkan dua hal pada radiator yaitu karena
aliran atau kapasitas. Jika perbedaan temperatur lebih dari 11°C (52°F) maka
kemungkinan coolant yang mengalir melewati radiator fin terlalu pelan. Hal ini dapat
mengindikasikan hambatan aliran dalam sistem pendingin. Jika perbedaan
temperaturnya kurang dari 4.5°C (40°F) menunjukkan bahwa tidak maksimalnya
perpindahan panas pada radiator sehingga coolant tidak di dinginkan secara maksimal.
Tetapi hal ini juga dapat disebabkan oleh karena coolant terlalu panas sehingga radiator
tidak mampu untuk mendinginkan coolant.
Jika overheating terjadi karena aliran yang terhambat ada beberapa cara untuk
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 80 of 101
Maintain Engine Cooling System
Hidupkan engine kemudian lihat temperatur pada sisi outlet water pump. Ketika
temperatur kerja belum tercapai coolant akan mengalir ke saluran bypass dan tidak
mengalir ke radiator. Temperatur coolant akan terus meningkat sampai temperatur kerja
operasi tercapai kemudian temperatur akan stabil. Temperatur tersebut merupakan
temperature pembukaan thermostat dan temperaturnya harus tidak lebih dari 1° atau
2°C dari spesifikasi saat terbuka penuh (Gambar 103).
Untuk memastikan thermostat dapat di lepas dari engine kemudian lakukan pemeriksaan
secara menyeluruh terhadap thermostat sesuai dengan prosedur dan spesifikasi yang
ada pada Service Manual. Setelah melakukan pengetesan jika thermostat tidak
memenuhi spesifikasi gantilah dengan yang baru.
Water Pump
Setelah thermostat diperiksa dan dipastikan masih bagus kemungkinan yang menjadi
penyebab terhambatnya aliran ada di saluran yang lain atau mungkin pompa tidak bisa
menghasilkan aliran yang sesuai kemampuannya.
(Gambar 104). Nilai hasil pengukuran tekanan dapat membantu memisahkan masalah
untuk menemukan tempat terjadinya hambatan.
Sebelum melakukan pemeriksaan kecepatan udara posisi transmisi machine harus netral.
Posisi parking brake “ON” dan turunkan semua peralatan (implement). Lakukan
pengecekan pada rated speed.
Alat ini tidak hanya untuk mengukur kecepatan aliran udara tetapi juga untuk
menentukan daerah core yang tersumbat yang menjadi penyebab terjadinya
overheating. Gunakan Special Instruction, Form SEHS8712 sebagai panduan untuk
menggunakan Tool Caterpillar 8T2700 Blowby/Air Flow Indicator Group.
Kecepatan Kipas
Apabila setelah dilakukan pemeriksaan tidak ada masalah dengan core radiator lakukan
langkah selanjutanya yaitu periksa kecepatan putaran kipas (fan) menggunakan
Caterpillar 9V7400 Multitach II Group (Gambar 105). Prosedur penggunaan alat dan
langkah - langkah pengetesan dapat di lihat pada Special Instruction, Form SEHS7807.
Jika kecepatan putaran kipas (fan) tidak memenuhi spesifikasi lakukan perbaikan atau
penggantian pada fan clutch dan fluid drive. Periksa juga kondisi belt dan pulley karena
belt yang aus atau kendor serta pemasangan pulley yang tidak sesuai dengan ukurannya
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 82 of 101
Maintain Engine Cooling System
Track type tractor dan Wheel loader kadang – kadang menggunakan sebuah motor
hydraulic untuk memutar kipas. Lihatlah pada Service Information System mengenai
prosedur pengetesan kipas menggunakan penggerak motor hydraulic.
Temperatur oli di dalam manifold oil cooler engine lebih tinggi 6 sampai 11°C (42°
sampai 52°F) jika dibandingkan dengan temperatur coolant pada saluran pump outlet.
Jika temperatur oli di dalam manifold oil cooler engine lebih tinggi 19° sampai 22°C (66°
sampai 72°F) dibandingkan dengan temperatur coolant pada saluran pump outlet, maka
kemungkinan terdapat banyak endapan di dalam oil cooler.
Aftercooler yang tersumbat karena kotor akan menyebabkan temperatur udara yang
masuk menjadi tinggi atau panas.
Setiap kenaikan sebesar 1° (Fahrenheit atau Centigrade) pada di temperatur udara
masuk akan menaikan temperatur gas buang (exhaust) sebesar 3° (Fahrenheit atau
Centigrade).
Temperatur gas buang (exhaust) yang tinggi akan menyebabkan overheating. Saluran
pada aftercooler yang kotor, terkontaminasi oleh oli atau karat dapat menyebabkan
proses perpindahan panas pada aftercooler tidak maksimal.
Engine Timing
Engine fuel timing yang tidak tepat dapat menyebabkan overheating pada engine.
Engine timing dapat diperiksa menggunakan alat 1P3500 Injection Timing Group
(Gambar 106).
Jika timing terlambat (retard) dapat menyebabkan overheating karena bahan bakar akan
terbakar terlalu singkat pada jarak waktu. Jika timing terlalu cepat (advance) bahan
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 83 of 101
Maintain Engine Cooling System
bakar yang terbakar akan terlalu lama di dalam ruang bakar sehingga akan
menghasilkan panas yang berlebihan pada ruang bakar.
Masalah lain pada system pendingin adalah kekurangan atau hilangnya coolant. Jika
operator mengeluh berkurangnya coolant pada system pendingin langkah pertama yang
harus di lakukan oleh teknisi adalah periksa prosedur pengisian yang sudah di lakukan.
Sebagai contoh: ketika melakukan pengisian radiator level coolant harus berada pada
bagian atas filler tube dan hari berikutnya level coolant harus berada di bawah filler
tube. Jika level tidak turun mungkin pengisian coolant pada sistem pendingin terlalu
penuh karena coolant akan menguap dan keluar melalui relief valve menuju resevoir.
Pemeriksaan dan prosedur pengisian coolant yang benar dapat di lihat pada Service
Manual pada section Lubrication and Maintenance Guides.
Sebagai panduan umum, sistem pendingin yang memakai system recovery level coolant
harus berada pada posisi penuh (full). Sedangkan untuk system yang tidak mempunyai
system recovery (Non-recovery) level coolant harus berada sekitar 20mm (3/4") dibawah
filler neck (Gambar 107).
Pengecekan Kebocoran
Untuk mencari masalah kurangnya coolant karena kebocoran lakukan dengan cara
mencari dari yang paling termudah. Periksa secara visual kebocoran pada system
pendingin dan untuk kebocoran yang kecil umumnya akan terlihat jika system pendingin
sedang bertekanan.
Gunakan 9S8140 Pump Group untuk memberikan tekanan ke dalam sistem pendingin.
Berilah tekanan pada sistem pendingin sesuai dengan spesifikasinya kemudian periksa
kebocoran jika ada perbaiki kebocoran tersebut.Untuk kebocoran yang sangat kecil jaga
tekanan pada sistem pendingin dengan memasang air regulator sehingga tekanan akan
tetap ada selama mencari kebocoran.
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 84 of 101
Maintain Engine Cooling System
Setelah langkah – langkah diatas dilakukan tetapi tidak ditemukan kebocoran, lanjutkan
dengan pemeriksaan kondisi pressure cap relief valve menggunakan alat Pump Group
(Gambar 108). Pasanglah sebuah overflow tube yang terhubung dengan sebuah botol
yang berisi air.
Kemudian beri tekanan pada system pendingin menggunakan pompa sampai tekanan
yang terbaca pada pressure gauge tetap (tidak bisa naik lagi). Setelah mencapai nilai
tekanan tersebut kemudian tekanan akan turun sekitar 7kPa dan berhenti pada nilai
tekanan yang ditentukan sesuai dengan spesifikasi.
Jika relief valve bekerja dengan benar akan timbul gelembung udara sesaat pada botol
yang berisi air tetapi gelembung udara tersebut kemudian akan berhenti. Apabila
gelembung udara yang muncul tidak berhenti menunjukkan terjadi kerusakan pada relief
valve dan harus diganti. Jika gelembung udara berhenti tetapi pembacaan tekanan pada
pressure gauge turun terus menunjukkan terjadi kebocoran di tempat lain. Periksalah
kondisi seal pada radiator cap.
Bukalah radiator cap kemudian hidupkan engine dengan beban. Periksalah timbulnya
gelembung udara yang ada pada coolant, jika gelembung udara tidak mudah terlihat
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 85 of 101
Maintain Engine Cooling System
Sebelum menggunakan Bottle Test, pastikan sistem pendingin sudah terisi dengan
benar. Gunakanlah kawat untuk menjaga relief valve pada radiator cap tetap terbuka.
Pasang radiator cap dan kencangkan.
Pasang hose pada ujung overflow tube atau pasang hose pada saluran outlet relief
valve. Hidupkan engine dan operasikan pada kecepatan high idle selama minimal lima
menit setelah engine mencapai temperatur operasi normal. Pastikan core radiator
tertutup untuk menjaga engine berada pada temperatur operasi. Setelah lima menit atau
lebih pada temperatur operasi, letakkan ujung hose ke dalam botol yang telah berisi air.
Letakkan botol ke dalam ember air dengan bagian atas menghadap bawah. Jika air pada
botol ada yang keluar dalam waktu kurang dari empat puluh detik maka hal ini
menunjukkan pada system pendingin terdapat kebocoran gas hasil pembakaran yang
berlebihan.
Cylinder head, block dan precombustion chamber yang retak, gasket head atau seal pre-
combustion chamber yang jelek seperti gambar di atas (Gambar 10.109) dapat
menyebabkan gas hasil pembakaran dapat masuk ke dalam sistem pendingin.
Lakukan pemeriksaan pada komponen – komponen diatas dan lakukan perbaikan atau
penggantian jika terjadi kerusakan. Apabila terjadi kerusakan gasket pada komponen
kompresor udara maka kerusakan tersebut dapat menjadi sumber masuknya udara ke
dalam sistem pendingin.
Periksa oli di dalam crankcase (Gambar 110). Jika oli berwarna putih susu (campuran air
dan oli), hal ini menunjukkan indikasi terjadinya kebocoran air yang masuk ke dalam
sistem pelumasan sehingga bercampur air bercampur dengan oli.
Kebocoran ini dapat terjadi karena gasket dan seal yang rusak, kebocoran pada oil
cooler, keretakan pada cylinder head atau block engine, dll.
Umumnya, fluida pada system yang bertekanan lebih tinggi akan bocor ke dalam fluida pada
system yang bertekanan lebih rendah. Sebagai contoh: kerusakan pada gasket atau seal
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 86 of 101
Maintain Engine Cooling System
water pump dapat menyebabkan air dapat masuk ke dalam saluran oli bertekanan rendah
pada saluran drain.
Oli juga dapat masuk bercampur dengan coolant pada sistem pendingin (Gambar 111).
Periksa kondisi oli di dalam torque converter (Gambar 112). Jika oli berwarna putih susu
(campuran air dan oli), hal ini menunjukkan indikasi terjadinya kebocoran air yang
masuk bercampur dengan oli torque converter.
Oli torque converter hanya berhubungan dengan sistem pendingin pada komponen oil cooler
torque converter atau marine gear. Kebocoran mungkin terjadi pada oil cooler tersebut.
Jika di temukan oli bercampur dengan coolant pada sistem pendingin lakukan perbaikan
kemudian sistem pendingin perlu di bersihkan.
Efek dari terjadinya overcooling pada engine sama dengan kerusakan yang terjadi jika
engine mengalami overheating. Overcooling terjadi saat temperatur kerja operasi engine
terlalu lama tercapai atau tidak bisa tercapai. Kondisi ini akan menyebabkan kerusakan
dan keausan apabila menggunakan bahan bakar dengan kandungan sulfur yang tinggi.
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 87 of 101
Maintain Engine Cooling System
Kandungan sulfur yang tinggi dapat meningkatkan keausan jika temperatur engine tidak
dapat mencapai 80°C (175°F). Overcooling adalah akibat dari coolant yang selalu
mengalir langsung ke radiator.
Penyebab Overcooling
Temperatur udara sekitar yang terlalu rendah dan engine terlalu lama dihidupkan tanpa
beban dapat menyebabkan terjadinya overcooling meskipun dalam hal ini tidak ada
coolant yang mengalir melewati radiator. Umumnya yang menjadi penyebab terjadinya
overcooling adalah karena kerusakan pada thermostat yang macet dalam kondisi
terbuka terus.
INSPEKSI
Temperatur Gauge
Temperature gauge dapat memberikan indikasi overcooling tetapi hasil yang ditunjukan
dapat salah karena pemakaian temperature gauge yang rusak. Temperature gauge
dapat dicek keakuratannya dengan membandingkan temperatur yang ditunjukkan oleh
temperature gauge dengan temperatur coolant sesungguhnya di dalam thermostat
housing.
Pasanglah thermistor probe pada thermostat housing untuk mengecek temperatur aktual
coolant. Jika hasil yang di tunjukkan oleh temperature gauge tidak sesuai dengan
temperatur aktual gantilah temperature gauge (Gambar 113).
Sistem Shutter
Jika temperature gauge bekerja dengan baik lanjutkan dengan pemeriksaan operasi
sistem shutter (jika dilengkapi). Jika shutter mengalami macet dalam kondisi terbuka terus
(stuck open) atau sebagian terbuka (partially open) akan menyebabkan coolant terlalu
banyak didinginkan sehingga tidak dapat menjaga temperatur kerja dengan benar.
Radiator pada aplikasi vehicle didesain untuk bekerja maksimal pada kondisi beban
penuh (full load) sehingga jika di operasikan tanpa beban atau beban ringan dalam
jangka waktu yang lama dapat menyebabkan overcooling dan beban kejut thermal di
dalam sistem pendingin.
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 88 of 101
Maintain Engine Cooling System
Fan Clutch
Hal yang sama juga dapat terjadi pada fan clutch. Jika fan clutch mengalami kerusakan stuck
on atau partially on dapat menyebabkan overcooling karena jumlah udara untuk
mendinginkan coolant tidak sesuai. Jumlah udara yang terlalu banyak akan mendinginkan
coolant secara berlebihan sehingga tidak dapat menjaga tidak dapat menjaga temperatur
kerja dengan benar.
Thermostat
Thermostat dapat mengalami kerusakkan macet dalam kondisi terbuka (stuck open) atau
terbuka sebagian (partially open). Thermometer group dapat digunakan memeriksa operasi
thermostat. Pasanglah probe di tangki bagian atas (top tank) radiator dan di outlet block
engine. Hidupkan engine selama 10 – 15 menit. Kemudian bacalah nilai temperatur pada
thermometer gauge.
Jika temperatur yang terbaca nilainya hampir sama dan di bawah spesifikasi temperatur kerja
engine maka hal itu menunjukkan bahwa kemungkinan thermostat dalam kondisi stuck open
sehingga akan menyebabkan coolant mengalir secara terus – menerus melewati radiator dan
coolant akan di dinginkan secara berlebihan. Jika thermostat mengalami kerusakan seperti ini
gantilah thermostat tersebut. Untuk spesifikasi thermostat yang benar adalah nilai temperatur
pada tangki bagian atas radiator akan lebih rendah dari temperatur pada outlet block engine.
Periksa kondisi thermostat secara fisik meskipun thermostat bekerja dengan baik dalam
membuka dan menutup.
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 89 of 101
Maintain Engine Cooling System
Pada thermostat jenis bonnet yang digunakan dalam full-flow bypass system, periksalah
kondisi alur (groove) dan kerusakan – kerusakan pada bonnet (Gambar 116). Kerusakan
pada alur (groove) dapat membuat thermostat tidak dapat menyekat dengan bagus.
Setelah thermostat dipastikan dalam kondisi bagus kemudian periksalah kondisi pada
thermostat housing. Periksa kondisi counterbore, pastikan permukaannya bersih, halus
dan bebas dari kotoran atau material asing (Gambar 117).
Periksa kondisi dan pemasangan seal di dalam thermostat housing karena kerusakan
dan pemasangan seal yang tidak benar atau miring dapat menyebabkan coolant dapat
mengalir di antara seal dan thermostat.
Pada beberapa jenis thermostat housing mempunyai sebuah bleed hole dan orifice yang
berfungsi untuk mengeluarkan udara saat melakukan pengisian coolant sehingga dapat
mencegah udara terjebak di dalam system pendingin.
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 90 of 101
Maintain Engine Cooling System
Pada beberapa aplikasi truck engine menggunakan sebuah vent line yang di pasang oleh
Other Equipment Manufacturers (OEM's). Jika vent line tersebut terbuka (open) dapat
menyebabkan terjadinya overcooling pada kondisi beban engine ringan dan low idle
yang terlalu lama karena vent line akan mengalirkan coolant langsung menuju top tank
radiator. Kondisi dapat di hindari dengan cara memasang check valve pada vent line.
Sambungan ground pada engine yang tidak bagus dapat menyebabkan masalah pada
sistem pendingin karena terjadinya proses electrolysis. Pastikan semua sambungan
ground bersih dan terikat dengan kuat ke block engine.
Oli akan mengalir pada sekeliling tube yang ada di dalam oil cooler sedangkan coolant
akan mengalir melewati bagian dalam tube. Jika tube tersumbat maka harus di
bersihkan agar aliran coolant tetap lancar. Saluran untuk oli pada core oil cooler tidak
dapat di bersihkan jika tersumbat.
Jika core terkontaminasi akibat kerusakan pada sistem maka oil cooler harus di ganti.
Sebelum melakukan pemasangan oil cooler baru periksalah dahulu kondisi oil filter. Dari
pengamatan pada oil filter dapat menunjukan kondisi oil cooler.
Lakukan pemeriksaan pada oil filter sebagai berikut :
1. Periksa skematik sistem pelumasan untuk mengetahui aliran oli pada sistem
pelumasan apakah aliran oli melalui oil filter dulu sebelum ke oil cooler atau aliran oli
melalui oil cooler kemudian ke oil filter. Umumnya pada system pelumasan aliran oli akan
melalui oil cooler kemudian ke oil filter dan ke oil manifold.
2. Carilah bila terdapat serpihan – serpihan logam pada oil filter. Jika ditemukan
pada oil filter terdapat banyak serpihan – serpihan logam maka kemungkinan pada oil
cooler juga sama. Serpihan – serpihan logam di dalam oil cooler tidak bisa dibersihkan
karena core pada oil cooler tidak reusable.
3. Periksa penyebab terjadinya keausan. Jika kerusakan terjadi hanya sesaat saja
maka serpihan hanya sedikit saja. Tetapi jika kerusakan terjadi secara terus – menerus
dan bertahap maka jumlah serpihan akan semakin banyak dan besar tergantung dari
seberapa parah kerusakan atau keausan yang terjadi di dalam system.
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 91 of 101
Maintain Engine Cooling System
Lihatlah pada literatur: SEBF8077 Caterpillar® Guideline For Reusable Parts and Salvage
Operations “Engine Oil Coolers” dan SEBF8085 Caterpillar® Guideline For Reusable Parts
and Salvage Operations “Endsheet Inspection of Rubber Endsheet Oil Coolers”.
Core After-cooler
Biasanya, core after-cooler dipakai vehicle menerima persediaan udara yang cukup.
Bagaimanapun, persediaan udara yang cukup adalah penting jika core after-cooler dipakai
pada engine dalam ruangan. Jika dalam kasus ini, pastikan semua uap blowby diarahkan
menuju luar ruangan. Jika uap dipipa menuju pemasukan udara, maka akan menurunkan
efisiensi dari after-cooler.
Jika air segar digunakan untuk membersihkan core, tekanan air tidak boleh lebih dari 170
sampai 210 kPa (25 sampai 30 psi). jangan memberhentikan aliran keluar air yang
keluar dari core dan biarkan tekanan air meningkat dalam core. Jika after-cooler dapat
dilepas dengan mudah, hal tersebut lebih baik dilakukan di dalam shop.
Radiator Cap
Radiator cap harus dapat menjaga agar coolant dan tekanan tidak kurang pada system
pendingin. Radiator cap pada aplikasi radiator yang berukuran besar gasket-nya dapat
diganti tetapi pada aplikasi radiator yang lain jika terjadi kerusakan pada gasket maka harus
diganti dengan radiator cap baru.
Relief valve
Relief valve pada sistem pendingin tidak dapat diperbaiki tetapi dapat dibersihkan. Jika
tekanan pada sistem pendingin kurang karena kebocoran pada relief valve gantilah
dengan relief valve yang baru.
Fan Belt
Fan belt harus satu set dalam pemakaiannya. Jika salah satu dari fan belt mengalami
kerusakan atau keausan maka untuk penggantian juga harus satu set.
Pulley
Pulley dapat direkondisi dengan syarat – syarat tertentu. saat kondisi tertentu. Pulley
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 92 of 101
Maintain Engine Cooling System
Fan Assembly
Jangan memperbaiki fan assembly yang telah rusak. Karena fan assembly di buat dan di
rancang oleh manufaktur dengan beberapa pengetesan sehingga fan mempunyai
keseimbangan pada putaran tertentu dengan seminimal mungkin getaran. Perbaikan
atau kerusakan akan menyebabkan titik keseimbangan berkurang dan dapat
memperlemah struktur fan.
Fan shroud dan baffles tidak dapat direkondisi. Pastikan kedua komponen ini dipasang
setelah melakukan penggantian radiator core. Fan shroud dan baffles sangat
mempengaruhi efisiensi fan dan dapat mencegah terjadinya recirculation udara. Perlu
diperhatikan jika radiator guard penyok dapat menyebabkan fan blade akan kontak
dengan shroud.
Radiator Mount
Dudukan untuk radiator (radiator mount) yang fleksibel mencegah radiator dari
kerusakan normal yang disebabkan oleh getaran machine atau engine. Ketika radiator
dilepas untuk melakukan perbaikan, periksalah dudukan (mounting) dan khususnya
kondisi karetnya (rubber).
Jika rubber telah mengalami keausan atau kerusakan gantilah dengan rubber yang baru.
Pastikan pada saat pemasangan bolt untuk mengikat mounting dikencangkan sesuai
torque yang benar. Lihat pada Service Manual yang sesuai.
Fan Guard
Getaran dapat merusak pelindung kipas (fan guard). Pastikan bolt yang mengikat fan
guard tidak kendor atau hilang. Jika kawat/jeruji pelindung telah rusak pada sambungan
las aslinya dapat dilakukan tack welded sesuai tempatnya. Jika kawat/jeruji rusak,
kawat/jeruji baru harus dipasangkan.
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 93 of 101
Maintain Engine Cooling System
Hose harus diikat (clamp) dengan benar (Gambar 118) karena jika dalam pemasangan dan
pengencangan clamp tidak benar dapat menyebabkan kavitasi erosi.
Dalam pemasangan hose hal yang perlu di perhatikan adalah jangan mengencangkan clamp
terlalu rapat. Kencangkan clamp sampai menggigit lapisan karet pada hose. Jika clamp
samapi merobek lapisan karet hal itu menunjukkan clamp terlalu kencang. Penggantian
hose dilakukan ketika hose mengalami kerusakan atau bocor dan saat telah mencapai
scheduled service interval. Ingat bahwa semua hose yang dipakai pada sistem pendingin
dibuat dengan material yang sama dan dioperasikan dalam lingkungan yang sama. Maka,
jika ada salah satu hose yang mulai bocor, gantilah semua hose. Atau jika menggunakan
scheduled service interval, rekomendasi penggantian hose adalah setiap tiga tahun atau
4000 jam.
Kadangkala sulit untuk memeriksa kondisi hose karena umumnya hose dicat untuk
memudahkan memeriksa jika hose mengelupas atau retak. Ketika sistem pendingin
temperaturnya sudah tidak panas dan tekanan dalam system sudah rendah, peganglah
hose jika hose terasa tidak keras (empuk) maka hose perlu diganti. Beberrapa faktor
yang menyebabkan hose menjadi lembek antara lain: jika di dalam radiator atau sistem
pendingin terdapat oli akan membuat inner liner hose akan lembek atau umur dari hose
sudah terlalu lama dan inner liner di dalam hose sudah rusak.
Inner liner di dalam hose yang rusak dapat terbawa dan ikut bersirkulasi dengan coolant
sehingga dapat menghambat aliran coolant di dalam system pendingin. Hal ini sering
terjadi tetapi karena tidak menimbulkan kebocoran maka masalah ini sulit untuk di
temukan khususnya pada saat melakukan troubleshooting dengan masalah overheating.
Pada aplikasi yang menggunakan pemanas (heater) saat musim panas pastikan valve
pada saluran pemanas pada posisi “OFF” sehingga tidak ada tekanan pada hose untuk
saluran pemanas.
Jika hose pada saluran pemanas kendor akan menyebabkan coolant system pendingin
akan bocor melalui hose tersebut. Pastikan semua hose pada system pendingin dan
pada hose untuk saluran pemanas selalu dalam kondisi bagus.
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 94 of 101
Maintain Engine Cooling System
Thermostat
Thermostat tidak dapat di perbaiki jika terjadi kerusakan harus dilakukan penggantian.
Temperatur Gauge
Ada dua jenis temperatur gauge yaitu jenis electrical dan mekanikal. Untuk melakukan
pemeriksaan pada electric gauge yang harus diperhatikan adalah dalam melakukan
pengecekan temperature send unit dan gauge harus dicek secara terpisah.
Rule of Thumb
Jenis gauge yang mekanikal, bulb dan tube menjadi satu pada gauge dan tidak bisa
diperiksa secara terpisah. Dalam pemasangan gauge yang jenis mekanikal pastikan
panjang tube sesuai sehingga gauge dapat beroperasi dengan baik.
Ada beberapa jenis untuk gauge mekanikal dalam bentuk dan batas merah range (red
range) pembacaan temperatur. Umumnya red range pada gauge adalah 108°C (227°F),
untuk Track-Type Tractor 113°C (235°F), dan untuk Highway truck 99°C (210°F).Red
range untuk transmission temperature gauge adalah 132°C (270°F). Part number untuk
setiap gauge dapat berbeda – beda karena panjang tube ke bulb pada setiap gauge bisa
berbeda.
Pada machine yang menggunakan system monitoring EMS, jika temperatur coolant
mencapai temperatur 107°C (225°F) maka lampu untuk temperatur coolant akan
menyala untuk mengingatkan operator.
Water Pump
Kerusakan pada water pump umumnya di sebabkan oleh kerusakan seal yang
menyebabkan kebocoran oli atau coolant. Semua jenis water pump mamiliki lubang
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 95 of 101
Maintain Engine Cooling System
drain (drain cavity) pada pump housing. Saluran lubang ini berfungsi untuk
mengeluarkan kebocoran coolant didalam water pump. Pastikan lubang ini tidak tertutup
atau tersumbat karena hal ini dapat menyebabkan coolant tidak bisa keluar dan akan
mengalir ke oil seal pada water pump sehingga coolant dapat masuk ke system
pelumasan bercampur dengan oli engine yang dapat menyebabkan kerusakan pada
engine. Oleh sebab itu umumnya drain hole di tutup oleh material yang mudah
menyerap (porous material) sehingga dapat mencegah kontaminan masuk ke drain
cavity.
Seal assembly dipakai pada water pump. Beberapa jenis seal assembly kadang – kadang
dilengkapi dengan tool untuk memasang seal dan ring dengan benar. Air yang bersih
digunakan sebagai pelumasan untuk memudahkan dalam pemasangan seal. Jangan
pernah menggunakan oli sebagai pelumas karena oli dapat menyebabkan seal
mengembang, lunak atau berputar bersama shaft. Umumnya seal terbuat dari teflon
yang dapat berfungsi sebagai pelumas. Tidak boleh menyentuh permukaan bagian
dalam seal pada saat pemasangan.
Bearing di dalam water pump dapat diganti ketika water pump direkondisi. Impeller,
shaft dan cover dapat digunakan lagi kecuali jika ada kerusakan bearing dan water
pump sudah dioperasikan terlalu lama maka water pump assembly harus di ganti.
Pastikan shaft dalam kondisi bersih sebelum seal dipasang. Karat atau serpihan material
dapat merusak permukaan seal. Jangan memakai hammer untuk memasang impeller.
Hammer akan meretakkan permukaan seal. Gunakan penekan atau retaining bolt untuk
menarik seal agar masuk ke shaft. Pastikan housing ditopang dengan benar karena
housing berbahan logam getas sehingga housing dapat pecah jika terlalu di tekan.
Saat melakukan pemsangan water pump baru berilah sedikit oli pada bearing-nya.
Jangan menghidupkan engine tanpa coolant terisi pada sistem pendingin. Jika water
pump dioperasikan tanpa coolant dapat menyebabkan kerusakan pada seal karena seal
mengalami overheating.
Cylinder Head
Umumnya cylinder head diperbaiki karena mengalami retak atau bocor. Kerusakan pada
expansion plug (welch plug) di bagian atas dan samping cylinder head dapat
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 96 of 101
Maintain Engine Cooling System
menyebabkan kebocoran. Jika terjadi kebocoran pada permukaan tersebut akan terlihat
percikan coolant pada sisi – sisi plug.
Plug harus diganti dan pastikan permukaan untuk memasang plug bersih dan gunakan
sealant saat memasang plug. Keretakan pada cylinder head umumnya terjadi di antara
valve port, pre-combustion chamber atau lubang untuk nozzle diantara valve port.
Keretakan pada cylinder head dapat diperbaiki melalui proses pengelasan re-
manufacturing.
Periksa cylinder head jika mengalami kebengkokan (bend) atau melengkung (warpage).
Sebelum pemasangan precombustion chamber baru pada cylinder head, periksa
permukaan gasket pre-combustion chamber di head jika ada guratan atau karat dapat
menyebabkan pre-combustion chamber baru tidak dapat menyekat dengan baik.
Jika pre-combustion chamber dilepas dari cylinder head, gunakan O-ring seal baru pada
pre-combustion chamber saat memasang lagi ke head. Hal itu untuk menghindari
kebocoran di sekitar seal karena dapat mengakibatkan overheating. Gasket baru juga
harus dipasang untuk menyakinkan lubang untuk glow plug terpasang dengan benar.
Lihat modul Service Manual yang tepat untuk mengetahui prosedur yang benar tentang
pemasangan dan hal – hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan pemasangan pre-
combustion chamber.
Mulai jelas bahwasannya ada beberapa kerusakan engine yang dapat dicegah, selama
problem dikenali dalam sistem pendingin, disebabkan oleh arus listrik yang mengalir melewati
coolant dari problem electrical ground dan membangkitkan listrik statis dimanapun pada
equipment. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan engine dalam 24,000 miles walaupun
kualitas perawatan system pendingin sudah bagus.
Lakukan pemeriksaan terhadap system kelistrikan karena dapat system kelistrikan yang
tidak bagus dapat mempengaruhi system pendingin karena arus listrik dapat mengalir
dan efek elektrolisa dapat terjadi pada system pendingin.
Kerusakan komponen engine karena arus listrik yaitu terjadinya lubang – lubang (pitted)
pada liner, oil cooler, radiator, extreme aluminium corrosion, dan kerusakan pada water
pump dan gasket head. Korosi alumunium akan menyebabkan aliran coolant yang
melewati oil cooler terhambat sehingga keausan ring dan bearing akan terjadi karena
system tidak bisa menjaga temperatur kerja oli dan kekentalan oli engine tidak bagus.
Lapisan tembaga yang melapisi komponen besi akan mengelupas sehingga kerusakan
besi dapat terjadi. Korosi juga akan terjadi pada komponen – komponen pada system
pendingin.
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 97 of 101
Maintain Engine Cooling System
1. Copper injector shell pada truck engine mengalami kerusakan dalam 30 hari karena
kabel ground putus sehingga arus listrik akan grounded melewati coolant.
2. Liner (cylinder) pada aplikasi marine engine mengalami pitting. Sebagai indikasi dari
pengetesan coolant di laboratorium bahwa engine mengalami kerusakan. Motor
starter 12 Volt yang berfungsi untuk memutar engine pertama kali menjadi penyebab
kerusakan karena kabel grounded yang tidak benar menyebabkan arus listrik
mengalir melewati coolant.
3. Block engine pada aplikasi towboat mengalami pitting. Pitting terjadi karena arus
listrik mengalir melewati coolant dari dua buah switch yang rusak yaitu switch rusak
pada sistem after-cooler dan switch rusak pada air conditioning unit di dalam kabin
captain.
4. Alumunium tangki atas radiator (top tank) yang mengalami pitting pada aplikasi
sebuah fleet truck yang dilengkapi dengan suspensi kantong karet udara (rubber air
bag suspension) pada bagian belakang. Dari bagian belakang fleet truck terbangkit
arus yang melewati drive shaft kemudian ke sistem pendingin engine. Untuk
mencegah kerusakan tersebut maka harus di pasang grounding di bagian belakang
dan transmissi agar tidak terjadi kerusakan pada komponen engine.
5. Fleet truck yang di gunakan sebagai pengangkut bahan bakar (tangker) dan truk
pengangkut (flatbed) menggunakan engine dan machine yang sama mengalami
kerusakan sebesar 60 engine setiap tahun. Limapuluh empat engine pada truk
pengangkut (flatbed) rusak sementara hanya enam engine rusak pada pada truk
pengangkut bahan bakar (tanker). Tanker mempunyai bonded ground system
sedangkan flatbed tidak punya. Rasio sembilan 9 : 1 menunjukkan potensi
kerusakan pada aplikasi yang tidak menggunakan ground.
6. Engine untuk penggerak sebuah hauling truck pengangkut pipa plastik mengalami
kerusakan setiap 100,000 miles (161,0000 km). Operator memberikan informasi
bahwa beban (pipa) mengalami panas sampai menyala – nyala (glowing) karena
adanya electric static selama pipa bersentuhan dengan udara dan terkena panas.
Kemudian operator mengatasinya dengan cara menutupi pipa sehingga pipa
terlindungi. Dengan cara tersebut dapat menjaga umur engine lebih dari 300,000
miles (483,000 km).
7. Pada model engine electronic komponen seperti head gasket, water pump, radiator,
oil cooler dan transmission banyak yang mengalami kerusakan. Kapasitor yang ada
didalam computer (ECM) akan menyimpan arus listrik yang dapat mengalir melewati
coolant ketika engine sudah dimatikan atau di hidupkan. Arus listrik akan tetap ada
yang mengalir walaupun battery sudah dilepas dari unit.
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 98 of 101
Maintain Engine Cooling System
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 99 of 101
Maintain Engine Cooling System
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 100 of 101
Maintain Engine Cooling System
Daftar Pustaka
Once printed this document becomes uncontrolled. Refer to Petrosea Intranet for controlled copy.
Document No.: PTP-HC-TPL-G-xxxx Rev No. 0 101 of 101